• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Dasar Teori

2.3.3 Peraturan dan Statutori

Dalam melakukan survei dan inspeksi kapal, badan klasifikasi mengembankan tugas kepada surveyor klas yang turun langsung ke lapangan untuk melakukan inspeksi dan survei pada kapal, industri minyak & gas dsb. Dalam hal ini seorang surveyor dituntut untuk mengerti persyaratan klas, rules dari klas, dan statutori yang disyratkan oleh IMO.

Setiap badan klasifikasi memiliki standar (rules) yang berbeda antara satu klas dengan klas lainnya. Bureau Veritas adalah salah satu badan klasifikasi yang merupakan anggota dari IACS dan diakui oleh keberadaannya oleh IMO. Bureau Veritas memiliki rules yang disebut BV rules. Rules adalah standar teknis atau disebut juga panduan yang digunakan oleh seorang suveyor dalam melakukan survey dan inspeksi. Kapal-kapal yang ingin disertifikasi oleh badan klasifikasi diwajibkan untuk mengikuti persyaratan yang ada didalam rules tersebut. Rules mencakup standar teknis pembangunan kapal, inspeksi kapal, prosedur inspeksi dan lain-lain.

1) IACS Rules

IACS telah banyak mengeluarkan rules dan procedure serta beberapa standar yang sangat penting bagi industri maritim. Adapun beberapa rules yang telah dikeluarkan oleh IACS antara lain:

a. IACS Charter

Berisi tentang tujuan dari asosiasi, dokumen dan persyaratan bagi anggota tentang tanggung jawab, hak dan status keanggotaan. Di dalam IACS Charter juga terdapat penjelasan tentang IACS Council, yaitu dewan perwalikan dari tiap anggota klas yang ditetapkan sebagai konsil dari IACS.

b. Code of Ethics

Berisi tentang batu tumpuan kerja dan tugas-tugas dari IACS.

c. Unified Requirements

Berisi tentang rules dan praktikal prosedur yang diadopsi dari semua

rules para anggota IACS dan telah disatukan/disamakan.

d. Common Rules

Rules ini dibuat oleh semua IACS Council dan diwajjibkan untuk

semua anggotanya.

e. Unified Interpretations (UI)

Adalah adopsi dari IMO Convention dan IMO code yang telah disamakan dan disatukan sebagai statutori penunjang bagi semua anggota IACS.

f. Recommendations (Rec)

Rules yang direkomendasikan oleh IACS untuk membantu badan klasifikasi. Rules tersebut tidak diwajibkan untuk dipakai.

57

g. Procedural Requirement (PR)

Prosedur teknis yang direkomendasikan oleh IACS kepada badan klasifikasi khususnya prosedur inspeksi dan survei untuk membantu pekerjaan surveyor klas.

2) SOLAS

Safety of Life at Sea (SOLAS) merupakan statutori yang dikeluarkan oleh IMO untuk mengatur tentang peraturan keselamatan (safety) di laut. Peraturan keselamtan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kru kapal, penumpang dan kapal. Semua negara yang termasuk anggota IMO harus mengadopsi SOLAS untuk kapal-kapal yang berstatus flag negara tersebut. SOLAS terdiri dari 12 chapter.

SOLAS merupakan ketentuan yang sangat penting bahkan mungkin paling penting karena berkenaan dengan keselamatan kapal-kapal dagang dan juga yang paling tua. Pada versi yang pertama telah disetujui oleh 13 negara dalam tahun 1914, yaitu setelah terjadinya peristiwa Tenggelamnya Kapal Titanic yang terjadi pada tahun 1912.

SOLAS terdiri dari 12 chapter, yaitu: - Bab I Bagian Umum

- Bab II Struktur konstruksi, stabilitas dan sub-divisi,permesinan dan instalasi listrik

- Bab II-2 Konstruksi– perlindungan kebakaran, pendeteksi kebakaran dan pemadam kebakaran

- Bab III Alat keselamatan - Bab IV Komunikasi radio

- Bab V Alat navigasi keselamatan - Bab VI Pengangkutan muatan

- Bab VII Pengangkutan muatan berbahaya - Bab VIII Kapal Nuklir

- Bab X Langkah-langkah keselamatan untuk kapal cepat

- Bab XI-1 Langkah-langkah meningkatkan keselamatan maritim - Bab XI-2 Langkah-langkah meningkatkan keamanan maritim - Bab XII Tambahan keselamatan untuk curah kering

3) MARPOL

Marine Pollution (MARPOL) adalah statutori yang dikeluarkan oleh IMO untuk mengatur tentang polusi dan pencemaran yang terjadi di laut oleh kapal. Peraturan ini berisi tentang persyaratan, prosedur dan peralatan yang harus dimiliki oleh kapal agar mencegah terjadinya polusi dan pencemaran di laut oleh kapal. Adapun MARPOL terdiri dari 6 Annex yaitu:

- Annex I MARPOL Pencegahan polusi minyak

- Annex II MARPOL, Regulasi untuk mengontrol polusi Noxious

Liquid

- Annex III MARPOL, Regulasi untuk pencegahan polusi zat berbahaya

- Annex IV MARPOL, Regulasi untuk pencegahan kotoran dari kapal - Annex V, MARPOL,Regulasi untuk pencegahan polusi sampah dari

kapal

- Annex VI, MARPOL, Regulasi untuk pencegahan polusi udara dari kapal

4) ISM Code

Selain rules dan statutori diatas, IMO juga mengeluarkan banyak peraturan lain yang disebut dengan code. Code berisi tentang standar praktikal dan implementasi Internasional untuk mengatur suatu bidang secara lebih spesifik. Contoh dari Code yang telah dikeluarkan oleh IMO adalah ISM Code dan ISPS Code. International Safety

Management (ISM) Code adalah standar Internasional manajemen

keselamatan dalam pengoperasian kapal serta upaya pencegahan/ pengendalian pencemaran lingkungan sesuai dengan kesadaran terhadap

59

pentingnya faktor manusia dan perlunya peningkatan manajemen operasional kapal dalam mencegah terjadinya kecelakaan kapal, manusia, muatan barang/ cargo dan harta benda serta mencegah terjadinya pencemaran lingkungan laut, maka IMO mengeluarkan peraturan tentang manajemen keselamatan kapal & perlindungan lingkungan laut yang dikenal dengan Peraturan International Safety

Management (ISM Code) yang juga dikonsolidasikan dalam SOLAS.

Kode Keamanan Internasional terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan

(The International Ship and Port Facility Security Code) – ISPS Code

merupakan aturan yang menyeluruh mengenai langkah-langkah untuk meningkatkan keamanan terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan, aturan ini dikembangkan sebagai tanggapan terhadap ancaman yang dirasakan dapat terjadi terhadap kapal dan fasilitas pelabuhan pasca serangan 11 September 2001 di amerika Serikat. ISPS Code diimplementasikan melalui Bab XI-2 mengenai Langkah-langkah khusus untuk meningkatkan keamanan maritim dalam Konvensi Internasional untuk Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS). Kode ini memiliki dua bagian, yang satu wajib dan yang satu saran/petunjuk.

Pada dasarnya, Code tersebut menggunakan pendekatan manajemen risiko untuk menjamin keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan dan, untuk menentukan langkah-langkah keamanan apa yang tepat, penilaian risiko harus dilakukan dalam setiap kasus tertentu Tujuan dari Code ini adalah menyediakan standar, kerangka kerja yang konsisten untuk mengevaluasi risiko, memungkinkan Pemerintah untuk mengimbangi apabila terjadi perubahan ancaman dengan merubah nilai kerentanan pada kapal dan fasilitas pelabuhan melalui penentuan tingkat keamanan yang sesuai dan langkah-langkah keamanan yang sesuai. Semua negara yang mengadopsi SOLAS wajib mematuhi peraturan Code diatas.