PHENOLFORMALDEHYDA, Widija Suseno Widjaja, Ir.
Morisco, Ph.D. dan Dr. Ir. R. Soekrisno, MSME., Mahasiswa S2 Struktur (4471/I-1/142/92) lulus 28 Maret 1995 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku mekanika dari balok struktur komposit lamina bambu dan perekat phenol formaldehida yang
meliputi perilaku tarik (tension properties), perilaku tekan (compression
properties), perilaku lentur (flexural properties) dan perilaku geser (shear properties). Standar pengujian yang dipakai adalah standar Inggris (British Standard = BS) no. 373/1957 yang hingga sekarang masih dipakai sebagai pedoman pengujian kayu, dan belum ada standar yang lebih baru.
Untuk mengetahui perilaku mekanika bambu komposit, ditinjau 3
faktor pengaruh yang dominan, yaitu jenis bambu, perekat terlabur (glue
spread) dan jumIah nodia tiap meter panjang bambu. Bambu yang diuji ada 2
jenis, yaitu bambu Petung dan bambu Ori: Perekat terlabur (glue spread) yang
digunakan ada 3 macam, yaitu glue spread 60 #/MSGL, glue spread 45
#/MSGL dan glue spread 30 #/MSGL. Jumlah nodia tiap meter panjang
dibedakan menjadi tiga posisi yaitu posisi pangkal, dengan 4 nodia, posisi tengah, dengan 3 nodia, posisi ujung, dengan 2 nodia. Selain itu juga diteliti mengenai besarnya kadar air dan berat jenis dari bambu komposi, yang erat hubungannya dengan kekuatan mekanika bambu. Setiap per1akuan diadakan ulangan tiga ka1i.
Hasi1 penelitian ini diana1isa dengan menggunakan rancangan eksperimen faktorial 2 x 3 x 3 x 3 sehingga setiap perilaku didapatkan 72 pengamatan, yang terdiri dari bambu murni dan bambu komposit. Untuk melihat pengaruh faktor jenis bambu, faktor perekat terlabur dan faktor jumlah nodia serta interaksi-interaksinya disusun daftar analisis varian. Dari analisis varian dapat diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap masing-masing perilaku mekanika bambu komposit. Pengaruh nyata masing-masing faktor
dapat diketahui dengan pengujian lanjutan yaitu uji LSD (Least Significant
Difference). Hasilnya memperlihatkan bahwa pada pengujian tarik, pengaruh
yang dominan adalah jumlah nodia, nilai rata-rata kekuatan tarik untuk 4 nodia
= 104,019 N/mm2, untuk 3 nodia = 114,256 N/mm2, untuk 2 nodia = 139,780
N/mm2. Untuk pengujian tekan pengaruh yang dominan adalah jenis bambu,
nilai rata-rata kekuatan tekan untuk jenis bambu Petung = 49,906 N/mm2,
bambu Ori = 36,010 N/mm2. Untuk pengujian lentur, pengaruh yang dominan
adalah jenis bambu dan perekat terlabur (glue spread), ni1ai rata-rata kekuatan
B- TESIS
Sedangkan untuk glue spred 60 #/MSGL= 61,376 N/mm2, glue spred 45
#/MSGL = 42,765 N/mm2, glue spred 30 #/MSGL = 43,030 N/mm2. Untuk
pengujian geser, pengaruh yang paling dominan adalah jenis bambu dan
perekat terlabur (glue spred), nilai rata-rata kekuatan geser untuk bambu
Petung = 2,134 N/mm2 dan bambu Ori = 4,284 N/mm2. Sedangkan untuk glue
spred 60 #/MSGL = 4,204 N/mm2, glue spred 45 #/MSGL = 2,316 N/mm2 dan glue spred 30 #/MSGL 3,054 N/mm2.
2
Widianto, Ir. Morisco, Ph.D. dan Dr. Ir. R. Soekrisno, MSME.,MEKANIK BETON DENGAN FIBER BAMBU, David Mahasiswa S2 Struktur (4473/1-1/144/92) lulus 26 Mei 1995Penelitian tentang beton yang diperkuat dengan fiber (fiber reinforced
concrete) sudah banyak dilakukan, tetapi yang menggunakan fiber bambu
sebagai bahan campuran beton masih sangat sedikit, padahal bambu mempunyai kuat tarik sekitar empat kali baja lunak dan pula bambu sangat mudah didapatkan di Indonesia.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis beton yang diperkuat dengan fiber bambu, diantaranya kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur dan ketahanan terhadap impak. Fiber yang digunakan dari bambu Apus
(Gigantochloa Apus Kurz) disayat tipis–tipis dengan ukuran panjang 60 mm
diameter 1 mm. Untuk uji kuat tekan digunakan benda uji silinder dengan
diameter 150 mm tinggi 300 mm, uji kuat tarik dengan tensile splitting
cylinder diameter 80 mm panjang 160 mm, uji kuat lentur dengan balok beton
ukuran 100 mm x 100 mm x 500 mm dan untuk pengujian impak digunakan benda uji silinder beton diameter 150 mm tinggi 65 mm. Campuran volume fiber digunakan 0,5 %, 1 %, 2 % dan 3 %, yang dibandingkan dengan beton tanpa fiber (beton normal).
Fiber bambu termasuk bahan alami, tidak dapat untuk penggunaan jangka panjang, sebab dapat mengalami penyusutan dan menjadi rapuh untuk jangka waktu tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan : (a) semakin tinggi
konsentrasi fiber, workability semakin berkurang, (b) beton fiber 1 %
meningkatkan kuat desak 14,52 % dan beton fiber 3 % mengurangi kuat desak 3,23 % dari beton normal, (c) beton fiber 0,5 % meningkatkan kuat tarik 12,29 %, (d) beton fiber 0,5 % meningkatkan ketahanan impak 52,58 %, (e) beton
fiber 3 % meningkatkan Toughness Index 238 %. Dengan penambahan fiber
bambu dapat meningkatkan daktilitas beton, pada penelitian ini penambahan fiber bambu 3 % pada beton menunjukkan paling tinggi daktilitasnya, sehingga makin banyak fiber beton makin tinggi daktilitasnya.
TESIS B-
3
FRAMEAPLIKASI BAMBU PADA STRUKTUR GABLE , Pathurahman, Ir. Morisco, Ph.D. dan Dr. Ing. Ir.Andreas Triwiyono, Mahasiswa S2 Struktur (25006012)
lulus tahun 1998 Permintaan kayu sebagai bahan konstruksi selalu meningkat, padahal ketersediaannya semakin terbatas. Penggunaan kayu yang memiliki usia tebang pendek (10-15 tahun) sebenarnya merupakan jalan keluar, namun jenis kayu ini umumnya berkualitas kurang baik. Bambu merupakan jenis kayu yang memiliki kuat tarik sampai 254 MPa. Dengan kuat-tarik yang cukup tinggi tersebut, maka jika bilah-bilah bambu diuntai dan difungsikan sebagai semacam tendon, diberi lintasan terntentu, dan diberikan gaya tarik awal, maka secara teoritis dapat memperbesar daya dukung balok. Atas dasar pemikiran tersebut, penelitian ini dilakukan dengan membuat balok pratekan kayu mahoni dan tendon dari bambu apus.
Benda uji dibuat 9 buah berukuran 60mm x 100mm x1000mm dengan tendon bambu diameter 10 mm, sebagai pembanding dibuat balok uji kayu mahoni non pratekan 3 buah. Ujung tendon bambu dipegang dengan klem penjepit dari pipa baja yang diberi mur f 3/8 inch. Pengujian dilakukan di laboratorium Mekanika Bahan, PAU-IT, UGM Jogjakarta, yaitu dengan menggunakan alat Universal Testing System. Metode pengujian load controlled dengan kecepatan 5 mm/menit. Hasil pengujian menunjukkan, bahwa beban maksimum bertambah rata-rata sebesar 18 %, 33% dan 51 % yaitu dari 21385 N menjadi 25135 N, 28588 N , dan 32267 N setelah diberi gaya prategang tendon bambu dengan tegangan awal 0 %, 25 %, dan 50 %. Kekakuan balok juga bertambah rata-rata sebesar 4,11 %, 14,37%, dan 15,67%, yaitu dari 1384 N/mm menjadi 1441 N/mm, 1589 N/mm dan 1601 N/mm. Dari analisis diperoleh bahwa, perbandingan momen lentur elastic teoritis dan hasil pengujian adalah 1,386 : 1,000 untuk balok kayu mahoni non pratekan, dan 1,188: 1,000 untuk balok kayu pratekan. Hasil di atas menunjukkan bahwa, penerapan teknologi pratekan ternyata meningkatkan daya dukung balok kayu secara cukup signifikan. Teknologi ini dapat digunakan untuk meningkatkan daya dukung kayu yang yang memiliki kualitas kurang baik.
B- TESIS
4
UNTUK LANTAI GEDUNG, PEMANFAATAN KOMPOSIT BAMBU-BETON Gatot Setya Budi, Ir. Morisco,Ph.D. dan Dr. Ing. Ir. Andreas Triwiyono, Mahasiswa S2 Struktur (12866/I-1/1203/99) lulus 3 Agustus 2001 Meningkatnya harga bahan bangunan dewasa ini membuat biaya pembangunan gedung menjadi meningkat. Untuk menekan biaya pembangunan tersebut salah satunya dengan mengadakan komponen lantai yang relatif lebih murah dan ringan. Struktur gabungan bambu dan beton diperkenalkan sebagai struktur lantai komposit dimana antara bambu dan beton disatukan dengan penghubung geser.
Dalam penelitian ini akan diteliti kuat batas struktur komposit bambu- beton untuk lantai gedung. Penelitian ini meliputi penelitian sifat fisik dan
mekanik bambu, pengujian lentur bambu isian, pengujian geser baut shear
connector pengujian plat bertulangan bambu, serta pengujian model lantai
komposit. Bambu yang digunakan adalah bambu Wulung. Pada pengujian
geser baut sebagai shear connector, baut yang diuji berdiameter W' dan %",
dengan 2 benda uji untuk masing-masing diameter. Pada pengujian plat beton bertulangan bambu dibuat 3 buah benda uji plat dengan panjang 750 mm, lebar 500 mm serta tebal 50 mm. Pengujian modellantai komposit bambu-beton digunakan benda uji sebanyak 2 buah. Plat lantai beton komposit terletak diatas dua tumpuan sederhana (sendi rol), dengan bentang 3000 mm, lebar 750 mm serta tebal 50 mm. Pengujian dilakukan dengan uji tekan monotonik dua buah beban titik dan lendutan yang terjadi diukur menggunakan dial gauge. Dalam pengujian lantai komposit bambu beton diamati lendutan, retak pertama
dan beban hidup yang dapat didukung Pada pengujian geser baut sebagai shear
connector, Pijin (beban ijin) ditentukan dari Pmaks12,75 bukan PJ,5. Dalam
pengujian plat bertulangan bambu didapat Per (beban pada saat terjadi retak
pertama) teori 5,89 kN dan Per eksperimen lebih tinggi 16,08 % dari Per teori.
Hasil pengujian lantai komposit bambu beton menunjukan bahwa retak pertama benda uji 1 dan benda uji 2 berturut-turut terjadi pada lendutan 4,74
mm dan 5,21 mm dengan Pcr sebesar 5,05 kN dan 4,50 kN (termasuk beban
berat sendiri). Kedua lendutan tersebut lebih besar dari ~50 (4 mm). Analisa Pcr teori dengan metode tampang transformasi sesuai dengan SK SNI-TI5-
1991-03 pada benda uji 1 dan benda uji 2 menghasilkan Pcr berturut-turut
sebesar 7,71 kN dan 7,68 kN. Beban hidup yang dapat ditahan lantai komposit bambu beton adalah 1,34 kN/m2. Dari hasil pengujian plat lantai, dengan
beban hidup 2 kN/m2 dan untuk beton fc '=10 MPa untuk diameter bambu 80
mm, 90 mm dan 100 mm diperlukanjarak antar bambu berturut-turut lebih kecil dari 15 cm, 25 cm dan 40 cm.
TESIS B-