BAB II PENGERTIAN, HAKIKAT DAN HUKUM
D. Perbedaan Tawassul dan Tabarruk
berhala itu dimaksudkan untuk menghampirkan diri kepada Allah swt., tetapi pada kenyataannya mereka menyembah berhala dengan meyakini bahwa berhala itu dapat memberikan manfaat dan mudarat. Karena itu, Allah swt. menegaskan di akhir ayat pada Surah az-Zumar ayat 3, bahwa perkataan mereka itu bohong lagi kafir.
Ibnu Taymiyyah (wafat 728 H.),24 berdasarkan ayat di atas, tidak memperkenankan seseorang ber-tawassul kepada benda-benda mati di dunia, seperti patung, berhala, pohon, , untuk mendekatkan diri kepada Allah.25 Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: Ber-tawassul dengan kemuliaan seseorang atau berkah seseorang atau dengan hak seseorang adalah perbuatan bid„ah, bukan syirik.26
D. Perbedaan Tawassul dan Tabarruk
Firman Allah swt.:
…
….
(Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait.28 (QS. Hud [11]:73)
Keberkahan dalam ayat di atas, menurut al-Fara‟ berarti kebahagiaan29.
Kata berkah disini, juga berarti kebahagiaan. Sebab, orang yang dibahagiakan oleh Allah dengan kebahagiaan yang dianugerahkan kepada Nabi saw. pada dasarnya mendapatkan kebahagiaan yang penuh berkah dan abadi.
Sedangkan Tabarruk artinya mencari berkah, yakni mencari kelebihan dan kebahagiaan. Tabarruk kepada sesuatu berarti mencari dan menyerap berkah dengan media sesuatu itu.
Pengertian Tabarruk menurut istilah adalah mencari berkah dengan media yang riil atau abstrak, yang diistimewakan oleh Allah dengan kedudukan khusus.30 Ia
28Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Revesi Terbaru), (Semarang: asy-Syifa‟, 1999), Surah Hûd, 11:73, h. 338
29 Shobah Ali Al-Bayati, At-Tabarruk, h. 9
30Shobah Ali Al-Bayati, At-Tabarruk, h. 31
diistimewakan dengan dilimpahi keberkahan dan punya efek bisa mendatangkan keberkahan kepada orang lain, atas pertolongan-Nya tentunya. Misalnya, menyentuh tangan Nabi saw. atau menyentuh barang-barang peninggalannya dengan harapan mendapat keberuntungan karena keberkahannya.
2. Dalil Tabarruk
Para sahabat Rasulullah saw. telah mempraktekkan tabarruk (mencari berkah) dengan peninggalan-peninggalan Rasulullah saw., baik di masa hidup Rasulullah saw. maupun setelah beliau meninggal. Dari semenjak itu semua ummat Islam hingga kini masih tetap melakukan tradisi baik yang merupakan ajaran syari‟at ini. Kebolehan perkara ini diketahui dari dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya sebagai berikut:
Para sahabat ber-tabarruk dengan jubah Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Sebagai berikut:
(
“Dari hamba sahaya Asma‟ binti Abi Bakar ash-Shiddiq, bahwa ia berkata: “Asma‟ binti Abi Bakar mengeluarkan jubah dengan motif thayalisi dan kasrawani (semacam jubah kaisar) berkerah sutera yang kedua lobangnya tertutup. Asma‟ berkata: “Ini adalah jubah Rasulullah. Semula ia berada di tangan
„Aisyah. Ketika „Aisyah wafat maka aku mengambilnya. Dahulu jubah ini dipakai Rasulullah, oleh karenanya kita mencucinya agar diambil berkahnya sebagai obat bagi orang-orang yang sakit”. Dalam riwayat lain: “Kita mencuci (mencelupkan)-nya di air dan air tersebut menjadi obat bagi orang yang sakit di antara kita”.(HR.
Muslim)
Rasulullah membagi-bagikan rambutnya, ketika beliau bercukur di saat haji Wada‟, haji terakhir yang beliau lakukan.
Beliau juga membagi-bagikan potongan kukunya. Pembagian
31 Imam Muslim, As-Sunan al Kubrâ, Jus II, (Haidar Âbâd-India:
Majlis Dâ'irah al-Ma„ârif an-Nizâmiyah, 1344 H.), Cet, ke-1, h. 423
rambut ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim dari hadis sahabat Anas ibn Malik. :
:
)
“Setelah selesai melempar Jumrah dan memotong kurbannya, Rasulullah kemudian bercukur. Beliau mengulurkan bagian kanan rambutnya kepada tukang cukur untuk memotongnya. Kemudian Rasulullah memanggil Abu Thalhah al-Anshari dan memberikan kepadanya potongan rambut tersebut. Lalu Rasulullah mengulurkan bagian kiri rambutnya kepada tukang cukur tersebut, sambil berkata: “Potonglah..!”. Lalu potongan rambut tersebut diberikan kembali kepada Abu Thalhah, seraya berkata: “Bagikanlah di antara manusia”.(HR. Bukharî)
32 Imam Bukharî, Shahih Bukharî, Jus II, (Dâr Tûq an-Najâh, 1422 H.), Cet. Ke- 1, h. 419
Dalam hadis-hadis di atas terdapat penjelasan kuat tentang tabarruk dengan peninggalan-peninggalan Rasulullah.
Rasulullah sendiri yang membagi-bagikan potongan rambutnya di antara para sahabatnya, agar mereka ber-tabarruk dengannya. Juga agar mereka menjadikannya sebagai wasilah dalam berdoa kepada Allah, serta menjadikan rambut-rambut yang mulia tersebut sebagai jalan untuk ber-taqarrub kepada-Nya. Rasulullah membagi-bagikan rambut-rambutnya agar menjadi berkah yang terus menerus ada dan sebagai kenangan bagi para sahabatnya, juga bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Dari sinilah kemudian orang-orang yang dimuliakan Allah dalam kehidupan mereka mengikuti apa yang dilakukan para sahabat dalam mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan Rasulullah. Dimana hal ini kemudian menjadi tradisi yang diwarisi kaum Khalaf dari kaum Salaf.
Sudah barang tentu Rasulullah membagi-bagikan potongan rambut dan potongan kuku-nya bukan untuk dimakan oleh para sahabat tersebut, melainkan agar mereka ber-tabarruk dengan rambut dan potongan kuku tersebut.33
33Aqidah Ahlusunnah, https://www.facebook.com/notes/aqidah- ahlussunnah-allah-ada-tanpa-tempat/tabarruk-mencari-berkah-itu-bukan-
barang-baru-jangan-sembarangan-mengklaim-syiri/112866082063643?comment_id=6121008&offset=0&total_comments
=88, diakses pada tanggal 9 2015
3. Perbedaan Tawassul dan Tabarruk
Dalam pandangan al-Qur‟ân akan ditemukan bahwa hakikat Tabarruk dan Tawassul adalah merupakan bentuk pewujudan dari peribadatan yang legal dalam syariat Allah swt.
Ini merupakan hal yang jelas dalam ajaran al-Qur‟ân sehingga tidak mungkin dapat dipungkiri oleh kelompok muslim manapun. Dalam al-Qur‟ân akan ditemukan beberapa contoh dari mencari berkah (tabarruk) dan pengambilan sarana (tawassul) para pengikut setia para nabi dan kekasih Allah yang berguna untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Hal itu agar supaya Allah swt. mengabulkan do‟a dan hajatnya dengan segera.
Sayyid Abdurrahman Ba‟alawi berkata : tawassul menggunakan para wali, baik ketika mereka masih hidup atau sudah mati, hukumnya boleh secara syar‟i, sebagaimana dalam hadits yang di riwayatkan tentang Nabi Adam as. ketika melakukan maksiat, yang meminta ampunan kepada Allah dengan ber- tawassul dengan perantara Nabi Muhammad saw. Demikian juga hadis tentang seorang laki-laki yang sakit mata melakukan tawassul dengan perantara Nabi saw. lalu matanya sembuh dapat melihat kembali.
Sedangkan Tabarruk (mengambil berkah) dari atsar (benda yang berhubungan dengan ) Nabi saw. atsar para wali dan
Ulama‟, maka hukumnya di persamakan dengan tawassul, keesamaan itu terletak pada anggapan baik dari orang yang melakukan tawassul dan tabarruk terhadap orang yang di gunakan untuk ber-tawasul atau di anggap memiliki barokah, karena kedekatannya kepada Allah swt.34
34 M. Danial Royyan, http://kang-oem.mywapblog.com/hukum-tawasul-dan-tabaruk-menurut-ulama-2.xhtml, diakses pada tanggal 19 April 2015
49
BENTUK-BENTUK TAWASSUL
A. Tawassul dengan Menyebut Nama, Sifat dan Perbuatan Allah swt.
Tawassul dengan menyebut Nama, Sifat dan Perbuatan Allah,yaitu seseorang memulai doa kepada Allah dengan mengagungkan, membesarkan, memuji, mensucikan terhadap zat-Nya Yang Maha Tinggi, Nama-nama-Nya yang Indah dan Sifat-sifat-Nya yang Tinggi, kemudian berdoa dengan apa yang dia inginkan dengan menjadikan pujian, pengagungan dan pensucian ini hanya untuk Allah swt. agar Dia mengabulkan doa dan mengabulkan apa yang seseorang minta kepada-Nya, dan dia pun mendapatkan apa yang dia minta kepada Rabb-nya.1
Firman Allah swt.:
1Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarh „Aqîdah Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ„ah, (Bogor: Pustaka Imam Syafi„î, 2006), Cet, ke-3, h. 447
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-A‟Râf [7]: 180)
Demikian juga,doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah menyebut al-Asmâ' al-husnâ:
“ Mengabarkan kepada kami Abû Bakar Muhammad bin Ahmad bin Bilwaih, Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Syażân al-Jauharî, Mengabarkan kepada kami Sa„îd bin Sulaimân al-Wâsitî, Mengabarkan kepada kami Fudail bin Marzûq, Mengabarkan kepadaku Abû Salamah al-Juhnî dari al-Qâsim bin Abdi ar-Rahmân dari ayahnya, dia berkata: Berkata „Abdullâh bin Mas„ûd r.a.
Bersabda Rasulullah saw.: Tiada seorang muslim ditimpa kesusahan dan kesedihan, lalu berdoa: Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan, jiwaku ada dalam kekuasaan-Mu, ketetapan-Mu berlaku terhadapku, ketetapan-Mu bagiku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan Dzat-Mu dengannya, atau Engkau beritahukan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang hanya Engkau yang mengetahuinya, (Aku
2Muḥammad bin „Abdullâh Abû„Abdillâh Ḥâkim an-Naisâbûrî, al-Mustadrak„Alâ aṣ-Ṣaḥîḥain, Juz II,(Beirût: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1990 ), Hadis ke-1877, Cet, ke- 1, h.166.
memohon) jadikanlah al-Qur‟an sebagai isi dan penyemarak hatiku, penerang bagi jiwaku, pengangkat kesedihanku dan penghilang kesusahanku“.Melainkan Allah berkenan menghilangkan kesusahan dan kesedihan hatinya, dan menggantikannya dengan kelapangan. Ini adalah hadis sahih atas syarat Muslim.” (HR. Muhammad Ibnu Abdillah)
Sebagaimana doa sebagai berikut:
“Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk mesjid, tiba-tiba ada seorang laki-laki mengerjakan shalat dan bersaksi, lalu berdoa: Ya Allah! Sungguh aku mohon padamu, Ya Allah Yang Maha Esa, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang
3 Abû „Abd ar-Raḥmân Aḥmad bin Syu„aib an-Nasâ'î, As-Sunan al-Kubrâ, Juz ke- 8, (Beirût: Dâr al-Kutub al-„lmiyyah, 1991), Cet. ke- 1, h.
394
setara denganNya, agar kiranya Engkau mengampuni segala dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rasulullah saw.
bersabda: Sesungguhnya telah diampuni dosa-dosanya.”