• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA

Dalam dokumen Modul Kekayaan Negara yang Dipisahkan (Halaman 47-54)

1. LATAR BELAKANG

Sebagai suatu unit di dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perguruan Tinggi Negeri secara hukum tidak dapat memiliki otonomi. Demikian juga akuntabilitas kepada masyarakat (stakeholders) amat sulit untuk secara utuh dimintakan kepada Perguruan Tinggi Negeri sebagai unit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan kredibilitas hanya akan dapat diperoleh apabila kedua hal tersebut, otonomi dan akuntabilitas, secara nyata dimiliki dan diterapkan.

Oleh karena itu Perguruan Tinggi Negeri harus diubah status hukumnya menjadi badan hukum yang mandiri, terlepas dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. DASAR HUKUM

Sebagai landasan hukum dalam kerangka peraturan perundangan­undangan yang berlaku di Republik Indonesia, Pasal 1653 Kitab Undang­undang Hukum Perdata (Staatsblad 1847 nomor 23) memberi kewenangan kepada Pemerintah untuk mendirikan suatu badan hukum. Sedangkan Pasal 5 ayat(2) Undang­undang Dasar 1945 memberi kewenangan kepada Pemerintah untuk mengundangkan Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang­undang dalam hal ini Undang­undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selanjutnya dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua Perguruan Tinggi Negeri dapat diubah status hukumnya menjadi badan hukum dengan menggunakan Peraturan Pemerintah ini sebagai pedoman.

3. PENGERTIAN

Perguruan Tinggi Negeri adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh, dalam hal ini Departemen yang bertanggung jawab atas pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi adalah Perguruan Tinggi Negeri yang berbentuk Badan Hukum. Sedangkan Menteri Keuangan adalah Menteri yang bertanggung jawab untuk mewakili pemerintah dalam setiap pemisahan kekayaan negara untuk ditempatkan sebagai kekayaan awal pada Perguruan Tinggi.

Status hukum Perguruan Tinggi adalah badan hukum yang mandiri dan berhak melakukan semua perbuatan hukum sebagaimana layaknya suatu badan hukum pada umumnya. Pada dasarnya penyelenggaraan Perguruan Tinggi bersifat nirlaba. Walaupun demikian Perguruan Tinggi dapat menyelenggarakan kegiatan lain dan mendirikan unit usaha yang hasilnya digunakan untuk mendukung penyelenggaraan fungsi­fungsi utama Perguruan Tinggi.

4. PENETAPAN PERGURUAN TINGGI

Perguruan Tinggi ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah melalui suatu proses pengkajian yang mendalam atas usulan dan rencana pengembangan yang diajukan oleh Perguruan Tinggi Negeri. Dimana Peraturan Pemerintah yang menetapkan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Perguruan Tinggi sekurang­kurangnya memuat:

1. penetapan Perguruan Tinggi sebagai badan hukum;

2. Anggaran Dasar Perguruan Tinggi;

3. penunjukkan Menteri Keuangan selaku wakil Pemerintah untuk mengawasi pemisahan kekayaan negara untuk ditempatkan sebagai kekayaan awal pada Perguruan Tinggi;

pembinaan Perguruan Tinggi secara umum.

Syarat­syarat untuk sebuah Perguruan Tinggi Negeri dapat ditetapkan sebagai Pergururan Tinggi mencakup kemampuan:

1. menyelenggarakan pendidikan tinggi yang efisien dan berkualitas;

2. memenuhi standar minimum kelayakan finansial;

3. melaksanakan pengelolaan Perguruan Tinggi berdasarkan prinsip ekonomis dan akuntabilitas.

5. KEKAYAAN PERGURUAN TINGGI

Kekayaan awal Perguruan Tinggi berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja. Besarnya kekayaan awal Perguruan Tinggi adalah seluruh kekayaan negara yang tertanam pada Perguruan Tinggi yang bersangkutan, kecuali tanah, yang nilainya ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan bersama oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Keuangan. Hal ini dengan maksud untuk menghindari adanya pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kepentingan Perguruan Tinggi, mengingat tanah merupakan aset tetap yang sangat signifikan nilai dan manfaatnya.

Sedangkan kekayaan Negara berupa tanah dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan Perguruan Tinggi yang bersangkutan. Hasil pemanfaatan kekayaan Negara berupa tanah menjadi pendapatan dari Perguruan Tinggi dan dipergunakan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Perguruan Tinggi.

Penatausahaan pemisahan kekayaan Negara untuk ditempatkan sebagai kekayaan awal Perguruan Tinggi diselenggarakan oleh Menteri Keuangan. Belum adanya melanisme penatausahaan atas kekayaan Negara perguruan

Tinggi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, mengakibatkan adanya dual counting dalam pencatatannya baik oleh Perguruan Tinggi itu sendiri maupun Departemen Pendidikan Nasional.

6. PENETAPAN PERGURUAN TINGGI NEGERI SEBAGAI BHMN

Sampai dengan Tahun 2006 telah ada 7 (tujuh) Perguruan Tinggi yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah yaitu:

1. Universitas Indonesia

Universitas Indonesia ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 152 Tahun 2000 tanggal 26 Desember 2000 tentang Penetapan Universitas Indonesia Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

2. Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 153 Tahun 2000 tanggal 26 Desember 2000 tentang Penetapan Universitas Gadjah Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

3. Institut Pertanian Bogor

Institut Pertanian Bogor ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 154 Tahun 2000 tanggal 26 Desember 2000 tentang Penetapan Institut Pertanian Bogor Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

Nilai kekayaan awal Institut Pertanian Bogor setelah dilakukan penilaian oleh Tim Penilai dan Inventaris Barang Milik Negara pada Institut Pertanian Bogor adalah sebesar Rp628.359.965.801,00 (enam ratus dua puluh delapan miliar tiga ratus lima puluh juta delapan ratus satu rupiah) sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 698/KMK.06/2006 tanggal . . . .

4. Institut Teknologi Bandung

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 155 Tahun 2000 tanggal 26 Desember 2000 tentang Penetapan Institut Teknologi Bandung Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

5. Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2003 tanggal 11 November 2003 tentang Penetapan Universitas Sumatera Utara Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

6. Universitas Pendidikan Indonesia­Bandung

Universitas Pendidikan Indonesia ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2004 tanggal 30 Januari 2004 tentang Penetapan Universitas Gadjah Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

7. Universitas Airlangga

Universitas Airlangga ditetapkan sebagai BHMN dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2006 tanggal 14 September 2006 tentang Penetapan Universitas Gadjah Mada Sebagai Badan Hukum Milik Negara.

Nilai kekayaan awal Universitas Airlangga setelah dilakukan penilaian oleh Tim Penilai dan Inventaris Barang Milik Negara pada Universitas Airlangga adalah sebagai berikut:

a. bangunan sejumlah 43 (empat puluh tiga) unit, seluas 151.865,58 m2 (seratus lima puluh satu ribu delapan ratus enam puluh lima koma lima puluh delapan meter persegi), senilai Rp252.964.541.410,00 (dua ratus lima puluh dua miliar sembilan ratus enam puluh empat juta lima ratus empat puluh satu ribu empat ratus sepuluh rupiah);

b. alat angkutan kendaraan bermotor sejumlah 134 (seratus tiga puluh empat) unit, senilai Rp7.073.466.500,00 (tujuh miliar tujuh puluh tiga juta empat ratus enam puluh enam ribu lima ratus rupiah);

c. peralatan kantor, mesin, peralatan laboratorium, dan aset tetap lainnya sejumlah 482.465 (empat ratus delapan puluh dua ribu empat ratus enam puluh lima) unit, senilai Rp58.661.000.792,00 (lima puluh delapan miliar enam ratus enam puluh satu juta tujuh ratus sembilan puluh dua rupiah).

Untuk nilai kekayaan awal Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Pendidikan Indonesia belum ditetapkan.

7. PERMASALAHAN PADA BHMN

1. Keputusan Menteri Keuangan tentang Penetapan Kekayaan Awal Badan Hukum Milik Negara.

Masih adanya Perguruan Tinggi (BHMN) yang belum ditetapkan nilai kekayaan awalnya oleh Menteri Keuangan, maka terjadi ketidakpastian hukum dalam hal kewenangan pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan pada Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah namun belum ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

2. Penatausahaan Kekayaan Negara yang dipisahkan pada Badan Hukum Milik Negara.

Belum adanya aturan (Peraturan Menteri Keuangan) yang mengatur mekanisme penatausahaan atas kekayaan Negara yang dipisahkan yang terdapat pada Perguruan Tinggi (BHMN).

3. Pemanfaatan tanah yang dikuasai Badan Hukum Milik Negara.

Belum adanya aturan (Peraturan Menteri Keuangan) yang mengatur tentang batasan dan persyaratan mengenai pemanfaatn tanah dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi Perguruan Tinggi kecuali pada Universitas Sumatera

Utara dan Universitas Pendidikan Indonesia, ditegaskan bahwa tanah tidak dapat dipindahtangankan.

4. Kontradiksi pengaturan Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 dinyatakan bahwa hasil pemanfaatan tanah menjadi pendapatan Perguruan Tinggi (BHMN) yang bersangkutan. Hal ini bertentangan dengan Undang­undang Nomor 20 Tahun 2007 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dimana setiap hasil pemanfataan tanah wajib disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara.

Bab VIII

PENATAUSAHAAN PENYERTAAN MODAL

Dalam dokumen Modul Kekayaan Negara yang Dipisahkan (Halaman 47-54)

Dokumen terkait