BAB 3 DINAMIKA PELAYANAN KESEHATAN
3.7. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan kesehatan di masyarakat (kemenkes RI). Mengapa hal ini penting dilakukan oleh semua anggota keluarga?
Beberapa manfaat yang bisa dirasakan antara lain bahwa setiap anggota keluarga akan merasa sehat dan tidak mudah sakit, anak akan menjadi sehat dan cerdas, anggota keluarga menjadi giat dalam bekerja, serta biaya pengeluaran keluarga ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan, dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. Atas dasar ituah maka PHBS menjadi penting untuk diulas.
3.7.1 Penimbangan bayi dan balita
Upaya pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita dapat dilakukan melalui kegiatan penimbangan. Untuk mengetahui apakah pertumbuhan bayi dan balita sudah sesuai dengan yang seharusnya atau tidak. Cara mudahnya adalah dengan melihat pertumbuhan berat badan bayi dan balita melalui Kartu Menuju Sehat (KMS) atau pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) yang dimiliki oleh setiap ibu hamil dan melahirkan.
Gambar 3.12. Kader menimbang balita Sumber. Dokumentasi Peneliti, Mei 2015
Bagi masyarakat yang berada di Desa Nunuk Kecamatan Pinolosian, Mereka yang memiliki anak bayi dan balita, akan mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan rutin melalui posyandu. Pelaksanaan posyandu dilaksanakan setiap awal bulan. Pelayanan yang diterima berupa penimbangan berat badan dan imunisasi. Kegiatan imunisasi diperuntukkan bagi bayi yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Posyandu di desa nunuk hanya ada 1 yaitu berada di kantor desa. Jumlah bayi dan balita yang hadir pada saat pelaksanaan posyandu tidak tentu tiap bulannya. Biasanya sekitar 40 bayi dan balita, Bahkan bisa lebih. Bayi yang datang akan di timbang terlebih dahulu untuk melihat bagaimana pertumbuhan berat badannya. Selanjutnya akan dicatat ke dalam buku KIA oleh kader yang lain.
Ada kebiasaan menarik yang terlihat di Desa nunuk terkait kunjungan ke posyandu. Bagi bayi yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap, biasanya sudah enggan untuk datang ke posyandu untuk memantau pertumbuhan berat badan anaknya. Merasa sudah sehat serta imunisasi sudah sesuai, pemberian Makanan tambahan untuk balita masih belum mampu menarik minat untuk datang ke posyandu. Idealnya adalah pelaksanaan pemantauan berat badan bayi dilakukan setiap bulan sampai usia 5 tahun.
Melihat bagaimana pelaksanaan kegiatan penimbangan di posyandu, penggunaan timbangan dacin sudah dilakukan dengan memanfaatkan kondisi yang ada. Timbangan digantungkan pada pintu melalui angin-angin yang ada diatasnya. Namun memang Lokasi yang minim memaksa pelaksanaan posyandu di kantor Desa Nunuk sedikit berdesakan. Penimbangan bayi dan balita tidak hanya dilakukan di Posyandu, bisa dilakukan di Poskesdes maupun di Puskesmas. Namun memang masyarakat Desa Nunuk lebih memilih melakukan penimbangan rutin di Posyandu. Untuk alat timbang yang digunakan, berdasarkan pengamatan peneliti terlihat cukup bersih. Selain itu
bayi dan balita, salah satu tujuannya adalah untuk melihat bagaimana status kesehatan bayi dan balita dilihat dari berat badan per umur. Bila berat badan sesuai umur tidak mencapai standar maka dikatakan bayi BGM (Bawah Garis Merah) atau gizi kurang bahkan gizi buruk. Berdasarkan informasi dari salah satu kader posyandu di Desa nunuk, untuk kasus gizi kurang di Desa Nunuk tercatat ada 4 balita. Namun, 2 diantaranya telah mendapatkan penanganan oleh puskesmas. 1 balita jarang dibawa ke posyandu, anak balita berusia 2 tahun dengan berat badan 6 Kg. 1 balita masih dalam penanganan.
Berbicara masalah posyandu, tentunya kegiatan ini bisa dikatakan sebagai miniatur dari bagaimana pelaksanaan peran serta masyarakat yang ada di Desa nunuk. Kader sebagai ujung tombak pelaksanaan posyandu memiliki peranan cukup besar dalam pelaksanaan posyandu. Dukungan dari masyarakat terhadap pelaksanaan posyandu bisa dikatakan cukup baik. Tidak hanya kelompok ibu-ibu yang terlihat pada saat pelaksanaan posyandu, tetapi bapak-bapak terlihat mengantar sang anak untuk ditimbang. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian posyandu tidak hanya datang dari kalangan ibu-ibu. Namun bapak-bapak juga memiliki perhatian lebih. Kehadiran mereka tidak lepas dari peran masjid untuk menyampaikan pengumuman posyandu.
Seperti persepsi kebanyakan bahwa, posyandu masih dianggap sebagai milik Puskesmas. Sejatinya, posyandu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Desa dan dilaksanakan oleh masyarakat Desa Nunuk. Sehingga yang terjadi adalah pelaksanaan posyandu seolah masih menjadi kepentingan Puskesmas.
3.7.2 Cuci tangan pakai sabun
Salah satu hal kecil dan sederhana, namun memberikan dampak yang luar biasa terhadap pencegahan penyakit adalah cuci tangan menggunakan sabun. Tidak mudah diterapkan kecuali melalui kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil. Sayangnya, kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan, setelah beraktifitas atau bahkan setelah buang air besar menggunakan sabun masih belum menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mongondow Desa Nunuk. Kecuali pada kondisi tertentu yang memaksa harus menggunakan sabun untuk kegiatan mencuci tangan misalnya, saat tangan dipenuhi dengan tanah karena aktifitas di kebun. Namun peneliti sempat melihat perilaku salah seorang anak berusia 4 tahun, ia mencuci tangannya dengan air di dalam timba. Sebelumnya Ia sentuhkan tangannya ke sabun cuci piring lalu mencelupkan tangannya ke dalam timba.
Pola menggunakan sabun pada saat mencuci sudah terbentuk namun masih belum sempurna. Beberapa informan yang memberikan informasi menyebutkan bahwa, pemahaman yang diberikan kepada sang anak hanya menekankan untuk mencuci tangan saja. Penggunaan sabun masih belum ditekankan.
3.7.3 Aktivitas fisik
Pagi itu, kami mencoba mengamati keadaan sekitar Desa Nunuk. Mendekati seorang yang tengah siap dengan sebilah golok di pinggangnya, serta caping dari anyaman bambu. Kamipun berbincang ringan sembari menanyakan kegiatan sehari-hari, obrolan ringan kami ditemani oleh satu bungkus rokok dan dodol durian atau dompo.
Gambar 3.13. Memanjat pohon kelapa Sumber. Dokumentasi Peneliti, Mei 2015
Kegiatan masyarakat Desa Nunuk pada malam hari banyak dihabiskan dengan duduk-duduk di depan rumahnya. Hampir setiap malam, masyarakat umumnya melakukan aktifitas yang ringan setelah mereka seharian melakukan aktifitas rutin. Melepas kepenatan dengan cara bercengkrama bersama tetangga maupun keluarga menjadi salah satu cara ampuh yang dilakukan. Aktifitas menonton tayangan televisi juga hampir setiap malam di lakukan. Beberapa acara favorit menjadi wajib untuk di tonton. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh orang tua, remaja dan anak-anakpun biasa melakukan aktivitas keseharian ini.
Bagi ibu-ibu di Desa Nunuk, kegiatan membersihkan halaman rumah menjadi kegiatan sehari-hari. Kegiatan rutin yang memang dilakukan untuk menjaga kebersihan rumah dilakukan biasanya pada sore hari. Penggunaan sapu lidi untuk menyapu halaman menjadi
lumrah dilakukan di beberapa daerah. Namun sedikit berbeda dengan yang terlihat di Desa nunuk yang Juga memanfaatkan sapu lidi sebagai alat untuk menyapu di dalam rumah.
Kalangan remaja di desa Nunuk punya aktifitas berolah raga secara rutin. Tenis meja menjadi pilihan yang hampir tiap sore dilakukan oleh beberapa remaja di Desa nunuk. Selanjutnya adalah sepak bola. Untuk olah raga yang satu ini memang populer. Bila diperhatikan, hampir tiap Desa di Kecamatan Pinolosian memiliki lapangan sepak bola. Ini menandakan bahwa olahraga ini masih sangat digemari dan menjadi aktifitas rutin meskipun tidak setiap hari. Aktifitas harian masyarakat etnik Mongondow di Desa Nunuk adalah berkebun. Mayoritas masyarakat Desa Nunuk yang merupakan petani dan pekebun “memaksa” masyarakat memiliki aktifitas yang tergolong berat. Aktifitas ke kebun biasanya dilakukan pada pagi hari dimulai pukul 08.00 WITA sampai dengan Sore hari. Pada saat tertentu, menginap di kebun menjadi pilihan bila ada hal yang masih perlu dikerjakan di kebun. Keesokan harinya baru bisa kembali ke rumah. wajar apabila mayoritas masyarakat Desa nunuk baru didapati di rumah pada sore hari, seperti yang diceritakan oleh Fendi, 36 tahun berikut ini.
“...saya mau ke kobong (kebun.pen), pulangnya nanti sore.kalau ke kebun biasanya tanam rica. Ini mau bersihkan rica. Biasa kita bersihkan itu rica soalnya di rusak sama babi. Ada juga yang tanam cengkeh tapi saya tidak. Belum buka lahan. Nanti kalau ada suruh buka lahan saya buka lahan...”
Mereka yang bekerja di kebun, menurunkan buah kelapa menjadi aktifitas fisik mereka. Suparman misalnya, ia mampu menurunkan buah kelapa sampai 30 pohon sehari. Namun bagi andri, 31 tahun. Pekerjaan menurunkan buah kelapa tidak dilakukannya secara rutin atau sering. Jarang-jarang saja ia lakukan. Aktifitas kesehariannya adalah menjadi tukang kayu di pabrik kayu yang
terletak di Daerah pabrik Aspal di Desa Nunuk bernama pabrik kayu lembar seri somil.
Bagi Perempuan Mongondow di Desa nunuk, yang memiliki kebun cabai, maka kesehariannya biasa dilakukan adalah memetik cabai, yang dilakukannya pada pagi sampai siang hari. selain itu, kegiatan membersihkan kebun juga menjadi aktifitas sehari-hari bagi perempuan Mongondow di Desa Nunuk.
Prinsipnya bahwa, aktifitas fisik yang dilakukan masyarakat Desa Nunuk tercermin dari jenis pekerjaan mereka. Tidak terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa aktifitas keseharian sebagian besar mereka tergolong ke dalam kategori berat.
3.7.4 Konsumsi buah dan sayur
Pola makan menjadi kunci dari terjaganya kesehatan seseorang selain olahraga, kecukupan istirahat, dan kondisi psikologis seseorang. Pola makan tersebut terkait dengan kebiasaan waktu makan, makanan apa yang dikonsumsi, bagaimana cara mengolah makanan, serta apa bahan makanan lain yang di gunakan untuk memberikan rasa tertentu sehingga lebih enak untuk dinikmati. Termasuk bagaimana buah dan sayur menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari masyarakat. Peneliti ingin mengulas bagaimana konsumsi buah yang ternyata masih belum menjadi bagian untuk bisa dikonsumsi secara rutin di kalangan masyarakat desa.
Beberapa informan yang peneliti mintai informasinya mengungkapkan bahwa untuk konsumsi buah yang dikonsumsi hanya jenis tertentu dan pada musim tertentu saja. Misalnya, suatu hari sedang musim langsep, maka masyarakat umumnya akan mengkonsumsi buah langsep. Ketika musim buah mangga maka masyarakat pada saat itu minimal akan mengkonsumsi mangga meskipun tidak setiap hari. “...makan buah ya pisang, tapi ya tidak setiap hari...” tutur pak Isal. Demikian halnya dengan Dewi, beliau mengatakan bahwa konsumsi buah di masyarakat bergantung musim.
“...ya kalau musim mangga makan mangga, musim langsap makan langsap, tergantung musim, tapi tidak tiap hari...” . senada yang disampaikan oleh kedua informan tersebut menyebutkan bahwa bagaimana buah masih belum menjadi makanan pelengkap untuk kebutuhan serat sehari-hari. penjual buah hanya ada pada hari tertentu saja, misalnya hari sabtu yang merupakan hari ekonomi bagi masyarakat Mongondow. Terdapat beberapa penjual buah di pasar.
Mengenai konsumsi sayuran, masyarakat mongondow di Desa Nunuk sangat sering mengkonsumsi sayur. Pemahaman sayur disini adalah makanan yang berkuah. Tidak ada pengolahan makanan di masyarakat Mongondow Desa Nunuk yang mengolah sayuran dengan direbus saja atau lalapan. Konsumsisayuran yang biasa dimakan oleh masyarakat adalah kangkung, terong, kacang panjang, bayam, pakis daun singkong. Cara pengolahan sayuran umumnya menggunakan kuah. Ibu H menuturkan “...kalau sayur biasanya ya di tumis atau dimasak pakai kuah, tidak ada disini yang seperti di rebus itu. Selalu dikasih bumbu, ditumis atau dikasih santan...”. tapi untuk terong, biasanya dimasak dengan ditumis dan diberi sambal. Ya, masakan pedas dan asin memang menjadi ciri khas. Ditambah lagi dengan pengolahan menggunakan santan menjadi lengkap sebagai faktor terjadinya berbagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi garam dan lemak.
Gambar 3.14. Daun Gedi atau Yondog Sumber. Dokumentasi peneliti
Sayur khas yang menjadi konsumsi masyarakat di Desa Nunuk, meskipun tidak dikonsumsi sehari-hari yaitu Gedi. Sayur tersebut menggunakan daun Gediatau Yondogdalam bahasa mongondow.Daun ini dimasak menggunakan santan kelapa dan biasa dimakan menggunakan nasi putih atau nasi jagung menggunakan sambal
dabu-dabu.
3.7.5 Kebiasaan merokok
Pemahaman untuk tidak merokok minimal di dalam rumah masih belum menjadi pola bagi masyarakat Desa Nunuk. Rokok seolah menjadi bagian dalam kehidupan kesehariannya. Bukan menjadi sebuah tradisi namun menjadi sebuah kebiasaan pada umumnya. Masyarakat mongondow di Desa Nunuk khususnya yang laki-laki hampir semua, memiliki perilaku merokok. Rokok yang di konsumsi biasanya adalah rokok yang berasal dari warung dengan berbagai merek. Sudah tidak didapati masyarakat menggunakan rokok buatan sendiri atau rokok linting menurut orang jawa.Namun bagi masyarakat yang memiliki pertimbangan lain semisal ekonomi, maka
kegiatan merokok akan menjadi kegiatan yang merugikan seperti penuturan informan Suparman berikut :
“...kalau saya tidak merokok jujur karena pertama faktor ekonomi mas. Dulu waktu sendiri saya merokok. 1 bungkus rokok itu tidak cukup satu hari (habis dalam waktu tidak sampai 1 hari. tapi setelah saya menikah, paman kasih tau saya, menasehati saya kalau saya sekarang sudah menikah, harus bisa atur pengeluaran, karena kan kita kadang untuk uang dapat sekarang habis sekarang. Awalnya memang sulit, sempat balek rokok lagi tapi bertahap saya bisa. Bukannya tidak merokok sama sekali tapi ya hampir tidak pernah...”
Lain halnya Bagi pendi, 36 tahun, rokok akan selalu ada dalam kesehariannya. Setelah makan, mengobrol, ataupun saat kapanpun yang dirasa ingin merokok, maka sebatang rokok tidak lama akan berada di mulutnya. Asap putih pekat dengan aroma tembakau segera meluncur keluar dari mulutnya. Kegiatan mengobrol dengan tetanggapun tidak lepas dari menghisap rokok. Merokok menjadi bagian yang harus ada di setiap kegiatan.
Andri, 30 tahun, pernah ingin berhenti merokok. Dia memang sempat mengurangi batang rokok yang dihisapnya. Namun pengaruh lingkungan tidak mampu ia tahan. Akhirnya ia kembali merokok lagi.
“...saya dulu merokok mulai kecil, sempat dulu mau berhenti. Sempat berhenti tapi tidak bisa. ya balik lagi. Kalau tidak merokok itu malas. Kadang kalau kerja tidak ada rokok tidak semangat. Rasanya ingin pulang saja. Tapi setelah merokok, lalu diam sebentar, rokok tinggal separuh itu di taruh lagi, baru kita bisa lanjut kerja...”
Bagi masyarakat yang memiliki anak maupun ibu hamil, kegiatan merokok memang seharusnya sebisa mungkin dilakukan di luar rumah. Hal ini untuk menghindari asap rokok terhirup oleh bayi,
belum memahami bahwa asap rokok dapat mengganggu kesehatan bayi. bidan kampung yang juga gencar untuk mempromosikan bagaimana merokok akan mengganggu sistem pernapasan bila asapnya terhirup oleh bayi, masih belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. seperti halnya toyo Pongayo, 30 tahun. Kala itu, hujan terjadi sangat deras di Desa nunuk, ibu sahida yang merupakan istri dari Toyo pongayo sedang menggondong buah hatinya. Namun karena sedang hujan, ibu sahida harus membereskan beberapa barang agar tidak basah. Sang anakpun di berikan kepada toyo pongayo untuk di gendong yang kala itu sedang mengisap sebatang rokok di mulutnya tanpa perlu mematikannya telebih dahulu.
Gambar 3.15. Merokok sambil menggendong anaknya Sumber. Dokumentasi peneliti
Lain lagi dengan kisah fahrudin paputungan, 39 tahun. Ia dianugrahi anak pertamanya pada tanggal 10 mei 2015 tepat pukul 04.30 WITA. Ketika sang bayi baru beberapa jam saja merasakan betapa panasnya dunia ini, ia sempatkan menghirup asap rokok yang dikeluarkan dari mulut sang ayah saat berada di dalam kamar. Miris memang, namun begitulah realitanya. Pemahaman mengenai asap
rokok yang mampu menimbulkan penyakit bagi yang mengkonsumsi, terlebih bagi anak bayi dan balita sebagai perokok pasif belum mendapat perhatian di kalangan keluarga.
Dari sisi ilmu kesehatan, rokok terbukti dapat menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya berbagai masalah kesehatan. Dampak yang ditimbulkan akibat rokok diantaranya adalah penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, stroke, kanker mulut, dan kanker paru. Pada anak bayi dan balita, asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatannya. Ada dampak yang serius yang akan ditimbulkan diantaranya adalah mempengaruhi imunitas bayi, pertumbuhan paru yang terhambat, serta lebih mudah terkena beberapa penyakit seperti bronkitis, infeksi saluran pernafasan dan telinga serta asma (kemenkes, 2009). Melihat begitu besarnya dampak asap rokok terhadap kesehatan, sudah sepatutnya untuk bisa diperhatikan oleh setiap orang terutama bila ia memiliki anak bayi atau balita.
Bagi masyarakat Mongondow di Desa nunuk. Dulunya memang rokok memiliki arti tersendiri. Diceritakan oleh Bapak Hamid Gonibala. Yang merupakan seorang ketua BPD menyampaikan bahwa rokok menjadi sesuatu yang wajib untuk disuguhkan pada acara-acara tertentu. Acara-acara yang mengundang masyarakat, semisal acara pernikahan, rokok menjadi “hidangan” pembuka dan penutup yang harus ada. Sampai pada akhirnya dikeluarkan Peraturan Desa (Perdes).
“...Dulu, dulu sebelum kitorang buat perdes itu bahkan menjadi kewajiban. Orang hadir pada saat pernikahan itu wajib disuguhi rokok, bahkan susu. Ini sangat memberatkan. Makanya kitorang melalui BPD, karena saat itu kepala desa belum berinisiatif. Kita buat itu perdes...” Hamid Gonibala.
Pada acara tersebut, dikisahkan memang tidak hanya rokok yang menjadi faktor mengapa perdes itu ada. Bagaimana kebiasaan
kopi, bahkan susu. Bisa dibayangkan, begitu banyaknya tuan rumah harus menyediakan minuman tersebut. Merasa begitu memberatkan bagi masyarakat mengenai kebiasaan yang ada, maka desa melalui inisiasi dari BPD menerbitkan peraturan desa yang isinya menghimbau untuk tidak membiasakan memberikan rokok dan kopi serta susu pada acara pernikahan karena dinilai memberatkan pihak penyelenggara. Selain itu, rokok memang sudah menjadi bagian pada etnis ini sudah sejak lama, rokok menjadi bagian tidak terpisahkan terutama pada kegiatana monibi atau momolapag. Rokok yang digunakan adalah rokok linting menggunakan daun jagung yang diisi tembakau. Sehingga, berbicara rokok, memiliki arti tersendiri bagi masyarakat etnik mongondow.
3.7.6 Penggunaan air bersih dan jamban sehat
Kesadaran masyarakat Mongondow di Desa Nunuk untuk menggunakan air bersih cukup besar. Penggunaan air bersih untuk aktifitas sehari-hari seperti memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, untuk mandi sebagian sudah menggunakan air sumur. Beberapa sudah menggunkan sumur gali yang terpasang mesin pompa air untuk memudahkan pemilik agar tidak banyak menimba. Meskipun, masih disediakan alat timba air yang terbuat dari kayu panjang dan dibawahnya diberi timba kecil. Bisa terbuat dari kaleng cat ataupun timba yang biasa dijual di toko.
Sumber Air dari PDAM juga sampai di Desa Nunuk sehingga Masyarakat juga memanfaatkan air PDAM tersebut untuk keperluan sehari-hari. “...itu air dari PDAM mas, sudah lama juga...” tutur bapak isal. Bagi masyarakat yang tidak memiliki lokasi yang lebih untuk membuat sumur, maka pilihan untuk menggunakan mesin pompa air yang hanya menancapkan pipa ke dalam tanah saja sampai pada sumber air bawah tanah, dan sudah dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan air bersih, mereka mengenal dengan sumur suntik. Untuk sumur model ini, menjadi umum di kalangan masyarakat.
bahkan bisa dikatakan sebagian besar masyarakat menggunakan sumur suntik ini. bukan tanpa kendala, model ini mengandalkan listrik untuk menghidupkan mesin pompa air. Sayangnya, di kabupaten Bolaang Mongondow Selatan pada umumnya, listrik sering kali mati.
”...kalau listrik mati tidak bisa ambil air, kalau pagi-pagi itu yang susah. Misalnya pelajar atau orang yang bekerja di kantor, kalau listri tidak menyala, bisa dipastikan tidak mandi dia itu (tertawa), penampungan air ada yang pakai, namun ya begitu, kalau sudah rusak tidak diperbaiki. Jadi ya hampir semua tidak pakai penampungan air...”
Gambar 3.16. Sumur suntik Sumber. Dokumentasi peneliti
Selain sumur dan PDAM yang dimanfaatkan masyarakat, sungai irigasi dan air dari mata air di sekitar sungai masih di gunakan untuk kegiatan mandi dan mencuci. observasi peneliti tentang bagaimana kondisi sungai irigasi yang di gunakan masyarakat untuk
Buang Air Besar, mencuci piring, mencuci baju, mandi, dan Gosok gigi memang secara fisik terlihat bersih namun tidak terlalu jernih. Namun bila dinilai dari standar kebersihan atau sanitasi pada sumber air bersih masih belum memenuhi standar. Namun masih ada yang memanfaatkan aliran irigasi tersebut.
Untuk pemanfaatan mata air yang ada di dekat aliran sungai yang dikenal dengan nama tonop, kegiatan mencuci baju juga dilakukan di sana. Contohnya ibu hasmia, dirumahnya memiliki sumur suntik sebagai sumber air bersih. Bahkan untuk mencuci, ia memiliki mesin cuci baju. Namun sepertinya ia merasa lebih nyaman bila mencuci di mata air tersebut. Kendala listrik menjadi alasan utamanya mengapa ia jarang sekali mencuci menggunakan mesin cuci. Seringnya pemadaman listrik memaksa ibu hasmia hanya menggunakan mesin cucinya sebagai alat pengering pakaian saja. Tidak hanya bu hasmia, beberapa warga juga acap kali memanfaatkan tonop tersebut. Mata air yang sudah di buatkan alas papan untuk mencuci dan mandi memang dirasa lebih nyaman. “...itu kemarin waktu selesai pesta