• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORETIK

G. Perencanaan Mutu Pendidikan

71

daya yang dimiliki baik manusia maupun sumberdaya yang lain secara sungguh-sungguh.”95 Adanya komitmen yang kuat dan pemahaman yang sama di lembaga satuan pendidikan dapat menjadi pendukung proses akreditasi. Sedangkan Unsur-unsur yang terlibat dalam akreditasi sekolah disajikan pada gambar di bawah ini, yaitu: 96

Gambar 2.10. Unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan

Akreditasi, Sumber dari BAN-S/M97

G. Perencanaan Mutu Pendidikan

Hal terpenting yang dilakukan sebelum melakukan sesuatu adalah perencanaan. Dianggap pentingnya perencanaan karena memberikan arah sekaligus menjadi penentu tercapainya sebuah tujuan. Dengan demikian jika suatu kerja tidak memiliki perencanaan yang matang akan menjadi tidak terarah dan berantakan, jadi tercapainya sebuah tujuan sangat dipengaruhi oleh prencanaan yang disusun dengan baik dan matang. Sebagaimana yang

95 Hanun Asrohah, Manajemen Mutu Pendidikan, 152.

72

diungkapkan oleh Usman, bahwa perencanaan adalah “kegiatan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang untuk mencapai tujuan dan dalam perencanaan itu mengandung beberapa unsur, diantaranya sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, adanya proses, hasil yang ingin dicapai, dan menyangkut masa depan dalam waktu tertentu.”98 Selain itu, pengertian perencanaan menurut John R, Scemerlon, yaitu: “process of setting objectives

and determining what should be done to acomplished.”99

Perencanaanpendidikan menurut UNESCO, yaitu: “merupakan penetapan ramalan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, dan biaya sebuah sistem pendidikan dengan melihat realitas ekonomi dan politik, potensi sistem untuk berkembang kepentingan Negara dan pelayanan masyarakat yang tercakup dalam sistem tersebut.”100 Dengan demikian dalam perencanaaan kegiatan yang dapat dilakukan meliputi: penetapan tujuan, penegakan strategi, dan pengembangan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan. Sebagai top menajemen kepala sekolah/madrasah memiliki tugas untuk membuat perencanaan yang dibutuhkan baik di masa kini maupun di masa yang akan datang meliputi bidang kepegawaian, kesiswaan, program pembelajaran, kurikulum, keuangan maupun perlengkapan sekolah/madrasah.

Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Kenneth N. Ross dan Lars Mahlck, bahwa perlu perubahan dalam perencanaan pendidikan baik secara

98 Husaini Usman, “Manajemen: Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan” (Jakarta: Bumi AKsara, 2011), 66.

99 R. Schemerhorn John, Induction to Management, (Asia: Sons (Asia) Pte Ltd, 2010), 17.

100 CE. Beeby, dalam Yusuf Enoch, “Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan” (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), 2.

73

konseptual procedural dan metodologi. Perencanaan pendidikan yang dibutuhkan secara khusus dapat disimpulkan bahwa: “(a) menggambarkan misi sekolah, (b) mengakui hubungan antara input dan output pendidikan, (c) menggunakan pendekatan rasional untuk perencanaan pendidikan untuk masa depan dalam keputusan perencanaan, (d) peran dari praktisi pendidikan, (e) asumsi hubungan sebab akibat yang jelas antara eksplorasi perluasan pendidikan dan pengembangan sosial yang dibutuhkan lebih lanjut, dan (f) membangun sistem pendukung penelitian yang solid sehingga keputusan dapat dibuat atas dasar bukti dan bukan spekulasi.”101

Sebagaimana menurut J.A. Ashford dalam ISO 9001:2008 BS 5750 bahwa rencana mutu harus menetapkan: “(1). Sasaran mutu yang akan dicapai; (2). Alokasi spesifik tanggung jawab dan wewenang selama fase yang berbeda dari proyek; (3). The spesifik prosedur, metode dan instruksi kerja yang akan diterapkan; (4). Program pengujian yang sesuai, inspeksi, pemeriksaan dan audit pada tahap yang sesuai (misalnya desain dan pengembangan); (5). Sebuah metode untuk perubahan dan modifikasi dalam rencana kualitas proyek melanjutkan; (6). Langkah-langkah lain yang diperlukan untuk memenuhi tujuan.”102

Ide tentang perencanaan mutu pendidikan adalah “sesuatu sedang berkembanag merupakan isu-isu yang berkaitan dengan tujuan, eksklusif, kausalitas tidak terbantahkan, rasionalitas, dan pengambilan keputusan yang

101 Kenneth N. Ross dan Lars Mahlck, Ternational Institute for Educational Planning (Paris: Pergamon Press, 2006), 10-11. Diakses: http//www.unesco.org.iiep.

102 J.L. Ashford, “The Manage,ent of Quality in Construction” This edition, published in the Taylor and Francis e-Library. Published by E and FN Spon, an imprint of Chapman and Hall:

74

rasional menjadikan sektor pendidikan berfungsi lebih efektif. sedangkan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang hendak dicapai serta bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut adalah perencanaan.”103 Sebagaimana menurut Kenneth N. Ross dan Ilona Jurgens Genovis, yaitu:

"Planning the quality of education with regard to the input of educational resources, teaching and learning conditions, and indicators of knowledge, skills, and values acquired by students in decision making and the availability of accurate information and timely"104

Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa “perencanaan mutu pendidikan berhubungan erat dengan input sumber daya pendidikan, kondisi proses belajar mengajar, dan indikator dari pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh oleh siswa dalam pengambilan keputusan dan ketersediaan informasi yang akurat dan tepat waktu.”105 Setiap organisasi yang sukses memiliki karakteristik yang efektif terhadap proses perencanaannya. Dengan demikian, bahwa perencanaan mutu berdasarkan dari analisis input, proses, dan output utamanya berfokus pada konten isu, kebijakan, strategi, tindakan, hasil bagian dari pembangunan pendidikan.

Sebagaimana menurut Sallis mengutip dari Juran bahwa langkah-langkah dalam mengembangkan perencanaan mutu adalah sebagai berikut: “(1) merumuskan tujuan mutu (visi dan misi); (2) menidentifikasi dan menentukan kebutuhan pelanggan (masyarakat); (3) untuk mengembangkan mutu sekolah dan respon dari pelanggan (masyarakat); (4) dapat mengembangkan proses

103 Kenneth N. Ross and Ilona Jurgens Genovois, “Ternational Institute for Educational Planning” (Paris: Pergamon Press, 2006), 3. Diakses: http//www.unesco.org.iiep.

104 Ibid.

75

perbaikan mutu sekolah dan menghasilkan mutu yang lebih efektif; (5) pengendalian proses mutu dan mengubah rencana output sebagai kekuatan operasional dari proses pendidikan.”106

Dalam hal perencanaan mutu berkenaan dengan visi misi sekolah/madrasah, yaitu langkah pertama dari setiap strategi proses perencanaan adalah “melakukan identifikasi visi misi organisasi sekolah/madrasah. Visi lembaga pendidikan menetapkan visi ideal yang menyatakan bahwa tujuan organisasi untuk mencapi misi, mengidentifikasi sasaran dan tujuan utama kinerja. Visi dan misi diartikan dalam kerangka filsafat lembaga, dan digunakan sebagai konteks munculnya pengembangan dan evaluasi strategi. Visi dan misi harus memiliki langkah-langkah untuk dapat mencapai tujuan organisasi, untuk itu visi dan misi harus jelas tidak boleh melebih-lebihkan konteks dan kontennya.”107

Dengan begitu penjelasan di atas menguatkan alasan akan strategisnya posisi perencanaan pada sebuah lembaga. Proses yang dikerjakan oleh seorang pemimpin dalam usahanya untuk mengarahkan segala kegiatan untuk meraih tujuan disebut sebagai perencanaan. Oleh karena itu, berhasil tidaknya suatu program ditentukan oleh perencanaan, program bisa gagal jika tidak direncanakan dengan baik. Jadi, jika sebuah kegiatan dilakukan tanpa adanya perencanaan kemungkinan besar akan berpeluang mengalami kegagalan.

Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa “apabila lembaga pendidikan tidak memiliki perencanaan yang baik dan matang akan dapat mengalami

106 Edward Sallis, “Total Quality Management In Education” UK. Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format) Taylor and Francis e-Library (2005), 43.

76

kegagalan. Tentunya hal ini semakin memperjelas posisi yang begitu pentingnya perencanaan pada sebuah lembaga. Perencanaan diperlukan untuk memperlancar jalannya sebuah lembaga, perencanaan dapat mengarahkan lembaga untuk meraih tujuan yang sesuai dengan yang diingginkan lembaga.”108 Maksudnya bahwa perencanaan memberikan arah bagi tercapainya sebuah sistem, karena pada dasarnya jika ada perencanaan yang matang ssstem akan dapat berjalan dengan baik. Dianggap baik dan matangnya sebuah perencanaan jika memenuhi unsur-unsur dan persyaratan pada perencanaan itu sendiri.

Menurut Baharuddin dalam konteks perencanaan pendidikan disampaikan langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji kebijakan yang relevan. “Pengembangan lembaga pendidikan

tidak boleh bertentangan dengan kebijakan yang berlaku baik dari pemerintah pusat maupun daerah;”

2. Menganalisis kondisi lembaga. “Langkah ini dilakukan untuk mengetahui keadaan, kekuatan, kelemahan, kekurangan lembaga (SWOT) untuk kemudian mencari jalan keluar yang tepat;”

3. Merumuskan tujuan pengembangan. “Berdasarkan kebijakan yang berlaku dan analisis kondisi lembaga, selanjutnya dirumuskan tujuan pengembangan, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang;”

108 Baharuddin, “Manajemen Pendidikan, Wacana, Proses, dan Aplikasinya di Sekolah” (Malang: UM. Malang, 2002), 33-34.

77

4. Mengumpulkan data dan informasi. “Data yang dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai, yakni seluruh komponen yang berkaitan dengan pencapaian tujuan;”

5. Menganalisis data dan informasi. “Data dan informasi yang terkumpul harus dianalisis secara komprehensif;”

6. Merumuskan dan memilih alternative program. “Berdasarkan hasil analisis kemudian dikembangkan program atau kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan;”

7. Menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan. “Perlu dilakukan penjabaran secara terperinci sampai pada tahap pelaksanaan.”109

Adapun perencanaan yang dimaksud dalam manajemen peningkatan mutu sekolah/madrasah adalah perencanaan yang meliputi 8 (delapan) standar nasional pendidikan yaitu: perencanaan standar isi, perencanaan standar kompetensi lulusan, perencanaan standar proses, perencanaan standar tenaga pendidik dan kependidikan, perencanaan standar pengelolaan, perencanaan standar pembiayaan dan perencanaan standar penilaian.