PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN JASA PEGADAIAN A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen
1. Sejarah dan Perkembangan Perlindungan Konsumen
Semua manusia termasuk dalam kategori konsumen sebagaimana dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat yaitu John F. Kennedy yang mengatakan, “consumers by definition include us all” dalam kongres tentang pentingnya kedudukan konsumen di dalam masyarakat.90
Perkembangan hukum konsumen di dunia bermula dari adanya gerakan perlindungan konsumen (consumers movement) di Amerika Serikat sekitar era tahun 1960-1970 an yang mengalami perkembangan sangat signifikan dan menjadi objek kajian dalam bidang ekonomi, bidang sosial, bidang politik dan juga bidang hukum.91 Amerika Serikat merupakan negara yang paling banyak punya andil terhadap perlindungan konsumen. Hal ini dapat dilihat melalui gerakan-gerakan perlindungan konsumen yang berhasil membentuk Liga Konsumen pada tahun 1891 di New York dan Liga Konsumen Nasional pada tahun 1898 yang pada kelanjutannya semakin berkembang pesat hingga meliputi 20 negara bagian.92
90 Mariam Darus Badrulzaman, Pembentukan Hukum Nasional dan Permasalahannya, (Bandung: Alumni, 1981), hlm 47.
91 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2004), hlm 35.
92 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm 12-13.
Pada tahun 1938 terjadi amandemen terhadap The Food and Drugs Act yang melahirkan The Food, Drugs and Cosmetics Act. Sejarah gerakan perlindungan konsumen juga mengalami perubahan penting pada tahun 1960 an yang ditandai pada saat Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy saat menyampaikan pidato kenegaraan berjudul “A Special Message of Protection The Consumer Interest” di Kongres Amerika Serikat yang mengemukakan terdapat 4 (empat) hak konsumen (dikenal juga sebagai consumer hill of rights) sebagai berikut:93
a. The right to safety ( Hak atas keamanan)
b. The right to be informed ( Hak untuk mendapatkan informasi) c. The right to choose (Hak untuk memilih)
d. The right to heard ( Hak untuk didengar pendapatnya)
Peristiwa ini yang memicu adanya pengakuan Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi No. 2111 Tahun 1978.
Kemudian pada tanggal 16 April 1985 lahir pedoman PBB tentang Perlindungan Konsumen (Guidelines for Consumer Protection of 1985) yang menyebutkan bahwa dimanapun mereka berada dan berasal dari segala bangsa tetap mempunyai hak-hak dasar sosial yang sama sebagai konsumen.
Keberadaan konsumen juga semakin penting ketika IOCU (International Organization of Consumer Union) sebagai organisasi internasional untuk
93 Shidarta, op.cit, hlm 44-45.
konsumen menetapkan pada tahun 1995 bahwa pada setiap tanggal 15 Maret diperingati sebagai hari Hak Konsumen Sedunia.94
Peristiwa yang terjadi di dunia internasional ini memberikan pengaruh yang besar terhadap negara-negara lain untuk mengadakan gerakan-gerakan yang serupa. Di Indonesia sendiri masalah mengenai perlindungan konsumen baru mulai terdengar pada tahun 1970-an yang ditandai dengan lahirnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada Mei 1973. Lembaga ini dipandang sebagai perintis advokasi konsumen di Indonesia karena keberadaannya dalam membantu dan mengupayakan peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen. Hal ini dikarenakan lembaga ini bukan hanya sekedar melakukan penelitian atau pengujian, penerbitan dan menerima pengaduan tetapi juga mengadakan upaya advokasi langsung melalui jalur pengadilan.
Semangat dan kerja keras YLKI ini yang akhirnya menjadi salah satu pemicu lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut “UUPK”). Walaupun tidak dipungkiri bahwa pengaruh lainnya datang dari keterikatan Indonesia terhadap PBB dan juga adanya dorongan dari World Trade Organization (WTO), program International Monetery Fund (IMF) dan program Bank Dunia juga menjadi alasan lahirnya UUPK.95
94 Imelda Martinelli, Tiga Isu Penting Dalam Transaksi Konsumen dalam Era Hukum No.11/Tahun 1997, hlm 66.
95 Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm 37.
Proses lahirnya UUPK ini sebenarnya membutuhkan waktu tidak kurang dari 25 tahun, dimana sejarah pembentukannya sudah dimulai dari:96
a. Seminar Pusat Studi Hukum Dagang, Fakultas Hukum Universitas Indonesia tentang masalah perlindungan konsumen pada tanggal 15-16 Desember 1975.
b. Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman Republik Indonesia, penelitian tentang perlindungan konsumen di Indonesia (Proyek tahun 1979-1980).
c. Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman, Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan tentang Perlindungan Konsumen (Proyek tahun 1980-1981).
d. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Perlindungan Konsumen Indonesia, suatu sumbangan pemikiran tentang rancangan UUPK, pada tahun 1981.
e. Departemen Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen pada tahun 1977.
f. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Usul Inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat tentang UUPK pada Desember 1998.
96 Az. Nasution, Aspek Hukum Perlindungan Konsumen: Tinjauan Singkat UU Nomor 8 Tahun 1990 (Depok: Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MAPPI) FHUI), hlm 2-3.
Selain itu pembentukan UUPK juga tidak terlepas dari berbagai lokakarya, penyuluhan, seminar, baik di dalam maupun luar negeri yang menelaah mengenai perlindungan konsumen yang dilakukan oleh masyarakat kalangan pelaku usaha dan pemerintah yang dijalankan oleh YLKI. Hingga pada akhirnya, semua kegiatan ini berujung dengan disetujuinya UUPK oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Presiden Republik Indonesia, BJ. Habibie pada tanggal 20 April 1999 dan berlaku secara efektif satu tahun kemudian.97
Lahirnya undang-undang ini menunjukkan betapa pentingnya pengaturan mengenai perlindungan konsumen di Indonesia. Hal ini menjadi angin segar bagi semua gerakan-gerakan yang menyuarakan perlindungan konsumen dikarenakan melalui UUPK ini jaminan atas perlindungan hak-hak konsumen di Indonesia diharapkan dapat terpenuhi dengan baik. Seiring perkembangan waktu, gerakan-gerakan konsumen juga banyak tumbuh dan berkembang di tanah air.
Seiring dengan perkembangan perkonomian yang pesat terjadi perluasan ruang gerak arus transaksi yang melintasi batas-batas wilayah suatu negara sehingga pada akhirnya konsumen dihadapkan kepada berbagai jenis barang dan/atau jasa yang ditawarkan secara variatif, baik yang berasal dari produksi domestik maupun yang berasal dari luar negeri. Kondisi seperti ini, pada satu sisi memberikan manfaat bagi konsumen karena kebutuhan akan barang
97 Ibid, hlm 3.
dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi namun di sisi lain mengakibatkan kedudukan antara pelaku usaha dan konsumen tidak seimbang, dimana seringkali konsumen berada pada posisi yang lemah dan pelaku usaha berada pada posisi yang menguntungkan.98
Oleh karena itu, UUPK dimaksudkan sebagai landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen.