• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG

VI. PERMODELAN SISTEM PERENCANAAN

6.3. Sistem Manajemen Basis Model

Sistem manajemen basis model yang dirancang secara garis besar terdiri dari a) Model Strategi Pengembangan Agroindustri Sapi Potong, b) Model Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong, dan c) Evaluasi Model Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong.

6.3.1. Model Strategi Pengembangan Agroindustri Sapi Potong

Model Perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong yang dibangun pada kawasan lumbung ternak merupakan kawasan sentra produksi peternakan sapi potong di kabupaten/kota Sumatera Barat. Alternatif rumusan strategi merupakan hasil penilaian faktor strategis eksternal dan faktor strategis internal yang dirumuskan menggunakan analisis matriks internal – eksternal (matriks IE), matriks SWOT dan Matriks Grand Strategy.

Metoda Fuzzy-AHP digunakan dalam penentuan strategi prioritas dalam hirarki pola umum pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat. Diagram alir proses perumusan model strategi pengembangan agroindustri sapi potong disajikan pada Gambar 13.

Gambar 13. Diagram alir perumusan model strategi pengembangan agroindustri sapi potong

6.3.2. Model Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong

Model perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong yang dibangun mempertimbangkan kelayakan dari aspek teknis, kondisi pasar, suplai bahan baku, lingkungan fisik dan lingkungan sosial, serta kelayakan dalam biaya investasi dan ekonomi. Cakupan kajian dirangkum di dalam teknis perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong ke dalam model permintaan pasar dan prediksi permintaan produk, model pemilihan produk agroindustri, model perencanaan lokasi pengembangan, dan model perencanaan kapasitas produksi dan merupakan model- model utama dalam perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong yang memberikan alternatif sistem pengambilan/penunjang keputusan.

Sistem penunjang keputusan merupakan kesatuan dari sistem manajemen basis data, sistem manajemen basis model, dan sistem manajemen basis pengetahuan. Sistem penunjang keputusan dilengkapi dengan model pemilihan pembiayaan pengembangan agroindustri sapi potong dan penyelesaian (resolusi) konflik stakeholders pada pengembangan agroindustri sapi potong. Teknis perencanaan agroindustri sapi potong disajikan sebagai berikut.

A. Model Permintaan Pasar dan Prediksi Permintaan Produk.

Model permintaan pasar dan prediksi permintaan produk dimasa yang akan datang menggunakan metoda kuantitatif melalui persamaan matematis yang dievaluasi tingkat kesalahan. Prediksi data permintaan pasar dan ketersediaan produk

Penilaian Bobot dan rating Evaluasi Faktor Eksternal dan Internal “IFE dan EFE Matriks” Identifikasi Faktor Eksternal dan Internal Sesuai? Perhitungan Jumlah dan Bobot

Rumusan Alternatif Strategi

Fuzzy-AHP dengan kriteria SFAS Ya Tidak Strategi Prioritas Penilaian Faktor Eksternal dan Internal Penjumlahan Nilai Faktor Internal dan

Eksternal

Matriks IE,

Matriks Grand Strategy, Matriks SWOT Mulai

menggunakan program software Statistical Analysis System (SAS), yakni The SAS System for Window v6.12. Beberapa metoda prediksi yang digunakan, yaitu: 1) Exponential Smoothing Method (expo); 2) Stepwise Autoregressive Method (Stepar); dan 3) Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal Method (winters). Diagram alir proses penentuan prediksi model kelayakan pasar secara keseluruhan ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14. Diagram alir model prediksi permintaan pasar dan ketersediaan produk

B. Model Pemilihan Produk Agroindustri Sapi Potong.

Model pemilihan produk agroindustri sapi potong dirancang menggunakan Metoda Perbandingan Eksponensial (MPE) berdasarkan penilaian kriteria dan alternatif produk yang telah direkomendasi, yaitu: 1) potensi pasar, 2) lokasi, 3) bahan baku, 4) sarana produksi, 5) aksesibilitas, 6) dukungan pemerintah, 7) gangguan dan pencemaran lingkungan, 8) peralatan dan alat (teknologi penunjang), dan 10) sumberdaya manusia. Alternatif produk yang sesuai dikembangkan di Sumatera Barat, yaitu: 1) sosis, 2) abon, 3) bakso, 4) dendeng kering, 5) rendang, 6) kerupuk kulit, 7) kulit lapis, 8) kulit sol, 9) tepung tulang, dan 10) pupuk kandang. Diagram alir pemilihan produk agroindustri sapi potong yang akan dikembangkan secara rinci ditunjukkan pada Gambar 15.

Perhitungan:

• Model Permintaan Total = Jumlah Konsumen x Kebutuhan per kapita,

• Model Ketersediaan Produk = Produksi produk – Permintaan Total Basis data: a. Jumlah konsumen/pengguna b. Kebutuhan per kapita per tahun c. Produksi (penyediaan) produk

Cetak Hasil Prediksi Periode yang

akan datang

Basis Data Permintaan Metoda Prediksi

1. Exponential Smoothing Method(expo), 2. Stepwise Autoregressive Method

(Stepar),

3. Winters Exponentially Smoothed Trend- Seasonal Method (winters).

Hitung Analisis Statistik MAE, MSE, R2 Kesalahan Terkecil & R2 Terbesar? Metoda Prediksi yang Digunakan Metoda Prediksi Tidak Dipilih Tidak Ya Mulai Selesai

Gambar 15. Diagram alir model pemilihan produk agroindustri sapi potong

C. Model Perencanaan Lokasi Agroindustri Sapi Potong.

Model perencanaan pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong dirancang pada kawasan sentra peternakan sapi potong yang menjadi lumbung ternak nagari pada delapan kabupaten di Sumatera Barat (Dinas Peternakan Propinsi Sumbar, 2002) sebagai alternatif lokasi pengembangan agroindustri sapi potong, yaitu Kabupaten Lima Puluh Kota, Agam, Sawahlunto Sijunjung (Dharmasraya), Tanah Datar, Solok, Padang Pariaman, Pesisir Selatan dan Kabupaten Pasaman.

Pemilihan lokasi ditentukan oleh rating tertinggi dari jumlah rata-rata skor terbobot dari semua faktor yang berpengaruh terhadap alternatif lokasi sebagai dasar pilihan. Diagram alir model perencanaan lokasi ditunjukkan pada Gambar 16.

Gambar 16. Diagram alir model perencanaan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong

Menyusun semua alternatif keputusan Menentukan kriteria- kriteria keputusan Penilaian Alternatif dan Kriteria

Nilai total atau skor alternatif setiap kriteria dihitung dengan MPE:

(

)

( )

= =m 1 j TKKj RKij TN1 nilai Total Urutan prioritas keputusan pada skor masing-masing alternatif Prioritas keputusan Penentuan alternatif pilihan lokasi pengembangan agroindustri Penentuan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

alterntif lokasi

Menilai peringkat faktor-faktor dengan membuat urutan berdasarkan urutan

tingkat kepentingan: Urutan tertinggi adalah 1, kemudian 2,

dan seterusnya Menilai skala faktor faktor yang mempengaruhi lokasi

pengembangan agroindustri. Skala 1 (sangat rendah) sampai dengan nomor 5

(sangat tinggi)

Penghitungan bobot dengan membagi

kebalikan urutan dengan total jumlah

urutan

Menghitung skor terbobot dengan mengalikan bobot dengan skala masing-masing

kriteria lokasi Menjumlahkan skor terbobot masing-masing alternatif lokasi Lokasi terpilih dengan jumlah skor tertinggi Mulai Selesai Mulai Selesai

Model perencanaan pemilihan lokasi menggunakan metoda Faktor Peringkat (Factor-Rating Method). Kriteria yang diidentifikasi sebagai faktor yang berpengaruh pada pemilihan lokasi pengembangan agroindustri sapi potong adalah 1) kondisi wilayah belakang (hinterland), 2) lokasi strategis, 3) infrastruktur dan teknologi, 4) ketersediaan jaringan utilitas, 5) masalah lingkungan sosial, 6) ketersediaan sumber daya manusia, 7) jaminan keamanan, 8) pemasok bahan baku, dan 9) kondisi iklim dan topografi.

D. Perencanaan Kapasitas Produksi.

Model perencanaan kapasitas produksi menggunakan metoda Break Event Point (BEP). Perencanaan kapasitas yang digunakan adalah jumlah output (produk) yang dihasilkan perusahaan tidak mengalami kerugian (di atas kapasitas BEP) berdasarkan asumsi biaya variabel per unit, biaya tetap per tahun dan harga jual per unit. Diagram alir perencanaan kapasitas produksi disajikan pada Gambar 17.

Gambar 17. Diagram alir model perencanaan kapasitas produksi

E. Model Pembiayaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong.

Model pembiayaan pengembangan agroindustri sapi potong dirancang berdasarkan penilaian pakar terhadap tiga (3) alternatif sumber pembiayaan, yaitu 1) perbankan konvensional, b) perbankan syariah, dan c) pola bagi hasil “saduoan” menggunakan metoda Fuzzy Investmen Model. Metoda Fuzzy Investmen Model yang digunakan adalah metoda Fuzzysemi numeric.

Data-data Produksi:

• Data Harga Jual Produk (P) per unit

• Data Variabel cost (Vc) per unit

• Data Fixed cost (Fc) per tahun

Hitung Kuantitas atau Kapasitas Produksi untuk Mencapai Titik Impas:

Vc P Fc Q − =

Kapasitas Produksi yang Digunakan Penghasilan total sama dengan biaya

total? P x Q = Fc + (Q x Vc) Kapasitas Tidak Dipilih Ya Tidak Mulai Selesai

Gunakan kapasitas produksi BEP dan asumsi perubahan kapasitas di atas BEP

Penilaian terhadap alternatif sumber pembiayaan menggunakan preferensi fuzzy multi person, dibagi kedalam lima (5) label linguistik, yaitu: Sangat Tinggi (ST), Tinggi (T), Sedang (S), Rendah (R), Sangat Rendah (SR). Tahapan dalam merumuskan model sumber pembiayaan agroindustri secara rinci ditunjukkan pada Gambar 18.

Gambar 18. Diagram alir model pembiayaan pengembangan agroindustri sapi potong

F. Model Resolusi Konflik Stakeholders

Resolusi konflik dibangun dalam dua model, yaitu model prioritas resolusi konflik dan model resolusi konflik melalui stakeholders dialogue. Model prioritas resolusi konflik merupakan model yang menghasilkan prioritas untuk penyelesaian (resolusi) konflik yang dapat disebabkan dari pengembangan agroindustri di Sumatera Barat yang masih kuat memegang teguh adat istiadat.

1. Prioritas Resolusi Konflik

Penggunaan aset (tanah atau lahan) ulayat untuk tujuan komersil, baik yang dilakukan antara masyarakat maupun oleh pihak lain di Sumatera Barat perlu kejelasan sesuai prinsip adat atau dengan alternatif penyelesaian yang lain, seperti “adat diisi limbago dituang” yaitu adanya kejelasan pembagian hak dan kewajiban. Penilaian relatif pentingnya suatu komponen resolusi konflik terhadap komponen resolusi lainnya secara rinci ditunjukkan pada Gambar 19.

Mulai Penentuan Bobot Masing-masing

Kriteria Jumlah Alternatif Jumlah Kriteria Jumlah Skala Label Penilaian Jumlah Pakar

Menilai Peringkat Faktor yang Mempengaruhi Objek Berdasarkan

Urutan Tingkat Kepentingan Menilai skala faktor-faktor yang mempengaruhi

objek dengan membubuhkan nomor 1 (sangat rendah) sampai dengan nomor 5 (sangat tinggi).

Penentuan Rata-rata Terbobot (Fuzzy Computation) dengan mencari sensor agregasi pakar/responden.

Pengembalian bilangan fuzzy ke ekspresi natural digunakan dengan

Centre of Grafity (CoG) (Defuzzification)

Selesai Nilai Tingkat Pembiayaan

Gambar 19. Diagram alir model prioritas resolusi konflik

Penyelesaian (resolusi) konflik yang digunakan disesuaikan dengan prioritas resolusi yang dihasilkan untuk disepakati. Pendapat pakar dapat digunakan untuk menentukan prioritas resolusi. Pendekatan Fuzzy-AHP digunakan dalam memprioritaskan resolusi konflik yang terjadi dimasa yang akan datang berdasarkan hirarki yang telah dirancang, yaitu: fokus, faktor penentu, pelaku/aktor, dan resolusi atau penyelesaiannya.

2. Resolusi Konflik.

Model resolusi konflik stakeholders dialogue dirancang untuk mendapatkan nilai kesepakatan bersama dari pihak yang berperkara. Nilai kesepakatan yang diperoleh menggunakan besaran nilai lahan/tanah pemilik hak ulayat yang digunakan pengelola (investor) sebagai keikutsertaan modal investasi pemilik hak selama industri berjalan. Tahapan model resolusi konflik stakeholders disajikan pada Gambar 20.

Mulai

Susunan Hirarki

Penilaian Berpasangan untuk Setiap Elemen

dengan kaidah preferensi fuzzy Matriks Pairwise

Comparison Perhitungan Eigen Vector

pada Setiap Hirarki

Penentuan Lokal Prioritas Perhitungan Indeks Konsistensi (CI) Perhitungan Rasio Konsistensi (CR) Konsisten ? Penyusunan Matriks Gabungan Perhitungan Indeks

Konsisten Gabungan dan Rasio Konsistensi

Gabungan

Konsisten ?

Pengolahan Vertikal Prioritas Resolusi Konflik Selesai Ya

Ya

Tidak

Gambar 20. Diagram alir model resolusi konflik stakeholders

G. Penilaian Komitmen stakeholders

Metoda Fuzzy Multi-Expert Multi-Criteria Decision Making (ME-MCDM) merupakan metoda analisis non numerik digunakan untuk menilai komitmen dalam mengembangkan peternakan sapi potong di Sumatera Barat. Identifikasi alternatif penilaian, yaitu: 1) mengembangkan kawasan sentra produksi peternakan (lumbung ternak), 2) mengembangkan unit usaha kecil, 3) melayani kebutuhan sarana (semen beku dan vaksin) dan sumber daya manusia (SDM), dan 4) penyerahan kewenangan ke kabupaten dan kota dalam rangka mempercepat pembangunan peternakan.

Kriteria-kriteria yang digunakan dalam melakukan penilaian komitmen adalah: 1) kawasan terdiri dari 60 % KK peternak, 2) sosial budaya masyarakat terhadap penguasaan teknologi dan pasar, 3) Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, 4) kepemilikan sapi, 5) pengusahaan ternak secara intensif, 6) akses terhadap permodalan, 7) akses kepada pasar, 8) perizinan investasi dan usaha, 9) pengaturan pemasok dan kebutuhan pangan dan sanitasi bahan asal hewan, 10) pengaturan

Mulai

Identifikasi Kepentingan Investor, Pengusaha Swasta (investor), dan Masyarakat sekitar

Kawasan Pemegang Hak Ulayat.

Perbedaan Kepentingan Pengusaha Swasta (Investor) dan Masyarakat Sekitar Kawasan

atas Kepemilikan Lahan

Dialogue: Kesepakatan Menerima Keputusan Prioritas. Proses Iterasi Kompromi Nilai Keputusan Prioritas atas penggunaan Lahan untuk Agroindustri Sapi Potong Berdasarkan kompromi.

Nilai Pembagian Keuntungan yang Diterima Pemegang Otoritas Aset Adat (tanah Ulayat): Persentase nilai kesepakatan x Nilai

Keuntungan yang diperoleh industri

Nilai Anggaran yang perlu Dialokasikan Agroindustri Sapi Potong (industri)

kemitraan dengan swasta (swasta dan peternak), 11) pemberantasan penyakit hewan menular, 12) pemeliharaan aset peternakan di daerah, 13) pemusnahan bahan asal ternak yang masuk secara illegal. Diagram alir penilaian kriteria-kriteria terhadap alternatif dalam menilai komitmen pengembangan peternakan sapi potong secara rinci ditunjukkan pada Gambar 21.

Gambar 21. Diagram alir model penilaian komitmen stakeholders

H. Kelayakan Ekonomi dan Finansial

Perancangan implementasi model perencanaan dilakukan sebelum suatu program atau kegiatan dilaksanakan dengan penekanan pada kelayakan ekonomis dan kelayakan finansial. Menurut Nitisemito dan Burhan (1995), evaluasi dari suatu gagasan (model) dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan suatu gagasan dapat diteruskan (diterima) atau ditolak (diteruskan).

Kelayakan ekonomi dalam perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong dianalisa menggunakan Metoda Fuzzy Multi-Expert Multi-Criteria Decision Making (ME-MCDM) terhadap aspek ekonomis, yaitu: (1) manfaat (benefits), terdiri atas: a) manfaat langsung (direct benefits), b) manfaat tidak langsung (indirect benefits), dan c) manfaat tidak kentara (intangible benefits), dan (2) biaya tidak langsung (indirect costs). Kriteria penilaian dalam evaluasi kelayakan investasi (finansial) pembangunan agroindustri sapi potong yang digunakan adalah Net Present

Mulai Jumlah Alternatif

Jumlah Kriteria Jumlah Skala Label Penilaian

Jumlah Pakar

Penilaian Para Pakar Terhadap Alternatif dan Kriteria

Perhitungan Negasi Skala Penilaian Neg (Wk) = Wq-k+1

Pengolahan Alterbatif Berdasarkan IPE dengan Kaidah Fuzzy ME-MCDM Perhitungan Iterasi dari Kriteria:

Vij = min [Neg (Wak) v Vij(ak)]

Penentuan Bobot Faktor Nilai (W) Q(k) = Int [ 1 + k* (q-1)/r]

Penentuan Nilai Gabungan

Vi = f(Vj) = Max [ QjΛ bj ]

Hasil Akhir Keputusan Alternatif Pembiayaan Pengembangan Agroindustri Selesai

Value (NPV), Profitability Index (PI), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP). Tahapan model kelayakan ekonomi dan finansial ditunjukkan pada Gambar 22.

Ya

Gambar 22. Diagram alir model kelayakan ekonomi dan kelayakan finansial

6.3.3. Evaluasi Model Perencanaan

Tahap perancangan evaluasi model perencanaan merupakan tahapan terakhir dalam rekayasa model perencanaan. Model evaluasi perencanaan menggunakan metoda Fuzzy dengan kaidah IF THEN Rule di dalam sistem manajemen basis pengetahuan (knowledge base management system, KBMS). Evaluasi model perencanaan secara rinci disajikan pada Gambar 23.

Mulai

• Identifikasi kriteria-kriteria kelayakan ekonomi (manfaat dan biaya)

• Kebutuhan Pasar, Jumlah dalam kapasitas produksi

• Biaya Tetap : Tenaga kerja, Penyusutan, perbaikan dan pemeliharaan investasi lainnya.

• Biaya Variabel: Bahan baku dan tambahan dan biaya variabel lainnya.

• Penilaian pakar terhadap kelayakan ekonomi menggunakan kaedah dan pendekatan metoda Fuzzy

• Skenario Model Kelayakan Kerjasama (pembagian saham) Agroindustri dengan Pemilik hak ulayat

• Skenario Model Kelayakan proyek, Waktu Pengembalian Kredit, Umur Proyek, Harga Produk.

Evaluasi Perencanaan (Evaluasi Kelayakan)

Kelayakan Ekonomis (Kualitatif dan Kuantitatif) Manfaat: Biaya:

1. Langsung 1. Langsung 2. Tidak Langsung 2. Tidak Langsung 3. Tidak Kentara

Kelayakan Finansial Hitung : NPV, PI, IRR, Net B/C, PBP, Cash Flow, BEP, Analisis Sensitivitas Layak? Perhitungan agregasi Kelayakan Ekonomis Analisa Kelayakan Investasi Pengembangan Agroindustri Sapi Potong Layak

Selesai

Gambar 23. Diagram alir evaluasi model perencanaan pengembangan agroindustri sapi potong

KBMS merupakan akuisisi pendapat pakar ke dalam sistem pakar. Penilaian pakar merupakan acuan dalam evaluasi dari model perencanaan yang telah dihasilkan. Hasil keputusan evaluasi merupakan keputusan setelah dilakukan verifikasi dan validasi terhadap model yang telah dirancang. Keputusan akan memberikan gambaran apakah model yang telah dirancang sesuai dengan yang di harapan/diinginkan atau perlu dilakukan perbaikan. Model KBMS terdiri dari 1) input parameter, merupakan hasil analisis model perencanaan yang dijadikan sebagai masukan model dalam parameter yang akan dievaluasi, 2) deskripsi keputusan evaluasi, 3) masukan/input aturan (rule base) model yang menghasilkan rule base model, 4) aturan (rule base), dan 5) sistem dialog (lembar konsultasi).