BAB IV ANALISIS KOMPARATIF PANDANGAN IBNU KHALDUN
B. Perbedaan Pemikiran Ibnu Khaldun dan Ibnul Qayyim
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa terdapat berbagai macam ilmu yaitu ilmu lisan, ilmu naqli, dan ilmu aqli. Berdasarkan ketiga macam ilmu tersebut, maka Ibnu Khaldun memaparkan pemikirannya bahwa belajar haruslah dilakukan oleh fisik dan akal. Tidak bisa jika hanya salah satunya yang bekerja. Selain itu, ilmu aqliyah dan ilmu agama harus seimbang. Jika hanya ilmu aqliyah saja, maka agama seseorang akan lemah, mudah dijatuhkan dan didoktrin. Begitu juga jika hanya ilmu agama saja, maka
seseorang akan tertinggal, karena di jaman sekarang semua hal menggunakan teknologi yang harus dipelajari di luar ilmu agama. Karena itu, antara ilmu agama dan ilmu aqliyah harus seimbang. Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa ilmu bisa membukakan pintu rezeki bagi seseorang.
Ibnul Qayyim memiliki pandangan bahwa ilmu mempengaruhi amal perbuatan seseorang. Ilmu adalah suatu hal yang didapat dari luar akal dan penetapannya dalam jiwa seseorang. Amal perbuatan dihasilkan oleh sesuatu yang berada di dalam jiwa seseorang yang diterapkan oleh fisik sebagai perbuatan. Maka perbuatan yang dilakukan oleh manusia berasal dari hal yang ditangkap oleh akal dan diaplikasikan oleh fisik. Apabila ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal adalah hal yang baik, maka amal perbuatan yang dilakukan juga akan baik dan sesuai dengan syari‟at. Kesesuaian antara ilmu dan amal perbuatan merupakan ilmu yang benar dan valid.
2. Pendidikan
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun bukan hanya dilakukan di dalam ruangan, dalam artian pendidikan formal. Pendidikan juga tidak harus diberikan oleh seseorang kepada orang lain, misalnya guru kepada muridnya. Pendidikan menurut Ibnu Khaldun dapat dilakukan oleh alam dan zaman. Alam dan zaman dapat mengajari seseorang untuk semakin tumbuh dan berkembang, baik akal, fisik, maupun mentalnya. Jadi, untuk
dapat memperoleh pendidikan seseorang tidak harus menduduki kursi dengan adanya guru yang mengajari berbagai disiplin ilmu, tetapi berinteraksi dengan alam, seseorang juga dapat memperoleh pendidikan.
Lain halnya dengan Ibnul Qayyim yang lebih menekankan pendidikan yang dilakukan oleh seorang pengajar atau guru kepada muridnya. Menurut Ibnul Qayyim, dengan pengajar maka ilmu seseorang semakin bertambah dan sempurna. Selain bertugas menyampaikan ilmu kepada muridnya, pengajar atau guru juga ditekankan untuk dapat mengamati, mengawasi, dan membimbing muridnya selama proses menuntut ilmu dengan ketekunan yang dimilikinya. Sehingga para murid dapat menguasai disiplin ilmu yang diajarkan.
Maka dapat disimpulkan perbedaan pendapat Ibnu Khaldun dan Ibnul Qayyim yaitu terletak pada pengajarnya. Jika Ibnu Khaldun tidak mengharuskan pengajar adalah seorang guru dan dapat dilakukan oleh alam dan zaman, maka Ibnul Qayyim menekankan pengajar adalah seorang guru yang juga dapat mengamati, mengawasi, dan membimbing muridnya dalam proses menuntut ilmu.
3. Metode Pendidikan
Ibnu Khaldun memaparkan metode pendidikan dalam 3 macam cara, yaitu berpikir, keragu-raguan, dan pembiasaan. Melalui metode berpikir (tafakur) ini menggunakan akal untuk membuat analisis dengan menggunakan alat indra (penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran,
dan pengecap). Dari alat indra tersebut, kemudian ditransfer ke akal untuk dianalisis, sehingga manusia dapat membedakan sesuatu yang sesuatu yang bermanfaat baginya dan tidak. Hasil transfer dari indra tersebut menjadi pengetahuan bagi manusia. Metode keragu-raguan (skeptisme) adalah metode di mana manusia memiliki keraguan pada suatu ilmu pengetahuan. kemudian ia akan mencari tahu hal yang meragukannya tersebut. Dari pikiran inilah tercipta berbagai ilmu pengetahuan dan ilmunya menjadi spesial. Metode pembiasaan (ta‟wid) adalah metode yang dilakukan secara berulang-ulang dengan guru atau pendidik yang lebih mahir dalam ilmu tersebut.
Menurut Ibnul Qayyim hanya terdapat satu metode dalam pendidikan yaitu akal atau berpikir. Namun akal yang dimaksud Ibnul Qayyim bukanlah otak, melainkan suatu kekuatan yang mengikat dan membentengi apa-apa yang masuk ke dalam hati agar tidak lepas dan lari, serta yang menguasai perilaku manusia. Akal ini mengatur perilaku manusia sehingga manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, serta yang memiliki manfaat dan tidak. Akal juga yang akan menahan manusia melakukan sesuatu yang buruk bagi dirinya maupun orang lain. Dan dengan menggunakan metode berpikir ini peserta didik akan mengingat materi yang telah disampaikan oleh pendidik untuk kemudian diamalkan.
Sumber ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun adalah Al-Qur‟an, karena di dalam Al-Qur‟an membahas segala sesuatu, baik tentang akhirat, maupun dunia. Al-Qur‟an juga menjadi kurikulum dalam pendidikan Islam dan menjadi dasar dalam segala aspek kehidupan.
Sedangkan sumber ilmu pengetahuan menurut Ibnul Qayyim ada 6, yaitu dari pengajaran Nabi, cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hati seorang mukmin, mimpi dan ilham, jiwa yang taat kepada Allah, panca indra yang dimiliki manusia, dan pengalaman pribadi manusia. Keenam sumber ini dapat mendatangkan ilmu bagi manusia.
5. Guru dan Siswa Pembelajar
Dalam pendangan Ibnul Qayyim, guru atau pendidik adalah orang yang mengajarkan ilmu, mendidik, dan memperbaiki manusia. Selain itu, guru juga bertugas merawat dan menumbuhkembangkan ilmu yang diajarkannya sehingga ilmu itu menjadi sempurna. Namun, mereka bukanlah rabbani jika tidak mengamalkan ilmunya.
Peserta didik menurut Ibnul Qayyim adalah orang yang menuntut ilmu. Seorang peserta didik harus ikhlas dalam menuntut ilmu agar mendapatkan keberhasilannya dalam menuntut ilmu.
Menurut Ibnu Khaldun, pendidik adalah kunci dalam pendidikan.posisi penting ini mengharuskan pendidik memiliki metode yang tepat dalam mengajarkan siswanya. Selain itu, pendidik harus menjadi tauladan bagi siswanya, sehingga harus selalu berperilaku baik,
karena hal ini sangat mempengaruhi terbentuknya kepribadian siswa. Ibnu Khaldun juga memandang pendidik adalah profesi, sehingga berhak mendapatkan upah.
Peserta didik dalam pandangan Ibnu Khaldun memiliki tingkat kemampuan berpikir, lingkungan geografis, dan kondisi mental yang berbeda. Karena itulah seorang pendidik harus memahami kondisi peserta didik masing-masing. Ibnu Khaldun menekankan peserta didik agar tidak terlalu menggunakan logika dalam menuntut ilmu, karena logika hanyalah alat untuk mencari pengetahuan. Selain itu, peserta didik juga diharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang meragukannya dalam menuntut ilmu.
6. Urgensi Ilmu Pengetahuan
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa manusia tanpa ilmu pengetahuan maka tidak berbeda dengan binatang. Manusia bisa mencapai derajat kemanusiaannya dan dikatakan berbeda dengan binatang jika ia memiliki ilmu pengetahuan. manusia dianugerahi akal oleh Allah SWT untuk berfikir, sehingga akal tersebut yang menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. Secara jasmani atau jasad manusia memiliki hal yang sama dengan binatang, seperti tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Dalam segi kekuatan manusia kalah dengan binatang, misalnya hewan buas yang sudah pasti memiliki kekuatan lebih besar dari manusia. Namun, manusia memiliki akal untuk berfikir yang tidak dimiliki oleh binatang. Dengan akal tersebut, manusia dapat mencari dan memperoleh ilmu pengetahuan
yang dengan ilmu pengetahuan tersebut manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, dengan ilmu pengetahuan juga manusia dapat menciptakan ide-ide hal yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Maka dapat disimpulkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kerja akal yang membedakan manusia dengan binatang.
Ibnul Qayyim memandang ilmu sebagai suatu hal yang menjadi dasar kebahagiaan dan keberuntungan diri seseorang. Bukan hanya berpengaruh bagi diri manusia sendiri, namun juga bagi tatanan masyarakat dan juga orang lain. Dengan ilmu maka tatanan masyarakat berjalan dengan baik dan kondusif. Dengan ilmu juga pemerintahan dapat berdiri tegak dalam pendiriannya. Dapat dikatakan jika ilmu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia, karena segala sesuatunya membutuhkan ilmu. Selain itu, ilmu juga yang menjadi hakim atas segala perkara yang terjadi pada kehidupan manusia.
Hal yang membedakan pandangan urgensi ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun dan Ibnul Qayyim adalah jika Ibnu Khaldun memandang urgensi ilmu pengetahuan dari dalam diri manusia itu sendiri, maka Ibnul Qayyim memandang pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia dalam berbagai aspek, seperti pemerintahan, proses belajar mengajar, dan lain- lain.
C. Peta Konsep Rasa Ingin Tahu