• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Terhadap Perusahaan Gadai Yang Belum Terdaftar atau Mendapat Izin Usaha

PERLINDUNGAN TERHADAP KONSUMEN JASA PEGADAIAN A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen

C. Sanksi Terhadap Perusahaan Gadai Yang Belum Terdaftar atau Mendapat Izin Usaha

Salah satu fungsi manajemen adalah melakukan pengawasan yang bertujuan agar manajemen perusahaan tersebut dapat berjalan secara benar.146 Fungsi pengawasan dilakukan terhadap seluruh aktivitas perusahaan baik yang belum berjalan atau yang sedang berjalan terhadap sumber daya manusia, sistem yang dijalankan, proses, hasil (output) serta sarana dan prasarana.147 Selain itu, pengawasan dilakukan juga sebagai sarana pencegahan terjadinya penyimpangan atas aktivitas , artinya jika terdapat indikasi-indikasi perbuatan yang menyimpang maka dapat segera dilakukan tindakan sedini mungkin.148

Sebagai salah satu lembaga pembiayaan, usaha gadai termasuk ke dalam institusi yang harus diawasi oleh OJK. Bentuk pengawasan sebagaimana dimaksud terdiri dari 2 (dua) pengawasan, yaitu:149

1. Pengawasan Langsung (On site examination)

Bentuk pengawasan ini dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan pada usaha gadai untuk meneliti dan mengevaluasi tingkat kepatuhan dari usaha gadai terhadap ketentuan yang berlaku secara langsung (turun ke lapangan).

Pengawasan ini juga dilakukan dengan melihat proses bisnis dari usaha

146 Adrian Sutedi, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2014), hlm 36.

147 Kasmir, op.cit, hlm 318.

148 Ibid, hlm 319.

149 Otoritas Jasa Keuangan, Bank Dalam Pengawasan Khusus ( Special Surveillance), https://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/Pages/Bank-Dalam-Pengawasan-Khusus.aspx, dinduh pada 30 Januari 2019, pukul 12.58.

gadai tersebut dan melakukan on the spot terhadap nasabah dari usaha gadai bersangkutan apabila di dalam laporan keuangan terdapat kejanggalan yang tidak sesuai untuk dimintai keterangan sebagai salah pendukung dari bentuk pengawasan OJK.

2. Pengawasan Tidak Langsung (Off site supervision)

Pengawasan ini merupakan bentuk pengawasan dan analisis yang dilakukan berdasarkan adanya laporan secara berkala (regulatory reports) yang wajib dilaporkan oleh usaha gadai setiap tiga bulan sekali.

Dari pengawasan sebagaimana telah disebut di atas apabila terdapat hal-hal yang menyimpang dari usaha gadai dan menimbulkan kerugian bagi konsumen, barulah pihak OJK dapat memberikan sanksi bagi usaha gadai yang bersangkutan.

Namun, sebelum diberikannya sanksi pihak OJK akan melakukan inisiasi antara konsumen yang dirugikan dengan lembaga mediasi pihak OJK yaitu Badan Arbitasi dan Media Pembiayaan dan Pegadaian Indonesia (BAMPPI). Namun jika dalam proses ini tidak terdapat hasil yang memuaskan bagi konsumen maka pihak konsumen diperbolehkan untuk mengajukan banding melalui jalur hukum/pengadilan. Tetapi jika dalam hal ini industri usaha gadai memang melakukan kesalahan maka berdasarkan Pasal 60 POJK Usaha Pergadaian, sanksi yang akan diberikan OJK ialah sanksi administratif berupa:150

a. Peringatan;

b. Pembekuan kegiatan usaha;

150 Indonesia (POJK Usaha Pergadaian), op.cit, Pasal 60.

c. Pembatalan persetujuan penyelenggaraan sebagian kegiatan usaha berdasarkan Pronsip Syariah;

d. Pencabutan izin unit usaha syariah bagi Perusahaan Pergadaian Pemerintah; dan/atau

e. Pencabutan izin usaha.

Tetapi sanksi sebagaimana disebut di atas hanya berlaku bagi usaha gadai yang telah terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK. Sedangkan bagi usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha sampai saat ini terkait masalah sanksi pihak OJK sendiri belum dapat memberikan sanksi dikarenakan belum diaturnya mengenai sanksi ini di dalam peraturan OJK. Tetapi berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK kota Medan dijelaskan bahwa pada tanggal 29 Juli 2019 usaha gadai yang tidak terdaftar dan berizin ini baru dapat dikenakan sanksi administratif berupa peringatan yang memiliki jangka waktu 90 hari atau per tiga bulan. Saat ini pihak OJK sendiri juga sedang melakukan satgas dengan pihak kepolisian, kejaksaan dan pengadilan tinggi untuk mencari gantungan hukum yang sesuai bagi usaha gadai yang belum terdaftar atau berizin ini karena jika ditarik dari sisi penegakan hukum, usaha yang tidak mengikuti aturan sebagaimana telah diatur oleh pihak OJK berindikasi ke pidana.151

Namun selama menunggu peraturan OJK mengenai sanksi ini dikeluarkan, pihak OJK sebenarnya telah melakukan beberapa upaya persuasif untuk mengatasi

151 Hasil wawancara dengan Ibu Maria Oktarina Sirait, Badan Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) cabang Kota Medan Sumatera Utara, 22 Januari 2019.

usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha seperti melakukan penghimbauan melalui on air di radio yang dilakukan sebanyak 3 kali di kota Medan, penyebaran pamflet mengenai pentingnya terdaftar dan mendapat izin usaha dari OJK, melakukan sosialisasi dengan mengundang industri dari usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin serta sudah dilakukannya penyuratan sebagai bentuk peringatan. Namun, jika peraturan OJK mengenai sanksi nanti telah dikeluarkan barulah pihak OJK dapat menindaklanjuti mengenai permasalahan usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin dari OJK ini.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa upaya perlindungan yang diberikan oleh OJK bukan hanya meliputi tindakan pencegahan kerugian dan pengaduan konsumen saja tetapi juga pembelaan hukum pelayanan pengaduan yang dilakukan oleh OJK termasuk dalam memfasilitasi proses penyelesaian pengaduan.

OJK juga melakukan pembelaan hukum untuk kepentingan konsumen berupa pengajuan gugatan di pengadilan terhadap pihak-pihak yang menyebabkan timbulnya kerugian bagi konsumen di sektor jasa keuangan tersebut. Namun bentuk perlindungan ini tidak diperuntukkan bagi konsumen yang melakukan transaksi pada usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha sebab mereka harus menanggung resikonya sendiri apabila terjadi indikasi yang menyimpang dari usaha gadai tersebut. Hal ini dikarenakan kerugian yang diakibatkan oleh usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha bukan merupakan tanggung jawab dari pihak OJK tetapi sudah masuk ke ranah hukum pidana atau ranah hukum perdata.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka pada akhir bab ini penulis mencoba membuat kesimpulan dan saran dari pembahasan sebelumnya.

1. Pengaturan hukum mengenai gadai di Indonesia pada dasarnya diatur dalam pasal 1150 sampai pasal 1160 KUHPerdata yang memuat mengenai pengertian, subjek, objek, sifat, hak dan kewajiban para pihak dalam gadai, hal-hal yang menyebabkan terjadinya gadai sampai sebab hapusnya gadai.

Namun dengan kompklesitas aktivitas bisnis dewasa ini, KUHPerdata belum mampu menjangkau dan mengakomodasikan perkembangan gadai saat ini.

Ketiadaan landasan hukum yang kokoh inilah yang menjadi celah tumbuh kembangnya praktik gadai ilegal dan membuka peluang bagi usaha untuk menjadikan gadai sebagai medis bisnis yang semata-mata hanya bertujuan untuk mencari keuntungan. Terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.05/2016 tentang Usaha Pergadaian telah mempengaruhi tatanan regulasi hukum jaminan, khususnya pranata Gadai sebagai salah satu jaminan kebendaan di Indonesia karena lingkup usaha pergadaian lebih luas dari makna gadai sebagaimana diatur dalam Hukum Perdata sebab meliputi pula jasa titipan, jasa taksiran, dan/atau jasa lainnya.

2. Kurangnya pengawasan terhadap regulasi usaha pergadaian yang semakin berkembang seiring dengan perkembangan kebutuhan alternatif pembiayaan

menjadi celah tumbuh kembangnya praktik gadai swasta. Pada dasarnya jika merujuk pada ketentuan yuridis normatifnya yaitu POJK Usaha Pergadaian, usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha dari pihak OJK ini merupakan salah satu bentuk permasalahan hukum karena belum mempunyai bentuk legalitas untuk beraktivitas di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan mulai dari proses pendirian, bentuk badan hukum dari usaha gadai yang bersangkutan, ketentuan-ketentuan mengenai pendaftaran dan perizinan usaha sampai masalah mengenai perlindungan konsumen tidak sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam POJK Usaha Pergadaian. Oleh sebab itu, usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin di OJK ini pada dasarnya tidak diperbolehkan untuk beraktivitas sebab tidak adanya landasan hukum yang kuat sehingga membuka peluang yang besar bagi para pelaku usaha untuk menjadikan gadai sebagai media bisnis yang tujuannya hanya mencari keuntungan semata.

3. Upaya perlindungan yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuagan bukan hanya meliputi tindakan pencegahan kerugian dan pengaduan konsumen saja tetapi juga pembelaan hukum pelayanan pengaduan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan termasuk dalam memfasilitasi proses penyelesaian pengaduan. Otoritas Jasa Keuangan juga melakukan pembelaan hukum untuk kepentingan konsumen berupa pengajuan gugatan di pengadilan terhadap pihak-pihak yang menyebabkan timbulnya kerugian bagi konsumen di sektor jasa keuangan tersebut. Namun bentuk perlindungan ini tidak berlaku bagi konsumen yang melakukan transaksi pada usaha gadai yang

belum terdaftar dan mendapat izin usaha sebab mereka harus menanggung resikonya sendiri apabila terjadi indikasi yang menyimpang dari usaha gadai tersebut. Bilamana dalam proses transaksi gadai terjadi tindakan yang merugikan konsumen, maka konsumen tersebut hanya dapat melakukan proses pengaduan kepada pihak kepolisian jika bentuk kerugian yang dialami mengandung unsur pidana dan melakukan proses pengaduan ke pengadilan apabila bentuk kerugian mengandung unsur perdata. Hal ini dikarenakan kerugian yang diakibatkan oleh usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha bukan merupakan tanggung jawab dari pihak Otoritas Jasa Keuangan tetapi sudah masuk ke ranah hukum pidana dan hukum perdata.

B. Saran

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Dengan terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.05/2016 tentang Usaha Pergadaian diharapkan pengaturan mengenai pergadaian dapat disesuaikan dengan kebutuhan mengingat pegadaian tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai alternatif pembiayaan bagi masyarakat.

2. Pihak Otoritas Jasa Keuangan mampu untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat agar usaha gadai yang belum terdaftar atau mendapat izin usaha ini segera mendaftarkan usahanya sebab perusahaan gadai yang belum terdaftar atau mendapat izin usaha berdasarkan POJK Usaha Pergadaian

merupakan perusahaan gadai ilegal yang artinya praktik usaha tersebut tidak memiliki kepastian hukum, berpotensi lebih tinggi untuk melakukan kecurangan dan merugikan masyarakat mengingat mekanismenya tidak tunduk pada ketentuan gadai yang seharusnya. Dilakukannya pendaftaran dan permohonan izin usaha bertujuan agar usaha gadai tersebut mempunyai landasan hukum yang kokoh dan dapat menjalankan usahanya secara akuntabel dan transaparan.

3. Pihak Otoritas Jasa Keuangan dapat terus melakukan upaya persuasif terhadap usaha gadai yang belum terdaftar dan berizin untuk mendorong mereka segera mendaftarkan usahanya. Selain itu diharapkan pula agar pihak Otoritas Jasa Keuangan dapat segera merealisasikan peraturan mengenai sanksi bagi usaha gadai yang belum terdaftar dan mendapat izin usaha sehingga dapat diminimalisir praktik perkembangannya. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran OJK dalam melakukan pengawasan terhadap usaha gadai tersebut untuk meminimalisir potensi terjadinya resiko sistemik dalam kelompok jasa keuangan, meminimalisir potensi terjadinya moral hazard, megoptimalkan perlindungan konsumen dan mewujudkan stabilitas keuangan. Sebab apabila usaha gadai tersebut telah terdaftar maka pihak OJK dapat menggunakan metode pengawasan berdasarkan resiko (risk based supervision) yang memungkinkan pengawas dapat mendeteksi resiko yang signifikan secara dini sehingga dapat diambil tindakan pengawasan yang sesuai dan tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA