BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.15. Teori Perilaku
2.15.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menurut Hendrik L.Blum, derajat kesehatan dipengaruhi 4 faktor yaitu: Faktor Lingkungan, Perilaku Masyarakat, Pelayanan Kesehatan, dan Keturunan. Faktor Lingkungan lebih berpengaruh bagi kesehatan masyarakat karena meupakan hasil dari faktor perilaku (Notoadmojo, 1996).
Perilaku manusia adalah suatu proses individu dan masyarakat pada lingkungan sebagai wujud kehidupan, atau keadaan jiwa yang meliputi, emosi, pengetahuan, fikiran, reaksi dan tindakan yang berbentuk karena berpengaruh lingkungan luar.
Perilaku individu atau masyarakat berpengaruh pada status kesehatan mereka. Adanya bermacam perilaku manusia dari positif sampai negatif. Pada perilaku yang beragam itu, ada perilaku yang menunjang kesehatan yaitu faktor penyebab masalah kesehatan (Notoadmojo, 1996).
Ada 3 cara merubah perilaku yaitu:
1. Karena Terpaksa
Cara ini individu merubah perilakunya karena berharap imbalan, atau pengakuan dari atau pengakuan dari kelompoknya dan terhindar dari hukuinan serta tetap terpelihara hubungan baik dengan menganjurkan perubahan perilaku itu.
2. Karena ingin meniru atau disamakan
Cara ini dimana individu ingin merubah perilaku karena ingin disamakan dengan orang lain.
3. Karena menyadari manfaatnya
Cara ini merupakan perubahan cukup mendasar, artinya menjadi bagian dari hidupnya, karena itu perubahan melalui cara ini umumnya lestari.(Notoadmojo,1996).
2.16 Pengaruh Perilaku Manusia bagi Kesehatan
Menurut teori Lawren Green, perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yakni: a. Predisposing factor (Faktor pemudah)
Faktor-faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap masyarakat tentang kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Untuk berperilaku kesehatan misalnya: pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil diperlukan pengetahuan dan kesadaran ibu tersebut tentang manfaat periksa hamil, baik bagi kesehatan ibu sendiri dan janinnya. Disamping itu, kadang-kadang kepercayaan, tradisi dan sistem nilai masyarakat juga dapat
boleh disuntik, karena suntikan bisa menyebabkan anak cacat. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku, maka sering disebut faktor pemudah (Soekidjo, 2003).
b. Enabling factor (Faktor pendukung)
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dan lain-lain. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung atau faktor pemungkin (Soekidjo, 2003).
c. Reinforcing factor (Faktor pendorong/penguat)
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, petugas kesehatan termasuk juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat bukannya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh yang dianggap berpengaruh di masyarakat, lebih-lebih petugas kesehatan. Disamping itu, undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Seperti perilaku periksa hamil, serta kemudahan memperoleh fasilitas periksa hamil, juga diperlukan peraturan atau perundang-undangan yang mengharuskan ibu hamil melakukan periksa hamil (Soekidjo, 2003).
Selain itu menurut Scord and Backman Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia :
1. Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia.
2. Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengklasifikasikannya ke dalam tiga komponen.:
a. Komponen Afektif
Merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis,yakni perilaku sosial dibentuk oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia.
b. Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
c. Komponen Konatif
Adalah aspek yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan dalam bertindak.
Adapun beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang yaitu Faktor genetik atau keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk kelanjutan perkembangan perilaku makhluk hidup itu. Faktor genetik berasal dari dalam diri individu (endogen), antara lain:
a. Jenis Ras
Setiap ras di dunia memiliki perilaku yang spesifik saling berbeda satu dengan yang lainnya.
Dua kelompok ras terbesar, yaitu:
1. Ras kulit putih atau ras Kaukasia.
Ciri-ciri fisik : Warna kulit putih, bermata biru, berambut pirang.
Perilaku yang dominan : Terbuka, senang akan kemajuan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
2. Ras kulit hitam atau ras Negroid.
Ciri-ciri fisik : Berkulit hitam, berambut keriting, dan bermata hitam.
Perilaku yang dominan : Keramah tamahan, suka gotong royong, tertutup, dan senang dengan upacara ritual.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku pria dan wanita dapat dilihat dari cara berpakaian dan melakukan pekerjaan sehari-hari, pria berperilaku atas dasar pertimbangan rasional atau akal, sedangkan wanita atas dasar pertimbangan emosional atau perasaan. Perilaku pada pria di sebut maskulin sedangkan perilaku wanita di sebut feminim. c. Sifat Fisik
Kalau kita amati perilaku individu berbeda-beda karena sifat fisiknya, misalnya perilaku individu yang pendek dan gemuk berbeda dengan individu yang memiliki fisik tinggi kurus.
d. Sifat Kepribadian
Salah satu pengertian kepribadian yang dikemukakan oleh Maramis (1999) adalah : “keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terus menerus terhadap hidupnya”.
e. Bakat Pembawaan
Bakat menurut Notoatmodjo (1997) yang mengutip pendapat William B. Micheel (1960) adalah : “kemampuan individu untuk melakukan sesuatu yang sedikit sekali bergantung pada latihan mengenal hal tersebut”. Bakat merupakan interaksi dari faktor genetik dan lingkungan serta bergantung pada adanya kesempatan untuk pengembangan.
f. Intelegensi
Menurut Terman intelegensi adalah : “kemampuan untuk berfikir abstrak” (Sukardi, 1997). Sedangkan Ebbieghous mendefenisikan intelegensi adalah : “kemampuan untuk membuat kombinasi” (Notoatmodjo, 1997). Dari batasan terebut dapat dikatakan bahwa intelegensi sangat berpengaruh terhadap perilaku individu. Oleh karena itu, kita kenal ada individu yang intelegen, yaitu individu yang dalam mengambil keputusan dapat bertindak tepat, cepat dan mudah. Sebaliknya bagi individu yang memiliki intelegensi rendah dalam mengambil keputusan akan bertindak lambat dalam mempengaruhi Perilaku.
2.17 Kerangka Konsep
Faktor Pemudah 1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Penghasilan 4. Pengetahuan 5. Sikap Partisipasi Pengadaan
Faktor Pendukung Jamban Keluarga
Ketersediaan Air Bersih
Faktor Pendorong Kondisi Daerah
Peran petugas Kesehatan
BAB III
METODE PENELITIAN