INFO KOMODITI
PAKAIAN JADI
Pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002
1. Barang siapa dengan segaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupah)
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
Info Komoditi
PAKAIAN JADI
EDITOR:
Zamroni Salim, Ph.D
Ernawati, Ph.D
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Al Mawardi Prima, Jakarta 2015
Zamroni Salim, Ph.D dan Ernawati, Ph.D Copyright © 2015
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
All rights reserved Diterbitkan oleh
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan
Al Mawardi Prima Anggota IKAPI DKI Jaya Diterbitkan pertama: Juli 2015 Desain Cover : Piter Prihutomo Sumber Cover depan searah jarum jam 1. Dokumentasi Piter Prihutomo; 2. Puspita Dewi
Sumber cover belakang : 1. Piter Prihutomo; 2. Puspita Dewi
xii, 103 hlm, 17,5 x 25 cm ISBN: 978-979-461-890-5
Pengarah:
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Penanggung Jawab : Sekretaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Redaksi Pelaksana: 1. Puspita Dewi, SH, MBA 2. Maulida Lestari, SE, ME 3. Reni K. Arianti, SP, MM 4. Suler Malau, SH 5. Primakrisna T, SIP, MBA 6. Dwi Yulianto, S.Kom
AMP Press Imprint Al-Mawardi Prima
Anggota IKAPI JAYA
Jl. H. Naimun No. 1 Pondok Pinang, Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp/Fax. (021) 29325630
Email: [email protected] Website: www.almawardiprima.co.id
Industri pakaian jadi merupakan industri vital yang secara ekonomi memberikan kontribusi baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun sumbangan nilai tambah yang dihasilkannya terhadap Produk Domestik Buto (PDB) Indonesia. Industri pakaian jadi merupakan salah satu jenis industri yang masuk dalam rangkaian industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dari hulu ke hilir. Dari industri hulu, TPT mencakup industri serat, pemintalan dan benang, perajutan, pencapan (printing) dan penyempurnaan (finishing), dan di hilir industri TPT mencakup industri pakaian jadi. Sejauh mana industri pakaian jadi berkontribusi bagi perekonomian Indonesia terutama dilihat dari sisi perdagangan baik perdagangan dalam negeri maupun luar negeri dan bagaimana prospek industri ini di masa yang akan datang? Buku Bunga Rampai Info Komoditi Pakaian Jadi menyajikan berbagai data dan informasi faktual terkait dengan perkembangan industri dan perdagangan pakaian jadi Indonesia di tengah pusaran persaingan industri pakaian jadi global.
Buku bunga rampai ini disusun dalam beberapa bab yang kesemuanya bermuara pada aspek perdagangan. Bab I merupakan bab pendahuluan menguraikan posisi industri pakaian jadi di Indonesia sebagai industri yang strategis dan juga menjelaskan fenomena yang terjadi di pasar global secara singkat.
Bab II merupakan bab yang menguraikan sisi produksi pakaian jadi. Dalam bab ini dibahas mengenai asal-usul bahan baku dan produksi pakaian jadi, perkembangan produksi dan kinerja pakaian termasuk aspek produksi yang menyangkut kapasitas terpasang dan utilisasi produksi dalam industri pakaian jadi. Hal lain yang disajikan
dalam Bab II menyangkut aspek finansial dan biaya produksi yang berperan
dalam menentukan keberlangsungan hidup industri pakaian jadi. Peran dan posisi Indonesia dalam jaringan Global Value Chain (GVC) juga diulas.
Konsumsi dan perdagangan pakaian jadi di dalam negeri menjadi topik menarik yang dibahas dalam Bab III. Dalam bab ini diuraikan bagaimana produk pakaian jadi dikonsumsi/digunakan oleh konsumen di Indonesia. Diuraikan juga mengenai struktur pasar industri pakaian jadi yang ditandai dengan banyaknya penjual dan pembeli. Penjual meliputi produsen pakaian jadi, baik yang bermerek maupun yang tidak bermerek dagang, sekaligus pedagang yang memasarkan produk pakaian jadi langsung sampai ke konsumen. Meskipun banyak produsen dan penjual, namun dalam industri pakaian jadi ada kekhasan tersendiri, di mana sebagian produsen memasarkan produk pakaian jadi dengan mencantumkan brand atau merek tertentu
yang membedakannya dengan produk sejenis yang berasal dari produsen/penjual lainnya.
Keberadaan produk impor ilegal di pasar dalam negeri baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi daya saing industri pakaian jadi nasional di bahas dalam bab ini. Selain itu, aspek perdagangan dalam negeri, masalah kualitas dan pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam upaya untuk melindungi konsumen dalam negeri juga diuraikan.
Dalam Bab IV diuraikan mengenai pakaian jadi dalam perdagangan dunia atau peta perdagangan internasional. Setelah adanya penghapusan kuota dalam perdagangan tekstil dan pakaian jadi serta pasca krisis finansial global, terjadi pergeseran peta negara produsen/eksportir pakaian jadi dunia. Pada bab ini juga diuraikan mengenai kinerja ekspor dan impor pakaian jadi Indonesia secara khusus, termasuk produk utama yang mendominasi ekspor pakaian jadi dari Indonesia.
Bab V menguraikan peluang dan tantangan perdagangan pakaian jadi Indonesia. Pertumbuhan permintaaan diperkirakan masih tetap didominasi oleh peningkatan permintaan dari pasar negara-negara utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Keikutsertaan dalam GVC menjadi pilihan yang sulit untuk dielakkan. Namun demikian, tantangan lain yang dihadapi dalam internal industri pakaian jadi juga harus diperhatikan. Masalah sumber finansial dan suku bunga, kenaikan biaya produksi yang bersumber dari kenaikan tarif dasar listrik dan upah minimum adalah hal mendasar yang perlu ditangani dengan bijak oleh pemerintah dan dunia usaha.
Dalam hal produksi, permasalahan yang muncul adalah usia mesin-mesin yang relatif sudah tua. Permasalahan ini banyak dihadapi oleh sektor hulu produk tekstil sehingga menurunkan produktivitas industri TPT yang sekaligus berimbas pada industri pakaian jadi. Permasalahan lain dalam hubungannya dengan persaingan khususnya di pasar dalam negeri adalah fenomena maraknya produk pakaian jadi impor ilegal yang masuk ke pasar domestik. Faktor-faktor tersebut menyebabkan daya saing industri pakaian jadi nasional semakin melemah dibanding negara-negara produsen lainnya. Di pasar global, munculnya pesaing-pesaing baru dalam industri pakaian jadi hendaknya menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah Indonesia dan pelaku usaha pakaian jadi sehingga industri pakaian jadi nasional tetap bisa bersaing baik di pasar dalam negeri maupun global.
Bab VI merupakan bab terakhir, menjelaskan keterkaitan antar bab/benang merah keseluruhan bab yang mengkaji masalah industri pakaian jadi mulai dari produksi, perdagangan dalam negeri dan luar negeri sekaligus prospek industri pakaian jadi Indonesia.
Semoga Buku Bunga Rampai Info Komoditi Prioritas Pakaian Jadi ini bisa memberikan sumbangan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pengambil keputusan baik dalam lingkup pemerintah maupun dunia usaha. Diharapkan juga bahwa buku ini bisa bermanfaat bagi konsumen untuk menambah wawasan mereka dalam mengkonsumsi pakaian jadi dan menjadi pembeli yang cerdas.
Kehadiran buku ini tentu masih ada kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak sangat diharapkan bagi perbaikan buku ini di masa yang akan datang.
Jakarta, Juli 2015
Pengantar Editor... v
Daftar Isi ...viii
Daftar Gambar ...ix
Daftar Tabel ... x
BAB I PAKAIAN JADI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF PERDAGANGAN GLOBAL Ernawati Munadi ... 1
BAB II PRODUKSI PAKAIAN JADI INDONESIA Sefiani Rayadiani... 6
BAB III KONSUMSI DAN PERDAGANGAN PAKAIAN JADI INDONESIA Avif Haryana dan Wibowo Kurniawan ... 28
BAB IV PAKAIAN JADI INDONESIA DALAM PERDAGANGAN DUNIA Umar Fakhrudin dan Septika Tri Ardiyanti ... 56
BAB V PELUANG DAN TANTANGAN PERDAGANGAN PAKAIAN JADI INDONESIA Arie Mardiansyah... 73
BAB VI MEMBANGKITKAN KEMBALI INDUSTRI PAKAIAN JADI INDONESIA Zamroni Salim ... 93
Indeks ... 100
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Nilai Produksi dan Pertumbuhan Industri Pakaian Jadi Global ... 7
Gambar 2.2 Peta Produsen Utama Industri Pakaian Jadi Dunia, 2012 ... 8
Gambar 2.3 Kategori Segmentasi Produk Pakaian Jadi Global ... 9
Gambar 2.4 Pohon Industri Tekstil dan Produk Tekstil ...11
Gambar 2.5 Kapasitas Terpasang, Produksi dan Utilisasi Produksi Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2009-2013 ... 12
Gambar 2.6 Nilai Produksi dan Utilisasi Produksi Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2009-2012 ... 14
Gambar 2.7 Perkembangan Indeks Partisipasi Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012 ... 15
Gambar 2.8 Komposisi Nilai Tambah Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012 ... 16
Gambar 2.9 Perkembangan Biaya Input Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2000-2013 ... 18
Gambar 2.10 Komposisi Biaya Input Industri Pakaian Jadi ... 19
Gambar 2.11 Rantai Nilai Global Pakaian Jadi ... 22
Gambar 2.12 Tahapan Kegiatan dalam Rantai Nilai Global Pakaian Jadi ... 22
Gambar 3.1 Konsumsi Pakaian Jadi Domestik, 2009-2014 ... 30
Gambar 3.2 Rata-Rata Konsumsi Pakaian, Alas Kaki, dan Tutup Kepala per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Golongan Pengeluaran per Kapita Sebulan, 2009-2012 ... 31
Gambar 3.3 Jaringan Pemasaran Pakaian Jadi di Dalam Negeri ... 36
Gambar 3.4 Perkembangan Harga Pakaian Pria ... 38
Gambar 3.5 Perkembangan Harga Pakaian Wanita ... 39
Gambar 4.1 Struktur Ekspor Pakaian Jadi, 2013-2014 ... 64
Gambar 4.2 10 Negara Utama Tujuan Ekspor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014 ... 65
Gambar 4.3 Negara Tujuan Ekspor Utama Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan Jenis Pakaian, 2004 ... 66
Gambar 4.4 Struktur Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014 ... 67
Gambar 4.5 10 Negara Utama Asal Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2013-2014 ... 68
Gambar 4.6 Negara Asal Impor Utama Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan Jenis Pakaian 69 Gambar 5.1 Nilai dan Pangsa Pasar Pakaian Jadi Dunia Tahun 2012, 2025 dan tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan ... 76
Tabel 2.1 Produsen Utama Pakaian Jadi Dunia Tahun 2012 ... 8
Tabel 2.2 Perkembangan Nilai Investasi dan Jumlah Perusahaan Industri Pakaian Jadi Indonesia... 12
Tabel 2.3 Perkembangan Nilai Output dan Nilai Tambah Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2009-2013 ... 14
Tabel 2.4 Perkembangan Nilai Tambah dan Pertumbuhan Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012 ... 17
Tabel 2.5 Perkembangan Indikator Partisipasi Rantai Nilai Global Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki ... 24
Tabel 3.1 Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang, 2019-2013 ... 31
Tabel 3.2 Jumlah Perusahaan Pakaian Jadi dan Kepemilikannya ... 34
Tabel 3.3 Brand Pakaian Jadi... 35
Tabel 3.4 Kenaikan Harga Tahunan Pakaian Jadi ... 39
Tabel 3.5 Koefisien Keragaman Pakaian Jadi 2014 ... 40
Tabel 3.6 Daftar SNI Untuk Produk Pakaian Jadi... 46
Tabel 3.7 Nilai Impor Pakaian Bekas... 50
Tabel 4.1 Eksportir Pakaian Jadi Dunia, 2011-2013 ... 59
Tabel 4.2 Importir Pakaian Jadi Dunia, 2011-2013 ... 62
Tabel 4.3 Kinerja Ekspor Pakaian Jadi Indonesia, 2010-2014 ... 63
Tabel 4.4 Kinerja Impor Pakaian Jadi Indonesia, 2010-2014 ... 67
Tabel 5.1 Perkiraan Pertumbuhan GDP ... 74
Tabel 5.2 Perkembangan Jumlah Penduduk, Konsumsi Pakaian Jadi, dan Penguasaan Pasar Pakaian Jadi Dalam Negeri Indonesia, 2009-2013 .... 75
Tabel 5.3 The Global Competitiveness Index, 2014-2015 ... 81
Tabel 5.4 Persentase Ekspor Negara-Negara Pengekspor Utama Dunia ... 82
Tabel 5.5 Indeks RCA Negara-Negara Pengekspor Utama di Asia... 83
Tabel 5.6 Perbandingan Produktivitas Tenaga Kerja dan Upah Minimum di Negara-Negara Asia ... 84
BAB I
PAKAIAN JADI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF
PERDAGANGAN GLOBAL
Ernawati Munadi
Berbicara tentang industri pakaian jadi tidak terlepas dari industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Hal itu karena industri pakaian merupakan bagian dari struktur industri TPT secara umum. Struktur industri TPT terbentuk dari beberapa jenis industri yang membentuk sebuah rangkaian dari hulu ke hilir. Di hulu, industri ini mencakup industri serat, pemintalan dan benang, perajutan, pencapan (printing) dan penyempurnaan (finishing), dan di hilir industri TPT meliputi industri pakaian jadi. Keseluruhan produk subsektor industri tekstil ini sering disebut Tekstil dan Produk Tekstil, disingkat TPT.
Industri hulu sektor ini khususnya Industri pemintalan dan pertenunan tradisional sudah ada di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, bahkan hingga awal era Orde Baru. Pada saat itu industri tekstil Indonesia praktis hanya berfungsi sebagai penenun dan perajut, karena semua bahan baku masih harus diimpor. Industri-industri penunjang lain seperti industri pemintalan dan industri yang memproduksi serat sintetis, yang menyediakan bahan baku untuk memproduksi tekstil berkembang beberapa saat khususnya sejak disahkannya Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan Dalam Negeri (PMA dan PMDN) tahun 1967 dan 1968. Beberapa tahun sejak itu, industri tekstil dalam negeri berkembang makin modern dan makin terpadu mulai dari hulu hingga hilir (BKPM, 2011).
Industri pakaian jadi sendiri baru mulai berkembang pada pertengahan tahun 70-an, yakni sewaktu produsen tekstil dalam negeri telah mampu menyediakan tekstil jadi untuk diolah menjadi pakaian jadi. Bahkan melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional dan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 109/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Tekstil dan Produk Tekstil, pemerintah telah menetapkan industri pakaian jadi sebagai salah satu klaster industri prioritas berbasis industri manufaktur yang dikembangkan oleh pemerintah sepanjang tahun 2010-2014.
1.1 Industri Pakaian jadi sebagai Sektor Strategis di tengah Tantangan Global
Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia disamping kebutuhan akan makanan, rumah dan perabotan rumah tangga, konsumsi pakaian jadi
di Indonesia menunjukkan tren perkembangan yang positif. Selama periode 2009-2014 konsumsi pakaian jadi di Indonesia tumbuh sebesar 6,89% per tahun yaitu meningkat dari 209,3 ribu ton pada tahun 2009 menjadi 308,4 ribu ton pada tahun 2014 (BPS, 2014). Hal itu juga didukung oleh data terkait persentase pangsa pengeluaran rumah tangga untuk pakaian, termasuk didalamnya alas kaki dan tutup kepala naik dari 3,3% pada tahun 2009 menjadi 6,5% pada tahun 2013. Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran untuk makanan yang mencapai lebih dari 47% (BPS, 2012).
Sebagai industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, industri pakaian jadi merupakan industri yang patut diperhitungkan dalam pengembangan investasi ke depan. Industri pakaian jadi mampu menyerap tenaga kerja sebesar 473.594 jiwa atau 10,81% dari jumlah total tenaga kerja industri besar dan sedang di Indonesia pada tahun 2013 dan menempati urutan kedua setelah industri makanan (BPS, 2015a).
Nilai strategis industri pakaian jadi juga ditunjukkan dalam perannya terhadap investasi. Selama periode 2009-2013, pakaian jadi juga merupakan salah satu sektor yang menjadi target investasi di Indonesia. Pertambahan investasi di sektor pakaian jadi tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 17,6% per tahun, dengan nilai investasi yang meningkat sebesar 3,08% per tahun. Sementara jumlah perusahaan yang bergerak di sektor pakaian jadi juga tumbuh dari 2.639 perusahaan pada tahun 2009 menjadi 2.739 perusahaan pada tahun 2014 dengan pertumbuhan 0,93% per tahun (Kementerian Perindustrian, 2014). Dalam hal kapasitas terpasang, industri pakaian jadi juga menunjukkan kecenderungan yang sama, meningkat dengan pertumbuhan sebesar 3,4%. Namun, sayangnya pertumbuhan yang positif tersebut belum diimbangi dengan kapasitas terpasang yang maksimal sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan. Hal ini ditunjukkan dengan situasi dimana meskipun jumlah industri pakaian jadi terus bertambah namun ternyata utilisasi yang terjadi pada industri pakaian jadi termasuk rendah yaitu hanya berkisar antara 70-75% saja.
Pentingnya peran industri pakaian jadi juga terlihat dari kontribusinya terhadap ekspor Indonesia. Selama periode 2010-2014, kontribusi ekspor pakaian jadi terhadap total ekspor non migas Indonesia cenderung stabil rata-rata sebesar 0,5% per tahun. Sempat mengalami penurunan kontribusi terhadap total ekspor non migas pada periode 2011-2013, namun terjadi peningkatan kontribusi kembali pada tahun 2014. Selama periode 2010-2014 ekspor pakaian jadi Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 2,1% per tahun dengan total ekspor pada tahun 2014 sebesar USD 7,4 miliar. Sebaliknya,
nilai impor pakaian jadi Indonesia juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan yang jauh melampaui pertumbuhan ekspor pakaian jadi yaitu tumbuh sebesar 13% per tahun. Pada tahun 2014 impor pakaian jadi Indonesia mencapai USD 444,5 juta mengalami penurunan sebesar 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut data Bankmed–Market & Economic Research Division (2014), di tengah situasi industri pakaian jadi di dunia yang menunjukkan perkembangan yang relatif stabil, Indonesia hanya mampu menduduki peringkat ke-13 terhadap total produksi pakaian jadi dunia. Tahun 2009 industri pakaian jadi dunia memproduksi pakaian jadi dengan nilai mencapai USD 1,1 miliar dan pada tahun 2013 nilai produksinya mencapai USD 1,25 miliar dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 2,8%. Industri pakaian jadi dunia didominasi oleh kawasan Asia dengan kontribusi yang mencapai lebih dari 65%. Berdasarkan data UN COMTRADE (2015a), pada tahun 2012 tiga produsen utama pakaian jadi dunia berasal dari kawasan Asia yaitu Tiongkok, India, dan Pakistan dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 47,2%; 7,1%; dan 3,1%. Sementara Indonesia pada periode yang sama hanya berkontribusi sebesar 1,1% terhadap produksi pakaian jadi dunia. Pakaian wanita mendominasi kategori produk pakaian jadi dengan share lebih dari 50%, diikuti oleh pakaian pria dan pakaian anak-anak dengan share masing-masing sebesar 32,3% dan 17,0%.
Dari sisi ekspor, industri pakaian jadi Indonesia hanya mampu berkontribusi sebesar 1,93% terhadap total ekspor pakaian jadi dunia tahun 2013 yang mencapai USD 283 miliar dan berada pada urutan yang ke-11. Sementara negara tetangga seperti Vietnam pada periode yang sama mampu berkontribusi sebesar 4,38% dengan tren pertumbuhan yang fantastis selama periode 2012-2013 sebesar 18,94% disaat Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 2,87%.
1.2 Fenomena di Pasar Global dan Permasalahan di Dalam Negeri Industri Pakaian Jadi Indonesia
Meskipun menunjukkan perkembangan ke arah yang positif, namun saat ini banyak kendala yang dihadapi oleh industri pakaian jadi Indonesia. Dari sisi produksi, industri pakaian jadi merupakan sebuah komoditi yang menjadi fenomena global. Industri pakaian jadi saat ini bukan lagi merupakan industri yang hanya merakit pakaian sederhana di kawasan tertentu yang bahan-bahan input-nya bisa berasal dari impor. Industri pakaian jadi saat ini menjadi sebuah industri yang berorientasi kepada Original Equipment Manufacturing (OEM). Dengan model OEM ini, industri pakaian jadi menjadi lebih terintegrasi
secara domestik dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dalam bentuk ekspor. Proses untuk memproduksi pakaian jadi dengan merek internasional tidak lagi diproduksi dalam suatu jalur integrasi vertikal di suatu negara yang sama melainkan dapat diproduksi terpisah di beberapa negara dalam suatu rantai nilai global atau Global Value Chain (GVC). Dengan demikian maka negara pemegang merek internasional tidak harus memproduksi pakaian jadi tersebut di negaranya, namun dapat mensubkontrakkan ke banyak
negara bahkan negara berkembang yang mempunyai tingkat efisiensi tinggi.
Terkait dengan perkembangan pakaian jadi dalam rantai GVC tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam rantai GVC termasuk masih sangat rendah dan bahkan cenderung menurun. Data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2013 menunjukkan bahwa keterlibatan beberapa negara dalam rantai GVC untuk pakaian jadi menunjukkan bahwa Indonesia hanya menunjukkan angka 5,3 pada tahun 1995 dan turun menjadi 2,6 pada tahun 2009 (OECD Stat, 2013). Angka ini tertinggal jauh dibelakang Vietnam dengan indikator keterlibatan yang mencapai angka 10,1 pada tahun 1995 dan terus meningkat hingga 14,2 pada tahun 2009. Demikian juga dengan indeks keterlibatan Kamboja yang hanya sedikit dibawah Vietnam.
Dari sisi konsumsi, Industri pakaian jadi Indonesia juga menghadapi banyak permasalahan terkait dengan impor produk pakaian jadi, khususnya impor pakaian jadi dalam keadaan bekas yang mencapai 20% terhadap total impor pakaian jadi (BPS, 2015b). Impor pakaian jadi bekas ini ditengarai sangat berpengaruh terhadap kelangsungan industri pakaian jadi dalam negeri yang pada akhirnya menurunkan daya saing. Permasalahan yang juga dihadapi oleh industri pakaian jadi dalam negeri juga terkait dengan biaya produksi pakaian jadi di Indonesia yang juga cenderung meningkat dimana dalam tahun 2009-2013 pertumbuhan rata-rata tahunan biaya input industri pakaian jadi nasional sebesar 11,1% (BPS, 2015b).
Belum lagi dengan permasalahan-permasalahan lainnya yang dihadapi oleh industri pakaian jadi Indonesia diantaranya permasalahan terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Melemahnya nilai tukar rupiah seharusnya merupakan faktor pendorong dalam meningkatkan daya saing dan ekspor Indonesia, namun mengingat industri pakaian jadi yang masih menggunakan bahan baku impor, akhirnya melemahnya nilai tukar rupiah ini justru memperlemah daya saing pakaian jadi Indonesia. Permasalahan lain yang juga terkait adalah masalah mesin dalam industri tekstil yang umurnya relatif tua serta meningkatnya upah minimum tenaga kerja yang pada akhirnya semakin memperlemah daya saing pakaian jadi Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS). (2012). Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan di Daerah Perkotaan dan Perdesaan Menurut Kelompok Barang dan Golongan Pengeluaran per Kapita Sebulan 2000-2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Stastistik (BPS). (2014). Statistik Industri Manufaktur. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015a). Industri Besar dan Sedang: Jumlah Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang Menurut Sub Sektor, 2008-2013. Diunduh 20 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http:/ http://www.bps.go.id/ linkTabelStatis/view/id/1063.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015b). Data Perdagangan Indonesia.
Bankmed – Market & Economic Research Division. (2014). Special Report: Analysis of Lebanon’s Apparel Market – March 2014. Lebanon: Bankmed - Market & Economic Research Division.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). (2011). Kajian Pengembangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Badan KoordinasiPenanaman Modal. Kementerian Perindustrian. (2014). Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional
2015-2035. Jakarta: Kementerian Perindustrian.
OECD Stat. (2013). OECD Global Value Chains Indicators – May 2013. Diunduh 10 Februari 2015, dari OECD.StatExtracts.
UN COMTRADE. (2015). World Export of Manufacture of Wearing Apparel, Dressing, and Dyeing Fur, Diunduh 5 Februari 2015, dari WITS: World Integrated Trade Solution: https://wits.worldbank.org/WITS/WITS/Restricted/Login. aspx.
Informasi-informasi tersebut di atas merupakan beberapa fakta penting tentang Pakaian Jadi yang akan dibahas secara mendalam dalam Info Komoditi Pakaian Jadi edisi kali ini. Kami berharap semoga tulisan ini mampu memberikan wawasan tentang Pakaian Jadi khususnya dan secara luas bermanfaat bagi seluruh pembaca.
BAB II
PRODUKSI PAKAIAN JADI INDONESIA
Sefiani Rayadiani
2.1 Pendahuluan
Industri pakaian jadi sebagai salah satu bagian dari subsektor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), Barang Kulit, dan Alas Kaki merupakan
industri tertua di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan dalam
perekonomian Indonesia. Selama lima tahun terakhir (2010-2014) subsektor industri TPT, Barang Kulit, dan Alas Kaki1 memberikan rata-rata kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 1,90% per tahunnya dan 9,06% terhadap industri pengolahan tanpa migas (Badan Pusat Statistik, 2015a). Laju pertumbuhan produksi kumulatif subsektor industri TPT, Barang Kulit, dan Alas Kaki pada periode yang sama berkisar 1,7% - 7,52% (Badan Pusat Statistik, 2015b).
Selain peranannya terhadap perekonomian dan ekspor, industri pakaian jadi juga memiliki peran sosial dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Industri pakaian jadi adalah industri yang menyerap banyak tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung. Badan Pusat Statistik (2015c) mencatat jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri pakaian jadi Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 473.594 jiwa atau 10,81% dari jumlah total tenaga kerja industri besar dan sedang di Indonesia. Penyerapan tenaga kerja di industri pakaian jadi tersebut menempati urutan kedua setelah industri makanan.
Di sisi lain, pengeluaran per kapita untuk pakaian jadi secara global pada tahun 2012 mencapai USD 153 dan diprediksikan akan naik menjadi USD 247 pada tahun 2025. Tingkat pertumbuhan pengeluaran pakaian jadi per kapita di negara-negara berkembang pada tahun 2025 diperkirakan juga akan lebih tinggi daripada negara-negara maju (Tot, 2014). Tingginya konsumsi dan pengeluaran per kapita atas pakaian jadi di Indonesia dan dunia mengindikasikan terdapatnya potensi pasar produk pakaian jadi nasional di pasar domestik maupu global yang dapat menjadi peluang bagi industri pakaian jadi Indonesia.
Gambaran di atas menunjukkan tentang betapa pentingnya peranan industri pakaian jadi baik dalam perekonomian, perdagangan, penyerapan tenaga kerja maupun peluang pasar. Bab ini mengulas mengenai produksi
1 Subsektor TPT, Barang Kulit, dan Alas Kaki merupakan salah satu subsektor yang termasuk dalam sektor Industri
dunia, perkembangan produksi dan kinerja industri pakaian jadi Indonesia, biaya produksi, dan pakaian jadi dalam Global Value Chain (GVC).
2.2 Produksi Dunia
Resesi global, yang dipicu oleh krisis finansial di Amerika Serikat pada
tahun 2008, menyebar dengan pesat ke negara-negara industri maju dan berdampak terhadap produksi pakaian jadi dunia. Dengan adanya kondisi tersebut, permintaan pakaian jadi dunia, khususnya dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, mengalami penurunan pada tahun 2009. Resesi global mengakibatkan penutupan pabrik dan pemberhentian tenaga kerja di industri pakaian jadi. Sementara, negara-negara maju baru (emerging countries)
seperti RRT mempertahankan pertumbuhan yang tinggi pasca krisis finansial
global 2008 sehingga hal ini dapat menyangga industri pakaian jadi global dari dampak yang lebih buruk akibat resesi global. Gambar 2.1 memperlihatkan pertumbuhan produksi industri pakaian jadi dunia pada tahun 2009 sebesar 2,2% dengan nilai produksi industri pakaian jadi dunia sebesar USD 1,1 triliun. Pada tahun 2012 nilai produksi industri pakaian jadi global mencapai USD 1,2 triliun, naik 3,1% dari tahun 2011. Bankmed – Market & Economic Research Division (2014) mencatat pertumbuhan rata-rata tahunan industri pakaian jadi dunia dalam kurun waktu 2008-2012 adalah sebesar 2,8%.
Gambar 2.1 Nilai Produksi dan Pertumbuhan Industri Pakaian Jadi Global.
Sumber: Bankmed-Market & Economic Research Division (2014)
Yen (2012) berpendapat bahwa sebagian besar produsen utama pakaian jadi dunia pada tahun 2012 terletak di benua Asia sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 2.2. Hal ini diperkuat oleh data Institute of Studies and Industrial Marketing of Brazil (Gotexshow, 2015) yang menunjukkan pangsa produksi pakaian jadi benua Asia pada tahun 2012 lebih dari 65%. Sembilan dari lima belas produsen utama pakaian jadi dunia ada di benua Asia,
1.117 1.141 1.181 1.212
1.249
2,2% 3,5% 2,6% 3,1%
Nilai Produksi Industri Pakaian Jadi Global (USD Miliar) Pertumbuhan (%)
Gambar 2.2 Peta Produsen Utama Industri Pakaian Jadi Dunia, 2012.
Sumber: Yen (2012)
Tabel 2.1 Produsen Utama Pakaian Jadi Dunia Tahun 2012
Produsen Utama Pakaian Jadi Dunia
Negara Pangsa terhadap
Produksi Dunia RRT 47,2% India 7,1% Pakistan 3,1% Brazil 2,6% Turki 2,5% Korea Selatan 2,1% Meksiko 2,1% Italia 1,9% Malaysia 1,4% Taiwan 1,4% Polandia 1,4% Romania 1,2% Indonesia 1,1% Bangladesh 1,0% Thailand 1,0% Lainnya 22,7% Total 100% Sumber: Gotexshow (2015), diolah
Berdasarkan kategori produk, pakaian wanita mendominasi segmentasi produksi industri pakaian jadi global (50,7%) pada tahun 2012. Berikutnya adalah produk pakaian pria (32,3%) dan pakaian anak-anak (17,0%) (Gambar 2.3).
dimana RRT, India, dan Pakistan menduduki posisi tiga teratas (Tabel 2.1). Indonesia sendiri sebagai salah satu produsen utama dunia memiliki pangsa produksi sebesar 1,1% dari produksi industri pakaian jadi dunia.
Gambar 2.3 Kategori Segmentasi Produk Pakaian Jadi Global.
Sumber: Bankmed-Market & Economic Research Division (2014)
Di sisi lain, Yen (2012) mencatat bahwa pada tahun 2012 RRT memimpin pasar dalam memproduksi keseluruhan jenis produk pakaian jadi yang diminta oleh dunia. Sementara itu, India mengkhususkan diri untuk memproduksi kemeja katun/blus bukan rajutan, Vietnam memfokuskan produksi kemeja
katun rajutan, kemeja multi fiber rajutan, dan celana multi fiber, sedangkan
Bangladesh menspesialisasikan diri untuk memproduksi produk kemeja katun bukan rajutan, celana panjang/ celana pendek katun. Indonesia sendiri terkenal dengan spesialisasi produksi produk kemeja katun.
2.3 Perkembangan Produksi dan Kinerja Industri Pakaian Jadi Indonesia Industri pakaian jadi di Indonesia mulai berkembang sejak akhir tahun 1970-an. Pada masa itu Pemerintah Orde Baru memberikan perhatian dan dukungan khusus melalui berbagai kebijakan proteksi, seperti proteksi tarif bea masuk, prosedur lisensi impor, dan biaya tambahan untuk impor yang dikombinasikan dengan alokasi kuota ekspor, yang bertujuan untuk melindungi industri TPT dari persaingan asing (Vickers, 2012).
Pada tahun 1980-an pemerintah mulai memfokuskan pada kebijakan investasi dan liberalisasi pada sektor industri TPT. Pemerintah memberikan pembebasan tarif bea masuk atas bahan baku/penolong, skema insentif, dan tingkat suku bunga rendah guna mendorong produksi industri pakaian jadi nasional (Badan Koordinasi Penanaman Modal/BKPM, 2011). Sebagai industri baru di Indonesia pada masa itu, industri pakaian jadi mulai memberikan kontribusi terhadap ekspor pada awal tahun 1980-an. Ekspor pakaian jadi Indonesia melebihi permintaan domestik selama periode 1980-1993. Bahkan Nur (2010) berpendapat bahwa pada periode 1986-1997 pakaian jadi sebagai komoditi primadona. Pada tahun 1992 ekspor pakaian jadi mencapai puncaknya dan kemudian mengalami pertumbuhan negatif (BKPM, 2011). Pakaian Anak-Anak 17,0% Pakaian Pria 32,3% Pakaian Wanita 50,7%
Saat terjadinya krisis moneter 1997-1998 banyak produsen pakaian jadi Indonesia yang kehilangan sumber pembiayaannya karena banyak bank dilikuidasi oleh pemerintah pada masa itu. Krisis moneter 1997-1998 yang menyebabkan ketidakpastian iklim usaha, kenaikan suku bunga, depresiasi nilai tukar dan biaya produksi yang tinggi mengakibatkan industri pakaian jadi dalam negeri terpuruk dan produktivitasnya menurun (BKPM, 2011; Nur, 2010).
Pandangan bahwa industri pakaian jadi merupakan industri yang meredup (sunset industry) menyebabkan kurangnya antusiasme investasi di industri pakaian jadi pasca krisis moneter 1997-1998. Kebijakan industri pakaian jadi yang ada lebih difokuskan pada kebijakan-kebijakan untuk mengatasi penurunan jumlah tenaga kerja. Berbeda dengan perkembangan industri pakaian jadi di Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong yang memiliki integrasi vertikal yang kuat, kondisi tersebut tidak terjadi di industri pakaian jadi di Indonesia (Vickers, 2012).
Selama periode 1998-2002 industri pakaian jadi dalam negeri mengalami masa yang sulit, bahkan Nur (2010) berpendapat bahwa periode ini merupakan periode kekacauan, penyelamatan, dan bertahan industri pakaian jadi nasional. Kemudian seiring dengan membaiknya kondisi makroekonomi Indonesia sejak tahun 2002, industri pakaian jadi nasional memasuki upaya revitalisasi dan normalisasi. Sejak tahun 2007 pemerintah melakukan proses restrukturisasi mesin TPT di Indonesia, termasuk industri pakaian jadi dalam negeri.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional dan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 109/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Tekstil dan Produk Tekstil menetapkan industri pakaian jadi sebagai salah satu klaster industri prioritas berbasis industri manufaktur yang dikembangkan oleh pemerintah sepanjang tahun 2010-2014.
Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)
tahun 2007, kelompok industri pakaian jadi sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 109/M-IND/ PER/10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Tekstil dan Produk Tekstil mencakup industri pakaian jadi rajutan (KBLI 17302), industri pakaian jadi dari tekstil dan perlengkapannya (KBLI 18101) dan industri pakaian jadi (konveksi) dan perlengkapannya
(KBLI 18102). Sementara menurut pengklasifikasian KBLI 2009, industri
Gambar 2.4 Pohon Industri Tekstil dan Produk Tekstil.
Sumber: Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (2014)
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (2014) dan Badan Pusat Statistik (2014), jumlah perusahaan industri pakaian jadi mengalami peningkatan setiap tahunnya selama periode 2009-2013. Hal ini seiring dengan penambahan nilai investasi pada industri pakaian jadi setiap tahunnya. Pada tahun 2009 jumlah perusahaan industri pakaian jadi di Indonesia sebanyak 2.639 sedangkan pada tahun 2013 sebanyak 2.739 perusahaan. Nilai investasi pada tahun 2013 mencapai Rp 42,4 triliun, lebih tinggi daripada nilai investasi pada tahun 2009 sebesar Rp 37,5 triliun (Tabel 2.2).
14111), industri pakaian jadi rajutan (KBLI 14301), dan industri pakaian jadi sulaman/bordir (KBLI 14302).
Dalam pohon industri TPT, terdapat 3 sub sektor, yakni sub sektor hulu, sub sektor antara, dan sub sektor hilir. Sub sektor hulu meliputi industri serat dan benang, dimana industri serat mencakup serat alam, serat stapel
sintetis, benang filaman, dan industri benang mencakup industri pemintalan
benang dan pencelupan benang. Sub sektor antara merupakan industri kain dan sub sektor hilir meliputi industri pakaian jadi dan industri artikel tekstil lainnya (Gambar 2.4). SPINNING (Yarn) KBLI: 13112, 13113 NON WOVEN KBLI 13443 WEAVING (GREIGE) KBLI 13121 YARN DYEING KBLI: 13131 Yarn Industry
Sub Sektor Hulu Sub Sektor Antara Sub Sektor Hilir KNITING (GREIGE) KBLI 13911 Oth. Textile Industry EMBROIDERY (13912) DYEING PRINTING FINISHING (FINISHED FABRIC) KBLI 13132, 13133 13134 OTHERS TEXTILE ARTICLE KBLI 13921, 13922 13923, 13930 13941, 13942, 13992 13994, 13999 14131, 14303 GARMENT KBLI 14111 KBLI 14302 Garment KNITTED GARMENT KBLI 14301 NATURAL FIBER
(Cotton, Silk, Ramie Jute, Wool, Etc)
KBLI : 13111 SYBTETIC STAPEL FIBER (PFY, VSF, NSF, Etc) KBLI: 20302 FILAMENT YARN (PFY, VSF, VFY, Etc)
KBLI: 20301 Textile Fiber Industry
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2009-2013) kapasitas terpasang industri pakaian jadi nasional cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan tren pertumbuhan sebesar 3,4%. Pertumbuhan kapasitas terpasang industri pakaian jadi Indonesia yang tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 6,67% naik dari 820,6 ribu ton menjadi 875,4 ribu ton. Kapasitas terpasang industri pakaian jadi nasional terus naik hingga mencapai 903,5 ribu ton dan terus meningkat menjadi 940,9 ribu ton pada tahun 2013. Badan Koordinasi Penanaman Modal (2011) mencatat bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan investasi di industri pakaian jadi akibat adanya realokasi beberapa perusahaan pakaian jadi dari sejumlah negara (seperti Korea Selatan, RRT, Taiwan) yang menjadikan Indonesia sebagai basis industri TPT mereka. Biaya produksi di Indonesia yang lebih murah dan kompetitif menjadi dasar pertimbangan sejumlah negara tersebut untuk memindahkan perusahaan pakaian jadinya ke Indonesia (Better Work Indonesia, 2011).
Gambar 2.5 Kapasitas Terpasang, Produksi dan Utilisasi Produksi Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2009-2013.
Sumber: Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (2014)
Tabel 2.2 Perkembangan Nilai Investasi dan Jumlah Perusahaan Industri Pakaian Jadi Indonesia
Sumber : Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur, Kementerian Perindustrian (2014) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia (2014), diolah
Berbanding lurus dengan bertambahnya kapasitas terpasang pada industri pakaian jadi nasional, volume produksi pakaian jadi juga cenderung mengalami peningkatan sebesar 5,5% per tahunnya selama periode 2009-2013. Volume produksi pakaian jadi Indonesia yang tadinya hanya sebesar 561,6 ribu ton pada tahun 2009, produksinya naik menjadi 724,1 ribu ton pada tahun 2013. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, volume produksi pakaian jadi pada tahun 2013 adalah yang tertinggi selama lima tahun terakhir (Gambar 2.5).
Meskipun kapasitas terpasang dan volume produksi industri pakaian jadi dalam negeri terus meningkat tiap tahunnya selama periode 2009-2013, namun rata-rata utilisasi produksi2 industri pakaian jadi Indonesia sekitar 75,3%. Utilisasi produksi industri pakaian jadi terendah terjadi pada tahun 2009 sebesar 70,2% sedangkan utilisasi produksi tertinggi sebesar 79,3% terjadi pada tahun 2010. Pada tahun 2013 utilisasi produksi industri pakaian jadi nasional mencapai 77% (Gambar 2.5). Utilisasi produksi industri pakaian jadi nasional yang berada di bawah kapasitas terpasangnya mengindikasikan industri pakaian jadi Indonesia masih belum dapat memaksimalkan kapasitas terpasang yang ada sepenuhnya. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan beberapa permasalahan yang terkait dengan komponen biaya produksi dan proses produksi, mulai dari kenaikan tarif dasar listrik, pelemahan nilai tukar rupiah, ketergantungan terhadap bahan baku/penolong, umur mesin yang tua, dan produktivitas yang rendah, menjadi alasan mengapa utilisasi produksi industri pakaian jadi di Indonesia tidak optimal. Industri pakaian jadi lebih memilih untuk melakukan penghematan terkait dengan adanya permasalahan tersebut dengan menurunkan volume produksinya (Bisnis Indonesia, 2014).
Ditinjau dari nilai produksi sepanjang periode 2009-2012, Direktorat Industri Tekstil dan Aneka Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (2013) mencatat peningkatan nilai produksi subsektor industri pakaian jadi setiap tahunnya (Gambar 2.6). Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan volume produksinya. Pada tahun 2009, produksi subsektor industri pakaian jadi Indonesia sebesar USD 4,6 miliar. Pada tahun 2010, terjadi lonjakan nilai produksi subsektor industri pakaian jadi dalam negeri sebesar 26,9% atau senilai USD 1,3 miliar, sehingga nilai produksi subsektor industri pakaian jadi pada tahun tersebut mencapai USD 5,9 miliar. Peningkatan tersebut berlanjut sampai tahun 2012, dimana nilai produksi subsektor industri pakaian jadi nasional tercatat mencapai USD 6,2 miliar.
2 Utilitas produktifitas adalah presentase pemanfaatan kapasitas terpasang yang dihitung dari rasio realisasi
Berdasarkan nilai output yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (2015), tren pertumbuhan nilai output industri pakaian jadi dalam negeri sepanjang tahun 2009-2013 sebesar 6,1% setiap tahunnya. Pertumbuhan nilai output tertinggi pada industri pakaian jadi domestik terjadi pada tahun 2010 sebesar 22,9%. Sebaliknya, pertumbuhan negatif dari nilai output yang dihasilkan oleh industri pakaian jadi Indonesia terjadi pada tahun 2013. Tabel 2.3 menunjukkan nilai output industri pakaian jadi pada tahun 2012 sebesar Rp 72 triliun adalah yang tertinggi sepanjang tahun 2009-2013. Nilai output tersebut kemudian menurun menjadi sebesar Rp 65,5 triliun tahun 2013.
Tabel 2.3 Perkembangan Nilai Output dan Nilai Tambah Industri Pakaian
Jadi Indonesia, 2009-2013
Tahun Nilai Output Pertumbuhan Nilai Tambah Pertumbuhan (Miliar Rupiah) (%) (Miliar Rupiah) (%)
2009 51.734 13,5 29.090 20,0 2010 63.574 22,9 31.124 7,0 2011 63.969 0,6 32.071 3,0 2012 71.988 12,5 44.002 37,2 2013* 65.493 -9,0 24.141 -45,1 Tren 09-13 (%) 6,1 3,0 Sumber: Badan Pusat Statistik (2015d, 2015e), diolah
Keterangan: *) Angka Sementara
Gambar 2.6 Nilai Produksi dan Utilisasi Produksi Industri Pakaian Jadi Indonesia, 2009-2012.
Sumber: Direktorat Industri Tekstil dan Aneka, Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur, Kementerian Perindustrian (2013)
Nilai tambah atas harga pasar industri pakaian jadi Indonesia sendiri selama lima tahun terakhir cenderung menurun setiap tahunnya sekitar 3%. Penurunan nilai tambah tersebut terutama terjadi karena anjloknya nilai
2009 2010 2011 2012 4,6
5,9 6,0 6,2
0,6 0,7 0,7 0,7
Volume Produksi (Juta Ton) Nilai Produksi (Miliar USD)
tambah industri pakaian jadi nasional pada tahun 2013, yang turun sekitar 45%. Kondisi ini sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya dimana nilai tambah industri pakaian jadi selalu mengalami pertumbuhan positif. Nilai tambah industri pakaian jadi dalam negeri pada tahun 2013 mencapai Rp 24,1 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkan pada tahun 2009 (Rp 29,1 triliun). Penyebab utama turunnya nilai tambah industri pakaian jadi secara drastis pada tahun 2013 adalah adanya lonjakan biaya input3 yang berkisar 47,8% dimana biaya input untuk industri pakaian jadi Indonesia pada tahun tersebut mencapai Rp 41,4 triliun.
Berkaitan dengan konsep rantai nilai global industri pakaian jadi Indonesia, OECD Stat. (2013) mencatat bahwa partisipasi Indonesia dalam rantai nilai global industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki menunjukkan penurunan sejak tahun 1990. Pasca dibatalkannya Multi Fiber Agreement (MFA) sejak tahun 1995, kondisi usaha industri pakaian jadi Indonesia tidak semudah sebelumnya.
Inggi (2008) mengemukakan bahwa fenomena pergeseran konsumen, peningkatan permintaan konsumen hingga kenaikan bahan bakar minyak menyebabkan gambaran rantai nilai industri pakaian jadi mengalami
perubahan yang signifikan. Pada tahun 2009 total indeks partisipasi rantai
nilai global industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Indonesia hanya berkisar 2,6 padahal pada tahun 1990 indeks partisipasi yang dimiliki Indonesia di atas 5. Indeks partisipasi ke belakang (backward index participation) industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Indonesia lebih dominan dalam rantai nilai global yang mengindikasikan bahwa nilai tambah dari luar negeri yang digunakan untuk ekspor tinggi atau ketergantungan terhadap impor yang tinggi. Meskipun demikian indeks partisipasi ke belakang terus mengalami penurunan karena tumbuhnya industri dalam negeri dalam memasok bahan baku (Gambar 2.7).
3 Kenaikan biaya input yang dimaksud adalah nilai biaya input yang meningkat akibat kenaikan pada komponen
input.
Gambar 2.7 Perkembangan Indeks Partisipasi Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012.
Sumber: OECD Stat. (2013), diolah
1995 2000 2005 2008 2009 1,0 1,0 0,8 0,5 0,5 Backward Forward 2,5 2,6 2,1 4,3 4,1
Ditinjau berdasarkan pengelompokkan dalam industri pakaian jadi nasional KBLI 3 digit, peranan subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) mendominasi industri pakaian jadi nasional. Kontribusi subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) setiap tahunnya cenderung meningkat dari 79,4% pada tahun 2009 menjadi 91,6% pada tahun 2012. Sebaliknya, peranan subsektor pakaian jadi rajutan dan sulaman/bordir (KBLI 143) dalam industri pakaian jadi justru terus berkurang, yakni dari 20,6% pada tahun 2009 menjadi 8,4% pada tahun 2012.
Gambar 2.8 Komposisi Nilai Tambah Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012.
Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah
Tren pertumbuhan nilai tambah yang dihasilkan oleh subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) sekitar 18,6% per tahunnya selama periode 2009-2012 (Tabel 2.4). Pertumbuhan nilai tambah subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) sempat berada di bawah rata-rata pertumbuhan pada tahun 2011, namun kemudian kembali berada di atas tren pertumbuhan 2009-2012. Nilai tambah subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) sendiri pada tahun 2012 mencapai Rp 40,3 triliun, naik sekitar 37,7% dari tahun sebelumnya. Berkebalikan dengan subsektor pakaian jadi dan perlengkapannya, bukan pakaian jadi dari kulit berbulu (KBLI 141) yang memiliki kecenderungan meningkat dalam nilai tambah, subsektor pakaian jadi rajutan dan sulaman/bordir (KBLI 143) justru memiliki tren negatif sebesar 13% per tahunnya selama 2009-2012. Nilai tambah pada subsektor
Tabel 2.4 Perkembangan Nilai Tambah dan Pertumbuhan Industri Pakaian Jadi Indonesia Berdasarkan KBLI 3 Digit, 2009-2012
Sumber: Badan Pusat Statistik (2015), diolah
4 Aneka industri meliputi Industri Furnitur & Barang Lainnya dari Kayu serta Industri Plastik, Pengolahan Karet &
Barang dari Karet.
Sama halnya dengan pemerintahan sebelumnya, pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi menjadikan industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka sebagai industri andalan yang menjadi industri prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Industri (RIPIN) Tahun 2015-2035. Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka4 sebagai industri andalan akan berperan besar sebagai penggerak utama (prime power) perekonomian di masa yang akan datang, memiliki keunggulan komparatif berupa potensi sumber daya alam, dan keunggulan kompetitif berupa sumber daya manusia yang berpengetahuan dan terampil serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pada tahun 2015-2019 jenis industri pakaian jadi menjadi prioritas untuk dibangun. Beberapa kriteria yang menentukan industri tersebut masuk dalam kategori prioritas adalah memiliki potensi pasar yang tumbuh pesat di dalam negeri, meningkatkan kuantitas dan kualitas penyerapan tenaga kerja, berpotensi untuk dapat bersaing di pasar global, dan memiliki potensi untuk tumbuh pesat dalam kemandirian (Kementerian Perindustrian, 2014). 2.4 Biaya Produksi
Biaya input merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang terdiri dari biaya: bahan baku; bahan bakar, tenaga listrik dan gas; bahan bakar yang digunakan selama proses produksi yang berupa; sewa gedung, mesin dan alat-alat; dan jasa non industri. Biaya input yang dikeluarkan oleh industri pakaian jadi nasional yang berskala besar dan ini mengalami penurunan secara tajam sebesar 56% pada tahun 2010 dari sebesar Rp 6 triliun menjadi Rp 2,6 triliun.
menengah semakin meningkat setiap tahunnya selama periode 2000-2013. Pada tahun 2000 biaya input industri pakaian jadi dalam negeri berkisar Rp 15,1 triliun. Biaya input tersebut kemudian mendekati angka tiga kali lipat pada tahun 2013, yakni menjadi sebesar Rp 41,4 triliun. Kendatipun biaya input untuk industri besar dan sedang pakaian jadi dalam negeri cenderung meningkat sepanjang tahun 2000-2013, namun biaya input industri pakaian jadi juga sempat mengalami pertumbuhan negatif pada beberapa tahun (Gambar 2.9).
Gambar 2.9 Perkembangan Biaya Input Industri Pakaian Jadi Indonesia,
2000-2013.
Sumber: Badan Pusat Statistik (2015) Keterangan: *) Angka Sementara
Dalam kurun waktu 2009-2013 pertumbuhan rata-rata tahunan biaya input industri pakaian jadi nasional sebesar 11,1%. Setelah mengalami laju pertumbuhan biaya input yang meningkat pada tahun 2009 dan 2010, biaya input yang harus dibayarkan oleh industri pakaian jadi nasional sempat mengalami penurunan pada tahun 2011 dan 2012 sebesar 1,7% dan 12,3%. Penurunan biaya input yang signifikan terjadi pada tahun 2012 yakni dari Rp
31,9 triliun (2011) menjadi Rp 28 triliun (2012), akan tetapi penurunan tersebut tidak bertahan lama karena biaya input yang dikeluarkan oleh industri pakaian jadi justru melonjak menjadi Rp 41,4 triliun pada tahun 2013. Jika dilihat secara historis, biaya input industri pakaian jadi pada tahun 2013 adalah nilai tertinggi selama periode 2000-2013. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengemukakan bahwa kenaikan harga bahan baku garmen (seperti serat, benang, dan kain), Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% sejak 1 Januari 2013, dan Upah Minimum Provinsi (UMP) adalah beberapa
faktor yang memicu lonjakan biaya produksi industri pakaian jadi Indonesia pada tahun 2013 (Neraca, 2013).
Ditinjau dari komponennya, biaya untuk pembelian bahan baku mendominasi dalam pembentukkan biaya input industri pakaian jadi nasional di mana kontribusinya terhadap biaya input hampir mendekati 75% pada tahun 2012 dan di atas 75% pada tahun 2013 (Gambar 2.10). Ketergantungan yang tinggi atas impor bahan baku katun yang berasal dari serat kapas dan polyester dan kenaikan harga bahan baku yang merangkak naik sejak tahun 2010 berdampak terhadap semakin besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh industri pakaian jadi nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) menyebutkan bahwa kenaikan bahan baku Purified Therepthalat Acid (PTA) sebesar 5%, serat 10%, benang 15%, kain 20%, dan garmen 25% dari harga rata-rata dunia akibat adanya kenaikan TDL membuat biaya produksi pakaian jadi menjadi lebih mahal dari sebelumnya (Karina, 2012).
Gambar 2.10 Komposisi Biaya Input Industri Pakaian Jadi.
Sumber: Badan Pusat Statistik (2014, 2015), diolah
Gambar 2.10 juga memperlihatkan biaya bahan bakar, tenaga listrik, dan gas adalah kontributor terbesar kedua dalam biaya input industri pakaian jadi dalam negeri. Biaya untuk bahan bakar, tenaga listrik, dan gas memegang peranan penting dalam industri pakaian jadi Indonesia. Kenaikan TDL tentu saja menjadi batu ganjalan untuk menjalankan roda bisnis industri pakaian jadi nasional. Kendala lainnya adalah sewa gedung, mesin, dan alat-alat, jasa yang diberikan oleh pihak lain, biaya representasi dan royalti serta pengeluaran lainnya. Upah pekerja termasuk ke dalam jasa non-industri yang harus dibiayai oleh industri pakaian jadi nasional. Karakteristik industri
pakaian jadi yang bersifat padat karya tentu saja akan terimbas dengan dampak kebijakan kenaikan Upah Minimum (UM) per tahunnya. Semakin tingginya UM pekerja industri pakaian jadi maka semakin tinggi pula biaya upah (jasa non-industri) yang harus ditanggung oleh industri pakaian jadi dalam negeri. Studi Hermawan (2011) menjelaskan bahwa kebijakan peningkatan UM pada industri pakaian jadi berdampak pada penurunan produksi dan ekspor pada industri pakaian jadi serta rasionalisasi tenaga kerja.
Menurut Sutanto (2014), struktur biaya produksi industri pakaian jadi di Indonesia pada tahun 2013 masih didominasi oleh biaya bahan baku (57,7%) diikuti oleh biaya tenaga kerja (27,1%) dan biaya administrasi dan pemasaran (10,2%). Adapun biaya-biaya lainnya yang mempengaruhi proses produksi industri pakaian jadi adalah tingkat suku bunga (2,4%), depresiasi (1,4%), dan energi (1,3%).
2.5 Pakaian Jadi dalam Global Value Chain
Industri pakaian jadi merupakan perintis bagi pengembangan perekonomian dan dikenal sebagai cikal bakal dari industrialisasi yang berorientasi ekspor dengan tipikal industri padat karya dan berbiaya produksi
rendah (Gereffi & Memedovic, 2003). Industri pakaian jadi sendiri memegang
peranan penting dalam perekonomian dalam hal penyerapan tenaga kerja, investasi, dan perdagangan.
Sejak awal pertumbuhannya pada tahun 1950-an industri pakaian jadi dunia telah banyak mengalami perkembangan dan perubahan baik dalam proses produksi, teknologi produksi, dan struktur industri. Humprey dan
Schmitz (2002) mengidentifikasi empat tipe peningkatan industri, yakni
1) fungsional (berpindah ke fungsi yang bernilai lebih tinggi); 2) produk (memproduksi produk bernilai lebih tinggi); 3) proses (penggabungan teknologi yang lebih canggih dalam produksi); dan 4) intersektoral (memanfaatkan keahlian yang diperoleh dalam satu sektor industri untuk memasuki sektor baru).
Gereffi & Memedovic (2003) dan Fernandez-Stark, Frederick & Gereffi
(2011) menjabarkan lebih lanjut mengenai empat tahapan peningkatan industri ke dalam rantai nilai global Global Value Chain (GVC) industri pakaian jadi. Industri pakaian jadi telah mengalami perubahan paradigma dari industri perakitan (assembly) pakaian sederhana yang bahan-bahan inputnya diimpor dan diolah di kawasan berikat/zona pengolahan ekspor menjadi pelayanan paket lengkap (full-package services) atau yang dikenal dengan Original Equipment Manufacturing (OEM) hingga akhirnya menjadi Original Brand Name Manufacturing (OBM). OEM lebih terintegrasi secara domestik dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dalam bentuk ekspor.
Model OEM di tingkat internasional adalah bentuk subkontrak komersial di mana hubungan pembeli-penjual di antara pembeli luar negeri dan manufaktur domestik yang memungkinkan adanya pembelajaran lokal ke tingkatan yang lebih tinggi mengenai rantai pakaian jadi dari hulu sampai hilir. Dalam model OEM, perusahaan memasok produk sesuai dengan desain yang ditentukan oleh pembeli, produk ini dijual di bawah nama merek pembeli. Pemasok dan pembeli dalam OEM merupakan perusahaan yang terpisah dimana
pembeli tidak memiliki kontrol atas distribusi. Gereffi & Memedovic (2003)
mengemukakan adanya Original Brand Name Manufacturing (OBM) yang merupakan peningkatan penjualan oleh manufaktur dari keahlian produksi OEM untuk merancang dan menjual produk dengan merek mereka sendiri. Dengan adanya globalisasi, kini industri pakaian jadi tidak lagi diproduksi dalam suatu jalur integrasi vertikal di suatu negara yang sama melainkan dapat diproduksi terpisah di beberapa negara dalam suatu rantai nilai global
(GVC). Gereffi & Memedovic (2003) berpendapat bahwa industri pakaian
jadi adalah contoh ideal dari rantai nilai global yang ditentukan oleh pembeli (buyer-driven global value chain) ,para pembeli global menentukan apa yang akan diproduksi, di mana, oleh siapa, berapa harganya, dan berapa besar keuntungan yang didapat. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan model buyer-driven value chain hanya merancang dan/atau memasarkan, tidak memproduksi produk bermerek yang mereka pesan. Dengan kata lain, mereka adalah manufaktur tanpa pabrik dengan proses produksi
barang secara fisik terpisah dari proses desain dan pemasaran. Adapun
karakteristik dari rantai nilai yang ditentukan oleh pembeli ini adalah memiliki tingkat persaingan yang tinggi dan sistem pabrik terdesentralisasi secara
global dengan hambatan masuk yang rendah (Gereffi & Memedovic, 2003). Gereffi & Memedovic (2003) menjelaskan rantai nilai global pakaian
jadi dapat diorganisasikan ke dalam lima segmen utama yang terdiri dari: 1) pemasok bahan baku (termasuk serat sintesis dan natural; 2) provisi komponen (benang dan kain yang diproduksi oleh perusahaan tekstil); 3) jaringan produksi pembuatan pakaian jadi (subkontrak domestik dan luar negeri); 4) kanal ekspor melalui perdagangan pihak ketiga; dan 5) jaringan pemasaran pada tingkat ritel/ eceran (Gambar 2.11).
Frederick (2010) mengemukakan enam tahapan kegiatan dalam rantai nilai global pakaian jadi, yakni 1) penelitian dan pengembangan produk baru (R &D); 2) desain (design); 3) produksi (production); 4) logistik yang mencakup pembelian dan produksi (purchasing and distribution); 5) pemasaran dan branding (marketing); dan 6) pelayanan (services) (Gambar 2.12). Dalam rantai nilai global pakaian jadi, keuntungan tercipta dari kombinasi keenam tahapan kegiatan tersebut.
Gambar 2.11 Rantai Nilai Global Pakaian Jadi.
Sumber: Gereffi & Memedovic (2003)
Gambar 2.12 Tahapan Kegiatan dalam Rantai Nilai Global Pakaian Jadi.
Sumber: Frederick (2010)
R&D
Design
Purchasing
Distribution
Production
Marketing
Services
V al ue A dde dPre-Production
Intagible
Tangible Activities
Production :
Post-Production :
Intangible
Natural
fibres Cotton wool.silk. etc
Yarn (Spinning) Fabric (weaving knitting finishing) US garment factories (designing, cutting, sewing, buttonholing, ironing)
All retail outlets
North America Brand-named apparel companies Overseas buying offices Trading companies Domestic and Mexican Caribbean Basin subcontractors Apparel manufacturers
Textile companies Retail outlet:
Asian garment contractors Domestic and overseas subcontractors Asia Synthetic fibres Petrochemicals Oil natural gas
Synthetic fibres
Raw material networks Component networks Production networks Export networks Marketing networks Department stores Specialty stores Mass merchandise chains Discount chains Off-price, factory outlet , mail order, others All retail outlets
Perusahaan-perusahaan unggulan dalam industri pakaian jadi dunia mengadaptasi model rantai nilai global sejak tahun 1970-an. Oleh karena itu, manufaktur pakaian jadi menjadi dominan di beberapa negara berkembang dan terpengaruh dengan berbagai kebijakan perdagangan. Kebijakan tersebut dimulai dari penetapan kuota melalui Long-Term Arrangement Regarding International Trade in Cotton Textiles and Substitutes pada tahun 1962, Multi Fibre Arrangement (MFA) yang diimplementasikan sejak tahun 1974 hingga penghapusan kuota melalui Agreement Textiles and Clothing (ATC) pada tahun 2005. Dengan adanya penghapusan kuota tekstil dan pakaian jadi, persaingan industri pakaian jadi di negara-negara berkembang menjadi semakin ketat dan bermunculan negara-negara baru sebagai eksportir produk pakaian jadi di dunia (Fernandez-Stark, Frederick
& Gereffi, 2011).
Pada sebagian besar kasus rantai nilai global pakaian jadi, perusahaan-perusahaan unggulan internasional mengalihkan produksinya dalam jaringan rantai nilai global untuk melakukan kontrak produksi dengan pemasok di berbagai negara-negara berkembang seperti RRT, India, Bangladesh, Vietnam, Indonesia, dan sebagainya yang menawarkan harga yang paling bersaing. Perusahaan-perusahaan unggulan ini termasuk pedagang eceran/ retailer dan pemegang merek yang berkantor pusat di pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa.
Ditinjau dari perkembangan indikator partisipasi rantai nilai global industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Vietnam memiliki tingkat partisipasi tertinggi dalam rantai nilai untuk industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki global. Tabel 2.5 memperlihatkan bahwa sejak tahun 1995 keikutsertaan Vietnam dalam rantai nilai global pada industri tekstil, kulit dan alas kaki terus meningkat. Selain Vietnam yang menguasai rantai nilai global industri pakaian jadi dunia, Kamboja, Turki, dan RRT juga memiliki tingkat partisipasi rantai nilai global yang tinggi. Berbeda dengan Vietnam, ketiga negara tersebut memiliki indeks partisipasi terus menurun sejak tahun 1995 yang mengindikasikan bahwa keikutsertaannya dalam rantai nilai global di industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki berkurang. Indonesia sebagai salah satu produsen utama Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki dunia memiliki indeks partisipasi rantai nilai global yang menurun, bahkan angka indeksnya pada tahun 2009 berada di bawah Thailand dan Brunei Darussalam.
Tabel 2.5 Perkembangan Indikator Partisipasi Rantai Nilai Global Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki
Sumber: OECD Stat. (2013)
2.6 Penutup
Industri pakaian jadi berperan signifikan dalam perekonomian, ekspor,
dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia selama ini. Namun demikian, semakin tingginya hambatan dan tantangan produksi yang dihadapi oleh industri pakaian jadi nasional mengakibatkan industri pakaian jadi Indonesia belum dapat memanfaatkan potensinya secara optimal, padahal peluang pemasaran produk pakaian jadi baik di pasar dalam negeri maupun dunia terbuka bagi industri pakaian jadi Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan pendukung pembangunan dan pengembangan industri pakaian dan industri terkait lainnya yang dapat memicu peningkatan produksi bagi industri pakaian jadi Indonesia mulai dari kebijakan investasi, restrukturisasi permesinan, tarif dan perpajakan, suku bunga, infrastruktur, hingga kebijakan sistem perburuhan dan pengupahan sangatlah diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). (2011). Kajian Pengembangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2014). Indikator Industri Manufaktur Indonesia 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015a, Februari 25). Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014. Diunduh 25 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http://www.bps.go.id/webbeta/frontend/ linkTabelStatis/view/id/1199
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015b). Produk Domestik Bruto (Lapangan Usaha): Laju Pertumbuhan Produk Domestik PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2000-2014. Diunduh 20 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http://www.bps.go.id/webbeta/frontend/ linkTabelStatis/view/id/1202 Badan Pusat Statistik (BPS). (2015c). Industri Besar dan Sedang: Jumlah Tenaga Kerja
Industri Besar dan Sedang Menurut Sub Sektor, 2008-2013. Diunduh 20 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http:/ http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/ id/1063
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015d). Industri Besar dan Sedang: Nilai Output IBS Menurut Subsektor (Milyar Rupiah), 2000-2013. Diunduh 20 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1068
Badan Pusat Statistik (BPS). (2015e). Industri Besar dan Sedang: Nilai Tambah (Harga Pasar) Industri Besar dan Sedang Menurut Subsektor , 2000-2013 (Milyar rupiah). Diunduh 20 Februari 2015, dari Badan Pusat Statistik: http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/ view/id/1055
Bankmed – Market & Economic Research Division. (2014). Special Report: Analysis of Lebanon’s Apparel Market – March 2014. Lebanon: Bankmed.
Better Work Indonesia. (2011). Indonesia Garment Industry Review: Better Work Indonesia. Bisnis Indonesia. (2014, Juni 30). Manufaktur: Biaya Produksi Bengkak, Utilisasi Pabrik
Tekstil Jeblok. Diunduh 15 Februari 2015, dari Bisnis.com: http://industri.bisnis.com/ read/20140630/257/239770/biaya-produksi-bengkak-utilisasi-pabrik-tekstil-tu Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian. (2013). Facts
and Figures Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Jakarta: Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian.
Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian. (2014). Profil
Basis Industri Manufaktur. Jakarta: Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian.
Fernandez-Stark, K., S. Frederick & G. Gereffi. (2011, November). The Apparel Global Value Chain: Economic Upgrading and Workforce Development. Duke University Center on Globalization, Governance & Competitiveness.
Frederick, S. (2010). Development and Application of a Value Chain Research Approach to Understand and Evaluate Internal and External Factors and Relationships Affecting Economic Competitiveness in the Textile Value Chain. Unpublished Phd Dissertation, North Carolina State University, Raleigh, NC.
Gereffi, G., & O. Memedovic. (2003). The Global Apparel Value Chain: What Prospects for Upgrading by Developing Countries. Vienna: United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
Gotexshow. (2015). Market: Overview of the Textile and Clothing Sector. Diunduh 10 Februari 2015, dari GOTEX SHOW: http://www.gotexshow.com.br/eng/ mercado
Hermawan, I. (2011). Analisis Dampak Kebijakan Makroekonomi Terhadap Perkembangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, April 2011: 373-408. Jakarta: Bank Indonesia.
Humprey, J., & H. Schmitz. (2002). How Does Insertion in Global Value Chains Affect Upgrading in Industrial Clusters. Regional Studies, 36 (9): 1017-1027.
Inggi, B.L. (2008, Juli). Rantai Nilai Telah Berubah.Competitiveness at the Frontier, Juli 2008. Forum Bulanan untuk Meningkatkan Daya Saing Ekonomi Indonesia, Jakarta: USAID, SENADA, Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Karina, S. (2012, Oktober 4). Economy: Industri Tekstil Bakal Tersengat Kenaikan Tarif
Listrik. Diunduh 20 Februari 2015, dari Okezone: http://economy.okezone.com/ read/2012/10/04/ 320/699131/industri-tekstil-bakal-tersengat-kenaikan-tarif-listrik Kementerian Perdagangan. (2015, Februari 17). Perkembangan Ekspor Nonmigas (Sektor)
Periode 2010-2014. Diunduh 18 Februari 2015, dari Kementerian Perdagangan:
http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/indonesia-export-import/growth-of-non-oil-and-gas-export-sectoral
Kementerian Perindustrian. (2014). Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035. Jakarta: Kementerian Perindustrian.
Kementerian Perindustrian. (2015). Pohon Industri TPT 2. Diunduh 18 Februari 2015, dari Kementerian Perindustrian: http://www.kemenperin.go.id/pohon-industri
Neraca. (2013, Januari 30). Harga Produk Garmen Akan Naik 16,7%. Diunduh Februari 20, 2015, dari Neraca: http://www.neraca.co.id/industri/ 24390/Harga-Produk-Garmen-Akan-Naik-167/3
Nur, Y. H. (2010). Profil Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia. Info Komoditi Prioritas Tekstil dan Produk Tekstil, Vol. IV No. 01 Tahun 2010, pp. 3-14. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan.
OECD.Stat. (2013, May). OECD Global Value Chains Indicators – May 2013. Diunduh 10 Februari 2015, dari OECD.StatExtracts: http://www.bps.go.id/webbeta/frontend/ linkTabelStatis/view/id/1202
Tot, B. V. (2014). Textile & Apparel Industry Report: Opportunities for Breakthrough, Vol.04/2014. Vietnam: Fpt Securities.
United Nations Statistics Division. (2015a). Detailed Structure and Explanatory Notes ISIC
Rev.3 (International Standard Industrial Classification of All Economic Activities,
Rev.3). Diunduh 25 Maret 2015, dari United Nations Statistics Division: http:// unstats.un.org/unsd/cr/registry/regcst.asp?Cl=2&Lg=1
United Nations Statistics Division. (2015b). Detailed Structure and Explanatory Notes ISIC
Rev.3.1 (International Standard Industrial Classification of All Economic Activities,
Rev.3.1). Diunduh 25 Maret 2015, dari United Nations Statistics Division: http:// unstats.un.org/unsd/cr/registry/regcst.asp?Cl=17
United Nations Statistics Division. (2015c). Detailed Structure and Explanatory Notes ISIC
Rev.4 (International Standard Industrial Classification of All Economic Activities,
Rev.4). Diunduh 25 Maret 2015, dari United Nations Statistics Division: http:// unstats.un.org/unsd/cr/registry/regcst.asp?Cl=27
Vickers, A. (2012). Clothing Production in Indonesia: A Divided Industry. Institutions and Economies , 4 (3), 41-60.
Yen, G. (2012). The Evolution of Textile and Apparel Industry in Asia. SEHK Code: 420. Fountain Set (Holdings) Limited
BAB III
KONSUMSI DAN PERDAGANGAN PAKAIAN JADI DI
DALAM NEGERI
Avif Haryana dan Wibowo Kurniawan
3.1 Pendahuluan
Pakaian (sandang) adalah salah satu kebutuhan pokok manusia di samping makanan (pangan) dan tempat tinggal (papan). Berbicara tentang pakaian, adalah berbicara mengenai sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita, dimana Thomas Carlyle (1843) dalam Barnard (2007) mengatakan, “pakaian merupakan perlambang jiwa”. Selain sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, pakaian juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia, termasuk peran dan makna pakaian dalam tindakan sosial. Pakaian membawa pesan tentang keberadaan seseorang, dan menggambarkan gaya hidup seorang individu atau suatu komunitas tertentu, yang merupakan suatu bagian dari kehidupan sosial. Perubahan musim dan wilayah akan berpengaruh pada cara dan model berpakaian. Setiap kelas sosial masyarakat dapat kita lihat dari pakaian apa yang mereka pakai, baik dari segi harga, jumlah, model dan kualitasnya. Selain itu selera cara berpakaian juga dipengaruhi perkembangan fashion dari suatu komunitas seiring dengan perkembangan zaman.
Mengingat pentingnya peran ini, berbagai permasalahan terkait dengan pakaian jadi juga seringkali menjadi perhatian bagi pemerintah. Kebutuhan pakaian jadi ini sangat dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk, dimana semakin bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan pakaian jadi juga akan semakin bertambah. Dengan demikian maka penting bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan juga pasokan (supply) yang ada. Di samping itu, persaingan dengan produk impor juga merupakan isu penting terkait dengan produk pakaian jadi, apalagi kondisi Indonesia dengan pasar yang besar dan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta akan menjadi target pasar.
Produk pakaian dalam negeri sebenarnya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk impor. Selain para produsen pakaian batik yang memiliki ciri khas yang unik dan bernilai seni tinggi, ada banyak produsen lokal yang memiliki produk yang berkualitas dan brand yang cukup ternama di dunia internasional. Produk produk nasional tersebut harus mampu bersaing ditengah gencarnya serbuan merek asing dalam dunia fashion. Mall-mall papan atas saat ini menjadi pangkalan dan etalase merek asing (Bakri, 2015).