• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Televisi, Iklan dan Masyarakat

1. Perempuan di Media Massa

Media massa merupakan sarana informasi paling efektif dalam masyarakat modern. Ia menyediakan jalur sosialisasi, penyebar informasi, tatanan nilai dan pola perilaku yang diharapkan masyarakat. Pandangan masyarakat terhadap media massa saat ini adalah seolah-olah manusia berperan, berkarya, berpengaruh dan menentukan di dalam realitas masyarakat media adalah kaum pria. Perempuan dalam media akhirnya cuma dijadikan sebagai penghias belaka, bukan merupakan penentu.

Yatim, D (1993) sendiri sampai sekarang tetap berpegang bahwa media massa adalah kerajaan laki-laki dan bercorak patriakal. Kekuatan pesan berprespektif gender yang disampaikan media, sedikit banyak terkait juga dengan corak patriakal ini. Tampilan di layar televisi pun seringkali bernada sama.

“Jika fakta menunjukkan bahwa media massa dimiliki oleh suatu elit pria, maka tidak heran bila representasi perempuan mengalami distorsi, baik dalam bentuk ketidak-akuratan representasi tersebut, mau pun dalam ketidaktampakan (invisibilitas) sumbangsih”

Sebenarnya, media mampu memberikan alternatif untuk mengoreksi dan menggugat representasi simbolik perempuan sebagai objek kepentingan tertentu. Salah satu jalan menurut Yatim (1993) melalui peningkatan jumlah perempuan praktisi di dalam media, yang dengan gagasan dan sikapnya mampu

82

Burhan Bungin, Imaji Media Massa, (Yogyakarta: PT. Jendela, 2001), Cet ke-1, h. 185-187

merepresentasi sikap ini dengan menempatkan perempuan tidak lagi sebagai objek, namun berperan aktif sebagai subjek.83

Harus diakui, posisi perempuan dalam kebudayaan tidaklah sebaik posisi laki-laki. Hampir dalam semua kebudayaan di dunia, perempuan menempati posisi di belakang. Dikotomi pembagaian kerja perempuan di wilayah domestik, dan laki-laki di wilayah publik secara empirik menenggelamnkan perempuan ke dalam urusan-urusan domestik. Padahal justru peran di sektor publik memungkinkan perempuan bisa berkembang lebih luas lagi.84

Terlepas dari kenyataan bahwa perempuan adalah bagian dari sebuah masyarakat (patriaki), penggambaran perempuan dalam berita televisi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Ibarat sebuah bingkai jendela, TV adalah media dimana semua informasi dan perubahan apa pun dalam masyarakat, bisa terkuak dengan lebih transparan. Perubahan-perubahan, pandangan umum, serta tata sosial bisa tampil di jendela tersebut.

Dalam bahasa Piliang (1998): Media menyampaikan informasi fakta tentang bencana, kriminal, kekerasan, dalam sebuah tontonan, menjadi sebuah hiburan (entertainment). Tak terkecuali di dalamnya, pemberitaan tentang itu sendiri.

Tubuh wanita (Piliang, 1998) telah dimuati modal biologis. Erotisasi tubuh wanita dalam media adalah dengan mengambil fragmen-fragemen tubuh tersebut sebagai penanda dengan berbagai posisi dan pose, serta dengan berbagai asumsi ‘makna’.

83

Priyo Soemandoyo, Wacana Gender Dan Layar Televisi, Cet ke-1, h. 52-53 84

Tubuh wanita ditelanjangi sebagai objek fetish yaitu objek yang selalu dipuja karena dianggap memiliki kekuatan pesona tertentu. Objek akhirnya tergantung darimana kita mengacanya.

Sebagai objek yang sering ditampilkan, tidak bisa dipungkiri, bahwa pemberitaan tentang perempuan dalam media massa, masih cenderung menempatkan perempuan sebagai bahan ejekan, tertawaan, bahkan pelecehan. Perempuan tidak diberitakan sebagaimana layaknya, kecuali sebagai bumbu masak penyedap “hidangan” media massa bersangkutan (Ridjal, dkk, 1993).

Ekaploitasi tubuh perempuan dalam produk media massa pun semakin terasakan. Semua berita yang menarik, sensasi, selalu berkonotasi dengan perempuan. Urusan pemberitaan berkaitan dengan seks, pelacur, pelecehan, perkosaan, penyelewengan, permasalahan rumahtangga, selalu berkonotasi negatif terhadap sosok perempuan. Citra perempuan diberitakan dengan kacamata tersebut, menjadi semakin dibendakan.

Tentang pemberitaan perempuan, Assarirohy, N (1998) dalam Bainar (1998) memiliki beberapa pandangan:

Eksploitasi terhadap perempuan juga semakin menggila, terutama melalui media massa. Semua berita menarik, sensasi, dikonotasikan dengan perempuan. Citra perempuan diberitakan dengan jelek demi kegiatan kapitalistik. Semua iklan yang ditayangkan selalu dianggap menarik jika memunculkan sosok perempuan. Kegiatan seks semakin memojokkan perempuan, pelacur punya konotasi perempuan, penyelewengan juga perempuan. Perempuan semakin dipojokkan dan semaikn dibendakan, Untuk itu perlu langkah sistematis untuk mengembalikan perempuan pada posisi kemanusiaannya.

Seringnya terjadi kondisi buruk yang dihadapi kaum perempuan, kurangnya pemahaman masyarakat tentang perspektif gender, serta kurangnya media massa menjalankan fungsi sosialnya dalam kaidah etis dalam memberikan

informasi kegiatan-kegiatan berbasis gender, setidaknya merupakan hal-hal yang perlu mendapat perhatian utama.85

Bagi banyak orang, wanita adalah objek sekaligus subjek. Bagaimana wanita berada pada posisi subjek atau pun objek adalah sesuatu yang unik. Hal yang tak terbantahkan adalah bahwa berada pada posisi apapun, akan banyak ditentukan oleh bagaimana dirinya mengantisipasi perubahan sosial ekonomi dan politik yang sedang terjadi.

Mungkin ini yang disebut sebagai sebuah perjuangan besar feminisme perempuan. Perjuangan untuk menemukan kesadaran terhadap kondisi ketertindasan, eksploitasi terhadap kaum perempuan dalam masyarakat, dunia kerja dan keluarga, serta sebuah gerakan tindakan oleh laki-laki dan perempuan untuk mengubahnya. 86

Tidak bisa dipungkiri partisipasi perempuan dalam pembangunan kini kian terasa. Dari sejak R.A. Kartini merintis perjuangan emansipasi bahkan hingga kini ketika suara-suara perempuan kian diperhitungkan dalam politik dan dunia usaha. Tidak sedikit para akademisi, politisi, jurnalis, dan pengusaha perempuan yang kini bersuara di tingkat nasional.87

Jauh sebelum televisi swasta meramaikan pertelevisian nasional, kajian sosio-psikologi telah sampai pada penemuan bahwa bagi sebagian orang, televisi merupakan salah satu sumber informasi normatif maupun sosial, bahkan merupakan sumber inspirasi tentang bagaimana memecahkan suatu masalah atau mengambil keputusan. Perilaku semacam ini normal, karena kebutuhan orang

85

Priyo Soemandoyo, Wacana Gender Dan Layar Televisi, Cet ke-1, h.114-115 86

Priyo Soemandoyo, Wacana Gender Dan Layar Televisi, Cet ke-1, h. 143 87

Idi Subandi Ibrahim – Hanif Suranto, Idi Subandy Ibrahim- Hanif Suratno, Wanita Dan Media Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998), Cet ke-1, h. v

mendapatkan penerimaan sosial mendorong mereka menemukan dan mengadopsi segala kualitas yang diperkirakan dapat memenuhi maksud tersebut.

Alangkah bijaksana bila melalui televisi, perempuan mendapat pelajaran tentang peningkatan kualitas pikir dan jiwa, adanya pengaruh dari tepat tidaknya strategi dan pengambilan keputusan dalam menghasilkan sukses atau sebaiknya, apresiasi terhadap proses dan bukan pada hasil, dan sebagainya. Seperti halnya kaum pendidik dan kaum perempuan, televisi terbukti memiliki kekuasaa normatif di samping kekuasaan informasionalnya untuk menyumbangkan gagasan tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, bahkan apa yang selayaknya diinginkan dan diupayakan.

Dengan kekuataan seperti ini, artinya bukan hanya perempuan yang menentukan tegak runtuhnya suatu bangsa, demikian pula televisi. Akan lebih efektif jika upaya memberdayakan kapasitas televisi sebagai media informasi edukatif ditingkatkan, karena institusi pertelevisian yang berpengaruh atasnya lebih mudah didekati. Dengan kata lain, lebih mudah mengontrol “barang dagangan” penjual daripada mengharap konsumen “teliti sebelum membeli”. Khalayak mayoritas dengan segala keterbatasannya, masih perlu sedikit waktu lagi untuk bisa besikap kritis seperti itu. Tetapi untuk sementara ini, yang mereka perlukan adalah perlindungan.88

Pembicaraan masalah intervensi televisi dalam kehidupan masyarakat intensitasnya semakin meningkat. Salah satu aspek yang sering di bicarakan adalah moralitas televisi dalam mengeksploitasi kalau tak mau menggunakan kata memperlakukan perempuan dalam siarannya. Dalam pembicaraan yang demikian,

88

tanpa ampun televisi dikecam atau dikritik habis-habisan sebagai biang pelecehan martabat perempuan. Tulisan ini mencoban memahami hubungan antara televisi dan perempuan sebagai sebuah fenomena sosiologis bukan fenomena etis. Dengan demikian diharapkan kita akan dapat lebih jernih dalam memahami problematik hubungan dua sosok sosial ini.

Institusi televisi dan perempuan kini menjadi dua sosok sosial dalam masyarakat yang sangat sulit dipisahkan. Tanpa kehadiran perempuan boleh dikatakan siaran televisi menjadi hambar, tidak menarik. Perempuanlah yang membuat tayangan televisi selalu menarik dan marak. Begitu juga karena perempuan, televisi bisa menjadi besar dan pemilik kapital memperoleh keuntungan.

Sebaliknya, televisi juga berperan penting mengangkat moralitas perempuan. Tingginya frekuensi liputan televisi terhadap seorang perempuan bisa membuat dia menjadi terkenal atau populer. Televisi juga mengangkat kesejahteraan perempuan. Sejumlah perempuan memperoleh pekerjaan, penghasilan dan kepuasan hidup melalui televisi. Ada juga pendapat bahwa harkat dan martabat kaum perempuan juga terangkat oleh liputan atau tayangan yang baik dan positif (simpati dan empatik) dari televisi.

Salah satu yang tidak boleh dilupakan adalah, karena liputan yang tidak tepat tentang perempuan, televisi sering dikritik dan dibenci masyarakat. Atau sebaliknya, kareba televisi masalah perempuan direndahkan martabatnya menjadi sosok biologis semata.89

89

Idi Subandy Ibrahim- Hanif Suratno, Wanita Dan Media Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru, h. 236

Singkat saja, “wajah” perempuan di media massa memperlihatkan streotip yang merugikan: perempuan pasif, bergantung pada pria, didominasi, menerima keputusan yang dibuat oleh pria dan terutama melihat dirinya sebagai simbol seks.

Sejarah tubuh perempuan di dalam ekonomi politik kapitalisme Yasraf Amir Piliang (1998), adalah sejarah pemenjaraan sebagai tanda atau fragmen-fragmen tanda. Kapitalisme membebaskan tubuh perempuan dari tanda-tanda dan identitas tradisionalnya (tabu, etiket, adapt, moral, spiritual) dan memenjarakannya sebagai bagian dari ekonomi politik kapitalisme. Fungsi tubuh telah bergeser dari fungsi organis/biologis/reproduktif kea rah fungsi ekonomi politik, khususnya fungsi tanda. Ekonomi kapitalisme mutakhir telah berubah kearah pengguna tubuh dan hasrat sebagai titik sentral komoditi, yang disebut ekonomi libido. Tubuh menjadi bagian dari semiotika komoditi kapitalisme, yang diperjualbelikan tanda, makna, dan hasratnya.

Tubuh perempuan dimuati dengan modal simbolik ketimbang sekadar modal biologis. Erotisasi tubuh perempuan di dalam media adalah dengan mengambil fragmen-fragmen tubuh tersebut sebagai penanda dengan berbagai posisi dan pose serta dengan berbagai asumsi makna. Tubuh perempuan di telanjangi melalui ribuan varian sikap, gaya, penampilan, dan kepribadian mengkonstruksi dan menaturalisasikan tubuhnya secara sosial dan cultural sebagai objek fetish, yaitu objek yang dipuja sekaligus dilecehkan, karena dianggap mempunyai kekuatan pesona (rangsangan, hasrat, citra) tertentu.

Yasraf Amir Piliang mengidentikkan eksploitasi tubuh perempuan di dalam ekonomi libido dengan eksploitasi kaum pekerja di dalam kapitalisme. Perempuan dieksploitasi nilai tanda (sign value) atau nilai libidonya sebagai

ekivalensi nilai tukar komoditi. Di dalam sistem kapitalisme sekarang ini nilai tubuh perempuan dikembangkan ke dua arah: sebagai nilai guna (erotica) dan nilai tukar (tubuh sebagi tanda).

Media pada dasarnya adalah cermin dan refleksi dari masyarakat secara umum. Karena itu, media bukanlah saluran yang bebas, media juga subjek yang mengkostruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihaknya.90

Posisi perempuan dalam hubungannya dengan televisi adalah perempuan juga subjek yang sering tampil di televisi. Sebagai subjek perempuan menjadi sosok yang aktif dan kreatif bergaya, berakting di layar kaca. Dengan kearifan dan kreativitasnya selain dapat meraih penghasilan yang popular di masyarakat adalah paling sering tampil di televisi.

Sebagai subjek televisi, perempuan yang dimaksud termasuk penyanyi dan pemusik yang tampil di laya kaca. Satu hal yang perlu pula dicatat banyak juga perempuan yang berada di belakang layar sebagai produser, yang menyelenggarakan atau menyutradarai berbagai acara televisi. Pada posisi demikian perempuan punya kedudukan yang aktif, sebab punya kekuasaan mengorganisasi orang, peralatan maupun ide untuk suatu tayangan televisi.

Hal yang sering menjadi buah bibir orang tentang hubungan televisi dengan perempuan adalah kaum perempuan merupakan objek tontonan televisi nasional. Berbeda dengan pandangan sebelumnya perempuan dipandang sebagai kaum yang aktif dan kreatif, maka di sini perempuan dianggap sebagai objek sehingga pemodal dapat meraih keuntungan yang lebih banyak.

90

Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), Cet ke-4, h.38-39

Perempuan pada posisi demikian, lebih dilihat sebagai sosok yang bersifat biologis semata, yakni kecantikan wajahnya, keindahan rambutnya, kemolekan dan kesensualan tuuhnya, kemerduan suaranya dan unsure sejenis lainnya. Sebab, unsur-unsur perempuan yang terakhir inilah yang dianggap sebagai komoditas yang amat laku. Perempuan dalam kondisi demikian bisa berupa bintang iklan, bintang sinetron atau musik dan lain-lain.

Kebanyakan iklan yang menampilkan perempuan sebagai citra maupun metode persuasinya lebih cenderung menampilkan sosok biologinya mereka, baik kecantikan, keindahan rambut, keindahan tubuh, maupun kemerduan suara. Sosok non biologis, seperti daya intelektual, keterampilan, keahlian dan profesionalitas perempuan jarang sekali ditontonkan.91

Perempuan sebagai objek atau subjek dalam gambaran media dapat dilihat dari image seperti apa yang ditampilkan oleh media yang bersangkutan. Kalau hanya mengeksploitasi tubuh perempuan untuk kepentingan perdagangan, jelas noda hitam untuk posisi perempuan di media cetak tersebut. Umumnya ini banyak ditemui di majalah ataupun tabloid yang bersifat hiburan. Mungkin tidak menyambung dengan materi tulisan ataupun produk iklan, yang penting memakai model perempuan yang seksi.

Dalam hal ini hukum pasar yang berlaku, karena memang itu yang mau dijual oleh media tersebut. Adapun artikel atau publik yang ada selalu mengacu pada tampilan gambar yang utama, bukan pada pesan yang ingin disampaikan dari deretan aksara. Sementara bagi media cetak yang lebih fokus pada kajian ataupun

91

Idi Subandy Ibrahim - Hanif Suratno, Wanita Dan Media Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru, h. 238-239

informasi ilmu, keberadaan iklan yang membidik kaum perempuan. Hanya semua dikemas dengan lebih sopan dan tidak vulgar.

Fenomena publikasi perempuan pada media massa sudah pada tahap yang mengkhawatirkan, karena dampak yang ditimbulkannya sangat besar. Kalau diperhatikan bersama, publikasi kaum perempuan pada media massa perannya hanya sebagai objek yang akan memberikan keuntungan bagi pemilik modal dan sangat besar kerugiannya bagi penerus generasi bangsa. Namun belakangan ini, setelah adanya era reformasi, maka publikasi perempuan di media massa menambah deretan permasalahan yang menimpa bangsa ini. Bukan saja isu pembangunan ekonomi yang melemah, tetapi berbagai tayangan dari media massa (media elektronik dan media cetak) yang telah mendorong adanya berbagai krisis akhlak moral bagi anak bangsa Indonesia.

Berbagai kemasan publikasi perempuan di media massa secara terperinci tersaji mulai dengan sederhana hingga yang paling vulgar, namun berbagai kritikan rasanya sudah terlalu banyak disampaikan, tapi kelihatannya dengan keuntungan yang menggiurkan, munculnya publikasi perempuan di media massa makin tumbuh subur di bumi pertiwi ini. Belakangan ini kita sama-sama ketahui, bahwa telah diterbitkannya majalah playboy yang dari induknya bercita-cita vulgar alias porno. Tetap terbit walaupun mendapatkan berbagai kritikan pedas sekalipun.92

Istilah pornografi, dalam Kamus besar Bahas Indonesia diberikan pemaknaan, yakni sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan

92

Meutia Hatta Swasono, Seminar Sehari Perempuan dan Media Massa, P2KM, (Jakarta, 2006).

lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi, atau bahan yang dirancang dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.

Senada dengan rumusan-rumusan tersebut, maka kaum feminis merumuskan pornografi sebagai barang-barang yang melukiskan dan mendorong penghinaan seksual, bukan merupakan realitas yang dianggap biasa, dan akhirnya masyarakat dapat menerimanya. Fenomena pornografi dengan demikan, praksisi kerjanya mirip dengan apa yang ada dalam paradigma iklan yang bersifat hegemonik. Artinya, bukankah iklan yang paling efektif, adalah iklan yang tidak menyatakan secara terbuka, menasehati atau memaksa konsumen untuk membeli produknya.93

Perbincangan mengenai perempuan dan pornografi tidak bisa dipisahkan dari sistem yang memungkinkan berkembangnya pornografi dan eksploitasi perempuan di dalamnya. Salah satu sistem yang didalamya perempuan (tubuh, tanda, hasratnya) dieksploitasi dalam rangka memproduksi pornografi adalah sistem (budaya) kapitalisme. Dengan kecenderungannya menjadikan perempuan sebagai objek komoditi dan pornografi disebabkan interen ideologi patriaki di dalamnya sistem budaya kapitalisme telah mengangkat ke permukan setidak-tidaknya tiga persoalan yang menyangkut eksistensi perempuan di dalam wacana komoditi kapitalisme, khususnya pornografi sebagai komoditi.

Di dalam sistem budaya kapitalisme, tubuh dengan berbagai potensi tanda, citra, simulasi, dan artificenya menjadi elemen sentral ekonomi politik, disebabkan tubuh (estetika, gairah, sensualitas, erotisme) merupakan raison d

93

‘etre setiap produksi komoditi. Tubuh itu sendiri terutama tubuh perempuan menjadi komodii sekaligus metakomoditi, yaitu komoditi yang digunakan untuk menjual (mengkomunikasikan) komoditi-komoditi lainnya (mode, sales girl), lewat potensi fisik, tanda, dan libidonya.

Tubuh perempuan di dalam budaya kapitalisme tidak saja dieksplorasi nilai guna (use value) pekerja, protitusi, pelayan; akan tetapi juga nilai tukarnya (exchange value) gadis model, gadis peraga, dan kini juga nilai tandanya (sign value) pornografi. Tubuh, dengan demikian, menjadi urat nadi ekonomi yang dimilikinya. Di dalam sistem budaya kapitalisme, tubuh menjadi bagian dari politik tubuh (body politics), setidak-tidaknya pada tingkat politik.94

Persoalannya sekarang bagaimana secara sosiologis dan rasional ilmiah persoalan seksualitas yang mengarah pada porno ini dirumuskan dan disepakati oleh masyarakat, Berbagai kepentingan dengan berbagai konsep ditawarkan untuk memenangkan kepentingan mereka. Karena itu perlu sebuah pemahaman tentang apa itu porno, bagaimana hubungannya dengan persoalan norma seksual di masyarakat, bagaimana perubahan yang terjadi di sekitar konsep ini dari masa ke masa, serta bagaimana seks da porno menjadi komoditas kapitalis dan politik di masyarakat Indonesia.95

Menurut Pendapat Ashadi Siregar, media massa dibayangkan sebagai tumpukan kertas Koran, majalah, televisi, radio dan atau hal yang berkaitan denagn siaran dan komunikasi. Ia juga berpikir bahwa seperti halnya universitas, kehidupan di media massa semestinya jauh dari sikap berkompetensi, sikap saling

94

Yasraf Amir Piliang, Dunia Yag Dilipat, (Yogyakarta: PT. Jalasutra, 2004), Cet ke-1,h. 339-340

95

jegal, dan sikap akumulatif. Melalui media setiap orang bebas mengutarakan pendapatnya, bebas mengemukakan ide, atau hal-hal yang olehnya dianggap penting dan perlu.

Bagi banyak orang, perempuan adalah objek dan sekaligus subjek. Pembahasan mengenai apa dan siapa perempuan tidak pernah habis-habisnya. Di dalam kediriannya, perempuan mengaktualisasikan pikiran, kehendak-kehendak, dan tujuan hidupnya. Perempuan pada saat itu adalah subjek. Di saat lain, karena wujud fisik yang dimilikinya, dia menjadi “sasaran tembak” dari anggota masyarakat di mana dia berada. Perempuan menjadi keterbatasan gerak dan dia berfungsi tak lebih dari sebagai pemenuh kebutuhan ekomoni, sosial dan rohani dari anggota masyarakat. Perempuan pada saat itu adalah objek. Bagimana perempuan berada pada posisi subjek ataupun objek adalah sesuatu yang unik. Hal yang tidak terbantahkan adalah bahwa posisi tersebut banyak ditentukan oleh bagaimana dirinya mengantisipasi perubahan sosial ekonomi dan politik yang sedang terjadi.

Perempuan menjadi bahan perbincangan karena ia sekaligus adalah subjek dan objek. Semakin aktif ia memainkan peran gandanya, makin tampak peran subjek-objek yang dibawakannya. Peran subjek-objek tersebut tampaknya tidak terlepas dari persepsi masyarakat mengenai apa dan bagaimana seharusnya perempuan bersikap. Persepsi masyarakat tersebut antara lain di ulas oleh sejumlah pemerhati masalah perempuan antara lain Simone deBeauvoir.96

Perkembangan kebudayaan sejauh ini nampaknya belum beranjak dari fenomena kekerasan seksual. Bahkan dengan kemajuan teknologi media massa

96

Melek Media Ala AG. Eka Wenats Waryanta, Konsumtivisme dan Hedonisme Media Massa, 2006

sikap itu semakin membengkak sekalipun dilakukan dengan teknik rekayasa tertentu, yaitu mengekspos tubuh perempuan sebagai objek seks secara terbuka seperti dalam film, fotografi, maupun iklan-iklan.

Sejauh media massa hanya membangun citra estetik semu demi komersialisasi, itu sama halnya dengan sengaja memperkukuh konstruksi budaya patriaki atas perilaku seksualitas yang negatif. Namun, apakah media massa dalam hal ini harus bertanggung jawab sebagai agen utama pengorbaresivitas seperti itu tentu saja masih perlu diteliti lebih jauh lagi.

Subjektivitas manusia secara psikologi harus sama-sama diperhitungkan. Pandangan bahwa kekerasan seksual adalah kompensasi psikolois mungkin sangat menarik untuk diamati. Bahwa pada hakikatnya daya seksual perempuan jauh lebih kuat dan tahan daripada laki-laki. Di sini jadinya laki-laki itu inferior. Tapi karena kadung kesan patriaki telah tertanam di bawah sadarnya bahwa laki-laki itu superior, maka dengan berbagai cara termasuk menggunakan alat bantu semacam alkohol, pil, atau jamu kuat, rangsangan pornografi, dan lain-lain, ia berusaha mengatasi daya seksualitas perempuan. Munculnya tindakan perkosaaan bisa saja adalah bagian dari kompensasi tersebut.97

Secara global struktur muatan pemberitaan media massa pada umunnya belum secara seimbang merespon kepentingan perempuan. Pemberitaan media massa umumnya memberitakan ruang publik laki-laki. Mulai dari persoalan negara, politik, militer, olah raga, pemerintahan lokal, sampai dengan berbagai wacana publik laki-laki lainnya. Namun ketika ada pemberitaan masalah perempuan, sorotan menjadi domestik, seperti keterampilan rumah tangga,

97

Idi Subandi Ibrahim – Hanif Suranto, Wanita Dan Media Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru, h. 54-55

kosmetika, dan kecantikan, terkecuali ketika ada tokoh publik perempuan, baru kemudian menjadi berita utama, itu pun terkesan tidak menjadi agenda setting media pada hari itu, karena berita utama tersebut tidak diikuti oleh pemberitaan hari itu.

Model pemberitaan media massa yang didominasi publik laki-laki, menunjukkan media massa merekonstruksi realitas dalam kehidupan sosial dimana laki-laki lebih banyak mendominasi ruang kehidupan di masyarakat, terutama menyangkut ruang publik. Media massa setiap saat menurunkan berita

Dokumen terkait