BAB V. PENUTUP
B. Saran
Ketika pasangan Katolik berkeputusan untuk melangsungkan perkawinan dengan pasangan muslim, tentu sudah melalui proses pemikiran yang panjang dan matang. Keputusan tersebut mestinya dilandasi kesadaran tinggi atas perbedaan yang dimiliki masing-masing pasangan. Perkawinan ini bukan hanya mengandalkan cinta kasih yang tumbuh diantara mereka, melainkan menuntut sikap dan kepribadian dewasa, sikap selalu bersedia berdialog, dan toleransi terhadap agama pasangannya. Untuk itu penulis akan memberikan beberapa saran sebagai berikut ini yang dapat dijadikan bahan pertimbangan:
Pertama, setiap pasangan dengan caranya masing-masing, senantiasa menjalin relasi intim dengan Allah melalui doa, baik secara pribadi maupun bersama. Doa menjadi sarana yang tepat bagi setiap keluarga untuk mengungkapkan syukur dan permohonan, menyerahkan segala persoalan hidup berkeluarga, dan menimba kekuatan baru. Melalui doa, anggota keluarga diharapkan saling meneguhkan, menguatkan, dan mengembangkan satu dengan yang lain demi terwujudnya cita-cita dan tujuan hidup berumahtangga.
Kedua, Gereja tidak bisa menutup mata terhadap realitas yang ada. Jika mengacu pada KHK 1983 kanon 1063, Gereja bertanggungjawab untuk mendampingi atau memberikan reksa pastoral bagi keluarga-keluarga dalam kondisi khusus, khususnya mereka yang hidup dalam perkawinan beda agama
seperti yang terjadi di Paroki Wates. Pastor Paroki bersama dengan Dewan Parokinya, dan Tim Kerja Pendampingan Keluarga Katolik (TKPKK) bertanggungjawab untuk mengadakan pendampingan. Pendampingan dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, sehingga diharapkan perwujudan hidup beriman pasangan Katolik menjadi kuat, tangguh, dan mendalam. Pendampingan keluarga dapat dipersiapkan dalam empat tahap, yakni pastoral jangka jauh, jarak dekat, saat perkawinan, dan pasca perkawinan. Di Paroki Wates, pastoral jangka jauh sebagai upaya preventif dapat dilakukan dengan, misalnya, mengadakan seminar bertemakan ‘pacaran yang sehat’, rekoleksi Orang Muda Katolik se-Rayon Kulon Progo, dan nonton bareng. Dengan usaha-usaha ini, orang muda mendapat ruang untuk bertemu, berkumpul dan mengenal satu dengan yang lain. Berkenaan dengan pastoral jarak dekat, Paroki Wates telah melaksanakan kursus persiapan perkawinan. Yang menjadi persoalan adalah peserta kursus yang tidak semuanya orang Katolik. Bagi calon mempelai yang memutuskan menikah beda agama, dibutuhkan satu materi tambahan yang mengetengahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pasangan perkawinan beda agama beserta cara mengatasinya. Tujuannya, agar keluarga perkawinan beda agama, suatu saat ketika mengalami persoalan hidup berumahtangga, mereka mampu mengatasinya dengan baik. Sementara itu, pastoral saat perkawinan dilaksanakan dengan menciptakan perayaan liturgi perkawinan yang bermakna dan dengan demikian membawa hasil. Ada dua kemungkinan bentuk perayaan perkawinan beda agama, yakni dalam bentuk ibadat pemberkatan atau dalam konteks perayaan Ekaristi. Jika perkawinan beda agama dilangsungkan dengan konteks perayaan Ekaristi, maka pasangan yang tidak Katolik tidak boleh menyambut komuni,
karena komuni suci hanya boleh disambut oleh mereka yang telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau telah diterima di dalamnya dan tidak dilarang oleh hukum (KHK 1983 kanon 912 dan 842). Selanjutnya, berkaitan pendampingan pasca perkawinan dapat diberikan secara personal maupun komunal. Pendampingan personal, misalnya dengan adanya kunjungan keluarga. Sedangkan pendampingan komunal, antara lain dapat dilaksanakan melalui retret, rekoleksi dan katekese keluarga, seminar keluarga, Marriage Encounter (ME), Pria Sejati Katolik, Wanita Bijak Katolik, dan Couples for Christ (CFC). Salah satu bentuk katekese yang diharapkan mampu meningkatkan perwujudan hidup beriman pasangan Katolik adalah katekese model Shared Christian Praxis. Model ini mengedepankan
sharing pengalaman iman, sehingga lebih sesuai jika diterapkan dalam katekese
perkawinan beda agama. Dimana pesertanya memiliki pengalaman hidup yang bila dibagikan akan berguna bagi perkembangan iman diri sendiri dan orang lain.
Ketiga, Tim Kerja Pendampingan Keluarga Katolik (TKPKK)
menyelenggarakan program kunjungan keluarga umum dan khusus. Kunjungan keluarga umum ditujukan kepada seluruh keluarga Katolik yang ada di Paroki Wates, sedangkan kunjungan keluarga khusus, yaitu kunjungan keluarga yang ditujukan bagi keluarga-kelaurga yang melangsungkan perkawinan beda agama, tanpa memandang apakah keluarga tersebut tergolong keluarga bermasalah atau tidak. Tim kunjungan melibatkan Pastor Paroki, dokter, psikolog, dan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang perekonomian. Tujuan melibatkan orang-orang tersebut adalah apabila dalam kunjungan dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan, kesulitan dalam bidang perekonomian dan permasalahan perkawinan diharapkan keluarga mendapat solusi saat itu juga. Misalnya, keluarga
mengalami kesulitan biaya sekolah anak-anak, maka tim kunjungan keluarga akan merekomendasikan permasalahan tersebut kepada Tim Kerja Perekonomian dan Sosial Paroki, keluarga belum membereskan perkawinan secara Katolik, maka dapat direkomendasikan untuk bertemu dengan Pastor Paroki atau Tribunal.
Keempat, seluruh umat beriman diharapkan ambil bagian untuk mendampingi dan membimbing keluarga-keluarga dalam perkawinan beda agama dengan melibatkan pasangan Katolik dalam setiap kegiatan gerejawi baik di tingkat lingkungan, wilayah maupun paroki. Dengan selalu melibatkan dan merangkul mereka, diharapkan iman mereka tetap kuat meskipun hidup bersama dengan pasangan beda agama.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bayu, dkk. 2011. Buku Kenangan 75 Tahun Paroki Wates. Yogyakarta: Dian Offset.
Bergant, Dianne & Karris, Robert J. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. (A.S. Hadiwiyata, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. (Buku asli diterbitkan tahun 1989).
Bria, Yosef Benyamin. (2002). Peranan Kaum Awam dalam Hidup Menggereja Menurut Kitab Hukum Kanonik 1983. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.
Catur Raharso, Alf. (2006). Paham Perkawinan dalam Hukum Gereja Katolik. Malang: Dioma.
Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang. (2007). Nota Pastoral: Menjadikan Keluarga Basis Hidup Beriman. Manuskrip diterbitkan oleh Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang dalam Rangka Tahun Keluarga 2008.
______. (2011). Gereja yang Signifikan dan Relevan: Pendalaman Ardas KAS 2011-2015. Yogyakarta: Kanisius.
Erwan Agus Purwanto & Dyah Ratih Sulistyastuti. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif untuk Administrasi Publik dan Masalah-Masalah Sosial. Yogyakarta: Gava Media.
Go, Piet OCarm. (1987a). Dialog KWI-PGI tentang Kawin Campur. Jakarta: Komisi HAK KWI.
______. (1987b). Kawin Campur Beda Agama dan Beda Gereja: Tinjauan Historis, Teologis, Pastoral, Hukum Gereja dan Hukum. Malang: Dioma. Groome, Thomas H. (1980). Christian Religious Education: Sharing Our Story
and Vision. New York: Harper Collins.
Hasan Alwi. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Kartasiswaya, V. (1987). Pasangan Nikah Antar Agama Hendaknya Dilayani.
Hidup, 47, hh. 10-14.
Katekismus Gereja Katolik. (1995). (P. Herman Embuiru, SVD, Penerjemah). Flores: Konferensi Waligereja Regio Nusa Tenggara.
Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). (2006). (R. Rubiyatmoko, Editor). Bogor: Grafika Mardi Yuana.
Komisi Kateketik KWI. (1994). Cerita yang Patut Diperhatikan. Yogyakarta: Studio Audio Visual Pusat Kateketik.
______. (2004). Menjadi Murid Yesus. Yogyakarta: Kanisius.
Konferensi Waligereja Indonesia. (2011a). Pedoman Pastoral Keluarga. Jakarta: Obor.
______. (2011b). Tata Perayaan Perkawinan. Jakarta: Obor.
Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966).
Kriswanta, G. (2012). Tanya Jawab tentang Perkawinan secara Katolik. Yogyakarta: Kanisius.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2013). Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia Tahun 2012. Manuskrip diterbitkan oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia. h. 13.
Liddell, Henry George & Scott, Robert. (1996). A Greek-English Lexicon. Oxford: Clasendon Press.
Mohammad Monib. (2009). Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mohammad Nazir. (2011). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Para Waligereja Regio Jawa. (1996). Statuta Keuskupan Regio Jawa. Yogyakarta: Kanisius.
Prasetya, L. (2003). Keterlibatan Awam Sebagai Anggota Gereja. Malang: Dioma. Purwa Hadiwardoyo, Al. (1988a). Perkawinan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta:
Kanisius.
______. (2009b). Pendampingan Keluarga di Paroki. Dalam Mgr. Ignatius Suharyo (Ed.). Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati (hh. 159-168). Yogyakarta: Kanisius.
______. (2012c). Perkawinan Katolik: Hakikat, Tujuan-tujuan, dan Sifat-sifatnya. Yogyakarta: Bajawa Press.
Riduwan. (2013). Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: CV Alfabeta.
Rubiyatmoko, Robertus. (2011a). Perkawinan Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik. Yogyakarta: Kanisius.
______. (2011b). Kawin Campur. Makalah Seminar Keluarga di Gereja St. Yusup Medari Yogyakarta, 22 Mei 2011, hh. 1-12.
Sarwono Sarlito Wirawan. (1992). Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo. Setiawan Triatmojo. http://www.filsafat.kompasiana.com. accessed on March 18,
2014.
Soekidjo Notoatmodjo. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Soetojo Prawirohamidjojo, R. (1988). Pluralisme dalam Perundang-undangan
Perkawinan di Indonesia. Surabaya: Airlangga University Press.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.
Sumarno Ds, M. S.J. (2009). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki (PPL PAK Paroki). Diktat untuk mahasiswa semester VI pada Program Studi IPPAK-USD, Yogyakarta.
Undang-Undang R.I Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan & Kompilasi Hukum Islam. (2013). Bandung: Citra Umbara.
Walgito, B. (1984). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi. Wignyasumarta, Ign, dkk. (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga. Yogyakarta:
Kanisius.
Yohanes Paulus II. (1998). Christi Fideles Laici. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumen dan Penerangan KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1989).
______. (2011). Familiaris Consortio. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumen dan Penerangan KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1981).
Lampiran 1
Nama : _____________________________________ (boleh inisial) Jenis Kelamin : L / P
Tahun menikah : ____________________________ Tanggal Lahir : ____________________________ Tanggal Pengisian : ____________________________
PETUNJUK PENGISIAN
Berikut ini disajikan beberapa pernyataan mengenai pasangan dan diri Anda. Anda diharapkan menyatakan pendapat Anda terhadap isi pernyataan tersebut dengan cara memilih:
SS : bila sangat sesuai dengan keadaan Anda
S : bila sesuai dengan keadaan Anda
TS : bila tidak sesuai dengan keadaan Anda
STS : bila sangat tidak sesuai dengan keadaan Anda Berilah tanda centang () untuk satu alternatif jawaban pada setiap pernyataan. Jawaban diharapkan sesuai dengan keadaan Anda sendiri. Karena itu, apapun jawaban Anda akan selalu dianggap benar, dan tidak ada jawaban yang dianggap salah.
SKALA PERILAKU PASANGAN
NO PERNYATAAN SS S TS STS (1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Pasangan Anda memahami bahwa perkawinan Katolik merupakan sebuah kesepakatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup, yang dimulai sejak mereka mengucapkan janji perkawinan.
2 Pasangan Anda mengetahui bahwa tujuan perkawinan Katolik adalah kesejahteraan jasmani dan rohani suami-istri, keturunan dan pendidikan anak.
3 Pasangan Anda mengetahui bahwa perkawinan juga menjadi sarana untuk menghadirkan cinta kasih Allah di dunia.
4 Menurut pasangan Anda, perkawinan Katolik bersifat monogam (hanya dengan satu pasangan) dan tidak terceraikan.
5 Menurut pasangan Anda, perkawinan dengan beda agama dapat diceraikan.
6 Pasangan Anda tidak bahagia dengan perkawinan yang dijalani bersama Anda selama ini.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 7 Selama ini pasangan Anda tidak memiliki
keinginan untuk ikut/hadir dalam kegiatan-kegiatan Gereja.
8 Pasangan Anda membatasi kebebasan Anda untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan maupun di paroki (misal: sembahyangan lingkungan, pengurus lingkungan, dan kepanitiaan natal/paskah).
9 Pasangan Anda membatasi kebebasan Anda untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan (misal: kunjungan ke panti jompo, panti asuhan, donor darah, bakti sosial, menyumbang korban bencana alam).
10 Anda mendapat dukungan dari pasangan Anda untuk membantu orang lain mendapatkan bantuan dana dari Gereja (misal: bantuan orang sakit, rehab rumah, dana pendidikan, modal usaha).
11 Anda mendapat dukungan dari pasangan Anda untuk terlibat dalam kegiatan di tingkat RT/RW/Kelurahan.
12 Pasangan Anda pernah mengungkapkan kekecewaan atas perkawinan yang dijalani selama ini.
13 Pasangan Anda tidak berkeberatan anak-anak Anda dibaptis secara Katolik.
14 Pasangan Anda pernah menyatakan untuk berpisah, saat Anda hendak membaptiskan anak-anak.
15 Pasangan Anda tidak memperbolehkan rumah tempat tinggal digunakan untuk doa lingkungan dan Misa/Ekaristi.
16 Pasangan Anda mengantar anak-anak mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja (misal: PIA, Misdinar, Koor, dan Ekaristi).
17 Pasangan Anda ikut hadir dan mendampingi saat anak-anak menerima sakramen (seperti: Baptis, Komuni Pertama, Penguatan/Krisma, Perkawinan).
18 Selama ini pasangan Anda pernah mengikuti pelajaran agama Katolik untuk dibaptis.
19 Anda pernah menerima perlakuan kasar (Misal: dipukul, ditampar, dilempar dengan barang, dimaki) oleh pasangan ketika Anda bersikeras menggunakan rumah untuk kegitan gerejawi (doa, sembahyangan, misa, latihan koor, dan lain-lain).
20 Pasangan Anda mengingatkan Anda untuk mewujudkan iman Katolik (misalnya untuk hadir sembahyangan, doa/Misa, dan terlibat di Gereja).
SKALA PERWUJUDAN HIDUP BERIMAN
NO PERNYATAAN SS S TS STS (1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Sebelum Anda menikah, Anda sering menjadi pemimpin dalam doa atau sembahyangan di lingkungan.
2 Sejak Anda menikah, Anda sering menjadi pemimpin dalam doa atau sembahyangan di lingkungan.
3 Sebelum Anda menikah, Anda sering terlibat sebagai petugas liturgi (misal: Lektor, Pemazmur, Tata Altar, Paduan Suara dan Tata Tertib).
4 Sejak Anda menikah, Anda sering terlibat sebagai petugas liturgi (misal: Lektor, Pemazmur, Tata Altar, Paduan Suara dan Tata Tertib).
5 Sebelum menikah, Anda bersama keluarga mengikuti doa bersama di lingkungan.
6 Sebelum menikah, Anda mengajak keluarga berdoa sebelum makan dan sebelum tidur.
7 Anda terlibat menjadi pendamping (Misal:PIA, Misdinar, PIR, OMK, dll.) sebelum menikah.
8 Anda mengajak anggota keluarga untuk berdoa sebelum makan dan sebelum tidur.
9 Anak-anak Anda sudah dibaptis dalam Gereja Katolik.
10 Anda menyekolahkan anak-anak di sekolah-sekolah Katolik.
11 Anda selalu mengajak anak-anak untuk hadir dalam doa di lingkungan dan Ekaristi.
12 Anda mendorong anak-anak untuk terlibat dalam kegiatan Gereja (misal: latihan koor, kerja bakti di lingkungan Gereja, parkir, dan kepanitiaan-kepanitiaan, serta kepengurusan di lingkungan atau paroki).
13 Anda selalu mengajarkan dan mendorong
anak-anak untuk menerima komuni pertama dan menikah secara Katolik.
14 Sebelum menikah, Anda sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan (misal: kunjungan ke panti jompo, panti asuhan, donor darah, bakti sosial, menyumbang korban bencana alam).
15 Sesudah menikah, Anda sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan (misal: kunjungan ke panti jompo, panti asuhan, donor darah, bakti sosial, menyumbang korban bencana alam).
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 16 Sebagai orang Katolik, Anda sering mengunjungi
orang sakit, orang yang dipenjara, orang miskin, dan orang cacat.
17 Anda pernah membantu orang lain untuk mendapatkan bantuan dana dari Gereja (misal: bantuan orang sakit, rehab rumah, dana pendidikan, modal usaha).
18 Sebelum menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di lingkungan (seperti: menjadi ketua lingkungan, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
19 Sesudah menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di lingkungan (seperti: menjadi ketua lingkungan, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
20 Sebelum menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di wilayah (misalnya: menjadi ketua wilayah, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
21 Sesudah menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di wilayah (misalnya: menjadi ketua wilayah, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
22 Sebelum menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di paroki (misal: menjadi ketua bidang, sekretaris, bendahara, tim-tim kerja).
23 Sesudah menikah, Anda aktif dalam kepengurusan di paroki (misal: menjadi ketua bidang, sekretaris, bendahara, tim-tim kerja).
24 Sebelum menikah, Anda aktif dalam kepanitiaan-kepanitiaan (seperti: menjadi ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
25 Sesudah menikah, Anda aktif dalam kepanitiaan-kepanitiaan (seperti: menjadi ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi).
26 Sebelum menikah, Anda masuk sebagai anggota kelompok/paguyuban (misal: Martha Maria/kelompok pedagang, UB Benih Kasih, Pangruktiloyo, Doa-doa Devosi, Wanita Katolik, paguyuban guru Katolik, paguyuban tenaga kesehatan Katolik, dan lain-lain).
27 Sesudah menikah, Anda masuk sebagai anggota kelompok/paguyuban (misal: Martha Maria/kelompok pedagang, UB Benih Kasih, Pangruktiloyo, Doa-doa Devosi, Wanita Katolik, paguyuban guru Katolik, paguyuban tenaga kesehatan Katolik, dan lain-lain).
28 Sebelum menikah, Anda menghadiri undangan syawalan/kenduri/halal bihalal.
29 Sesudah menikah, Anda menghadiri undangan syawalan/kenduri/halal bihalal.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 30 Sebelum menikah, Anda mengikuti kerja bakti di
RT/RW/Kelurahan.
31 Sesudah menikah, Anda mengikuti kerja bakti di RT/RW/Kelurahan.
32 Sebelum menikah, Anda menjadi pengurus dalam kegiatan di RT/RW/Kelurahan.
33 Sesudah menikah, Anda menjadi pengurus dalam kegiatan di RT/RW/Kelurahan.
Terima kasih
Tuhan memberkati
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
(9) Lampiran 5
Film “Chicken ala Carte”
Lampiran 6
Injil Matius 18: 19-20
18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Lampiran 7
Teks Doa “Doa untuk Keluarga”
Bapa di sorga, Engkau telah menciptakan dan menyatukan pria dan wanita, agar keduanya menjadi satu pasangan tak-terpisahkan, dan bersama-sama membentuk satu keluarga.
Bapa, sumber hidup dan kasih sejati, melalui Putra-Mu Yesus Kristus, yang lahir dan bertumbuh dalam Keluarga Kudus Nazaret, berikanlah bantuan-Mu kepada setiap keluarga di bumi ini, agar ia dapat menjadi kenisah hidup dan kasih sejati, bagi generasi saat ini dan generasi yang akan datang.
Semoga rahmat-Mu membimbing semua pasangan para suami-istri, agar mereka saling menyayangi dengan kasih yang penuh dan setia, mampu mengatasi segala godaan dan cobaan, dan dengan demikian mampu membangun keluarga yang sejahtera.
Bantulah pula semua orang muda, supaya mereka menemukan dalam keluarga mereka dukungan yang kuat bagi pertumbuhan mereka sebagai manusia, sehingga mereka berkembang dalam keutamaan manusiawi dan kristiani.
Tolonglah Gereja-Mu di bumi ini, dengan bantuan Tuhan Yesus, Bunda Maria, dan Bapa Yosef, agar ia mampu menunaikan tugas perutusannya, untuk dan melalui keluarga-keluarga.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
(disadur dari doa Paus Yohanes Paulus II bagi keluarga-keluarga)