Pihak Perusahaan telah memberikan ketentuan ataupun prosedur pelaksanaan kegiatan untuk setiap kegiatan yang ada di kebun. Prosedur tersebut dibuat dengan harapan tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan kerja, agar hasil kerja nantinya dapat sesuai dengan harapan perusahaan, serta meminimalkan terjadinya kesalahan dalam pekerjaan. Biasanya prosedur tersebut diketik, lalu disosialisasikan pada para karyawan melalui manajemen kebun dengan cara penyampaian secara lisan lalu kemudian menempelkan pada kantor afdeling, di tempat yang mudah dilihat.
Prosedur terdiri dari urutan kegiatan secara garis besar, misalnya untuk pemanenan; seperti berdoa dulu sebelum memulai kerja, membersihkan alat kerja, dan seterusnya. Kesamaan dari setiap prosedur kerja untuk tiap kegiatan adalah perusahaan meminta para karyawannya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan, lalu mulai memasang/membersihkan alat yang akan mereka gunakan.
Untuk kegiatan pemanenan secara khusus ada cara-cara untuk melakukan pemanenan kelapa sawit diantaranya :
1. Dipotong pelepah daun yang masih menyanggah buah, dan diusahakan untuk tidak merusak pelepah lain yang menyanggah buah yang belum matang.
3. Untuk tanaman muda, bila masih terdapat berondolan diketiak daun, berondolan tersebut harus diambil dan dibersihkan.
4. Pelepah daun dipotong menjadi dua atau tiga bagian, lalu disusun di gawangan.
5. Dikumpulkan tandan ke jalan pikul sedangkan berondolan dikutip dan dimasukkan ke dalam goni.
6. Semua hasil panen (tandan dan berondolan) dikumpulkan di TPH dan diberi tanda sesuai nomor pemanen di gagang tandan.
Melalui hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, para karyawan panen secara keseluruhan telah mengetahui prosedur pemanenan serta paham benar mengenai prosedur tersebut. Hal ini nampak jelas melalui data tabel 6 diatas yakni 100% karyawan tahu dan paham prosedur yang ada.
2. Peralatan Kerja
Kesesuaian alat panen sangat menentukan kemudahan pemanen dalam memanen. Alat-alat yang digunakan dalam memanen tandan kelapa sawit diantaranya :
• Untuk tanaman muda (Umur 3-5 tahun) digunakan dodos kecil, kampak, sepeda dan goni.
• Untuk tanaman tua (Umur lebih dari 5 tahun) digunakan dodos besar, egrek, kampak, sepeda, tali, goni dan bambu egrek.
Melalui tabel 6 dapat dilihat bahwa seluruh karyawan panen telah mengetahui alat ini, namun hanya 88,23% saja yang mengatakan mereka mempersiapkan alat mereka terlebih dahulu sebelum dan sesudah selesai menggunakannya. Sisanya, 94,11% hanya mempersiapkan sebelum dipakai saja, dan 11,76% yang kadang-kadang membersihkan setelah setesai menggunakannya. 5,88% bahkan hanya terkadang membersihkan alat tersebut.
3. Mengidentifikasi Wilayah Kerja
Di kebun ada yang dikenal dengan sistem Ancak Panen,yang merupakan sistem pembagian areal panen yang menjadi tanggung jawab pemanen setiap harinya. Pembagian ancak panen ini selalu disesuaikan dengan kerapatan buah , kapasitas pemanen dan topografi areal.
Sistem ancak panen ada dua jenis. Setiap pemanen dibebaskan untuk menggunakan ancak panen yang akan mereka gunakan. Kedua jenis sistem ancak panen tersebut adalah sebagai berikut :
• Ancak Tetap, dengan membagi areal yang akan dikerjakan pemanen sekaligus dalam satu hari sejak awal. Misalnya pemanen A memanen pada baris ke 1-8, pemanen B pada baris 9-16, dan seterusnya. Dengan sistem ini pemanen akan memiliki ancak yang cukup luas sehingga mandor harus mengawasi pemanen dalam areal yang cukup luas
juga, dan karena hal itulah maka sistem ini jarang digunakan.
• Ancak Giring, dengan membagi areal yang akan dikerjakan pemanen sedikit demi sedikit dan akan terjadi pemindahan areal kerja. Misalnya pemanen A memanen pada baris ke 1-3 kemudian pindah lagi ke baris 10-14, sedangkan pemanen B pada baris 4-6 lalu pindah ke baris 15-17. perpindahan disesuaikan dengan areal yang balum dipanen. Dengan sistem ini panen dapat disesuaikan blok per blok, karena ancak pemanen diberikan dengan 2 atau 3 kali pindah, dengan demikian maka areal yang harus diawasi mandor menjadi lebih kecil, sehingga sistem ini lebih sering digunakan.
Dari data tabel 6 dilihat bahwa ada 94,11% karyawan yang mengaku benar mengenal dengan baik daerah pemanenan mereka.
Untuk tahun tanam tanaman, seluruh karyawan rata-rata mengetahui, biasanya tahun tanam ini dibuat tandanya pada pohon. Sedangkan untuk basis borong masing-masing tahun tanam, setiap karyawan panen mengaku telah mengetahuinya. Hal ini terbukti dari hasil perolehan tandan yang mereka panen. Mengetahui basis borong sangat penting untuk memperoleh premi bila mereka mampu memanen melebihi basis yang ditetapkan.
4. Waktu dan Hari Kerja
PTP Nusantara IV Unit Kebun Adolina menggunakan 2 (dua) rotasi panen yakni Rotasi 5/7 dimana blok kebun dipanen selama 5 hari dalam seminggu, yang dilakukan pada Semester I (Januari s/d Juni); dan Rotasi 6/7 dimana selama seminggu ada 6 hari pemanenan, yakni pada Semester II (Juli s/d Desember).
Kebun memiliki pembagian daerah tanaman menghasilkan sehingga dapat dipanen tepat pada waktunya tanpa melewati areal tertentu. Misalnya bila suatu daerah TM akan dipanen dengan rotasi panen 5/7, maka arel tersebut akan dibagi menjadi 5 kapveld dan diusahakan pembagian antara kepveld satu dengan selanjutnya tetap berada dalam arel yang cukup berdekatan. Jadi tidak semua wilayah dipanen pada hari yang sama.
Melalui data tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa masing-masing karyawan telah mengetahui waktu dan hari kerja pemanenan.
II. Organisasi
5. Koordinasi dengan Pihak Manajemen
Melalui data tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa masih ada karyawan yang hanya bekerja namun kurang mengerti mengenai bagaimana manajemen kebun bahkan sistem penggajian dirinya, namun persentasenya hanya sebagian kecil saja, yakni 5,88% saja untuk masing-masing mereka yang kurang serta tidak tahu
bagaimana manajemen di kebun. Sedangkan mengenai penggajian, ada 11,76% yang kurang mengerti dan 5,88% yang tidak mengerti. 6. Koordinasi dengan Sesama Pemanen
Sesama karyawan ternyata telah saling tahu serta mau bekerja sama dalam kegiatan pemanenan, hanya sedikit yang merasa kurang bekerja sama serta tidak merasa perlu bekerja sama dalam tugasnya, yakni sebesar 17,64% yang merasa kurang dan 5,88% yang meyatakan tidak perlu.
III . Pelaksanaan Pemanenan 7. Pelaksanaan Prosedur
Melalui tabel 6 dapat kita lihat bahwa 88,23% karyawan panen mengikuti ketentuan sebagaimana yang dianjurkan oleh perusahaan terhadap pelaksanaan pemanenan. Sedangkan untuk pemanenan TBS mentah atau belum terlalu masak biasanya karyawan pernah melakukan kesalahan ini sepanjang pekerjaan mereka meskipun tidak dalam jumlah yang besar.
8. Penggunaan Peralatan
Seluruh karyawan pemanenan menggunakan peralatan yang tepat dan bersih dalam pekerjaan mereka, namun hanya 76,47 % saja yang mampu mengatasi bila terjadi kerusakan pada alat mereka.
9. Wilayah Pekerjaan
Seluruh karyawan telah mengetahui lokasi wilayah yang akan dipanen serta melakukan pemanenan pada wilayah yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Mengenai masalah di lokasi pemanenan, biasanya karyawan hanya terganggu saja namun mampu mengatasi masalah, artinya tidak menghambat pekerjaan pemanenan.
10. Pelaksanaan Waktu dan Hari Kerja
Karyawan panen melaksanakan kegiatan pemanenan sesuai waktu dan jadwal dari perusahaan. Seluruh basis borong pemanenan biasanya terpenuhi tepat pada waktunya, sesuai ketentuan perusahaan.