• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERIKANAN DAN KEHUTANAN (BP3K) WILAYAH CIBINONG

Letak Geografis BP3K Wilayah Cibinong

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong terletak di daerah Cikaret, Kecamatan Cibinong. Jarak BP3K Wilayah Cibinong dari Kantor Pemerintah Daerah Cibinong sekitar 15 kilometer dan dapat ditempuh kira-kira setengah jam. Sementara itu, wilayah kerja BP3K Cibinong meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Cibinong, Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Tajur Halang, Kecamatan Bojong Gede, dan Kecamatan Babakan Madang. Batas wilayah kerja BP3K Wilayah Cibinong adalah:

1. Utara berbatasan dengan Kota Depok

2. Selatan berbatasan dengan Kota Bogor/Megamendung 3. Barat berbatasan dengan Kecamatan Kemang/Semplak

4. Timur berbatasan dengan Kecamatan Citeureup, Cibadak dan Gunung Putri

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong memiliki luas wilayah kerja 12 597.38 hektar. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Luas wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong No Kecamatan Pertanian (%) Peternakan (%) Perikanan (%) Kehutanan (%) Jumlah (%) 1. Cibinong 7.5 3.5 51.8 1.7 7.2 2. Sukaraja 15.5 3.5 16.0 1.3 11.7 3. Babakan Madang 41.8 55.6 4.6 93.6 54.3 4. Bojong Gede 15.5 16.4 12.8 1.7 11.6 5. Tajur Halang 19.8 21.1 14.7 1.8 15.1 Jumlah 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0

Sumber: BP3K Wilayah Cibinong (diolah)

Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat empat subsektor pertanian yang dijadikan sebagai komoditas masing-masing wilayah kerja di lima kecamatan tersebut. Dapat dilihat bahwa komoditas terbanyak di setiap kecamatan berasal dari subsektor pertanian, sementara itu komoditas paling sedikit di setiap kecamatan berasal dari subsektor peternakan. Menurut informasi yang didapatkan, terdapat komoditas unggulan dari setiap kecamatan antara lain yaitu: Kecamatan Cibinong memiliki komoditas unggulan dibidang perikanan yaitu komoditas ikan lele dan ikan hias. Dapat dilihat bahwa luas lahan perikanan di Kecamatan

22

Cibinong paling besar yaitu 51.8 persen dari keseluruhan jumlah luas lahan perikanan di lima kecamatan. Kecamatan Sukaraja memiliki komoditas unggulan dibidang pertanian dan peternakan yaitu ubi kayu, pisang, jagung manis, sapi, kambing dan pembibitan tanaman hutan. Kecamatan Babakan Madang memiliki komoditas unggulan dibidang pertanian, peternakan dan kehutanan yaitu padi gogo, ubi kayu, kopi, dan pembibitan tanaman hutan. Kecamatan Bojong Gede memiliki komoditas unggulan dibidang pertanian yaitu jambu biji, belimbing, sayuran, dan tanaman hias. Kecamatan Tajur Halang memiliki komoditas unggulan dibidang pertanian dan kehutanan yaitu jambu biji, belimbing, sayuran, tanaman hias, dan pembibitan tanaman hutan sehingga luas lahan kerja BP3K juga sesuai dengan komoditas yang paling unggul di setiap kecamatan.

Kantor BP3K Wilayah Cibinong memiliki lahan seluas 8 910 m2 dengan bangunan kantor BP3K seluas 427,5 m2. Bangunan kantor BP3K Wilayah Cibinong terdiri atas 10 ruangan, antara lain: satu ruang perpustakaan, satu ruang kepala, satu ruang fungsional, satu rang aula, satu ruang peragaan, satu ruang mushola, satu ruang dapur, satu ruang pengolahan data, dua ruang toilet. Selain itu, terdapat ruang dinas yang memiliki satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang keluarga dan dapur. Lahan kantor BP3K Wilayah Cibinong diperuntukan sebagai lahan percontohan dan tempat pengelolaan pelaksanaan penyuluhan bagi masyarakat tani di wilayah Cibinong. Lahan Percontohan meliputi lahan sawah seluas 2000 m2, lahan darat seluas 4682,5 m2 dan kolam ikan seluas 1500 m2. Sisanya sebesar 300 m2 digunakan untuk kantor Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Cibinong yang berasal dari Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut). Baik BP3K Wilayah Cibinong dengan UPT Cibinong berkoordinasi dalam informasi pertanian.

Profil BP3K Wilayah Cibinong

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong didirikan pada 6 April 2009 di Kelurahan Harapan Jaya. BP3K Wilayah Cibinong awalnya lebih dikenal dengan nama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), setelah terbentuknya Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) atau yang lebih dikenal saat dengan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) maka dibentuk surat keputusan mengenai terbentuknya Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong. Sebelumnya BPP berlokasi di Kelurahan Ciriung Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor, namun setelah dibentuknya BP3K Wilayah Cibinong pada tahun 2009, lokasi kantor BP3K berpindah lokasi di Cikaret Cibinong. Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong merupakan salah satu BP3K yang ada di Kabupaten Bogor. Secara keseluruhan, jumlah BP3K yang tersebar di Kabupaten Bogor adalah dua belas BP3K. Masing-masing BP3K memiliki aparatur yang bertugas untuk menjalankan tugas dan program kerja yang telah direncanakan.

Menurut informasi yang diberikan oleh admin cyber extension yang bertugas di Badan Pelaksana Penyuluhan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) terdapat beberapa BP3K di Kabupaten yang penyuluhnya aktif menggunakan cyber extension, antara lain yaitu BP3K Leuwiliang, BP3K

23 Cibungbulang, BP3K Cariu, BP3K Jonggol, dan BP3K Cibinong. Berdasarkan kriteria dan jumlah populasi sampel dalam penelitian ini, Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong memiliki aparatur pekerja yang dapat mendukung kegiatan penyuluhan sebanyak 44 orang yang terdiri dari penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 12 orang, penyuluh POPT sebanyak 3 orang, Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sebanyak 10 orang, Penyuluh Pertanian Swadaya sebanyak 19 orang.

Tabel 3 Jumlah penyuluh yang bertugas di BP3K Wilayah Cibinong tahun 2013

No Jenis penyuluh Jumlah

(orang)

Persentase (%) 1. Penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS) 12 27.27 2. Pengendali Organisme Pengganggu

Tanaman (POPT)

3 6.82

3. Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP)

10 22.73

4. Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) 19 43.19

Total 44 100.00

Sumber: BP3K Wilayah Cibinong (diolah)

Berdasarkan Tabel 3 aparatur yang bekerja di Balai Penyuluhan Pertanian terdiri dari empat pangkat yaitu penyuluh Pegawai Negeri Sipil, Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP), Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS). Masing-masing pangkat memiliki tugas dan fungsi dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS) bertugas dan bertanggung jawab penuh untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian dalam satu BP3K yang tersedia di tiap-tiap kecamatan. Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) merupakan pegawai negeri sipil yang disalurkan langsung dari Departemen Pertanian dan bertanggung jawab secara penuh dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) merupakan tenaga bantu yang ditugaskan langsung dari pusat untuk membantu penyuluh Pegawai Negeri Sipil dalam menyebarkan informasi pertanian. Penyuluh Pertanian Swadaya bertugas sebagai mitra kerja penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk memberikan penyuluhan kepada petani sesuai dengan program kerja yang telah direncanakan sebelumnya di wilayah kerja.

Penyuluh PNS berkoordinasi dengan THL-TBPP, Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), serta Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) untuk melakukan kegiatan penyuluhan di masing-masing desa binaan. Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong membagi wilayah kerja penyuluh pertanian/penyuluh Pegawai Negeri Sipil, THL-TBPP, POPT, dan Penyuluh Pertanian Swadaya ke dalam lima kecamatan yaitu Kecamatan Cibinong yang terdiri dari 12 kelurahan, Kecamatan Sukaraja yang terdiri dari 13 desa, Kecamatan Tajur Halang yang terdiri dari 7 desa, Kecamatan Bojong Gede yang terdiri dari 9 desa, dan Kecamatan Babakan Madang yang terdiri dari 9 desa.

24

Masing-masing desa dibina oleh seluruh penyuluh yang dibagi menurut keahlian penyuluh pada subsektor pertanian yang unggul di setiap desa.

Visi Misi dan Fungsi BP3K Wilayah Cibinong

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong memiliki visi dan misi dalam menjalankan program yang telah direncanakan. Visi Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong yaitu terjalinnya kemitraan pelaku utama dan pelaku usaha. Misi Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong ada tiga, antara lain yaitu: meningkatkan kualitas dan peran penyuluh dalam pemberdayaan masyarakat, meningkatkan produktivitas dan kelembagaan petani, dan menerapkan metodologi penyuluhan sesuai kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha. Selain itu, Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan memiliki motto dalam menjalankan program kerjanya, antara lain yaitu tontonan yang berarti pelaku utama dan pelaku usaha dapat melihat percontohan teknologi produksi pertanian, perikanan dan kehutanan. Tuntunan

yang berarti bahwa pelaku utama dan pelaku usaha dapat belajar dan berlatih di BP3K Wilayah Cibinong. Tunjangan yang berarti bahwa BP3K Wilayah Cibinong harus meningkatkan kualitas pelaku utama, pelaku usaha dan penyuluh. Hal ini dapat diberikan melalui penyediaan fasilitas untuk kegiatan pelatihan program maupun kunjungan kelompok tani.

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong juga memiliki fungsi yaitu menyusun program penyuluhan untuk tingkat kecamatan, melaksanakan penyuluhan berdasarkan program kerja yang disusun setiap tahunnya, menyediakan dan menyebarkan informasi teknologi, sarana dan produksi, pembiayaan dan pasar melalui berbagai sumber yang tersedia, memfasilitasi pengembangan kelembagaan dan kemitraan pelaku utama dan pelaku usaha, memfasilitasi peningkatan kapasitas penyuluh PNS, penyuluh swasta dan penyuluh swadaya, penyuluh swasta difasilitasi melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan, dan melaksanaan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usaha tani bagi pelaku utama dan pelaku usaha.

Kegiatan dan Program BP3K Wilayah Cibinong

BP3K Wilayah Cibinong memiliki program kerja dan kegiatan rutin yang dilakukan secara berkala. yaitu:

1. Laku (Latihan dan Kunjungan) yang dilaksanakan setiap bulan. Latihan merupakan kegiatan pelatihan bagi penyuluh swadaya untuk dikembangkan kemampuannya dalam memberikan penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha, sedangkan kunjungan dilakukan oleh penyuluh ke kelompok tani untuk mengetahu perkembangan produksi komoditas maupun masalah yang sedang dihadapi. Kunjungan ini dilakukan oleh penyuluh pada masing-masing desa binaannya.

25 2. Demplot yang merupakan kegiatan rutin bagi penyuluh untuk memberikan contoh hasil dari pembelajaran yang diberikan melalui penyuluhan. Demplot yang dibuat oleh penyuluh umumnya disesuaikan dengan potensi alam yang ada di wilayah binaan.

3. Kabupaten terap tanaman padi. Kabupaten terap tanaman padi merupakan kegiatan yang dilatarbelakangi program yang dititipkan dari kabupaten. 4. Kursus tani. Kursus tani dilakukan di kantor BP3K Wilayah Cibinong

dengan tujuan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia Pertanian dan kelembagaan petani. Kursus tani dilakukan pada saat petani mengeluhkan masalah yang dirasakan mengenai produksi komoditasnya. 5. Pertemuan rutin dua mingguan. Pertemuan ini rutin dilakukan setiap dua

minggu sekali. Hal yang dibahas yaitu evaluasi dan kendala yang dirasakan selama dua minggu tersebut, selain itu juga berbagi informasi mengenai temuan baru serta diskusi antar penyuluh. Umumnya pertemuan ini juga dihadiri oleh masing-masing kepala gabungan kelompok tani.

Profil Website Cyber Extension

Cyber extension merupakan sistem informasi penyuluhan pertanian melalui media internet yang mendukung penyediaan materi dan informasi penyuluhan bagi penyuluh sebagai bahan untuk memfasilitasi proses pembelajaran petani dan kelompok tani agar usaha taninya menjadi lebih produktif dan efisien. Cyber extension dibentuk pada tahun 2009 oleh Kementrian Pertanian.

Unit pelaksana cyber extension adalah:

1. Menu cyber extension dikelola oleh admin pusat penyuluhan pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Menu ini meliputi Home; Kebijakan Penyuluhan; Materi Penyuluhan; Database Penyuluhan; Gallery Event; Audio Video; Forum Rembug; Gerbang Nasional. 2. Menu cyber extension yang dikelola oleh admin daerah (Provinsi,

Kabupaten/Kota) meliputi Materi Spesifik Lokalita dan Gerbang Daerah. Menu yang disajikan pada websitecyber extension terdiri dari:

1. New flash; merupakan informasi singkat yang ditampilkan dalam bentuk running text. Informasi ini berisi rencana, jadwal, dan kegiatan yang berkaitan dengan penyuluhan baik yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan.

2. Main menu; berisi informasi yang terdiri dari menu HOME (profil organisiasi Badan Penyuluhan), Kebijakan Penyuluhan (Peraturan dan Kebijakan yang berkaitan dengan penyuluhan), Materi Penyuluhan (Materi penyuluhan sub sektor Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan, Sumber Daya Manusia, Perkebunan dan PLA), dan Materi Spesifik Lokalita.

3. Content, berisi informasi mengenai materi penyuluhan (materi pertanian subsektor), Kebijakan Sektoral (berisi kebijakan sektor pertanian), Gerbang Nasional (berisi berita kegiatan penyuluhan nasional) dan Gerbang Daerah (berisi kegiatan penyuluhan daerah)

4. Menu kiri; menampilkan database penyuluhan (kelembagaan, ketenagaan, dan sarana prasarana) dan link yang terkait antara lain SIMLUH, BMKG, FEATI, dan SMS Center Kementrian Pertanian.

5. Menu kanan; berisi data dan informasi penyuluhan untuk dipublikasikan kepada pengguna (user), yaitu:

26

a. Search; digunakan sebagai alat bantu bagi user untuk mencari data dan informasi dalam websitecyber extension

b. Gallery Event; berisi dokumentasi kegiatan penyuluhan dalam bentuk foto

c. Audio; berisikan materi penyuluhan dalam bentuk audio (Jingle Penyuluh Pertanian, Siaran Pedesaan).

d. Video; berisikan cuplikan materi penyuluhan dalam bentuk video (Iklan layanan masyarakat, saung tani dan dialog interaktif.

e. Forum Rembug; digunakan sebagai media diskusi/tanya jawab antara user/petani, stakeholder (pemangku kepentingan) dengan pengelola

27

KARAKTERISTIK PENYULUH, PERSEPSI MENGENAI

KARAKTERISTIK CYBER EXTENSION, FAKTOR FAKTOR

EKSTERNAL PENYULUH, PEMANFAATAN CYBER

EXTENSION

Karakteristik Penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong

Karakteristik penyuluh merupakan salah satu faktor internal yang dapat menjelaskan perbedaan masing-masing penyuluh dan merupakan faktor yang dapat berhubungan dengan pemanfaatan cyber extension. Karakteristik penyuluh dalam penelitian meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, pengalaman menggunakan internet, dan motivasi.

Tabel 4 Jumlah dan persentase penyuluh berdasarkan karakteristik demografi di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan

No Karakteristik penyuluh Kategori Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Usia Usia dewasa awal (19-29 tahun) 3 8.3

Usia dewasa pertengahan (30-50 tahun)

19 52.8

Usia dewasa tua (>50 tahun) 14 38.9

2. Jenis kelamin Laki-laki 26 72.2

Perempuan 10 27.8 3. Tingkat pendidikan formal Rendah (SD) 0 0.0 Menengah (SMP-SMA) 12 33.3

Tinggi (Perguruan Tinggi) 24 66.7 4. Tingkat penghasilan Rendah (< Rp 2.300.000/bulan) 5 13.9 Sedang (Rp 2.300.000-Rp 3.500. 000/bulan) 16 44.4 Tinggi (> Rp 3.500.000/bulan) 15 41.7 5. Kepemilikan media Rendah < 2 media Sedang = 2 media Tinggi > 2 media 18 8 10 50.0 22.2 27.8 6. Pengalaman menggunakan internet Baru < 8 tahun Lama ≥ 8 tahun 22 14 61.1 38.9 7. Tingkat Motivasi Rendah Sedang Tinggi 5 21 10 13.9 58.3 27.8

28 Usia

Usia merupakan salah satu karakteristik penyuluh yang dapat berhubungan dengan pemanfaatan cyber extension. Kategori kelompok usia penyuluh dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga yang mengacu berdasarkan Havigurst dalam

Mugniesyah (2006), yaitu usia dewasa awal (≤ 29 tahun), usia dewasa

pertengahan (30-50 tahun) dan usia dewasa tua (>50 tahun). Sebanyak 8.3 persen penyuluh termasuk dalam kategori usia muda, sebanyak 52.8 persen penyuluh termasuk dalam kategori usia menengah, dan sebanyak 38.9 persen penyuluh termasuk dalam kategori usia tua. Tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas penyuluh yang bekerja sebagai penyuluh berada pada rentang usia dewasa menengah. Pada usia menengah penyuluh termasuk ke dalam usia produktif dan masih memiliki semangat yang tinggi dalam melaksanakan penyuluhan kepada petani. Penyuluh pada kategori usia tua persentasenya lebih sedikit dibandingkan dengan penyuluh usia dewasa pertengahan. Umumnya penyuluh usia tua masih ikut serta dalam kegiatan penyuluhan dikarenakan lama bekerja mereka yang sudah lebih dari 30 tahun sehingga pengalaman mereka dapat diberikan kepada penyuluh dan petani sebagai pembelajaran. Sementara penyuluh yang termasuk ke dalam kategori usia muda masih terbilang sangat sedikit karena mereka merupakan penyuluh yang baru tergabung ke dalam Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah Cibinong.

Jenis Kelamin

Tabel 4 menunjukkan bahwa sebanyak 72.2 persen penyuluh berjenis kelamin laki-laki dan 27.8 persen penyuluh berjenis kelamin perempuan. Mayoritas penyuluh merupakan jenis kelamin laki-laki. Hal ini disebabkan dalam pekerjaan sebagai penyuluh lebih banyak diminati oleh laki-laki, tugas yang digeluti penyuluh lebih banyak dalam kegiatan lapangan sehingga persentase penyuluh perempuan lebih kecil dan laki-laki yang lebih dominan dalam menempati pekerjaan sebagai penyuluh. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) beberapa agen penyuluh pria cukup cakap dalam memberi penyuluhan mengenai soal perekonomian setempat, dan mungkin sulit bagi mereka untuk mendapatkan kepercayaan yang memadai dari para perempuan. Agen penyuluh perempuan seringkali masih jarang ditemui dan tidak selalu cukup terlatih dalam bidang pertanian.

Tingkat Pendidikan Formal

Tingkat pendidikan formal dalam penelitian ini diukur berdasarkan berapa lama pendidikan terakhir yang ditempuh penyuluh. Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi tiga yaitu rendah, menengah dan tinggi. Sebanyak 66.7 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori tinggi. Sebanyak 33.3 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori menengah. Sebanyak 0.0 persen penyuluh termasuk dalam kategori rendah. Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah penyuluh yang masuk ke dalam kategori tinggi mayoritas berasal dari penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS). Rata-rata penyuluh paling rendah termasuk ke dalam kategori tingkat pendidikan menengah. Penyuluh yang termasuk ke dalam kategori menengah mayoritas berasal dari Penyuluh Swadaya. Namun, beberapa diantaranya juga terdapat Penyuluh Pegawai Negeri Sipil (PNS) lulusan SPMA. Berdasarkan hasil analisis data kualitatif, penyuluh yang tidak tamat sekolah

29 sampai dengan perguruan tinggi merupakan penyuluh swadaya yang lebih memilih untuk bekerja serta mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan sebagai penyuluh swadaya. Penyuluh yang bekerja sebagai penyuluh swadaya juga memiliki pekerjaan lainnya, yaitu sebagai guru sekolah dan pembudidaya lele. Rata-rata dari penyuluh juga sudah mengetahui dan memahami cara penggunaan teknologi informasi secara umumnya.

Tingkat Penghasilan

Tingkat penghasilan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Sebanyak 13.9 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori rendah. penyuluh yang termasuk dalam kategori rendah yaitu penyuluh yang masa jabatannya tergolong baru sebagai penyuluh Tenaga Harian Lepas (THL). Sementara itu, sebanyak 44.4 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori sedang. Penyuluh yang tergolong tingkat penghasilannya ke dalam kategori sedang merupakan penyuluh PNS dan penyuluh swadaya yang memiliki pekerjaan selain sebagai penyuluh. Sisanya yaitu sebanyak 41.7 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori penghasilan tinggi. Mayoritas penyuluh yang memiliki tingkat penghasilan tinggi merupakan penyuluh yang masa jabatannya sebagai penyuluh PNS sudah tergolong lama.

Kepemilikan Media Massa Modern

Kepemilikan media massa modern untuk memanfaatkan cyber extension

dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berdasarkan Tabel 3 sebanyak 50.0 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori rendah, sementara itu sebanyak 22.2 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori sedang, dan sisanya sebanyak 27.8 persen penyuluh yang termasuk ke dalam kategori tinggi. hampir semua penyuluh memiliki komputer. Mereka menggunakan komputer untuk menyimpan data, mengolah data, dan mengakses internet dengan menggunakan modem maupun wifi yang tersedia di rumah. Pada kategori menengah, media yang dimiliki yaitu komputer dan telepon genggam berinternet atau sering disebut smartphone. Rata-rata penyuluh yang memiliki

smartphone menggunakannya untuk mengakses internet selama berada diluar rumah karena dianggap lebih praktis. Penyuluh yang termasuk dalam kategori tinggi yaitu penyuluh yang memiliki media lebih dari dua. Mereka memiliki komputer, telepon genggam berinternet, dan laptop maupun tab. Hampir sebagian dari penyuluh dalam penelitian ini sudah dapat dikatakan memiliki media massa modern yang memadai karena secara keseluruhan penyuluh memiliki komputer yang dilengkapi dengan modem ataupun wifi.

“kalau saya de, punya smartphone bisa lebih gampang untuk

mengakses informasi karena udah disediain jaringan internetnya. Saya bisa kapan aja mencari informasi ataupun komunikasi sama penyuluh lain. Bukan cuma dari komputer yang ada di rumah atau

30

Pengalaman Menggunakan Internet

Pengalaman menggunakan internet diukur berdasarkan banyaknya tahun dalam penggunaan internet yang sudah dilewati sebelumnya. pengalaman menggunakan internet ini digolongkan ke dalam dua kategori yaitu lama dan baru berdasarkan rataan penyuluh yang diperoleh di lapangan. Tabel 4 menunjukkan sebanyak 61.1 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori baru. Sebanyak 38.9 persen penyuluh termasuk ke dalam kategori lama. Mayoritas penyuluh yang memiliki pengalaman menggunakan internet dibawah tujuh tahun tergolong baru karena umumnya mereka tergerak menggunakan internet setelah sarana yang disediakan kementrian pertanian di BP3K. Saat itu jaringan internet dan komputer disediakan pada tahun 2009. Sementara penyuluh yang memiliki pengalaman menggunakan internet yang tergolong lama merupakan penyuluh yang sebelumnya telah mempelajarinya sendiri dan berdasarkan pengalaman mereka bekerja sebelumnya.

Tingkat Motivasi

Motivasi memanfaatkan cyber extension diukur dari seberapa besar motivasi penyuluh dalam mencari informasi, membagikan materi penyuluhan melalui cyber extension, meningkatkan pengetahuan, dan memperluas jaringan komunikasi antar penyuluh, petani dan lembaga-lembaga yang terkait lainnya melalui forum rembug. Setiap penyuluh memiliki motivasi untuk memanfaatkan cyber extension. Motivasi dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tabel 4 menunjukkan sebanyak 13.9 persen penyuluh memiliki motivasi rendah. Sebanyak 58.3 persen penyuluh memiliki motivasi sedang dan sisanya sebanyak 27.8 persen penyuluh memiliki motivasi tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas motivasi penyuluh berada pada kategori sedang. Motivasi penyuluh memanfaatkan cyber extension yang termasuk sedang karena umumnya penyuluh mengakses cyber extension untuk mencari informasi baru dan materi penyuluhan. Informasi mengenai segala bentuk kebijakan dan peraturan menteri pertanian di informasikan melalui cyber extension sehingga menjadi penting untuk penyuluh mendapatkan informasi tersebut. Sementara itu untuk memperluas jaringan antar penyuluh, penyuluh lebih dominan memanfaatkan media sosial seperti facebook. Forum rembug yang disediakan cyber extension dianggap kurang efektif karena kurang interaktif. Selain itu terdapat LISA yang merupakan ruang komunikasi dan tanya jawab antar sesama penyuluh maupun antar penyuluh dengan petani dengan menggunakan telepon genggam sehingga aplikasi LISA yang paling sering digunakan untuk berkomunikasi secara interaktif.

Ikhtisar

Pembahasan diatas menunjukkan bahwa mayoritas penyuluh yang memanfaatkan cyber extension adalah penyuluh berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 72.2 persen. Pada kategori usia, persentase terbesar terdapat pada golongan usia dewasa pertengahan sebesar 52.8 persen. Kategori tingkat penghasilan, persentase terbesar terdapat pada penyuluh yang memiliki penghasilan sebesar Rp 2 300.000-Rp 3 500. 000/bulan yaitu 44.4 persen. Tingkat pendidikan penyuluh mencapai persentase tertinggi pada kategori tinggi yaitu 61.1 persen. Kepemilikan media massa modern penyuluh termasuk kategori

Dokumen terkait