• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Konsumen Kontemporer dalam Perspektif Islam

Dalam dokumen Konsumsi Prinsip dan Batasan dalam Persp (Halaman 119-125)

ANALISIS TERHADAP PERILAKU KONSUMEN KONTEMPORER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

B. Perilaku Konsumen Kontemporer dalam Perspektif Islam

Islam memberikan konsep adanya an-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang tenang ini tentu saja tidak berarti jiwa yang mengabaikan tuntutan aspek material dari kehidupan. Tentu saja ia tetap memerlukan semua kebutuhan fisiologis jasmani termasuk juga kenyamanan-kenyamanan (comforts). Tetapi pemuasan kebutuhan harus dibarengi dengan adanya keharmonisan hubungan antar sesama manusia dalam sebuah masyarakat. Di sinilah perlu diinjeksikan sikap hidup peduli kepada nasib orang lain yang dalam bahasa Al- Qur‟an dikatakan “al-iitsar”. Sikap ini tentu akan meniadakan berbagai varian dari perilaku konsumsi materialistis seperti conspicuous consumption. Konsumsi model ini secara agama tidak mendapatkan dasar pijakan dan secara ekonomi berbahaya karena hanya menguras devisa Negara dan secara sosial merenggangkan keharmonisan hidup bermasyarakat. (Abidin Basri, 2002: 62).

Setidaknya ada tiga nilai dasar yang seharusnya menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim :

Pertama, Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, nilai ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat

120 balasan surga di akhirat), sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption.

Kedua, Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan perilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.

Ketiga, Kedudukan harta merupakan anugerah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar.

Dari ketiga nilai dasar tersebut di atas telah jelas bahwa perilaku konsumsi konsumen muslim seharusnya memperhatikan prinsip-prinsip konsumsi dalam Islam dan juga nilai-nilai dasar yang menjadi patokan bagi konsumen muslim dalam mengonsumsi makanan maupun barang.

Konsumsi makanan merupakan kebutuhan yang juga mendukung untuk melindungi jiwa atau nyawa seseorang, namun hal tersebut tentulah harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan dalam Islam, bahwa ada lima prinsip yang harus diperhatikan oleh seorang konsumen terutama konsumen muslim sebelum mengonsumsi makanan.

Untuk seorang muslimah, Islam mengharamkan perempuan mengenakan pakaian yang ketat dan transparan. Termasuk dalam hal ini adalah pakaian yang menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Terutama bagian tubuh yang menggoda kaum Adam, diantaranya payudara, pusar, pantat dan sebagainya. Dari penjelasan sebelumnya, terdapat hadits yang menjelaskan bahwa Rasullullah SAW berkata ada dua golongan manusia yang akan masuk neraka, golongan pertama adalah kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk mencambuk

121 orang lain dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, menggoda dan berlanggak-lenggok. Rasulullah SAW menggambarkan kepala perempuan itu seperti punuk unta, karena mereka memasang sanggul di atas kepalanya. Seakan beliau ketika itu dengan pandangan ghaibnya mengetahui apa yang terjadi di zaman sekarang, yang perawatan dan kreasi rambut dengan segala modelnya telah menjadi objek perhatian khusus. Perempuan-perempuan sering datang ke salon- salon yang biasanya dikelola oleh kaum lelaki dengan biaya yang sangat mahal. Bukan hanya itu, banyak perempuan yang tidak puas dengan apa yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Perempuan-perempuan sering kali menyambung rambut dengan maksud untuk terlihat lebih anggun, indah mempesona, lebih menarik dan menggoda kamu Adam.

Masih terkait dengan pakaian, tak lepas juga terdapat pembahasan mengenai perhiasan yang dipakai ataupun dikenakan oleh konsumen muslim dan muslimah. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Islam tidak melarang umatnya khususnya kaum hawa untuk berhias dan menggunakan perhiasan. Perhiasan seperti cincin emas, kalung emas, bolpoin emas, korek api emas, gigi emas dan sebagainya sering kali terlihat dipakai oleh orang-orang terutama kaum hawa dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut tidaklah salah apabila tidak dalam kadar yang berlebihan apalagi mengundang kecemburuan sosial sesama muslim. Sebaliknya untuk kaum laki-laki, Rasulullah hanya membolehkan seorang laki-laki mengenakan perak saja, baik berupa cincin maupun jam.

Tentunya hal-hal tersebut harus menjadi perhatian setiap individu muslim, terutama yang mempunyai anak, sepupu maupun keponakan perempuan untuk lebih memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh perempuan muslimah semestinya. Begitupun dengan pemerintah ataupun negara ini hendaknya bisa memberikan suatu Peraturan yang sedikit lebih menekankan tentang standar pakaian yang dikenakan oleh perempuan, khususnya perempuan muslim dan hendaknya sedikit memperhatikan untuk barang impor pakaian yang kebanyakan mengadopsi budaya barat.

122 Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, Al-Ghazali dan Al- Syatibi mengatakan bahwa kebutuhan utama dan yang paling mendasar adalah kebutuhan aruriyah yang meliputi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Meskipun belum didapati sebuah negara Muslim yang menerapkan ekonomi Islam sepenuhnya berdasarkan ajaran al-Qur‟an, al-hadits, ajaran para sahabat, dan ijtihad para ulama, tetapi dalam kehidupan sehari-hari manusia dapat merasakan perbedaan perilaku konsumsi antara masyarakat yang memegang teguh keimanan dan ketaqwaan dengan yang tidak. Ketika seorang konsumen muslim yang beriman dan bertaqwa mendapatkan penghasilan rutinnya, baik mingguan, bulanan, atau tahunan, dia tidak berfikir pendapatan, yang diraihnya itu dihabiskan semuanya, hanya untuk dirinya sendiri, tetapi karena keimanan dan ketaqwaanya itu dan atas kesadarannya bahwa hidup semata untuk mencapai ridha Allah SWT., dia berpikir sinergis. Harta yang dihasilkannnya dimanfaatkan untuk kebutuhan individual, keluarga dan sebagian lagi dibelanjakan di jalan Allah SWT. (fisabilillah). Setiap pergerakan dirinya, yang berbentuk belanja sehari-hari , tidak lain adalah manifestasi dzikir dirinya atas nama Allah SWT. Dengan demikian dia memilih jalan yang dibatasi Allah SWT. dengan tidak mimilih barang haram, tidak kikir serta tidak tamak supaya hidupnya selamat baik dunia maupun akhirat.

Sesungguhnya Islam tidak mempersulit jalan hidup seseorang konsumen. Jika seseorang mendapatkan penghasilan dan setelah dihitung dan hanya mampu memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, maka tak ada keharusan untuk membelanjakan untuk konsumsi sosial. Sedangkan apabila pendapatannya melebihi konsumsi tidak ada alasan baginya untuk tidak mengeluarkan kebutuhan konsumsi sosial. (Wigati, 2011: 35)

Pendapatan dan penghasilan yang diperoleh dengan cara yang halal akan digunakan untuk menutupi kebutuhan individu dan keluarga dengan jalan yang halal pula, yang secara langsung menguntungkan pasar mulai dari produsen hingga pedagang. Setiap uang yang dibelanjakan konsumen menjadi revenue bagi

123 pengusaha sebagai bentuk pertukaran antara barang dan uang. Konsumen mendapatkan kepuasan dari barang yang di beli dan pengusaha mendapatkan keuntungan dari barang yang dijualnya. Konsumen memerlukan barang untuk kelangsungan hidupnya, secara langsung membutuhkan produsen dan pedagang. Sedangkan pengusaha memerlukan konsumen agar dia dapat melanjutkan produksi sekaligus pula menghidupkan diri dan keluarga dari keuntungan barang yang dijualnya. Tidak jarang, dalam satu segi konsumen bisa berperan sebagai produsen dan produsen bisa berperan sebagai konsumen.

Dalam perspektif ekonomi Islam ada penyeimbang dalam kehidupannya, yang tidak ditemukan dalam ekonomi konvensional. Penyeimbang dalam ekonomi Islam ini dipaparkan secara jelas dan berulang-ulang dalam al-Qur‟an agar menyalurkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan infaq. Hal tersebut mengandung ajaran bahwa umat Islam merupakan mata rantai yang kokoh dengan umat Islam yang lain. Dengan kata lain ada solidaritas antara umat yang mampu secara ekonomi terhadap umat muslim yang fakir dan miskin.

Keseimbangan konsumsi dalam ekonomi Islam didasarkan pada keadilan distribusi. Keadilan konsumsi adalah di mana seorang konsumen membelanjakan penghasilannya untuk kebutuhan materi dan kebutuhan sosial. Kebutuhan materi dipergunakan untuk kehidupan duniawi individu dan keluarga. Konsumsi sosial dipergunakan untuk kepentingan akhirat nanti yang berupa zakat, infaq, dan shadaqah. Dengan kata lain konsumen muslim akan membelanjakan pendapannya untuk duniawi dan ukhrawi. Di sinilah muara keunikan konsumen muslim yang mengalokasikan pendapatannya yang halal untuk zakat sebesar 2,5 % , kemudian baru mengalokasikan dana lainnya pada pos konsumsi yang lain. Baik berupa konsumsi individu maupun konsumsi sosial yang lainnya.

Dalam Ekonomi Islam kepuasan konsumen bergantung pada nilai-nilai agama yang dia terapkan pada rutinitas kegiatannya yang tercermin pada uang yang dibelanjakannya. Ajaran agama yang dijalankan baik menghindarkan

124 konsumen dari sifat israf, karena israf merupakan sifat boros yang dengan sadar dilakukan untuk memenuhi tuntutan nafsu belaka.

Selain karena keseimbangan konsumsi maka di antara pendapatan konsumen merupakan hak-hak Allah SWT. terhadap para hamba-Nya yang kaya dalam harta mereka. Yakni dalam bentuk zakat-zakat wajib, diikuti sedekah dan infak. Semua konsumsi itu dapat membersihkan harta dari segala noda syubhat dan dapat mensucikan hati dari berbagai penyakit yang menyelimutinya seperti rasa kikir, tak mau mengalah dan egois. Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Harta tidak akan hilang karena membayar zakat baik di darat maupun lautan. Sebaliknya, setiap kali satu kaum menolak membayar zakat, pasti hujan akan bertahan dari langit. Kalau bukan karena binatang, hujan pasti tidak akan turun.

Dengan demikian, prinsip keadilan dan kemurahan hati dalam mengonsumsi yang telah dijelaskan sebelumnya oleh MA. Manan dapat terwujud. Selanjutnya juga prinsip konsumsi yang telah dijelaskan Yusuf Qardhawi sebelumnya dapat diterapkan ke semua penduduk di seluruh Indonesia. Selain itu juga kemaslahatan dalam memenuhi kebutuhan aruriyah, hajjiyah dan tahsinyah yang telah dipaparkan sebelumnya juga dapat dirasakan oleh umat manusia khususnya umat muslim.

125

Dalam dokumen Konsumsi Prinsip dan Batasan dalam Persp (Halaman 119-125)

Dokumen terkait