4 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Perhitungan Pairwise Comparison α cut fuzzy (α = 0,5)
Dengan meningkatkan tingkat kepercayaan α, bilangan fuzzy triangular dapat dikarakteristikkan dengan persamaan :
∀� ∈[0,1] ��∝= �∝,�∝ = [(� − �) ∝+� ,−(� − �) ∝+�)] (5) Penentuan batas atas dan batas bawah bilangan fuzzy kemudian ditetapkan berdasarkan nilai α – cut dengan menggunakan persamaan berikut, yaitu :
1�� = [1 , 3−2�], 1��−1 = � 1 3−2�, 1� (6) TUJUAN K1 K2 K3 K1 1 3� 1� K2 3�−1 1 1�−1 K3 1�−1 1� 1
3��= [1 + 2� , 5−2�], 3��−1 = � 1 5−2�, 1 1+2�� (7) 5��= [3 + 2� , 7−2�], 5��−1 =� 1 7−2�, 1 3+2�� (8) 7��= [5 + 2� , 9−2�], 7��−1=� 1 9−2�, 1 5+2�� (9) 9��= [7 + 2� , 11−2�], 9��−1=�11−2�1 ,7+2�1 � (10)
Pada penelitian ini nilai α = 0,5, yang berarti bahwa para pakar mempunyai tingkat kepercayaan rata-rata pada saat penilaian untuk membuat matriks perbandingan berpasangan. Matriks hasil perbandingan α fuzzy pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 14 hingga Tabel 17.
Tabel 14. Matriks perbandingan berpasangan α-cut fuzzy pada kriteria 1 sampai kriteria 3
TUJUAN K1 K2 K3
K1 1 [1,2] [1,2]
K2 [1/2,1] 1 [1/2,1]
K3 [1/2,1] [1,2] 1
Tabel 15.Matriks perbandingan berpasangan α-cut fuzzy pada atribut 1 dan atribut 2
K1 A1 A2
A1 1 [2,4]
A2 [1/4,1/2] 1
Tabel 16.Matriks perbandingan berpasangan α-cut fuzzy pada atribut 3 sampai atribut 8 K2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A3 1 [1/4,1/2] [1/10,1/8] [1/2,1] [1/2,1] [1/4,1/2] A4 [2,4] 1 [1/6,1/4] 3 2 2 A5 [8,10] [4,6] 1 [8,10] 7 7 A6 [1,2] [1/4,1/2] [1/10,1/8] 1 [1/2,1] [1/2,1] A7 [1,2] [1/2,1] [1/8,1/6] [1,2] 1 [1/2,1] A8 [2,4] [1/2,1] [1/8,1/6] [1,2] [1,2] 1
Tabel 17.Matriks perbandingan berpasangan α-cut fuzzy pada atribut 9 sampai atribut 12
K3 A9 A10 A11 A12
A9 1 [1/6,1/4] [1/6,1/4] [1/2,1]
A10 [4,6] 1 [1,2] [2,4]
A11 [4,6] [1/2,1] 1 [2,4]
A12 [1,2] [1/4,1/2] [1/4,1/2] 1
4. Perhitungan Eigen Value dengan ω (index optimisme) = 0,5 dan bobot prioritas Rumus perhitungan euigen value :
����� =������� + (1− �)������ ,∀� ∈[0,1] (11) Menurut Nepal, 2010 penentuan bobot prioritas disederhanakan dengan persamaan : �� = ∑ �∑ ��� ��� � �=1 � � �=1 � (12) Hasil dari perhitungan bobot prioritas dari kriteria dan perbandingan atribut pada setiap elemen dapat dilihat pada Tabel 18, 19, 20 dan Tabel 21 ditunjukkan pada nilai x :
Tabel 18. Pembobotan Kriteria
TUJUAN K1 K2 K3 x
K1 1,000 3,000 1,500 0,412
K2 0,375 1,000 0,750 0,260
K3 0,750 1,500 1,000 0,328
λ = 3,135 CI = 0,068 CR =0,1
Tabel 19. Pembobotan atribut pada K1
K1 A1 A2 x
A1 1,000 0,375 0,831
A2 3,000 1,000 0,169
λ = 2,020 CI = 0,020 CR = 0
Tabel 20. Pembobotan atribut pada K3
K3 A9 A10 A11 A12 x
A9 1,000 0,208 0,208 0,750 0,083
A10 5,000 1,000 1,500 3,000 0,426
A11 5,000 0,750 1,000 3,000 0,358
A12 1,500 0,375 0,375 1,000 0,133
Tabel 21. Pembobotan atribut pada K2 K2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 x A3 1,000 0,375 0,113 0,750 0,750 0,375 0,050 A4 3,000 1,000 0,208 3,000 1,500 1,500 0,138 A5 9,000 5,000 1,000 9,000 7,000 7,000 0,562 A6 1,500 0,375 0,113 1,000 0,750 0,750 0,063 A7 1,500 0,750 0,146 1,500 1,000 0,750 0,082 A8 3,000 0,750 0,146 1,500 1,500 1,000 0,105 λ = 5,935 CI = -0,013 CR = -0,01
5. Perhitungan nilai eigen max dilakukan dengan menggunakan rumus berikut : ���� = ∑ ∑ ��� x�� � �=� �� � �=� ...(13) 6. Normalisasi pada perbandingan berpasangan dan penghitungan bobot
prioritas dilakukan dalam penghitungan vektor eigen. Untuk mengendalikam hasil dari metode ini, dilakukan penghitungan rasio konsistensi untuk setiap matriks dan seluruh hierarki. Pengukuran indeks konsistensi dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut :
��= ����−�
�−1 ...(14) Dengan :
CI = Indeks Konsistensi
λ max = vektor konsistensi
N = jumlah alternatif
Rasio konsistensi digunakan untuk mengestimasikan perbandingan berpasangan secara langsung. Rasio konsistensi dihitung dengan menggunakan persamaan :
�� = ��
�� ...(15)
Dengan :
CR = rasio konsistensi
RI = indeks rata-rata bobot yang dibangkitkan secara acak Nilai index konsistensi acak (RI) berdasarkan ukuran matriks (Saaty, 1980) yang digunakan dalam perhitungan ditunjukkan pada Tabel 22 sebagai berikut :
Tabel 22. Nilai indeks konsistensi
Hasil dari perhitungan total bobot alternatif suara pelanggan ditunjukkan pada Tabel 23. Pada perbandingan berpasangan AHP dalam penelitian ini, fuzzy triangular digunakan untuk meningkatkan skala dalam metode Saaty. Sebaran angka dalam perbandingan berpasangan merupakan perkiraan dari nilai tunggal. Dalam perhitungan perbandingan berpasangan, nilai aij mempengaruhi nilai tunggal dalam matriks dengan menyesuaikan nilai index optimisme (λ). Indeks optimisme menunjukkan derajat optimisme yang dapat ditentukan oleh tim desain. Hasil perbandingan berpasangan nilai λ max.
Tabel 23. Hasil akhir perhitungan bobot prioritas Cr
Tujuan Kriteria Bobot
Kriteria Atribut Bobot Atribut Bobot Keseluruhan Atribut Customer Satisfaction CR1 0,412 A1 0,831 0,342 A2 0,169 0,070 1,000 0,412 CR2 0,260 A3 0,050 0,013 A4 0,138 0,036 A5 0,562 0,146 A6 0,063 0,016 A7 0,082 0,021 A8 0,105 0,027 1,000 0,260 CR3 0,328 A9 0,083 0,027 A10 0,426 0,139 A11 0,358 0,117 A12 0,133 0,044 1,000 0,328
Menurut Saaty (1980) dan Kusrini (2007), penilaian perbandingan dikatakan konsisten jika CR tidak lebih dari 0,10. Konsistensi sampai batas
Ukuran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
tertentu dalam menetapkan prioritas adalah perlu untuk memperoleh hasil-hasil yang sahih dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui suatu rasio konsistensi. Nilai rasio konsistensi harus 10 % atau kurang. Jika lebih dari 10 % penilaiannya masih acak dan perlu diperbaiki (Marimin, et al 2013). Dalam penelitian ini nilai CR dari perbandingan berpasangan antar setiap atribut dalam kriteria bernilai <0,1 sehingga penilaian pebandingan atribut kebutuhan pelanggan sudah konsisten dan tidak memerlukan revisi penilaian.
Hasil dari analisis fuzzy AHP menunjukkan bahwa kriteria kebutuhan pelanggan yang paling utama dalam mekanisme produksi minyak goreng kemasan sederhana adalah atribut harga dengan bobot sebesar 0,342 yang menunjukkan bahwa pelanggan membutuhkan harga minyak goreng kemasan yang tidak jauh lebih mahal dari minyak goreng curah. Atribut kebutuhan pelanggan yang perlu diperhatikan lainnya adalah kualitas minyak goreng yang tidak berbau dan ukuran kemasan yang tersedia dalam berbagai ukuran. dengan bobot kepentingan sebesar 0,146 dan 0, 117. Penentuan tingkat kepentingan kebutuhan pelanggan adalah hal yang kritis dan merupakan proses paling penting dalam QFD karena hal ini sangat berdampak besar terhadap penentuan nilai karakteristik teknis untuk ditentukan pada tahap yang lebih luas (Kwong, 2002). Bobot atribut kebutuhan pelanggan nantinya digunakan dalam perhitungan dengan kebutuhan teknis pada rumah kualitas dalam QFD. Pendekatan fuzzy AHP digunakan untuk memperbaiki ketidakjelasan dan ketidakpastian yang muncul dalam memutuskan tingkat kepentingan kebutuhan pelanggan pada sistem konversi minyak goreng curah ke minyak goreng dalam kemasan sederhana.
Kepentingan dan kepuasan konsumen merupakan prioritas produsen untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Pada penelitian ini, tingkat kepentingan produk minyak goreng kemasan sederhana yang utama adalah atribut harga dengan bobot nilai sebesar 0,342.
Matriks Hubungan Kebutuhan Konsumen dengan Karakteristik Teknis
Matriks hubungan kebutuhan konsumen dengan karakteristik teknis dimaksudkan untuk mengetahui hubungan keeratan masing-masing karakteristik teknis dalam memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen.
Pemberian nilai hubungan pada penelitian ini didasarkan atas data kualitatif yang diperoleh dengan cara wawancara, melakukan observasi, serta pendapat dari peneliti dan produsen minyak goreng kemasan dalam tim QFD. Hasil Matriks Hubungan kebutuhan konsumen dan dengan karakteristik teknis terlihat pada (Lampiran 1)
Korelasi Teknis
Korelasi teknis menunjukkan interaksi antara karakteristik teknis. Masing- masing karakteristik dibandingakn satu dengan yang lainnya. Korelasi teknis merupakan matrik yang menyerupai atap. Matriks ini digunakan untuk membantu tim QFD dalam menentukan disain yang mengalami bottleneck dan menentukan kunci komunikasi diantara para disainer selain itu juga menunjukkan korelasi antara persyaratan teknis yang satu dengan persyaratan-persyaratan teknis lain (Arman, 2006). Simbol untuk korelasi teknis adalah sebagai berikut :
++ : korelasi positif dan kuat + : korelasi positif
- : korelasi negatif
-- : korelasi negatif dan kuat Kosong : tidak ada korelasi
Hasil matriks korelasi teknis yang menunjukkan adanya interaksi antar karakteristik teknis satu sama lainnya seperti yang terlihat pada (Lampiran 5). Karakteristik teknis yang terdiri dari pengetahuan tenaga kerja, kemampuan tenaga kerja, teknologi pengolahan, SOP (Standard Operational Procedure), bahan baku minyak goreng memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap karakteristik teknis lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan nilai target dalam QFD dimana karakteristik teknis ini termasuk didalam 10 karakteristik teknis tertinggi.
Nilai Target
Nilai target merupakan keluaran (output) fisik dari QFD berupa rangkaian seluruh proses dalam mendapatkan informasi, struktur, dan tingkatan pengembangan desain produk yang diinginkan.
Pengisian ruang atau kolom nilai target dilakukan dengan cara mengalikan tingkat kepentingan konsumen dengan nilai yang terdapat pada matriks hubungan kebutuhan konsumen dengan nilai yang terdapat pada matriks hubungan kebutuhan konsumen dengan karakteristik teknis kemudian dijumlahkan untuk setiap kolomnya.
Contoh perhitungan nilai target adalah sebagai berikut :
Nilai Target = (Tingkat Kepentingan Pelanggan) x (Nilai hubungan kebutuhan pelanggan dengan karakteristik teknis)
Berdasarkan hasil pengolahan data QFD dari tiga sumber pakar dari PT. Astra Agro Lestari, PT. Wilmar Group, dan Kementrian Perdagangan dan Perindustrian, perhitungan nilai target dapat dilihat pada (Lampiran 2,3, dan 4). Berdasarkan nilai target terbesar, maka ditentukan 10 karakteristik teknis yang menjadi prioritas atau fokus utama dalam merencanakan desain produk minyak goreng kemasan sederhana. Urutan 10 karakteristik teknis dari ketiga sumber dapat dilihat pada Tabel 24, Tabel 25 dan Tabel 26.
Perancangan atau pengembangan produk dibutuhkan oleh produsen dalam rangka mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar dengan cara mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan konsumen akan manfaat produk. Perancangan yang baik akan menghasilkan produk unggulan yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan konsumen. House of Quality atau rumah kualitas merupakan awal dari proses pengembangan produk baru. Rumah kualitas pada penelitian ini dapat dilihat pada (Lampiran 6).
Tabel 24. Sepuluh karakteristik teknis utama berdasarkan nilai target terbesar di PT. Astra Agro Lestari
No Aspek Teknis Karakteristik Teknis
Nilai Target
1 Peralatan Teknologi Pengolahan 6,02
2
Metode
Pengolahan Manajemen Mutu (Brand) 4,34
3
Metode Pengolahan
Fraksinasi dengan nilai IV (Iodine Value)
tinggi menggunakan cooling system 3,95
4
Metode
Pengolahan Inovasi pada proses refinaring 3,94
5 SDM Skill SDM 3,67
6 Peralatan Mesin Fraksinasi Dengan Cooling System 3,50
7 SDM Pengetahuan 3,43
8
Metode Pengolahan
Penerapan Standard Operational Procedure
(SOP) yang menjamin keseragaman proses 2,80
9 Material Bahan Baku Minyak 2,79
10
Metode Pengolahan
Penentuan Waktu yang tepat pada proses
Refinering 1,96
Tabel 25.Sepuluh karakteristik teknis utama berdasarkan nilai target terbesar di PT. Wilmar Group
No Aspek Teknis Karakteristik Teknis
Nilai Target
1 Material Bahan Baku Minyak 5,20
2 Material Bahan Baku Kemasan 5,20
3
Metode
Pengolahan Manajemen Mutu 4,68
4 Material Ketersediaan Vitamin A 4,13
5
Metode
Pengolahan Fortifikasi Vitamin A 3,58
6 SDM Pengetahuan SDM 2,67
7
Metode
Pengolahan Inovasi Proses Refineri 1,52
8
Metode
Pengolahan Inovasi Proses fraksinasi 1,52
9
Metode
Pengolahan Penerapan SOP 1,50
Tabel 26.Sepuluh karakteristik teknis utama berdasarkan nilai target terbesar dari Kementrian Perdagangan
No Aspek Teknis Karakteristik Teknis Nilai
Target
1 Peralatan Teknologi Pengolahan 7,51
2 Material Bahan Baku Minyak 5,61
3 Peralatan Sarana dan Prasarana yang mendukung
proses produksi 4,99
4 Material Bahan baku kemasan 4,8
5 Metode Pengolahan Manajemen Mutu (brand) 4,77 6 Metode Pengolahan Fortifikasi Vitamin A 3,94
7 Material Ketersediaan Vitamin A 3,83
8 SDM Pengetahuan (Pemahaman proses kerja dan
standarisasi produk minyak goreng kemasan) 3,57
9 SDM Kemampuan 3,23
10 Metode Pengolahan Penerapan Standard Operational Procedure
(SOP) yang menjamin keseragaman proses 2,5 Hasil dari penelitia, atribut harga merupakan atribut nilai kebutuhan pelanggan yang paling diinginkan. Sementara untuk memproduksi minyak goreng sesuai dengan standar SNI salah satu tantangannya adalah kebutuhan fortifikasi Vitamin A. Saat ini vitamin A masih mengimpor karena ketersediaannya belum ada di tanah air dan harga yang cukup mahal. Dalam analisis sitem produksi pembuatan minyak goreng kemasan sederhana, teknologi pengolahan menjadi karakteristik teknis dengan nilai target tertinggi karena teknologi pengolahan memberikan pengaruh terhadap besarnya biaya pengolahan yang diperlukan dan juga kualitas akhir produk minyak goreng. Kualitas minyak minyak goreng sangat ditentukan oleh proses pemurnian yang diterapka. Apakah bersifat jenuh ataukah bersifat tidak jenuh. Minyak goreng berarti minyak yang dipakai untuk menggoreng. Proses menggoreng berarti berhadapan dengan suhu panas yang tinggi. Dengan demikian minyak goreng dikatakan berkualitas apabila mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap panas. Kualitas minyak goreng mengikuti SNI minyak goreng nomor 7709 tahun 2012. Spesifikasi kemasan minyak goreng sederhana akan mengikuti spesifikasi minyak goreng MINYAKKITA yang sudah ada dengan bentuk kemasan bantal (pillow pack) dan bahan plastik polyethylene (Mono Layer). Menurut PERMENDAG Nomor 2 tahun 2009, minyak goreng kemasan sederhana dengan bentuk pillow pack yang berukuran ¼ L, ½ L dan 1 L. Produsen dapat menambahkan logo atau simbol perusahaan di kemasan minyak goreng adalah kemasan yang harus tara pangan.
Implikasi Penelitian Implikasi penelitian ini bagi industri minyak goreng :
1. Perkembangan penelitian di bidang mekanisme produksi memberikan sumbangan manfaat dalam bentuk konfirmasi, modifikasi, dan melengkapi teori-teori yang ada.
2. Menjadi salah satu impact assesment pada program konversi minyak goreng curah ke minyak goreng dalam kemasan sederhana.
3. Menjadi bahan masukan bagi produsen minyak goreng dan pemerintah dalam menjalankan mekanisme produksi minyak goreng curah ke minyak goreng dalam kemasan sederhana.