MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG
VII. VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL
7.4. Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong
Model perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat terdiri atas beberapa aspek, yaitu: aspek teknis, sumber pembiayaan, dan resolusi konflik yang terjadi. Hasil penilaian agregatif dilakukan dengan mengaktifkan sistem manajemen basis data, sistem manajemen basis model dan sistem manajemen basis pengetahuan.
7.4.1. Teknis Perencanaan
Aspek teknis yang di disain dalam model perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong terdiri atas beberapa submodel, yaitu (1) submodel kelayakan pasar, (2) submodel pengembangan produk, (3) submodel lokasi pengembangan, (4) submodel perencanaan produksi.
A. Kelayakan Pasar
Pengembangan peternakan sapi potong terutama ditujukan untuk peningkatan populasi dan produksi ternak yang mampu menyediakan protein hewani berupa daging dan bahan baku industri hasil ternak sapi potong. Daging merupakan salah satu produk utama hasil ternak sapi potong. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, permintaan akan kebutuhan daging sapi sebagai sumber protein hewani untuk konsumsi atau olahan (pengawetan) cenderung terus meningkat. Prospek produk agroindustri sapi potong utama berupa daging sangat dipengaruhi oleh fluktuasi permintaan pasar domestik dan pasar luar negeri. Proses prediksi dilakukan dengan mengaktifkan data kelayakan pasar, yaitu permintaan dan potensial pasar.
Data permintaan total produk utama hasil ternak daging sapi 13 periode dengan inisialisasi tahun 1993 dihasilkan dari masukan data sekunder Statistik Peternakan Tahun 1993 – 2005 dari Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat (1994-2006), yakni: (1) data konsumsi per kapita per tahun produk utama hasil ternak daging sapi, (2) data jumlah konsumen produk. Data permintaan total daging sapi berdasarkan jumlah konsumen dan konsumsi per kapita disajikan pada Tabel 2. Data permintaan total yang dihasilkan dari Tabel 2 dilakukan prediksi dengan program SAS. Pada Tabel 2 terlihat bahwa permintaan trotal daging sapi untuk kebutuhan konsumsi 1993-2005 cenderung meningkat setiap tahunnya. Permintaan total produk utama hasil ternak daging sapi per tahun dihitung menggunakan pendekatan sisi permintaan (demand) berdasarkan kebutuhan per kapita per tahun terhadap jumlah konsumen pengguna produk (Nitisemito dan Burhan, 1995). Data permintaan produk
yang diprediksi adalah permintaan total produk tahun 1993 sampai tahun 2005. Permintaan total produk merupakan jumlah kebutuhan produk yang dikonsumsi, yaitu hasil perkalian dari jumlah produk yang konsumsi dengan jumlah konsumen setiap tahunnya. Pengolahan data dilakukan berdasarkan metoda prediksi dengan pendekatan time series. Beberapa model prediksi yang digunakan pada penelitian adalah: 1) Exponential Smoothing Method (EXPO); 2) Stepwise Autoregressive Method (STEPAR); dan 3) Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal Method (WINTERS) (Sitepu dan Sinaga, 2006).
Tabel 2. Permintaan total daging sapi berdasarkan jumlah konsumen dan konsumsi di Sumatera Barat
Jumlah
Konsumen/ Konsumsi Permintaan
Tahun Pengguna per Kapita Total
(orang) (kg/tahun) (kg) 1993 4.162.563 1,273 5.298.943 1994 4.071.498 1,395 5.679.740 1995 4.270.517 1,337 5.709.681 1996 4.359.805 1,315 5.733.144 1997 4.426.893 1,217 5.387.529 1998 4.492.986 1,244 5.589.275 1999 4.557.383 1,239 5.646.598 2000 4.605.548 1,598 7.359.666 2001 4.285.954 1,507 6.458.933 2002 4.272.970 1,435 6.131.712 2003 4.339.423 1,701 7.381.359 2004 4.406.910 1,869 8.236.515 2005 4.560.453 1,962 8.947.609
Sumber: Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat Tahun 1993-2005
Metode STEPAR mengkombinasikan kecenderungan waktu (time trend) dengan model autoregressive dan menggunakan metoda stepwise untuk memilih lag yang digunakan pada proses autoregressive, metode EXPO menghasilkan peramalan kecenderungan waktu, tetapi dalam trend yang tepat, parameter-parameter diijinkan untuk dirubah secara berangsur-angsur dari waktu ke waktu. Dengan pengamatan awal yang diberikan pembobot secara eksponensial menurun, sedangkan metode WINTERS merupakan metode yang mengkombinasikan kecenderungan waktu dengan faktor perkalian musiman dalam menghitung fluktuasi musiman series. Metoda ini juga diijinkan untuk merubah parameter secara berangsur-angsur dari waktu ke
waktu, dengan pengamatan awal yang diberikan pembobot secara eksponensial secara eksponensial menurun.
Beberapa model prediksi dilakukan, tetapi analisis kelayakan pasar terhadap permintaan total (DEMD) produk yang ditentukan dari jumlah kebutuhan produk yang dikonsumsi (hasil perkalian dari jumlah produk yang konsumsi dan jumlah konsumen) setiap tahun menunjukkan bahwa nilai prediksi dengan Stepwise Autoregressive Method (STEPAR) terhadap variabel jumlah konsumen dan jumlah konsumsi produk mempunyai tingkat kesalahan paling kecil, yakni dengan MAE = 538938.48; RMSE = 663938,9; dan MSE = 4.41E11 merupakan model terbaik dibanding beberepa model
prediksi lain.
Pengolahan data berdasarkan metoda prediksi time series pada model prediksi Exponential Smoothing Method (EXPO) menghasilkan nilai prediksi dengan tingkat kesalahan lebih besar, yakni dengan tingkat kesalahan MAE = 727950.08; RMSE = 989448.1; dan MSE = 9.79E11.
Hasil pengolahan dengan Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal Method (WINTERS) juga dihasilkan nilai prediksi permintaan total dengan tingkat kesalahan lebih besar, yakni dengan tingkat kesalahan MAE = 554260.81; RMSE = 797312.5; dan MSE = 6.36E11. Perbandingan analisa statistik dari beberapa metode prediksi terhadap jumlah konsumen (user) ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil verifikasi analisa statistik prediksi permintaan total daging sapi di Sumatera Barat
Analisis Statistik No Metode Prediksi
ME MAE MPE MAPE RMSE MSE
1. Eksponential Smoothing Method (expo) - 4 7 7 8 0 5 . 1 7 2 7 9 5 0 . 0 8 - 6 . 9 8 7 5 1 0 . 9 5 9 8 9 4 4 8 . 1 9 . 7 9 E1 1 2. Stepwise Autoregressive Method (Stepar) - 1 . 4 3 3 E- 9 5 3 8 9 3 8 . 4 8 - 0 . 7 3 7 7 8 . 4 6 6 6 3 9 3 8 . 9 4 . 4 1 E1 1 3. Winters Exponentially Smoothed Trend- Seasonal Method (winters) 2 2 2 9 6 5 . 8 2 5 5 4 2 6 0 . 8 1 2 . 0 7 5 0 7 . 8 9 7 9 7 3 1 2 . 5 6 . 3 6 E1 1 Keterangan:
MSE = Mean squared error (Nilai tengah kesalahan kuadrat)
RMSE = Root mean squared error (Nilai tengah kesalahan akar kuadrat)
MAPE = Mean absolute percentage error (Nilai tengah kesalahan persentase absolut) MPE = Mean percentage error (Nilai tengah kesalahan persentase)
MAE = Mean absolute error (Nilai tengah kesalahan absolut) ME = Mean error (Nilai tengah kesalahan)
Perbandingan analisa statistik dilakukan juga dengan tiga metode prediksi. Perbandingan analisa statistik dari jumlah ketersediaan produk (POTS) ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil verifikasi analisa statistik prediksi ketersediaan daging sapi di Sumatera Barat
Analisis Statistik No Metode Prediksi
ME MAE MPE MAPE RMSE MSE
1. Eksponential Smoothing Method (expo) - 2 3 6 9 5 . 6 6 5 3 6 1 6 . 1 6 - 8 . 0 6 7 5 1 4 . 8 1 7 3 5 2 6 . 4 2 5 . 4 1 E9 2. Stepwise Autoregressive Method (Stepar) 4 . 0 3 E- 1 1 4 5 0 2 8 . 4 2 - 2 . 4 9 7 1 1 2 . 4 5 6 3 5 1 2 . 4 0 4 . 0 3 E9 3. Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal Method (winters) 2 5 9 4 8 . 7 9 5 8 9 7 0 . 9 3 4 . 1 8 4 6 7 1 5 . 5 7 7 8 9 6 0 . 5 4 6 . 2 3 E9 Keterangan:
MSE = Mean squared error (Nilai tengah kesalahan kuadrat)
RMSE = Root mean squared error (Nilai tengah kesalahan akar kuadrat)
MAPE = Mean absolute percentage error (Nilai tengah kesalahan persentase absolut) MPE = Mean percentage error (Nilai tengah kesalahan persentase)
MAE = Mean absolute error (Nilai tengah kesalahan absolut) ME = Mean error (Nilai tengah kesalahan)
Analisis kelayakan pasar terhadap ketersediaan (POTS) daging sapi yang ditentukan dari jumlah produksi dan permintaan total daging sapi (hasil pengurangan dari jumlah produksi yang dihasilkan dengan permintaan total) setiap tahun menunjukkan bahwa nilai prediksi dengan Stepwise Autoregressive Method (STEPAR) terhadap variabel jumlah konsumen dan jumlah konsumsi produk mempunyai tingkat kesalahan paling kecil, yakni dengan MAE = 45028.42; RMSE = 63512.40; dan MSE
= 4.03E9 merupakan model terbaik dibanding beberepa model prediksi lain.
Pengolahan data berdasarkan metoda prediksi time series pada model prediksi Exponential Smoothing Method (EXPO) menghasilkan nilai prediksi dengan tingkat kesalahan lebih besar, yakni dengan tingkat kesalahan MAE = 53616.16; RMSE = 73526.42; dan MSE = 5.41E9.
Hasil pengolahan dengan Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal Method (WINTERS) juga dihasilkan nilai prediksi permintaan total dengan tingkat kesalahan lebih besar, yakni dengan tingkat kesalahan MAE = 58970.93; RMSE = 78960.54; dan MSE = 6.23E9.
Hasil prediksi permintaan produk dengan Stepwise Autoregressive Method (STEPAR) untuk Tahun 2009 – 2025 ditunjukkan pada Tabel 5. Hasil prediksi tahun
2009 sampai 2025 peningkatan permintaan total daging sapi pada Tabel 5 terlihat semakin jelas seiring dengan pertambahan jumlah konsumen atau pengguna.
Tabel 5. Hasil verifikasi model prediksi permintaan total daging sapi di Sumatera Barat
Tahun Prediksi Permintaan (Kg)
2009 8.981.124,50 2010 9.236.462,33 2011 9.491.800,16 2012 9.747.137,99 2013 10.002.475,82 2014 10.002.475,82 2015 10.513.151,48 2016 10.768.489,31 2017 11.023.827,14 2018 11.279.164,97 2019 11.534.502,80 2020 11.789.840.63 2021 12.045.178,46 2022 12.300.516,29 2023 12.555.854,13 2024 12.811.191.96 2025 13.066.529.79
Verifikasi model prediksi terbaik digunakan berdasarkan hasil analisa statistik dari beberapa metode prediksi adalah Stepwise Autoregressive Method (Stepar), dimana variabel jumlah konsumen dan jumlah konsumsi produk mempunyai tingkat kesalahan paling kecil, yaitu dengan MAE = 538938.48; RMSE = 663938,9; dan MSE
= 4.41E11. Validasi model nyata dilakukan melalui wawancara kepada Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang) dan Drh. Erinaldi (Dinas Peternakan Sumatera Barat) yang memberikan gambaran kebenaran kebutuhan akan permintaan produk utama hasil ternak sapi berupa daging sapi di Sumatera Barat yang cenderung meningkat, begitu pula pemotongan sapi, produksi dan konsumsi daging di Propinsi Sumatera Barat menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.
B. Perencanaan Pengembangan Produk Agroindustri Sapi Potong
Pengembangan produk dari hasil sapi potong saat ini belum berkembang secara optimal. Hasil ternak sapi potong untuk ekspor masih berupa bahan baku yang belum diolah menjadi produk hilir, sehingga nilai tambah terbesar belum dapat diperoleh di dalam negeri. Hal ini terlihat dari ekspor produk dan hasil ternak sapi potong berupa ternak hidup, kulit, tulang dan tanduk. Menurut Sudarjat (2002) peningkatan ekspor ternak dan hasil ternak Indonesia belum dalam bentuk produk hilir, tetapi karena karena penerapan keamanan maksimum terhadap beberapa penyakit ternak dan Harmonized System dan Standard International Trade Classification (HS dan SITC) dari hasil ternak.
Produk agroindustri sapi potong dikaji dari pohon industri cukup luas untuk dapat dikembangkan. Sapi potong sebagai penghasil utama daging dan jeroan, hasil ikutannya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pangan dan non pangan. Produk utama hasil ternak sapi potong adalah daging dan jeroan. Produk sampingnya adalah kulit, lemak, tulang, tanduk, darah, lidah dan otaknya, sedangkan limbahnya berupa isi rumen dan kotoran. Daging sapi dapat dilakukan proses pengolahan dan pengawetan dalam industri. Pengolahan daging sapi untuk produk makanan dan hidangan siap saji yang dihasilkan melalui proses pengolahan adalah daging lumat, ekstrak/esense daging dan daging potongan. Produk dan hasil olahan daging sapi dapat disimpan tahan lama jika dilakukan proses pengawetan melalui proses pendinginan, irradiasi dan pengeringan.
Bagian hasil sapi potong yang dimanfaatkan dan diolah dapat dikelompokkan ke dalam empat produk industri, yaitu produk industri makanan, industri kulit, industri pakan dan produk industri pupuk. Produk industri makanan berasal dari olahan bahan baku daging, jeroan, kulit, lidah dan otak sapi. Produk industri kulit berasal olahan kulit, yakni: kulit kalf atau kulit halus/ringan, kulit berat, kulit samak/berbulu, dan kulit perkamen. Produk industri pakan berupa tepung darah, tepung jeroan dan tepung tulang dihasilkan dari darah, jeroan, dan tulang sapi. Kotoran dan isi rumen sapi dijadikan sebagai bahan baku industri pupuk. Dari berbagai produk yang dihasilkan sapi potong baik dari hasil utama daging dan jeroan maupun dari hasil sampingnya, berdasarkan hasil survey dan diskusi dengan pakar di bidang peternakan, diidentifikasi 10 jenis alternatif produk agroindustri sapi potong yang sesuai dan dapat dikembangkan di Sumatera Barat.
Produk-produk agroindustri sapi potong yang dapat dikembangkan di Sumatera Barat terbagi ke dalam 4 (empat) kelompok produk industri yang berbeda,
yakni: (1) produk industri makanan; (2) produk industri kulit; (3) produk industri pakan; dan (4) produk industri pupuk. Produk dari industri makanan yang dipilih dan sesuai dikembangkan, yaitu 1) sosis, 2) bakso dan 3) abon. 4) rendang; 5) dendeng kering; 6) kerupuk kulit. Produk pengawetan kulit dalam industri kulit adalah 1) kulit lapis dan 2) kulit sol. Produk dari industri pakan berupa produk olahan dari tulang sapi yaitu tepung tulang dan 10) produk dari kelompok industri pupuk, yakni pupuk kandang.
Pemilihan produk agroindustri dalam model perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong, dikembangkan sesuai dengan strategi yang dihasilkan, yaitu strategi pengembangan produk dan pasar produk agroindustri sapi potong. Model perencanaan produk agroindustri yang dibangun berdasarkan pada beberapa kriteria dari berbagai alternatif produk hasil sapi potong.
Analisis pengembangan produk agroindustri sapi potong dilakukan berdasarkan kriteria: potensi pasar, lokasi, bahan baku, sarana produksi, aksesibilitas, dukungan pemerintah, gangguan dan pencemaran lingkungan, peralatan dan alat (teknologi penunjang), dan sumberdaya manusia terhadap produk yang dipilih dan direkomendasikan sebagai pilihan alternatif produk(sosis, bakso, abon, dendeng kering, rendang, kerupuk kulit, kulit lapis, kulit sol, tepung tulang, dan pupuk kandang). Model pengembangan dan pemilihan produk agroindustri sapi potong menggunakan metoda perbandingan eksponensial (MPE). Menurut Marimin (2004) penggunaan MPE dapat menghasilkan nilai alternatif dengan perbedaan yang lebih kontras dari alternatif keputusan yang sulit dibedakan. Metoda ini mempunyai keuntungan untuk mengurangi bias yang mungkin terjadi dalam analisis. Model pemilihan pengembangan produk agroindustri sapi potong dilakukan dengan mengaktifkan sistem manajemen basis data pengembangan produk, sistem manajemen basis model pengembangan produk, dan sistem manajemen basis pengetahuan pengembangan produk.
Hasil verifikasi model menunjukkan alternatif produk agroindustri sapi potong yang dipilih dikembangkan di Sumatera Barat berdasarkan kriteria yang dipilih hasil pendapat pakar adalah dendeng kering. Hasil analisis pemilihan produk agroindustri sapi potong berdasarkan metoda perbandingan eksponensial (MPE) ditunjukkan oleh nilai skor tertinggi dari pendapat gabungan. Skor tertinggi yang menunjukkan rangking pertama pada pemilihan produk pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat terhadap kriteria adalah dendeng kering dengan nilai skor secara eksponensial sebesar 24.022.669,82. Hasil analisis pemilihan produk agroindustri sapi potong berdasarkan pendapat pakar gabungan ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil verifikasi pengolahan metoda perbandingan eksponensial pemilihan produk agroindustri sapi potong
Keterangan kriteria:
A. Potensi pasar, F. Dukungan pemerintah,
B. Lokasi, G. Gangguan dan pencemaran lingkungan,
C. Bahan baku, H. Peralatan dan alat (teknologi penunjang), D. Sarana produksi, I. Sumberdaya manusia.
E. Aksesibilitas,
Dendeng kering sesuai dan cocok dikembangkan di Sumatera Barat. Dendeng kering umumnya dihasilkan dari Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Solok. Validasi model dilakukan dengan cara wawancara kepada Ir. Fuad Madarisa, MSc (Ketua Tim Konsultan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Sumatera Barat). Hasil wawancara tersebut menyatakan bahwa pengembangan industri dendeng kering sesuai dengan rencana pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang untuk industri di Sumatera Barat.
Dendeng kering dari hasil usaha rumah tangga (mikro) dan industri kecil merupakan salah satu produk industri makanan yang dikembangkan sesuai dengan pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang dalam penyusunan kawasan sentra peternakan sapi potong di Sumatera Barat khususnya untuk pengembangan industri kecil. Industri makanan yang berkembang lainnya merupakan industri berasal dari hasil tanaman pangan (kerupuk sanjai, kerupuk ubi, aneka makanan dari jagung) dan
dari hasil ternak sapi potong (aneka makanan sate, dendeng, rendang, kerupuk kulit, dan aneka kerajinan kulit untuk bahan tas, sepatu), serta industri pakaian jadi.
Pengembangan agroindustri dendeng kering sesuai dengan perencanaan pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang kawasan sentra produksi khususnya di Agam bagian Timur sebagai pengembangan produk hasil pengolahan industri makanan (Bappeda Propinsi Sumatera Barat, 2000). Hasil wawancara dengan Daswilza, SP, MM (Kepala Seksi Usaha Kecil Menengah, Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan, Kabupaten Agam) menyimpulkan bahwa usaha dendeng kering dan makanan olahan lain dari hasil sapi potong terutama untuk usaha kecil (industri kecil) sesuai dengan program pemerintah Kabupaten Agam sebagai pengembangan industri hilir dari komoditi sapi potong.
C. Perencanaan Lokasi Pengembangan
Pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong dilakukan menggunakan metoda faktor peringkat (Factor-Rating Method). Pengambilan keputusan suatu lokasi didasarkan pada rating tertinggi dari skor terbobot gabungan hasil penilaian para pakar. Skor terbobot diperoleh berdasarkan urutan tingkat kepentingan setiap faktor/kriteria dan skala faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi pengembangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pengembangan agroindustri, yaitu: (1) kondisi wilayah belakang (hinterland), (2) lokasi strategis, (3) infrastruktur dan teknologi, (4) ketersediaan jaringan utilitas, (5) masalah lingkungan sosial budaya, (6) ketersediaan sumberdaya manusia, (7) jaminan keamanan, (8) pemasok bahan baku, dan (9) kondisi iklim dan topografi.
Pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong ditentukan dari kabupaten yang memiliki kawasan peternakan sapi potong atau lumbung ternak nagari di Sumatera Barat menurut Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat (2002; 2007), yaitu: (1) Kabupaten Lima Puluh Kota, (2) Kabupaten Agam, (3) Kabupaten Swl Sijunjung (Dharmasraya), (4) Kabupaten Tanah Datar, (5) Kabupaten Solok, (6) Kabupaten Padang Pariaman, (7) Kabupaten Pesisir Selatan, dan (8) Kabupaten Pasaman Barat. Deskripsi masing-masing lumbung ternak nagari disajikan pada Lampiran 8. Hasil verifikasi model pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat menunjukkan bahwa Kabupaten Agam memiliki total nilai skor terbobot terbesar dan peringkat pertama yang merupakan keputusan kelompok hasil penilaian pakar gabungan. Hasil verifikasi model perencanaan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat ditunjukkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil verifikasi metoda faktor peringkat (factor-rating method) pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong
Keterangan Kriteria:
A. Kondisi wilayah belakang (hinterland) B. Lokasi strategis
C. Infrastruktur dan teknologi D. Ketersediaan jaringan utilitas E. Masalah lingkungan sosial budaya F. Ketersediaan sumberdaya manusia G. Jaminan keamanan
H. Pemasok bahan baku I. Kondisi iklim dan topografi.
Validasi model pemilihan lokasi pengembangan dilakukan melalui komunikasi kepada Ir. Fuad Madarisa, MSc (Ketua Tim Konsultan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Sumatera Barat) yang menyimpulkan bahwa wilayah Kabupaten Agam bagian Timur berada pada posisi strategis, memiliki infrastruktur dan ketersediaan jaringan utilitas, dekat dengan pasar perdagangan Sumatera tengah (Sumbar, Riau, Jambi) dan pasar wisata untuk pengembangan bagi industri kecil makanan olahan hasil sapi potong. Wilayah Agam bagian Timur merupakan kawasan sentra produksi (KSP) peternakan sapi potong pada tahun 2000 yang diberi nama KSP Koto Hilalang. Pada KSP Koto Hilalang terdapat kelompok-kelompok peternak sapi potong yang berhasil dalam pengelolaan dan pengembangan kemampuan usaha kelompok dengan pembinaan instansi/dinas terkait. Sebelumnya kawasan pada wilayah Agam bagian Timur ini dijadikan sebagai wilayah organic farming yang
mengintegrasikan pemanfaatan hasil samping pengembangan sapi potong dengan usaha tanaman pangan dan hortikultura.
Populasi sapi di Kabupaten Agam tahun 2006 berjumlah 28.763 ekor. Pada kawasan Agam bagian Timur Kabupaten Agam yang terdiri dari Kecamatan IV Angkat Candung, Baso, Tilatang Kamang dan Kecamatan Kamang Magek memiliki konsentrasi populasi sapi lebih banyak dari kecamatan lainnya. Persentase jumlah sapi betina adalah 55,67 persen dari populasi sapi potong. Pemotongan sapi pada tahun 2006 di Kabupaten Agam adalah sebesar 5.856 ekor dengan produksi daging sebesar 1.032.540 Kg. Rumah tangga pemelihara sapi potong sebanyak 11.719 kepala keluarga. Dari realisasi kegiatan inseminasi buatan (IB) pada tahun 2006 di realisasi akseptor Kabupaten Agam, sebanyak 4.266 ekor dari target 6.000 ekor. Realisasi IB sebanyak 5.865 dosis (100 persen dari target) dengan tingkat kelahiran 3.299 ekor.
Faktor-faktor yang paling berpengaruh berdasarkan bobot rata-rata hasil penilaian pakar adalah faktor lokasi strategis dan faktor infrastruktur dan teknologi, kemudian diikuti dengan kondisi wilayah belakang (hinterland) dan faktor ketersediaan sumber daya manusia. Pada tahun 2002, lokasi di kawasan Agam bagian Timur Kabupaten Agam menjadikan komoditi sapi potong sebagai bisnis utama dalam pengembangan kawasan agropolitan di Sumatera Barat (Pemerintah Kabupaten Agam, 2002a). Kawasan agropolitan di Kabupaten Agam merupakan kawasan agropolitan yang pertama di Sumatera Barat. Sebagai kawasan peternakan dengan sapi potong yang menjadi produk unggulan, kawasan ini memiliki akses dan utilitas pada fasilitas pendukung untuk pengembangan sapi potong, seperti tersedianya pos inseminasi buatan (IB), petugas inseminator, pemeriksa kebuntingan dan kesehatan dan penyuluh di Kecamatan IV Angkat, Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) di Kecamatan Baso, jaringan telekomunikasi, alat transportasi dengan jalan yang lancar di setiap nagari, sehingga kawasan dijadikan sebagai wilayah pasar bagi produk hasil ternak sapi potong. Usaha pengembangan sapi potong turut mendorong tumbuhnya usaha/industri penyamakan kulit, industri makanan, dan industri pupuk organik.
Berdasarkan hasil evaluasi pengembangan pendamping usaha bagi kelompok pengolahan hasil peternakan bahwa Kabupaten Agam (Kecamatan Tilatang Kamang) merupakan konsentrasi pengolahan hasil peternakan sapi potong bagi kelompok usaha dendeng (Dinas Peternakan Propinsi Sumbar, 2006a). Hasil kajian ulang beberapa komoditi untuk profil komoditi unggulan Kabupaten Agam Tahun 2000 (Pemerintah Kabupaten Agam, 2000), komoditi sapi potong dan hasil produk
olahannya ditetapkan sebagai komoditi dan produk unggulan dari sub sektor peternakan di Kecamatan IV Angkat, Candung dan Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam.
Industri pengolahan produk hasil sapi potong yang berkembang di kawasan sentra peternakan sapi potong di Kabupaten Agam merupakan usaha dari industri kecil yang masuk ke dalam kelompok industri makanan. Berdasarkan perkembangan industri kecil dari data statistik, jumlah industri kecil di Kabupaten Agam pada tahun 2004 berjumlah 5.535 unit yang tersebar di beberapa kecamatan yang kebanyakan merupakan industri pengolahan makanan. Jumlah industri kecil tersebut meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2000 jumlah industri kecil di Kabupaten Agam sebanyak 5.353 unit, kemudian tahun 2001 meningkat menjadi 5.407 unit. Pada tahun 2002 meningkat lagi menjadi 5.466 unit dan setahun kemudian tahun 2003 meningkat menjadi 5.512 unit.
Industri kecil yang tersebar dalam beberapa kecamatan dalam kawasan sentra pengembangan peternakan sapi potong di Kabupaten Agam memiliki jumlah yang lebih banyak dibanding kecamatan lain di luar kawasan. Kecamatan-kecamatan yang berada dalam kawasan sentra peternakan sapi potong di Kabupaten Agam tersebut, yakni: Kecamatan IV Angkat memiliki industri kecil sebanyak 1.153 unit, Candung sebanyak 7 unit, Baso memiliki sebanyak 235 unit, Tilatang Kamang sebanyak 577 unit dan Kecamatan Kamang Magek sebanyak 5 unit (BPS Kabupaten Agam, 2004).
D. Perencanaan Kapasitas Produksi
Sesuai dengan strategi pengembangan produk dan pasar serta produk agroindustri sapi potong yang dipilih adalah dendeng kering, maka dirancang pengembangan produk dendeng kering dengan memperhatikan ketersediaan bahan baku daging sapi. Dalam rancangan, proses pengeringan dendeng kering dilakukan dengan menggunakan oven pengering yang berbahan bakar gas (elpiji), sehingga proses pengeringan dapat lebih cepat dibanding menggunakan sinar matahari. Proyeksi produksi dendeng kering, didasarkan pada perencanaan kapasitas produksi menggunakan pendekatan metoda titik impas/pulang pokok (BEP).
Perencanaan kapasitas BEP dipengaruhi oleh biaya variabel per unit, biaya tetap yang dikeluarkan dan harga jual produk per unit. Berdasarkan asumsi kebutuhan daging sapi sebesar 30.000 kg per tahun, membutuhkan biaya variabel untuk pengolahan daging sapi dalam membuat dendeng kering sebesar Rp. 1.604.335.392,- per tahun atau sebesar Rp. 53.478,- per kg daging sapi,- Biaya tersebut terdiri dari
biaya bahan baku, biaya bahan tambahan, upah tenaga kerja langsung, gaji pegawai, biaya kemasan dan biaya listrik, air dan telepon. Biaya variabel pengolahan daging sapi menjadi produk dendeng kering disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Biaya variabel produksi dendeng kering
No. Komposisi Biaya Variabel Jumlah Biaya (Rp) Biaya / Kg (Rp)
1 Bahan baku dan tambahan 1.302.585.192 43.420 2 Upah tenaga kerja langsung 115.200.000 3.840
3 Gaji pegawai 177.000.000 5.900
4 Kemasan 2.512.500 84
5 Listrik, air, telepon 7.037.700 235
Total 1.604.335.392 53.478
Biaya variabel per unit diperoleh dari biaya variabel dendeng kering per kg yang ditentukan oleh biaya variabel dalam memproduksi dendeng kering sebanyak satu kg. Diketahui rendemen dendeng kering sebesar 35,5% (Gambar 33), artinya untuk menghasilkan setiap kg dendeng kering dibutukan bahan baku sebesar 2,8 kg daging termasuk bumbunya. Rendemen dendeng kering 35,5% diperoleh berdasarkan perhitungan neraca massa dari daging sapi mempunyai kadar air sebesar 72,4%, kadar air campuran daging dan bumbu sebesar 71,6% (Purnomo, 1997) dan kadar air dendeng kering mutu I dan mutu II sebesar 12% (Palupi, 1986; SNI, 1992).