MODEL PERENCANAAN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SAPI POTONG
VI. PERMODELAN SISTEM PERENCANAAN
6.2. Sistem Manajemen Basis Data
Sistem manajemen basis data digunakan untuk mengelola data yang diperlukan dalam analisa model. Sistem manajemen basis data program AGRIBEST disusun dalam empat (3) basis data sebagai berikut.
6.2.1. Data Strategi Pengembangan Agroindustri Sapi Potong
Data strategi pengembangan agroindustri sapi potong yang digunakan adalah data kualitatif yang terdapat pada elemen hirarki perumusan strategi pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat. Hirarki perumusan strategi tersusun atas lima (5) tingkatan, yaitu: fokus, pelaku, prinsip, kriteria, dan strategi. Hirarki kesatu fokus, yaitu pola umum pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat.
Hirarki kedua elemen pelaku, yaitu: (1) pengusaha swasta, (2) koperasi, (3) kelompok peternak, (4) pemda kabupaten/kota, (5) masyarakat setempat, (6) lembaga swadaya masyarakat, dan (7) perusahaan daerah.
Hirarki ketiga dan keempat, elemen prinsip dengan kriterianya, yaitu: (1) potensi dan pemberdayaan masyarakat dengan krtiteria: a) peran masyarakat perantau, b) kemampuan dan potensi masyarakat, (2) kepastian status dan fungsi lahan dengan kriteria: a) kesepakatan penggunaan lahan/lokasi usaha, b) kejelasan fungsi dan penggunaan lahan, c) kesesuaian perencanaan, (3) kejelasan struktur dan fungsi kelembagaan dengan kriteria: a) kemampuan sumber daya manusia, b) struktur organisasi, dan c) kewenangan dan tanggung jawab dan (4) ketersediaan sarana dan prasarana dengan kriteria: a) infrastruktur, b) sarana tranportasi, dan c) sistem dan prosedur informasi. Hirarki kelima, elemen alternatif strategi, yaitu: (1) pembangunan lumbung (kawasan) agroindustri sapi potong, (2) pengembangan usaha kecil dan menengah, (3) pengembangan produk dan pasar, (4) peningkatan partisipasi investasi perantau, (5) peningkatan mutu ternak dan hasil ternak sapi potong.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metoda Fuzzy-Analytical Hierarchy Process (Fuzzy-AHP). Penilaian perbandingan skala tingkat kepentingan antara elemen-elemen hirarki dari pendapat kualitatif para pakar menggunakan preferensi fuzzy dengan label linguistik, yaitu Mutlak Penting/Absolute Importance, Sangat Jelas Lebih Penting/Very Strong Importance, Jelas Lebih Penting/Strong Importance, Sedikit Lebih Penting/Weak Importance, dan Sama Penting/Equal Importance. Proses pengolahan data dilakukan secara individual dengan persyaratan, setiap individu pakar harus konsisten. Penilaian dilakukan oleh para pakar, yaitu: (1) Dr. Agusli Thaher (Kepala Bidang Pengembangan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Barat); (2) Prof. Dr. Ir. Surya Anwar, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (3) Ir. Bambang Susilobroto, MS (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat); (4) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat); (5) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang).
6.2.2. Data Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong.
Data yang digunakan pada analisa teknik perencanaan adalah sebagai berikut: 1) kelayakan Pasar, 2) pemilihan Produk, 3) perencanaan lokasi, 4) perencanaan kapasitas produksi. Data teknis perencanaan dilengkapi dengan 5) pembiayaan
pengembangan agroindustri, 6) resolusi konflik, 7) komitmen stakeholder, 8) kelayakan ekonomi dan 9) kelayakan finansial.
A. Kelayakan Pasar
Data untuk kelayakan pasar yang digunakan adalah data historis jumlah konsumen produk, kebutuhan per kapita per tahun dan produksi (penyediaan propinsi) dari data sekunder Statistik Peternakan Tahun 1993 – 2005 (Dinas Peternakan Propinsi Sumbar, 1994 – 2006) untuk memprediksi permintaan total dan potensial pasar. Proses pengolahan data dilakukan berdasarkan metoda prediksi.
B. Pemilihan Produk
Data yang digunakan adalah hasil penilaian kriteria dan alternatif dalam pemilihan produk. Alternatif produk agroindustri sapi potong yang akan dipilih, yaitu: 1) sosis, 2) abon, 3) bakso, 4) dendeng kering, 5) rendang, 6) kerupuk kulit, 7) kulit lapis, 8) kulit sol, 9) tepung tulang, dan 10) pupuk kandang. Alternatif produk yang dikembangkan ditentukan dan dinilai oleh para pakar berdasarkan beberapa kriteria, yaitu: 1) potensi pasar, 2) lokasi, 3) bahan baku, 4) sarana produksi, 5) aksesibilitas, 6) dukungan pemerintah, 7) gangguan dan pencemaran lingkungan, 8) peralatan dan alat (teknologi penunjang), dan 9) sumberdaya manusia.
Skala penilaian kriteria, yaitu: Nilai 4 = Sangat Berpengaruh, Nilai 3 = Berpengaruh, Nilai 2 = Kurang Berpengaruh, Nilai 1 = Tidak Berpengaruh. Skala penilaian bobot kriteria, yaitu: Nilai 4 = Sangat Penting atau Sangat Menentukan, Nilai 3 = Penting atau Menentukan, 2 = Agak Penting atau Agak Menentukan, Nilai 1 = Kurang Penting atau Kurang Menentukan.
Penilaian terhadap pemilihan alternatif produk dilakukan oleh para pakar, yaitu: (1) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (2) Dr. Agusli Thaher (Kepala Bidang Pengembangan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Barat); (3) Ir. Bambang Susilobroto, MS (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat); (4) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat); (5) Djaswir Loewis (Sekretaris Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Cabang Padang).
Proses pengolahan data dilakukan berdasarkan Metoda Perbandingan Eksponensial (MPE). MPE merupakan salah satu metoda untuk menentukan urutan prioritas alternatif keputusan dengan kriteria jamak yang membantu dalam
pengambilan keputusan. Solusi hasil didapat dari urutan prioritas keputusan di dasarkan pada skor atau nilai total masing-masing alternatif.
C. Perencanaan Lokasi
Data yang digunakan dalam perencanaan lokasi pengembangan adalah data hasil penilaian dari skala faktor-faktor yang berpengaruh terhadap alternatif lokasi pilihan. Kriteria-kriteria pemilihan lokasi yang menjadi faktor berpengaruh dalam pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat, yaitu: 1) kondisi wilayah belakang (hinterland), 2) lokasi strategis, 3) infrastruktur dan teknologi, 4) ketersediaan jaringan utilitas, 5) masalah lingkungan sosial, 6) ketersediaan sumber daya manusia, 7) jaminan keamanan, 8) pemasok bahan baku, dan 9) kondisi iklim dan topografi. Skala penilaian faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi pengembangan agroindustri, yaitu 1) Nilai 5 = Sangat Tinggi/Memadai, 2) Nilai 4 = Tinggi, 3) Nilai 3 = Cukup Tinggi/Memadai, 4) Nilai 2 = Belum Cukup Memadai, dan 5) Nilai 1 = Tidak Memadai.
Penilaian faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam pemilihan alternatif lokasi pengembangan agroindustri sapi potong dilakukan oleh para pakar, yaitu: (1) Dr. Agusli Thaher (Kepala Bidang Pengembangan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Barat); (2) Prof. Dr. Ir. Surya Anwar, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (3) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (4) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat); (5) Ir. Bambang Susilobroto, MS (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat). Alternatif lokasi pengembangan agroindustri sapi potong, adalah 1) Kabupaten Lima Puluh Kota, 2) Kabupaten Agam, 3) Kabupaten Sawahlunto Sijunjung (Dharmasraya), 4) Kabupaten Tanah Datar, 5) Kabupaten Solok, 6) Kabupaten Padang Pariaman, 7) Kabupaten Pesisir Selatan dan 8) Kabupaten Pasaman.
Model perencanaan pemilihan lokasi menggunakan Metoda Faktor Peringkat/MFP (Factor-Rating Method). Pemilihan lokasi ditentukan oleh rating tertinggi dari jumlah rata-rata skor terbobot dari semua faktor yang berpengaruh terhadap alternatif lokasi sebagai dasar pilihan.
D. Perencanaan Kapasitas Produksi
Data perencanaan kapasitas produksi yang digunakan adalah data primer dari hasil survey dan wawancara ke produsen dan pedagang di Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Pasar Atas dan Pasar Bawah Bukittinggi, Kecamatan Tilatang Kamang
dan Kecamatan Baso di Kabupaten Agam. Data yang dibutuhkan dalam perencanaan kapasitas produksi, yaitu: 1) data kebutuhan investasi untuk biaya variabel berupa biaya per unit dari kebutuhan bahan baku, bahan tambahan dan biaya tenaga kerja langsung dan biaya variabel lainnya; 2) data biaya tetap per tahun berupa penyusutan peralatan/mesin dan bangunan, biaya perbaikan dan pemeliharaan bangunan, peralatan/mesin, kendaraan dan biaya tetap lainnya; 3) data harga jual produk per unit yang dihasilkan. Pengolahan data menggunakan formula model titik impas/pulang pokok (BEP) untuk menentukan jumlah output (produk) minimum yang dihasilkan dimana perusahaan tidak mengalami kerugian menggunakan program analisa finansial (Ansial)
.
E. Pembiayaan Pengembangan Agroindustri
Data yang digunakan dalam memprediksi pembiayaan pengembangan agroindustri adalah data hasil penilaian beberapa alternatif sumber pembiayaan menggunakan penilaian preferensi fuzzy multi person. Alternatif sumber pembiayaan pengembangan agroindustri sapi potong tersebut adalah 1) perbankan konvensional, b) perbankan syariah, dan c) pola bagi hasil “saduoan”. Penilaian bobot alternatif pembiayaan menggunakan preferensi label linguistik, yaitu: Sangat Tinggi (ST), Tinggi (T), Sedang (S), Rendah (R) dan Sangat Rendah (SR).
Pengolahan data menggunakan metoda Fuzzy Investmen Model. Metoda Fuzzy Investmen Model merupakan metoda semi numeric, dimulai dengan tahap “Fuzzification”, yaitu penilaian dilakukan menggunakan logika fuzzy, kemudian tahap “Fuzzy Computation”, yaitu pengolahan penilaian bilangan fuzzy dengan mencari sensor agregasi pakar. Pada tahap terakhir “Defuzzification”, yaitu mengembalikan bilangan fuzzy ke bilangan numerik.
Penilaian alternatif sumber pembiayaan dilakukan oleh para pakar, yaitu: (1) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (2) Dr. Agusli Thaher (Kepala Bidang Pengembangan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Barat); (3) Dr. H. Eni Kamal, MSc (Ketua Komite Kamar Dagang dan Industri Sumatera Barat); (4) Ir. Bambang Susilobroto, MS (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat).
Data yang digunakan dalam penyelesaian/resolusi konflik terdiri atas: 1) data hasil penentuan prioritas resolusi, 2) data resolusi konflik hasil stakeholders dialogue. Data penentuan prioritas resolusi yaitu data analisis menggunakan metoda Fuzzy- Analytical Hierarchy Process (Fuzzy-AHP) dalam susunan hirarki fokus, faktor penentu, aktor, resolusi. Fokus: Pola umum resolusi konflik stakeholders agroindustri sapi potong di Sumatera Barat; Faktor penentu yaitu: (1) kesepakatan pembagian saham di pihak dalam kaum dan pihak industri, (2) kejelasan pembagian hak dan kewajiban pengelolaan aset adat, (3) terjadi komunikasi yang baik antara mamak dan kemenakan, (4) kesediaan pihak industri memberikan sebagian keuntungannya, (5) perundingan di luar pengadilan, (6) kesepakatan yang disyahkan pengadilan; Pelaku (aktor) dalam menyelesaikan terjadinya konflik, yaitu: (1) ninik mamak di dalam kaum yang bersangkutan, (2) pemilih atau pemegang hak otoritas aset adat (tanah ulayat), (3) kerapatan adat nagari, (4) pihak industri atau pengelola aset adat, (5) pemerintahan nagari, (6) pengadilan negeri; Alternatif resolusi, yaitu: (1) kesesuaian pembagian saham di dalam kaum, (2) menggunakan prinsip “adat diisi limbago dituang”, (3) kompensasi/kesediaan industri memberikan sebagian keuntungannya, (4) penyelesaian konflik di luar pengadilan (kompromi dan mufakat), (5) kesepakatan tertulis yang disyahkan pengadilan, (6) tukar guling penggunaan aset ulayat.
Pengolahan data diawali dengan penilaian perbandingan skala tingkat kepentingan antara elemen-elemen hirarki dari pendapat kualitatif para pakar menggunakan preferensi fuzzy dengan label linguistik, yaitu Mutlak Penting/Absolute Importance, Sangat Jelas Lebih Penting/Very Strong Importance, Jelas Lebih Penting/Strong Importance, Sedikit Lebih Penting/Weak Importance, dan Sama Penting/Equal Importance. Nilai-nilai perbandingan harus diperoleh tingkat konsistensinya, kemudian dilakukan pengolahan vertikal untuk menentukan vektor prioritas sistem ditiap level hirarki.
Penilaian perbandingan elemen masing-masing hirarki dilakukan oleh para pakar, yaitu: (1) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (2) Ir. Busharmaidi, MS (Wakil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat); (3) Novrial, SE, MA (Kepala Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat); (4) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat); (5) Drs. Bachzantidor Dt. Bandaro (Penghulu Kaum Suku Caniago, Nagari Guguk Solok); (6) Djaswir Loewis (Sekretaris Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Cabang Padang). Data resolusi konflik stakeholders yaitu data nilai
lahan/tanah ulayat yang digunakan sebagai lahan/lokasi industri sebagai saham kepemilikan dalam keikutsertaan pemilik hak ulayat dalam biaya investasi pembangunan agroindustri sapi potong.
G. Komitmen Stakeholders
Data yang digunakan pada evaluasi atau penilaian komitmen stakeholders pengembangan peternakan sapi potong adalah kriteria-kriteria komitmen yang direkomendasikan. Kriteria komitmen pengembangan tersebut, yaitu: 1) kawasan terdiri dari 60 % KK peternak, 2) sosial budaya masyarakat terhadap penguasaan teknologi dan pasar, 3) Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, 4) kepemilikan sapi, 5) pengusahaan ternak secara intensif, 6) akses terhadap permodalan, 7) akses kepada pasar, 8) perizinan investasi dan usaha, 9) pengaturan pemasok dan kebutuhan pangan dan sanitasi bahan asal hewan, 10) pengaturan kemitraan dengan swasta (swasta dan peternak), 11) pemberantasan penyakit hewan menular, 12) pemeliharaan aset peternakan di daerah, 13) pemusnahan bahan asal ternak yang masuk secara illegal. Alternatif komitmen, yaitu: 1) mengembangkan kawasan sentra produksi peternakan (lumbung ternak), 2) mengembangkan unit usaha kecil, 3) melayani kebutuhan sarana (semen beku dan vaksin) dan sumber daya manusia (SDM), dan 4) penyerahan kewenangan ke kabupaten dan kota dalam rangka mempercepat pembangunan peternakan.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Metoda Fuzzy Multi-Expert Multi-Criteria Decision Making (ME-MCDM). Metoda Fuzzy–ME-MCDM merupakan metoda analisis non numerik. Data hasil penilaian pakar dilakukan perhitungan agregasi kriteria dan agregasi pakar berdasarkan kesepakatan dan negasi tingkat kriteria. Skala penilaian kriteria-kriteria terhadap alternatif komitmen menggunakan preferensi label linguistik dilakukan olah para pakar, yaitu: Sangat Tinggi (ST), Tinggi (T), Sedang (S), Rendah (R), Sangat Rendah (SR).
Para pakar yang menilai, yaitu: (1) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (2) Dr. Agusli Thaher (Kepala Bidang Pengembangan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Sumatera Barat); (3) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat).
H. Kelayakan Ekonomi
Data yang digunakan dalam kelayakan ekonomi merupakan data kualitatif yang menjadi kriteria-kriteria alternatif kelayakan. Alternatif kelayakan ekonomi dalam pengembangan agroindustri sapi potong di Sumatera Barat adalah 1) Manfaat langsung (direct benefits), 2) manfaat tidak langsung (indirect benefits), 3) Manfaat tidak kentara (intangible benefits), dan 4) Biaya tidak langsung (indirect cost). Kriteria- kriteria penilaian dari alternatif manfaat langsung, yaitu: 1) kenaikan nilai hasil produksi sapi potong, 2) meningkatnya mutu produksi, 3) berkurangnya biaya operasional pemasaran, 4) meningkatnya kapasitas produksi, 5) meningkatnya ketersediaan bahan baku, 6) menambah penyerapan tenaga kerja lokal, 7) meningkatnya tingkat pendapatan/keuntungan, 8) peningkatan investasi, 9) peningkatan penggunaan tanah/lahan.
Kriteria-kriteria penilaian dari alternatif manfaat tidak langsung adalah 1) mendorong tumbuhnya industri-industri lain, 2) bertambahnya nilai produksi industri- industri lain, 3) meningkatnya kepercayaan berinvestasi, 4) peningkatan pemanfaatan produk samping, 5) peningkatan motivasi berusaha, 6) mendorong meningkatnya inovasi teknologi, 7) meningkatnya nilai lahan/tanah di lokasi pengembangan, 8) mendorong tumbuhnya jumlah stakeholders, 9) menjadikan contoh lokasi pengembangan agroindustri sapi potong.
Kriteria-kriteria penilaian dari alternatif manfaat tidak kentara adalah 1) perbaikan lingkungan hidup, 2) berkurangnya pengangguran, 3) peningkatan ketahanan nasional, 4) mendorong tumbuhnya industri serupa di daerah lain, 5) berkurangnya lahan tidur (belum dimanfaatkan), 6) berkembangnya industri penunjang, 7) peningkatan peran stakeholders, 8) mendorong meningkatnya peran nagari, 9) berkembangnya daerah sekitar.
Kriteria-kriteria penilaian dari alternatif biaya tidak langsung adalah 1) terjadinya pencemaran lingkungan (polusi udara, bising), 2) perubahan nilai-nilai (norma) dalam masyarakat, 3) terjadinya konflik stakeholders, 4) terganggunya aktivitas/kegiatan sosial masyarakat, 5) berkurangnya stabilitas keamanan lingkungan, 6) terganggu kelancaran penggunaan infrastruktur/sarana umum, 7) perubahan kesepakatan nilai atas penggunaan aset ulayat, 8) tidak seimbangnya pemanfaatan tenaga kerja lokal, 9) pembinaan dan pengembangan kelompok masyarakat lokasi.
Skala penilaian kriteria-kriteria terhadap alternatif kelayakan ekonomi menggunakan preferensi label linguistik dilakukan olah para pakar, yaitu: Sangat Tinggi (ST), Tinggi (T), Sedang (S), Rendah (R), Sangat Rendah (SR). Pengolahan
data dilakukan dengan menggunakan kaidah fuzzy dengan nama Metoda Fuzzy Planning Evaluation Model. Metoda ini termasuk Metoda Fuzzy Multi-Expert Multi- Criteria Decision Making (ME-MCDM) non numerik.
Para pakar yang menilai adalah (1) Prof. Dr. Ir. Arnim, MS (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang); (2) Ir. Busharmaidi, MS (Wakil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat); (3) Novrial, SE, MA (Kepala Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat); (4) Drh. Erinaldi (Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat); (5) Djaswir Loewis (Sekretaris Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Cabang Padang).
I. Kelayakan Finansial
Data yang digunakan dalam kelayakan finansial yaitu data kuantitatif terdiri atas: 1) data kebutuhan dana investasi dapat berujud penyediaan lahan/tanah, pembelian peralatan dan mesin, biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian kendaraan operasional, perlengkapan kantor, biaya dan modal pra operasional pabrik; 2) biaya tetap berupa kebutuhan tenaga kerja dapat berujud tenaga kerja langsung dan tidak langsung, penyusutan peralatan dan bangunan serta perbaikan dan pemeliharaan bangunan, peralatan dan mesin, kendaraan operasional dan biaya investasi penanganan limbah; 3) biaya variabel berupa kebutuhan bahan baku, kebutuhan tambahan dan kebutuhan variabel dalam operasional; 4) bunga dan angsuran kredit; 5) data pajak pertambahan nilai; 6) data laba rugi dan 7) data aliran kas proyek (cash flow).
Penilaian investasi menggunakan pemecahan dengan (1) Metode Nilai Bersih Sekarang (net present value, NPV) merupakan selisih antara keuntungan sekarang dengan biaya sekarang; (2) Metode Indeks Kemampulabaan (profitability index, PI) merupakan rasio antara nilai sekarang arus kas masuk total dengan nilai sekarang total dari investasi inisial; (3) Metode Tingkat Kemampulabaan Internal (internal rate of return, IRR) merupakan nilai tingkat bunga dari seluruh net cash flow sesudah diproyeksikan sekarang terhadap jumlah nilai biaya investasi; (4) Metode Nisbah Biaya dan Manfaat (Net B/C Ratio) merupakan perbandingan nilai keuntungan bersih terhadap biaya bersih; dan (5) Metode Pemulihan Investasi (payback method, PBP) merupakan penilaian investasi yang didasarkan pada pelunasan biaya investasi atas keuntungan usaha.
6.2.3. Data Evaluasi Perencanaan Pengembangan Agroindustri Sapi Potong
Data yang digunakan dalam mengevaluasi model perencanaan adalah data kualitatif pendapat pakar menggunakan sistem pakar yang tergabung ke dalam sistem manajemen basis pengetahuan (knowledge base management system, KBMS) mengunakan metoda Fuzzy dengan kaidah IF THEN Rule. Data evaluasi perencanaan yang digunakan adalah data hasil dari analisis strategi pengembangan, teknis perencanaan (pemilihan produk dan lokasi, ketersediaan bahan baku dan perencanaan kapasitas produksi), sumber pembiayaan, nilai bagi hasil dari kepemilikan saham, serta dilengkapi dengan penilaian komitmen dari stakeholder, kelayakan/dampak ekonomi dan kelayakan finansial. Hasil analisia teknis perencanaan tersebut dijadikan sebagai data untuk input parameter, acuan untuk data aturan (rule base) penilaian dan sebagai data untuk merumusan alternatif keputusan evaluasi yang terdapat dalam deskripsi evaluasi.
Penilaian untuk evaluasi model perencanaan dilakukan dengan menggunakan software KBMS. Penilaian dapat dilakukan oleh seorang pakar atau beberapa pakar yang berkompeten dan mampu menilai untuk mengevaluasi model perencanaan pengembangan agroindutri sapi potong di Sumatera Barat.