BAB II PENGERTIAN, HAKIKAT DAN HUKUM
B. Tawassul dengan Amal Shalih
setara denganNya, agar kiranya Engkau mengampuni segala dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rasulullah saw.
bersabda: Sesungguhnya telah diampuni dosa-dosanya.”
Ulama berkata: Wasilah yang sesuai dengan syariat adalah amal kebajikan, dalilnya adalah firman Allah swt. ketika menerangkan sifat orang-orang muttaqin yang menang dengan berpegang kepada karamat yang mulia ini;5
“ (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.
Alimrân [3]: 16)
Berdasarkan ayat di atas, orang-orang beriman meminta ampunan dan dijauhkan dari siksa neraka dengan perantara iman.Adapun iman yang dimaksud adalah iman yang benar yang melahirkan amal saleh dan meninggalkan maksiat.
Selanjutnya, firman Allah swt. ketika menerangkan tentang keadaan orang-orang yang berakal sehat, sebagai berikut:
5Muhyiddîn Mas Rida, Kupas Tuntas Bid‟ah, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008), Cet, ke-1, h. 272
“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (QS. Alimrân [3]: 193)
Maksud suara penyeru pada ayat di atas, adalah Rasulullah saw.
Sedangkan orang-orang yang mendengarkan seruan yang dimaksud adalah para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Dosa (zanbun) adalah setiap perbuatan maksiat yang melahirkan akibat yang buruk cepat atau lambat, baik itu berupa hablumminallâh (hubungan dengan Allah) atau hablum minannâs (hubungan dengan sesama manusia). Adapun perbuatan buruk (sayyi'ah) adalah perbuatan jahat yang merugikan pelakunya dan
orang lain, cepat atau lambat. Pengampunan dosa (ghâfr aż-żanb) adalah menutupinya (dosa) dan tidak menghukumnya.Penghapus perbuatan buruk (kaffârah as-sayyi'ah) adalah menghapus dan menghilangkan perbuatan buruk tersebut. Iman adalah pengakuan yang tertanam kokoh di dalam diri (hati) dan dibuktikan oleh amal kebajikan Jadi tertibnya adalah pengampunan dosa, penghapusan perbuatan jahat dan pengakuan iman dan amal saleh.Inilah yang dimaksud dengan tawassul dengan amal saleh.
Pada ayat lain, disebutkan dasar tawassul dengan amal saleh sebagai berikut:
“Mintalah tolong kepada Allah dengan ( bersikap ) sabar dan (melakukan) shalat. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45)
Sedangan hadis yang menjadi landasan tawassul dengan amal saleh, adalah sebagai berikut:
“ Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya Musa bin 'Uqbah dari Nafi' dari Ibnu'Umar radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga orang yang sedang berjalan kemudian turun hujan lalu ketiganya masuk kedalam gua di sebuah gunung namun kemudian mereka tertutup oleh batu". Beliau melanjutkan; "Kemudian diantara mereka berkata kepada yang lainnya; Mintalah kepada Allah dengan perantaraan amal yang paling utama yang kalian pernah melakukannya.Orang pertama diantara mereka berkata; Ya Allah, aku memiliki kedua orangtua yang sudah renta. Suatu hari aku keluar untuk mengembala untuk mendapatkan susu kemudian aku
6Imam al-Bukhârî, Sahih al-Bukhârî, Juz III, (Beirût: Dâr Tûq an-Najâh, 1422 H.), Hadis 2215, h. 80.
datang membawa susu, lalu aku berikan kepada kedua orangtuaku, lalu keduanya meminum baru kemudian aku berikan minum untuk bayiku, keluarga dan isteriku. Pada suatu malam, aku mencari susu setelah aku kembali dan aku datangi mereka ternyata keduanya sudah tertidur. Dia berkata; Aku enggan untuk membangunkan keduanya untuk meminum susu sedangkan anakku menangis dibawah kakiku karena kelaparan, Begitulah kebiasaanku dan kebiasaan kedua orangtuaku hingga fajar. Ya Allah seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha Mu, maka bukakanlah celah untuk kami agar kami dapat melihat matahari darinya". Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka terbukalah sedikit celah untuk mereka. Orang kedua berkata: "Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku seorang lelaki yang sangat mencintai seorang wanitaputri dari pamanku seperti kebanyakan laki-laki mencintai wanita.
Suatu hari dia berkata, bahwa aku tidak akan bisa mendapatkannya kecuali aku dapat memberi uang sebanyak seratus dinar. Maka aku bekerja dan berhasil mengumpulkan uang tersebut.Ketika aku sudah berhadapan dengannya dan aku hendak menyetubuinya, dia berkata; bertaqwalah kepada Allah, dan janganlah kamu renggut keperawanan kecuali dengan haq".Maka aku berdiri lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Ya Allah
seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami". Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Maka terbukalah dua pertiga dari batu yang menutup pintu gua. Kemudian orang yang ketiga berkata: Ya Allah sungguh Engkau mengetahui bahwa aku pernah memperkerjakan seseorang untuk mengurusi satu benih tumbuhan lalu aku beri upah namun dia tidak mau menerimanya. Lalu aku sengaja mengembangkan benih tersebut sehingga darinya aku bisa membeli seekor sapi dan seorang pengembalanya.Kemudian di suatu hari orang itu datang kepadaku seraya berkata; "Wahai 'Abdullah, berikanlah upahku yang dulu!"Lalu aku katakan;
Kemarilah lihat kepada seekor sapi dan pemngembalanya itu semua milikmu". Dia berkata: "Kamu jangan olok aku!" Dia berkata: Aku katakan: Aku tidak mengolok- mengolok-olok kamu tetapi itu semua benar milikmu. Ya Allah seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridhaMu, maka bukakanlah celah untuk kami". Akhirnya mereka bisa terbebas dari gua tersebut.”
(HR. Bukharî)
Kisah ini bercerita tentang tiga orang yang pergi meninggalkan rumah mereka untuk berjalan-jalan atau mencari kebutuhan pokok untuk keluarga mereka.Di tengah perjalanan langit berbalut
mendung, hujan keras pun mengguyur hingga membuat mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Mereka menemukan tempat berlindung di dekat mereka.Sebuah goa tempat berlindung mereka dari hujan menjadi seperti kuburan bagi mereka.Banjir akibat hujan deras membawa batu-batu besar dari atas gunung dan terus menggelinding hingga berhenti di pintu goa.Akibatnya, pintu goa tertutup olehnya.Batu ini begitu besar.Saking besarnya, kekuatan mereka bertiga tidak mampu untuk menggeser dan menggerakkannya.
Setelah pintu goa tersumbat oleh batu besar, keadaan mereka lebih sulit dibandingkan dengan keadaan mereka semula.Hujan yang turun, mereka dapat menghadapinya dengan sabar. Adapun tersumbatnya pintu goa, itu berarti kematian telah nyata di depan mata.
Mereka terpenjara di dalam goa, mereka tidak mungkin dapat menembusnya dengan kekuatan mereka sendiri. Tidak ada cara untuk meminta pertolongan kaum mereka. Seandainya kaum mereka hendak mencari mereka karena mereka telah pergi lama, maka mereka tidak akan menemukan goa itu. Jejak kaki yang tinggalkan oleh orang-orang yang hilang telah dihapus oleh hujan yang deras dan banjir, sebagaimana angin menghapus jejak kaki di pasir.Bahkan seandainya ada orang yang lewatdi dekat mereka, mereka mungkin juga tidak mengerti apa-apa dan tidak mengetahui tempat mereka.
Gema teriakan mereka pun tidak akan melebihi dinding-dinding goa yang mengurung mereka.7
Dalam kondisi seperti ini, hamba-hamba meyadari bahwa keselamatan mereka hanyalah di tangan Allah.Dan bahwa hanya Allah yang mengetahui tempat keberadaan mereka.Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar kepada mereka. Tidak ada sesuatu pun yang samar bagi Allah di langit dan di bumi.
Sama dengan mereka, orang-orang di atas perahu yang dikurung oleh ombak dengan angin yang berhembus sangat kencang. Ombak membuat perahu naik turun, bergoyang miring dan bergoncang , sementara mereka tidak dapat berbuat apapun.
Sama dengan mereka, orang-orang di pesawat dengan mesin yang rusak dan mulai limbung di udara, kadang-kadang lurus, kadang-kadang miring dan bergetar di sana-sini.
Sama dengan mereka, orang-orang yang terbenam oleh bumi atau dilanda gempa hingga rumah mereka roboh dan mereka terkurung di tempat yang sempit, di puing-puing rerentuhan.Para manusia dalam keadaan seperti itu, walaupun mereka adalah orang-orang yang gemar berbuat dosa, mereka akan tetap memanggil Tuhan mereka untuk memohon perlindungan dan pertolongan-Nya.
Dia Maha Berkuasa ketika kemampuan manusia telah tumpul, Dia adalah pelindung ketika segala sarana yang dengannya manusia menjaga manusia tidak mungkin digunakan.
7Umar Sulaiman Abdullah Al- Asyqar, Kisah shahih sepanjang zaman, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2008), Cet, ke-1, h. 241-242
Sebagaimana firman Allah swt., sebagai berikut:
“ Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (QS. Luqmân [31]: 32)
Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang merasa cukup hanya dengan berdoa. Sebagian lagi berusaha ber-tawassul kepada Allah dengan nama, sifat dan perbuatan-Nya. Dan sebagian yang lain ber-tawassul kepadanya dengan amal saleh. Bagian yang terakhir inilah yang diusulkan oleh salah seorang dari mereka.Dia meminta kedua orang temannya agar masing-masing ber-tawassul dengan amalnya yang paling mujarab yang dia lakukan karena Allah.
Masing-masing telah menyebutkan amal saleh yang dilakukan karena Allah, dan didukung dengan doa kepada Allah agar memberi kemudahan dalam kesulitan yang mereka alami jika dia memang benar dalam perkataannya. Setiap kali salah seorang menyebutkan amalnya dan memohon kemudahan, batu besar itu bergeser sedikit.Sehingga ketika orang ketiga menyebutkan amalnya dan permintaannya, maka batu itu bergeser sepenuhnya dan mereka bisa keluar dengan selamat.
Hal ini mengandung petunjuk yang besar bahwa Allah mendengar pengaduan mereka.Dia mengetahui keadaan mereka dan kejujuran ucapan mereka.Maka Dia mengangkat kesulitan mereka dan memudahkan persoalan mereka. Kisah mereka menjadi pelajaran bagi orang lain yang tertimpa kesulitan seperti mereka.
Orang yang pertama ber-tawassul kepada Allah dengan kebaktiannya terhadap kepada orang tuanya (Birr al-Wâlidain), yang kedua ber-tawassul kepada Allah dengan dengan sikapnya yang menjauhi kemungkaran, dan yang ketiga ber-tawassul dengan sikap amanahnya dalam memelihara harta orang lain, sehingga Allah meringankan atau membuka mulut gua itu.
Semua doa yang dipanjatkan oleh ketiga orang dalam hadis diatas menunjukkan betapa besar keutamaan amal saleh yang dilakukan dengan tulus ikhlas semata-mata karena Allah, hingga dapat dijadikan tawassul kepada-Nya, dalam usaha menghindarkan
bahaya dan kesulitan yang sedang menimpa. Dan ternyata berkat doa tawassul-nya, Allah swt.mengabulkan apa yang menjadi hajatnya.8
Dengan amal saleh dan beribadah secara khusyu„, tekun dan istiqâmah juga dapat menjadi wasilah datangnya kasih sayang Allah bagi para pelakunya, sebagaimanam disebutkan dalam hadis:
“ Menceritakan kepadaku Muhammad bin „Usmân bin Karâmah, menceritakan kepada kami Khâlid bin Makhlad, menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilâl, menceritakan kepadaku Syarîk bin „Abdillâh bin Abî
8Umar Sulaiman Abdullah Al- Asyqar, Kisah shahih sepanjang zaman, h. 243-244
9Muhammad bin Ismâ„îl bin Ibrâhîm al-Mughîrah al-Bukhârî, Sahih al-Bukhârî, Juz 7, h. 105
Namir, dari „Athâ' dari Abu Hurairah r.a ia berkata, bersabda Rasulullah saw:Sesunguhnya Allah swt.
berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang kepadanya.Tiada seorangpun dari hambaku mau mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan fardlu sehingga aku mencintainya, dan tidak seorang pun dari hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan sunat sampai aku mencintainya, Apabila aku telah mencintai hambaku maka Aku menjadi pendengarnya untuk mendengar, dan Aku Aku menjadi pandangannya untuk melihat, dan Aku menjadi tanganya yang dipakai untuk memegang, dan Aku menjadi kakinya untukberjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku beri permintaanya, dan jika minta perlindungan kepada-ku, maka Aku akan melindunginya.” (HR. Bukharî)
Semua umat Islam sepakat bahwa tawassul dengan amal saleh bukan saja boleh, namun diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan caranya bisa dengan shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur'ân, berdzikir, dan lain-lain sebagainya, atau dengan amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Ḥasanî menyatakan:
“ Tidak ada seorang ulama yang berselisih tentang disyariatkannya tawassul kepada Allah swt. dengan amal-amal shaleh. Barangsiapa puasa, shalat atau membaca Al-Qur'ân dan bersedekah, maka dia bisa tawassul dengan puasanya, shalatnya, bacaan Al-Qur'ânnya dan sedekahnya.”
Tawassul dengan jalan beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi saw. dengan jalan ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya dengan melaksanakan segala yang wajib dan yang sunat.maka seseorang akan sampai kepada keridlaan Ilahi dan kelak akan sampai pula ke surga-Nya.