Setidaknya terdapat tiga aliran pemikiran politik ketika membincangkan perilaku pemilih, yaitu i) pendekatan sosiologikal atau biasa disebut The Columbia Study, ii) pendekatan psikologikal atau biasa disebut Michigan Model, dan iii) pendekatan pilihan rasional (Rational Choice). Walaupun di luar itu, terdapat juga pendekatan berbeda yang dikembangkan oleh Lau dan Redlawsk (2006) dalam Haryanto (2014) yakni rational choice, early socialization, fast and frugal, dan bounded rationality. Dalam artikel ini, hanya menguraikan secara singkat ketiga pendekatan pertama sebagai landasan memahami perilaku pemilih di Indonesia berdasarkan hasil survei persepsi public terkini.
a. Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis menekankan pentingnya beberapa hal yang berkaitan dengan instrumen kemasyarakatan seseorang seperti, (i) status sosiekonomi (seperti pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan dan klas), (ii) agama, (iii) etnik bahkan (iii) wilayah tempat tinggal (misalnya kota, desa, pesisir ataupun pedalaman).
Beberapa hal ini menurut sarjana yang mengusungnya, Lipset (1960); Lazarsfeld (1968) sekadar menyebut beberapa nama saja, memunyai kaitan kuat dengan pilihan atau perilaku pemilih.
Awalnya, penelitian mengenai perilaku ini. dicetuskan oleh sarjana-sarjana ilmu politik dari University of Columbia yang kemudiannya pendekatan ini sering juga disebut dengan Columbia’s school. Kajian yang dilakukan oleh sarjana ilmu politik di University of Columbia ini dibuat pada waktu pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 1940, dan mereka mendapati sebuah pola yang memunyai kaitan yang erat dengn
Demokrasi Lokal dan Pemilihan Kepala Daerah Pasangan Calon Tunggal
29 aspek-aspek yang dinyatakan di atas. Misalnya, dari segi klas, klas bawah dan kelas menengah berkecenderungan untuk mendukung Partai Demokrat, sementara klas atas menyokong Partai Republik (Lipset 1960:305). Demikian pula halnya jika dilihat dari aspek agama, penganut agama Kristen Protestan di AS cenderung memilih Partai Republik dibandingkan dengan mereka yang memeluk agama Katolik (Lazarsfeld 1968:21-22).
Gerald Pomper yang termasuk dalam mahzab ini merinci pengaruh pengelompokan sosial dalam studi voting behavior ke dalam dua variabel, yaitu variabel predisposisi sosial ekonomi keluarga pemilih dan predisposisi sosial ekonomi pemilih mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku memilih seseorang. Dengan kata lain, preferensi politik keluarga, apakah preferensi politik ayah atau ibu akan berpengaruh pada preferensi politik anak. Hal lain yang menjadi sorotan dalam pendekatan ini adalah agama, pendidikan, jenis kelamin, faktor geografis, budaya serta variabel sosial adalah variabel yang dominan dalam mempengaruhi seorang pemilih dalam menentukan pilihannya.
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa seorang pemilih cenderung untuk memilih partai yang memiliki agama yang sama dengannya, kemudian juga dalam beberapa daerah memiliki rasa kedaerahan yang kuat untuk mempengaruhi dukungan seseorang terhadap partai politik. Seperti PDIP yang dominan di Provinsi Bali dan Sumatera Utara, atau loyalitas terhadap PKB di Jawa Timur, PPP di Kalimantan dan Loyalitas Sulawesi Selatan terhadap Partai Golkar (Valentina, 2009).
b. Pendekatan Psikologis
Pendekatan perilaku memilih selanjutnya yakni The Michigan Model, sebuah metode untuk mengetahui perilaku memilih yang berkembang awal tahun 1950-an. The Michigan Model kemudian dikenal dengan nama pendekatan psikologis yang uraiannya secara lengkap dapat dilihat dalam “The American Voter” (1960) ditulis
Rapid Assessment Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gowa 2020
30
oleh Campbell, Converse, Miller, dan Stokes (Haryanto, 2014).
Model psikologis menjelaskan adanya keterikatan/ dorongan psikologis yang membentuk orientasi politik seseorang. Ikatan psikologis tersebut disebabkan oleh adanya perasaan kedekatan dengan partai atau kandidat. Persepsi dan penilaian individu terhadap kandidat atau tema-tema yang diangkat (pengaruh jangka pendek) sangat berpengaruh terhadap pilihan pemilu.
Bantahan model psikologis terhadap pendekatan sosiologis adalah faktor-faktor diferensiasi social seperti struktur ekonomi, perpecahan sosial seperti ras atau agama, dan keberpihakan sejarah ini memengaruhi struktur dalam sistem kepartaian, tetapi tidak memengaruhi keputusan suara pemilih. Roth seperti yang dijelaskan oleh Haryanto (2014) menjelaskan faktor yang mempengaruhi individu membuat keputusan politik adalah 3 hal yang disebut sebagai trias determinant: identifikasi partai (Party ID), orientasi kandidat dan orientasi isu. Sebagai contoh, semua partai pasti sepakat untuk meningkatkan kesejahteraan semua warga, termasuk buruh, tetapi masing-masing partai akan memiliki pandangan yang berbeda mengenai bagaimana peningkatan kesejahteraan tersebut dicapai. Dalam konteks pemilu, position issues lebih mempengaruhi keputusan para pemilih.
Meskipun demikian, biasanya position issues lebih jarang muncul, karena dihindari oleh partai politik, terutama karena isu semacam ini memiliki resiko menimbulkan polarisasi, bahkan di kalangan pengikutnya sendiri (Yustiningrum dan Ichwanudin, 2014). Partisanship atau party identification (Party ID) dapat digambarkan sebagai ‘keanggotaan’ psikologis, dimana identifikasi terhadap sebuah partai tidak selalu bersamaan dengan keanggotaan resmi pemilih dengan partai tersebut. Party ID lebih sebagai orientasi afektif terhadap partai. PI merupakan orientasi individu terhadap partai tertentu yang bersifat permanen, yang bertahan dari pemilu ke pemilu. Party ID masih dapat mengalami perubahan, jika terjadi perubahan pribadi yang besar atau situasi politik yang luar biasa. Beberapa ilmuwan politik kontemporer
Demokrasi Lokal dan Pemilihan Kepala Daerah Pasangan Calon Tunggal
31 seperti Liddle dan koleganya, Mujani dan Ambardi, termasuk yang berpendapat bahwa faktor- faktor psikologis, terutama kepemimpinan dan identifikasi partai, memiliki pengaruh yang signifikan dibanding faktor-faktor sosiologis, baik agama, suku bangsa, maupun kelas.
Proses yang paling dekat dengan perilaku pemilih adalah kampanye sebelum pemilu maupun kejadiankejadian yang diberitakan oleh media massa. Masing-masing unsur dalam proses tersebut akan mempengaruhi perilaku pemilih, meskipun titik berat studi Kelompok Michigan adalah identifikasi kepartaian dan isu-isu politik para calon, dan bukan latar belakang sosial atau budayanya. Melalui proses sosialisasi membantu perkembangan pendekatan psikologis (Valentina, 2009).
c. Pendekatan Pilihan Rasional
Berangkat dari asumsi pemilih tak ubahnya dengan konsumen yang selalu berperilaku memaksimalkan manfaat yang didapatkan (utility maximation) dari setiap proses transaksi, Anthony Downs mengembangkan model bahwa pemilih itu tak ubahnya manusia ekonomi yang egois karena hanya ingin memenuhi dan mendahulukan kepentingannya pribadi terutama untuk mengoptimalkan kesejahteraan diri mereka sendiri. Namun tidak semua manusia selalu mendahulukan kepentingannya sendiri, ia hanya ingin menyampaikan bahwa perilaku memilih yang rasional itu karena manusia selalu ingin memenuhi kebutuhannya.
Seorang pemilih dalam hal melakukan penilaian terhadap kandidat, ia harus memiliki informasi seputar rekam jejak kandidat atau partai tersebut dimasa lalu selama menjabat atau belum menjabat sebagai wakil rakyat dan memproyeksikannya dimasa akan datang tentang apa saja kemungkinan besar yang dapat kandidat lakukan dan apakah itu membawa keuntungan bagi pemilih atau tidak dan pemilih akan memilih partai mana yang paling membawa keuntungan paling besar bagi dirinya. Model ini
Rapid Assessment Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gowa 2020
32
ingin menjelaskan bahwa pada pendekatan- pendekatan sebelumnya terkesan menihilkan kehendak bebas yang dimiliki oleh setiap orang. Hal tersebut terbukti dari realitas adanya varian perilaku memilih yang memiliki identitas sosial yang sama, yang tidak dapat dijelaskan oleh 2 pendekatan sebelumnya.