• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tawassul dalam Perspektif Hadis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tawassul dalam Perspektif Hadis"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

i

Skripsi Ini Diajukan

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ushuluddin (S. Ud)

Oleh:

Miskat Inaku NIM: 11210424

Pembimbing:

Dr. H.Ahmad Fudhaili, M.Ag.

JURUSAN TAFSIR-HADIS FAKULTAS USHULUDDIN INSTITUT ILMU AL-QUR'AN

JAKARTA 1436 H/2015

(2)

ii

(3)

i

Skripsi dengan judul “Tawassul dalam Perspektif Hadis” yang disusun oleh Miskat Inaku Nomor Induk Mahasiswa: 11210424 telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan ke sidang munaqasyah.

Jakarta, 30 Desember 2014

Pembimbing

Dr. H. Ahmad Fudhaili, M.Ag.

(4)

ii

Skripsi dengan judul “Tawassul dalam Perspektif Hadis” yang disusun oleh Miskat Inaku dengan nomor Induk Mahasiswa 11210424 telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal 13 Januari 2014.

Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ushuluddin (S.Ud).

Jakarta, 13 Januari 2014 Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA.

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA. Dra. Rukoyyah Tamami

Penguji I Penguji II

H.M. Ulinnuha Khusnan, Lc. MA. DR. Hj. Romlah Askar, MA.

Pembimbing

Dr. H. Ahmad Fudhaili, M.Ag.

(5)

iii Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Miskat Inaku NIM : 11210424

TTL : Gorontalo, 28 September 1991

Alamat : Jln Prof. Dr. Aloei Saboe- Kel. Dembe II- Kec.

Kota Utara- Kota Gorontalo Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh Gelar Strata I di Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.

Jakarta, 08 Januari 2015

Miskat Inaku

(6)

iv

(7)

v

Segala puji bagi Allah swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izin dan kuasa-Nya jua, skripsi yang berjudul

“Tawassul dalam Perspektif Hadis” dapat penulis selesaikan dengan baik. Salawat dan salam semoga tetap tercurahkan keharibaan Baginda nabi Muhammad saw., para keluarga dan para sahabatnya.

Proses panjang dalam penyelesaian studi dan skripsiini sangatlah menyita waktu, tenaga dan biaya, hal ini merupakan sah satu kendala yang dihadapi oleh penulis, namun Alhamdulillah, berkat kegigihan, rasa optimisme dan kesungguhan penulis serta pertolongan Allah swt., yang diikuti kerja keras akhirnya Allah swt. Telah memudahkan penulis dalam semua proses tersebut.

Seiring telah selesainya skripsi “Tawassul dalam Perspektif Hadis”Untuk itu penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas bantuan semua pihak terutama kepada:

1. Ibunda tercinta Hj. Doly Hanani, M.Pd.I. dan Ayahanda tercinta H. Sarmada Inaku, S.Ag., yang

(8)

vi

memberi Ilmu yang bermanfaat menuju pribadi yang senantiasa dekat dengan Allah, sehingga penulis tetap kuat dan bersemangat dalam menyelesaikan studi.

Ibunda Mertua tercinta Hj. Serry A. Taib, S.Sos. dan Ayahanda Mertua tercinta Drs. H. Syahrir Muke, yang telah banyak membantu, memberikan dukungan, dan senantiasa mendoakan untuk kesuksesan penulis.

Suamiku tercinta Moh. Qudratullah Muke, S.Hut.

Suami yang ku Muliakan, Motivator sejati, senantiasa mengajarkan banyak hal, penuh kesabaran dan cinta kasih. beserta Kakak-kakakku Nur Azmi Inaku, S.Sos.I, Dirman, Spd. Saifulhaq Inaku, M.Pd.I. serta adik Miscky Inaku, serta segenap keluarga yang senantiasa mendoakan dan memberi dukungan dalam penyelesaian skripsi ini

2. Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yanggo, MA., selaku Rektor IIQ Jakarta

3. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, M. Hum., selaku Wakil Rektor I/Bd. Akademik, Dr. H. Anshori, LAL, MA.

Wakil Rektor II /Bd. Administrasi & Keuangan, Dr.

Hj. Romlah Widayati, M.Ag. Wakil Rektor III / Bd.

Kemahasiswaan & Alumni, IIQ Jakarta.

(9)

vii

Ushuluddin IIQ Jakarta atas motivasi-motivasinya sehingga terselesaikannya penulisan skripsiini.

5. Dr. H. Ahmad Fudhaili, M.Ag. sebagai pembimbing, yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

6. Para dosen di lingkungan IIQ Jakarta atas keikhlasannya memberikan ilmu yang bermanfaat selama proses studi, serta segenap Tata Usaha di lingkungan IIQ Jakarta yang telah banyak membantu penulis dalam berbagai administrasi selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

7. Segenap Instruktur Tahfidz Institut Ilmu al-Qur‟ân (IIQ) Jakarta, atas kesabarannya disaat menerima setoran hafalan al-Qur‟an Penulis, Semoga Ilmu yang diberi, dapat bermanfaat bagi Penulis.

8. Kepada Ibu Suci dan Ibu Kokoy selaku staf Fakultas Ushuluddin yang selalu membantu dan memotivasi Penulis dalam proses belajar selama berada di IIQ.

9. Kepala Perpustakaan IIQ Jakarata bersama karyawannya dalam memenuhi kebutuhan Pustaka dalam penyelesaian skripsi ini.

(10)

viii

IIQ Jakarta yang senantiasa memberikan motivasi dan semangat serta kerjasama selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, dan semoga pula partisipasinya mendapat imbalan yang terbaik dari Allah swt.

Âmîn.

Jakarta, 30 Desember 2014

Miskat Inaku

(11)

ix

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN PENULIS ... iii

MOTTO ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi

ABSTRAKSI ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 9

D. Kajian Pustaka ... 11

E. Metodologi Penelitian ... 13

F. Sistematika Pembahasan ... 16

BAB II PENGERTIAN, HAKIKAT DAN HUKUM TAWASSUL A. Pengertian Tawassul ... 19

B. Hakikat Tawassul ... 26

C. Hukum Tawassul ... 29

D. Perbedaan Tawassul dan Tabarruk ... 41

(12)

x

A. Tawassul dengan Menyebut Nama, Sifat dan

Perbuatan Allah swt. ... 49

B. Tawassul dengan Amal Shalih ... 53

C. Tawassul dengan Nabi Muhammad saw.. ... 67

D. Tawassul dengan Sahabat Nabi saw ... 75

BAB IV TAKHRIJ HADIS-HADIS TAWASSUL A. Hadis-hadis Tawassul ... 79

B. Takhrij Hadis Tawassul ... 90

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 127

B. Saran ... 129

DAFTAR PUSTAKA ... 131

(13)

xi

Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan skripsi ini, transliterasi Arab-Latin mengacu pada buku

“Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta” cetakan ke-II, tahun 2011, yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Konsonan

a th

b zh

t „

ts gh

j f

h q

kh k

d l

dz m

r n

z w

s h

(14)

xii

sh y

dh

2. Vokal

a. Vokal atau bunyi (a), (i), (u) ditulis dengan ketentuan sebagai berikut:

Vokal Pendek Panjang

fathah a â

kasrah i î

Dhammah u û

b. Vokal rangkap fathah + ya' mati

ditulis

ai bainakum fathah + ya' mati

ditulis

Au qaulun

c. Vokal pendek

ditulis a'antum

(15)

xiii

ditulis la'insyakartum

3. Kata sandang

a. BiladiikutiHurufQamariyyah

ditulis Al-Qur'ân ditulis al-Qiyâs

b. Bila diikuti Huruf Syamsiyyah ءامسلا

ditulis as-Samâ' سمّشلا

ditulis asy-Syams

4. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat

ditulis zawî al-Furûdh ditulis ahl as-Sunnah

c. Syaddah

Syaddah (Tasydîd) untuk alih aksara dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda

(16)

xiv

berada ditengah kata, diakhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf –huruf syamsiyah.

Contoh:

: Āmannâbillâhi : Inna al-ladzîna : wa arr-rukkai‟

d. Ta Marbûthah

Bila dimatikan ditulis h.

ditulis hibbah

ditulis jizyah

(Ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shalat, zakat, dan sebagainya, kecuali jika dikehendaki lafal aslinya).

Bila diikuti dengan kata sandang al serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan h.

ditulis karâmah al-auliyâ„

(17)

xv dan dhammah, ditulis t.

ditulis Zakâtulfithri

e. Huruf Kapital

Sistem penulisan huruf arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah di alih aksarakan, maka berlaku ketentuan ejaan yang telah disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada (EYD) berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italik) dan cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya. Khusus untuk penulisan kata Al- Qur‟an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital.

(18)

xvi

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara umum tentang tawassul, serta status hadis secara lebih mendalam tentang tawassul. Tawassul telah menjadi permasalahan yang sering diperdebatkan di kalangan umat Islam. Perbedaan pendapat timbul karena perbedaan dalam menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur'ân dalam memahami dan mensyarah Hadis-hadis Nabi saw. Sejak itulah tawassul menjadi bagian dari sikap keagamaan yang penuh kontroversi sampai saat ini.

Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini didasarkan pada tipe deskriptif analitik, yang bersifat menggambarkan secara jelas dan terperinci terhadap masalah yang di teliti, menganalisis, serta menginterpretasikan kondisi- kondisi yang terjadi di lapangan berdasarkan sumber.

Sementara teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah studi pustaka dengan menggunakan jenis data primer dan sekunder yang berasal dari berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian sebagai penunjang penyelesaian skripsi ini.

Sedangkan hasil penelitian menunjukan bahwa hadis-hadis yang digunakan dalam masalah tawassul dapat diterima keabsahannya oleh mayoritas Ulama dan kaum muslimin, karena para perawi telah dinilai adil dan tsiqah berdasarkan uraian dalam takhrij hadis, sebagai contoh agar pembaca dapat mengetahui suatu kedudukan hadis.

(19)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Hadis adalah salah satu unsur tepenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua setelah Al-Qur'ân dari sumber- sumber hukum Islam. Dalam arti, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar hukumnya dalam Al-Qur'ân, maka hakim atau mujtahid harus kembali kepada Hadits Nabi saw.1Oleh karena itu, kewajiban mengikuti, kembali, dan berpegang teguh kepada Al-Hadis merupakan perintah Allah swt. Dan juga perintah Nabi saw., pembawa syari„at yang agung. Perintah itu tertuang dalam firman Allah swt.di antaranya, sebagai berikut:





























1Daud Rasyid, Islam dalam Berbagai Dimensi,(Jakarta: Gema Insani Press,1998), Cet, ke-1, h. 35

(20)

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. Al-Mâidah [5]:

92)

“ Telah mengabarkan kepada kami Abû „Abdillah al- Hâfiz, telah mengabarkan kepadaku Ismâ„îl bin Muhammad bin al-Fadl asy-Sya„rânî, telah menceritakan kepada kami kakekku, telah meriwayatkan kepada kami Ibn Abî Uwais, telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sauri bin Zaid ad-Dîliyyi dari Ikrimah dari Ibnu „Abbâs r.a.:

Sesungguhnya Rasulullah saw. berbicara kepada

2Imâm al-Baihaqî, Sunan al-Kubrâ, Juz II, (Ḥaidar al-Âbâd-India, Majlis Dâ'rah al-Ma„ârif an-Niẓâmiyyah, 1344 H.), Hadis ke- 20833, Cet.

ke- 1, h. 420

(21)

manusia pada haji wadâ„, beliau bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu sesuatu jika kamu berpegang teguh padanya, kamu sekalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al- Qur'ân dan Sunnah Nabinya.”

Didalam literatur, terdapat beberapa istilah yang sering disinonimkan dengan hadis, Istilah-istilah itu adalah khabar, asar, dan sunnah.3

Menurut ahli hadis, pengertian hadis ialah:

“ Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw.,baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat beliau.”

Menurut ulama, hadis itu mencakup juga segala sifat Nabi saw. jasmaniah maupun perangainya yang meliputi semua

3Muhammadiyah Amin, Ilmu Hadis, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2011), Cet, ke- 2, h. 3

4Maḥmûd at-Thaẖẖân, Tafsîr al-Muṣțalah al-Hadî, Juz I, (Kuwait:

al-Ma„ârif li an-Nasyri wa at-Tauzî„, t. th.), h. 68

(22)

prilaku, peristiwa peperangannya, dan kisah-kisah pribadinya sebelum diangkat menjadi Rasul.5

Jumhur Ulama sepakat menyatakan bahwa hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'ân.

Dalam kaitannya dengan masalah tersebut, Muhammad „Ajjâj al-Khâtib mengatakan:

“ Al-Qur'ân dan as-Sunnah merupakan sumber hukum yang tepat, sehingga umat Islam tidak mungkin mampu memahami syari„at Islam tanpa kembali kepada kedua sumber tersebut. Mujtahiddan orang alim pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari keduanya.”

Berdasarkan pernyataan di atas, maka orang-orang yang mengingkari Hadis sebagai hujjah, sungguh mereka itu terlalu kecil dan rendah. Mereka benar-benar telah terjerumus ke dalam kebatilan dan kesalahan. Seruan mereka agar taat kepada

5Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalu al-Lathif fî Ushuuli al- Hadisi al-Syarifi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), Cet, ke- 3, h. 5

(23)

Allah dan mengikuti Al-Qur'ân, tanpa mengikuti Sunnah, itu merupakan maksiat dan bid„ah.6

Permasalahan yang sering diperdebatkan di kalangan umat Islam sekarang ini diantaranya adalah masalah tawassul.

Perbedaan pendapat timbul karena perbedaan dalam meng- interpretasi ayat-ayat Al-Qur'ân dan memahami dan mensyarah Hadis-hadis Nabi saw.

Menurut pengertian bahasa, tawassul ialah permohonan

dengan sungguh-sungguh; perantaraan,

penengahan.7Sedangkan menurut istilah syara‟ tawassul adalah mengamalkan suatu amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allah, sebagai perantara.8

Sayyid Muhammad „Alawî al-Malikî al-Hasani al-Makkî memberikan pengertian tawassul, sebagai berikut:

6Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalu al-Latîfu fî Ushûli al- Hadisi al-Syarifi, h. 7

7Atabik Ali,AhmadZuhri Muhdhor, Kamus Kontemporer Arab- Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1998), Cet, ke-8, h. 612

8Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarhu „Aqîdah Ahl as-Sunnah wa al- Jamâ„ah, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi„i, 2006), Cet, ke-3, h. 445

(24)

“ Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah satu pintu dari pintu-pintu untuk menghadap Allah swt. Maksud sesungguhnya adalah Allah. Obyek yang dijadikan tawassul berperan sebagai mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah. Siapapun yang meyakini di luar batasan ini berarti ia telah musyrik.”

Tema tawassul ini telah merebak, berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat, yang meminta pertolongan dengan perantara orang-orang yang dikasihi-Nya, baik ketika hidupnya dan setelah matinya atau dengan perantara amal saleh.

Di sepanjang perjalanan sejarah, para Nabi beserta para ulama dan umat pengikut mereka, secara mutlak hampir tidak pernah ada larangan dalam ber-tawassul kepada Allah swt., dengan melalui para Nabi dan Wali Allah swt. Kemudian, zaman pun berputar dan waktu pun beredar, tawassul yang tadinya diamalkan untuk taqarrub kepada Allah dan untuk meniti jalan menuju kepada ridha-Nya berganti wajah menjadi sesuatu yang dilarang, dianggap khurafat, bid„ah dan syirik.

9Muhammad „Alwî al-Mâlikî al-Makkî al-Hasanî, Mafâhim Yajibu an Tushaẖẖah, (Mekkah: Hai‟ah ash-Shofwah al-Malikiyyah, 1985), h. 43

(25)

Maka golongan yang mengaku para penjaga sejati dan pembaharu agama berupaya keras untuk membersihkannya.

Sejak masa awal Islam, praktik tawassul kepada Nabi Muhammad saw. telah diamalkan dan diyakini oleh kaum muslimin dari berbagai aliran atau mazhab mereka. Kemudian belakangan ini, ada segelintir kaum muslimin melontarkan keraguan-keraguan di tengah kaum muslimin dengan mengemukakan dalil-dalil, merombak keyakinan selama ini tentang tawassul, mempersoalkan legalitas hukum tawassul, memandang bid„ah tawassul dengan cara yang tidak disebutkan dalam syariat, seperti tawassul dengan pribadi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka dan sebagainya. Bahkan syirik menjadikan orang yang telah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdoa kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka. Demikian juga, bagi siapa yang membolehkannya dihukumi kafir dan syirik.10

Sejak itulah, tawassul menjadi bagian dari sikap keagamaan yang penuh kontroversi sampai saat ini.

10Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Syarhu „Aqîdah Ahl as-Sunnah wa al- Jama‟ah, h. 446

(26)

Pertentangan-pertentangan tersebut mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan pemikiran yang berbeda.11

Sebagai contoh, Ibnu „Athaillah dapat kita bilang sebagai tokoh sufi yang menganut aliran ahlu Sunnah wal Jamaah, yang di antaranya mengakui adanya syafaat, karomah wali-wali Allah, dan mengamini ajaran tentang tawassul. Ketika Ibnu Taimiyah yang juga bisa dibilang sebagai tokoh utama dalam aliran Wahhabisme, pengikut madzhab Hambali dibidang fikih mempersoalkan tawassul dan menganggapnya sebagai perbuatan syirik, maka Ibnu „Athaillah meluruskan cara pandang sederhana Ibnu Taimiyah tersebut. Menurut beliau, tawassul bukan berarti minta pertolongan kepada selain Allah, melainkan hanya sebatas menjadikannya sebagai perantara. 12

Di Indonesia juga masalah tawassul sering melahirkan berbagai perdebatan sengit, antara yang setuju dengan yang tidak. Perdebatan yang dibawa oleh golongan pembaharu dengan alasan ingin menjernihkan akidah umat Islam dari praktik-praktik yang diklaimnya sebagai khurafat atau bid„ah di satu sisi, dengan golongan tradisionalis yang

11 Ibnu Taymiyah, Kemurnian Akidah Menolak Perantara Yang Diadakan antara Allah dan Hamba.Terj.Halimuddin (Jakarta: Bumi Aksara ,1996), Cet, ke-1, h. 90

12 Ibn „Athaillah as-Sakandari, Kitab Kebajikan: Mutiara al- Hikam, (Yogyakarta: Fatiha Media: 2014), Cet, ke-1, h. 7

(27)

mengembangkan tradisi tawassul yang menurut beberapa golongan diharamkan di sisi yang lain, telah melahirkan berbagai bentuk pertarungan intelektual. Perdebatan seperti yang telah disinggung di atas terletak pada soal bolehnya tawassul terhadap orang yang telah meninggal di satu sisi dengan kelompok yang tidak membolehkannya.

Atas dasar tersebut perlu adanya sebuah pengkajian yang mendalam dan telaah kritis mengenai Tawassul dalam Perspektif Hadis.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi penelitian pada seputar Tawassul dalam perspektif Hadis. Berdasarkan pembatasan masalah tersebut penulis merumuskan pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini, yaitu:

Bagaimana status hadis dalam masalah tawassul?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mencari, mengidentifikasi, status hadis secara lebih mendalam tentang tawassul.

(28)

Adapun kegunaan penelitian yang diharapkan adalah:

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis diharapkan dapat menjelaskan dan memberikan pembenaran ihwal studi yang akan dilakukan kepada pihak lain yang belum memahami topik penelitian yang sedang dilakukan. 13Dapat menambah khazanah keilmuan serta informasi terkait tawassul dalam perspektif hadis. Lebih dari itu, tawassul dalam perspektif hadis dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu keislaman, terutama dalam bidang ilmu hadis.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, diharapkan dapat meningkatkan pengamalan nilai-nilai ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Selanjutnya, dapat mengungkapkan fakta bahwasanya tidak ada larangan dalam ber-tawassul kepada para Nabi Âlaihim as-salâm, khususnya Nabi Muhammad saw.

serta para Wali Allah berdasarkan dalil Al-Qur'ân, kritik Sanad dan Matan Hadis. Lebih dari itu, Untuk dapat mengetahui kualitas hadis-hadis shahih serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap takhrij Hadis.

13 A. Chaedar, al-Wasilah Pokoknya Kualitatif, (Jakarta: Pustaka Jaya:

2003), Cet, ke-1, h. 278

(29)

D. Kajian Pustaka

Sebelum penulis berniat dan bergerak untuk menyusun skripsi yang berjudul: Tawassul dalam perspektif hadis ini, penulis telah melakukan kajian pustaka sebagai upaya preventif agar penulisan karya ilmiah ini tidak sia-sia, karena satu kelalaian sederhana. Penulis mengakui, bahwa pengajuan materi skripsi di era sekarang tidak semudah tahun-tahun lalu.

Sudah begitu banyak materi yang di bahas sehingga judul yang akan diajukan harus benar-benar teliti.

Sejauh penelusuran yang penulis lakukan, ada sebuah skripsi yang membahas tentang tawassul. dituliskan oleh “Siti Mahmudah” lulus pada Tahun 2008 yang berjudul “ Tawassul (Kajian Tafsir Al-Mâidah [5]: 35 Pada Tafsir al-Misbah).”

Yang mengkaji tentang perihal tawassul dengan interpretasi M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah terhadap Sûrah Al- Mâidah [5] : 35 14

Adapun perbedaannya dengan skripsi yang akan penulis tulis adalah didalam penulisan skripsi “Siti Mahmudah” tidak menjelaskan tentang status hadis dalam masalah tawassul, sedangkan skripsi yang akan saya tulis akan membahas status hadis dalam masalah tawassul. Dan sejauh tinjauan yang

14 Siti Mahmudah, Skripsi “Tawassul (Kajian Tafsir al-Maidah [5]:

35 Pada Tafsir al-Misbah)”, ( IIQ, 2008), h. 2

(30)

penulis lakukan pula ada banyak buku-buku yang menulis tentang tawassul namun belum dijumpai yang membahas permasalahan tawassul dalam satu topik atau tema tertentu.

Seperti buku yang ditulis oleh “ Sayyid Muhammad „Alawi al- Maliki al- Hasani.” Yang berjudul “Mafahim Yajibu an Tushaẖẖah” , yang didalamnya berisi gambaran memahami substansi tawassul, pengertian tawassul menurut pandangan Beliau serta kesimpulan dari analisa terhadap status sebuah hadis tawassul .15 Kemudian ada juga yang menulis mengenai tawassul dalam bukunya yang berjudul“Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah” yang ditulis oleh “Al-Hamid al-Husaini”

membahas tentang wasilah yang berarti tawassul,karena tidak sedikit orang yang keliru dalam memahami soal tawassul atau ber-wasilah dengan mengutarakan persoalan itu secara terperinci. 16 kemudian ada pula yang menuliskan dalam bukunya yang berjudul “40 Masalah Agama” yang ditulis oleh

“ K.H. Siradjuddin „Abbas” yang menjelaskan contoh-contoh do‟a ber-tawassul yang diamalkan oleh Ulama-ulama besar kaum Ahlusunnah wal Jama‟ah sedari dulu sampai sekarang bahwa doa dengan ber-tawassul itu Sunnat hukumnya dan

15Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalu al-Latîfu fî Ushuuli al- Hadisi al-Syarifi, h. 8

16Al-Hamid al-Husaini, Pembahasan Tuntan Perihal Khilafiyah, (Bandung: Yayasan al-Hamidi, 1996), Cet, ke-1, h.166

(31)

diamalkan oleh Nabi, Sahabat, Serta Ulama Salaf dan Khalaf.

17ada juga yang menulis dalam bukunya yang berjudul “Bukan Bid’ah” yang ditulis oleh “Prof. DR. Ali Jum‟ah” didalam buku itu menerangkan bagaimana sikap aliran ekstrem yang mengharamkan amalan tawassul dan menuduh orang yang melakukannya telah berbuat Musyrik untuk itu beliau memaparkan dalil- dalil pendukung yang diambil dari Al- Qur‟an, sunnah Nabi, dan kutipan-kutipan dari berbagai buku acuan induk dalam mazhab fiqih. 18

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Untuk mendapatkan data dan fakta yang objektif dalam penelitian dan kajian ini, penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang penulis lakukan terhadap literatur yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.19 Jenis penelitian telaah pustaka ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasar pada metodologi yang menyelidiki

17Siradjuddin „Abbas, 40 Masalah Agama, (Jakarta:Pustaka-Tarbiyah, 1996), Cet, ke-26, h. 130

18 Ali Jum‟ah, Bukan Bid‟ah, (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet, ke-1, h. 124

19Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor,2004), h. 3

(32)

suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian ini lebih fokus kepada makna dan terikat nilai.20

2. Sumber Data

Untuk mendapatkan data dalam penulisan skripsi ini, maka penulis menggunakan sumber data yang relevan dengan skripsi ini. Adapun sumber-sumber primer dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Al-Qur‟an dan Terjemahnya,

2. Hadis- Hadis Tawassul Imam Bukhârî, Imam Muslim, Imam al-Hakim Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Muhammad.

Selain sumber primer, ada pula sumber sekunder yaitu:

Buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.

3. Metode Pengumpulan Data

Guna merekap data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode dokumentatif, yang dengan metode ini, peneliti dapat memperoleh data atau informasi dari berbagai sumber tertulis baik dari buku, jurnal atau dokumen lainnya.21

4. Metode Analisis Data

20Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2009), Cet, ke-1, h. 11

21Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 134

(33)

Dalam skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti kemudian di deskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasaan terhadap kenyataan atau realitas. Sedangkan analitis adaalah sebuah tahapan guna menguraikan data-data yang terkumpul dan tersusunn secara sistematis. Jadi, metode deskriptif analitis adalah sebuah metode pembahasan untuk memaparkan data yang telah tersusun dengan melakukan kajian terhadap data-data tersebut.

5. Validitas Data

Untuk membuktikan penelitian yang dilakukan oleh penulis itu bisa dijadikan sebuah karya ilmiah, maka dalam penelitiannya penulis mengumpulkan data-data yang dianggap valid untuk dijadikan referensi. Penulis bisa mendapatkan data yang valid dengan cara membacanya berulang-ulang hingga penulis benar-benar yakin bahwa data itu valid, kemudian juga dengan cara membandingkan data-data yang kita punya dengan data-data yang mempunyai tema yang sama di buku lain.22

22Asthi Fathimah Hamdiyah, Skripsi “Tikrar Kisah Nabi Musa as.

dalam Al-Qur‟an (Telaah terhadap surah Al-A‟raf, Yunus, Thaha dan Asy- Syu‟ara)”, tidak diterbitkan, h. 13

(34)

F. Sistematika Penulisan

Secara garis besar penulis memberikan gambaran secara umum dari pokok pembahasan ini. Skripsi ini terdiri dari lima bab, masing-masing bab terdiri atas beberapa sub bab.

Bab pertama adalah bab pendahuluan. Uraiannya bersifat teoritis, Yakni, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Dengan demikian, bab pertama ini terdiri atas enam sub bab.

Bab kedua adalah bab yang bersifat sebagai pengantar untuk pembahasan inti yang terletak pada bab ketiga dan bab keempat. Dalam bab ini dikemukakan tinjauan umum tentang permasalahan Tawassul. Adapun bagian-bagiannya meliputi tentang; pengertian Tawassul, Hakikat Tawassul, dan hukum Tawassul.

Bab ketiga adalah bab yang bersifat analisis. Dalam bab ini menguraikan tentang bentuk- bentuk tawassul yang memuat Tawassul dengan menyebut Nama, Sifat dan Perbuatan Allah swt. Serta tawassul dengan amal shalih, dan juga tawassul dengan Nabi saw.

Bab keempat adalah bab yang bersifat penjelasan.

Dalam bab ini menguraikan tentang klasifikasi hadis-

(35)

hadis Nabi yang berkenaan dengan tawassul, dan kualitas hadits-hadits tersebut. Pada bab ini penulis akan mengklasifikasi hadis-hadis Nabi yang berkenaan dengan tawassul, dan meneliti kualitas hadits tersebut, baik dari segi kualitas sanad maupun kualitas matannya berdasarkan takhrij hadis.

Bab kelima adalah bab penutup. Bab ini juga terdiri dari dua sub bab, yakni berisi tentang kesimpulan dari uraian-uraian skripsi, kemudian dikemukakan beberapa saran sehubungan dengan persoalan yang telah dibahas.

(36)

18

(37)

19

PENGERTIAN, HAKIKAT DAN HUKUM TAWASSUL

A. Pengertian Tawassul

Tidak sedikit orang yang keliru memahami pengertian tawassul atau wasilah. Untuk mengkaji legalitas tawassul yang sesuai dengan ajaran syariat Islam, agar kita tidak terjerumus ke dalam penentuan obyek tawassul secara liar sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid‟ah dan kesesatan, maka penulis ingin menjelaskan definisi dan pengertian tawassul.

Kata tawassul merupakan masdar (kata dasar) dari tawassala-yatawassalu-tawassulan, sebuah kata yang di derevasi dari kata wasilah, yang berarti suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada yang lain (mâ yataqarrabu ilâ al- ghayr) atau suatu kedudukan di sisi raja (al-manzilah„inda al- malik).1

Berdasarkan pernyataan di atas, tawassul adalah suatu usaha atau jalan yang ditempuh seseorang dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

1Heri MS. Faridy, Ensiklopedi Tasawuf, (Bandung: Angkasa, 2008), Cet, ke-1, h. 1309

(38)

Sayyid Muhammad „Alawî al-Malikî al-Hasani al-Makkî memberikan pengertian tawassul, sebagai berikut:

“ Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah satu pintu dari pintu-pintu untuk menghadap Allah swt. Maksud sesungguhnya adalah Allah. Obyek yang dijadikan tawassul berperan sebagai mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah. Siapapun yang meyakini di luar batasan ini berarti ia telah musyrik.”

Dengan demikian, maksud hakiki dari tawassul adalah Allah swt. Sedangkan sesuatu yang dijadikan sebagai perantara (mutawassal bih) hanyalah benfungsi sebagai pengantar atau mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Siapapun yang berkeyakinan selain dari itu, maka berarti ia telah menjadi syirik.

2 Muhammad„Alawî al-Mâlikî al-Makkî al-Hasanî, Mafâhim Yajibu an Tushaẖẖah, (Mekkah: Hai‟ah ash-Shofwah al-Malikiyyah,1985), h. 43

(39)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang berjudul Qâ„idah Jalîlah fî at-Tawassul wa al-Wasîlah, dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat al-Qur'ân:





























“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada- Nya.”(QS. Al-Mâidah [5]: 35)

Berdasarkan ayat di atas, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala cara pendekatan diri, sedangkan pendekatan diri kepada Allah melalui perantaraan Nabi saw. merupakan salah satu bentuk pendekatan diri yang akan dibuktikan secara terperinci ketika memaparkan dalil-dalil dari hadis.

Kebanyakan mufassir menafsirkan wasilah dengan amal saleh, jalan, atau sarana yang dipakai seseorang untuk dekat kepada Allah swt. Jalan itu adalah memperbanyak ibadah,

(40)

berbuat kebajikan, menegakkan budi pekerti yang tinggi, dan belas kasihan terhadap sesamanya. Ibnu Kasir, misalnya, dalam menafsirkan ayat tersebut di atas menyebutkan:

“ Wasilah adalah sesuatu yang bisa menyampaikan kepada tercapainya tujuan.”

Mencari wasilah atau ber-tawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan batin; baik di kala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung di hadapan beliau sendiri ataupun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulullah saw.

adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhaan Allah dan keselamatan dari murka- Nya.4

3Ibnu Kaṡîr, Tafsîr al-Qur'ân al-„Aîm, Juz III, (Damaskus: Dâr Țayyibah, 1999), Cet. ke- 2, h. 104

4Al-Hamid al-Husaini, Pembahasan perihal Masalah Khilâfiyah, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1996), Cet, ke-1, h. 178

(41)

Tawassul adalah doa murni kepada Allah, hanya saja orang yang ber-tawassul itu menggunakan jasa „pihak lain‟

(perantara) untuk menyampaikan doanya kepada Allah. Orang yang ber-tawassul itu boleh menggunakan jasa „pihak lain‟

sebagai perantara, yang biasanya „pihak lain‟ itu adalah amal ibadahnya sendiri yang baik, atau berdoa dengan perantara al- Asmâ' al-Husnâ (nama-nama Allah yang baik), atau perantara doa Nabi saw. untuk umatnya, atau perantara doa orang tua untuk anak-anaknya, atau perantara doa seorang kiyai untuk murid-murudnya, atau perantara doa orang shalih untuk jama„ahnya. Namun semua doa itu tetap ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada „pihak lain‟ yang dijadikan perantara.5

Bila di pikirkan dan renungkan sedalam-dalamnya, tentu akan dapat mengetahui bahwa kepercayaan atau keyakinan yang ada pada orang yang ber-tawassul itu sesungguhnya adalah termasuk amalnya sendiri. Sebab, keyakinan atau kepercayaan yang ada di dalam hatinya itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Sebagai misal, Orang itu berdoa: Ya Allah, Aku mencintai si Fulan, aku yakin ia seorang yang mencintai- Mu, ikhlas kepada-Mu dan mengabdikan diri kepada

5 Luthfi Bashori, http://www.

pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=648, Diakses 4 September 2014.

(42)

kebenaran-Mu. Ya Allah, Aku pun yakin bahwa Engkau mencintainya dan ridha kepadanya. Karena itu, dengan kecintaanku kepadanya dan dengan keyakinanku akan keutamaannya aku ber-tawassul memohon ampun dan rahmat- Mu, dan seterusnya.Akan tetapi pada umumnya orang yang ber-tawassul tidak menyebut keutamaan pribadi yang dijadikan wasilah itu secara rinci, karena ia percaya penuh bahwa Allah swt. mengetahui segala sesuatu yang ada pada semua hamba- Nya.6

Jadi, tak ada bedanya kalau orang berdoa: Ya Allah, Aku ber-tawassul dengan Nabi dan Rasul-Mu mohon kepada-Mu…

atau kalau ia berdoa: Ya Allah aku ber-tawassul dengan kecintaanku kepada Nabi dan Rasul-Mu. Mohon kepada-Mu...

Kalimat yang pertama itu tidak akan diucapkan oleh orang yang ber-tawassul kalau ia tiak mencintai dan beriman kepada Rasulullah saw. Demikian pula soalnya jika orang yang ber- tawassul dengan orang-orang yang saleh, hidup zuhud dan besar takwanya kepada Allah; seperti para waliyullah dan lain sebagainya.7

Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama ini adalah bahwa tawassul adalah berdoa

6 Al-Hamid al-Husaini, Pembahasan Perihal Masalah Khilâyah, h. 167

7 Al-Hamid al-Husaini, Pembahasan Perihal Masalah Khilâyah, h.

168

(43)

kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang saleh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah swt.

Orang yang ber-tawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah swt. juga mencintai perantaraan tersebut.Orang yang ber-tawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan mudharat kepadanya, danjika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah swt.

itu bisa memberi manfaat dan mudarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan mudarat sesungguhnya hanyalah Allah semata.

Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdo'a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqâm Ibrâhîm, Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan bacaan al-hamdulillâh dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah

(44)

swt. Dengan demikian, tawassul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.

B. Hakikat Tawassul

Term tawassul merupakan bentuk masdar dari term لَسَو(wasala), dari لَسَو ini, sebagaimana dikutip dari Lisân al-„Arab,8 muncul beberapa kata lain seperti ةليسو (wasîlah) dan لُسَوَت (tawassul). Term ini jika dikaitkan dengan Tuhan mempunyai arti menjalankan suatu aktivitas yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.9

Mayoritas kaum muslimin kurang memahami hakikat tawassul, Dampak dari kesalahan mereka dalam memahami tawassul, berakibat salah juga dalam menentukan jalan dalam ber-tawassul tersebut.

Hakikat wasilah atau tawassul (jalan mendekatkan diri) kepada Allah ialah menjaga jalan-Nya dengan ilmu dan akidah, dan mencari keutamaan syariat sebagai peribadatan (qurbah).

8Abû al-Fadl Jamal ad-Dîn Muhammad Ibnu Mukrim Ibnu Mansur al- Ifriqî al-Misrî, Lisan al-„Arab, Jilid II, (Beirut: Dâr al-Hadir, 1990), Cet, ke- 1, h. 724-725

9Luis Ma'luf, al-Munjid fî al-Lughah wa al-A‟lam, (Beirût: Dâr al- Masyriq, 2000), h. 900

(45)

Sedangkan al-Wâsil ialah orang yang ingin sampai kepada Allah.10

Tentu saja banyak cara yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun semuanya harus dibenarkan oleh-Nya. Ini bermula dari rasa kebutuhan kepada- Nya. Memang, jika seseorang merasakan kebutuhan kepada sesuatu, dia akan menempuh segala cara untuk meraih ridha dan menyenangkan kepada siapa yang dia butuhkan itu.

Demikian juga sikap manusia yang selalu membutuhkan Allah.11

Sayyid Muhammad „Alawî al-Malikî al-Hasani al-Makkî memberikan pengertian tawassul, sebagai berikut:

“ Orang yang bertawassul Jika meyakini bahwa media yang dijadikan untuk bertawassul kepada Allah itu bisa memberi manfaat dan derita dengan sendirinya sebagaimana Allah atau tanpa izin-Nya, niscaya ia musyrik.”

10Nasruddin al-Bânî, Tawassul anwâ„uhu wa ahkâmuhû, (Beirût:

Maktab Islâmî, t. th.), h. 9

11Qurash Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan Kesan dan Keserasian Al- Qur‟an, (Jakarta: Lantera Hati, 2001), vol. 3, h. 87-88

12Muhammad „Alwî al-Mâlikî al-Makkî al-Hasanî, Mafâhim Yajibu an Tushaẖẖah, h. 43

(46)

Sayyid Muhammad„Alawî al-Malikî al-Hasani al-Makkî mengingatkan bahwa tawassul bukanlah keharusan dan bukan suatu hal yang sangat perlu. Menurutnya, terkabulnya sebuah doa tidak tergantung pada perantara, tetapi yang prinsip adalah berdoa secara mutlak kepada Allah swt. 13

Firman Allah swt.:





































“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar

13Abd. Aziz Dahlan, Ensoklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1996), Cet, ke- 1, h. 1819

(47)

mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al- Baqarah [2]: 186)

Sejalan dengan itu, Ibnu Taimiyyah juga mengingatkan bahwa pintu kemusyrikan itu sering kali bermula dari tawassul yang tidak disyariatkan.14

C. Hukum Tawassul

Menurut Abdul Halim Mahmud, ulama besar al-Azhar, Cairo, Mesir, tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah swt. sebagai sebab untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan penghubung dalam mencapai sesuatu yang diharap dari- Nya. Ia juga berpendapat bahwa tawassul adalah salah satu cara berdoa dan salah satu pintu-pintu menghadap (tawajjuh) Allah swt. dengan menggunakan wasilah atau mutawassal bih (perantara).15

Imam Syaukani dalam kitabnya yang berjudul “Ad-Durr an-Nadhiid fi Ikhlashi Kalimatit-Tauhid” mengatakan, bahwa Syeikh „Izzuddin „Ibnu „Abdussalam telah menegaskan:

tawassul yang diperbolehkan dalam berdoa kepada Allah

14Abd. Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, h. 1820

15 Ichtiar Baru van Hoeve, Ensiklopedi Hukum Islam, h. 1817

(48)

hanyalah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. Itupun kalau hadis yang mengenai itu shahih.

Imam Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab atas pertanyaan yang diajukan kepadanya menjawab dalam kitab

“Al-Istifta”;“Tak ada salahnya orang ber-tawassul pada orang- orang saleh”. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk. Syeikh Muhammad bin Abdulwahhab berpendapat, persoalan tersebut adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhur ulama yang memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang ber-tawassul.Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdoa) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt.16

Tentu saja banyak cara yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun semuanya haruslah yang dibenarkan oleh-Nya. Ini bermula dari rasa kebutuhan kepada-Nya. Demikianlah Ibnu Abbas menafsirkan. Memang,

16Al-Hamid al-Husaini, Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah, h.

177-185

(49)

jika seseorang merasakan kebutuhan kepada sesuatu, dia akan menempuh segala cara untuk meraih ridha dan menyenangkan siapa yang dia butuhkan itu. Demikian juga sikap manusia yang selalu membutuhkan Allah.17

Tawassul secara global dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu:

1. Tawassul yang disyariatkan (Tawassul al-Masyrû„) Tawassul yang disyariatkan atau dibolehkan adalah semua bentuk tawassul yang disyariatkan Allah swt. di dalam kitab- Nya dan sunnah Rasul-Nya serta dianjurkan supaya supaya kita mengamalkannya. Di dalam Al-Qur'ân terdapat beberapa ayat yang secara implisit menyuruh kita ber-tawassul atau berwasilah, antara lain.:































Hanya milik Allah al-Asmâ' al-husnâ, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul

17Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan kesan dan keserasian Al- Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2001), Cet, ke- 1, h. 82

(50)

husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama- nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(QS. Al- A‟râf [7]: 180)

























“ Kemudian Adam menerima beberapa kalimatdari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.

Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah [2]: 37)

Imâm al-Baihaqî ketika menafsirkan ayat tersebut di atas menyatakan bahwa Adam pun sebagai bapak manusia ber- wasilah kepada nabi Muhammad saw. sebelum lahir, ketika ia memakan buah terlarang di surga.18Al-Baihaqî meriwayatkan:

18Heri MS Faridy,Ensiklopedi Tasawwuf, (Bandung: Angkasa, 2008), Cet, ke-1, h. 1310

(51)

)

“ Menceritakan kepada kami Abû „Abdullâh al-Hâfiz, Menceritakan kepada kami Abû Sa„îd „Amr bin Muhammad bin Mansûr al-Adl. Menceritakan kepada kami Abû al-Hasan Muhammad bin Ishâq bin Ibrâhîm al-Hanbalî, menceritakan kepada kami Abû al-Hâris

19 Imam al-Baihaqî, Dalâ'il an-Nubuwwah, Juz VI, (Beirût: Dâr al- Fikr, 1418 H.), Hadis ke-2244, Bab Mâ Jâ‟a fî Tahhaddusi Rasûl, Kitab Tafsir Haqqî, h. 118

(52)

„Abdullâh bin Muslim al-Fahrî, di Mesir. Berkata Abû al-Hasan, ini dari keluarga Abû „Ubaidah bin Jarrâh, mengabarkan kepada kami Ismâ„îl bin Maslamah, mengabarkan kepada kami „Abdurrahmân bin zaid bin Aslam, dari bapaknya, dari kakeknya, dari „Umar bin Khathâb, bersabda Rasulullah saw.:Tatala Adam mengakui kesalahan, dia berkata: Wahai Tuhan, aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran Muhammad, ampunilah dosaku. Allah swt.berfirman: Adam, bagaimana mungkin engkau mengenal Muhammad, padahal dia belum Kujadikan ? Adam menjawab:

Tuhan, sesungguhnya tatkala Engkau menciptakan aku, aku angkat kepalaku, maka aku lihat di atas Arasy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammadur Rasûlullâh, lalu mengertilah aku bahwa Engkau tidak menyandarkan sesuatu kepada nama-Mu, melainkan orang yang paling dikasihi makhluk. Allah pun kemudian berfirman: Benar engkau, hai Adam, Sesungguhnya Muhammad itu makhluk paling kasih kepada-Ku. Apabila kamu memohon dengan berkah kebenarannya, maka sungguh Aku akan mengampunimu. Dan kalaulah tidak karena Muhammad, tidaklah Aku jadikan engkau, dan dia

(53)

adalah nabi terakhir dari keturunanmu.” ( HR. al- Baihaqî)

Imâm Mâlik (wafat 795 M)20 bahwa tawassul yang dibenarkan kepada Khalifah al-Mansur, ketika al-Mansur menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kuburan Nabi saw. di Madinah, al-Mansur bertanya kepada Imâm Mâlik ketika itu berada di dalam Mesjid Nabawi: Kemana harus menghadap bila berdoa, apakah menghadap ke kiblat atau menghadap kuburan Nabi saw.? Imâm Mâlik menjawab: Kenapa anda memalingkan wajah anda darinya? Dialah wasilah-Mu dan dia pulalah wasilah bapakmu, Adam, kepada Allah swt.

Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaahnya, niscaya beliau akan memberikan syafaah kepadanya.

Kisah di atas mengisyaratkan bahwa Imâm Mâlik mengakui kebenaran hadis tentang tawassul Nabi Adam as.

kepada Nabi Muhammad saw. dan beliau melihat bahwa lebih baik menghadap makam Nabi saw. dan memohon syafaat kepada beliau ketika berdoa.21

20Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), Cet, ke- 2, h. 255

21Ali Jumu„ah, Bukan Bid„ah, (Ciputat Timur: Lantera Hati, 2012), Cet, ke-1, h. 142

(54)

Pernyataan Imâm Mâlik sebagaimana tersebut di atas itu diperkuat oleh firman Allah swt.:















































( 

“ Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An- Nisâ[4]: 64)

Lalu dia menghadap orang banyak seraya berkata:

(55)

Wahai orang yang terbaik yang tulang belulangnya terpendam di bumi, lantas lembah dan tanah undukan menjadi harum. Diriku tebusan untuk kuburan yang engkau berdiam padanya.Di dalamnya kesucian, kedermawanan dan kemuliaan.

Berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan sahih dari kita suci al-Qur'ân dan Hadis Nabi saw. dan para ulama dari empat mazhab dan lain-lain, sepakat menyatakan kebolehan, bahkan kesunahan bertawassul kepada Nabi saw. ketika beliau masih hidup dan setelah beliau wafat, juga sepakat mengatakan bahwa hal itu sama sekali tidak haram.

Firman Allah swt.:











































“ Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub:

"Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku

(56)

mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf [12]: 96)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Ya„kûb a.s. ber- tabarruk dengan baju gamis Nabi Yûsuf a.s. Nabi Ya„kûb a.s.

bisa melihat kembali setelah baju gamis Nabi Yûsuf a.s.

disentuhkan ke kedua matanya. Di sini baju gamis Nabi Yûsuf a.s. menjadi wasilah permohonan Nabi Ya„kûb a.s. kepada Allah swt. untuk bisa kembali melihat Nabi Yûsuf setelah sekian lama ia tidak melihatnya.22

Beberapa alasan yang disebutkan di atas menjadi dasar bagi mereka yang membolehkan tawassul secara mutlak, baik kepada orang yang masih hidup maupun kepada orang yang telah meninggal dunia. Tabarruk Nabi Ya„kûb a.s. kepada baju gamis milik Nabi Yûsuf a.s. juga menujukkan bolehnya ber- tawassul kepada benda-benda yang dinilai memiliki kesucian.

Tentu saluran tawassul yang dijadikan media doa adalah mereka yang memiliki otoritas kesalehan dan ketakwaan di sisi Allah swt. Dan lebih daripada itu, apa perbedaan tabarruk dengan kain dan makam atau kuburan? Bagaimana mungkin seorang Nabi Tuhan yang diberi keistimewaan masih juga tabarruk terhadap benda mati itu? Mengapa hal itu mesti juga

22Heri MS Faridy, Ensiklopedi Tasawwuf, h. 1311

(57)

dilakukan, pada hal sebagai utusan Tuhan dia mestinya bisa langsung mohon kepada-Nya tanpa perantaraan apa dan siapapun? Tetapi di sini pula letak persoalannya, di mana semua manusia tidak memiliki hak otoritatif untuk mengatakan bahwa dirinya adalah manusia saleh dan takwa, karena manusia adalah makhluk tidak dapat di-prediksi secara kuantitatif, dan adalah beribadah kepada Allah swt.itu tidak diukur menurut grafik kuantitatif melainkan kualitatif.

Begitu pula dengan kain, makam wali dan sebagainya, tidak secara istimewa bahwa kain dan makam seorang wali itu memiliki nilai tabarruk yang tinggi. Pengikatan suatu kain dan makam tertentu dengan nilai tabarruk atau karâmah tidak jarang mengandung unsur mitos dan kultus. Mitos dan kultus inilah prilaku yang menyimpang dari ajaran tauhid.23

2. Tawassul yang tidak di syariatkan (Tawassul ghairu masyru‟)

Tawassul yang tidak di syariatkan (tawassul ghairu masyru‟) adalah ber-tawassul seperti yang dilakukan oleh

orang kafir dan musyrik, sebagaimana firman Allah swt.:

23Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalu al-Lathîfu fî Ushuuli al- Hadisi al-Syarifi,. h. 56

(58)



































































) 

(

“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang- orang yang pendusta dan sangat ingkar.”(QS. Az- Zumar [39]: 3)

Ayat ini turun berkenaan dengan tiga suku bangsawan kala itu, yaitu Amir, Kinanah, dan Bani Salamah yang menyembah berhala. Mereka mengatakan bahwa persembahan terhadap

(59)

berhala itu dimaksudkan untuk menghampirkan diri kepada Allah swt., tetapi pada kenyataannya mereka menyembah berhala dengan meyakini bahwa berhala itu dapat memberikan manfaat dan mudarat. Karena itu, Allah swt. menegaskan di akhir ayat pada Surah az-Zumar ayat 3, bahwa perkataan mereka itu bohong lagi kafir.

Ibnu Taymiyyah (wafat 728 H.),24 berdasarkan ayat di atas, tidak memperkenankan seseorang ber-tawassul kepada benda- benda mati di dunia, seperti patung, berhala, pohon, , untuk mendekatkan diri kepada Allah.25 Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: Ber-tawassul dengan kemuliaan seseorang atau berkah seseorang atau dengan hak seseorang adalah perbuatan bid„ah, bukan syirik.26

D. Perbedaan Tawassul dan Tabarruk 1. Pengertian Berkah/ Tabarruk

Berkah (Tabarruk) menurut bahasa berarti bertambah dan mengembang. 27

24Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, h. 379

25Heri MS Faridy, Ensiklopedi Tasawwuf, h. 1311

26Hammud bin Abdullah al-Mathar, al-Bida„ wa al-Muhdahât wa mâ lâ Asla Lahû, diterjemahkan oleh Amir Hamzah Fachrudin, (Jakarta: Al- Sofwa, 2005), Cet, ke- 1, h. 119

27Shobah Ali Al-Bayati, At-Tabarruk, diterjemahkan oleh Abdul Halim dengan judul Tabarruk ceraplah Berkah (Energy Positif) dari Nabi dan Orang Saleh, (Bandung: Pustaka IIMaN, 2008), Cet. ke-1, h. 9

Referensi

Dokumen terkait

mendamaikan kedua belah pihak dengan cara mempertemukan para pihak untuk mediasi. Ketua Pengadilan Agama Rengat Bapak Drs. Muhdi Kholil, SH., M.A., M.M juga menyampaikan

 Jika terjadi resisten steroid dapat diterapi dengan diuretika untuk mengangkat cairan berlebihan, misalnya obat-abatan spironolakton dan sitotoksik ( imunosupresif

Latar Belakang: Faktor yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan cetak hidrokoloid ireversibel atau alginat adalah kontrol infeksi silang, oleh karena itu hasil

Dalam keadaan terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkut ke kota/rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat harus segera diambil maka seorang dokter atau bidan

Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada.Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi

Habiskan banyak usaha untuk pelanggan paling bernilai. Terapkan penentuan biaya berdasarkan aktivitas dan hitung nilai seumur hidup. Terapkan penentuan

Hasil Analisis Tekanan Darah Diastolik Pre-test pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol dengan Uji Mann-Whitney ... Hasil Analisis Tekanan Darah Sistolik Post-test

Berfungsi untuk memfasilitasi transmisi informasi, dimana perlengkapan komunikasi terdiri dari modem yang memfasilitasi transmisi data lewat jaringan telefon pada processor