• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN

D. Perencanaan Keperawatan

NO Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1 PK Anemi

ditandai dengan KU : lemah, Kesadaran : composmentis, Konjungtiva anemis, HB tanggal 8 November 2015 : 6 g/dL, Pasien sudah transfusi 3kali : Tanggal 7 November 2015, 8 November 2015, 9 November 2015 Eritrosit 4.46 10^6/µL

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam PK Anemi teratasi dengan kriteria hasil

- Angka hemoglobin normal (12.3 – 15.3) g/dL - Eritrosit 4.06 – 5.20 10^6/µL - Konjungtiva tidak anemis - KU : baik Selasa, 10 November 2015 07.00

1. Kaji keadaan umum pasien dan tanda – tanda anemi seperti kesadaran pasien dan konjungtiva pasien 2. Pantau jumlah sel darah

merah tetap dalam batas normal secara berkala ( cek HB dan eritrosit ) 3. Siapkan pasien secara fisik

dan psikologis untuk menjalani perawatan 4. Kelola pemberian transfusi

ke 4 sesuai indikasi

( rina )

Selasa, 10 November 2015 07.00

1. Diketahuinya keadaan umum pasien dapat sebagai acuan intervensi selanjutnya

2. Dengan pemantauan sel darah merah berkala dapat membantu mencegah terjadinya nekrosis jaringan perifer

3. Mencegah nosokomial

4. Kesiapan pasien baik secara fisik dan psikologis dapat membantu memperlancar jalannya terapi.

5. Pemberian transfusi sesuai indikasi dapat mengganti darah yang hilang

( rina )

mengalami penyakit kronis ditandai dengan Suami pasien mengatakan semenjak sakit pasien hanya menangis dan diam, Suami pasien mengatakan awalnya pasien merahasiakan sakitnya, Pasien terlihat sering melamun, Saat pengkajian saat ditanya tentang sakitnya pasien menangis, Pasien jarang menatap perawat ketika diajak bicara, Pasien jarang menjawab ketika ditanya dan menjawab seperlunya, Berbicara pasien lirih.

keperawatan selama 3 x pertemuan diharapkan ansietas teratasi dengan kriteria hasil - Pasien rileks - Pasien dapat menerima keadaan perubahan status kesehatannya. - Pasien menatap dengan orang yang mengajak bicara

07.00

1. Bina hubungan saling percaya antara perawat -pasien

2. Pahami rasa takut / ansietas pasien

3. Kaji tingkat ansietas yang dialami oleh pasien

4. Temani atau atur supaya ada seseorang bersama pasien sesuai indikasi 5. Berikan penjelasan pada

pasien tentang

penyakitnya

( rina )

07.00

1. Hubungan saling percaya adalah dasar hubungan terpadu yang mendukung klien dalam mengatasi perasaan cemas 2. Perasaan adalah nyata dan

membantu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya

3. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh pasien

4. Dukungan yang terus – menerus mungkin membantu pasien mengurangi ansietas / rasa takut ketingkat yang dapat diatasi 5. Dapat mengurangi rasa cemas

pasien akan penyakitnya. ( rina )

3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Selasa, 10 November 2015 Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

berhubungan dengan faktor Psikologis ditandai dengan pasien mengatakan diit dari rumah sakit tidak pernah dihabiskan, suami pasien mengatakan sejak sakit pasien tidak mau makan dan hanya minum susu yang diberikan dari rumah sakit itupun tidak habis, suami pasien mengatakan dahulu berat badan pasien 52 kg, pasien mengatakan mules pada bagian perut bawah, mules seperti melilit, BB : 40 Kg, TB : 155, IMT sekarang : 16,6 Kg / m2, BB turun > 10 %, Diit pasien terlihat selalu masih utuh, KU: lemah, BU : 26 x/menit

Pukul 07.00WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam diharapkan ketidakseimbangan

nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh teratasi dengan kriteria :

- Pasien menghabiskan diet dari Rumah Sakit - BB badan pasien naik

1 kg setiap minggu

1. Observasi intake makanan pasien

2. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering

3. Edukasi pasien untuk menghabiskan diet dari Rumah Sakit

4. Edukasi pasien pentingnya asupan makanan bagi kesehatan pasien

5. Kelola diet yang sesuai untuk pasien dengan ahli gizi

( rina )

1. Sebagai informasi dasar untuk perencanaan awal dan validasi data terkait dengan nutrisi pasien

2. Makan sedikit tapi sering dapat mengoptimalkan fungsi pencernaan dalam mengabsorbsi makanan

3. Pemberian edukasi dapat meningkatkan motivasi klien 4. Edukasi dapat meningkatkan

motivasi klien

5. Ahli gizi dapat memberikan diet yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

( rina )

Glukosa darah 2015

Pukul 07.00WIB

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, resiko ketidakstabilan glukosa darah tidak terjadi dengan kriteria :

- Glukosa darah pasien tidak naik/turun secara signifikan

- Terapi obat dapat masuk sesuai dosis

- Pasien dapat

mengontrol pola makan

Pukul 07.00WIB

1. Monitor level glukosa darah

2. Monitor tanda dan gejala hipo/hiperglikemia

3. Berikan insulin sesuai dosis pasien

4. Edukasi pasien untuk menghabiskan diet dari Rumah Sakit

5. Edukasi pasien untuk mengontrol pola makan ( rina )

Pukul 07.00WIB

1. Glukosa yang dimonitor merupakan acuan keadaan level glukosa dalam tubuh pasien

2. Untuk mewaspadai

hipo/hiperglikemia

3. Insulin yang sesuai dengan dosis mempunyai efektifitas yang lebih tinggi untuk menstabilkan glukosa darah 4. Diit yang tidak habis dapat

menyebabkan hipoglikemi 5. Edukasi dapat meningkatkan

motivasi pasien ( rina ) 5 Risiko ketidakseimbangan elektrolit Selasa,10 November 2015 Pukul 07.00WIB

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan risiko

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Pantau hasil laboratorium nilai elektrolit serum darah pasien

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Monitoring elektrolit

2. Tanda dan gejala penting untuk diketahui agar saat

ketidakseimbangan

elektrolit teratasi dengan kriteria hasil

-2. Pantau tanda – tanda dan

gejala adanya

peningkatan kadar elektrolit serum pada pasien

3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mengatur pemberian makanan dengan pembatasan elektrolit yang sesuai untuk pasien

4. Kelola terapi drip premik KCL

( rina)

terjadi bisa tertangani dengan cepat.

3. Meminimalisir gangguan elektrolit yang mungkin saja terjadi.

4. Premik KCL dapat menaikan kadar kalium pada pasien

( rina)

6 Resiko Infeksi berhubungan dengan prosedur invasive ditandai dengan Pasien terpasang kateter tunggal, Pada tangan kanan terpasang infus 2 jalur NaCl 20 Tpm dan

Selasa, 10 November 2015

Pukul 07.00WIB

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam resiko infeksi tidak

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Pantau tanda-tanda infeksi (letargi, nafsu makan menurun, ketidakstabilan, perubahan warna kulit )

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Mengetahui penyebab terjadinya infeksi.

2. Teknik aseptik menurunkan pertumbuhan bakteri pathogen

Vascon 45 cc/jam, Pada kaki kanan terpasang infus NaCl 20 Tpm, leukosit : 3.84 %, Suhu badan : 37 °C.

terjadi dengan kriteria :

- TTV dalam batas normal (Nadi : 115 x/ menit, Respirasi 30-40menit, Suhu : 36oC – 37,5oC) - Tidak terdapat perdarahan, tidak terdapat kemerahan

2. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik 3. Edukasi pasien dan

keluarga untuk cuci tangan bersih

4. Kelola pemberian terapi obat

Ceftazidin 1 gr/ 8jam ( IV ) Gentamicin 240 mg/24jam (IV) ( rina )

pada daerah luka

3. Cuci tangan dan tetap mempertahankan teknik aseptic menurunkan resiko infeksi sekunder

4. Ceftazidin dan gentamicin sebagai obat antibiotic yang mencegah timbulnya infeksi

( rina ) 7 Intoleransi aktivitas

berhubungan dengan kelemahan umum ditandai dengan, Seluruh aktivitas pasien selama di rumah sakit pasien tergantung total dan hanya berbaring di tempat tidur, KU : lemah

Selasa, 10 November 2015

Pukul 07.00WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x pertemuan diharapkan

pasien mampu

meningkatkan/

mempertahankan mobilitas yang optimal dengan kriteria:

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Kaji kemampuan gerak klien

2. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif

3. Edukasi pada pasien pentingnya ambulasi

4. Bantu ADL pasien sesuai kebutuhannya

Selasa, 10 November 2015 Pukul 07.00WIB

1. Mengkaji kemampuan gerak dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan.

2. Meningkatkan sirkulasi darah, mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi

3. Edukasi dapat meningkatkan motivasi

- Pasien mengetahui tentang rentang gerak aktif-pasif - Mempertahankan posisi fungsional - Meningkatnya kekuatan/fungsi yang sakit dan - Menunjukkan teknis yang memampukan melakukan aktivitas.

( rina ) 4. ADL yang terpenuhi dapat membantu pasien

E. Implementasi dan Evaluasi

Dokumen terkait