LEGALITAS ATAS PERUSAHAAN GADAI A. Perkembangan Usaha dan Jasa Gadai
C. Perbedaan Perusahaan Gadai Yang Telah Terdaftar dengan Perusahaan Gadai Yang Belum Terdaftar Gadai Yang Belum Terdaftar
Seperti yang kita telah ketahui dari pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa jasa pergadaian di Indonesia menunjukkan grafik yang meningkat dari waktu ke waktu. Tetapi hal ini juga sejalan dengan timbulnya beberapa permasalahan dalam perkembangan praktik pegadaian di Indonesia yang dirasakan perlu untuk ditata kembali. Salah satu permasalahan tersebut adalah tidak adanya landasan hukum yang kokoh untuk mengantisipasi perkembangan gadai di Indonesia sehingga hal ini menyebabkan celah tumbuh kembangnya praktik gadai ilegal dan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjadikan gadai sebagai media bisnis yang semata-mata bertujuan untuk mencari keuntungan.86
Perkembangan praktik gadai seperti inilah yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pelaku usaha pergadaian dan perlindungan terhadap konsumen yang menggunakan jasa gadai tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan indikator sebagai pembeda antara usaha gadai yang sudah terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK dengan usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai
86 Lastuti Abubakar, Pranata Gadai Sebagai Alternatif Pembiayaan Berbasis Kekuatan Sendiri (Gagasan Pembentukan UU Pergadaian), Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung, 2011, hlm 6.
perbedaannya sehingga dapat diminimalisir penggunaan jasa gadai di tempat yang belum jelas perizinannya.87
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Maria Oktarina Sirait selaku Badan Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Cabang Kota Medan Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara usaha gadai yang sudah terdaftar dan mendapat izin usaha OJK dengan usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha OJK terbagi ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu:88
1. Segi Fisik
Berdasarkan ketentuan pasal 16 POJK Usaha Pergadaian disebutkan bahwa usaha gadai yang sudah terdaftar dan berizin di OJK diwajibkan untuk mencantumkan keterangan/informasi secara jelas di setiap kantor atau unit layanan (outlet) yang memuat nama dan/atau logo perusahaan pergadaian; nomor dan tanggal izin usaha serta pernyataan bahwa Perusahaan Pergadaian tersebut diawasi oleh OJK (surat tanda bukti terdaftar); hari dan jam operasional; alamat dan logo OJK.
Sedangkan bagi usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin tentu pada unit layanannya tidak akan ditemukan kelengkapan seperti yang telah disebutkan di atas.
Tetapi seandainya terdapat usaha gadai yang menyalahgunakan ketentuan ini, dalam arti membuat kelengkapan secara sengaja maka kita dapat mencari tahu kebenarannya
87 Jurnal Bina Mulia Hukum, Telaah Yuridis Perkembangan Regulasi Dan Usaha Pergadaian Sebagai Pranata Jaminan Kebendaan,Vol 2, Nomor 1, September 2017, hlm 81.
88 Hasil wawancara dengan Ibu Maria Oktarina Sirait, Badan Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) cabang Kota Medan Sumatera Utara, 22 Januari 2019.
dengan mengecek surat tanda bukti terdaftar yang tertera melalui website dari OJK itu sendiri.
2. Segi Proses Bisnis
Bagi usaha gadai yang sudah terdaftar dan berizin wajib memiliki satu juru taksir yang bersertifikat. Berdasarkan pasal 1 angka 13 POJK Usaha Pergadaian, yang dimaksud penaksir (juru taksir) adalah:89
“Orang yang memiliki sertifikat Keahlian untuk melakukan penaksiran atas nilai barang jaminan dalam transaksi gadai.”
Hal ini bertujuan untuk menjaga tingkat keadilan dari barang yang digadaikan.
Artinya, di dalam konsep usaha gadai yang telah terdaftar dan berizin barang gadai akan diukur sesuai dengan nilai pada pasarannya. Sedangkan konsep pada usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin ini barang yang digadaikan akan dikur dengan nilai yang sangat rendah untuk mendapatkan keuntungan yang setinggi-tingginya.
Untuk itulah diperlukan juru taksir yang telah mengikuti pelatihan proses sertifikasi melalui Asosiasi Perusahaan Pergadaian Indonesia sebagai pihak penyelenggara dimana proses sertifikasi ini dilakukan berdasarkan inisiatif dari usaha gadai itu sendiri. Dan berdasarkan ketentuan POJK Usaha Pergadaian satu usaha gadai wajib memiliki satu juru taksir. Hal ini juga yang menjadi pembeda dengan usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin, dimana mereka hanya mempunyai satu juru taksir untuk semua unit layanan (outlet). Selain itu yang menjadi pembeda adalah adanya surat bukti gadai. Di dalam usaha gadai yang telah terdaftar dan berizin harus terdapat
89 Indonesia (POJK Usaha Pergadaian), op.cit, Pasal 1 angka 13.
surat bukti gadai pada saat dilakukannya transaksi gadai dengan nasabah. Di dalam surat bukti gadai ini pihak OJK mengarahkan usaha gadai untuk mencantumkan lamanya pembiayaan atau lamanya gadai. Artinya, pada saat proses transaksi dapat diketahui berapa lama jangka waktu yang ditetapkan bagi nasabah untuk menebus barang yang digadaikannya. Selain itu, di dalam surat bukti gadai juga memuat nama nasabah, ketentuan-ketentuan pokok dan perlindungan konsumen. Di dalam usaha gadai yang telah terdaftar dan berizin, barang gadai yang tidak dapat ditebus oleh pemiliknya akan dilelang sebagaimana ketentuan POJK Usaha Pergadaian. Tetapi jika hasil melalui pelelangan tersebut melebihi nominal dari harga barang yang digadaikan maka sisanya akan diberikan kepada nasabah yang bersangkutan.
Sedangkan dalam usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK tidak akan ditemukan adanya surat bukti gadai. Hal ini dikarenakan dalam usaha gadai ilegal yang dikenal hanya surat jual beli. Dan dalam usaha gadai ini, jika barang yang digadaikan tidak dapat ditebus oleh pemiliknya maka barang tersebut akan dijual secara bebas. Bahkan jika harga jual barang tersebut lebih tinggi dari harga gadainya, sisanya tetap akan dimiliki oleh pemilik usaha gadai tersebut dan tidak diberikan kepada nasabah yang bersangkutan.
3. Proses Pengawasan
Bagi usaha gadai yang telah terdaftar dan mendapat izin usaha harus melaksanakan proses bisnis sesuai ketentuan POJK Usaha Pergadaian. Hal ini ditujukan agar maksud dan tujuannya sesuai dengan akta pendiriannya. Artinya, usaha gadai tersebut tidak boleh melakukan penyimpangan seperti melakukan proses
aktivitas bisnis lain diluar gadai dan diluar usaha yang diizinkan oleh OJK. Ketentuan ini dibuat berdasarkan beberapa pertimbangan dikarenakan industri gadai harus tetap berinovasi agar indutri ini terus berkembang dan tidak mati. Tetapi kebebasan berinovasi yang diberikan oleh OJK ini tetap harus sesuai dengan ketentuan POJK, artinya setiap ada produk baru yang dikeluarkan atau proses bisnis baru yang ingin dijalankan harus melapor dan mendapat izin dari OJK. Selain itu, dari segi penerimaan barang gadai, proses dan dokumen yang harus dilengkapi harus sesuai dengan mekanisme gadai. Dan usaha gadai yang telah terdaftar dan mendapat izin usaha wajib untuk mempunyai tempat khusus untuk penyimpanan barang gadai yang memenuhi persayaratan keamanan dan keselamatan serta mengasuransikan barang yang digadaikan untuk memitigasi resiko.
Sedangkan bagi usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha OJK tentu tidak menjalankan usahanya sesuai dengan tujuan dari usaha gadai itu sendiri karena pada dasarnya usaha gadai ini hanya ingin mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Selain itu, barang yang digadaikan di usaha gadai ilegal ini sudah pasti tidak diasuransikan. Hal ini dikarenakan adanya pemikiran mengenai tingginya biaya asuransi sehingga jika terjadi kerusakan pada barang gadai tersebut yang disalahkan adalah pihak nasabah karena terlalu lama menebusnya.
Indikator terakhir dari segi proses pengawasan yaitu bagi usaha gadai yang telah terdaftar dan mendapat izin usaha diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan setiap tiga bulan sekali (laporan triwulan) kepada OJK. Laporan ini bertujuan agar pihak OJK dapat menilai apakah aktivitas usaha gadai ini masih dalam kategori sehat atau tidak atau berindikasi kepada penggelapan atau pencucian uang.
Sedangkan bagi usaha gadai yang belum terdaftar atau mendapat izin usaha ini tidak ada kewajiban untuk menyampaikan laporan sebagaimana di atas sehingga tidak ada pengawasan secara ketat dari pihak OJK. Selain itu, keuangan dari hasil pemasukan dan pengeluaran di dalam usaha gadai ini juga digabung sehingga tidak jelas pembagiannya.
Inilah indikator-indikator pembeda yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi masyarakat agar dapat membedakan antara usaha gadai yang sudah terdaftar dan berizin dari OJK dengan usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK.
Pada dasarnya jika merujuk pada ketentuan yuridis normatifnya yaitu POJK Usaha Pergadaian, usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha dari pihak OJK ini belum mempunyai bentuk legalitas untuk beraktivitas di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan proses pendirian usaha gadai tersebut sudah pasti tidak memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam POJK Usaha Pergadaian seperti mengenai ketentuan modal, bentuk badan hukum dari usaha gadai tersebut, tidak memiliki juru taksir juru taksir yang bersertifikat, tidak mengikuti proses sertifikasi dan ketentuan-ketentuan lain yang tidak terpenuhi dengan baik. Tidak legalnya usaha gadai ini juga dapat dilihat dari tidak tunduknya para pelaku usaha jasa gadai terhadap himbauan yang diberikan pihak OJK. Padahal seharusnya dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun semenjak dikeluarkannya POJK Usaha Pergadaian ini pada tahun 2016 semua usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin tadi harus segera mendaftarkan usahanya kepada OJK. Hal ini bertujuan agar pihak OJK dapat melakukan proses pengawasan terhadap segala aktivitas yang dilakukan oleh usaha
gadai tersebut termasuk mengenai laporan keuangannya sehingga dari laporan keuangan sebagaimana dimaksud pihak OJK dapat menilai bagaimana perkembangan usaha gadai tersebut apakah masih dalam kategori sehat atau sudah berindikasi kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan awal didirkannya usaha tersebut seperti adanya penggelapan atau pencucian uang.
Bukan hanya itu saja, usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin ini tidak mempunyai legalitas untuk beraktivitas dikarenakan tidak adanya bentuk perlindungan yang jelas terhadap para konsumen yang menggunakan jasa gadai tersebut. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan dari bagian pengawasan industri keuangan non-bank kantor regional 5 Sumatera Utara yang menyatakan bahwa konsumen yang menggunakan jasa gadai yang tidak terdaftar di OJK tidak termasuk ke dalam konstruksi konsumen sebagaimana diatur dalam UU OJK dan POJK Usaha Pergadaian. Konsumen yang dilindungi oleh pihak OJK hanyalah konsumen yang menggunakan jasa dari instansi yag terdaftar dan memiliki izin usaha dari OJK.
Beberapa pertimbangan di atas yang menyebabkan tidak legalnya usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin di OJK untuk beraktivitas sebab ketiadaan landasan hukum yang kuat dapat membuka peluang yang besar bagi para pelaku usaha untuk menjadikan gadai sebagai media bisnis yang tujuannya hanya mencari keuntungan semata.
BAB IV
PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN JASA PEGADAIAN