• Tidak ada hasil yang ditemukan

e. Pengertian manajemen kebidanan

Manajemen kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang dignakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data,analisa data,diagnosa kebidanan,perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi. (Susanti,2015; h.98). f. Tujuh Langkah dalam Manajemen kebidanan menurut Varney

1) Langkah I: Pengumpulan Data Dasar

kegiatan yang dilakukan adalah pengkajian dengan

a) Keluhan klien

b) Riwayat kesehatan klien

c) Pemeriksaan fisik secara lengkap sesuai dengan kebutuhan d) Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya

e) Meninjau data laboratorium. Pada langkah ini, dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien (Mangkuji, 2013; hal.5).

2) Langkah II Interpretasi data dasar

kegiatan yang dilakukan adalah menginterpretasikan semua data dasar yang telah dikumpulkan sehingga ditemukan diagnosis atau masalah. Diagnosis yang dirumuskan adalah diagnosis dalam ruang lingkup praktik kebidanan yang tergolong pada nomenklatur standar diagnosis, sedangkan perihal yang berkaitan dengan pengalaman klien ditemukan dari hasil pengajian.

3) Langkah III : Identifikasi diagnosis /masalah potensial

Mengidentifkasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian diagnosis dan masalah yang sudah teridentifikasi. Berdasarkan temuan tersebut, bidan dapat melakukan antisipasi agar diagnosis/masalah tersebut tidak terjadi. Selain itu, bidan harus bersiap-siap apabila diagnosis/masalah tersebut benar-benar terjadi. Contoh diagnosis/masalah potensial:

b) Kemungkinan Distosia Bahu, apabila data yang ditemukan adalah kehamilan besar.

4) Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera

Bidan melakukan identifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota timkesehatan lain sesuai dengan kondisi klien. Ada kemungkinan, data yang kita peroleh memerlukan tindakan yang harus segera dilakukan oleh bidan, sementara kondisi yang lain masih bisa menunggu beberapa waktu lagi. Contohnya pada kasus-kasus kegawatdaruratan kebidanan, seperti perdarahan yang memerlukan tindakan KBI dan KBE (Mangkuji, 2013; hal.6)

5) Langkah V : Perencanaan asuhan yang menyeluruh.

Merencanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi hal yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi dilihat juga dari apa yang akan diperkirakan terjadi selanjutnya apakah dibutuhkan konseling dan apakah perlu merujuk klien. Setiap asuhan yang direncanakan harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan dan pasien.

Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan rencana asuhan yang sudah dibuat pada langkah ke-5 secara aman dan efisien. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh bidan atau anggota tim kesehatan yang lain. Jika bidan tidak melakukan sendiri, bidan tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya. Dalam situasi ini, bidan harus berkolaborasi dengan tim kesehatan lain atau dokter. Dengan demikian, bidan harus bertanggung jawab atas terlaksananya rencana asuhan yang menyeluruh yang telah dibuat bersama tersebut.

7) Langkah VII : Evaluasi

a) Bidan melakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan, yang mencakup pemenuhan kebutuhan untuk menilai apakah sudah benar-benar terlaksana/terpenuhi sesuai dengan kebutuhan yang telah teridentifikasi dalam masalah dan diagnosis.

b) Mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui mengapa proses manajemen ini tidak efektif.

2. Pendokumentasian Dalam praktik kebidanan dengan menggunakan Metode SOAP

Pendokumentasi dengan metode SOAP. Prinsip dari metode soap merupakan proses pemikiran penatalaksanaan manajemen kebidanan (Muslihatun ,2009; h.123)

a. Subyektif

terutama data yang diperoleh melalui anamnesis.Data subyektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan diagnosis. Data subyektif ini akan menguatkan diagnosis yang akan disusun.

b. Obyektif

Data obyektif merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen varney pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/ pemeriksaan diagnostik lainnya. Catatan medik dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat dimasukan dalam data obyektif ini.

c. Assessment

Merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi dari data subyektif dan obyketif. Dalam pendokumentasian menejemen kebidanan, karena keadaan pasien yang setiap saaat bisa mengalami perubahan, dan akan ditemukan informasi baru dalam data subyektif maupun datab obyketif, maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis.

d. Planning

Planning atau perencanaan adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis

tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan kesejahteraannya.Rencana asuhan ini harus bisa mencapai criteria tujuan byang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu. Tindakan yang akan dilakukan harus mampu membantu pasien mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan hasil kolaborasi tenaga kesehatan lain, antara dokter lain. 3. StandarAsuhanKebidanan

Standar Asuhan Kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari

pengkajian, perumusan diagnosa dan masalah

kebidanan,perencanaan,implementasi,evaluasi, dan pencatatan asuhan kebidanan.

STANDAR I : Pengkajian A. PernyataanStandar

Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan,dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

B. KriteriaPengkajian :

1. Data tepat, akuratdanlengkap

2. Terdiri dari Data Subjektif (hasil anamesa :biodata, keluhan, utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial budaya). 3. Data Objektif (hasil pemeriksaan fisik,psikologis dan pemeriksaan

A. Pernyataanstandar

Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,

menginterpretasikannya secara akurat dan atau logis untuk menegakan diagnose dan masalah kebidanan yang tepat.

B. Kriteria Perumusan diagnose dan Masalah

1. Diagnosa sesuai dengan nomeklatur kebidanan 2. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisiklien

3. Dapat diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi, dan rujukan.

STANDAR III : Perencanaan A. Pernyataan Standar

Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose dan masalah yang ditegakkan.

B. KriteriaPerencanaan

1. Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien tindakan segera tindakan antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.

2. Melibatkanklien /pasiendanataukeluarga.

3. Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien/keluarga 4. Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien

berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.

5. Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada (Kepmenkes,2007).

STANDAR IV : Implementasi A. Pernyataanstandar

Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien, dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/ pasien, dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.

B. Kriteria

1. Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultural

2. Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien dan atau keluarganya (inform consent)

3. Melaksanakantindakanasuhanberdasarkanevidence based 4. Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan

5. Menjaga privacy klien/ pasien

6. Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi

7. Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan. 8. Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai. 9. Melakukan tindakan sesuai standar.

10. Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan. (Kepmenkes, 2007)

A. Pernyataanstandar

Bidan melakukan evaluasi secara sistimatis dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien.

B. KriteriaEvaluasi

1. Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.

2. Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan /keluarga.

3. Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.

4. Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien (Kepmenkes, 2007).

STANDAR VI : PencatatanAsuhanKebidanan A. PernyataanStandar

Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhankebidanan.

B. KriteriaPencatatanAsuhanKebidanan

1. Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (Rekammedis/KMS/Status pasien/ buku KIA). 2. Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP

5. Aadalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan. 6. Padalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan

penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif ;penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up danrujukan (Kepmenkes,2007).

C. Aspek Hukum

Standar profesi bidan diatur dalam KepMenKes RI nomor

369/MENKES/III/2007 yang berisi tentang stadar profesi ini terdiri dari standar Kompetensi bidan di Indonesia, Standar pendidikan, Standar pelayanan kebidanan dan kode etik profesi. Standar profesi ini wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap bidan dalam mengamalkan amanat profesi kebidanan.

1. Kewenangan Bidan

Berdasarkan PemenKes RI nomor 146/MENKES/PER/XI/2010 tentang penyelenggaraan praktik bidan pada pasal 9 dijelaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktiknya, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Sedangkan pasal 10 menjelaskan bahwa dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu meliputi konseling pada masa pra kehamilan, kehamilan normal, Persalinan normal , ibu nifas normal, ibu menyusui dan konseling pada masa antara dua kehamilan. Dalam pasal

bidan berwenang untuk memberikan asuhan bayi baru lahir normal, dan dalam memberikan penyuluhan dan koseling tentang kesehatan reproduksi perempuan dan KB tercantum pada pasal 12.

2. Wewenang bidan Berdasarkan PemenKes RI nomor

146/MENKES/PER/XI/2010 tentang penyelenggaraan praktik bidan menyebutkan bahwa dalam pasal 14 bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter, dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 (KepMenKes RI,2010;hal.5-7).

Dokumen terkait