• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PERILAKU PASANGAN MUSLIM DAN

A. Kajian Umum Perkawinan

4. Perkawinan Beda Agama

a. Pengertian Perkawinan Beda Agama

Sebagian umat Katolik masih sering memiliki pemahaman yang ‘rancu’ antara perkawinan campur dan perkawinan beda agama. Mereka masih sering menyamakan kedua istilah tersebut. Kadang untuk membedakannya mereka menggunakan istilah ‘perkawinan campur beda agama’ untuk menunjuk perkawinan antara seorang Katolik dan non baptis dan ‘perkawinan campur beda Gereja’ untuk menunjuk perkawinan antara seorang Katolik dan seorang baptis non Katolik. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kawin campur digunakan untuk menunjuk perkawinan antara dua orang yang memiliki agama yang berbeda.

Berkaitan dengan perkawinan campur, Gereja memiliki pemahaman yang berbeda dengan pemahaman masyarakat pada umumnya. Paham ini ditegaskan sebelum Konsili Vatikan II yaitu melalui KHK 1917 kanon 1060:

Severissime Ecclesia ubique prohibet ne matrimonium ineatur dua personas baptizatas, quarum altera sit catholica, altera vero sectae haereticae seu schismaticae adscripta; quod si adsit, perversionis periculum coniugis catholici et prolis, coniugum ipsa etiam lege divina vetatur.

Rubiyatmoko (2011b: 7) menerjemahkan KHK 1917 kanon 1060 demikian: Dengan sangat keras Gereja dimanapun melarang perkawinan yang dilakukan antara dua orang baptis, yang satu dibaptis Katolik dan yang lain menjadi anggota Gereja heretik atau skismatik; hal itu akan menjadi bahaya penyimpangan bagi mempelai Katolik dan anak-anak dan mempelai itu dilarang oleh hukum ilahi itu sendiri.

Perkawinan campur yang dimaksud dalam KHK 1917 kanon 1060 ini adalah perkawinan antara seorang yang dibaptis Katolik dengan seorang yang dibaptis bukan Katolik. Perkawinan seperti ini dilarang ‘dengan sangat keras’ oleh Gereja Katolik, karena orang baptis non Katolik tidak berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, seperti yang ditegaskan dalam KHK 1983 kanon 205. Setelah Konsili Vatikan II, melalui NA, DH, dan UR, Gereja merumuskan pelarangan tersebut dalam KHK 1983 kanon 1124. Gereja tidak lagi mengatakan melarang ‘dengan sangat keras, melainkan dibutuhkan izin dari otoritas yang berwenang. Dengan demikian menjadi lebih jelas bahwa istilah perkawinan campur yang dipahami masyarakat, berbeda dengan paham Gereja.

Pasal 57, UU RI No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, mendefinikan perkawinan campur sebagai berikut: “yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan, salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia”. Dari norma tersebut tampak bahwa UU Perkawinan di Indonesia tidak mengenal perkawinan beda agama. Yang ada hanyalah perkawinan campuran antara dua orang yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Kenyataan seperti inilah yang kiranya mempengaruhi munculnya pandangan-pandangan yang berbeda pada masyarakat

umum di Indonesia. Misalnya, pandangan Hariyanto, yang dikutip oleh Mohammad Monib (2009: 112) berikut ini:

Dalam arti luas, perkawinan beda agama adalah perkawinan antara orang yang dipermandikan dengan orang yang tidak dipermandikan, tak peduli apa pun agamanya atau bahkan tak beragama. Beda agama disebut dengan disparitas cultus, sebagaimana disebut dalam KHK 1983 kanon 1129. Tiadanya permandian (baptisan) ini merupakan penghalang bagi penganut Katolik untuk menikah secara sah. Untuk dapat menikah dengan orang bukan Katolik, seseorang harus memperoleh dispensasi.

Menurut Mohammad Monib (2009: 113), perkawinan beda agama mencakup perkawinan antara penganut Katolik dan penganut Buddha, Hindu, atau Islam. Karena ketiga agama ini tidak mengenal adanya pembaptisan atau permandian. Sementara itu, Piet Go (1987b: 59) memaparkan bahwa kategori orang yang tidak baptis menyangkut katekumen, simpatisan, penganut aneka agama non Kristen, sekte-sekte dan bahkan orang tak beragama maupun ateis, yang mempunyai keyakinan masing-masing dalam hal perkawinan dengan segala akibatnya. Untuk orang-orang seperti itu, KHK 1983 kanon 1086 menggunakan istilah ‘orang yang tidak dibaptis’.

Di tengah ketidakjelasan pemahaman mengenai perkawinan beda agama tersebut di atas, Gereja Katolik menegaskan perbedaan antara perkawinan beda agama dan perkawinan campur, sebagaimana dapat disimak dalam KHK 1983 kanon 1086 dan 1124. Kanon 1086 menyatakan bahwa perkawinan beda agama adalah “Perkawinan antara dua orang, yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya, sedangkan yang lain tidak dibaptis”. Perkawinan ini juga biasa disebut dengan istilah perkawinan disparitas cultus. Sementara itu perkawinan campur adalah “Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya

setelah baptis, sedangkan pasangan yang lain menjadi anggota Gereja atau komunitas gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik” (KHK 1983 kanon 1124). Perkawinan ini juga dikenal dengan istilah perkawinan mixta religio. Secara yuridis perkawinan beda agama (disparitas cultus) bukan perkawinan sakramental dan ikatannya bersifat natural saja karena dilaksanakan oleh orang yang salah satunya tidak dibaptis (Rubiyatmoko, 2011a: 131). Sebab itu, demi sahnya (ad validitatem) dan layaknya (ad liceitatem) perkawinan itu, Pastor atas nama calon pasangan perkawinan beda agama akan memintakan dispensasi atas halangan tersebut kepada Ordinaris Wilayah (Uskup, Vikjend, dan Vikep) setelah dipenuhi syarat-syarat yang diperlukan.

Dengan memberikan izin bagi perkawinan beda gereja dan dispensasi bagi perkawinan beda agama, Gereja berusaha memberikan jalan keluar bagi kedua belah pihak untuk dapat menikah meski dalam perbedaan iman dan keyakinan dengan tetap berpegang pada agama dan keyakinan masing-masing. Hal ini ditegaskan dalam KHK 1983 kanon 1058 berikut: “Semua orang dapat melangsungkan perkawinan, sejauh tidak dilarang hukum”. Melalui kanon tersebut, Gereja menandaskan bahwa menikah merupakan hak asasi dan fundamental manusia. Hak ini meliputi juga hak untuk melangsungkan pernikahan dan memilih calon pasangan hidupnya secara bebas. Namun, hak ini tidaklah absolut dan tanpa batas serta dapat dilaksanakan semaunya. Karenanya, pelaksanaan hak asasi untuk menikah perlu diatur oleh hukum, mengingat adanya alasan-alasan yang secara objektif berat dan masuk akal, baik natural maupun manusiawi untuk menghalangi beberapa perkawinan demi tujuan-tujuan yang

lebih besar, dapat dilihat dalam KHK 1983 kanon 1073-1094 (Rubiyatmoko, 2011a: 27).

b. Syarat Keabsahan Perkawinan Beda Agama

KHK 1983 kanon 1057 §1 menyatakan bahwa “Kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orang-orang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan; kesepakatan itu tidak dapat diganti oleh kuasa manusiawi manapun”. Dari rumusan kanon ini menjadi jelas bahwa validitas atau keabsahan sebuah perkawinan ditentukan sekaligus oleh tiga unsur berikut ini: materia sacramenti, forma sacramenti dan forma canonica/publica.

Yang dimaksudkan dengan materia sacramenti adalah subjek nikah. Subjek nikah sah adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mampu menurut hukum. Mampu menurut hukum berarti bahwa subjek nikah tersebut tidak terkena halangan nikah yang menggagalkan perkawinan (impedimentum dirimens), sebagaimana dinormakan dalam KHK 1983 kanon 1083-1094. Salah satu halangan nikah tersebut adalah halangan nikah beda agama atau disparitas cultus (KHK 1983 kanon 1086). Agar dapat menikah sah, halangan-halangan nikah dimintakan dan diberikan dispensasi (Catur Raharso, 2006: 179-180).

Forma sacramenti atau kesepakatan nikah (consensus coniugalis) yang membuat perkawinan sah adalah kesepatakan nikah yang memiliki ketiga sifat sekaligus, yaitu “sungguh-sungguh” (consensus verus), “total” (consensus plenus) dan “bebas” (consensus liber). KHK 1983 kanon 1057 §2 menyatakan bahwa kesepakatan nikah adalah tindakan kemauan, dengannya seorang laki-laki dan

seorang perempuan saling menyerahkan diri dengan perjanjian yang tidak dapat ditarik kembali. Tindakan kemauan ini mengandaikan adanya kebebasan kehendak dari kedua pasangan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup (consortio totius vitae). Karena itu kesepakatan nikah bersifat sungguh-sungguh, dalam arti tidak ada kepura-puraan (KHK 1983 kanon 1101 §1); bersifat total, dalam arti tidak ada satu unsur hakiki perkawinan yang dikecualikan (KHK 1983 kanon 1101 §2); dan bersifat bebas, yakni tidak ada keterpaksaan dan ketakutan berat yang berasal dari luar dirinya (KHK 1983 kanon 1103).

Forma canonica atau forma publica adalah bentuk tata peneguhan yang

dituntut untuk sahnya perkawinan. Perkawinan seorang Katolik hanya sah kalau dilakukan dihadapan otoritas yang berwenang dan dua orang saksi. KHK 1983 kanon 1108 menegaskan bahwa yang dimaksudkan otoritas yang berwenang ini adalah Ordinaris Wilayah dan Pastor Paroki atau orang yang mendapatkan mandat dari salah satu dari mereka. Yang terikat forma canonica ini adalah setiap orang yang dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya, bahkan juga orang

Katolik yang telah meninggalkan iman dan Gereja Katolik (KHK 1983 kanon 1117). Perkawinan orang Katolik yang dilaksanakan di luar tata

peneguhan kanonik (forma canonica) adalah tidak sah (Rubiyatmoko, 2011a: 111). Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa keabsahan sebuah perkawinan beda agama ditentukan oleh ketiga unsur di atas. Karena itu perkawinan beda agama hanyalah sah bila dilaksanakan antara seorang baptis Katolik dan seorang non baptis setelah mendapatkan dispensasi dari halangan nikah beda agama dari Ordinaris Wilayah. Dispensasi ini merupakan sebuah pelonggaran hukum yang diberikan oleh otoritas yang berwenang dalam kasus khusus (KHK 1983

kanon 85). Tentu saja dispensasi tersebut hanya diberikan dengan alasan yang wajar dan masuk akal menurut keadaan kasus dan bobot hukumnya, seperti yang dinormakan dalam KHK 1983 kanon 90 §1.

Catur Raharso (2006: 179) mengemukakan, dengan diberikan dispensasi, Gereja menuntut kepada pasangan Katolik agar perkawinan dirayakan menurut tata-peneguhan kanonik, tanpa mengharuskan yang tidak baptis berpindah agama. Hal ini dilakukan karena Gereja Katolik sangat menghormati ketentuan hukum kodrat bahwa tak seorang pun pernah boleh memaksa orang lain untuk berpindah agama atau keyakinan iman, sekalipun ke iman Katolik, bila hal itu bertentangan dengan suara hati yang bersangkutan. Gereja Katolik terikat sepenuhnya oleh ketentuan tersebut, yang telah digariskan dalam hukum kanonik. Dikatakan bahwa “Tak seorang pun boleh memaksa orang untuk memeluk iman Katolik melawan hati nuraninya” (KHK 1983 kanon 784 §2; bdk. DH 2).

Dispensasi halangan nikah beda agama hanya akan diberikan setelah dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam KHK 1983 kanon 1125-1126, sebagai berikut:

Syarat pertama, pasangan Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya

meninggalkan iman (KHK 1983 kanon 1125.10). Janji yang dibuat oleh pasangan Katolik bukan hanya bersedia tidak meninggalkan imannya, bahkan juga bahaya-bahaya yang menjurus ke situ. Janji ini mungkin tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan karena janji ini terutama menyangkut pribadinya sendiri, dan pihak lain tidak berhak memaksanya berbuat melawan suara hatinya, apalagi dalam hidup iman. Namun demikian, tantangan untuk mempertahankan iman dalam keluarga kawin beda agama sangatlah besar, karena masing-masing pasangan yakin akan kebenaran ajaran agamanya, dan

mempunyai keinginan atau harapan agar pasangannya mengikuti kebenaran tersebut.

Syarat kedua, pasangan Katolik memberikan janji yang jujur bahwa ia akan

berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik (KHK 1983 kanon 1125.10). Isi janji adalah kesediaan ikhlas untuk berusaha sekuat tenaga (membuat segala sesuatu) untuk membaptiskan semua anaknya dalam Gereja Katolik. Janji ini jauh lebih rumit dan sulit untuk direalisasikan dari pada janji yang pertama, karena janji ini juga dengan sendirinya merupakan hak dan kewajiban pasangan tidak baptis (sebagai suami atau istri) untuk juga mendidik anak-anaknya sesuai dengan keyakinannya. Hambatan lain untuk mewujudkan janji ini adalah adanya pendapat yang membela kebebasan anak untuk memilih sendiri agamanya, dan karena itu tidak boleh dipilihkan oleh orang tuanya.

Syarat ketiga, untuk selanjutnya janji pasangan Katolik ini diberitahukan

kepada pasangan tidak baptis, dengan maksud agar pasangan tidak baptis mengetahui dan memahami kewajiban pasangan Katolik. Dalam hal ini, tidak ada keharusan bahwa pasangan tidak baptis menyetujui semua janji yang dibuat pasangan baptis. Sebaliknya kegagalan memenuhi janji oleh pasangan Katolik tidak menggagalkan perkawinan (KHK 1983 kanon 1125. 20).

Syarat keempat, kedua belah pihak yaitu yang Katolik dan tidak baptis harus

mengikuti kursus persiapan perkawinan, dimana dalam kursus tersebut diajarkan hal-hal mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan (KHK 1983 kanon 1125. 30).

c. Alasan-alasan Menikah Beda Agama

Fakta di Paroki Wates menunjukkan bahwa perkawinan antara pasangan Katolik dengan pasangan muslim cukup tinggi dibandingkan dengan Paroki Sedayu dan Paroki Nanggulan. Alasan tingginya jumlah perkawinan tersebut tidak mudah untuk ditemukan jawabannya, mengingat perkawinan adalah hak pribadi masing-masing individu. Banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya perkawinan beda agama. Mgr. V. Kartasiswaya, Pr (1987: 10), menyebutkan beberapa alasan penyebab tingginya perkawinan beda agama antara lain sebagai berikut:

฀ Semangat hidup iman sebagian besar orang Katolik sendiri terutama muda-mudi semakin menurun. Bersikap acuh tak acuh, santai dan kurang militan terhadap iman kepercayaannya.

฀ Sikap pastoral Gereja sekarang lebih terbuka. Gereja mudah memberikan izin atau dispensasi, kurang keras dan lebih fleksibel. Situasi ini mungkin disebabkan hasil Konsili Vatikan II tentang Kebebasan Agama (DH 1-15; bdk. NA 1-5; UR 2-4; LG 14-16). Dokumen-dokumen tersebut menjunjung tinggi hati nurani dan kebebasan beragama setiap individu.

฀ Umat Katolik merupakan minoritas dalam masyarakat. Maka di banyak tempat/daerah orang Katolik tidak berhasil menemukan jodoh yang seagama. ฀ Kemajemukan masyarakat Indonesia yang mewarnai seluruh pergaulan dan

perkembangan masyarakat yang semakin terbuka. Jatuh cinta secara tidak terduga bisa saja terjadi dalam pergaulan di sekolah, tempat kerja, kampung, tugas di luar daerah, perkumpulan muda-muda, dan lewat dunia maya.

฀ MBA (Married by Accident), sehingga perbedaan agama untuk sementara dikesampingkan.

฀ Praduga yang menyatakan bahwa kawin dengan orang seiman (Katolik) belum tentu menjamin kebahagiaan, karena banyak juga perkawinan antar orang Katolik yang gagal dan tidak harmonis.

B. Perwujudan Hidup Beriman Pasangan Katolik

Dokumen terkait