• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Perhitungan Anggaran Biaya Dinas Pendidikan Mukomuko

Anggaran biaya pada Dinas Pendidikan Mukomuko dapat diketahui efektivitasnya baik dengan metode konvensional maupun berdasarkan metode ABB dengan melakukan analisi varians dari masing-masing anggaran. Analisis

selisih (varians) merupakan upaya untuk mengetahui selisih baik positif atau negatif dari pelaksanaan terhadap anggaran yang telah dibuat. Dalam menganalisis selisih yang terjadi pada anggaran Dinas Pendidikan Mukomuko perlu diperhatikan hal-hal berikut:

1) Adanya anggaran sebagai patokan. 2) Adanya hasil realisasi.

3) Selisih yang terjadi baik positif (favorable) dan negatif (unfavorable).

4.4.1 Anggaran yang Disusun secara Konvensional

Nilai anggaran diperoleh dari data keuangan Kantor Dinas Pendidikan yang telah diolah yakni dari DPA-SKPD tahun 2009. Nilai tersebut nantinya akan digunakan untuk menentukan nilai varians atau selisih antara anggaran yang disusun secara konvensional dan realisasi dalam satu periode waktu. Anggaran yang disusun secara konvensional pada Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko dapat dilihat seperti yang tertera pada Tabel 14 berikut:

Tabel 14. Perhitungan anggaran yang disusun secara konvensional tahun 2009

Keterangan Konvensional

(Rp)

Biaya Personalia 1.203.636.061

Biaya Rumah Tangga 24.700.000

Biaya Administrasi 105.575.000

Biaya Gedung & Lingkungan 11.500.000

Biaya Penyusutan 24.400.000

Biaya Pemeliharaan Kendaraan 44.538.000

Total 1.427.349.061

Sumber: Data keuangan Dinas Pendidikan Mukomuko (diolah)

4.4.2 Anggaran yang Disusun dengan Metode ABB

Dari penjabaran pada awal pembahasan yaitu sumber daya dan biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan aktivitas, maka diperoleh hasil nilai perhitungan anggaran yang disusun dengan metode ABB. Rincian anggaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 15 berikut:

Tabel 15. Perhitungan anggaran dengan metode ABB untuk tahun 2009

Keterangan ABB (Rp)

Biaya Personalia 1.227.036.061

Biaya Rumah Tangga 26.900.000

Biaya Administrasi 110.812.000

Biaya Gedung & Lingkungan 12.500.000

Biaya Penyusutan 26.175.000

Biaya Pemeliharaan Kendaraan 75.800.000

Total 1.479.223.061

4.4.3 Perbandingan Anggaran Konvensional versus ABB

Dari pembahasan sebelumnya talah diperoleh nilai-nilai antara anggaran yang diperoleh dari penyusunan secara konvensional dan anggaran yang diperoleh dengan metode ABB. Perbandingan kedua anggaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 16 berikut:

Tabel 16. Perbandingan anggaran yang disusun secara konvensional dan anggaran dengan metode ABB

Keterangan ABB (Rp) Konvensional (Rp) Selisih (Rp) % Biaya Personalia 1.227.036.061 1.203.636.061 23.400.000 2

Biaya Rumah Tangga 26.900.000 24.700.000 2.200.000 8

Biaya Administrasi 110.812.000 105.575.000 5.237.000 5

Biaya Gedung & Lingkungan 12.500.000 11.500.000 1.000.000 8

Biaya Penyusutan 26.175.000 24.400.000 1.775.000 7

Biaya Pemeliharaan Kendaraan 75.800.000 44.538.000 31.262.000 41

Total 1.479.223.061 1.427.349.061 64.874.000

Dari perhitungan selisih antara ABB dengan anggaran biaya konvensional terlihat bahwa besarnya selisih yang terjadi adalah terjadi antar 2%-41%. Secara umum anggaran yang disusun berdasarkan metode ABB dengan anggaran yang disusun secara konvensional adalah anggaran dengan metode ABB lebih mendekati nilai realisasi. Hal ini menunjukkan bahwa sebaiknya penyusunan anggaran berdasarkan metode ABB lebih baik diterapkan pada instansi tersebut, agar besarnya penyimpangan antara anggaran dan realisasi dapat teratasi.

4.4.4 Perbandingan Varians Anggaran Konvensional versus ABB

Nilai anggaran yang disusun secara konvensional dipeoleh dari data keuangan Kantor Dinas Pendidikan yang telah diolah yakni dari DPA-SKPD tahun 2009, sedangkan nilai realisasi anggaran diperoleh dari data Laporan Realisasi Dinas Pendidikan tahun 2009. Kedua nilai tersebut digunakan untuk menentukan nilai varians atara anggaran dan pengeluaran dalam satu periode

waktu. Nilai yang diperoleh dari varians antara anggaran yang telah dibuat oleh instansi (secara konvensional) dengan realisasi yang terjadi dapat dilihat seperti yang tertera pada Tabel 17 berikut:

Tabel 17. Perhitungan varians anggaran konvensional tahun 2009

Anggaran Konvensional (Rp) Realisasi (Rp) Varians Konvensional (Rp) % Biaya Personalia 1.203.636.061 1.316.890.364 -113.254.303 -9,41

Biaya Rumah Tangga 24.700.000 27.022.000 -2.322.000 -9,40

Biaya Administrasi 105.575.000 118.895.000 -13.320.000 -12,62

Biaya Gedung & Lingkungan 11.500.000 13.875.000 -2.375.000 -20,65

Biaya Penyusutan 24.400.000 27.750.000 -3.350.000 -13,73

Biaya Pemeliharaan Kendaraan

44.538.000 29.490.500 15.047.500 33,79

Total 1.427.349.061 1.533.922.864 -106.573.803

Dari Tabel 17, perhitungan selisih antara anggaran yang disusun secara konvensional dengan realisasi biaya terlihat bahwa besarnya selisih yang terjadi adalah berada diantara 9%-20%. Komponen biaya yang memiliki varians

unfavorable yang besar terdapat pada biaya gedung & lingkungan (-20,65%), dan biaya penyusutan (-13,73%). Sedangkan komponen biaya yang memiliki varians

favorable adalah hanya biaya pemeliharaan kendaraan (33,79%).

Biaya gedung & lingkungan (-20,65%) memiliki varians yang lebih besar terjadi karena adanya penambahan biaya untuk taman kantor dan untuk biaya rumah tangga terjadi kenaikan biaya yaitu untuk jamuan tamu dan rapat pada Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko yang tahun 2009 lebih sering terjadi sehingga jadi menambah biaya pengeluaran untuk biaya ini. Biaya pemeliharaan kendaraan (33,79%) terjadi karena pada tahun 2009, banyak kendaraan yang tidak mengalami service berat seperti yang terjadi pada tahun 2008, sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan kendaraan di tahun 2009. Kelebihan dana dari suatu kegiatan akan digunakan untuk menutupi kekurangan biaya pada biaya lainnya. Namun jika realisasi kurang atau lebih kecil dari anggaran yang telah dibuat, maka kelebihan dana tersebut akan dikembalikan pada kas daerah di akhir tahun. Oleh karena itu, instansi pemerintahan harus mampu mengendalikan keuangan dan menyesuaikan penganggarannya agar tidak terjadi kekurangan dana.

Varians antara anggaran dengan metode ABB terhadap realisasi yang terjadi dapat dilihat pada Tabel 18 berikut:

Tabel 18. Perhitungan varians anggaran dengan metode ABB terhadap realisasi tahun 2009 Keterangan ABB (Rp) Realisasi (Rp) Varians ABB (Rp) % Biaya Personalia 1.227.036.061 1.316.890.364 -89.854.303 -7,32

Biaya Rumah Tangga 26.900.000 27.022.000 -10.122.000 -0,45

Biaya Administrasi 110.812.000 118.895.000 -8.083.000 -7,29

Biaya Gedung & Lingkungan 12.500.000 13.875.000 -1.375.000 -11,00

Biaya Penyusutan 26.175.000 27.750.000 -1.575.000 -6,02

Biaya Pemeliharaan Kendaraan 75.800.000 29.490.500 46.309.500 61,09

Total 1.479.223.061 1.533.922.864 -54.699.803

Dari perhitungan selisih antara ABB dengan realisasi biaya terlihat bahwa besarnya selisih yang terjadi adalah dibawah dua belas persen yaitu hanya terdapat pada biaya gedung & lingkungan (-11%). Selain itu komponen biaya yang memiliki selisih yang besar pada perhitungan anggaran metode konvensional instansi juga berkurang pada perhitungan anggaran metode ABB yaitu biaya administrasi (-7,29%) dan biaya personalia (-7,32%). Perhitungan biaya gedung & lingkungan pada tahun 2009 lebih besar karena adanya tambahan biaya pembuatan dan perawatan taman kantor yang sebelumnya belum ada taman atau penghijauan dikantor dinas tersebut. Begitu juga dengan biaya administrasi dan personalia, terjadi penambahan biaya pada aktivitas tersebut yang disebabkan adanya penambahan kegiatan. Pada biaya personalia juga demikian, masuknya empat orang pegawai tidak tetap yang baru dan meningkatnya standar gaji yakni dari Rp. 450.000 di tahun 2008 dan naik menjadi Rp. 500.000 di tahun 2009 per bulan untuk pegawai tidak tetap. Kenaikan biaya-biaya seperti itulah yang menyebabkan realisasi keuangan Kantor Dinas Pendidikan membutuhkan dana yang lebih besar daripada dana yang telah dianggarkan.

Anggaran yang disusun secara konvensional dengan anggaran berdasarkan metode ABB yang disusun adalah anggaran dengan metode ABB lebih mendekati nilai realisasi. Dari perhitungan persentase antara ABB dengan realisasi terlihat bahwa persentase ABB berkisar antara 7%-11%. Sedangkan metode anggaran konvensional berkisar antara 9%-20%. Berdasarkan hasil perhitungan varians anggaran konvensional dan ABB. terlihat bahwa pada perhitungan anggaran yang disusun secara konvensional terjadi rata-rata varians yang cukup besar. Sedangkan dengan perhitungan ABB varians yang terjadi cukup kecil (rata-rata dibawah 12%). Oleh karena itu. dapat disimpulkan bahwa anggaran yang dibuat oleh

Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko belum begitu efektif karena target-target yang ditetapkan dalam anggaran belum dapat dicapai secara optimal. Dengan belum efektifnya anggaran yang dibuat oleh Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko, manajemen dapat menggunakan alternatif penyusunan anggaran yang lain. Salah satunya adalah menggunakan metode ABB karena dengan perhitungan ABB memiliki varians yang lebih kecil daripada varians antara anggaran terhadap realisasi biaya yang terjadi pada Kantor Dinas Pendidikan Mukomuko tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa sebaiknya penyusunan anggaran berdasarkan metode ABB lebih baik diterapkan pada instansi tersebut, agar besarnya penyimpangan antara anggaran dan realisasi dapat sedikit demi sedikit teratasi.

Dokumen terkait