BAB II LANDASAN TEORITIK
PEMBAHASAN A. Status Gizi
C. Hubungan Status Gizi dengan Perkembangan Anak Usia 2 Sampai 3 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Gambirsari Kota Surakarta
4. Perilaku dan pola makan remaja
Pola makan remaja seringkali tidak menentu yang merupakan risiko terjadinya masalah nutrisi. Bila tidak ada masalah ekonomi ataupun keterbatasan pangan, maka faktor psiko-sosial merupakan penentu dalam memilih makanan. Gambaran khas pada remaja yaitu : pencarian identitas, upaya untuk ketidaktergantungan dan diterima lingkungannya, kepedulian akan penampilan, rentan terhadap masalah komersial dan tekanan dari teman sekelompok (peer group) serta kurang peduli akan masalah kesehatan, akan mendorong remaja kepada pola makan yang tidak menentu tersebut. Kebiasaan makan yang sering terlihat pada remaja antara lain ngemil (biasanya makanan padat kalori), melewatkan waktu makan terutama sarapan pagi, waktu makan tidak teratur, sering makan fast foods, jarang mengonsumsi sayur dan buah ataupun produk peternakan (dairy foods) serta diet yang salah pada remaja perempuan. Hal tersebut dapt mengakibatkan asupan makanan
tidak sesuai kebutuhan dan gizi seimbang dengan akibatnya terjadi gizi kurang atau malahan sebaliknya asupan makanan berlebihan menjadi obesitas. Remaja perempuan cenderung pada asupan makanan yang kurang, terlebih bila terjadi kehamilan.
Di negara berkembang, sering terjadi gangguan perilaku makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia terutama pada perempuan yang berkorelasi dengan body image yang negatif. Karenanya penting membangun body image dan self esteem yang positif pada remaja dalam upaya promosi kesehatan dan gizi serta pencegahan obesitas.
Ringkasan
Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara maksimal. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat berakibat terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear.
Pada masa ini pula nutrisi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait nutrisi pada masa dewasa kelak, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan osteoporosis.
Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia defisiensi zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku makan salah dan gaya hidup.
Daftar Bacaan
1. Stang J, Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005) diunduh dari http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.htm
2. Blum RW. Global trends in adolescent health. J Amer Med Assoc 1991;265:2711-9 3. Haider R. Adolescent Nutrition: A review of the Situation in Selected South-East Asian
Countries. WHO 2006.
4. Story M, Stang J. Nutrition needs of adolescents. In: Stang J, Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005) diunduh dari
http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.htm
5. Rome ES, Vazquez IM, Blazar NE. Adolescence: healthy and disordered eating. Dalam: Walker WA, Watkins JB, Duggan C, penyunting. Nutrition in pediatrics: basic science and applications. Edisi ke-3. London: Decker, 2003. h. 861-77
6. Kennedy E, Goldberg J. What are American children eating? Implication for public policy. Nutr Rev 1995;53(5):111-26
7. Harrington S. The Role of Sugar-Sweetened Beverage Consumption in Adolescent Obesity: A Review of the Literature. The Journal of School Nursing 2008;24(1):3-12
8. Josep R. Hubungan antara indeks massa tubuh dengan perilaku konsumsi minuman manis pada siswa SMP : Sebuah survei di salah satu SMP swasta di Jakarta. Tugas penelitian di Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dept I.Kesehatan Anak, FKUI (2010)
9. Soekarjo DD, de Pee S, Bloem MW, et al. Socio-economic status and puberty are the main factors detemining anaemia in adolescent girls and boys in East-Java, Indonesia. Eur J Clin Nutr. 2001;55(11):932-9
10. Sunarno RW, Untoro R. Paper dipresentasikan di WHO Regional Meeting on Adolescent Nutrition ln Chandigarh, India, 16-17 September 2002.
11. Nelson M. Anaemia in adolescent girls: effects on cognitive function and activity. Proc Nutr Soc 1996;55:359-67
12. Kurz KM, Johnson-Welch C. The nutrition and lives of adolescents in developing
countries: Findings from the nutrition of adolescent girls research program. ICRW , 1994. Dikutip dari Delisle H. Should adolescents be specifically targeted for nutrition in
developing countries? To addresswhich problem and how? Diunduh dari http://www.idpas.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.pdf
13. Freedman DS, Dietz WH, Srinivasan SR, Berenson GS. The Relation of Overweight to Cardiovascular Risk Factors Among Children and Adolescents: The Bogalusa Heart Study Pediatrics 1999;103(6):1175-82
14. Delisle H. Should adolescents be specifically targeted for nutrition in developing countries? To addresswhich problem and how? Diunduh dari
http://www.idpas.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.pdf
Iodin povidon (bahasa Inggris: povidone-iodine, PVP-I) adalah sebuah polimer larut air yang mengandung sekitar 10% iodin aktif, jauh lebih ditoleransi kulit, tidak memperlambat
penyembuhan luka, dan meninggalkan deposit iodin aktif yang dapat menciptakan efek berkelanjutan. Keuntungan antiseptik berbasis iodin adalah cakupan luas aktivitas
antimikrobanya. Iodin menewaskan semua patogen utama berikut spora-sporanya, yang sulit diatasi oleh desinfektan dan antiseptik lain.[1]
Iodin povidon merupakan salah satu antiseptik dari golongan halogen. Senyawa ini merupakan kompleks antara iodin dengan polivinilpirolidon. Bentuk kompleks ini merupakan bentuk iodofor, yaitu campuran iodin dengan surfaktan yang bekerja sebagai pembawa dan pelarut iodin. Golongan ini berdaya aksi dengan cara oksidasi, namun tidak efektif untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram positif dan ragi.[2]
PVP-I benar-benar larut dalam air dingin dan ringan hangat, etil alkohol, isopropil alkohol, polietilen glikol, dan gliserol. Stabilitas dalam larutan jauh lebih besar dari tingtur iodin atau
larutan Lugol.[3]
Iodin bebas perlahan-lahan dibebaskan dari kompleks iodin povidon dalam larutan, membunuh sel eukariotik atau prokariotik melalui iodinasi lipid dan oksidasi senyawa sitoplasma dan membran. Agen ini menunjukkan berbagai aktivitas antimikroba terhadap bakteri, jamur,
protozoa, dan virus.
Kompleks senyawa ini ditemukan di Industrial Toxicology Laboratories di Philadelphia,
Amerika Serikat oleh H. A. Shelanski dan M. V. Shelanski.[4] Mereka melakukan uji in vitro
untuk menunjukkan aktivitas antibakteri senyawa ini dan menemukan bahwa iodin povidon kurang beracun bagi mencit dibandingkan dengan tingtur iodin. Uji klinis pada manusia menunjukkan bahwa produk ini lebih unggul daripada formulasi iodin lainnya.[2]
Sesudah dijual pertama kali pada tahun 1955, produk ini telah menjadi antiseptik iodin yang secara umum lebih dipilih.[2]
Bakteri pada kulit sebagian besar besifat komensal. Luka yang terbentuk akibat insisi bisa menjadi port the entry bakteri kedalam jaringan dan sirkulasi darah.
Bakteri dapat juga berkembang biak pada luka. Untuk mengurangi polulasi bakteri dilakukan tindakan aseptik
Tindakan Aseptik
Aseptik adalah keadaan bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya melalui teknik aseptik. Teknik aseptik/asepsis adalah segala upaya yang
dilakukan untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi. Tindakan asepsis ini bertujuan untuk mengurangi atau
menghilangkan mikroorganisme yang terdapat pada permukaan benda hidup atau benda mati. Tindakan ini meliputi antisepis, desinfeksi, dan sterilisasi. Untuk itu, diperlukan perlakuan khusus pada alat dan bahan operasi, lapangan operasi, operator,dan asisten sebagai pelaksana. Antisepsis adalah upaya pencegahan infeksi dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh lainnya. Bahan yang digunakan disebut antiseptik. Antiseptik adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman, ada yang bersifat sporosidal (membunuh spora) dan non sporosidal, digunakan pada jaringan hidup khusus,yaitu kulit dan selaput lendir.
Antiseptik harus dibedakan dengan obat seperti antibiotik yang dapat membunuh mikroorganisme di dalam tubuh atau dengan desinfektan yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme yang terdapat pada benda mati.
Perlu diperhatikan adanya reaksi atau riwayat alergi terhadap iodium. Jenis antiseptik yang sering digunakan adalah alkhol 70 %, povidon iodin, chlorhexidine gluconate dan triklosan.
Jenis Antiseptik
Jenis antiseptik yang akan dibahas di bawah ini hanya sebagian dari antiseptik, antara lain povidone iodine, savlon (chlorhexidine), triklosan, dan alkohol 70%. Berikut keterangan mengenai jenis antiseptik tersebut :
1. Povidone Iodine 1. Struktur Kimia
Povidone Iodine adalah senyawa larut air yang merupakan komplek senyawa iodine dengan polyvinylpyrrolidone, dengan kosentrasi iodine mulai dari 9 % sampai dengan 12 %, dihitung berdasarkan berat kering. Povidone iodine mempunyai rumus bangun (C6H9NO)n.xI. (2)
Rumus bangun povidone iodine
2. Mekanisme kerja
Povidone iodine bekerja dengan menghancurkan dinding sel patogen.
3. Keuntungan dan Kerugian
Povidone iodine memiliki aktivitas antimikroba yang paling luas karena dapat membunuh semua patogen yang penting, bahkan dapat membunuh spora di mana spora merupakan salah satu bentuk dari mikroorganisme yang paling sulit
Povidone iodine merupakan antiseptik golongan iodine yang menyebabkan sedikit iritasi kulit dan jarang menimbulkan reaksi alergi jika dibandingkan dengan antiseptik iodine lainnya, namun lebih sering menyebabkan dermatitis kontak iritan jika digunakan untuk higienitas tangan (larutan pencuci tangan).
4. Cara Pemakaian
Povidone Iodine diformulasikan dalam bentuk antiseptik topikal, antara lain larutan (dengan surfaktan dan atau alkohol), aerosol atau salep pada konsentrasi mulai dari 7,5% sampai dengan 10 %. Zat tersedia di dijual bebas dan digunakan untuk membersihkan dan desinfektan pada kulit, menyiapkan kulit sebelum operasi dan mengobati infeksi yang peka terhadap iodine. Povidone iodine harus digunakan secara hati-hati pada penderita yang alergi terhadap iodine. Jika terjadi iritasi, kemerahan dan bengkak; penggunaan zat harus dihentikan.
2. Chlorhexidine gluconate 1. Struktur Kimia
Chlorhexidine gluconate sering digunakan untuk mencuci tangan di kamar
operasi. Bahannya lembut dan jarang menimbulan iritasi. Chlorhexidine gluconate (nama dagang savlon) , merupakan derivat dari biguanidin. Chlorhexidine
gluconate merupakan cairan antiseptik yang mempunyai komponen aktif cetrimide 0,5 % dan chlorhexidine gluconate 0,1%. Selain Chlorhexidine gluconate, savlon mengandung n-propyl alkohol dan benzyl benzoat.
Cetrimide
Chlorhexidine gluconate
Chlorhexidine bekerja dengan cara melekat dan kemudian merusak membran sitoplasma sehingga kandungan/isi intraselular menjadi keluar dari dalam sel.
3. Keuntungan dan Kerugian
Aktivitas antimikroba chlorhexidine lebih lambat dari pada alkohol. Chlorhexidine memiliki aktivitas antimikroba yang baik terhadap
bakteri gram positif, dan sebaliknya kurang baik terhadap bakteri gram negatif dan fungi, serta aktivitas antimikroba yang minimal terhadap bakteri tuberkulosa. Chlorhexidine tidak dapat membunuh spora. Chlorhexidine memiliki aktivitas secara in vitro untuk membunuh enveloped virus seperti herpes simplex virus, HIV, cytomegalovirus, namun memiliki aktivitas yang kurang terhadap non-enveloped virus sperti rotavirus, adenovirus, dan enterovirus.
Reaksi alergi terhadap penggunaan chlorhexidine sangat jarang
ditemukan. Penggunaan chlorhexidine yang menyebabkan iritasi pada kulit sangat tergantung pada konsentrasi larutan chlorhexidine, dimana chlorhexidine 4% yang sering digunakan sebagai larutan antiseptik pencuci tangan dapat menyebabkan iritasi. Jika larutan chlorhexidine mengenai mata dapat mengakibatkan konjungtivitis.
Reaksi idiosinkrasi pada kulit dapat terjadi. Savlon bila terminum secara tidak sengaja dapat menimbulkan mual muntah, dyspnea dan sianosis akibat paralisis dari otot pernafasan. Selain itu depresi sistem saraf pusat dapat menyebabkan kejang, hipertensi serta
koma. Pengobatan dengan cara pengosongan lambung dan terapi simptomatik.
4. Cara Pemakaian
Savlon digunakan untuk keperluan antiseptik pembersih dan hanya digunakan untuk pemakaian luar. Savlon antiseptik sebaiknya tidak digunakan secara langsung pada mata, otak, meningen, telinga tengah, serta tidak digunakan untuk rongga tubuh. Untuk penggunaan secara umum larutkan 60-90 mL dalam 1 sampai dengan 1,5 L air.
3. Triklosan
1. Struktur Kimia
Triklosan merupakan senyawa aromatik yang diklorinasi dan memiliki dua gugus fungsional yaitu eter dan fenol.
Rumus bangun triklosan
2. Mekanisme kerja
Yaitu dengan cara denaturasi protein dan merusak membran sel. Triklosan memiliki sifat biosidal dengan merusak membran sel dan sitoplasma. Sedangkan pada konsentrasi rendah, triklosan bekerja sebagai bakteriostatik dengan
menghambat sintesis asam lemak.
3. Keuntungan dan Kerugian
Triklosan memiliki aktivitas antimikroba yang cukup baik terhadap
Staplylococcus aureus sehingga penggunaan triklosan 2% sebagai larutan untuk memandikan penderita kelainan kulit methicilin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) sangat dianjurkan. Sebaliknya triklosan memiliki aktivitas antimikroba yang relatif rendah terhadap bakteri gram negatif, fungi, dan micobacterium. Triklosan sebaiknya tidak digunakan sebagai larutan mandi pada pasien luka bakar atau pasien dengan kelainan kulit yang luas dan juga pasien dengan kulit yang sensitif karena dapat menimbulkan efek neurotoksik.
4. Cara Pemakaian
Triklosan (trichloro-hydroxy-diphenyl ether) adalah agen antimikrobial yang banyak digunakan pada detergen, sabun, shampo , deodoran seta kosmetik dengan konsentrasi penggunaan di bawah 0,5%.
4. Alkohol
1. Struktur Kimia
Alkohol yang paling sering digunakan antara lain ethanol (60-90%), 1-propanol (60-70%) dan 2-propanol/isopropanol (70-80%) atau campuran dari jenis-jenis alkohol ini. Zat ini membunuh secara cepat dan aktif bakteri vegetatif seperti Mikobakterium tuberkulosis serta beberapa jamur dan virus lipofilik yang inaktif.
Rumus bangun alcohol
2. Mekanisme kerja
Alkohol bekerja dengan cara denaturasi protein dan melarutkan lemak.
3. Keuntungan dan Kerugian
Alkohol memiliki aktivitas germisidal secara in vitro terhadap bakteri vegetatif gram positif dan gram negatif (termasuk diantaranya MRSA dan VRE),
Mycobacterium tuberculosis, dan sebagian jenis fungi. Namun demikian alkohol memiliki
aktivitas antimikroba yang sangat minimal terhadap spora bakteri. Herpes simplex virus, HIV, influenza virus, respiratory syncytial virus dan vaccinia virus diketahui sangat peka terhadap alkohol. Jenis virus lain yang kurang peka
terhadap alhokol, namun dapat dibunuh dengan alkohol 50-70%, seperti Hepatitis B virus, enterovirus, rotavirus dan adenovirus. Ethanol memiliki aktivitas
antimikroba yang lebih baik dari pada propanol.
Alkohol bekerja sebagai germisidal dengan cepat ketika digunakan pada
permukaan kulit, namun tidak berlangsung lama. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan bakteri kembali secara perlahan pada permukaan kulit. Hal ini diduga karena beberapa bakteri pada kulit memiliki efek sublethal terhadap alkohol.
Penggunaan larutan alkohol yang cukup sering dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Namun kelainan dermatitis kontak alergi atau urtikaria akibat kontak terhadap alkohol sangat jarang ditemukan. Penggunaan larutan alkohol pada lesi kulit dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat seketika.
4. Cara Pemakaian
Alkohol bersifat mudah terbakar serta harus disimpan di tempat yang dingin dan cukup ventilasi udaranya. Sebelum kauterisasi, bedah elektrik serta bedah laser, alkohol harus ditunggu menguap terlebih dahulu.
5. Teknik Tindakan Aseptik
Tindakan yang dilakukan adalah dengan mengusapkan cairan antiseptik pada lapangan operasi dan sekitarnya. Untuk memperluas permukaan steril maka dilakukan drepping, yaitu pemakaian duk bolong steril.
Prinsipnya adalah mengusap kulit dari mulai daerah yang lebih bersih ke daerah yang paling kotor dengan tidak mengusap daerah yang telah diusap sebelumnya.
Teknik tindakan aseptik
1. Sebaiknya cuci daerah oparasi dengan air bersih dan sabun, jika luka atau daerah operasi kotor.
2. Jika daerah operasi berulkus maka cuci dahulu daerah sekitar ulkus (diluar ulkus) kemudian baru daerah ulkusnya( daerah ulkus
merupakan daerah terkotor sehingga tindakan aseptic dilakukan paling akhir.
3. Posisikan daerah operasi seergonomis mungkin dan sekspos mungkin sehinggga operator dan asisten dengan leluasa dapat melakukan tindakan
4. Fiksasi daerah operasi atau daerah lainnya sehingga daerah operasi tidak bergerak-gerak
5. Siapkan larutan antiseptic dalam kom steril
6. Siapkan seluruh intrumen operasi dalam meja yang mudah dijangkau 7. Celupkan kassa steril yang dipegang oleh klem Kelly atau ring klem. 8. Usapkan mulai dari arah tengah (jika bukan ulkus) secara melingkar
makin lama makin ketepi dengan tidak mengusap daerah yang telah diusap sebelumnya.
9. Laklukan 2 – 3 kali.
10.Pola usapan (painting) dapat juga dari atas kebawah secara vertical mulai deri lapangan operasi paling tengah sampai ketepi dengan arah yang sama.
11.Tutup permukaan tadi dengan duk bolong steril.
sarung tangan steril
Pola pengusapan secara melingkar
Pola tindakan aseptic pada khitanan
- See more at:
http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/217#sthash.4KVxFAuj.dpuf
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Adapun Tujuan dari percobaan ini adalah
- Untuk membuat larutan topikal Povidone iodum 10%
- Untuk menentukan kadar Iodine dalam sediaan larutan Povidone Iodum - Untuk menentukan pH larutan Povidon Iodum
- Untuk menentukan Berat Jenis Larutan Povidon Iodum - Untuk menentukan viskositas Larutan Povidon Iodum 1.2 Prinsip Percobaan
Pembuatan larutan topikal povidon Iodine dan melakukan penetapan kadar Iodium dalam larutan topikal Povidon Iodine secara iodometri dimana penambahan Na2S2O3 (Natrium Thiosulfat) sebagai pentiter sehingga larutan berubah warna menjadi kuning lemah. Kemudian ditambahkan indikator kanji hingga warna larutan berubah menjadi biru. Kemudian dititrasi kembali dengan Na2S2O3 (Natrium Thiosulfat) hingga warna biru hilang dan larutan menjadi tidak berwarna. Setelah itu dilakukan pengujian pH menggunakan pH meter, penentuan berat jenis menggunakan piknometer dan cawan porselen, serta pengujian viskositas pada larutan topikal Povidon Iodum dengan menggunakan alat viskometer Broofield. 1.3 Latar Belakang
Kehidupan manusia selalu berisiko mengalami luka. Luka yang terjadi dapat diakibatkan dari tindakan kesengajaan seperti operasi bedah dan dapat juga diakibatkan dari tindakan yang tidak sengaja atau disebut juga sebagai kecelakaan. Kecelakaan yang menyebabkan luka dapat berupa luka gigit, luka lecet, luka iris, luka memar, dan luka bakar. Luka adalah suatu cedera pada kulit yang menyebabkan keutuhan jaringan terputus sebagian atau seluruhnya. Keadaan luka dapat disebabkan oleh trauma benda tajam dan tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan (Sjamauhidajat dan Win de Jong, 2004). Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh kembali pulih. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan. Perawatan luka dimulai dengan mendiagnosa apakah luka tersebut bersih, atau apakah ada tanda klinik yang memperlihatkan masalah infeksi. Infeksi luka sering berakibat tidak fatal, tetapi dapat menimbulkan cacat pada kulit. Penanganan luka yang tepat dan cepat dapat mencegah jaringan kulit yang terluka dari risiko infeksi. Infeksi mikroorganisme dapat terjadi pada area luka, karena penularan mikroorganisme didasarkan pada tindakan semua orang yang berhubungan dengan sentuhan dan udara, serta melalui benda hidup atau benda mati yang telah terkontaminasi. Faktor lain yang mendasari terinfeksinya luka pada kulit, karena tubuh manusia merupakan sumber infeksi, seperti contoh pada orang dewasa diperkirakan mengandung lebih dari 25.000 mikroorganisme per cm persegi kulit, 250 milyar mikroorganisme di dalam mulut mereka, dan 2,5 trilyun di kolon bagian bawah (Barbara dan Billie).
Tindakan pertama yang harus diperhatikan pada pencegahan infeksi terhadap luka adalah keadaan aseptis, yaitu dengan menggunakan obat yang
berkhasiat sebagai antiseptik. Antiseptik adalah obat yang digunakan untuk membunuh pertumbuhan mikroorganisme, biasanya digunakan pada jaringan kulit (Gunawan, 2007).
Syarat suatu sediaan antiseptik yaitu dapat digunakan untuk menghilangkan mikroorganisme tanpa menyebabkan rusaknya atau teriritasinya kulit atau selaput lendir. Banyak bahan kimia yang memenuhi syarat sebagai antiseptik. Berdasarkan sifat kimia, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat ( Tjay dan Raharjadja, 2007).
Tinctura iodium merupakan salah satu antiseptik kulit tertua yang pernah digunakan, tetapi mempunyai efek samping yang dapat mengiritasi kulit dan memiliki insiden alergi yang cukup tinggi. Penggunaan iodium mulai populer kembali pada dasawarsa terakhir, dengan dibuktikannya bahwa iodium dapat mengikat komponen polivinilpirolidin untuk mendapat aksi antibakteri yang baik. Kompleks iodofor yang terbentuk memiliki frekuensi reaksi alergi dari tinctura iodium yang rendah, sehingga apabila lapisan iodofor tetap dibiarkan pada kulit, pengeluaran iodium yang lambat tetap berlangsung untuk beberapa jam (Sabiston, 1995).
Kompleks dari iodium dengan polivinilpirolidon membentuk zat aktif povidon iodine yang sering digunakan oleh masyarakat sampai saat ini pada terapi obat luka dan berkhasiat sebagai antiseptik. Sediaan obat cair dengan zak aktif povidon iodine banyak beredar di pasaran, seperti di apotek, toko obat maupun swalayan. Kadar povidon iodine yang terdapat pada sediaan tersebut yang sering digunakan sebagai antiseptik adalah 10% (Sabiston, 1995).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Povidon iodum adalah suatu iodofor suatu kompleks yodium dengan polivinil pirolidon. Obat ini di klinik digunakan sebagai pengganti merkurokrom dan yodium tingtur karena tidak iritatif. Yodium yang dilepas, bekerja sebagai antiseptik berspektrum luas. Tersedia sebagai berbagai obat topikal yaitu : salep 10%, larutan 10%, shampo dan obat kumur (1%), sebagai pencuci tangan sebelum operasi. Larutan 10% dapat mengurangi populasi kumat sampai 85%, efektif untuk satu jam
dan kembali ke populasi normal setelah 8 jam. Warna cokelat gelap dan baunya merupakan sifat obat ini yang kurang menguntungkan (Tjay, 2007).
Kompleks iodofor ini mudah larut dalam ar dan mudah dicuci dan kulit atau pakaian, bersifat lebih stabil karena tidak menguap dan kerjanya lebih panjang daripada iod karena sifat-sifatnya ini tingtur povidone-iod 10% dengan kadar iod bebas 1% telah menggantikan tingtur iodium konvensional. Penggunaannya terutama untuk desinfeksi kulit dalam bentuk tingtur, sabun cair, salep krim, lotion dan bedak tabur. Digunakan pula sebagai obat kumur mulut dan tenggorokan. Kadarnya yang biasa digunakan adalah 7,5% povidon-iod, yang ekivalen dengan kurang lebih 10% iod (Tjay, 2007).
Povidone iodine bersifat bakteriostatis dengan kadar 640μg/ml dan bersifat bakteri sid pada kadar 960 μg/ml. Dalam 10% povidone iodine mengandung 1% iodium yang mampu membunuh bakteri dalam 1 menit dan membunuh spora dalam waktu 15 menit. Mekanisme kerja povidone iodine dimulai setelah kontak langsung dengan jaringan maka elemen iodine akan dilepaskan secara perlahan-lahan dengan aktifitas menghambat metabolisme enzim bakteri sehingga mengganggu multiplikasi bakteri yang mengakibatkan bakteri menjadi lemah. Iodine dalam jumlah yang kecil diserap masuk ke dalam aliran darah, sehingga