Perbedaan Kecerdasan Emosi antara Laki –laki dan Perempuan

Dalam dokumen Perbedaan kecerdasan emosi pada laki-laki dan perempuan dewasa dini. (Halaman 43-48)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

D. Perbedaan Kecerdasan Emosi antara Laki –laki dan Perempuan

Masa dewasa dini telah dianggap sebagai masa ketika orang muda mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cukup baik, sehingga mereka menjadi stabil dan tenang secara emosional (Hurlock, 1997). Namun dalam kenyataannya, masih ada orang dewasa dini yang masih kurang stabil secara emosi. Masa dewasa dini juga dianggap sebagai masa yang dipenuhi banyak masalah. Masalah - masalah tersebut dapat ditanggulangi apabila seseorang memiliki kecerdasaan emosi.

Kecerdasan emosi terdiri dari beberapa komponen. Setiap individu memiliki perbedaan-perbedaan kemampuan pada komponen-komponen tersebut. Perbedaan-perbedaan kemampuan pada komponen-komponen

kecerdasan emosional memungkinkan terdapat perbedaan kecerdasan emosi antara laki-laki dan perempuan. Ada beberapa penelitan tentang emosi yang menunjukan perbedaan-perbedaan kemampuan pada komponen kecerdasan emosi (Goleman, 2009).

Menurut Mizra dan Redzuan (2010), kecerdasan emosional anak perempuan lebih tinggi dari kecerdasan emosi anak laki-laki. Hal ini didukung dengan temuan Steven Stein (2004) yang menyatakan bahwa perempuan lebih menyadari perasaan mereka dan orang lain, berhubungan interpersonal yang lebih baik, dan secara signifikan lebih bertanggung jawab secara sosial daripada laki-laki (dalam Mizra, Redzuan, 2010). Penelitian lain yang ditulis oleh Katyal dan Awasthi (2005) menjelaskan bahwa perempuan cenderung lebih emosional dan intim dalam berinteraksi dibandingkan dengan laki-laki.

Selain itu juga lebih tingginya kecerdasan emosional dijelaskan berdasarkan karateristik kepribadian mereka serta anak perempuan juga rasa empati yang lebih tinggi dari pada laki-laki.

Leslie Brody dan Judith Hall, telah meringkas beberapa penelitian tentang perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang mengatakan bahwa karena anak perempuan lebih cepat terampil dalam berbahasa daripada anak laki-laki, maka mereka lebih mengunakan kata-kata untuk menggantikan reaksi-reaksi emosional seperti perkelahian fisik (dalam Goleman, 2009). Begitu pula dengan Gurian (2011), Otak perempuan tidak hanya memiliki sitem limbik yang cenderung lebih besar yakni struktur hippocampus yang lebih besar. Sitem limbik inilah yang membuat perempuan cenderung untuk cepat merespon secara lisan dengan cepat melalui bahasa verbal dan hippocampus yang besar membuat perempuan lebih banyak menerima informasi karena peningkatan memori penyimpanan, yang jelas-jelas berlawanan dengan laki-laki yang dimana penguasaan verbal dan ingatan lebih kecil. Laki-laki cenderung memiliki amigdala yang lebih besar daripada perempuan sehingga laki-laki cenderung bersikap agresi. Perbedaan otak tersebut menyebabkan perempuan lebih terfokus pada emosi mereka dan merujuk dalam pembicaraan daripada laki-laki. Sementara banyak laki-laki yang sering mengekspresikan emosi seperti marah, perkelahian fisik atau frustasi lebih dari emosi lain seperti depresi.

Goleman (2009) membandingkan pola bermain anak laki-laki dan perempuan untuk melihat bagaimana kecerdasan emosi berbeda antara jenis kelamin dapat terjadi. Ia mengutip Brody dan Hall dari Gender dan Emosi: "Ketika anak perempuan bermain bersama, mereka melakukannya dalam kelompok-kelompok intim kecil dengan penekanan pada meminimalkan permusuhan dan memaksimalkan kerjasama, sementara permainan anak laki-laki dalam kelompok yang lebih besar, dengan penekanan pada kompetisi. Jika seorang anak laki-laki yang telah tersakiti marah, ia diharapkan untuk keluar dari jalan dan berhenti menangis sehingga permainan bisa terus. Jika sama terjadi di antara sekelompok gadis yang sedang bermain, permainan berhenti sementara mengumpulkan semua orang untuk membantu menenangkan gadis yang menangis. Anak laki-laki bangga akan kebebasan, keras hati dan otonomi, sedangkan anak perempuan melihat diri mereka sebagai bagian dari hubungan. "

Dalam proses ini, anak perempuan mengembangkan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal dan menjadi baik dalam mengekspresikan diri mereka sendiri dan memahami orang lain, yang menyebabkan empati tinggi dan tanggung jawab sosial. Anak laki-laki menjadi terampil meminimalkan emosi yang berkaitan dengan kerentanan, rasa bersalah, ketakutan dan sakit. Hal ini yang mengarah ke toleransi stres tinggi dan kepercayaan diri.

Berdasarkan pemaparan menunjukan bahwa perempuan lebih mampu mengenali emosi diri sediri dan orang lain (empati), memotivasi diri,

mengelola emosi, serta membina hubungan dengan orang lain dibandingkan dengan laki-laki. Adapun alur yang menjadi dinamika dalam proses ini sebagai berikut :

BAGAN DINAMIKA

Dalam kecerdasan emosi

Perempuan memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki Masa dewasa dini dianggap stabil secara emosi, matang, dan mampu menyelesaikan

masalah sendiri

Berdasarkan Perbedaan Anatomi otak yang mempengaruhi pengelolaan emosi laki-laki dan perempuan

Laki-laki: Perempuan:

 

Laki-laki : - Kurang empati

- Lebih ekspresif dalam mengungkapkan kemarahan.

- Memiliki toleransi stress lebih tinggi dan kepercayaan diri

- Lebih agresif - Berpikir spasial.

Perempuan :

- Lebih kemampuan verbal lebih tinggi. - Lebih ekspresif dalam emosi sedih atau

kecewa.

- Lebih mudah berempati. - Hubungan interpersonal baik

Lebih banyak menghubungkan neuron-neuron dan meningkatkan darah pada area ini sehingga lebih cepat untuk memproses emosi

Cerebral cortex

Lebih banyak bekerja untuk tingkat yang lebih besar dan cenderung kurang kemampuan verbalnya

Lebih sedikit menghubungkan neuron-neuron dan kurang meningkatkan darah pada area ini sehingga lebih lambat untuk memproses emosi

System limbic Lebih banyak beristirahat untuk tingkat yang lebih besar, karena

lebih banyak koneksi sarafnya antara system limbic dan area pengolahan verbal. Hal ini membuat lebih merespon secara lisan pengekspresian emosi dan kemampuan verbalnya lebih besar.

Hippocampus

lebih kecil jumlah dan kecepatan transisi neuronnya sehingga cenderung lebih sedikit mengakses informasi

mengingat. lebih besar jumlah dan kecepatan transisi neuronnya sehingga cenderung lebih banyak mengakses informasi mengingat

Amygdala

Lebih kecil sehingga rendahnya agresif dan lebih memaksimalkan kerjasama

Lebih besar sehingga lebih agresif dan kompetitif.

Thalamus

Estrogens

Pemrosesan emosi lebih lambat sehingga secara fisik lebih agresif

Pemrosesan lebih cepat sehingga lebih stress dan aktif

testosteron

Lebih agresif dan kompetitif

Rendahnya agresif dan kurang kompetitif

Dalam dokumen Perbedaan kecerdasan emosi pada laki-laki dan perempuan dewasa dini. (Halaman 43-48)