Beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai perawatan bayi dengan demam: 1) Pastikan bayi mendapat cukup asupan cairan, anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI perah dengan salah satu alternatif cara pemberian minum. Atasi dehidrasi jika ditemukan tanda dehidrasi; 2) Cari tanda sepsis dan ulang kembali bila suhu telah mencapai batas normal; 3) Setelah suhu bayi normal lakukan perawatan lanjutan dan pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu setiap 3 jam; 4) Pastikan bahwa semua petugas yang terlibat dalam perawatan, mampu menggunakan inkubator dengan benar, memantau suhu bayi, dan menyesuaikan suhu inkubator dengan tepat berdasarkan usia dan berat badan bayi seperti tertera pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Pengaturan suhu inkubator berdasarkan usia dan berat badan bayi7
Berat bayi Suhu inkubator menurut umur
350C 340C 330C 320C
< 1500 g 1-10 hari 11 hari – 3 minggu 3-5 minggu >5 minggu 1500 – 2000 g 1-10 hari 11 hari-4 minggu >4 minggu 2100 – 2500 g 1-2 hari 3 hari-3 minggu >3 minggu > 2500 g 1-2 hari >2 hari
Simpulan
Termoregulasi merupakan aspek yang sangat penting dalam perawatan BBL. Suhu tubuh normal dihasilkan dari keseimbangan antara produksi dan kehilangan panas tubuh. Demam pada neonatus dapat disebabkan oleh paparan terhadap lingkungan yang panas, atau karena infeksi. Keadaan ini memerlukan penanganan yang tepat untuk menghindarkan terjadinya komplikasi yang akan memengaruhi tumbuh kembang bayi.
Daftar pustaka
1. Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology management, procedures, on-call problems, diseases, and drugs. Edisi ke 5. New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill, 2004, h.38-42.
2. Chandra S, Boumgart S. fetal and neonatal thermal regulation. Dalam : Spitzer AR penyunting. Intensive care of fetus and neonates. Edisi ke-2. Philadelphia: Elsevier Mosby.2005, h.495-513.
3. Department of Pediatrics WHO Collaborating Center for Training and Research in Newborn Care. Essential newborn nursing for small hospitals. New Delhi. 2005, h.13-23.
4. Lee NNY, Chan YT, Davis DP, Lau E, Yip DCP. et al. Brown adipose tissue: evaluation with TI and Tc-Sestamibi dual tracer SPECT. Annals of Nuclear Medicine 2004.547-9.
5. Rutter N. Temperature control and disorders. Dalam : Rennie JM, penyunting. Robertson’s Textbook of Neonatology Edisi ke 4. Philadelphia : Elsevier Churchil Livingstone, 2005, h.267-69.
6. Lynam L, Koersch F, Schindler M. et al. A Research program to examine evidence- based practices in newborn thermoregulation. Z Geburtshilfe Neonatal 2006; 210. 7. Departemen Kesehatan RI-IDAI (UKK Perinatologi)-MNH-JHPIEGO. Buku
panduan manajemen masalah BBL untuk dokter, bidan, dan perawat di rumah sakit. Kosim MS, Surjono A, Setyowireni D, penyunting. Jakarta: Departemen Kesehatan RI 2004, h.37-41.
Hanifah Oswari Tujuan:
1. Mengetahui deinisi kolestasis
2. Mengetahui tahap-tahapan menegakkan diagnosis kolestasis 3. Mengetahui beberapa petunjuk untuk menegakkan diagnosis
kolestasis
Pada praktek sehari-hari, bayi baru lahir yang mengalami ikterus sering ditemukan. Sebagian dari bayi tersebut mengalami kolestasis. Kolestasis terjadi karena terganggunya aliran empedu dan/atau ekskresinya. Kolestasis neonatal mengenai kurang lebih 1:2500 bayi.1 Penyebab kolestasis neonatal bermacam-macam, tetapi
yang perlu dideteksi cepat adalah atresia bilier. Atresia bilier (AB) adalah suatu penyakit yang disebabkan kerusakan progresif saluran empedu ekstrahepatik dan akhirnya juga intrahepatik yang dalam waktu 3 bulan telah dapat menyebabkan sirosis hati yang kemudian akan menimbulkan gagal hati, dan kematian bila tidak diterapi. Insidens atresia bilier lebih tinggi di Asia, Taiwan (1:6.750)2 dibandingkan
di Eropa (1:17.000-19.000),3,4 sehingga kita perlu lebih berhati-hati untuk
kemungkinan menemukan pasien AB. Keberhasilan penanganan AB tergantung kecepatan dilakukannya operasi Kasai. Di Swedia dilaporkan angka harapan hidup 4 tahun dengan hatinya sendiri adalah 75% pada bayi yang menjalani operasi Kasai sebelum usia 46 hari, 33% pada pasien yang menjalani operasi Kasai antara 46-75 hari, dan 11% pada pasien yang menjalani pembedahan setelah 75 hari.5
Keterlambatan diagnosis dan tatalaksana kolestasis terutama atresia bilier dapat berakibat terjadinya sirosis hati, hipertensi portal, dan gagal hati yang hanya dapat ditolong dengan transplantasi hati. Dengan berkembangnya kemampuan untuk dilakukannya transplantasi hati di Indonesia, pasien anak dengan penyakit hati tahap akhir tetap dapat ditolong dan perlu penanganan mempertahankan fungsi hati dan mempersiapkannya untuk transplantasi hati. Sayangnya transplantasi hati biayanya mahal dan perlu pemantauan dan terapi seumur hidup setelah dilakukan transplantasi hati.
Selain atresia bilier, beberapa etiologi kolestasis mudah didiagnosis dan dapat dilakukan terapi secepatnya tanpa perlu dirujuk, misalnya sepsis atau infeksi saluran kemih. Etiologi ini perlu dikenali oleh dokter agar pasien cepat mendapat pertolongan. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas pendekatan diagnosis kolestasis pada neonatus.
Deinisi
Kolestasis didefinisikan sebagai gangguan ekskresi empedu, yang dapat disebabkan oleh defek produksi empedu intrahepatik atau gangguan transport transmembran empedu, atau obstruksi mekanik terhadap aliran empedu. Karakteristik utama pada kebanyakan kasus kolestasis neonatal adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi (bilirubin direk).
Seorang bayi dikatakan mengalami kolestasis bila kadar bilirubin terkonjugasi > 1,0 mg/dL jika kadar bilirubin total serum < 5,0 mg/dL, atau kadarnya >20% dari bilirubin total jika kadar bilirubin total > 5,0 mg/dL.6 Setiap
ditemukan peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi (kolestasis) merupakan keadaan abnormal dan memerlukan evaluasi selanjutnya.
Istilah bilirubin terkonjugasi sebetulnya tidak sama dengan bilirubin direk, tetapi dalam prakteknya kedua istilah ini dianggap sama. Bilirubin terkonjugasi yang diukur dengan reaksi langsung (direk) dengan reagen diazo (reaksi van den Berg) disebut bilirubin direk, tetapi sebetulnya hasil bilirubin direk tersebut mengukur bilirubin terkonjugasi melebihi nilai bilirubin yang sebenarnya terutama jika konsentrasi bilirubin total serum tinggi.7 Pada umumnya perbedaan
ini masih dapat diabaikan. Untuk pembahasan selanjutnya, istilah bilirubin terkonjugasi dan bilirubin direk diartikan sama dalam tulisan ini.