• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdagangan Luar Negeri Pakaian Jadi Indonesia

Dalam dokumen Info Komoditi Pakaian Jadi. INFO KOMODiTi (Halaman 73-83)

Umar Fakhrudin dan Septika Tri Ardiyanti

4.3 Perdagangan Luar Negeri Pakaian Jadi Indonesia

Ditinjau dari sisi ekspor, produk pakaian jadi adalah salah satu produk utama dalam ekspor nonmigas Indonesia. Sumbangan ekspor produk pakaian jadi bukan rajutan (HS 62) terhadap ekspor nonmigas Indonesia pada tahun 2014 mencapai 2,69%, sementara kontribusi ekspor produk Barang-barang Rajutan (HS 61) pada tahun yang sama sebesar 2,35% (Kementerian Perdagangan, 2015).

Tabel 4.3 Kinerja Ekspor Pakaian Jadi Indonesia, 2010-2014

Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Pangsa eskpor pakaian jadi terhadap ekspor non migas pada tahun 2014 sebesar 5%. Pangsa ekspor pakaian jadi terhadap ekspor non migas Indonesia selama 5 tahun terakhir terus meningkat sebesar 0,5% per tahun. Total ekspor pakaian jadi Indonesia pada tahun 2014 mencapai USD 7,4

miliar, mengalami penurunan sebesar 0,4% (YoY). Namun demikian, tren pertumbuhan ekspornya selama 2010-2014 masih menunjukkan angka yang positif yaitu sebesar 2,1% per tahun.

Turunnya kinerja ekspor pakaian jadi di tahun 2014 dibandingkan tahun sebelumnya disebabkan oleh turunnya ekspor jenis t-shirt dan pakaian olahraga secara signifikan sebesar 9,3% (YoY), sedangkan pakaian bayi dan pakaian jadi lainnya sebenarnya menunjukkan performa ekspor yang cukup baik di tahun 2014 dengan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 25,1% (YoY) dan 14,8% (YoY) (Tabel 4.3).

Gambar 4.1 Struktur Ekspor Pakaian Jadi , 2013-2014. Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Ekspor pakaian jadi Indonesia pada tahun 2014 didominasi oleh oleh ekspor pakaian wanita yang terdiri dari mantel/jaket, setelan, gaun, blus dan pakaian wanita lainnya sebesar 40,1%, sementara pakaian pria menempati urutan kedua dengan pangsa sebesar 30,6%. T-shirt dan pakaian olahraga, pakaian bayi dan pakaian jadi lainnya masing-masing memiliki pangsa 18,6%; 3,3%; dan 7,4%. Pangsa ekspor T-shirt dan pakaian olahraga terhadap total ekspor pakaian jadi tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013, yakni sebesar 1,8%. Berkebalikan dengan lainnya, pangsa pakaian bayi dan pakaian jadi lainnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan kinerja ekspor tahun sebelumnya, yakni secara berturut–turut 2,6% meningkat menjadi 3,3% dan 6,4% menjadi 7,4% (Gambar 4.1).

Lebih dari 50% ekspor pakaian jadi Indonesia di tahun 2014 ditujukan untuk pasar Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar USD 3.819 juta, mengalami penurunan sebesar 2,9% (YoY). Pasar Jepang dan Jerman menempati peringkat ke-2 dan ke-3 dengan pangsa masing-masing sebesar 8,7% dan 7,4%. Negara tujuan ekspor pakaian jadi yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan adalah Uni Emirat Arab (UEA) dan Belgia dengan peningkatan sebesar 26,7% (YoY) dan 16,9% (YoY) (Gambar 4.2).

Ekspor pakaian jadi Indonesia ke UEA didominasi oleh ekspor pakaian wanita, sementara ekspor pakaian jadi ke Belgia didominasi oleh ekspor pakaian pria.

Gambar 4.2 10 Negara Utama Tujuan Ekspor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014.

Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Amerika Serikat, Jepang dan Jerman hampir selalu menjadi 3 pasar utama bagi ekspor pakaian jadi Indonesia untuk keseluruhan jenis baik untuk pakaian wanita, pakaian pria, T-shirt dan pakaian olahraga serta pakaian jadi lainnya. Namun demikian, untuk pakaian bayi, pasar RRT menduduki peringkat ke-2 terbesar setelah pasar Amerika Serikat dengan pangsa sebesar 3,4% (Gambar 4.3).

Tahun 2014, impor pakaian jadi Indonesia mencapai USD 444,5 juta, mengalami penurunan sebesar 6,7% (YoY), walaupun selama 5 tahun terakhir trennya tetap tumbuh sebesar 13%. Nilai impor pakaian jadi Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai ekspornya sehingga untuk sektor tersebut, Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar USD 6,9 miliar pada tahun 2014.

Di tahun yang sama hampir untuk semua jenis garment, nilai impornya mengalami penurunan, kecuali untuk T-shirt dan pakaian olahraga yang justru mengalami peningkatan sebesar 17,4%, sedangkan untuk penurunan impor tertinggi terjadi pada pakaian bayi, yang nilainya turun sebesar 33,8% (YoY). Namun demikian, selama 5 tahun terakhir untuk semua jenis pakaian jadi impornya mengalami pertumbuhan. Rata-rata pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada impor T-shirt dan pakaian olahraga dengan rata-rata pertumbuhan 28,2% per tahun dan impor pakaian bayi dengan pertumbuhan rata-rata 22,6% per tahun (Tabel 4.4).

Gambar 4.3 Negara Tujuan Ekspor Utama Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan Jenis Pakaian, 2014.

Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Pakaian Pria, 2014 Pakaian Wanita, 2014

Pakaian Jadi Lainnya, 2014

RRT 2,1 % LAINNYA 15,6% BELANDA 2,2% UNI EMIRAT ARAB

2,5% KOREA SELATAN 4,4% INGGRIS 4,5% JERMAN 7,6% JEPANG 10,2% AMERIKA SERIKAT 43,6% BELGIA 4,4% KANADA 2,9% LAINNYA 13,6% BELGIA 1,3% RRT 1,7% AUSTRALIA 2,2% KANADA 2,2% KOREA SELATAN 2,6% UNI EMIRAT ARAB 3,1% INGGRIS 3,5% JEPANG 5,7% JERMAN 7,4% AMERIKA SERIKAT 56,8% Pakaian Bayi, 2014 T-Shirt dan Pakaian Olahraga, 2014

PERANCIS 1,2% HONGKONG 1,2% ITALIA 1,8% JEPANG 2,4% INGGRIS 2,4% KANADA 2,9% JERMAN 3,3% AMERIKA SERIKAT 69,3% RRT 3,4% UEA 2,0% LAINNYA10,0% LAINNYA 11,6% AMERIKA SERIKAT 57,2% ITALIA 1,0% BELANDA 1,0% RRT 1,6% KANADA 2,2% INGGRIS 2,7% KOREA SELATAN 4,2% JERMAN 4,6% JEPANG 10,2% BELGIA 2,0% AMERIKA SERIKAT 18,2% JEPANG 18,0% JERMAN 11,2% KOREA SELATAN 7,2% UNI EMIRAT ARAB 7,2% PERANCIS 4,6% MALAYSIA 4,2% INGGRIS 3,3% SINGAPURA 1,8% SPANYOL 1,8% LAINNYA 22,6%

Tabel 4.4 Kinerja Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2010-2014

Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Struktur impor pakaian jadi tahun 2014, tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan struktur impor tahun 2013. Pakaian wanita tetap mendominasi impor pakaian jadi Indonesia di tahun 2014 dengan pangsa sebesar 42,5%, turun dibandingkan dengan pangsanya di tahun 2013 yang mencapai 45,8%. Peringkat ke-2 diduduki oleh impor T-shirt dan pakaian olahraga dimana pangsanya meningkat cukup signifikan sebesar 4,2% dari hanya 16,1% di tahun 2013 menjadi 20,3% di tahun 2014.

Pangsa impor pakaian pria dan pakaian bayi di tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan dengan pangsanya di tahun 2013 dari masing-masing sebesar 21,5% dan 2,1% menjadi 20,2% dan 1,5%. Pangsa impor pakaian jadi lainnya seperti kaos kaki, sarung tangan dan lain-lain meningkat dari 14,5% di tahun 2013 menjadi 15,5% di tahun 2014 (Gambar 4.4).

Gambar 4.4 Struktur Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014. Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Impor pakaian jadi Indonesia didominasi oleh impor dari RRT dengan pangsa sebesar 40,2% dari total impor pakaian jadi Indonesia 2014. Pada periode yang sama, nilai impornya mencapai USD 178,6 juta, mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar 21,2% dibanding tahun sebelumnya. Turki dan Hong Kong menempati peringkat ke-2 dan ke-3 negara asal impor pakaian jadi dengan nilai impor masing-masing mencapai USD 28,4 juta (naik 20,6% YoY) dan USD 26,4 juta (turun 7,0% YoY). Negara asal impor pakaian jadi Indonesia yang mengalami peningkatan yang signifikan antara lain Bangladesh dan Kamboja. Impor dari kedua negara tersebut pada tahun 2014 masing-masing mencapai USD 23,8 juta dan USD 11,6 juta atau mengalami peningkatan masing-masing sebesar 44,1% (YoY) dan 36,0% (YoY). (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 10 Negara Utama Asal Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014. Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Pangsa impor pakaian wanita dan pakaian pria dari RRT masing-masing sebesar 44,3% dan 40,4%. Maroko dan Hong Kong menduduki peringkat ke-2 dan ke-3 negara asal impor pakaian wanita dengan pangsa sebesar 7,4% dan 7,2%, sedangkan posisi ke-2 dan ke-3 pangsa impor pakaian pria ditempati oleh Bangladesh dan Vietnam dengan pangsa masing-masing sebesar 8,9% dan 8,1%. Posisi ke-2 dan ke-3 pangsa impor T-shirt dan pakaian olahraga ditempati oleh Korea Selatan dan Bangladesh dengan pangsa 12,8% dan 9,7%. India dan Malaysia juga menjadi negara asal impor ke-2 dan ke-3 untuk pakaian bayi di Indonesia dengan pangsa impor 21,1%

dan 14,8%. Untuk jenis pakaian jadi lainnya, Korea Selatan dan Hongkong memiliki pangsa masing-masing sebesar 19,3% dan 17,5% (Gambar 4.6).

Gambar 4.6 Negara Asal Impor Utama Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan Jenis Pakaian.

Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah

Pakaian Pria, 2014

Pakaian Bayi, 2014 Pakaian Wanita, 2014

T-Shirt dan Pakaian Olahraga, 2014

Pakaian Jadi Lainnya, 2014

PORTUGAL 2,2% VIETNAM 2,5% BANGLADESH 3,1% INDIA 3,2% SINGAPURA 4,0% SRI LANGKA 3,4% TURKI 6,6% HONGKONG 7,2% MAROKO 7,4% RRT 44,3% Lainnya 16,0% RRT 38,4% Lainnya 10,7% KOREA SELATAN 12,8% BANGLADESH 9,7% PORTUGAL 7,2% TURKI 7,0% VIETNAM 3,7% THAILAND 3,4% KAMBOJA 2,9% SRI LANGKA 2,3% INDIA 1,9% RRT 32,7% Lainnya 11,3% KOREA SELATAN 19,3% HONGKONG 17,5% TURKI 3,9 MALAYSIA 3,0% TAIWAN 3,3% JERMAN 2,9% SINGAPURA 2,3% JEPANG 2,1% PAKISTAN 1,7% RRT 40,4% Lainnya 14,6% MAROKO 2,4% MEKSIKO 2,5% THAILAND 2,8% PAKISTAN 2,9% INDIA 4,6% KAMBOJA 5,3% TURKI 7,4% VIETNAM 8,1% BANGLADESH 8,9% VIETNAM 1,8% SRI LANGKA 2,0% THAILAND 2,5% TURKI 2,7% KAMBOJA 3,8% 22,7%RRT Lainnya 7,6% INDIA 21,1% MALAYSIA 14,8% BANGLADESH 12,1% KOREA SELATAN 9,0%

5.4 Penutup

Sebelum 2005, sebaran industri dan perdagangan sangat ditentukan oleh kebijakan perdagangan, utamanya kebijakan ATC melalui kesepakatan di WTO. Kebijakan dalam ATC sudah dihapuskan sejak 2005. Penghapusan kebijakan tersebut tentunya merubah kembali peta perdagangan dunia. Negara berkembang pada umunya menjadi subkontraktor dan pasar perdagangan pakaian jadi, sementara negara maju menjadi lead firm dan pasar. Tentunya perlu ada peningkatan kemampuan untuk lebih meningkatkan perdagangan pakaian jadi sehingga dapat menentukan sendiri pasar dan ekspansi pasarnya.

Kinerja ekspor pakaian jadi dunia selama lima tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan positif sebesar 7,7% per tahun dan mencapai USD 382 miliar tahun 2013. RRT merupakan eksportir terbesar diikuti Italia dan Jerman. Negara ASEAN yang patut diperhitungkan di sektor pakaian jadi dunia adalah Vietnam, yang menduduki peringkat ke-4 eksportir pakaian jadi dunia. Tingginya ekspor pakaian jadi dari Vietnam salah satunya disebabkan oleh tingginya partisipasi negara tersebut dalam GVC, terutama untuk sektor tekstil, di mana produksi dan perdagangan pakaian jadi tidak akan lepas dari GVC. Bagi Indonesia, posisi dalam perdagangan internasional pakaian jadi masih ketinggalan dan hanya menempati posisi negara eksportir pakaian jadi ke-11 dunia.

Impor pakaian jadi dunia pada tahun 2013 mencapai USD 373,5 miliar dan tumbuh 5,6% dari tahun sebelumnya dengan tren positif pertumbuhan sebesar 4,9% per tahun. Amerika Serikat merupakan negara importir pakaian jadi terbesar dunia, diikuti Jerman dan Jepang.

Pakaian jadi merupakan salah satu produk ekspor utama bagi Indonesia dengan pangsa sekitar 5% dari total ekspor non migas. Total ekspor pakaian jadi Indonesia pada tahun 2014 mencapai USD 7,4 miliar dan turun sebesar 0,4% (YoY) dengan tren positif 2,1% per tahun untuk periode 2010-2014. Ekspor pakaian jadi Indonesia tahun 2014 terdiri atas ekspor pakaian wanita (40,1%), pakaian pria (30,6%), T-shirt dan pakaian olahraga (18,6%), pakaian bayi (3,3%) dan pakaian jadi lainnya (7,4%). Saat ini pasar utama ekspor pakaian jadi Indonesia adalah Amerika Serikat.

Impor pakaian jadi Indonesia juga menunjukkan kenaikan per tahun sebesar 6,7% selama lima tahun terakhir. Pangsa impor terdiri atas pakaian wanita (42,5%), T-shirt dan pakaian olahraga (20,3%), pakaian pria (20,2%), pakaian bayi (1,5%), dan pakaian jadi lainnya (15,5%) di tahun 2014. Impor pakaian jadi Indonesia mayoritas berasal dari RRT, Turki dan Hongkong,dengan lonjakan impor terbesar berasal dari Bangladesh dan Kamboja pada tahun yang sama.

Seluruh data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan strategi untuk mengembangkan perdagangan pakaian jadi, dan berpartisipasi dalam GVC merupakan strategi yang terbaik untuk meningkatkan perdagangan pakaian jadi. Dalam upaya untuk meningkatkan peran Indonesia di pasar global melalui GVC, pemerintah tentu saja perlu memperhatikan segmen-segmen dalam industri pakaian jadi yang memiliki nilai tambah yang besar.

DAFTAR PUSTAKA

Adhikari, R., & Weeratunge, C. (2006). Chapter 4: textiles and clothing sector in South Asia:coping with post-quota challenges. South Asian Yearbook of Trade and Development 2006 (pp. 109-145). New Delhi, India: CENTAD.

Bair, J. (2005). Global capitalism and commodity chains: looking back, going forward. Competition and Change, 9(2), 153-180.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2015). Data Perdagangan Indonesia.

Bartley, T. (2005). Corporate Accountability and the Privatization of Labor Standards: Struggles over Codes of Conduct in the Apparel Industry. In H. Prechel (Ed.), Politics and the Corporation (Vol. 14, pp. 211–244). Bingley, U.K.: Emerald.

Gereffi, G. (1999). International trade and industrial upgrading in the apparel commodity chain. Journal of International Economics, 48(1), 37-70.

Gereffi, G. and O. Memedovic. (2003). The Global Apparel Value Chain: What Prospects for Upgrading for Developing Countries (Report). Vienna, Austria: United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Gereffi, G. and S. Frederick. (2010). The Global Apparel Value Chain, Trade and the Crisis:Challenges and Opportunities for Developing Countries. In O. Cattaneo, G. Gereffi & C. Staritz (Eds.), Global Value Chains in a Postcrisis World (pp. 157–208). Washington, DC: World Bank.

Gereffi, G., R. Garcia-Johnson and E. Sasser. (2001). “The NGO-industrial complex.” Foreign Policy(125): 56-56-65.

Lopez-Acevedo, G. & R. Robertson. (2012). Sewing Success?. 1 ed. Washington DC: The World Bank.

International Trade Center (ITC). (2015). Creative Industries. Diunduh tanggal 6 Februari 2015 dari http://www.intracen.org/itc/sectors/creative-industries/.

Kementerian Perdagangan. (2015, Februari 17). Perkembangan Ekspor Nonmigas (Sektor)

Periode 2010-2014. Diunduh 18 Februari 2015, dari Kementerian Perdagangan:

http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/indonesia-export-import/growth-of-non-oil-and-gas-export-sectoral.

OTEXA. (2015). Textile and Apparel Trade Balance Report. Diunduh tanggal 18 Februari 2015 dari http://otexa.ita.doc.gov/tbrbal.htm.

Platzer, M.D. (2014). U.S. Textile Manufacturing and the Trans-Pacific Partnership Negotiations. Congressional Research Service Report. Diunduh tanggal 18 Februari 2015 dari https://www.fas.org/sgp/crs/row/R42772.pdf

Stark, K.F., S. Frederick dan G. Gereffi. (2011). The Apparel Global Value Chain: Economic

Upgrading and Workforce Development. Center on Globalization, Governance &

Competitiveness, Duke University.

Statista. (2015). Consumer spending on clothing in Germany 2005-2013. Diunduh tanggal 31 Maret 2015 dari http://www.statista.com/statistics/419897/clothing-consumption-expenditure-germany/.

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2015). OECD-WTO Trade in Value Added (TiVA). Diunduh tanggal 20 Februari 2015 dari http://stats. oecd.org/Index.aspx?DataSetCode=TIVA_OECD_WTO.

UN COMTRADE. (2015). Data Perdagangan Pakaian Jadi. Diunduh tanggal 10 Februari 2015 dari http://www.wits.worldbank.org.

United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). (2015). UNCTAD Product groupings. Diunduh tanggal 8 Februari 2015 dari http://unctadstat. unctad.org/UnctadStatMetadata/Classifications/UnctadStat.SitcRev3Products. UnctadProductGroupingslist.Classification_En.xls.

Vietnam Investment Review. (2012). TPP May Attract more Foreign Investment Projects in Textiles and Dyeing. June 19,2012. Diunduh tanggal 18 Februari 2015 dari http:// www.vir.com.vn/tpp-may-attract-more-foreign-investment-projects-in-textiles-and-dyeing.html.

World Trade Organization. (2015). International Trade Statistics 2014. Diunduh tanggal 5 Maret 2015 dari https://www.wto.org/english/res_e/ statis_e/its2014_e/its2014_e. pdf.

BAB V

PELUANG DAN TANTANGAN PERDAGANGAN

Dalam dokumen Info Komoditi Pakaian Jadi. INFO KOMODiTi (Halaman 73-83)