• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PERILAKU PASANGAN MUSLIM DAN

C. Perilaku Pasangan

1. Pengertian Perilaku Pasangan

Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2010: 20), perilaku manusia pada dasarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, dan sikap. Namun demikian, sulit dibedakan atau disimpulkan gejala kejiwaan mana yang menentukan perilaku seseorang. Karena itu Skinner seorang ahli psikologi yang dikutip oleh Soekidjo Notoatmodjo (2010: 21) mendefinisikan perilaku sebagai respons atau reaksi seseorang terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar. Teori ini selanjutnya dikenal dengan teori “S-O-R” yaitu Stimulus Organisme Respons. Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendefinisikan perilaku sebagai “tanggapan atau reaksi seseorang atau individu terhadap rangsangan atau lingkungan” (Hasan Alwi, 2005: 859). Sementara itu, berkaitan dengan pasangan, didefinisikan sebagai seorang perempuan bagi seorang laki-laki atau sebaliknya (Hasan Alwi, 2005: 882).

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan perilaku pasangan adalah segala perbuatan atau tanggapan atas respons yang diberikan atau dilakukan suami kepada istri atau istri kepada suami.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Soekidjo Notoatmodjo (2010: 12) memaparkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, yakni faktor personal dan faktor situasional. Kedua faktor ini saling berkaitan satu dengan lainnya. Berikut ini penjelasannya:

a. Faktor Personal

Faktor personal adalah faktor yang datang dari dalam dan merupakan faktor bawaan (given) diri individu yang meliputi faktor biologis dan faktor sosiopsikologis.

1) Faktor biologis

Dalam diri setiap manusia terdapat DNA (Asam deoksiribonukleat) yang menyimpan seluruh memori warisan biologis yang diterima dari kedua orang

tuanya (materi genetik). Warisan ini sedemikian penting, karena tidak hanya membawa warisan fisiologis dari para generasi sebelumnya, melainkan juga membawa warisan perilaku dan kegiatan manusia termasuk agama dan kebudayaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perilaku atau kegiatan manusia merupakan warisan struktur biologis dari orang tuanya atau yang menurunkannya. Faktor biologis yang merupakan struktur DNA tertentu akan mendorong perilaku manusia antara lain kebutuhan fisiologis, yakni makan, minum, dan seks (Notoatmodjo, 2010: 13).

2) Faktor sosiopsikologis

Sebagai makhluk sosial, manusia memperoleh beberapa karakter tertentu akibat proses sosialnya. Karakter itu dapat dikategorikan dalam tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif (Notoatmodjo, 2010: 15). Berikut pemaparannya:

฀ Komponen kognitif adalah aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui, dipikirkan, dipahami, dan diingat oleh manusia.

฀ Komponen afektif merupakan aspek emosional, yang meliputi: motif sosiogenesis, sikap, dan emosi. Motif sosiogenesis adalah motif sekunder yang dapat mempengaruhi perilaku sosial manusia. Sedangkan sikap yaitu kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek atau situasi. Emosi yaitu kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keperilakuan dan proses fisiologis.

฀ Komponen konatif merupakan faktor yang berhubungan dengan kebiasaan kemauan bertindak (aspek volisional).

b. Faktor Situasional

Faktor situasional adalah faktor lingkungan di mana manusia itu berada atau bertempat tinggal, baik itu lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Faktor-faktor tersebut merupakan kondisi objektif di luar manusia yang dapat mempengaruhi perilaku manusia (Notoatmodjo, 2010: 17).

3. Bentuk Perilaku

Berdasarkan teori Skinner yang dikutip oleh Notoadmojo (2010: 21), perilaku manusia merupakan respons terhadap rangsangan yang diterimanya, dan karena itu perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior).

a. Perilaku Tertutup (Covert Behavior)

Perilaku tertutup merupakan respons atau reaksi terhadap stimulus yang masih terbatas pada perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain (Notoatmodjo, 2010: 22).

b. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Perilaku terbuka merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsang yang diterimanya, yang dapat diamati atau dilihat orang lain. respons atau reaksi tersebut dalam bentuk tindakan atau praktik.

4. Domain Perilaku

Perilaku adalah keseluruhan atau totalitas pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara faktor personal dan situasional. Perilaku seseorang sangat kompleks, dan mempunyai bentangan yang sangat luas. Benyamin Bloom seorang ahli psikologi pendidikan yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010: 26), membedakan domain perilaku menjadi tiga, yakni pengetahuan, sikap, dan tindakan atau praktik. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya. Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap telah melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain. Tindakan adalah segala bentuk perwujudan dari sikap dan pengetahuan yang dimiliki oleh individu.

5. Teori Perilaku

Teori perilaku yang digunakan untuk menjelaskan perilaku pasangan dan perwujudan hidup beriman dalam penelitian ini adalah Teori ‘ABC’ (Antecedent Behavior Concequences). Sulzer, Azaroff, dan Mayer yang dikutip oleh Soekidjo Notoatmodjo (2010: 73), mengemukakan bahwa perilaku merupakan suatu proses dan sekaligus hasil interaksi antara AntecedentBehaviorConcequences.

Antecedent adalah suatu pemicu (trigger) yang berupa orang, tempat, sesuatu, atau kejadian di lingkungan yang datang sebelum perilaku terbentuk. Pemicu ini akan mendorong seseorang melakukan sesuatu atau berkelakuan tertentu. Karakteristik utama dari antecedent adalah selalu ada sebelum perilaku terbentuk,

menyediakan informasi tertentu, dan selalu berpasangan dengan consequences. Sementara itu, consequences yang muncul bisa jadi merupakan antecedent, dan

antecedent tanpa diikuti oleh consequences mempunyai dampak jangka pendek

(Notoatmodjo, 2010: 74).

Behavior adalah reaksi atau tindakan terhadap antecedent atau pemicu yang berasal dari lingkungan. Perilaku ada yang dapat diamati dan ada yang tidak dapat diamati. Perilaku yang dapat diamati misalnya senyum, makan, minum, berjalan, menangis, berbicara dan sebagainya. Perilaku yang tidak dapat diamati misalnya berpikir, berfantasi, bersikap dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010: 20).

Concequences adalah kejadian selanjutnya atau konsekuensi yang mengikuti perilaku atau tindakan. Bentuk konsekuensi bisa positif dan negatif. Konsekuensi positif berupa penerimaan atau dukungan, sedangkan konsekuensi negatif berupa penolakan atau hambatan. Secara umum, orang cenderung mengulangi perilaku yang membawa hasil atau konsekuensi positif dan menghindari perilaku yang memberikan hasil atau konsekuensi negatif (Notoatmodjo, 2010: 75).

6. Pengukuran Perilaku Pasangan Muslim

Bentuk operasional domain atau ranah utama perilaku manusia meliputi domain pengetahuan, sikap, dan tindakan atau praktik. Karena itu, pengukuran perilaku pasangan muslim terhadap pasangan Katolik dilakukan berdasarkan ketiga domain tersebut. Pengukuran ini merupakan hasil penyesuaian dari pengukuran perilaku kesehataan yang dikemukakan oleh Soekidjo Notoatmodjo (2010: 140) berikut ini:

Pengetahuan adalah hal yang diketahui oleh pasangan perkawinan beda agama terkait dengan perkawinan beda agama, yang mencakup: hakikat, tujuan, dan sifat hakiki perkawinan, tugas dan tanggungjawabnya dari pasangan perkawinan beda agama. Yang dimaksud pasangan perkawinan beda agama adalah pasangan yang tidak baptis dari perkawinan beda agama atau pasangan muslim.

Sikap adalah bagaimana penilaian pasangan perkawinan beda agama terhadap

hal yang terkait dengan perkawinan beda agama. Sikap itu dapat berupa setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang, mendukung atau menghambat.

Tindakan adalah perbuatan pasangan perkawinan beda agama terkait dengan

perkawinan beda agama yang dijalaninya. Tindakan dapat berupa dukungan atau hambatan bagi perwujudan hidup beriman pasangan Katolik.

Dokumen terkait