BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Konsep dan Teori
3. Perbankan Syariah
a. Pengertian Bank Syariah
Bank Syariah adalah merupakan lembaga intermediasi dan penyedia jasa keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem nilai Islam, khususnya yang bebas dari bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif yang non produktif seperti perjudian (maysir), bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan (gharar), prinsip keadilan, dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal (Yumanita, 2005:4).
Sedangkan (Muhammad, 2000:13) dalam buku Manajemen Bank Syariah. Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha
pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoprasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam.
Menurut Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah bahwa Perbankan Syariah adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bank syariah adalah bank yang dalam kegiatan usahanya sesuai dengan syariat Islam.
b. Produk dan Jasa pada Bank Syariah
Pada dasarnya, produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar (Karim, 2004: 97), yaitu:
1) Produk Penghimpunan Dana (funding)
(a) Giro Wadi‟ah. Dana nasabah yang dititipkan di bank. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro oleh bank. (b) Tabungan Mudharabah. Dana yang disimpan oleh nasabah
akan dikelola bank, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan yang diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan bersama.
(c) Deposito Investasi Mudharabah. Dana yang disimpan nasabah hanya bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang
telah ditentukan, dengan bagi hasil keuntungan berdasarkan kesepakatan bersama.
(d) Tabungan bentuk lain berdasarkan prinsip wadi‟ah dan mudharabah. Misalnya tabungan Haji mudharabah, tabungan Qurban dimana simpanan pihak ketiga, penarikannya dilakukan pada saat nasabah akan menunaikan ibadah yang bersangkuatan atau pada kondisi-kondisi tertentu sesuai dengan kesepakatan dan perjanjian bank dengan nasabah.
2) Produk Penyaluran Dana (financing)
(a) Mudharabah. Bank dapat menyediakan pembiayaan modal investasi atau modal kerja, hingga 100% sedangkan nasabah menyediakan usaha dan manajemennya. Bagi hasil keuntungan melalui perjanjian yang sesuai dengan porsinya. (b) Salam. Pembiayaan kepada nasabah untuk membuat barang
tertentu atas pesanan pihak-pihak lain atau pembeli. Bank memberikan dana pembiayaan diawal untuk membuat barang tersebut setelah adanya kesepakatan tentang harga jual kepada pembeli. Barang yang di beli dalam tanggungan nasabah dengan perjanjian yang telah ditentukan.
(c) Istisna‟. Pembiayaan kepada nasabah yang terlebih dahulu memesan barang kepada bank atau produsen lain dengan kriteria tertentu. Kemudian nasabah dan bank membuat
perjanjian yang mengikat tentang harga jual dan cara pembayarannya.
(d) Ijarah wa Iqtina‟. Merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa.
(e) Murabahah. Pembiayaan pembelian barang lokal atau pun internasional. Pembiayaan ini diaplikasikan untuk tujuan modal kerja dan pembiayaan investasi baik jangka panjang atau pun jangka pendek. Bank mendapat keuntungan dari harga barang yang dinaikkan.
(f) Al-Qardhul Hasan. Pinjaman lunak bagi pengusaha yang benar-benar kekurangan modal. Nasabah tidak perlu membagi keuntungan kepada bank, tetapi hanya membayar biaya administrasi saja.
(g) Musyarakah Pembiayaan sebagian dari modal usaha keseluruhan, dimana pihak bank akan dilibatkan dalam proses manajemen. Pembagian keuntungan berdasarkan perjanjian.
3) Produk Jasa (service)
Pada dasarnya ada lima akad jasa yang digunakan dalam bank syariah, antara lain: wakalah (deputyship), kafalah (guaranty), hawalah (transfer service), rahn (mortgage), dan qardh (soft and
benevolent loan) (Antonio, 2001:120). Sedangkan untuk aplikasi dalam perbankan syariah sebagai berikut:
(a) Jasa penerbitan L/C
Yaitu pendanaan ulang LC atau fasilitas pendanaan L/C yang diberikan kepada importir dengan menggunakan dana dari bank lain (Suwiknyo, 2009:143).
(b) Jasa Transfer
Adalah kegiatan penyelesaian permohonan pemindahan uang/dana dari satu kantor cabang bank ke kantor cabang lainnya atau bank korespondennya di luar negeri yang dilakukan melalui sarana komunikasi yang telah dilengkapi dengan transfer dari nasabah, diteruskan bank dengan instruksi untuk membayar sejumlah tertentu kepada orang yang disebutkan namanya dalam transfer tersebut serta pembayaran kepada nasabah (Suwiknyo, 2009:259).
(c) Jasa Inkasso
Merupakan penagihan warkat kliring (cek/bilyet giro atau warkat lain) melalui kantor cabang bank kepada bank penerbit warkat kliring di luar wilayah kliring (Suwiknyo, 2009:117).
(d) Bank Garansi
Adalah kesanggupan tertulis yang diberikan oleh bank kepada pihak penerima jaminan bahwa bank akan membayar
sejumlah uang kepadanya pada waktu tertentu jika pihak terjamin tidak dapat memenuhi kewajibannya (Suwiknyo, 2009:38).
(e) Menerima Zakat, Infaq dan Sadaqoh (untuk disalurkan). Definisi zakat menurut ulama dalam lingkungan mazhab
Syafi‟i adalah suatu istilah tentang suatu ukuran tertentu dari
harta yang telah ditentukan, yang wajib dibagikan kepada golongan-golongan tertentu serta dengan syarat-syarat yang telah ditentukan (Mujahidin, 2007:57).
Infak yaitu pemberian sesuatu yang akan digunakan untuk kemaslahatan umat (Mujahidin, 2007:117).
Sedangkan sadaqoh adalah tindakan beramal atau pemberian sejumlah uang kepada pihak lain dengan tujuan sosial tanpa maksud komersial, yaitu tidak mengambil keuntungan materi (Mujahidin, 2007:229).
c. Konsep Bunga Dalam Berbagai Agama 1) Konsep Bunga Dalam Hindu dan Budha
Praktek riba (rente) dalam agama Hindu dan Budha dapat kita temukan dalam naskah kuno India. Teks-teks Veda India kuno (2.000-1.400.SM) mengkisahkan “lintah darat” (kusidin)
disebutkan sebagai pemberi pinjaman dengan bunga. Dalam teks Sutra (700-100.SM) dan Jataka Buddha (600-400.SM) menggambarkan situasi sentimen yang menghina riba.
Sebagai contoh Vasishtha, seorang Hindu terkenal pembuat hukum waktu itu, membuat undang-undang khusus yang melarang kasta yang lebih tinggi dari Brahmana (pendeta) dan Ksatria (pejuang) menjadi rentenir atau pemberi pinjaman dengan bunga tinggi. Juga dalam Jataka, riba disebut sebagai hypocritical ascetics are accused of practising it. Pada abad kedua, riba telah menjadi istilah yang lebih relatif, seperti yang tersirat dalam
hukum Manu, “ditetapkan bunga melampaui tingkat hukum yang
berlaku. (Mutasowifin, 2003:32).
2) Konsep Bunga Dalam Yahudi
Orang-orang Yahudi dilarang mempraktekkan pengambilan bunga. Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testament (Perjanjian Lama) maupun undang- undang Talmud. Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25
menyatakan: “Jika engkau meminjamkan uang kapada salah
seorang ummatku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih hutang terhadap dia,
janganlah engkau bebankan bunga terhadapnya.”
Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 menyatakan:
“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang
maupun bahan makanan, atau apa pun yang dapat dibungakan”.
Selain itu juga terdapat dalam Kitab Levicitus (Imamat) pasal
atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudara-mu bisa hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uang-mu kepadanya dengan meminta bunga, juga
makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba.” 3) Konsep Bunga Dalam Yunani dan Romawi
Pada masa Yunani, sekitar abad VI Sebelum Masehi hingga I Masehi, telah terdapat beberapa jenis bunga. Besarnya bunga tersebut bervariasi tergantung kegunaannya.
Pada masa Romawi, sekitar abad V sebelum Masehi hingga IV Masehi, terdapat undang-undang yang membenarkan penduduknya mengambil bunga selama tingkat bunga tersebut sesuai dengan tingkat maksimal yang dibenarkan hukum (maximum legal rate). Nilai suku bunga ini berubah-ubah sesuai dengan berubahnya waktu. Meskipun undang-undang membenarkan pengambilan bunga, tetapi pengambilannya tidak dibenarkan dengan cara bunga berbunga (double countable).
Pada masa pemerintahan Genucia (342 SM) kegiatan pengambilan bunga tidak diperbolehkan. Tetapi, pada masa Unciaria (88 SM) praktik tersebut diperbolehkan kembali seperti semula. Meskipun demikian, praktik pengambilan bunga dicela oleh para ahli filsafat. Dua orang ahli filsafat Yunani terkemuka, Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), mengecam praktik bunga. Begitu juga dengan Cato (234-149 SM) dan Cicero
(106-43 SM). Para ahli filsafat tersebut mengutuk orang-orang Romawi yang mempraktekkan pengambilan bunga.
Plato mengecam sistem bunga berdasarkan dua alasan. Pertama, bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Kedua, bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Sedangkan Aristoteles, dalam menyatakan keberatannya mengemukakan bahwa fungsi uang adalah sebagai alat tukar atau medium of exchange. Ditegaskannya, bahwa uang bukan alat untuk menghasilkan tambahan melalui bunga. Ia juga menyebut bunga sebagai uang yang berasal dari uang yang keberadaannya dari sesuatu yang belum tentu pasti terjadi. Dengan demikian, pengambilan bunga secara tetap merupakan sesuatu yang tidak adil.
Penolakan para ahli filsafat Romawi terhadap praktik pengambilan bunga mempunyai alasan yang kurang lebih sama dengan yang dikemukakan ahli filsafat Yunani. Cicero memberi nasihat kepada anaknya agar menjauhi dua pekerjaan, yakni memungut cukai dan memberi pinjaman dengan bunga. Cato memberikan dua ilustrasi untuk melukiskan perbedaan antara perniagaan dan memberi pinjaman.
1) Perniagaan adalah suatu pekerjaan yang mempunyai risiko sedangkan memberi pinjaman dengan bunga adalah sesuatu yang tidak pantas.
2) Dalam tradisi mereka terdapat perbandingan antara seorang pencuri dengan seorang pemakan bunga. Pencuri akan didenda dua kali lipat sedangkan pemakan bunga akan didenda empat kali lipat.
Ringkasnya, para ahli filsafat Yunani dan Romawi menganggap bahwa bunga adalah sesuatu yang hina dan keji. Pandangan demikian itu juga dianut oleh masyarakat umum pada waktu itu. Kenyataan bahwa bunga merupakan praktik yang tidak sehat dalam masyarakat merupakan akar kelahiran pandangan tersebut.
4) Konsep Bunga Dalam Agama Kristen
Adapun konsep bunga dalam Agama Kristen terdapat pada Lukas 6:34-35 sebagai ayat yang mengecam praktik pengambilan
bunga. Ayat tersebut menyatakan,”Dan, jikalau kamu
meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu darinya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuat baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Tuhan Yang Maha Tinggi sebab Ia baik
terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Antonio, 2001:45).
5) Konsep bunga dalam Agama Islam
Menurut bahasa, riba memiliki beberapa pengertian, yaitu; bertambah, berkembang, dan berlebihan atau menggelembung. Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud dengan riba menurut Al-Mali ialah “akad yang terjadi atas penukaran barang tertentu
yang tidak diketahui perimbangannya menurut ukuran syara‟,
ketika berakad atau dengan mengakhirkan tukaran kedua belah pihak atau salah satu keduanya”. (Suhendi, 2008:57).
Dalam Al-Quran pelarangan riba terdapat dalam surat Al Imran ayat 130: (Antonio, 2001:49)
لْفت ْمكلعل َ ا قتا ۖ ةفَا م ا فاعْضأ ابَلا ا لكْأت َ ا نمآ نيذلا ا يأ اي ْ ح
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”
Dalam hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah saw. Bersabda,”Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima atau
pemberi sama-sama bersalah.” (HR Muslim no. 2971, dalam kitab al-Massaqah) (Antonio, 2001:53).
Dalam literatur ulama fikih klasik tidak dijumpai pembahasan mengaitkan antara riba dengan bunga bank. Mengutip pada
bukunya Drs. Ghufron A. Mas‟adi, M. Ag., dalam bukunya “Fiqh
Muamalah Kontekstual”, Wahbah al-Zuhaily membahas bunga bank dengan menggunakan sudut pandangan teori fikih klasik
menurutnya bunga bank termasuk Riba Nasi‟ah (Ghufron,
2002:166).