• Tidak ada hasil yang ditemukan

Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Metode Kolaborasi Program Contra War (Contraceptive For Women At Risk) dan

Komponen Deskripsi DIAN

INOVASI ADMINISTRASI NEGARA DALAM PROYEK PERUBAHAN

D. PROYEK PERUBAHAN WILAYAH JAWA TIMUR

2. Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Metode Kolaborasi Program Contra War (Contraceptive For Women At Risk) dan

Kabupaten Malang oleh Hadi Puspita (Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang)

Penerapan Sutera Emas untuk KB berawal dari tingginya angka kematian ibu pada 2013 yang mencapai 39 kasus. Kolaborasi program contra war dan sutera emas dilatar-belakangi oleh tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI dan AKB) di Kabupaten Malang. Di samping itu, program-program reguler di bidang keluarga berencana belum berdaya ungkit secara maksimal terhadap AKI dan AKB. Selama ini, kematian ibu di Kabupaten Malang sebanyak 80 persen disebabkan penyakit bawaan sebelum hamil yang harus dicegah seperti TBC dan jantung. Untuk itu, masyarakat harus mau mendeteksi kasus di sekitarnya dan melaporkan secepat mungkin kepada tenaga kesehatan.

Kunci keberhasilan sistem adalah sukses menggerakkan kader. Perhatian terhadap kader berbentuk nonmateri merupakan kunci utama. Perhatian nonmateri penting karena perhatian berbentuk materi hanya berupa insentif Rp 10.000 per bulan untuk kader KB. Uang itu akan diputar untuk arisan kader.

Setiap bulan, ada acara temu kader sebagai ajang berbagi pengalaman dan penyegaran kemampuan kader. Saat itulah Hadi hadir untuk mendekatkan diri dengan kader dan membagi ilmu kesehatan. Menurut Hadi, kader ingin disapa, diperhatikan, dan mendapatkan penyegaran pengetahuan. Ambulans desa disiapkan dengan menggilir kendaraan milik warga, yang bisa siap setiap hari selama seminggu. Tenaga kesehatan desa pun diwajibkan berkunjung ke rumah pasien yang tidak mampu menjangkau layanan kesehatan. Semua puskesmas beroperasi 24 jam.

Strategi untuk pelaksanaan program tersebut adalah a) Pengoptimalan tenaga program keluarga berencana, b) Perencanaan Program Keluarga Berencana, c) Menentukan metode pelaksanaan yang tepat untuk pelaksanaan Program Keluarga Berencana, dan d) Memperbaiki sarana dan prasarana program keluarga berencana. Adapun manfaat yang ingin dicapai pada saat program

tersebut digagas adalah a) Meningkatkan kinerja Badan Keluarga Berencana sesuai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Malang, b) Memudahkan petugas untuk dapat mengetahui sasaran Unmet Need by name, by address dan by case, c) Meningkatkan pemahaman petugas bahwa peningkatan cakupan akseptor KB baru seharusnya berbanding lurus dengan penurunan AKI dan AKB, d) Mengurangi mindset ego sektoral dan ego program, e) Merangsang semangat petugas untuk bekerja lebih inovatif dan lebih bertanggung jawab, f) Memudahkan petugas dalam melakukan pendampingan terhadap akseptor KB dari kelompok Unmet Need dalam melaksanakan kehamilan terencana, g) Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral, h) Meningkatkan kualitas pelayanan keluarga berencana bagi masyarakat, i) Data wanita usia subur dari pasangan usia subur yang butuh ber KB tetapi belum terlayani yang sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta mempunyai riwayat faktor risiko tinggi kebidanan pada kehamilan sebelumnya, dapat diperoleh secara otomatis dari server Sutera Emas Dinas Kesehatan, j) Data diperoleh dari kegiatan surveilans yang berlangsung secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya berlangsung realtime (setiap saat), k) Sasaran baru program kesehatan by name, by address bermanfaat untuk update data akseptor aktif dan unmetneed, l) Adanya guidance yang mempermudah penemuan dan penatalaksanaan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi, m) Meminimalisir kemungkinan terjadinya under dan double recording dalam pelaporan data Wanita Usia Subur berisiko tinggi, n) Update data peserta KB Aktif dan unmetneed sangat mudah dan cepat dilakukan karena sudah tersedia guidance (pedoman) yang merupakan output data dari program Sutera Emas, o) Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (Unmetneed) yang menjalani penapisan reproduksi tidak terbatas karena data-data tersebut diekspor secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server Contra War, p) Data by name by address WUS Risti dari server Contra War akan terkirim secara otomatis ke nomor-nomor HP PPLKB, q) Terjadinya peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) berisiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penykit (menular, tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor risiko terhadap kehamilan, serta

pernah mempunyai riwayat kehamilan berisiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya sesuai rekomendasi dokter puskesmas dan dokter spesialis, r) Terjadinya peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur berisiko tinggi (Unmet Need), s) Mempercepat rencana aksi Pemerintah Kabupaten Malang dalam pencapaian tujuan MDG’s

Milestone/tahapannya meliputi tahap I, a) Terbitnya SK Bupati tentang Tim Contra

War Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang, b) Tersusunnya Buku Panduan Program Contra War, c) Tersusunnya Buku Panduan Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas, d) Tersusunnya Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Tim Medis Rumah Sakit dan Dokter, e) Tersusunnya Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan, PPLKB, PKB dan PLKB, f) Tersusunnya Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Kader Keluarga Berencana, g) Terlaksananya sosialisasi bagi anggota Tim Kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas dan Pengurus PKK Kabupaten, h) Terlaksananya sosialisasi bagi Kepala Puskesmas, Paramedis RSUD Kanjuruhan, PKB, PPLKB / PLB, Bidan Desa dan kader KB, i) Terlaksananya bimbingan teknis bagi Kepala Puskesmas, Paramedis RSUD Kanjuruhan, PPLKB, PLKB, Bidan Desa dan Kader KB, j) Terbangunnya sistem aplikasi Contra War, k) Pelaksanaan uji coba kolaborasi program Contra War dan Sutera Emas di Kecamatan Kepanjen, l) Penurunan Angka Kematian Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014, m) Penurunan kasus kematian ibu menjadi 75% pada akhir tahun 2014, n) Angka Kematian bayi baru lahir dapat dipertahankan sebesar 4/1.000 kelahiran hidup pada akhir tahun 2014, o) Penurunan angka kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet Need) menjadi 9% pada akhir 2014.

Tahap 2 meliputi, a) Terlaksananya kesiapan sumber daya kolaborasi program Contra War – Sutera Emas di Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan, RSUD Lawang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, b) Diusulkannya anggaran pengembangan Kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas, c)

Terlaksananya monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra war – Sutera Emas pada periode jangka menengah secara periodik, d) Terlaksananya pelaporan perkembangan Kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas kepada sponsor program (Sekretaris Daerah) dan Bupati secara periodik, e) Penurunan angka kebutuhan ber KB yang tidak terpenuhi menjadi 6,5 %, f) Peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur berisiko tinggi sesuai rekomendasi dokter spesialis, g) Peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur berisiko tinggi. Tahap ke 3 meliputi, a) Terlaksananya Monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas secara periodik, b) Terlaksananya pelaporan perkembangan Kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas progam (Sekretaris Daerah) dan Bupati secara periodik, c) Terjadinya penurunan angka kematian ibu (AKI) menjadi <50 / 100.000 kelahiran hidup, d) Terjadinya penurunan angka kematian bayi (AKB) sebesar <4 /1.000 kelahiran hidup.

Faktor Kunci Keberhasilan (Faktor Pendorong) Program; a) Adanya keinginan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi; b) Adanya kemauan dari stakeholder terkait untuk melaksanakan kegiatan, c) Adanya partisipasi dari akseptor KB dari kelompok Wanita Usia Subur; d) Adanya pelayanan kesehatan yang memadai dari fasilitas kesehatan.

Faktor Penghambat dari sisi Internal, antara lain a) Kekurangan Jumlah petugas lapangan KB; b) Anggaran yang digunakan untuk pengembangan program Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Dengan Metoda Kolaborasi Program Contra War di Kabupaten Malang; c) Peningkatan cakupan peserta KB aktif belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang belum terlayani khususnya bagi WUS berisiko tinggi; d) Pemanfaatan sistem informasi berupa pendistribusian laptop dan modem di setiap kecamatan belum dimanfaatkan secara optimal.

Faktor penghambat dai sisi Eksternal, antara lain meliputi a) SDM di Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dan Rumah Sakit Bersalin, Bappeda dan KP3A terbatas; b) Belum adanya keterpaduan anggaran untuk kolaborasi Program Contra War – Sutera Emas di masing SKPD; c) Sarana dan Prasarana di

masing-masing SKPD belum dimanfaatkan untuk strategi percepatan pencapaian tujuan MDGs secara terpadu.

Sampai saat ini keberlanjutan Program masih tetap berjalan, dan capaian saat ini, sedang dilaksanakan Bimbingan Teknis Kolaborasi Program Contra War. Manfaat program, a) Meningkatkan dukungan stakeholder terhadap keberlangsungan program; b) Memberi pemahaman kepada stakeholder mengenai manfaat Kolaborasi Program Contra-War.

Prasyarat bagi pihak lain yang ingin mereplikasi, adanya komitmen dari pimpinan, mau bekerja keras, adanya anggaran (untuk pelaksanaan bimtek dan lainnya). 3. Optimalisasi manajemen sumber daya dan potensi program pengendalian

penyakit tuberkulosa melalui revitalisasi jejaring kerja guna mewujudkan efektivitas dan efisiensi organisasi oleh Tries Anggraeni (UPT RS Paru Batu) Penanggulangan Tuberkulosis merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan termasuk rumah sakit. Khusus bagi pelayanan pasisen tuberkulosis di rumah sakit dilaksanakan dengan strategi

Directly Observed Treatment Short Course (DOTS). Hal tersebut memerlukan

pengelolaan yang lebih spesifik, karena dibutuhkan kedisiplinan dalam penerapan semua kebijakan/standar prosedur operasional ditetapkan. Di samping, perlu adanya koordinasi antar unit pelayanan dalam bentuk jejaring serta penerapan standar diagnosa dan terapi yang benar. Dukungan yang kuat dari jajaran direksi rumah sakit berupa komitmen dalam pengelolaan sangat penting. Sukses dalam pelayanan TB bukan saja akan meningkatkan angka kesembuhan pasien, tetapi juga mencegah terjadinya akibat lebih lanjut berupa Multi Drug Resistant (MDR) atau Extreme Drug Resistant (XDR) TB.

Survei yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik pada bulan Juli 2009 menunjukkan bahwa tingkat pencapaian pelayanan pasien TB dengan strategi DOTS di rumah sakit masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah tingkat komitmen jajaran direksi di rumah sakit yang belum terwujud dan belum

dipenuhinya berbagai faktor yang dibutuhkan lagi bagi keberhasilan penerapan pelayanan TB di rumah sakit.

Jenis pelayanan di RS Paru Batu dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu Pelayanan Paru dan Pelayanan Non Paru, dengan masing-masing pelayanan meliputi rawat jalan dan rawat inap. Tetapi tenaga spesialis paru masih belum memenuhi standar karena spesialis paru yang tersedia baru 1 (satu) orang dan dokter sub spesialis bedah TKV belum tersedia. Beberapa permasalahan dalam kinerja RS Paru Batu dalam program pencegahan dan pemberantasan TB, antara lain : belum optimalnya dukungan RS dalam program P2TB di wilayah binaan RS Paru Batu sesuai SK Kadinkes Provinsi, kebijakan direktur atau Kepala RS terkait pelayanan pasien TB dan operasionalisasi tim TB-HIV belum ada, kedudukan program P2TB dalam struktur organisasi tidak jelas, koordinasi dan jejaring dengan Dinas Kesehatan Kab/Kota dan RS lainnya belum berjalan optimal, koordinasi antar unit terkait internal RS (jejaring internal) belum optimal, pelaksanaan pelayanan pemeriksanaan sputum SPS untuk penderita suspect TB belum sesuai standar dan masih belum tersedianya tempat/prasarana/fasilitas mengeluarkan dahak bagi pasien suspect TB.

Faktor kunci keberhasilan berjalannya program ini adalah a) Adanya kebijakan yang mendukung penderita suspect TB; b) Adanya dukungan anggaran untuk pembiayaan pelayanan one day pasien suspect TB; c) Adanya sosialisasi terkait standar pelayanan penderita suspect TB; d) Adanya advokasi dari dinas terkait Faktor Penghambat keberlangsungan program ini secara internal adalah sebagai berikut a) Pengaturan jadwal untuk menghadiri kegiatan-kegiatan pertemuan atau pelatihan tersebut yang kerap berbenturan dengan kegiatan pelayanan, kegiatan rapat di tingkat Provinsi, maupun juga karena volume pekerjaan di bagian administrasi sedang meningkat untuk menyelesaikan target-target kegiatan akhir tahun; b) Keterbatasan jumlah tenaga administrasi dalam pendokumentasian dan penyusunan laporan kegiatan; c) Belum jelasnya status Wasor RS selama beberapa tahun ini sehingga menyebabkan pengelolaan kegiatan di RS menjadi mengambang, terkesan tarik ulur kepentingan antara wasor lama dengan petugas RR yang sudah aktif mengelola selama ini; d) Keterbatasan jumlah dokter spesialis Paru di RS hanya 1 orang menyebabkan pelaksanaan program belum bisa

optimal; e) Kesibukan di pelayanan karena tindakan-tindakan di OK Paru yang meningkat, menyebabkan terjadi gangguan pada saat dilaksanakan proses pembelajaran (pada saat pelatihan), pertemuan dan rapat; f) Ketiadaan tempat mengeluarkan dahak bagi pasien suspek yang berasal dari Instalasi Rawat Jalan. Sedangkan secara eksternal yang menjadi penghambatnya adalah kesibukan yang cukup padat dari stakeholder di Provinsi, sehingga menyebabkan pelaksanaan kegiatan terkesan dipaksakan.

BAB V