• Tidak ada hasil yang ditemukan

Replikasi Proyek Perubahan dapat dilakukan di tempat lain dengan penyesuaian yang diperlukan

Komponen Deskripsi DIAN

F. INSTRUMEN DESAIN DIREKTORI INOVASI ADMINISTRASI NEGARA

4 Replikasi Proyek Perubahan dapat dilakukan di tempat lain dengan penyesuaian yang diperlukan

Dapat diobservasi Proyek Perubahan dapat dilihat oleh orang lain Dapat dikembangkan

lebih lanjut

Kegiatan dalam Proyek Perubahan dapat diimplementasikan lebih lanjut dengan modifikasi sesuai kebutuhan

Aplikatif Proyek Perubahan dapat mudah untuk diimplementasikan pada instansi yang ditunjuk

Potensi untuk diimple-mentasikan di tempat lain

Implementasi suatu Proyek Perubahan dapat dilakukan oleh stakeholders lain di tempat lain

Desain Direktori Inovasi Administrasi Negara berdasarkan dokumen Proyek Perubahan Diklat PIM disusun untuk mendeskripsikan inovasi yang dilakukan oleh para alumni Diklat PIM Tingkat I dan Tingkat II Pola Baru peringkat 5 (lima) terbaik tahun 2014. Keterangan awal yang berisi data awal pelaku inovasi dan data inovasi yang berisi gambaran singkat inovasi. Data inovasi didesain sedemikian rupa untuk memudahkan pengguna inovasi lain memahami inovasi yang telah dilakukan

selama ini. Direktori Inovasi Administrasi Negara berisi gambaran untuk menjelaskan inovasi yang telah dilakukan para Pemimpin Perubahan dalam tahapan jangka menengah. Berikut ini adalah desain Direktori Inovasi Administrasi Negara Proyek Perubahan yang akan digunakan untuk menjelaskan dan menggambarkan inovasi tersebut.

Tabel 3. Desain Direktori Inovasi Administrasi Negara Proyek Perubahan

Judul Proyek Perubahan:

Produk Proyek Perubahan (produk akhir yang akan dicapai): Nama Instansi:

Profil Pemimpin Perubahan (Peserta Diklat): Jenis Inovasi:

Proses Produk Metode Konseptual Struktur Org Hubungan SDM Teknologi

Waktu Inisiasi:

Waktu Implementasi (minimal Milestone Jangka Menengah): Ringkasan Proyek Perubahan (Deskripsi):

Capaian dan Tahapan Proyek Perubahan:

Faktor Kunci Keberhasilan (Faktor Pendorong) Proyek Perubahan: Faktor Penghambat Proyek Perubahan:

Manfaat Proyek Perubahan: Prasyarat Replikasi:

Contact Implementator:

Teknik Validasi:

Observasi Publikasi Data Sekunder Telepon/Email/Fax Sumber:

Setiap data yang disajikan berisi keterangan tentang inovasi yang dijelaskan. Untuk lebih jelas, berikut ini adalah keterangan dari data yang akan menjelaskan isi inovasi yang ada di dalam Direktori Inovasi Administrasi Negara Proyek Perubahan

bagi Peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat I dan II Tahun 2014 peringkat 5 (lima) terbaik beserta pengisiannya:

1. Judul Proyek Perubahan

Pengisian kolom Judul Proyek Perubahan dilakukan dengan mengisi judul proyek perubahan/inovasi.

Misalnya “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” yang dilakukan oleh Dr. Suprajaka, MT.

2. Produk Proyek Perubahan

Pengisian kolom Produk Proyek Perubahan dilakukan dengan mengisi produk yang dihasilkan dari proyek perubahan.

Misalnya “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” yang dilakukan oleh Dr. Suprajaka, MT, produk nyata yang dihasilkan adalah One Map and One Data Informasi Geospasial Tematik.

3. Nama Instansi

Pengisian kolom Nama Instansi dilakukan dengan mengisi Nama Instansi yang melaksanakan proyek perubahan/inovasi dimana perubahan/inovasi dijalankan.

Misalnya pada proyek perubahan “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” nama instansi induknya adalah Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik – Badan Informasi Geospasial.

4. Profil Pemimpin Perubahan

Pengisian kolom Profil Pemimpin Perubahan dilakukan dengan mengisi nama peserta Diklat PIM sebagai pemimpin perubahan yang melakukan inovasi atau pejabat lain yang menggantikan (jika terjadi mutasi atau rotasi). Selain itu sebagai keterangan tambahan diisi juga jabatan, alamat instansi serta nomor telepon dan email dari Pemimpin Perubahan tersebut.

Misalnya pada Proyek Perubahan “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” nama pemimpin perubahannya adalah Dr. Suprajaka, MT.

Kepala Pusat Standardisasi dan Kelembagaan Informasi Geospasial (Jabatan Sekarang); Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik (Jabatan Saat Diklat); Badan Informasi Geospasial; Jl. Raya Jakarta Bogor Km 46 Cibinong; Telp: 021-87569481; Email: [email protected].

5. Jenis Inovasi

Pengisian kolom jenis inovasi diisi dengan memilih salah satu dari jenis inovasi yang disediakan, yaitu:

a. Proses: SOP, tata laksana, sistem, dan prosedur b. Metode: strategi, cara, teknik baru

c. Produk: barang dan jasa

d. Konseptual: paradigma, ide, gagasan, pemikiran, terobosan baru e. Teknologi: e-government, tools (pembaruan peralatan/ perangkat)

f. Struktur Organisasi: struktur baru, penggabungan, penghapusan, pengembangan)

g. Hubungan: partnership, partisipasi masyarakat, relationship, networking h. Sumber Daya Manusia meliputi tata nilai (culture, mindset, etika),

kepemimpinan, kompetensi, profesionalisme, pemberdayaan.

Untuk jenis inovasi akan disajikan dengan simbol sesuai dengan yang telah dibuat pada Direktori Inovasi Administrasi Negara tahun 2014.

Misalnya produk inovasi proyek “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” karena merupakan perubahan proses pengerjaan dan perubahan pada tata laksananya, maka digolongkan pada jenis inovasi proses.

6. Waktu Inisiasi

Pengisian kolom waktu inisiasi diisi dengan waktu pelaksanaan Proyek Perubahan tersebut mulai digagas/diinisiasi.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” mulai diinisiasi pada Oktober 2014.

7. Waktu Implementasi (minimal Milestone jangka menengah)

Pengisian kolom Waktu Implementasi (minimal milestone jangka menengah telah berjalan) diisi dengan waktu implementasi proyek perubahan pada jangka menengah (3 bulan sampai dengan ± 1 tahun).

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” mulai diimplementasikan pada November 2014 sesuai dengan data yang ada di dalam Proyek Perubahan.

8. Ringkasan Proyek Perubahan/Deskripsi

Pengisian kolom Ringkasan Proyek Perubahan diisi dengan permasalahan yang melatarbelakangi digagasnya proyek perubahan/alasan melakukan gagasan perubahan; Tujuan, manfaat gagasan perubahan; Strategi gagasan perubahan yang menyangkut terkait teknis akselerasi, kerumitan dalam implementasi, keserasian terhadap aturan, milestone singkat; Pihak yang terlibat dalam mengimplementasikan gagasan perubahan, serta peranannya bagi keberhasilan.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

Program Pembangunan Satu Peta Sumber Daya Alam Pesisir dan Laut yang diusulkan ini dilandasi oleh adanya sebuah Kebijakan Satu Peta “One Map Policy” yang telah dicanangkan oleh Presiden RI ketika Sidang Kabinet RI tanggal 23 Desember 2010, namun sampai saat itu masih belum berjalan sebagaimana yang harapan oleh semua pihak. Kebijakan satu peta ini tentunya segaris dengan telah berlakunya UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial sejak tanggal 11 April 2011, yang memberikan konsekuensi bahwa Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) berubah menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG), sehingga tugas dan fungsi BIG di bidang survei dan pemetaan semakin luas.

Program ini sangat sulit di realisasi saat itu karena permasalahan utama terkait dengan penyelenggaraan informasi geospasial tematik seperti masih banyaknya UU, PP, Kepmen, Perka atau peraturan perundangan lainnya yang saling tumpang tindih. Sampai saat ini minimal terdapat 171 undang-undang atau peraturan harus menyediakan 94 empat jenis data geospasial. Banyaknya

peraturan terkait dengan informasi geospasoal ini mengindikasi bahwa betapa penting informasi untuk pembangunan nasional, namun dari tataran teknis, ternyata sering menimbulkan ketidak sinkronan, tumpang tindih kegiatan, dan masih banyak data serta informasi yang tidak dapat diintegrasikan dalam rangka berbagi pakai informasi antar kementrian dan lembaga penyelenggara informasi geospasial.

Upaya dan langkah strategi untuk mewujudkan tugas dan kewenangan yang diamanahkan oleh Badan Informasi Geospasial, sebenarnya telah dilaksanakan yaitu membentuk kelompok kerja (Pojka) Informasi Geospasial Tematik (IGT) bagi para “stakeholders” penyelenggara dan pengguna Informasi Geospasial Tematik antar kementrian dan lembaga (12 Pokja IGT). Berdasarkan Rapat Koordinasi Nasional bidang IG tahun 2013, pembentukan Pokja IGT bertujuan untuk merumuskan kebijakan, strategi dan program dalam penyelenggaraan IGT antar K/ L. Kelompok kerja ini diharapkan dapat membangun sinergi dan kolaborasi antar kementerian dan lembaga dalam bidang pengumpulan, pengelolaan, penyimpanan dan penyebarluasan informasi geospasial tematik, yang sampai saat ini belum berjalan secara efektif.

Tujuan Pembangunan Satu Peta adalah Memperbaiki proses integrasi data dan informasi geospasial tematik wilayah pesisir dan laut di Indonesia dapat diselenggarakan oleh para pemangku kepentingan melalui penyediaan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik. Untuk mewujukannya maka tatalaksana integrasi harus memiliki landasan hukum yang jelas. Penyelenggaraan IGT sumberdaya pesisir dan laut mulai sejak pengumpulan, pengolahan, pengelolaan dan penyebarlauasan informasi geospasial dalam hal ini untuk tema sumberdaya: 1) terumbu karang, 2) padang lamun dan 3) mangrove yang dapat dipertangungjawabkan dan diintegrasikan dalam kerangka kerja “one map policy”. Dengan menyelesaikan satu dokumen tatalaksana integrasi tersebut, diharapkan dapat menjadi faktor pengungkit dalam menyelesaikan proses integrasi data dan informasi geospasial dari 11 kelompok kerja (Pokja) IGT yang lainnya sesuai dengan rekemendasi Rapat Koordinasi Nasional IG tahun 2013 dan tahun 2014, yaitu: 1) Pemetaan Sumberdaya Air, 2) Pemetaan Sumberdaya Lahan Pertanian dan Gambut, 3) Pemetaan Monitoring Perijinan Sektoral, Penutup Lahan dan Status Lahan, 4) Pemetaan Ekoregion, 5) Neraca Sumberdaya Alam, 6) Transportasi, 7) Tata Ruang, 8) Transportasi, 9) Sosail Budaya dan Atlas, 10) Kebencanaan dan Perubahan Iklim, dan 11) Inteligen Geospasial.

Untuk melancarkan proses perubahan tersebut, dilakukan strategi yang tepat seperti 1) Mendorong penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG) Tematik dengan menggunakan standar metoda dan prosedur pengumpulan SDA Pesisir dan Laut (mangrove, terumbu karang dan padang lamun); 2) Mendorong penyediaan IG yang mengacu pada satu referensi, satu standar, satu basis data, dan satu geoportal (one map policy) agar dapat dipertanggungjawabkan dan diintegrasikan; 3) Memastikan ketersediaan IG terintegrasi yang merepresentasikan inventarisasi, kondisi/ cadangan, alokasi, dan informasi lainnya terkait SDA oleh K/ L/ Pemda yang berwenang (walidata); 4) Mensosialisasikan tata laksana ini agar dapat direplikasikan ke kelompok kerja yang lain yang dalam IGT; 5) Agar mempunyai kekuatan hukum yang lebih mengikat Perka Tatalaksana Integrasi Tematik ini didorong untuk diangkat menjadi perarturan yang lebih tinggi.Stakeholder yang mendukung

Program ini terdiri dari internal BIG yaitu Pusat Pemetaan dan Itegrasi Tematik; Bidang Pemetaan dan Intengrasi Tematik Laut; Sekretariat Kelompok Kerja Pemetaan Sumberdaya Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil; Pusat Pemetaan Rupabumi dan Topoinimi; Pusat Pemetaan dan Lingkungan Pantai; Pusat Standardisasi dan Kelembagaan; Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas; Biro Perencanaan dan Hukum. Sedangkan eksternal terdiri dari Bappenas; Direktorat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kemetrian Kelautan dan Perikanan (KKP); Direktorat Tata Ruang Pesisir dan Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP); Badan Litbang Kementrian Kelautan dan Perikanan; Direktorat Inventarisasi dan Pemetaan Sumberdaya Hutan, Kementrian Kehutanan; Asdep III Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Lingkungan, Kementrian Lingkungan Hidup; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; Wetland International, CI, WWF, DNPI, REDD+.

9. Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Perubahan

Pengisian kolom Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Perubahan diisi dengan hal-hal spesifik yang mendorong keberhasilan Proyek Perubahan dimaksud. Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

10. Faktor Penghambat Proyek Perubahan

Pengisian kolom Faktor Penghambat Proyek Perubahan diisi dengan hal-hal spesifik yang menjadi penghambat keberhasilan proyek perubahan dimaksud. Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

Faktor penghambat dari pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi adalah

a. Penyamaan persepsi atas konsep Integrasi tematik sumberdaya alam pesisir dan laut antar K/L

b. Adanya ego sektoral untuk mempertahankan walidata (mangrove dan terumbu karang) yang telah disusun oleh masing-masing sektor baik dari sisi nomenklatur maupun metode pemetaannya

c. Tingkat kehadiran stakeholder pada FGD atau rapat teknis yang akan diselenggarakan untuk mendukung proyek perubahan, hal ini mengingat alokasi waktu untuk melakukan kegiatan ini, yang sering berbenturan dengan kegiatan lain di instansi masing-masing

a. Dukungan yang kuat dari pimpinan dan Tim Efektif;

b. Adanya keinginan pemenuhan publik terkait dengan 17 jenis data maupun informasi geospasial yang diperlukan oleh Kementrian dan Lembaga untuk keperluan perencanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan terintegrasi,

c. Keinginan untuk pemenuhan kebutuhan layanan publik, dimana terdapat 5 (lima) jenis layanan publik yang harus dipenuhi sesuai dengan standar dan mudah diitegrasikan,

d. Keinginan untuk pemenuhan kebutuhan regulasi data dan informasi geospasial, dimana terdapat 2 (dua) regulasi yang harus dipenuhi, meliputi Peraturan perundang-undangan terkait dengan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebarluasan (distribusi), dan penggunaan IG serta Spesifikasi teknis berupa norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK). e. Semua keinginan ini tentu saja berlandaskan atas tugas pokok dari Badan

d. Walidata/ Terkait Penanggungjawab Tema (Mangrove, Terumbu Karang dan Padang Lamun) – Telah terjadi perubahan nomenklatur nama Kementrian/ Lembaga

Alternatif Solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah a. Harmonisasi antar pemangku kepentingan untuk mengatasi faktor

penghambat point (1) dan point (2) agar terjadi kesepahaman terkait setiap Kementrian dan Lembaga bersedia menggunakan Standar metoda dan prosedur pengumpulan SDA Pesisir dan Laut (mangrove, terumbu karang dan padang lamun) sesuai dengan tatalaksana yang telah disepakati bersama. b. Sosialisasi tentang pentingnya program satu data dan satu peta untuk

perencanaan dan pembangunan nasional yang dapat dipertanggung-jawabkan.

c. Menyusun Peraturan yang lebih tinggi sebagai payung hukum agar implementasi tatalaksana ini dapat berjalan dengan baik, salah satunya berusaha diangkat yang lebih tinggi berita perpres.

11. Capaian dan Tahapan Proyek Perubahan

Pengisian kolom tahapan proses inovasi diisi mulai dari tahap jangka pendek, menengah sampai dengan jangka panjang. Untuk Direktori Proyek Perubahan ini akan divalidasi dalam tahapan jangka menengah. Selain itu juga disajikan jaminan keberlanjutan dari proyek perubahan, tentu saja dengan memperhatikan capaian masing masing jangka waktu yang telah ditetapkan. Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

Capaian pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi adalah tersusunnya Dokumen Draf Final tentang Tatakalaksana Integrasi Data SDA Pesisir dan Laut yang menjelaskan proses pelaksanaan integrasi data antar lembaga. Selain itu dihasilkan pula One map dan one data hasil integrasi informasi geospasial tematik SDA pesisir dan laut antar K/L. Peta tersebut merupakan dokumen/ berita acara kesepakatan antar K/L atas hasil Integrasi Informasi Geospasial SDA pesisir dan laut, yang menjelaskan tentang informasi mangrove, terumbu karang dan pandang lamun nasional. Tidak hanya sampai disana, program ini juga menghasilkan One map dan one data hasil integrasi informasi geospasial tematik SDA pesisir dan laut dalam versi online yang beralamat di http:// ppit.big.go.id.

Berdasarkan kesepakatan antar kementrian dan lembaga didorong untuk mempercepat terbetuknya tatalaksana yang lebih luas serta payung hukum yang lebih kuat yaitu:

a. Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial tentang Tatalaksana Integrasi Tematik (tinggal pengesahan)

b. Draf Rancangan Peraturan Presiden tentang One Map Policy tentang Percepatan Pelaksanaan One Map Policy Informasi Geospasial Tematik Pembangunan Seluruh Indonesia Pada Tingkat Ketelitian Peta Minimal Skala 1: 50.000 – per 10 Juni 2015 (tinggal pengesahan)

c. Lampiran Ran Perpers OMP tentang Walidata (tinggal pengesahan)

Semua capaian ini dapat diperoleh meskipun penggagas sudah berpindah unit kerja sebanyak dua kali. Akan tetapi proyek perubahan masih terus berjalan dan sudah direplikasikan di kedua unit kerja di mana beliau dipindahkan yaitu di Pusat Tata Ruang dan atlas juga Pusat Standardisasi dan Kelembagaan Informasi Geospasial. Pelaksanaan pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:

a. Menjalin kesepakatan antar stakeholder dalam menyusun One map integrasi termasuk SDA pesisir dari laut

b. Membuat model ujicoba integrasi data SDA pesisir dan laut (mangrove, terumbu karang, padang lamun)

c. Mendokumentasikan tatalaksana integrasi tematik SDA pesisir dan laut

d. Penyusun Peraturan Kepala Badan Informasi Geosparsial tentang tatalaksana integrasi IGT Pesisir dan laut (RAPERKA, dan PERKA)

e. Menjadikan program One map dan One data informasi geospasial tematik SDA pesisir laut sebagai acuan nasional untuk perencanaan dan pembangunan nasional

f. Menyusun sistem informasi data dan peta goespasial tematik yang dapat diisi secara bersama dengan para stakeholder.

g. Menyusun Rancangan Peraturan Presiden tentang One Map Policy tentang Percepatan Pelaksanaan One Map Policy Informasi Geospasial Tematik Pembangunan Seluruh Indonesia Pada Tingkat Ketelitian Peta Minimal Skala 1: 50.000. Sebagai kelanjutan dari proses integrasi.

12. Manfaat Proyek Perubahan

Pengisian kolom Manfaat Proyek Perubahan diisi dengan manfaat dari implementasi proyek perubahan dimaksud setelah berjalan serta data dukung atas kemanfaatannya.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

Kemanfaatan dari pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi ternyata melebihi dari apa yang diharapkan ketika gagasan ini diusulkan. Kemanfaatan implementasi program tersebut adalah

a. Munculnya semangat untuk bekerjasama antar lembaga pemilik data dan peta untuk mengintegrasikan data sehingga terjadi persamaan peta;

b. Munculnya keinginan untuk mengintegrasikan data dan peta tematik lain yang nanti dapat dipergunakan untuk kepentingan pemberian informasi pada masyarakat, penelitian, dan investasi.

c. Munculnya keinginan untuk memperkuat proses integrasi ini dengan semua peraturan presiden terkait peta tematik yang mewadahi seluruh peta tematik yang telah dikelompokkan

d. Sistem informasi peta tematik yang merupakan produk sampingan dari proses integrasi data dan peta tematik sangat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat terutama untuk pendidikan mengenai mangrove.

e. Adanya kepastian hukum terkait tatalaksana penyusunan data dan informasi peta tematik yang pada akhirnya menghasilkan sebuah peta yang valid. 13. Prasyarat Replikasi

Pengisian kolom prasyarat replikasi diisi dengan kemungkinan apakah Proyek Perubahan tersebut dapat direplikasi dan diimplementasi di tempat lain dengan memperhatikan karakteristik dan kondisi setempat.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial” adalah sebagai berikut:

Pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi informasi dapat direplikasi di wilayah lain dengan cara sebagai berikut

a. Adanya dukungan yang kuat dari pimpinan dan Tim Efektif;

b. Komitmen yang kuat dari pimpinan dan tim pelaksana untuk menyusun tatalaksana dan produk peta tematik;

c. Dukungan anggaran yang memadahi terkait dengan penyelenggaraan di walidata yang menggunakan Tatalaksana yang telah disepakati;

d. Komitmen kuat dari masing-masing walidata di kementrian dan lembaga yang telah diberi mandat;

e. Proses integrasi dapat dilaksanakan pada 11 kelompok kerja (POKJA) yang telah ada yaitu : 1) Pemetaan Sumberdaya Air dan DAS; 2) Pemetaan Sumberdaya Lahan Pertanian dan Gambut; 3) Pemetaan Neraca SUmberdaya Alam; 4) Pemetaan Perubahan Iklim; 5) Pemetaan EKoregion; 6) Pemetaan Monitoring Perizinan Sektoral, Penutup Lahan dan Status Lahan; 7) Pemetaan Pemetaan Transportasi; 8) Pemetaan Kebencanaan; 9) Pemetaan Tata Ruang; 10) Pemetaan Sosial Budaya dan Atlas; 11) Pemetaan Inteligen.

14. Kontak Implementator

Pengisian kolom Kontak Implementator diisi dengan nama orang atau unit/ kelompok yang dapat memberikan informasi atau mengimplementasikan Proyek Perubahan.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial”, pihak yang dapat dihubungi adalah Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik-Badan Informasi Geospasial; Jl. Raya Jakarta Bogor Km 46 Cibinong; Telp: 021-87569481. 15. Teknik Validasi

Pengisian kolom Teknik Validasi diisi dengan memilih salah satu dari teknik validasi/teknik pengambilan data Proyek Perubahan yang disediakan, yaitu: a. Observasi merupakan pengambilan data yang dilakukan melalui visitasi ke

pelaku inovasi/perubahan.

b. Publikasi/Presentasi merupakan pengambilan data yang dilakukan melalui publikasi yang diungkapkan dan/atau juga bahan paparan inovasi/ perubahan yang disajikan oleh pelaku inovasi/perubahan atau yang mewakili.

c. Data Sekunder merupakan pengambilan data yang dilakukan melalui dokumen Proyek Perubahan yang dipublikasikan melalui buku, koran, artikel, maupun yang bersumber dari media online seperti portal instansi pemerintah, website, berita.

d. Telepon/Email/Fax merupakan pengambilan data dengan bertanya langsung kepada Pemimpin Perubahan atau atasan dan bawahan Pemimpin Perubahan atas Proyek Perubahan yang dijalankan.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial”, teknik validasi yang dilakukan adalah dengan melakukan Observasi Langsung pelaksanaan di Badan Informasi Geospasial dan dokumentasi Proyek Berubahan, artinya teknik yang dipakai adalah observasi, publikasi/presentasi.

16. Sumber

Pengisian kolom Sumber ini diisi dengan asal dokumen proyek perubahan itu diperoleh baik secara observasi, publikasi/presentasi, data sekunder, maupun dari telepon/email/fax.

Misalnya pada inovasi “Pembangunan Satu Peta Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Melalui Percepatan Penyusunan Tatalaksana Integrasi Informasi Geospasial Tematik di Badan Informasi Geospasial”, sumber yang digunakan untuk menyusun direktori proyek perubahan ini adalah Dokumen Proyek Perubahan Diklatpim Dr. Suprajaka, MT & observasi.

Setelah semua kolom terisi, maka selesai sudah pengisian data Direktori Inovasi Administrasi Negara Proyek Perubahan Peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat I dan II. Yang perlu diperhatikan adalah pengisian data yang sesuai dan dapat dipahami oleh masyarakat. Setelah itu, data direktori ini akan dilakukan penyaringan oleh tim mulai dari memperbaiki penyampaian isi data sampai