• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluarga Berencana merupakan usaha suami istri untuk mengukur jumlah dan jarak yang di inginkan.usaha yang dimaksud termasuk kontrasepsin atau pencegahan kehamilan perencanaan keluarga.prinsif dasar metode kontrasepsi adalah mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplementasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. (purwoastuti,2015;hal 182)

2. Jenis-Jenis Kontrasepsi

Jenis-jenis kontrasepsi dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrasepsi alami, kontrasepsi mekanis, kontrasepsi hormonal, dan kontrasepsi mantap. a. Spermisida

Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma.jenis spermisida terbagi menjadi :

1) Aerosol (busa)

2) Teblet vagina,suppositoria atau dissolvable film. 3) Krim.

b. Cervical cap

Merupakan kontasepsi wanita,terbuat dari bahan latex,yang dimasukan kedalam liang kemaluan dan menutupi leher rahim

Cervical cap berfungsi sebagai barier (penghalang) agar sperma tidak masuk kedalam rahim sehingga tidak terjadi kehamilan.setelah berhubungan suami istri cap tidak boleh dibuka minimal selama 8 jam.agar efektif,cap biasanya dicampur pemakaiannya dengan jeli spermisidal (pembunuh sperma).

c. Suntik

Suntik kontrasepsi diberikan setiap 3 bulan sekali.suntikan kontrasepsi mengandung hormon progestogen yang menyerupai hormon progesteron yang di produksi oleh wanita selama 2 minggu pada setiap awal siklus menstruasi.hormon tersebut mencegah wanita untuk melepaskan sel telur sehingga memberikan efek kontrasepsi.banyak klinik kesehatan yang menyarankan penggunaan kondom pada minggu pertama saat suntik kontrasepsi.sekitar 3 dari 100 orang yang menggunakan kontrasepsi suntik dapat mengalami kehamilan pada tahun pertama pemakaian.

d. Kontrasepsi darurat IUD

Alat kontrasepsi intrauterine device (IUD) dinilai efektif 100% untuk kontrasepsi darurat.hal itu tergambar dalam sebuah studi yang melibatkan sekitar 2000 wanita china yang menggunakan alat ini 5 hari setelah melakukan hubungan intim tanpa pelindung.alat yang disebut copper T380A,atau copper T bahkan efektif dalam mencegah kehamilan dalam setahun setelah alat ini ditanamkan dalam rahim.

Implan atau susuk kontrasepsi merupakan alat kontrasepsi yang berbentuk batang dengan panjang sekitar 4cm yang di dalamnya terdapat hormon progestogen,implan ini kemudian dimasukan kedalam kulit dibagian lengan atas,hormon tersebut kemudian akan dilepas secara perlahan dan implan ini dapat efektif sebagai alat kontrasepsi selama tigatahun.

f. metode amenorea laktasi (MAL)

Loctational amenorrhea method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif,artinya hanya diberikan ASI saja tanpa makanan tambahan MAL dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planing,apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain. g. Pil kontrasepsi

Pil kontrasepsi dapat berupa pil kombinasi (berisi hormon estrogen dan progesteron) ataupun hanya berisi progesteron saja.pil kontrasepsi bekerja dengan cara mencegah terjadinya ovulasi dan mencegah terjadinya penebalan dinding rahim.

h. Kontrasepsi sterilisasi

Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metode Operasi Wanita) atau tubektomi,yaitu tindakan peningkatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma.

Kondom merupakan jenis kontrasepsi penghalang mekanik.kondom mencegah kehamilan dan infeksi penyakit kelamin dengan cara menghentikan sperma untuk masuk kedalam vagina,kondom pria dapat terbuat dari bahan latex (karet),polyurethane (plastik),sedangkan kondom wanita terbuat dari polyurethanepasangan yang mempunyai alergi terhadap latex dapat menggunakan kondom yang terbuat dari polyurethane. Dan efektifitas kondom pria antara 85/98% sedangkan efektifitas kondom wanita antara 79/95%. Harap diperhatikan bahwa kondom pria dan wanita sebaiknya jangan digunakan secara bersamaan.(purwoastuti,2014;202-205).

3. Keuntungan dan kerugia alat lontrasepsi.

Setiap alat kontrasepsi pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing,berikut kelebihan dan kekurangan dari metode kontrasepsi yang telah di sebutkan di atas :

a. Spermisida: keuntungan

1) efektif seketika (busa dan krim) 2) Tidak mengganggu produksi ASI 3) Sebagai pendukung metode lain 4) tidak mengganggu kesehatan klien. 5) tidak mempunyai pengaruh sistematik 6) mudah digunakan.

8) Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik Kerugian

1) Iritasi vagina atau iritasi penis dan tidak nyaman. 2) gangguan rasa panas di vagina

3) tablet busa vagina tidak larut dengan baik. b. cervical cap

keuntungan

1) bisa dipakai jauh sebelum berhubungan 2) mudah dibawa dan nyaman

3) tidak mempengaruhi siklus haid. 4) Tidak mempengaruhi kesuburan kerugian

1) tidak melindungi dari HIV/AIDS 2) butuh fitting sebelumnya

3) ada wanita ada wanita yang gk bisa muat (fitted) 4) kadang pemakaian dan membukanya agak sulit. 5) Bisa copot saat berhubungan

6) kemungkinan reaksi alergi. c. suntik kontrasepsi

keuntungan

1) dapat digunakan oleh ibu yang menyusui 2) tidak perlu dikonsumsi setiap hari

4) darah menstruasi menjadi lebih sedikit. Kerugian

1) dapat mempengaruhi siklus menstruasi

2) kekurangan suntik kontrasepsi/kb suntik dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada beberapa wanita.

3) tidak melindungi terhadap penyakin menular seksual.

4) Harus mengunjungi dokter/klinik setiap 3 bulan sekali untuk mendapatkan suntikan berikutnya.

5) Penapisan Calon Akseptor KB

Tabel 2.4 Penapisan metode Kontrasepsi Hormonal

Metode Hormonal ( Pil kombinasi, pil progestin, suntikan dan

susuk ) YA TIDAK

Apakah hari haid terakhir 7 hari yang lalu atau lebih

Apakah anda menyusui dan kurang dari 6 minggu

pascapersalinan

Apakah mengalami perdarahan / perdarahan bercak antara haid setelah senggama

Apakah pernah ikterus pada kulit atau mata.

Apakah pernah nyeri kepala hebat atau gangguan visual.

Apakah pernah nyeri hebat pada betis, paha atau dada, atau tungkai bengkak ( edema )

Apakah pernah tekanan darah diatas 160 mmHg( sistolik ) atau 90 mmHg ( diastolic )

Apakah ada massa atau benjolan pada payudara

Apakah anda sering minum obat-obatan anti kejang ( epilepsy ) AKDR ( semua jenis pelepas tembaga atau progestin )

Apakah hari pertama haid terahir 7 hari yang lalu.

Apakah klien ( atau pasangan ) mempunyai pasangan seks lain. Apakah pernah mengalami infeksi menular seksual ( IMS ) Apakah pernah mengalami radang panggul atau kehamilan ektopik

Apakah pernah mengalami haid banyak ( lebih 1-2 pembalut tiap 4 jam )

Apakah pernah mengalami haid lama ( lebih dari 8 hari )

Apakah pernah mengalami dismenorea berat yang membutuhkan analgetika dan / atau istirahat baring.

Apakah pernah mengalami gejala penyakit jantung vascular atau congenital

Sumber : Handayani, 2010. H 37

Tabel 2.5 Penapisan KB Tubektomi

Keadaan Klien Dapat dilakukan pada

fasilitas rawat jalan Dilakukan di fasilitas rujukan

Keadaan Umum (

anamnesis dan

pemeriksaan fisik )

Keadaan umum baik, tidak ada tanda – tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal.

Diabetes tidak terkontrol,

riwayat gangguan

pembekuan darah, ada tanda

– tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal.

Keadaan emosional Tenang Cemas, takut

Tekanan darah < 160/100 mmHg >160/100 mmHg

Berat Badan 35-85 kg >85 kg ; < 35 kg

Riwayat operasi

abdomen/ panggul

Bekas seksio sesarea ( tanpa perlekatan )

Operasi abdomen lainnya, perlekatan atau terdapat kelahiran pada pemeriksaan panggul

Riwayat radang panggul, hamil ektopik,

Pemeriksaan dalam

normal

Pemeriksaan dalam ada

kelainan

Anemia Hb > 8 g% Hb < 8 g%

Tabel 2.6 Penapisan Metode KB Vasektomi

Keadaan Klien Dapat dilakukan pada

pasien rawat jalan

Dilakukan pada fasilitas rujukan

Keadaan umum (

anamnesis

pemeriksaan fisik )

Keadaan umum baik, tidak ada tanda – tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal.

Diabetes tidak

terkontrol, riwayat gangguan pembekuan darah, tand – tanda penyakit jantung, paru atau ginjal.

Keadaan emosional Tenang Cemas, takut

Tekanan darah < 160/100mmHg >160/100 mmHg

Infeksi atau kelainan skrotum/ inguinal

Normal Tanda – tanda infeksi

atau ada kelainan

Anemia Hb >8 g% Hb<8 g%

Sumber : Handayani, 2010. H. 39

Sarwono, 2011:Hal 440).

Tabel 2.7. Daftar Tilik Penapisan Klien, Metode Nonoperatif

Metode Hormonal (pil kombinasi, pil progestin, suntikan dan susuk) Ya Tidak

Apakah hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu atau lebih Apakah anda menyusui dan kurang dari 6 minggu pascapersalinan1,2 Apakah mengalami perdarahan/perdarahan bercak antara haid setelah senggama

Apakah pernah ikterus pada kulit atau mata

Apakah pernah nyeri kepala hebat atau gangguan visual

Apakah pernah nyeri hebat pada betis, paha atau dada, atau tungkai bengkak (edema)

Apakah pernah tekanan darah diatas 160 mmHg (sistolik) atau 90 mmHg (diastolik)

Apakah adamassa atau benjolan pada payudara

Apakah anda sedang minum obat-obatan anti kenjang (epilepsi)3 AKDR (semua jenis pelepas tembaga dan progestin)

Apakah hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu

Apakah klien (atau pasangan) mempunyai pasangan seks lain Apakah pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS)

Apakah pernah mengalami penyakit radang panggul atau kehamilan ektopik

Apakah pernah mengalami haid banyak (1-2 pembalut tiap 4 jam) Apakah pernah mengalami haid lama (lebih dari 8 hari)

Apakah pernah mengalami dismenorea berat yang membutuhkan analgetika dan/atau istirahat baring

Apakah pernah mengalami gejala penyakit jantung valvular atau kongenital

1. Apabila klien menyusui dan kurang dari 6 minggu pascapersalinan maka pil kombinasi adalah metode pilihan terakhir

2. Tidak cocok untuk pil progestin (minipil), suntikan (DMPA atau NET-EN), atau susuk 3. Tidak cocok untuk semua suntikan progestin (DMPA atau NET-EN)

Jika semua keadaan diatas adalah “Tidak” (negatif) dan tidak dicurigai adanya

kehamilan, maka dapat diteruskan dengan konseling metode khusus. Bila respon

banyak yang “ya” (positif), berarti klien perlu dievaluasi sebelum keputusan akhir

dibuat. (BKKBN, 2010)

Tabel 3.1. Daftar Tilik Penapisan Klien, Metode Operasi (Tubektomi)

Keadaan Klien

Dapat dilakukan pada fasilitas rawat jalan

Dilakukan di fasilitas rujukan

Keadaan umum (anamnesis dan pemeriksaan fisik)

Keadaan umum baik, tidak ada tanda-tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal

Diabetes tidak terkontrol, riwayat gangguan pembekuan darah, ada tanda-tanda penyakit jantung, paru atau ginjal

Keadaan emosional Tenang Cemas, takut

Tekanan darah < 160/100 mmHg ≥ 160/100 mmHg

Berat badan 35-85 kg >85 kg; <35 kg

Riwayat operasi abdomen / panggul

Bekas seksio sesarea (tanpa perlekatan)

Operasi abdomen lainnya, perlekatan atau terdapat

kelainan pada pemeriksaan panggul

Riwayat radang panggul, hamil ektopik, apendisitis

Pemeriksaan dalam normal Pemeriksaan dalam ada

kelainan

Anemia Hb ≥ 8 g% Hb < 8 g%

Sumber : BKKBN (2010)

Tabel 3.2 : Daftar Tilik Penapisan Klien, Metode Operasi (Vasektomi)

Keadaan Klien

Dapat dilakukan pada fasilitas rawat jalan

Dilakukan pada fasilitas rujukan

Keadaan umum (anamnesis dan pemeriksaan fisik)

Keadaan umum baik, tidak ada tanda-tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal

Diabetes tidak terkontrol, riwayat gangguan pembekuan darah, tanda-tanda penyakit jantung, paru, atau ginjal

Keadaan emosi Tenang Cemas, takut

Tekanan darah < 160/100 mmHg ≥ 160/100 mmHg

Infeksi atau kelainan skrotum/inguinal

Normal Tanda-tanda infeki atau ada

kelainan

Anemia Hb ≥ 8 g% Hb < 8 g%

Sumber : BKKBN (2010)

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR )

a. Jenis Kontrasepsi Dalam Rahim 1. AKDR CuT-3802

2. AKDR lain yang beredar di Indonesia ialah NOVA T (schering).

b. Cara kerja kontrasepsi AKDR

1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tubaplopi.

2. Mempengaruhi fertilisasi ovum mencapai kavum uteri. 3. AKDR bekerja mencegah sperma dan ovum bertemu,

walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalamuterus.

c. Keuntungan kontrasepsi dalam rahim. 1. Sebagai kontrasepsi efektifitas tinggi 2. Efektif segera setelah pemasangan. 3. Metode jangka panjang (10 Tahun) 4. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

5. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak membuat ke khawatiran terjadi hamil.

6. Membantu mencegah terjadinya kehamilan ektopi. (Bkkbn,2014;MK-18)

2. Keadaan multipara

3. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang 4. Aman untuk ibu menyusui

5. Setelah mengalami abortus dan tidak adanya tanda infeksi

6. Rendah resiko IMS

7. Tidak menghendaki metode hormonal. 8. Tidak perlu mengingat minum pil

9. Tidak menghendaki hamil setelah 1-5 hari senggama (lihat kontrasepsi darurat (BKKBN,2014;MK-82)

F. TINJAUAN ASUHAN KEBIDANAN

Dokumen terkait