KAJIAN TEORI A. Konstruksi realitas media massa
HASIL PENELITIAN
B. Perbedaan Frame Kompas.com dan Republika Online dalam kasus ledakan bom di Vihara Ekayana
Kompas.com dan Republika Online tentu berbada dalam memandang suatu peristiwa. Hal yang mendasari adanya perbedaan tersebut adalah adanya perbedaan latar belakang ideologi masing-masing media. Sehingga terjadi banyak perbedaan dalam menyeleksi
31
isu dan menulis fakta. Isu apa yang dimunculkan dan tidak munculkan. Selain itu terdapat pula perbedaan dalam hal pemilihan narasumber. Dari masing-masing empat teks (total delapan teks) yang telah peneliti analisis menggunakan metode Robert N. Entmant. Dengan komponen Problem identification (menentukan permasalahan), Causal interpretation (Penyebab permasalahan), Moral evaluation (Pesan moral yang terkandung), dan juga Treatment recommendation (solusi yang ditawarkan), maka diperoleh perbandingan framing sebagai berikut:
Tabel IV.18
Framing Kompas.com Republika Online
Problem Identification Permasalahan hukum yang dikembangkan menjadi isu kemanusiaan sesuai dengan ideologi Kompas.com Permasalahn hukum yang dikembangkan menjadi pemasalahan agama dan nasional.
Causal Interpretation Kelompok radikal yang ingin menunjukan solidaritas terhadap etnis Rohingya di Myanmar
Pihak yang ingin memecah belah kerukunan antar umat beragama. Moral Evaluation Diperlukan peran aktif pemerintah dalam menyelesaikan konflik di Myanmar
Aksi ledakan bom di Vihara Ekayana adalah perbuatan biadab.
Treatment Recommendation
Penegakan hukum dan juga himbauan agar masyarakat tidak terpancing isu yang beredar.
Kepolisian segera mengusut kasus ledakan bom serta melakukan peningkatan keamanan menjelang Idul Fitri.
Dari tabel di atas bahwa terhadap satu peristiwa, ada perbedaan pada masing-masing media massa dalam memaknai sebuah realitas. Perbedaan ini tentu tidak terlepas dari ideologi yang menjadi kesepakatan bersama masing-masing media. Pada prinsipnya, Kompas.com dan Republika Online memiliki latar belakang ideologi yang berbeda. Kompas.com dengan ideologi humanisme nya selalu mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan. Sedangkan Republika Online sebagai media bernafaskan Islam dengan komunitas muslim terbesar, selalu mengedepankan nilai-nilai Islam dan nasionalisme dalam setiap pemberitaanya.
Dari segi pemilihan narasumber kedua media online ini pun memiliki perbedaan. Pada Kompas.com yang dijadikan sebagai narasumber adalah Menteri Agama sebagai pihak yang dianggap memiliki wewenang untuk berbicara karena peristiwa ledakan bom terkjadi di sebuah rumah ibadah. Kemudian yang kedua adalah pihak umat Budha yang rumah ibadahnya menjadi korban. Narasumber dari pihak Budha sendiri merupakan ikatan mahasiswa Budha. Kemudian Kompas.com juga memilih imigran Rohingya sebagai narasumber. Hal ini terkait dengan adanya isu motif pelaku merupakan balas dendam kepada umat Budha atas konflik yang terjadi di Myanmar. Yang terakhir adalah seorang pengamat terorisme, Nurhuda Ismail dipilih sebagai narasumber yang dianggap tahu permasalahan terorisme.
Republika Online pada tanggal 5 Agustus 2013 memilih narasumber seorang Menteri Agama terkait ledakan bom yang terjadi di sebuah sebuah Vihara. Kemudian pada berita kedua Republika Online menunjukan sisi nasionalismenya dengan menonjolkan isu penghinaan yang dilakukan pelaku terhadap Pancasila, sila Ketuhanan yang Maha Esa. Sedangkan pada berita ketiga Republika Online menyertakan fakta lain selain peristiwa ledakan bom di Vihara Ekayana. Yakni, isu teror yang sebelumnya dialami oleh pihak kepolisian. Dalam pemberitaanya, Republika Online juga melakukan pemilihan fakta pengamana pihak kepolisian menjelang hari raya Idul Fitri yang dikaitkan dengan peningkatan keamanan pasca ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayana. Pada berita terakhir, Republika Online memilih Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. Menurut Redaktur Pelaksana Republika Online, hal ini merupakan bentuk konstruksi yang dilakukan media. Sesuai dengan ideologi Republika Online, maka dipilih narasumber yang memiliki ideologi Islam pula.
Pada awalnya, Kompas.com dan Republika Online memberitakan ledakan bom di Vihara Ekayana dengan sudut pandang yang sama, yaitu permasalahan hukum. Karena aksi ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayan merupakan tindakan yang tidak dibenarkan dalam agama apapun dan juga melanggar hukum karena aksi teror tersebut merugikan banyak pihak. Namun, pada teks berita berikutnya ada beberapa perbedaan dalam memandang kasus ledakan bom di Vihara Ekayana tersebut.
Elemen pertama dalam model framing yang di tawarkan Robert N. Entman adalah problem identification. Kasus ini dimaknai sebagai apa dan bagaimana pandangan media terhadap peristiwa tersebut. Awalnya Kompas.com melihat kasus ini sebagai kasus hukum, yaitu aksi teror melalui ledakan bom di sebuah rumah Ibadah. Hal ini bisa dilihat pada judul berita pada tanggal 5 Agustus 2013 dengan judul “Menteri Agama: Ini Jelas Teror!”.
Kemudian pemberitaan tersebut berkembang di teks berita kedua, ketiga dan keempat. Pada teks kedua terdapat ketidaksetujuan pihak Hikmahbudhi dalam menanggapi pernyataan Menteri Agama yang memandang kasus ini sebagai bentuk balas dendan terkait konflik Rohingya di Myanmar. Dalam wawancara yang peneliti lakukan dengan Redaktur Pelaksana Kompas.com diketahui bahwa pihaknya merupakan media nasional yang memiliki ideologi humanisme yang mengajak masyarakat untuk bersimpati kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai korban. Hal ini terlihat dari teks berita ketiga dengan judul “Bom di Ekayana Bikin Orang Rohingya Susah”. Pada teks berita tersebut dijelaskan bahwa adanya kekhawatiran imigran Rohingya di Indonesia setelah sebelumnya aksi ledakan bom tersebut dikaitkan dengan konflik Rohingya di Myanmar. Pada teks keempat, realitas yang muncul berkembang menjadi permasalahan pemerintah Indonesia yang kurang berperan aktif dalam upaya penghentian konflik di Myanmar. Hal ini dapat dilihat dalam teks berita yang diberi judul “Cegar Terorisme, Pemerintah Harus Aktif Selesaikan Konflik Myanmar”.
Sementara Republika Online sebagai media yang bernafaskan Islam dengan komunitas muslim terbesar pada berita pertama memandang peristiwa ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayana merupakan kasus hukum. Namun, pada berita tersebuut Republika Online ingin menonjolkan sisi bulan Ramadhan yang tercoreng karena adanya aksi ledakan di sebuah rumah ibadah. Peristiwa ledakan bom yang terjadi di bulan Ramadhan yang menjadi bulan suci dalam agama Islam tersebut dianggap sebagai aksi yang tidak menghormatii bulan suci Ramadhan. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan judul “Menag:
Pelaku Tak Hormati Ramadhan”. Pada teks berita kedua Republika
Online membuat judul berita “KWI: Peledakan Vihara Ekayana Hina
Pancasila”. Dari judul berita tersebut dapat dilihat bahwa Republika
Online merupakan media bernafaskan Islam yang berlandaskan NKRI. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Redaktur Pelaksana Republika Online dalam wawancara yang telah peneliti lakukan. Pada teks berita ketiga ada penonjolah Isu lain, yaitu aksi teror yang menjadikan polisi sebagai sasaranya. Kemudian berkembang menjadi peningkatan keamanan yang dilakukan pihak kepolisian pada Vihara-vihara dalam upaya mencegah aksi-aksi teror. Pada berita keempat Republika Online kembali melakukan kecaman terhadap aksi ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayana dengan pemilihan narasumber yang sesuai dengan ideologi Islam yang dimiliki Republika Online. Hal ini dapat dilihat dalam pemilihan judul “Ikatan Sarjana NU kecam Peledakan di Vihara Ekayana”.
Pada elemen kedua causal interpretation, terdapat perbedaan pandangan tentang siapa pelaku dibalik ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayana. Kompas.com pada keempat beritanya menganggap bahwa ledakan yang terjadi di Vihara Ekayana merupakan aksi teror yang dilakukan oleh kelompok radikal untuk menunjukan solidaritas terhadap konflik Rohingya di Myanmar. Sedangkan Republika Online menilai aksi teror ini dilakukan untuk melakukan provokasi dan merusak keharmonisan antat umat beragama.
Pada elemen Moral Evaluation, Kompas.com menganggap peran aktif pemerintah sangat diperlukan untuk menghentikan konflik di Myanmar. Hal ini untuk mencegah berlanjutnya aksi teror serupa. Sementara Republika Online menonjolkan kecaman yang disampaikan oleh banyak pihak. Pihaknya menganggap bahwa aksi yang dilakukan pelaku dengan meledakan bom di Vihara Ekayana merupakan tindakan yang biadab. Hal tersebut dipaparkan pada berita tanggal 5 Agustus 2013 dengan judul “Menag: Pelaku Bom tak Hormati Ramadhan”
“Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menilai pelaku bom Vihara Ekayana tidak menghargai bulan Ramadhan, sehingga
dikategorikan terkutuk dan biadab.”32
Selain itu dalam teks berita keempat yang berjudul “Ikatan Sarjana NU Kecam Peledakan di Vihara Ekayana” dipaparkan hal serupa.
32
“Apapun alasanya berbuat kasar apalagi sampai menghilangkan nyawa sesama makhluk Tuhan adalah biadab dan tidak dibenarkan
menurut agama”.33
Selanjutnya, elemen terakhir Treatment Recommendation. Kompas.com dan Republika Online memberikan solusi yang sama yaitu adanya penegakan hukum dan juga penuntasan kasus ledakan bom yang terjadi di Vihara Ekayana. Namun Republika Online menambahkan pula perlu adanya peningkatan pengamanan menjelang hari raya Idul Fitri.
Berita-berita yang dimunculkan oleh Kompas.com dan Republika Online tentu tidak luput dari konstruksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Seperti yang telah dipaparkan sebelunya, menurut Berger dan juga Luckman, media melalui tiga proses dalam melakukan konstruksi. Yaitu objektivasi, internalisasi, dan eksternalisasi. Proses tersebut meliputi konstruksi yang dilakukan oleh wartawan terhadap sesuatu sesuai dengan pandanganya. Dalam hal ini wartawan Kompas.com dan juga Republika Online dalam meliput peristiwa ledakan bom di Vihara Ekayana diberikan otoritas dalam meliput dan juga memilih narasumber. Setelah berita diliput oleh wartawan, selanjutnya terjadi proses eksternalisasi. Diaman realitas yang telah dipahami oleh wartawan dikonstruksi ulang oleh lembaga tempat ia bekerja. Hal tersebut juga terjadi di Kompas.com dan Republika Online. Berita yang telah dibuat oleh wartawan kemudian dikirim melalui
33
mail kepada editor untuk diseleksi dan dikonstruksi ulang melalui proses editing. Hal itu juga disampaikan oleh Redaktur Pelaksana Kompas.com dalam wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti.
“Tapi kemudian kami melihat narasumber yang berbicara. Siapa
dia dan apakah dia memiliki kepentingan tertentu. Jadi tidak semua
sumber kami naikan.”34
Berdasarkan pemaparan teori dan analisa sebelumnya, diketahui media memiliki peran yang sangat besar dalam masyarakat. Mulai dari mengarahkan perhatian sampai dengan membentuk persepsi. Dalam kasus ledakan bom di Vihara Ekayana, media massa khususnya Kompas.com dan Republika Online melakukan konstruksi berdasarkan ideologi dan sudut pandang mereka. Seperti yang dijelaskan oleh Dennis McQuail, media merupakan alat yang efektif dalam memberikan status dan juga mendefinisikan sesuatu. Contohnya Kompas.com yang memberikan label kaum radikal pada pelaku pengeboman. Kemudian Republika Online dalam menggunakan kata
“biadab” dalam menyampaikan beritanya tentu akan memengaruhi para
pembaca. Pemilihan judul, narasumber, serta penonjolan isu yang berbeda dari keduanya juga akan membuat perbedaan persepsi dari masing-masing pembacanya. Pembaca Kompas.com akan beranggapan bahwa peristiwa ledakan bom dilakukan oleh kelompok radikal yang ingin melakukan aksi balas dendam. Sementara pembaca Republika Online akan memiliki pandangan yang berbeda, yakni aksi ledakan
34
dilakukan oleh kelompok orang yang ingin memecah belah kerukunan umat beragama. Walaupun kemudian diketahui bahwa aksi ledakan bom di Vihara Ekayana dilakukan oleh kelompok jaringan Abu Roban yang tertangkap pada malam pergantian tahun 2013.
Kelompok jaringan Abu Roban yang telah melakukan pengeboman di rumah ibadah dikategorikan sebagai nonstate-supported group. Hal ini dapat dilihat dari tujuan mereka untuk melakukan aksi pengeboman di berbagai Vihara di Jakarta. mereka memiliki kepentingan khusus untuk melakuakan aksi teror di rumah ibadah, memiliki kemampuan yang terbatas dan tidak dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai untuk mendukung keberlangsungan hidup kelompoknya. Walaupun tergolong kelompok teroris kecil, aksi teror yang mereka lakukan cukup berhasil membuat kepanikan di masyarakat dan pemerintah. Hal ini didukung oleh gencarnya pemberitaan di media massa dalam menyajikan informasi-informasi terkait aksi teror.
Dalam buku karangan Adjie S, dijelaskan bahwa efek yang diinginkan oleh teroris salah satunya adalah membuat masyarakat mendukung alasan mereka. Dalam kasus aksi ledakan bom di Vihara Ekayana, pelaku teror meninggalkan pesan khusus melalui kertas yang bertuliskan “Kami Balaskan Jeritan Rohingya”. Kata “Balaskan” pada kalimat tersebut memiliki makna bahwa sebelumnya mereka para pelaku aksi teror yang bermpati terhadap etnis Rohingya merasa pihaknya telah tersakiti. Untuk itu, perlu adanya tindakan pembalasan
sebagai wujud solidaritas. Salah satunya dengan menjadikan Vihara sebagai sasaran ledakan bom.
Namun, banyak pihak yang menyayangkan tindakan pemerintah dalam menangani aksi terorisme di Indonesia. Hal ini dikarenakan pemerintah melalui densus 88 sering kali melakukan aksi tembak di tempat, seperti yang dilakukan 31 Desember 2013 di Tangerang Selatan. Enam orang terduga teroris tewas tertembak. Tindakan tersebut dianggap berpotensi terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Bahkan kepala Bidang Penyelesaian Kasus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menganggap bahwa aksi penembakan di tempat merupakan extra judicial killing atau eksekusi di luar perintah pengadilan.
96