• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.3. Sifat Biologi Tanah

Berdasarkan hasil analisis laboratorium diperoleh nilai pengamatan untuk setiap parameter biologi yang diamati pada masing-masing perlakuan dengan kemiringan lahan yang berbeda seperti yang terlihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Pengaruh Penempatan Serasah Kakao (Biopori dan Mulsa Vertikal) dan Kemiringan Lahan Terhadap Sifat Biologi Tanah Kebun Kakao.

Perlakuan C-organik N-total C/N

- Total Mikroba (Gram tanah) (%) M0 0.65c 0.06c 10..20a 3.11c M1 3.49a 0.69b 5.14b 4.33b M2 3.33b 0.71a 4.74b 5.00a Kemiringan Lahan T1 2.38c 0.47b 6.12b 6.44a T2 2.60a 0.56a 6.30b 3.89b T3 2.49b 0.43c 7.67a 2.11c Perlakuan Interaksi M0T1 0.3e 0.04e 8.39 5.17c M1T1 3.54a 0.66c 5.4 6.50b M2T1 3.28b 0.72b 4.57 7.67a M0T2 0.97c 0.1d 10.29 2.50e M1T2 3.42ab 0.79a 4.32 4.33d M2T2 3.42ab 0.8a 4.28 4.83c M0T3 0.67d 0.06e 11.91 1.67g M1T3 3.52a 0.62c 5.71 2.17f M2T3 3.29b 0.61c 5.38 2.50e

Ket : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama untuk setiap perlakuan tidak berbeda nyata menurut uji jarak berganda Duncan pada taraf 5%.

Pengaruh antara interaksi perlakuan penempatan serasah kakao dengan perlakuan kemiringan lahan terhadap nilai C-organik, juga disajikan dalam bentuk diagram (Gambar 11) :

Gambar 11. Pengaruh Penempatan Serasah Kakao (Biopori dan Mulsa Vertikal) dan Kemiringan Lahan Terhadap C-organik Tanah Kebun Kakao.

Data pengamatan kandungan C-organik pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal serta tabel sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 17. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penempatan serasah kakao memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan C-organik. Keadaan atau kemiringan lahan juga berpengaruh signifikan terhadap kandungan C-organik. Sedangkan interaksi antara penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan juga menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan C-organik.

Tabel 8 dan Gambar 11 menunjukkan bahwa pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal dapat meningkatkan kandungan C-organik. Pada perlakuan biopori (M1) kandungan C-organik meningkat menjadi 3.49 %, dan pada perlakuan mulsa vertikal (M2) kandungan C-organik menjadi 3.33 % berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian mulsa (M0) kandungan C-organik adalah 0.65 %.

Begitu pula dengan kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan C-organik. Pada kemiringan lahan datar (T1) kandungan C-organik adalah 2.37 %. Tetapi pada kemiringan lahan landai (T2) kandungan C-organik meningkat menjadi 2.60 %, dan pada kemiringan lahan yang lebih besar (T3) kandungan C-organik adalah sebesar 2.49 %.

0,30 0,97 0,67 3,54 3,42 3,52 3,28 3,42 3,29 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 3% 8% 15% Kemiringan Lahan C -o r g a n ik ( %) Kontrol Biopori M ulsa Vertikal

Perlakuan interaksi antara penempatan serasah kakao den kemiringan lahan menunjukkan bahwa peningkatan kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah. Pada perlakuan biopori (M1) kandungan C-organik yang tertinggi terdapat pada kemiringan lahan datar (T1) yaitu sebesar 3.54 %. Dan pada kemiringan lahan yang lebih besar (T2 dan T3) kandungan C-organik menurun menjadi 3.42 % dan 3.52 %. Perlakuan biopori (M1) menunjukkan bahwa kemiringan lahan yang lebih besar dapat menurunkan kandungan C-organik.

Sedangkan pada perlakuan mulsa vertikal (M2) juga dapat meningkatkan kandungan C-organik, tetapi tidak sebesar pada perlakuan biopori (M1). Pada perlakuan mulsa vertikal (M2) kandungan C-organik yang tertinggi terdapat pada kemiringan lahan landai (T2) yaitu sebesar 3.42 %, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T3) kandungan C-organik menurun menjadi 3.29%. Dan kandungan C-organik pada kemiringan lahan datar (T1) adalah yang paling rendah yaitu 3.28%. Perlakuan mulsa vertikal (M2) juga menunjukkan bahwa kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan C-organik, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar kandungan C-organik akan menurun.

Pengaruh antara interaksi perlakuan penempatan serasah kakao dengan perlakuan kemiringan lahan terhadap nilai N-total, juga disajikan dalam bentuk diagram (Gambar 12) :

Gambar 12. Pengaruh Penempatan Serasah Kakao (Biopori dan Mulsa Vertikal) dan Kemiringan Lahan Terhadap N-total Tanah Kebun Kakao.

Data pengamatan kandungan N-total pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal serta tabel sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 18. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penempatan serasah kakao memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan N-total. Keadaan atau kemiringan lahan juga berpengaruh signifikan terhadap kandungan N-total. Sedangkan interaksi antara penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan juga menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan N-total.

Tabel 8 dan Gambar 12 menunjukkan bahwa pada perlakuan biopori (M1) dan mulsa vertikal (M2) dapat meningkatkan kandungan N-total. Pada perlakuan biopori (M1) kandungan N-total meningkat menjadi 0.69 %, sedangkan pada perlakuan mulsa vertikal (M2) kandungan N-total menjadi 0.71 % berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian mulsa (M0) kandungan N-total adalah 0.06 %.

Begitu pula dengan kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan N-total, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar kandungan N-total menjadi menurun. Pada kemiringan lahan datar (T1) kandungan N-total adalah 0.47 %, dan pada kemiringan lahan landai (T2) kandungan N-total meningkat menjadi

0,04 0,10 0,06 0,66 0,79 0,62 0,72 0,80 0,61 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 3% 8% 15% Kemiringan Lahan N -to ta l (%) Kontrol Biopori M ulsa Vertikal

0.56 %. Tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T3) kandungan N-total menurun menjadi 0.43 %.

Perlakuan interaksi antara penempatan serasah kakao dan kemiringan lahan menunjukkan bahwa peningkatan kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan N-total, tetapi dengan peningkatan kemiringan yang lebih besar kandungan N-total menjadi menurun. Pada perlakuan mulsa vertikal (M2) kandungan N-total pada kemiringan lahan datar (T1) adalah 0.72 %. Dan pada kemiringan lahan landai (T2) kandungan N-total meningkat menjadi 0.80 %, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T3) kandungan N-total menurun menjadi 0.61 %. Perlakuan mulsa vertikal (M2) menunjukkan bahwa kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan N-total, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar kandungan N-total akan menurun.

Sedangkan pada perlakuan biopori (M1) juga dapat meningkatkan kandungan N-total, tetapi tidak sebesar pada perlakuan mulsa vertikal (M2). Pada perlakuan biopori (M1) kandungan N-total pada kemiringan lahan datar (T1) adalah 0.66 %. Dan pada kemiringan lahan landai (T2) kandungan N-total meningkat menjadi 0.79 %, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T3) kandungan N-total menurun menjadi 0.62 %. Perlakuan biopori (M1) juga menunjukkan bahwa kemiringan lahan dapat meningkatkan kandungan N-total, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar kandungan N-total akan menurun.

Dari kedua perlakuan (biopori dan mulsa vertikal) pada kemiringan lahan datar sampai landai, penempatan mulsa secara vertikal (M2) memiliki kandungan hara N yang lebih tinggi dibandingkan dengan penempatan secara biopori (M1). Namun pada topografi dengan kemiringan lahan yang lebih besar, ternyata

penempatan secara biopori (M1) lebih dapat meningkatkan kandungan hara N di dalam tanah.

Pengaruh antara interaksi perlakuan penempatan serasah kakao dengan perlakuan kemiringan lahan terhadap nilai C/N, juga disajikan dalam bentuk diagram (Gambar 13) :

Gambar 13. Pengaruh Penempatan Serasah Kakao (Biopori dan Mulsa Vertikal) dan Kemiringan Lahan Terhadap Rasio C/N Tanah Kebun Kakao.

Data pengamatan rasio C/N pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal serta tabel sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 19. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penempatan serasah kakao memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rasio C/N. Keadaan atau kemiringan lahan juga berpengaruh signifikan terhadap rasio C/N. Sedangkan interaksi antara penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap rasio C/N.

Tabel 8 dan Gambar 13 menunjukkan bahwa pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal dapat menurunkan nilai C/N. Pada perlakuan mulsa vertikal (M2) nilai C/N menurun menjadi 4.74, sedangkan pada perlakuan biopori (M1) nilai C/N menjadi 5.14 berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pemberian mulsa (M0) nilai C/N adalah 10.20. 8,39 10,29 11,91 5,40 4,32 5,71 4,57 4,28 5,38 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 3% 8% 15% Kemiringan Lahan Ra si o C/ N kontrol Biopori M ulsa Vertikal

Tetapi dengan kemiringan lahan yang lebih besar dapat meningkatkan nilai C/N. Pada kemiringan lahan datar (T1) nilai C/N adalah 6.12, dan pada kemiringan lahan landai dan miring (T2 dan T3) nilai C/N meningkat yaitu masing-masing sebesar 6.30 dan 7.67.

Perlakuan interaksi antara penempatan serasah kakao dan kemiringan lahan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap nilai C/N. Perlakuan interaksi menunjukkan bahwa penempatan mulsa secara biopori maupun vertikal pada kemiringan lahan datar sampai landai dapat menurunkan nilai C/N, tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar nilai C/N menjadi meningkat.

Pengaruh antara interaksi perlakuan penempatan serasah kakao dengan perlakuan kemiringan lahan terhadap total mikroba tanah, juga disajikan dalam bentuk diagram seperti dibawah ini :

Gambar 14. Pengaruh Penempatan Serasah Kakao (Biopori dan Mulsa Vertikal) dan Kemiringan Lahan Terhadap Total Mikroba Tanah Kebun Kakao.

Data pengamatan total mikroba tanah pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal serta tabel sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 20. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penempatan serasah kakao memberikan pengaruh yang signifikan terhadap total mikroba tanah. Keadaan atau kemiringan lahan juga berpengaruh signifikan terhadap total mikroba tanah. Sedangkan interaksi antara penempatan serasah kakao dengan kemiringan lahan juga menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap total mikroba tanah.

5,17 2,50 1,67 6,50 4,33 2,17 7,67 4,83 2,50 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 3% 8% 15% Kemiringan Lahan T o ta l M ik r o b a T a n a Kontrol Biopori M ulsa Vertikal

Tabel 8 dan Gambar 14 menunjukkan bahwa perlakuan mulsa vertikal (M2) lebih efektif untuk meningkatkan total mikroba tanah dibandingkan perlakuan biopori (M1). Pada perlakuan biopori (M1) total mikroba tanah adalah 4.33 x 107, sedangkan pada perlakuan mulsa vertikal (M2) total mikroba tanah meningkat menjadi 5.00 x 107

Tetapi pada perlakuan kemiringan lahan dapat menurunkan total mikroba tanah pada kemiringan lahan yang lebih besar. Pada kemiringan lahan datar (T1) total mikroba tanah adalah 7.08 x 10

.

7

, dan pada kemiringan lahan landai dan miring (T2 dan T3) total mikroba tanah menjadi menurun yaitu masing-masing sebesar 4.58 x 107 dan 2.33 x 107

Perlakuan interaksi antara penempatan serasah kakao dan kemiringan lahan menunjukkan bahwa perlakuan biopori dan mulsa vertikal dapat meningkatkan total mikroba tanah dengan kemiringan lahan datar, tetapi dengan kemiringan lahan yang lebih besar total mikroba tanah pada perlakuan biopori dan mulsa vertikal semakin menurun. Pada perlakuan mulsa vertikal (M2) total mikroba tanah yang tertinggi terdapat pada kemiringan lahan datar (T1) yaitu 7,67 x 10

.

7.

Tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T2 dan T3) total mikroba tanah ternyata semakin menurun yaitu 4.83 x 107 dan 2.50 x 107

Sedangkan pada perlakuan biopori (M1) juga dapat meningkatkan total mikroba tanah, meskipun tidak sebesar pada perlakuan mulsa vertikal (M2). Pada perlakuan biopori (M1) total mikroba tanah tertinggi juga terdapat pada kemiringan lahan datar (T1) yaitu 6.50 x 10

.

7.

Tetapi pada kemiringan lahan yang lebih besar (T2 dan T3) total mikroba tanah ternyata semakin menurun yaitu 4.33 x 107 dan 2.17 x 107.

4.2. Pembahasan

Dokumen terkait