BAB II TINJUAN PUSTAKA
2.1.3. Perbedaan Bank Islam dan Bank Konvensional
Perbedaan Bank Islam dan Bank Konvensional
Keterangan Bank Islam Bank Konvensional
Akad dan Aspek Legalitas
Hukum Positif Hukum Islam dan Hukum Positif
Struktur Organisasi Ada Dewan Syariah Nasional (DSN) dan
Investasi Halal Halal dan Haram
Prinsip Organisasi Bagi hasil, jual beli, sewa Perangkat Bunga
Tujuan Profit and Falah
Oriented
Profit Oriented Hubungan Nasabah Kemitraan Debitur – Kreditur
Sumber: Dewi Gemala (2006)
Tabel 2.3
Perbedaan Bunga dengan Bagi Hasil
Bagi Hasil Bunga
1. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkin untung rugi.
2. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.
3. Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua pihak.
4. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
5. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.
1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung.
2. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.
3. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa mempertimbangkan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
4. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang ”booming”.
5. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama, termasuk islam.
Sumber: Muhammad Syafi‟i Antonio (2001)
Tabel 2.4
Perbedaan Musyarakah pada Bank Syariah dan Kreditpada Bank Konvensional
3. Melakukan investasi yang halal saja 4. Berorientasi keuntungan duniawi
dan ukhrawi
1. Memakai perangkat bunga
2. Hubungan dengan nasabah sebagai debitur-kreditur
3. Investasinya bisa halal, subhat, dan haram
4. Berorientasi hanya pada duniawi
Sumber: Muhammad Syafi‟i Antonio (2001)
2.2. Stabilitas Keuangan
Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) atau disebut dengan Stabilitas Keuangan adalah terhindar dari krisis moneter atau keuangan (avoidance of financial crisis) (Mc Farlene,1999). Stabilitas sistem keuangan merupakan suatu
kondisi dimana mekanisme ekonomi dalam penetapan harga, alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara baik serta mendukung pertumbuhan ekonomi.
Peneliti Eksekutif Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia, Agusman mengatakan bahwa stabilitas keuangan dapat dilihat dari dua hal, yaitu institusi yang stabil yang dapat dilihat dari tidak adanya bank atau lembaga keuangan yang collapse dan dipertaruhkan kredibilitasnya oleh masyarakat, kedua adalah pasar yang stabil.
Oleh karena itu, pentingnya SSK ini mempunyai pengaruh langsung terhadap stabilitas makro dalam sebuah sistem perekonomian dan sebaliknya.
Pada saat stabilitas makro bergejolak maka stabilitas keuangan akan mendapatkan dampaknya. Kondisi makro ekonomi seperti stabilnya daya beli masyarakat, kuatnya permintaan domestik, serta stabilnya nilai tukar rupiah bisa membawa pengaruh positif bagi kestabilan sistem keuangan.
Menurut Adha (2011;3), ada beberapa alasan pentingnya SSK dalam sistem perekonomian, diantaranya:
a. Kestabilan sistem keuangan akan membentuk pasar yang sehat, terkontrol dan alokasi dari berbagai sumber daya yang ada dapat dikondisikan secara optimal.
b. Kestabilan sistem keuangan berdampak langsung dengan kesehatan dunia perbankan, dengan sistem keuangan yang stabil dunia perbankan dapat menjalankan fungsinya sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat secara maksimal, tentu hal ini juga akan mempengaruhi sektor riil.
c. Dengan stabilnya sistem keuangan akan mempengaruhi perputaran jumlah uang beredar dimasyarakat karena sistem keuangan berjalan dengan baik, sehingga inflasipun dapat dikendalikan.
d. Biaya dari instabilitas sistem keuangan dapat ditekan karena pengaruh dari instabilitas tersebut menyerang langsung sektor keuangan yang mempunyai biaya restrukturisasi yang tidak murah, seperti sektor perbankan.
e. Instabilitas sistem keuangan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap terjadinya krisis moneter, sehingga diperlukan upaya yang maksimal dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.
2.3. Kinerja Keuangan Perbankan
Penilaian kinerja keuangan perbankan dimaksudkan untuk menilai keberhasilan manajemen di dalam mengelola suatu badan usaha. Kinerja perbankan merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam aspek keuangan, pemasaran, penghimpunan dan penyaluran dana dalam suatu periode.
Bank sebagai sebuah perusahaan wajib mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja bank yang bersangkutan, oleh karena itu diperlukan transparansi atau pengungkapan informasi laporan keuangan bank yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan, serta sebagai dasar pengambilan keputusan (Gunawan dan Dewi, 2003).
Ukuran yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan adalah rasio. Rasio merupakan alat yang sangat berguna. Dengan menggunakan rasio untuk melakukan analisis, manajer keuangan dapat memperkirakan reaksi
para kreditor dan investor, serta pandangan ke dalam mengenai bagaimana suatu dana dapat diperoleh.
Hasil dari rasio keuangan sangat berguna bagi pengembangan atas kebijaksanaan perusahaan itu sendiri maupun dari pertimbangan pihak luar perusahaan, misalnya bank dalam memberikan fasilitas kredit, dan investor dalam merencanakan modalnya.
2.3.1. Kecukupan Modal/ Rasio Permodalan (Capital)
Kecukupan modal adalah gambaran kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi untuk menutup risiko kerugian yang mungkin timbul dari penanaman dana dalam aset produktif yang mengandung risiko, serta untuk pembiayaan dalam aset tetap dan investasi. Rasio Kecukupan Modal yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio yaitu rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menampung kerugian yang diakibatkan dalam operasional bank. Kegiatan utama Bank adalah menghimpun dana dan menyalurkan kembali dalam bentuk kredit. Dengan CAR yang cukup atau memenuhi ketentuan, Bank tersebut dapat beroperasi sehingga terciptalah laba. Besarnya modal suatu Bank juga akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Bank. Dengan kata lain semakin tinggi CAR semakin baik kinerja suatu bank (Sawir, 2009).
2.3.2. Rasio Profitabilitas/Return on Asset (ROA)
Return on Asset (ROA) adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara laba dengan total aset bank, rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan
aset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. ROA merupakan indikator kemampuan perbankan untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki oleh bank. ROA dapat diperoleh dengan cara menghitung rasio antara laba setelah pajak dengan total aktiva.
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan (Wilman, 2011).
2.3.3. Resiko Likuiditas (Liquidity)
Likuiditas secara luas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai. Likuiditas yang tersedia harus cukup, tidak boleh terlalu kecil sehingga mengganggu kebutuhan operasional sehari-hari, tetapi juga tidak boleh terlalu besar karena akan menurunkan efisiensi dan berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas (Muhammad, 2004).
Risiko likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini diukur dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio
perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh pihak bank yang bersangkutan. Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dananya dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya.
Pada Bank Islam menggunakan risiko likuiditas diukur dengan rasio Financing to Deposit Rasio (FDR) merupakan rasio yang digunakan dalam
mengukur komposisi jumlah pembiayaan yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan (Kasmir, 2010:225) 2.3.4. Efisiensi Perbankan
Efisiensi adalah kata yang menunjukkan keberhasilan seseorang atau organisasi atas usaha yang dijalankan yang diukur dari segi besarnya sumber yang digunakan untuk mencapai hasil kegiatan yang dijalankan. Dengan kata lain, efisiensi merupakan perbandingan antara sumber dan hasil. Jika dikaitkan dengan teori sistem, maka efisiensi merupakan perbandinga antara masukan (input) dengan keluaran (output) (Muhammad, 2004).
Dalam kasus perusahaan yang bergerak dibidang perbankan, efisiensi operasional dilakukan untuk mengetahui apakah bank dalam operasinya yang berhubungan usaha pokok bank, dilakukan dengan benar dalam arti sesuai yang diharapkan manajemen dan pemegang saham.Efisiensi operasi juga berpengaruh terhadap kinerja bank, yaitu untuk menunjukkan apakah bank telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna (Mawardi, 2005).Salah satu rasio mengukur efisiensi perbankan ialah rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).BOPO merupakan rasio antara biaya operasional dibagi pendapatan operasional.Biaya operasional adalah semua biaya atau beban yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan usaha bank tersebut.
Dalam kegiatan operasional pastinya bank membutuhkan biaya, tanpa adanya biaya tidak mungkin kegiatan tersebut dapat dijalankan. Biaya operasional akan berhubungan dengan pendapatan operasional. Biaya operasional pendapatan operasional (BOPO) merupakan hal yang saling berkaitan apabila pendapatan
lebih besar daripada biaya operasional, maka bank akan mendapatkan profit yang lebih besar.
Bersadarkan teori diatas dapat dikatakan bahwa semakin kecil rasio BOPO maka biaya operasional yang dikeluarkan bank semakin efisien, yang berarti kinerja keuangan bank akan semakin meningkat. Sebaliknya semakin besar rasio BOPO maka berarti bank kurang mampu menekan biaya operasional sehingga bank kurang efisien dalam mengelola sumber daya yang ada di bank, sehingga dapat menyebabkan kinerja keuangan dan tingkat profitabilitas menjadi menurun.
2.3.5. Resiko Kredit
Pada penelitian ini kinerja keuangan yang digunakan sebagai proksi terhadap nilai suatu resiko kredit adalah rasio Non Performing Loan (NPL).Rasio ini menunjukan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh pihak bank. Non Performing Loan (NPL) merupakan aktiva produktif dengan kualitas aktiva kurang lancar, diragukan, dan macet. Besaran NPL ditujukan dengan persentase perbandingan kredit bermasalah dengan seluruh kredit atau pembiayaan yang dikucurkan bank (Syahyunan, 2004)
Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.
2.4. Penelitian Terdahulu
Penelitian kinerja keuangan perbankan telah di lakukan para peneliti sebelumnya, tetapi dalam penelitiannya selalu menghasilkan hasil yang berbeda.
Hasil dari beberapa penelitian terdahulu akan digunakan sebagai bahan refensi
dan perbandingan dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu sebagai berikut:
Tabel 2.5 Penelitian Terdahulu
Nama Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian Teguh Santoso variabel CA dan ID tidak berbengaruh signifikan
Memiliki Jenis
Kerangka konseptual ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan variabel yang diteliti dan merupakan tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian.
Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan bahwa variabel-variabel tersebut berpengaruh terdapat Stabilitas. Dalam penelitian ini, variabel independen (X) yang ditentukan oleh peneliti mewakili Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Financing Deposit Rasio (FDR)/ Loan Deposit Rasio (LDR), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), Non Performing Financing (NPF) / Non Performing Loan (NPL), dan variabel Dependen (Y) yaitu Z-Score.
Kerangka konseptual dari penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian Pengaruh antara CAR, ROA, FDR/ LDR, BOPO, NPF/ NPL terhadap Z-Score
2.6. Hipotesis
Diduga terdapat perbedaan signifikan antara tingkat kinerja keuangan antara Bank Islam dengan tingkat kinerja keuangan Bank Konvensional.
H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara CAR bank islam dan bank konvensional
H2 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara ROA bank islam dan bank konvensional
H3 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara LDR / FDR rasio bank islam dan bank konvensional
H4 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara BOPO bank islam dan bank konvensional
H5 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara NPL / NPF bank islam dan bank konvensional
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian dan Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk memjelaskan berbagai fenomena, situasi atau variabel yang diangkat menjadi objek penelitian. Jenis penelitian ini didasari pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan format penelitian asosiatif.
Sumber data Penelitian yang dilakukan diperoleh melalui penelusuran media internet dari (www.ojk.go.id) dan (www.bi.go.id) dan website resmi bank yang bersangkutan. Sumber penunjang lainnya berupa jurnal yang diperlukan, dan sumber-sumber lain yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Data pendukung lainnya akan di peroleh dan dikumpulkan dari jurnal, internet dan sumber-sumber lain yang relevan.
3.2. Batasan Operasional
Peneliti memberikan batasan konsep terhadap penelitian yang akan diteliti, diantaranya:
1. Penelian ini menggunakan 5 variabel bebas (independen variabel) yaitu Capital Adequcy Ratio (X1), Return on Asset (X2) Loan to Deposit Ratio / Financing to Deposit Rasio (X3), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (X4), Non Performing Loan / Non Performing Financing (X5), dan(variabel dependen) yaitu Z-score.
2. Sebagai objek dalam penelitian ini terdiri 10 Bank Islam dan Bank umum Konvensional.
3. Penelitian ini menggunakan data yang dipublikasikan oleh masing-masing bank dengan rentan waktu tahun 2012-2016.
3.3. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu dependen dan variabel indenpenden. Berikut penjelasan kedua variabel tersebut:
1. Variabel Dependen (Dependent Variable)
Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah Z-Score untuk melihat perbandingan kinerja keuangan perbankan.
2. Variabel Indenpenden (Independent Variable)
Dalam penelitian ini yang merupakan variabel independennya adalah:
a. CAR b. ROA c. LDR/ FDR d. BOPO e. NPL/ NPF
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Ukuran Variabel
No Variabel Pengertian Pengukuran
1. CAR Rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha serta menampung kemungkinan risiko kerugian yang diakibatkan operasional bank.
2. ROA Rasio ini digunakan untuk
3.4. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah sekelompok orang atau objek kejadian yang mempunyai karakteristik tertentu dan sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi.
Adapun metode yang digunakan untuk menentukan sampling dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive Sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (umumnya disesuaikan dengan tujuan dan masalah penelitian). Elemen populasi yang dipilih sebagai sampel dibatasi pada elemen-elemen yang dapat memberikan informasi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Kriteria untuk pemilihan sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bank Islam/ Bank Syariah dan Bank Konvensional yang telah berdiri lebih dari 7 tahun.
2. Bank Islam/ Bank Syariah dan Bank Konvensional yang terdaftar di Bank Indonesia dan telah mempublikasikan laporan keuangan bank dari tahun 2012-2016.
3. Bank Konvensional yang memiliki Bank Islam/ BankSyariah dan telah go public yang menyajikan laporan keuangan dan rasio yang dibutuhkan dalam penelitian ini selama lima tahun berturut-turut yaitu dari 31 Desember 2012 sampai 31 Desember 2016 dan telah disampaikan kepada Bank Indonesia.
Tabel 3.2
Daftar Bank yang Memenuhi Kriteria Sampel
Bank Syariah Bank Umum Konvensional
PT Bank Syariah Mandiri PT Bank Mandiri, PT Bank BCA Syariah PT Bank Central Asia PT Bank BNI Syariah PT Bank Negara Indonesia PT Bank BRI Syariah PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Jabar Banten Syariah PT Bank Jabar Banten PT Bank Maybank Syariah Indonesia PT Bank Maybank Indonesia
PT Bank Panin Syariah PT Bank Panin
PT Bank Bukopin Syariah PT Bank Bukopin
PT Bank Syariah Mega Indonesia PT Bank Mega Indonesia PT Bank Victoria Syariah PT Bank Victoria
3.5. Metode dan Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder ini diperoleh dalam bentuk dokumentasi laporan keuangan yang rutin diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada situs www.ojk.go.id, situs resmi bank-bank terkait dan berbagai literatur seperti buku, jurnal, koran, internet dan lain-lain yang berhubungan dengan aspek penelitian.
Data yang diperoleh diambil melalui beberapa website dari bank yang bersangkutan dan Otoritas Jasa Keuangan. Jenis laporan yang digunakan penulis menggunakan data eksternal, antara lain Neraca Keuangan, Laporan Laba-Rugi, Laporan Rasio Keuangan dan Ikhtisar keuangan.
3.6. Metode Analisis Data
Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik statistik yang berupa uji beda Mann-Whitney. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan analisis statistik yang menggunakan software IMB SPSS Statistics 22. Namun sebelumnya data-data yang diperoleh diformulasikan terlebih dahulu dengan menggunakan program microsoft excel
untuk memperoleh data variabel sebelum dianalisis dengan menggunakan program IMB SPSS Statistics 22. Sedangkan untuk membandingkan kinerja keuangan antara bank umum syariah dengan bank umum konvensional menggunakan Z-Score.
3.6.1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif yang digunakan untuk menganalisis data adalah dengan cara mendiskripisikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
3.6.2. Perhitungan untuk Z-Score
Z- score merupakan variabel dependennya, dimana nilai ini sebagai pengukur individual bank risk. Z- score juga merupakan cerminan dan kekuatan sebuah bank menurut Boys and Runkle, 1993: Maechler, Mitra dan Worrell, 2005;
Cihak dan Hesse, 2208:9 (dalam Nugroho dan Rokhaniyah, 2012:5).
Z - score dihitung: Z = (k + μ)/σ Dimana:
k : Prosentase perbandingan modal dan cadangan pada aset μ : Rata-rata return on asset (ROA)
σ : Standar deviasi dari return on asset (ROA) terhadap return volatility.
Sebuah z-score yang lebih tinggi berkorespondensi dengan batas atas risiko kebangkrutan yang lebih rendah. Oleh karena itu, dalam model ini akan dibandingkan nilai z-score antara bank islam dengan bank konvensional.
3.6.3. Uji Beda Mann-Whitney
Uji Mann-Wthitney atau uji dua sampel yang tidak berpasangan merupakan salah satu bagian dari statistik non parametrik.Uji Mann-Whitney menjadi alternatif ketika data tidak normal dalam uji Independent sample t tets
(parametrik). Seperti halnya dalam uji Independent sample t-tet, Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan dua sample yang tidak berhubungan atau berpasangan satu sama lainnya.
Dasarpengambilankeputusandalamuji Mann- Whitney
1. Jika nilai Asymp.Sig.(2-tailed) < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan.
2. Jika nilai Asymp.Sig.(2-tailed) > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 4.1.1 Sejarah Bank Pemerintah
Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia mengenal dunia perbankan dari bekas penjajahnya, yaitu Belanda.Oleh karena itu, sejarah perbankanpun tidak lepas dari pengaruh negara yang menjajahnya baik untuk bank pemerintah maupun bank swasta nasional. Pada 1958, pemerintah melakukan nasionalisasi bank milik Belanda mulai dengan Nationale Handelsbank (NHB) selanjutnya pada tahun 1959 yang diubah menjadi Bank Umum Negara (BUNEG kemudian menjadi Bank Bumi Daya) selanjutnya pada 1960 secara berturut-turut Escomptobank menjadi Bank Dagang Negara (BDN) dan Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM) menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) dan kemudian menjadi Bank Expor Impor Indonesia(BEII).
Berikut ini akan dijelaskan secara singkat sejarah bank-bank milik pemerintah, yaitu:
a. Bank Sentral
Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No 13 Tahun 1968.Kemudian ditegaskan lagi dnegan UU No 23 Tahun 1999.Bank ini sebelumnya berasal dari De Javasche Bank yang di nasionalkan di tahun 1951.
b. Bank Rakyat Indonesia dan Bank Expor Impor
Bank ini berasal dari De Algemene Volkscrediet Bank, kemudian di lebur setelah menjadi bank tunggal dengan nama Bank Nasional Indonesia (BNI) Unit II yang bergerak di bidang rural dan expor impor (exim), dipisahkan lagi menjadi:
1. Yang membidangi rural menjadi Bank Rakyat Indonesia dengan UU No 21 tahun 1968.
2. yang membidangi Exim dengan UU No.22 Tahun 1968 menjadi Bank Expor Impor Indonesia.
Sejarah singkat Bank Konvensional di Indonesia 1. Bank Negara Indonesia (BNI '46)
Bank ini menjalani BNI Unit III dengan UU No 17 Tahun 1968 berubah menjadi Bank Negara Indonesia '46.
2. Bank Dagang Negara(BDN)
BDN berasal dari Escompto Bank yang di nasionalisasikan dengan PP No 13 Tahun 1960, namun PP (Peraturan Pemerintah) ini dicabut dengan diganti dengan UU No 18 Tahun 1968 menjadi Bank Dagang Negara. BDN merupakan satu-satunya Bank Pemerintah yangberada diluar Bank Negara Indonesia Unit.
3. Bank Bumi Daya (BBD)
BBD semula berasal dari Nederlandsch Indische Hendles Bank, kemudian menjadi Nationale Hendles Bank, selanjutnya bank ini menjadi Bank Negara
Indonesia Unit IV dan berdasarkan UU No 19 Tahun 1968 menjadi Bank Bumi Daya.
4. Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Bank ini didirikan di daerah-daerah tingkat I. Dasar hukumnya adalah UU No 13 Tahun 1962.
5. Bank Tabungan Negara (BTN)
BTN berasal dari De Post Paar Bank yang kemudian menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950. Selanjutnya menjadi Bank Negara Indonesia Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara dengan UU No 20 Tahun 1968.
6. Bank Mandiri
Bank Mandiri merupakan hasil merger antara Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dan Bank Expor Impor Indonesia (Bank Exim). Hasil merger keempat bank ini dilaksanakan pada tahun 1999.
4.1.2 Sejarah Bank Syariah
Awal mula kegiatan bank syariah yang pertama sekali dilakukan adalah Pakistan dan Malaysia pada sekitar tahun 1940-an. Kemudian di Mesir pada tahun 1963 berdiri Islamic Rural Bank di desa It Ghamr Bank. Bank ini beroperasi dipedesaan mesir dan masih berskala kecil.
Di Uni Emirat Arab, baru tahun 1975 dengan berdiri Dubai Islamic Bank.
Kemudian dik Kuwait pada tahun 1977 berdiri Kuwait Finance House yang beroperasi tanpa bunga. Selanjutnya kembali di Mesir pada tahun 1978 berdiri
Bank Syariah yang berdiri nama Faisal Islamic Bank. Lembaga ini kemudian diikuti oleh Islamic International Bank For Invesment and Development Bank.
Di Siprus tahun 1983 berdiri Faial Islamic Bank Of Kibris. Kemudian dimalaysia Bank Syariah lahir tahun 1983 dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan pada tahun 1999 lahir pula Bank Bumi Putera Muamalah.
Di Iran sistem perbankan Syariah mulai berlaku secara nasional pada tahun 1983 sejak dikeluarkannya Undang-undang Perbankan Islam. Kemudian di Turki Negara yang berideologi sekuler Bank Syariah lahir tahun 1984 yaitu dengan hadirnya Daar al-Maal alIslami serta Faisal Finance Institution dan mulai beroprasi tahun 1985.
Salah satu pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan syariah secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonveksi seluruh
Salah satu pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan syariah secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonveksi seluruh