• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Perhitungan Data dan Pembahasan

Perhitungan data ini digunakan untuk menghitung besarnya tingkat perputaran kredit, rentabilitas, dan perputaran modal kerja. Pembahasan ditujukan untuk menjelaskan hasil dari perhitungan yang telah dilakukan. 1. Perhitungan Perputaran Kredit ( Receivable Turn Over )

Untuk menghitung rata -rata kredit digunakan rumus :

Rata-rata kredit = 2 tahun akhir kredit tahun awal Kredit +

Untuk menghitung perputaran kredit digunakan rumus :

RTO = kali kredit rata rata setahun selama diberikan yang Kredit ... = −

Berikut ini adalah tabel perhitungan perputaran kredit : Tabel V.I

Perputaran Kredit selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 Tahun Kredit Awal

Tahun (dalam ribuan rupiah) Kredit Akhir Tahun (dalam ribuan rupiah) Kredit Selama Satu Tahun (dalam ribuan rupiah) Rata -rata Kredit (dalam ribuan rupiah) RTO (kali) 2001 17.027.000 23.545.000 75.400.000 20.286.000 3,7 2002 23.545.000 29.008.000 87.085.000 26.276.500 3,3 2003 29.008.000 32.090.000 96.450.000 30.549.000 3,2 2004 32.090.000 43.105.000 118.050.000 37.597.500 3,1 2005 43.105.000 51.950.000 141.900.000 47.527.500 3,0

Dari analisis data yang dilakukan pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 diatas, Koperasi PWRI menunjukkan tingkat perputaran kredit sebesar 3,7 X ; 3,3 X ; 3,2 X ; 3,1 X ; 3,0 X.

Pada tahun 2001 tingkat perputaran kreditnya adalah sebesar 3,7 X, hal ini berarti bahwa kredit dilunasi dalam setahun sebanyak 3,7 X. Kredit yang disalurkan tersebut dilunasi dalam jangka waktu 99 hari. Perputaran kredit pada tahun tersebut tergolong lambat karena kredit yang disalurkan seharusnya minimal 5 X dalam setahun. Perputaran kredit yang lambat ini mengakibatkan dana yang tertanam dalam piutang tidak segera kembali

dalam aktiva koperasi sehingga koperasi tidak bisa segera menggunakan dana itu untuk memberikan kredit kepada anggota lagi. Selain itu, dengan perputaran kredit yang lambat ini, koperasi tidak bisa memperoleh Sisa Hasil Usaha yang lebih tinggi, karena dalam satu tahun koperasi hanya mampu memperoleh pendapatan bunga kurang dari 5 kali, yaitu sebanyak 3,7 X.

Pada tahun 2002 tingkat per putaran kreditnya adalah sebesar 3,3 X, hal ini berarti bahwa kredit dilunasi dalam setahun sebanyak 3,3 X. Kredit yang disalurkan tersebut dilunasi dalam jangka waktu 111 hari. Perputaran kredit pada tahun tersebut tergolong lambat karena kredit yang disalurkan seharusnya minimal 5 X dalam setahun. Perputaran kredit yang lambat ini mengakibatkan dana yang tertanam dalam piutang tidak segera kembali dalam aktiva koperasi sehingga koperasi tidak bisa segera menggunakan dana itu untuk memberikan kredit kepada anggota lagi. Selain itu, dengan perputaran kredit yang lambat ini, koperasi tidak bisa memperoleh Sisa Hasil Usaha yang lebih tinggi, karena dalam satu tahun koperasi hanya mampu memperoleh pendapatan bunga kurang dari 5 kali, yaitu sebanyak 3,3 X.

Pada tahun 2003 tingkat perputaran kreditnya adalah sebesar 3,2 X, hal ini berarti bahwa kredit dilunasi dalam setahun sebanyak 3,2 X. Kredit yang disalurkan tersebut dilunasi dalam jangka waktu 114 hari. Perputaran kredit pada tahun tersebut tergolong lam bat karena kredit yang disalurkan seharusnya minimal 5 X dalam setahun. Perputaran kredit yang lambat ini

mengakibatkan dana yang tertanam dalam piutang tidak segera kembali dalam aktiva koperasi sehingga koperasi tidak bisa segera menggunakan dana itu untuk memberikan kredit kepada anggota lagi. Selain itu, dengan perputaran kredit yang cepat ini, koperasi tidak bisa memperoleh Sisa Hasil Usaha yang lebih tinggi, karena dalam satu tahun koperasi hanya mampu memperoleh pendapatan bunga kurang dari 5 kali, yaitu sebanyak 3,2 X.

Pada tahun 2004 tingkat perputaran kreditnya adalah sebesar 3,1 X, hal ini berarti bahwa kredit dilunasi dalam setahun sebanyak 3,1 X. Kredit yang disalurkan tersebut dilunasi dalam jangka waktu 118 hari. Perputaran kredit pada tahun tersebut tergolong lambat karena kredit yang disalurkan seharusnya minimal 5 X dalam setahun. Perputaran kredit yang lambat ini mengakibatkan dana yang tertanam dalam piutang tidak segera kembali dalam aktiva koperasi sehingga koperasi tidak bisa segera menggunakan dana itu untuk memberikan kredit kepada anggota lagi. Selain itu, dengan perputaran kredit yang cepat ini, koperasi tidak bisa memperoleh Sisa Hasil Usaha yang lebih tinggi, karena dalam satu tahun koperasi hanya mampu memperoleh pendapatan bunga kurang dari 5 kali, yaitu sebanyak 3,1 X.

Pada tahun 2005 tingkat perputaran kreditnya adalah sebesar 3,0 X, hal ini berarti bahwa kredit dilunasi dalam setahun sebanyak 3,0 X. Kredit yang disalurkan tersebut dilunasi dalam jangka waktu 122 hari. Perputaran kredit pada tahun tersebut tergolong lambat karena kredit yang disalurkan

seharusnya minimal 5 X dalam setahun. Perputaran kredit yang lambat ini mengakibatkan dana yang tertanam dalam piutang tidak segera kembali dalam aktiva koperasi sehingga koperasi tidak bisa segera menggunakan dana itu untuk memberikan kredit kepada anggota lagi. Selain itu, dengan perputaran kredit yang lambat ini, koperasi tidak bisa memperoleh Sisa Hasil Usaha yang lebih tinggi, karena dalam satu tahun koperasi hanya mampu memperoleh pendapatan bunga kurang dari 5 kali, yaitu sebanyak 3,0 X.

2. Perhitungan Rentabilitas ( Return on Asset )

Untuk menghitung Rentabilitas digunakan rumus sebagai berikut :

RE = X 100% Usaha Modal langsung Manfaat pajak sebelum SHU +

Berikut ini adalah tabel perhitungan RE dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 :

Tabel V.2

RE selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 Tahun SHU Sebelum Pajak + Manfaat

Langsung (dalam ribuan rupiah )

Modal Usaha ( dalam ribuan rupiah ) RE ( prosentase ) 2001 8.748.598 18.009.396 48,6 2002 10.743.976 21.649.095 49,6 2003 12.338.629 26.661.496 46,3

2004 12.985.868 36.842.928 35,2

2005 18.940.682 47.180.872 40,1

Dari analisis data yang telah dilakukan diatas, pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005, Koperasi PWRI menunjukkan tingkat rentabilitas sebesar 48,6 % ; 49,6 % ; 46,3 % ; 35,2 % ; 40,1 %. Pada tahun 2001 tingkat rentabilitasnya adalah 48,6 %, hal ini berarti setiap Rp 1,00 total aktiva yang ada mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,486,-. Pada tahun 2002 tingkat rentabilitasnya adalah 49,6 %, hal ini berarti setiap Rp 1,00 total aktiva yang ada mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,496,-. Pada tahun 2003 tingkat rentabilitasnya adalah 46,3 %, hal ini berarti setiap Rp 1,00 total aktiva yang ada mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,463,-. Pada tahun 2004 tingkat rentabilitasnya adalah 35,2 %, hal ini berarti setiap Rp 1,00 total aktiva yang ada mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,352,-. Pada tahun 2005 tingkat rentabilitasnya adalah 40,1 %, hal ini berarti setiap Rp 1,00 total aktiva yang ada mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,401,-.

Besarnya rasio-rasio tersebut menunjukkan kemampuan manajemen koperasi yang bersangkutan dalam memperoleh laba secara keseluruhan. Semakin besar RE yang dimiliki oleh Koperasi PWRI berarti semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh koperasi tersebut serta semakin baik pula posisi koperasi tersebut dari segi penggunaan asset.

3. Perhitungan Perputaran Modal Kerja ( Working Capital Turn Over)

Untuk menghitung Perputaran Modal Kerja digunakan rumus sebagai berikut :

PMK = Kerja Modal Setahun Selama Diberikan Yang Kredit

Modal Kerja = Harta Lancar-Utang Lancar

Berikut ini adalah tabel perhitungan Perputaran Modal Kerja dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 :

Tabel V.3

Perputaran Modal Kerja (PMK) selama tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 Tahun Kredit Yang

Diberikan Setahun (dalam ribuan rupiah) Harta Lancar (dalam ribuan rupiah) Utang Lancar (dalam ribuan rupiah) Modal Kerja (dalam ribuan rupiah) PMK (kali) 2001 75.400.000 25.176.165 705.000 24.471.165 3,08 2002 87.085.000 31.427.966 906.000 30.521.966 2,85 2003 96.450.000 34.133.048 1.968.000 32.165.048 2,99 2004 118.050.000 45.827.394 4.928.000 40.899.394 2,89 2005 141.900.000 61.863.140 6.592.000 55.271.140 2,57

Dari analisis data yang telah dilakukan diatas, Koperasi PWRI menunjukkan tingkat perputaran modal kerja dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 adalah 3,08 X ; 2,85 X ; 2,99 X ; 2,89 X ; 2,57 X.

Pada tahun 2001 tingkat perputaran modal kerjanya adalah 3,08 X. Hal ini berarti dana yang tertanam dalam modal kerja berputar sebesar 3,08 X dalam tahun tersebut. Dengan demikian modal kerja yang digunakan untuk operasi koperasi pada tahun 2001 akan kembali ke dalam aktiva lancar koperasi dalam 118 hari.

Pada tahun 2002 tingkat perputaran modal kerjanya adalah 2,85 X. Hal ini berarti dana yang tertanam dalam modal kerja berputar sebesar 2,85 X dalam tahun tersebut. Dengan demikian modal kerja yang digunakan untuk operasi koperasi pada tahun 2002 akan kembali ke dalam aktiva lancar koperasi dalam 128 hari.

Pada tahun 2003 tingkat perputaran modal kerjanya adalah 2,99 X. Hal ini berarti dana yang tertanam dalam modal kerja berputar sebesar 2,99 X dalam tahun tersebut. Dengan demikian modal kerja yang digunakan untuk operasi koperasi pada tahun 2003 akan kembali ke dalam aktiva lancar koperasi dalam 122 hari.

Pada tahun 2004 tingkat perputaran modal kerjanya adalah 2,89 X. Hal ini berarti dana yang tertanam dalam modal kerja berputar sebesar 2,89 X dalam tahun tersebut. Dengan demikian modal kerja yang digunakan untuk operasi koperasi pada tahun 2004 akan kembali ke dalam aktiva lancar koperasi dalam 126 hari.

Pada tahun 2005 tingkat perputaran modal kerjanya adalah 2,57 X. Hal ini berarti dana yang tertanam dalam modal kerja berputar sebesar 2,57 X

dalam tahun tersebut. Dengan demikian modal kerja yang digunakan untuk operasi koperasi pada tahun 2005 akan kembali ke dalam aktiva lancar koperasi dalam 142 hari.

Dokumen terkait