PERLINDUNGAN KHUSUS 7.1. Perkembangan Perlindungan Anak di Indonesia
7.3. Anak Bermasalah Hukum
7.3.3. Perdagangan Anak (Trafficking)
7.3.3. Perdagangan Anak (Trafficking)
Perdagangan anak (trafficking) merupakan jenis tindak pidana yang membutuhkan perhatian dan campur tangan atau intervensi pemerintah dalam upaya penanggulangannya. Seperti yang dijelaskan pada mukadimah Undang-Undang RI No.21 Tahun 2007 Tentang Perdagangan Orang bahwa perdagangan orang merupakan tindakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat manusia dan melanggar hak asasi manusia. Selain itu disebutkan juga bahwa tindak kejahatan perdagangan orang telah meluas dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorganisir secara internasional sehingga proses penanganannya membutuhkan kerja sama antar pemerintah baik bilateral maupun multilateral.
Seperti yang diungkapkan Romli Atmasasmita (1994)1 bahwa globalisasi mengakibatkan semakin meningkatnya lalu lintas tindak pidana lintas teritorial antara negara satu dengan lainnya atau tindak pidana internasional. Kasus-kasus tindak pidana internasional yang semakin sering terjadi antara lain adalah: perdagangan narkoba, pencucian uang (money laundry), penyelundupan, terorisme dan perdagangan orang (trafficking) yang mencakup perdagangan perempuan dan anak. Sejalan dengan pendapat tersebut, selama lima tahun terakhir sejak diberlakukannya UU No.21 Tahun 2007, kasus-kasus tindak pidana internasional terutama tindak pidana perdagangan narkoba dan pencucian uang meningkat secara signifikan, sedangkan jumlah kasus tindak pidana perdagangan orang, baik kasus perdagangan perempuan, maupun perdagangan anak nampak fluktuatif.
Data jumlah tindak pidana perdagangan orang selama tahun 2007 – 2011 hasil registrasi Polri seperti yang disajikan pada Tabel 7.2 secara umum menunjukkan indikasi bahwa fenomena tindak pidana perdagangan orang di Indonesia sangat perlu untuk diwaspadai. Hal ini terlihat dari jumlah kasus tindak pidana perdagangan orang yang cukup signifikan. Seperti umumnya data yang dihasilkan Polri, data tersebut diduga lebih rendah dari keadaan yang sebenarnya (under estimated). Namun meskipun demikian, data tersebut dapat memberikan gambaran secara makro mengenai dinamika dan perkembangan tindak pidana penjualan orang di Indonesia selama periode lima tahun terakhir.
Seperti yang disajikan pada Tabel 7.2, fenomena atau kejadian tindak pidana perdagangan orang di Indonesia nampak mempunyai pola tersendiri. Korban tindak pidana perdagangan orang di Indonesia pada umumnya adalah kaum perempuan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Dari Tabel 7.2 nampak bahwa jumlah korban perempuan dewasa cenderung lebih besar dari jumlah korban laki-laki dewasa, kecuali untuk tahun 2008. Sementara itu, nampak bahwa jumlah korban anak perempuan cenderung lebih besar dari jumlah korban anak laki-laki.
Tabel 7.2 Jumlah Korban Perdagangan Orang Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 – 2011
Tahun Dewasa Anak Jumlah
Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 2007 207 3 69 2 281 2008 212 307 75 13 607 2009 145 63 66 1 275 2010 70 10 50 2 132 2011 94 23 34 0 151
Sumber : Bareskrim, Mabes Polri 7.4 Anak dengan Kesulitan Fungsional
Tidak semua anak lahir akan mengalami perkembangan fisik secara normal. Beberapa diantara mereka kemungkinan akan mengalami kesulitan/gangguan dalam melihat, mendengar, berjalan/naik tangga, mengingat/berkonsentrasi/berkomunikasi, dan mengurus diri sendiri. Hal ini akan menyebabkan mereka tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal. Ketidakmampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari secara normal disebut sebagai Kesulitan Fungsional (functional difficulty).
Anak usia 10-17 tahun hasil pengolahan Sensus Penduduk 2010 ada sebanyak 35,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar 35,2 juta jiwa anak sebagai responden yang ditanyai mengenai kesulitan fungsional, sisanya sebesar 293 ribu penduduk tidak ditanyakan mengenai kesulitan fungsional karena mereka penghuni flat/apartemen/perumahan sangat ekslusif, atau masyarakat terpencil (akses sangat sulit), atau rumah tangga di kolong jembatan (bangunan sangat tidak layak huni), atau pengungsi tenda, tunawisma, awak kapal, orang tinggal di gerbong kereta api, suku terasing, penghuni penjara dan barak militer, serta pasien rumah sakit jiwa.
Tabel 7.3 Jumlah Anak Usia 10-17 tahun menurut Jenis dan Tingkat Kesulitan, 2010 (dalam ribuan)
Jenis Kesulitan Tidak Ada Kesulitan Mengalami Kesulitan
% Anak 10-17 Tahun yang Mengalami
Kesulitan Sedikit Parah Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) Melihat 35.106,3 58,3 11,8 70,1 0,20 Mendengar 35.127,1 28,6 20,7 49,3 0,14 Berjalan/Naik Tangga 35.111,4 33,3 31,7 65,0 0,18 Mengingat/ Berkonsentrasi/ Berkomunikasi 35.022,0 90,7 63,7 154,4 0,44
Mengurus Diri Sendiri 34.998,2 132,9 45,4 178,3 0,51
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Tabel 7.3 menyajikan jumlah anak usia 10-17 tahun menurut jenis dan tingkat kesulitan yang dialami. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa jenis kesulitan yang paling banyak dialami anak usia 10-17 tahun adalah kesulitan mengurus diri sendiri, sebanyak 132,9 ribu jiwa dengan tingkat kesulitan sedikit dan 45,4 ribu jiwa dengan tingkat kesulitan parah. Jenis kesulitan lainnya yang dialami oleh anak adalah kesulitan mengingat/ berkonsentrasi/ berkomunikasi (154,4 ribu jiwa), kesulitan melihat (70,1 ribu jiwa), berjalan/naik tangga (65,0 ribu jiwa), dan kesulitan mendengar (49,3 ribu jiwa). 7.4.1 Kesulitan Melihat
Berdasarkan hasil SP2010, persentase anak usia 10-17 tahun yang mengalami kesulitan melihat sebesar 0,20 persen (kesulitan melihat sedikit sebesar 0,17 persen dan kesulitan melihat parah sebesar 0,03 persen). Berdasarkan kelompok umur, semakin tinggi kelompok umur semakin tinggi persentase anak yang mengalami kesulitan melihat, baik yang mengalami kesulitan sedikit maupun parah. Kesulitan melihat banyak dialami oleh anak pada kelompok umur 16-17 tahun (sebesar 0,22 persen mengalami kesulitan sedikit dan 0,04 persen mengalami kesulitan parah). Anak yang mengalami kesulitan melihat akan mengalami hambatan terutama dalam kegiatan belajar, sehingga dalam proses belajar perlu penggunaan tulisan braille khususnya bagi anak yang mengalami kesulitan melihat parah.
Tabel 7.4 Persentase Anak usia 10-17 Tahun menurut Kelompok Umur dan Tingkat Kesulitan Melihat, 2010
Kelompok
Umur Kesulitan (%)Tidak Ada
Mengalami Kesulitan Anak Usia 10-17 TahunJumlah Sedikit(%) Parah(%) Jumlah(%) % N(Ribuan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
10-12 99,85 0,12 0,03 0,15 100,00 13.642,4
13-15 99,79 0,18 0,03 0,21 100,00 13.263,2
16-17 99,74 0,22 0,04 0,26 100,00 8.270,8
10-17 99,80 0,17 0,03 0,20 100,00 35.176,4
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Berdasarkan tipe daerah, persentase anak usia 10-17 tahun di perkotaan yang mengalami kesulitan melihat sebesar 0,26 persen, lebih tinggi dibandingkan perdesaan sebesar 0,14 persen. Berdasarkan jenis kelamin, persentase anak perempuan usia 10-17 tahun yang mengalami kesulitan melihat (0,22 persen) lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki (0,18 persen). Kondisi yang sama juga terjadi di perkotaan dimana anak perempuan yang mengalami kesulitan melihat sebesar 0,31 persen lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki sebesar 0,22 persen. Sedangkan di perdesaan, persentase anak usia 10-17 tahun yang mengalami kesulitan melihat baik anak laki-laki maupun anak perempuan relatif sama yaitu sebesar 0,14 persen.
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Gambar 7.2 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Mengalami Kesulitan Melihat menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2010
Tabel lampiran 68 sampai 76 menyajikan jumlah anak usia 10-17 tahun yang mengalami kesulitan melihat menurut provinsi dan tingkat kesulitan. Tiga provinsi yang memiliki persentase tertinggi anak usia 10-17 tahun yang mengalami kesulitan melihat adalah DKI Jakarta (0,57 persen), Kepulauan Riau (0,42 persen), dan Gorontalo (0,28 persen). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa persentase anak perempuan yang mengalami kesulitan melihat lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Tiga provinsi dengan persentase tertinggi anak perempuan memiliki kesulitan melihat adalah DKI Jakarta (0,67 persen), Kepulauan Riau (0,49 persen), dan Sumatera Barat (0,31 persen). Sedangkan tiga provinsi dengan persentase tertinggi anak laki-laki memiliki kesulitan melihat adalah DKI Jakarta (0,46 persen), Kepulauan Riau (0,36 persen), dan Gorontalo (0,26 persen). 7.4.2 Kesulitan Mendengar
Persentase anak usia 10-17 tahun yang mengalami sedikit kesulitan mendengar sebesar 0,08 persen dan yang mengalami kesulitan parah sebesar 0,06 persen (Tabel 7.5). Kondisi dalam kesulitan mendengar sama halnya dengan kesulitan melihat, semakin tinggi kelompok umur semakin tinggi persentase anak yang mengalami kesulitan mendengar. Kesulitan mendengar banyak dialami oleh anak pada kelompok umur 16-17 tahun, dimana sebesar 0,09 persen mengalami kesulitan sedikit dan 0,06 persen mengalami kesulitan parah.
Tabel 7.5 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun menurut Kelompok Umur dan Tingkat Kesulitan Mendengar, 2010
Kelompok
Umur Kesulitan (%)Tidak Ada
Mengalami Kesulitan Anak Usia 10-17 TahunJumlah Sedikit(%) Parah(%) Jumlah(%) % N(Ribuan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
10-12 99,87 0,08 0,05 0,13 100,00 13.642,4
13-15 99,85 0,09 0,06 0,15 100,00 13.263,2
16-17 99,85 0,09 0,06 0,15 100,00 8.270,8
10-17 99,86 0,08 0,06 0,14 100,00 35.176,4
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Berdasarkan tipe daerah, persentase anak usia 10-17 tahun di perdesaan yang mengalami kesulitan mendengar sebesar 0,17 persen, lebih tinggi dibandingkan di perkotaan sebesar 0,11 persen. Berdasarkan jenis kelamin, kesulitan mendengar anak usia 10-17 tahun lebih banyak dialami oleh anak laki-laki (0,15 persen) dibandingkan anak perempuan (0,13
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Gambar 7.3 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Mengalami Kesulitan Mendengar menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2010
Provinsi yang memiliki persentase cukup tinggi anak usia 10-17 tahun dengan kesulitan mendengar adalah Gorontalo (0,34 persen), Nusa Tenggara Timur (0,27 persen), dan Sulawesi Barat (0,22 persen). Bila dibandingkan antara anak laki-laki dan anak perempuan, persentase anak laki-laki yang mengalami kesulitan mendengar lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan. Provinsi dengan persentase tertinggi anak laki-laki yang mengalami kesulitan mendengar adalah Gorontalo (0,35 persen), Nusa Tenggara Timur (0,30 persen), Sulawesi Tenggara (0,23 persen) dan Sulawesi Barat (0,23 persen). Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi anak perempuan yang mengalami kesulitan mendengar adalah Gorontalo (0,33 persen), Nusa Tenggara Timur (0,25 persen), dan Sulawesi Barat (0,21 persen) (Tabel Lampiran 77 sampai 85).