Zamroni Salim
6.4 Upaya Membangkitkan Industri Pakaian Jadi
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, kehadiran industri pakaian jadi melalui GVC tidak bisa dihindari. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari besarnya industri pakaian jadi di RRT, India dan tumbuh pesatnya industri ini di Vietnam dan juga negara lainnya.
Keterlibatan negara-negara tersebut dalam GVC merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan produsi sekaligus meningkatkan daya saing industri pakaian jadi di pasar global. Keberanian untuk meningkatkan keterlibatan dalam GVC dengan mengundang investor besar yang selama ini leading dalam industri pakaian dan upaya menjalin kontrak kerjasa sama dengan pemilik brand global. Namun demikian, perlu digarisbawahi, bahwa kehadiran mereka dalam industri pakaian jadi harus tidak mematikan usaha yang berskala kecil dan menengah yang selama ini telah ada. Kehadiran GVC seharusnya bisa menjalin kerjasama yang kuat dengan perusahaan pakaian jadi lokal, sebagai mitra mereka mulai dari desain, branding dan juga pemasaran dari produk pakaian jadi. Dengan demikian, peran perusahaan lokal bisa lebih aktif dalam GVC.
Disamping itu perlu diupayakan bahwa produk GVC lebih diarahkan pada produksi yang berorientasi ekspor. Sudah saatnya pemerintah dan dunia usaha tidak menempatkan lagi industri pakaian jadi sebagai sunset industry, tetapi sebagai industri yang bisa tumbuh dengan dukungan teknologi, inovasi dan sumber daya manusia Indonesia.
Upaya untuk memberikan dukungan pada industri pakaian jadi nasional dalam memasarkan produknya di dalam negeri, sekaligus untuk memberikan perlindungan kepada konsumen, dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan standar untuk pakaian jadi. Seperti halnya standar berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor. 07/M-IND/PER/2/2014, yang berlaku efektif sejak 17 Mei 2014. Dalam peraturan tersebut diantaranya menjelaskan bahwa untuk pakaian jadi (khusus untuk bayi) yang diproduksi atau diimpor, didistribusikan dan dipasarkan di Indonesia harus memenuhi persyaratan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 7617:2013).
Pemerintah juga sudah berupaya membentengi beredarnya produk pakaian yang tidak layak pakai dan pakaian bekas salah satunya dengan dikeluarkannya beberapa SNI yang terkait dengan baju (seperti diuraikan dalam Bab III). Selain itu, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 juga sudah melarang impor pakaian bekas, kecuali atas izin Menteri Perdagangan. Tanpa seijin Menteri Perdagangan, maka impor bisa dikatakan illegal (seperti diuraikan dalam bab IV). Berbagai peraturan dan kebijakan tersebut dikeluarkan sebagai upaya untuk melindungi konsumen dalam negeri, sekaligus memberikan perlindungan pada industri pakaian jadi di dalam negeri.
Upaya lain yang bisa dilakukan adalah upaya persuasif baik bagi pelaku usaha (melalui kebijakan non-sunset industry) maupun konsumen Indonesia untuk mencintai pakaian jadi produksi dalam negeri. Dalam rangka meningkatkan peran industri pakaian jadi dan upaya mempromosikan pakain jadi Indonesia di tingkat nasional dan internasional, pemerintah telah mendorong pemakaian baju batik, melalui instruksi berbagai lembaga pemerintah, dan menjadikan batik sebagai simbol nasionalisme Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia (BI). (2009). Pola Pembiayaan Usaha Kecil Syariah (PPUK) Industri Pakaian Jadi Muslim. Jakarta: Bank Indonesia. Desember 2009.
Bennie, F; I. Gazibara and V. Murray. (2010). Fashion Futures. Dalam Forum for the Future February 2010. Diakses tanggal 3 Mei 2014 dari www.forumforthefuture.org/ projects/fashion-futures.
Crinis, V. (2012) “Global Commodity Chains in Crisis: The Garment Industri in Malaysia, the before, the now and the hereafter”, Journal of Institutions and Economies, 4(3).
Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian. (2014). Profil Basis Industri Manufaktur. Jakarta: Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian.
Gereffi, G. and O. Memedovic. (2003). The Global Apparel Value Chain: What Prospects for Upgrading by Developing Countries? United Nations Industrial Development, p. 36, 2003. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=413820.
Gereffi, G. and S. Frederick. (2010). The Global Apparel Value Chain, Trade and the Crisis: Challenges and Opportunities for Developing Countries. Policy Research Working Paper WPS5281, the World Bank Development Research Group Trade and Integration, April 2010.
Gotexshow. (2015). Market: Overview of the Textile and Clothing Sector. Diunduh 10 Februari 2015, dari GOTEX SHOW: http://www.gotexshow.com.br/eng/mercado
Kementerian Perdagangan. (2015a, Februari 17). Perkembangan Ekspor Nonmigas (Sektor) Periode 2010-2014. Diunduh 18 Februari 2015, dari Kementerian Perdagangan: http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/indonesia-export-import/growth-of-non-oil-and-gas-export-sectoral.
Thee, K.W. (2009) “The Development of Labour-Intensive Garment Manufacturing in Indonesia”, Journal of Contemporary Asia, 39(4): 562.
Trade Research and Development Agency (TREDA). (2008). Indonesian Kid’s Wear: Fashion for the Young. Ministry of Trade of the Republic of Indonesia.
UN COMTRADE. (2015). Data Perdagangan Pakaian Jadi. Diunduh tanggal 10 Februari 2015 dari http://www.wits.worldbank.org.
United States Agency for International Development (USAID). (2008). End-Market Study for Indonesian Apparel Producers. USAID, January 2008.
Vickers, A. (2012). Clothing Production in Indonesia: A Divided Industri. Institutions and Economies, Vol. 4, No. 3, October 2012, pp. 41-60.
World Trade Organization (WTO). (2015). Textile Monitoring Body: The Agreement on Textiles and Clothing. Diakses tanggal 1 Mei 2015 dari https://www.wto.org/english/tratop_e/ texti_e/texintro_e.htm.
Wu, C. (2007). Studies on the Indonesian textile and garment industri. Labour and Management in Development Journal, Volume 7, Number 5.
INDEKS A
Agreement Textiles and Clothing (ATC), 23, 57, 70
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), 13, 18, 45, 74, 79
Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI), 19
Asosiasi Pemasok Pakaian jadi dan Assesoris Indonesia (APGAI), 33, 34, 35, 53
Asosiasi Pemasok Pakaian jadi Pertokoan Indonesia (APGPI), 34 Artisanal Products dan Visual Arts, 56
B Brand, v, x, 28, 33, 34, 35, 95, 96, 97 D distribution store, 36 E Escherichia coli, 49 F factory outlet, 36 Fashion, 28, 29, 45, 53, 73, 74, 80, 83, 92, 99.
Freedom of Association Protocol (FOAP), 90
G
Garment, 11, 25, 53, 59, 65, 92, 94, 99 Global Competitiveness Index, 81 Global Value Chain (GVC), v, vi, 4, 7, 20, 21, 56, 59, 70, 71, 80, 82, 83, 84, 85, 87, 95, 97, 98
J
joint venture, 60
K
Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), 86 Koefisien Keragaman (KK), 40 L law enforcement, 50 lead firm, 57, 63, 70 M Makloon, 88
Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC), 91 monopolistic competition, 35
multi fiber, 9
Multi Fiber Agreement (MFA), 15, 23, 58, 93, 94, 95
N
National Single Window (NSW), 49
O
Original Equipment Manufacturing (OEM), 3, 20, 21, 56
Original Brand Name Manufacturing (OBM), 20, 21
Outsource, 63
P
Purified Therepthalat Acid (PTA), 19
Q
quality assurance, 45, 85 quality control, 45
R
Retailer, 23, 36, 95, 96, 97
Revealed Comparative Advantage (RCA), 83
S
sunset industry, 10, 95, 98
Standar Nasional Indonesia (SNI), vi, x, 46, 47, 48, 51, 52, 85, 98
Staphylococcus aureus, 49 Stakeholders, 48
T
Tarif Dasar Listrik (TDL), 18, 19, 79 Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), v, vi, 1, 6, 9, 10, 11, 12, 26, 29, 50, 51, 80, 86 trade remedies, 91
W
World Economic Forum (WEF), 81, 82 World Trade Organization (WTO), 57, 58, 70, 72, 85, 87, 92, 94, 99
Zamroni Salim
Zamroni Salim adalah peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi (P2E), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1998. Zamroni memperoleh gelar S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya; Gelar S2 diperoleh dari Massey University, New Zealand untuk bidang Perdagangan Internasional, tahun 2003; dan Gelar PhD diperoleh dari the Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University, Jepang tahun 2009 dalam bidang International Economic and Development. Area penelitian yang menjadi bidang kajian adalah regionalism, economic integration and development, ASEAN and East Asian Studies. Aktif sebagai anggota Dewan Editor di beberapa jurnal ilmiah seperti: Indonesia Economic and Business Studies (RIEBS), dan Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan (BILP)-Kementerian Perdagangan. Zamroni Salim juga merupakan peneliti senior pada The Habibie Center (THC) sejak 2009. Selain melakukan penelitian, yang bersangkutan juga menjadi tenaga pengajar di Department of International Relations, President University, Cikarang Indonesia.
Ernawati Munadi
Ernawati Munadi adalah ahli ekonomi internasional dengan pengalaman lebih dari 10 tahun baik di tingkat lokal, maupun nasional sebagai konsultan, dosen dan peneliti. Ernawati memulai karir profesionalnya sebagai konsultan sejak tahun 2006, ketika bergabung dengan Proyek Bantuan Perdagangan Indonesia (ITAP) di bawah naungan USAID, sebagai ahli di bidang Ekonomi Perdagangan. Pada bulan Oktober 2008, dipromosikan sebagai Trade Economist/Senior Team Leader dalam proyek yang sama. Sejak itu penulis bekerja sebagai konsultan di berbagai proyek yang dibiayai oleh organisasi internasional seperti Bank Dunia, AusAid, USAID, dan Uni Eropa. Hingga kini masih aktif menjadi dosen di Universitas Wijaya Kusuma. Keahliannya adalah dampak liberalisasi perdagangan pada permintaan ekspor Indonesia hingga model analisis transmisi siklus bisnis dari Indonesia dan Amerika Serikat. Dalam 5 tahun terakhir Ernawati mengembangkan keahlian di bidang perijinan perdagangan (trade license) dan kebijakan bukan tarif (non-tariff measures). Tulisannya telah banyak diterbitkan diberbagai jurnal penelitian baik nasional maupun internasional. Ernawati memperoleh gelar S1 di bidang Agronomi Pertanian dari Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya; gelar Master di bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Indonesia pada tahun 1997; dan gelar Ph.D di bidang Ekonomi Internasional dari Universitas Putra Malaysia pada tahun 2004.