HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.2. Perbaikan Sifat Kimia Tanah
Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum menunjukkan bahwa pH tanah yang netral adalah 6 – 7,5. Nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut.
Interaksi antara perlakuan biopori dengan kemiringan lahan miring menunjukkan pengaruh yang signifikan. Pada kemiringan lahan datar interaksi perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan mulsa vertikal (M2T1), nilai pH yaitu 6.25. Begitu juga pada kemiringan lahan landai dan miring, perlakuan mulsa vertikal (M2T2 dan M2T3) menunjukkan interaksi yang cukup baik, nilai pH nya masing – masing adalah 6.50 dan 6.89. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa pH tanah termasuk dalam kategori netral (6–7.5).
Secara nyata, penambahan serasah kakao pada perlakuan biopori (M1) dan mulsa vertikal (M2) berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pH tanah samapai hampir mendekati pH 7 (netral), sehingga kisaran pH tersebut dianggap baik dan optimal untuk pertumbuhan tanaman kakao. Hal ini didukung oleh pendapat Akenhorah (1979) dalam Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
(2004), bahwa tanaman kakao akan tumbuh optimal pada pH mendekati netral atau berkisar 6 – 7,5.
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai P-tersedia juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan biopori (M1T1) dimana nilai P-tersedia adalah 10 ppm. Tetapi pada kemiringan lahan landai (T2) interaksi yang terbaik adalah perlakuan mulsa vertikal (M2T2) dimana nilai P-tersedia adalah 9.14 ppm. Dan pada kemiringan lahan miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan biopori (M1T3) dimana nilai P-tersedia adalah 9.26 ppm. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa jumlah P-tersedia termasuk dalam kategori sedang (7–20 ppm).
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai K-tukar juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan mulsa vertikal (M2T1) dimana nilai K-tukar adalah 0.65 me/100g. Tetapi pada kemiringan lahan landai (T2) interaksi yang terbaik adalah perlakuan biopori (M1T2) dimana nilai K-tukar adalah 0.73 me/100 g. Dan pada kemiringan lahan miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah juga pada perlakuan biopori (M1T3) dimana nilai K-tukar adalah 0.55 me/100 g. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa nilai K-tukar termasuk dalam kategori tinggi (0.45–0.77 me/100 g).
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai Ca-tukar juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan mulsa
vertikal (M2T1) dimana nilai Ca-tukar adalah 1.43 me/100g. Tetapi pada kemiringan lahan landai (T2) interaksi yang terbaik adalah perlakuan biopori (M1T2) dimana nilai Ca-tukar adalah 1.37 me/100 g. Dan pada kemiringan lahan miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan mulsa vertikal (M1T3) dimana nilai Ca-tukar adalah 1.26 me/100 g. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa nilai Ca-tukar termasuk dalam kategori sangat rendah (< 2.5 me/100 g).
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai Mg-tukar juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, landai maupun miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan mulsa vertikal (M2T1, M2T2, dan M2T3) dimana nilai Mg-tukar masing – masing adalah 0.46 me/100g, 0.45 me/100g, dan 0.45 me/100g. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa nilai Mg-tukar termasuk dalam kategori sedang (0.33–0.67 me/100 g).
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai Na-tukar juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, landai maupun miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan mulsa vertikal (M2T1, M2T2, dan M2T3) dimana nilai Na-tukar masing – masing adalah 0.35 me/100g, 0.41 me/100g, dan 0.36 me/100g. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa nilai Na-tukar termasuk dalam kategori rendah sampai sedang (0.3–0.7 me/100 g).
Interaksi antara perlakuan penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan terhadap nilai KTK juga memberikan pengaruh yang baik. Pada kemiringan lahan datar, interaksi perlakuan yang terbaik adalah perlakuan mulsa vertikal
(M2T1) dimana nilai KTK adalah 7.44 me/100g. Dan pada kemiringan lahan landai (T2) interaksi yang terbaik adalah juga pada perlakuan mulsa vertikal (M2T2) dimana nilai KTK adalah 5.48 me/100 g. Dan pada kemiringan lahan miring interaksi perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan biopori (M1T3) dimana nilai KTK adalah 5.63 me/100 g. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah secara umum bahwa nilai KTK tanah termasuk dalam kategori rendah (5–17 me/100 g).
Dengan meningkatnya pH tanah diduga akan menyebabkan peningkatan ketersediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Keasaman (pH) tanah juga berpengaruh terhadap laju dekomposisi mineral tanah, bahan organik dan juga pembentukan mineral lempung.
Dengan penambahan bahan organik yang telah dilakukan, dalam jangka panjang dapat memperbaiki pH tanah. Bahan organik juga merupakan sumber hara makro dan mikromineral secara lengkap meskipun dalam jumlah yang relatif kecil (N, P, K, Ca, Mg, Zn, Cu, B, Mo dan Si).
Selain itu, bahan organik juga sangat dibutuhkan untuk peningkatan hara makro dan mikro yang sangat dibutuhkan tanaman. Hal ini disebabkan karena Kapasitas Tukar Kation (KTK) asam-asam organik dari bahan organik/kompos lebih tinggi dibandingkan mineral liat, namun lebih peka terhadap perubahan pH karena mempunyai sumber muatan tergantung pH (pH dependent charge). Oleh karena itu, penambahan bahan organik ke dalam tanah juga dapat meningkatkan nilai KTK tanah (Tan, 1991).
Berdasarkan hasil uji analisis tanah bahwa KTK tanah termasuk dalam kategori rendah (6.08 – 6.17 me/100gr). Kapasitas tukar kation menunjukkan
kemampuan tanah untuk menyerap dan mempertukarkan kation-kation oleh muatan negatif, yang pada tanah terutama berasal dari koloid humus dan mineral liat (Hakim dkk, 1986).
Sesuai dengan yang dilaporkan Hardjowigeno (1993), nilai KTK suatu tanah dipengaruhi oleh tingkat pelapukan tanah, kandungan bahan organik dan jumlah kation basa dalam larutan tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi memiliki KTK yang lebih tinggi. Dengan penambahan bahan organik akan memperbaiki porositas tanah, pH tanah, KTK, P-tersedia dan air tersedia yang berperan penting dan sangat dibutuhkan tanaman.
Berdasarkan hasil uji analisis tanah, dapat dilihat bahwa seluruh kompleks adsorbsi kation – kation dapat ditukar didominasi oleh Ca+2, kemudian diikuti oleh K+, Mg2+ dan Na+. Kation Ca+2 termasuk kategori sangat rendah (< 2.5 me/100g). Kation K+ termasuk kategori rendah sampai tinggi (0.13 – 0.77 me/100g). Kation Mg2+ termasuk kategori sedang (0.33 – 0.67 me/100g). Dan kation Na+
Rendahnya kation K
termasuk rendah sampai sedang (0.1 – 0.7 me/100g).
+
, Ca+2dan Na+ disebabkan, K+, Ca+2 dan Na+ mudah tercuci oleh air perkolasi dan dilepaskan ke dalam horizon tanah. Rendahnya kandungan kation-kation dapat ditukar tersebut didalam tanah (Ca+2, K+ dan Na+
Berdasarkan hasil penelitian bahwa perlakuan mulsa vertikal ternyata masih cukup efektif dalam perbaikan sifat kimia tanah. Hal ini dapat terjadi karena pada teknik mulsa vertikal luas permukaan areanya lebih besar daripada perlakuan biopori. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak ) karena tanah tersebut didominasi oleh koloid liat beraktivitas rendah (Adiwiganda dkk, 1996).
antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara.