4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.7. Perbandingan mutu pepton ikan selar dengan pepton komersial sebagai media pertumbuhan bakteri
Aktivitas pepton ikan selar terhadap pertumbuhan bakteri dapat diketahui dengan melakukan pengujian terhadap bakteri serta perbandingan dengan pepton komersial. Pengujian kemampuan pepton ikan selar dalam mendukung pertumbuhan bakteri menggunakan bakteri E. coli, S. aureus, dan Bacillus sp.
Pengamatan dilakukan pada laju pertumbuhan bakteri. Bakteri memerlukan nitrogen dalam pertumbuhan sebagai sumber energi khususnya untuk bakteri autotrof. Bakteri autotrof mampu megoksidasi bahan orgaik tanpa menggunakan energi matahari. Energi yang dibutuhkan berasal dari NH3, NO2-, S2, dan Fe2+
(Jursthuk 2005). Pertumbuhan bakteri salah satunya dapat diketahui dengan mengukur nilai OD. Hasil pengamatan laju pertumbuhan bakteri dilihat dari kepadatan bakteri (OD) yang disajikan dalam Gambar 13, 14 dan 15.
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Wak tu p e n g am atan (jam )
Nilai OD
Bac topeptone Pos t rigor Bus uk
Gambar 13. Perbandingan laju pertumbuhan bakteri Bacillus sp. dengan media pepton ikan selar post rigor, busuk, dan bactopepton.
0
Gambar 14. Perbandingan laju pertumbuhan bakteri S. aureus dengan media pepton ikan selar post rigor, busuk, dan bactopepton.
0
Bac topeptone P os t rigor Busuk
Gambar 15. Perbandingan laju pertumbuhan bakteri E. coli dengan media pepton ikan selar post rigor, busuk, dan bactopepton.
Gambar 13, 14, dan 15 menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri dengan menggunakan media pepton ikan selar memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan media pepton komersial. Bakteri Bacillus sp, dan. E. coli, S. aureus. Pada media pepton ikan selar (post rigor dan busuk) mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan media pepton komersial. Selama pertumbuhannya ketiga jenis bakteri memperlihatkan pertumbuhan yang baik hal ini terlihat dari nilai OD yang semakin meningkat. Terjadi kenaikan nilai OD diduga karena selama pertumbuhannya bakteri-bakteri tersebut mampu memecah ikatan-ikan peptida terlarut yang dikandung oleh pepton ikan selar yang dihasilkan, sehingga konsumsi nitrogen oleh ke tiga jenis bakteri tersebut lebih
baik bila dibandingkan dengan pepton komersial. Nilai OD untuk masing-masing bakteri yaitu Bacillus sp., S. aureus, dan E. coli. Pada jam ke 20 (jam terakhir pengukuran) nilai OD pada media pepton komersial adalah 0,55; 0,95;
dan 0,90; sedangkan pada media pepton ikan selar fase post rigor nilai OD adalah 0,85; 0,50 dan 0,95, untuk perlakuan busuk pada jam ke 20 pengukuran OD untuk masing-masing bakteri adalah 0,7; 0,9 dan 0,85. Gambar 12, 13 dan 14 diketahui bahwa kecepatan tumbuh bakteri pada media yang ditambahkan pepton ikan selar memiliki nilai OD yang lebih tinggi atau lebih keruh dibandingkan pepton komersial produksi Difco, hal ini dikarenakan pepton ikan selar memiliki jumalah total nitrogen yang lebih banyak dibandingkan pepton komersial. Jumlah nitrogen dalam pepton tergantung pada jumlah total nitrogen bahan baku pembuatan pepton. Ikan merupakan bahan yang memiliki kadar protein yang cukup tinggi, sehingga kadar total nitrogen juga tinggi. Bahan baku ikan juga memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi. Mineral merupakan salah satu faktor pendukung pertumbuhan bakteri karena setiap makhluk hidup dalam pertumbuhan dan kehidupannya membutuhkan mineral. Selain itu tingginya nilai OD pada media sederhana pepton ikan selar baik post rigor maupun busuk diduga karena bahan baku yang digunakan dalam kondisi yang telah terurai proteinnya, sehingga pada saat hidrolisis menggunakan enzim eksternal (protease papain) lebih mudah mengurainya, dan menghasilkan rasio nitrogen terlarut yang lebih tinggi.
Hasil pengujian terhadap pertumbuhan bakteri di atas dapat disimpulkan bahwa media sederhana pepton ikan selar (post rigor dan busuk) sangat layak dijadikan media pertumbuhan bakteri Bacillus sp., S. aureus, dan E. coli.
Media pepton ikan selar memiliki nilai nitrogen terlarut yang sangat baik untuk konsumsi bakteri tersebut di atas sehingga dapat disimpulkan pepton ikan selar layak digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri.
Hal yang sama juga terjadi pada penelitian Praptono (2006), pada penelitian tersebut terjadi peningkatan nilai OD yang terlihat dari kurva pertumbuhan bakteri pada media sederhana ikan gulamah yang lebih baik dibandingkan pepton komersial. Penelitian yang sama juga dilaporkan oleh Wardhana (2008), yang menyatakan bahwa tingginya pertumbuhan bakteri jenis S. aureus pada media pepton kerang, diduga karena semakin miringnya
kecenderungan suatu garis penggunaan konsumsi nitrogen oleh masing-masing bakteri maka semakin mudah mikroorganisme tersebut untuk mengkonsumsinya dan akhirnya menghasilkan pertumbuhan bakteri yang sangat baik.
Media pertumbuhan bakteri sangat beragam tergantung pada jenis bakteri yang akan dikulturkan karena bakteri sendiri memiliki persyaratan terhadap kebutuhan nutrien dan lingkungan fisiknya. Pepton merupakan salah satu sumber nutrien atau nutrisi bagi pertumbuhan bakteri, terutama sebagai sumber nitrogen.
Bakteri sebagai makhluk hidup sangat beragam dilihat dari kebutuhan nitrogen, beberapa tipe menggunakan nitrogen atsmoferik, beberapa tumbuh pada senyawa nitrogen anorganik dan yang lain membutuhkan nitrogen dalam bentuk seyawa nitrogen oraganik (Pelczar dan Chan 1986). Bakteri dalam pertumbuhannya juga menggunakan beberapa senyawa logam seperti natrium, kalsium, kalium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga, kobalt untuk pertumbuhan normal.
Jumlah senyawa logam yang dibutuhkan sangat kecil diukur dalam jumlah part per million (Pelczar dan Chan 1986). Beberapa mikroorganisme terutama jenis patogenik dalam pertumbuhannya memerlukan beberapa faktor pertumbuhan yang khusus, seperti vitamin, asam lemak, asam amino, atau seyawa pertumbuhan yang berasal dari darah hewan (Kathleen 2005). Pepton merupakan senyawa sumber senyawa nitrogen organik dan dapat pula mengandung vitamin dan kadang-kadang mengandung karbohidrat, bergantung pada jenis bahan yang mengandung protein yang dicernakan pada bakteri (Pelczar dan Chan 1986). Pepton memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mendukung pertumbuhan bakteri.
Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri diantaranya adalah suhu, pH, tekanan (pressure), tekanan osmotik, aktivitas air (aw), dan konsentrasi garam (Kathleen 2005). Nutrien digunakan dalam pertumbuhan bakteri sebagai penyusun sel, diantaranya adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Lemak dibutuhkan dalam bentuk asam-asam lemak bebas sebagai pendukung pertumbuhan bakteri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu pepton ikan selar lebih baik dibandingkan pepton komersial. Hal ini didukung dengan hasil perbandingan daya dukung pertumbuhan bakteri, asam amino, dan karakteristik pepton ikan selar dengan pepton komersial.