BAB II TINJAUAN TEORITIS
B. Etika Bisnis Islam
5. Perbedaan Bisnis Islam dan Bisnis Non-Islam
Artinya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
5. Perbedaan Bisnis Islam dan Bisnis Non-Islam
Dalam bukunya yang berjudul “Islamic Business and Economic Ethics”, perbedaan bisnis Islam dan Bisnis Non-Islam sebagai berikut : 49
Tabel 3.1
No Aspek Ekonomi Islam Kapitalisme
1 Sumber Al-Qur’an dan Hadist Daya pikir manusia
2 Motif Ibadah Rasional materialisme
3 Tujuan Falah dan mashalah Utilitarian,individualisme 4 Prinsip jual-beli Melarang gharar,maysir,
najsy, barang haram
Tidak jelas melarangnya
48
Adiwarman A. Karim, BANK ISLAM; Analisis Fiqih dan Keuangan, h.45.
49
Veithzal Rivai, dkk, “Islamic Business and Economic Ethics, Mengacu pada Al-qur’an
5 Motif konsumsi Kebutuhan (need) Keinginan (wants) 6 Tujuan konsumsi Memaksimumkan
maslahah
Maximize utility
7 Motif Produksi Kebutuhan dan kewajiban kemanusiaan
Ego dan rasionalisme
8 Hubungan dengan pelaku bisnis lain
Persaudaraan (ukhuwah) dan kemitraan
Persaingan
9 Prinsip keuangan Real based economy Monetary based economy
10 Spekulasi Haramkan spekulasi Halalkan spekulasi 11 Instrumen moneter Bagi hasil,jualbeli,ijarah Bunga
12 Prinsip pengeluaran (Expenditure) Berdasarkan 3 tingkatan maslahah (dharuriyat, hajiyat, tahsiniyat) Tidak memperhatikan prioritas maslahah
13 Sumber Zakat, infaq, sedeqah, „usyur, kharaj, pajak kondisional
Pajak
14 Sasaran Penerima Pada zakat ditentukan 8
asnaf
Tanpa melihat asnaf
15 Tujuan Memprioritaskan
pengentasan kemiskinan
Bukan memprioritaskan pengentasan kemiskinan
16 Dampak Sarana menciptakan
keadilan ekonomi
Kesenjangan
18 Fungsi Uang Uang sebagai komoditas Uang sebagai medium of change
19 Sifat Money as flow concept Money as stock concept
20 Instrumen Dinar, dirham dan fulus Fiat money (uang kertas) yang tidak sesuai nilai nominal dan instrinsik 21 Fungsi Negara Penjamin kebutuhan
minimal dan pendidikan pembinaan melalui
baitul mal
Penentu kebijakan melalui departemen- departemen
22 Pertumbuhan Pertumbuhan dan pemerataan, keadilan
Pertumbuhan ekonomi
23 Pencetakan mata uang Ditentukan oleh permintaan di sektor riil
Tidak ditentukan kebutuhan di sektor riil
24 Paradigma Islam Pasar
C. Manajemen Pemasaran
1. Definisi Manajemen Pemasaran
Menurut Paul Peter dan James Donnelly, marketing management can be defined as “the process of planning and executing the conception, pricing, promotion, and distribution of goods, services, and ideas to create exchanges with target groups that satisfy customer and organizational objectives”. Yang artinya sebagai berikut: manajemen pemasaran dapat
didefinisikan sebagai proses perencanaan, pelaksanaan gambaran (konsep) dari harga, promosi dan distribusi barang, pelayanan, serta beberapa ide yang saling berhubungan dengan objek lainnya untuk mencapai kepuasan konsumen dan tujuan organisasi.50
Sementara itu, Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah mendefinisikan manajemen pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dan bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan.51
Thamrin Abdullah dan Francis Tantri mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai proses yang mencakup analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan juga mencakup barang, jasa serta gagasan, berdasarkan pertukaran dan tujuannya adalah memberikan kepuasan bagi pihak yang terlibat.52
2. Perkembangan Manajemen Pemasaran
Sejak revolusi industri, manajemen pemasaran telah mengalami beberapa tahap perkembangan. Namun banyak juga perusahaan yang masih berada pada tahap pertama. Adapun tahap-tahap perkembangan tersebut adalah : 53
50
Paul Peter & James Donnelly, Marketing Management : knowledge and skills (New York: The McGraw-Hill Companies, 2009), h. 15.
51
Ernie tisnawati sule dan kurniawan saefullah, Pengantar manajemen, edisi I (Jakarta: Prenada Media,2005), h. 14.
52
Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 22.
53
Bashu Swastha, Azas - Azas Marketing, Cet.V (Yogyakarta: Liberty Offset Yogyakarta, 2002), h. 23 - 27.
a. Tahap Orientasi Produksi
Dalam tahap pertama ini perusahaan berorientasi pada produksi (production oriented). Tujuan dan perencanaan perusahaan ditentukan oleh Bagian Produksi. Sedangkan fungsi dari Bagian Penjualan hanya menjual hasil produksi saja; harga sudah ditentukan oleh Bagian Produksi dan Keuangan.
Disini, usaha pemasarannya tidak ditujukan untuk mendapatkan orang yang bersedia membeli produk dengan harga yang layak. Adapun konsep yang dianut oleh perusahaan dalam tahap ini disebut dengan konsep produk (product concept).
b. Tahap Orientasi Penjualan
Setelah perusahaan berhasil membuat barang secara besar- besaran kemudian timbul masalah bagaimana menjual barang- barang tersebut. Membuat barang yang baik saja tidak cukup menjamin berhasilnya pemasaran. Hasil kerja dalam penjualan masih diukur terutama dari volume penjualan yang dihasilkan, dan bukan dari laba pemasaran.
Jadi, perusahaan yang berorientasi pada penjualan (sales orientation) ini menganut sebuah konsep yang disebut konsep penjualan (sales concept).
c. Tahap Orientasi Pemasaran
Pada tahap ketiga ini, perusahaan menganut konsep manajemen pemasaran yang terintegrasi, dan diarahkan kepada
konsumen (consumer oriented) untuk mendapatkan volume penjualan yang menguntungkan. Pemasaran mempunyai pengaruh yang besar terhadap seluruh kebijaksanaan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Disini, perusahaan lebih mementingkan kebutuhan dan keinginan konsumen daripada hanya sekedar meningkatkan penjualan. Perusahaan yang demikian ini menganut suatu konsep yang disebut dengan konsep pemasaran (marketing concept).
d. Tahap Orientasi Manusia dan Tanggung Jawab Sosial
Tahap ini menyangkut kondisi sosial dan perekonomian dalam tahun 1970-an, yaitu suatu tahap yang mana perusahaan berorientasi pada masyarakat (societal orientation). Jika perusahaan ingin berhasil atau bahkan dapat hidup terus, ia harus dapat menanggapi cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakatnya.
Bagi perusahaan, laba merupakan tujuan pemasaran secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tujuan tersebut lebih baik diarahkan untuk kepentingan jangka panjang. Di sini, perusahaan berusaha memberikan kemakmuran kepada konsumen dan masyarakat untuk jangka panjang. Konsep yang dianutnya disebut konsep pemasaran masyarakat (society marketing concept).