• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Preventif Responden

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 125-138)

2. Perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami

4.3 Analisis Bivariat

4.4.3 Perilaku Preventif Responden

Perilaku preventif kanker serviks yang dilakukan oleh responden (penderita dan bukan penderita kanker serviks) adalah sebagai berikut:

Dari segi perilaku mencari informasi tentang kanker serviks, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks sebanyak 13 orang (52%) tidak pernah membaca dan mendengar informasi tersebut. Sumber informasi terbanyak yaitu dari media elektronik dan penyuluhan kesehatan masing-masing 6 orang (24%). Berdasarkan data itu, maka dapat dilihat bahwa perilaku responden penderita kanker serviks untuk mencari informasi tentang kanker serviks masih kurang.

Dari segi perilaku terhadap frekuensi menikah, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks sebanyak 24 orang (96%) menikah satu kali. Sedangkan dari 25 responden penderita kanker serviks sebanyak 22 orang (88%) juga menikah satu kali. Berdasarkan data ini maka dapat dilihat bahwa hampir seluruh responden baik penderita dan bukan penderita kanker serviks menikah hanya satu kali, dan hal ini adalah baik untuk menghindari dan atau menurunkan risiko terkena kanker serviks. Dalam penelitian ini meskipun sebagian kecil (4%) bukan penderita dan (12%) penderita pernah menikah sebanyak dua kali, hal ini tetap berdampak bagi kesehatan responden karena berkaitan dengan kehidupan seksual responden dan atau pasangannya. Peneliti berasumsi, kemungkinan sebelum responden memutuskan untuk menikah lagi, calon suami yang akan dinikahinya juga mungkin pernah terlibat hubungan seks diluar nikah.

176 Oleh karena itu, peluang untuk terkena kanker serviks lebih besar terutama bagi responden yang menikah lebih dari satu kali dan atau berganti-ganti pasangan seksual.

Dari segi perilaku terhadap umur pertama kali menikah yaitu umur termuda responden bukan penderita kanker serviks menikah adalah 16 tahun, dan tertua 28 tahun. Berdasarkan pengategorian umur, sebagian besar responden yaitu sebanyak 13 orang (52%) menikah pada rentang umur ≤ 21 tahun. Sedangkan umur termuda penderita kanker serviks menikah adalah 12 tahun, dan tertua 24 tahun. Bila dikategorikan, maka penderita kanker serviks menikah terbanyak berada pada rentang umur ≤ 21 tahun sebanyak 18 orang (72%). Menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974, disebutkan bahwa untuk melangsungkan pernikahan, seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Berdasarkan data umur pertama kali menikah diatas, maka dapat dilihat bahwa responden bukan penderita kanker serviks menikah muda dan sangat berisiko terkena kanker serviks. Sedangkan dilihat dari umur pertama kali penderita kanker serviks menikah juga tergolong muda, maka peneliti berasumsi bahwa salah satu penyebab penderita kanker serviks menderita kanker serviks adalah karena faktor menikah muda atau dini.

Dari segi perilaku terhadap umur pertama kali melakukan hubungan seks, yaitu umur termuda responden bukan penderita kanker serviks melakukan hubungan seksual adalah 16 tahun, dan tertua 28 tahun.

177 Berdasarkan pengategorian umur, sebagian besar responden yaitu berada pada rentang umur ≤ 21 tahun sebanyak 13 orang (52%). Sedangkan, umur termuda penderita kanker serviks melakukan hubungan seks adalah 12 tahun dan tertua 24 tahun. Bila dikategorikan maka, penderita kanker serviks terbanyak melakukan hubungan seks pada rentang umur ≤21 tahun sebanyak 21 orang (84%). Berdasarkan data umur pertama kali melakukan hubungan seks dan data umur pertama kali menikah diatas memiliki kaitan erat dan dan kemungkinan dapat menyebabkan responden yang bukan penderita kanker serviks berisiko menderita kanker serviks, dan mungkin juga menjadi salah satu penyebab penderita kanker serviks menderita kanker serviks.

Dari segi perilaku terhadap mempunyai pasangan seksual lebih dari satu, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks, hanya 3 responden (12%) yang pernah mempunyai pasangan seksual lebih dari satu. Sedangkan dari 25 penderita kanker serviks, sebanyak 9 responden (36%) pernah mempunyai pasangan seksual lebih dari satu. Berdasarkan data tentang status pernikahan sebelumnya yang menyebutkan bahwa hanya 1 orang (4%) bukan penderita kanker serviks pernah menikah dua kali, maka responden ini mempunyai pasangan seksual lebih dari satu. Akan tetapi hal ini berbeda dengan 2 responden lain yang sebelumnya menikah hanya satu kali, tetapi mempunyai pasangan seksual lebih dari satu. Oleh karena itu, muncul asumsi peneliti bahwa sebelum menikah kedua responden tersebut mungkin saja terlibat hubungan seks diluar nikah, dan atau mempunyai

178 pacar selain suaminya setelah menikah. Kemudian, fakta juga membuktikan bahwa penyebab utama kanker serviks adalah human papilloma virus (HPV) risiko tinggi dan jalur utama penularannya adalah melalui hubungan seksual sehingga lebih dari 80% wanita yang aktif secara seksual akan mempunyai risiko terinfeksi HPV dalam kurun waktu tertentu (Samadi, 2011). Oleh sebab itu, salah satu faktor penyebab penderita kanker serviks menderita kanker serviks juga adalah karena berganti-ganti pasangan seksual.

Dari segi perilaku terhadap pengalaman mengalami perdarahan dan pengobatannya, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks hanya 3 orang (12%) yang pernah mengalami perdarahan saat atau setelah melakukan hubungan seksual, dan hanya satu diantaranya yang pernah melakukan pemeriksaan. Berdasarkan teori kanker serviks, salah satu tanda dan gejala klinis kanker serviks adalah perdarahan per vagina atau lewat vagina, berupa perdarahan pacsa senggama atau perdarahan spontan diluar masa haid (Samadi, 2011). Oleh sebab itu, wanita perlu memiliki kesadaran dan kemauan untuk memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan bila memiliki tanda dan gejala seperti ini.

Dari segi perilaku terhadap keluhan keputihan dan pengobatannya, dari total 25 responden bukan penderita kanker serviks, hanya 8 orang (12%) yang pernah mempunya keluhan keputihan, dan hanya 5 orang (20%) diantaranya yang pernah melakukan pemeriksaan. Berdasarkan teori kanker serviks, salah satu tanda dan gejala klinis kanker serviks juga adalah

179 keputihan. Keputihan yang harus diwaspadai adalah jika keputihan terjadi bersamaan dengan penyakit kelamin, misalnya Gonorea dan sifilis karena virus HPV bisa juga ditularkan bersamaan dengan kuman penyebab sakit kelamin tersebut. Oleh karena itu, jika terjadi keputihan yang memiliki cirri-ciri mengarah pada gejala kanker serviks seharusnya dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya kanker sersebut (Samadi, 2011).

Dari segi perilaku terhadap paritas, dari 25 bukan penderita kanker serviks sebagian besar responden yaitu sebanyak 11 orang (44%) memiliki anak 2 orang. Sebanyak 14 responden (56%) melahirkan anak secara tidak normal (melalui proses caesar atau operasi). Sedangkan dari 25 penderita kanker serviks, sebagian besar responden yaitu sebanyak 9 orang (36%) memiliki anak 3 orang. Di dalam teori disebutkan bahwa paritas yang berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari dua orang atau jarak persalinan terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan melalui jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada leher rahim, dan dapat berkembang menjadi keganasan (Sukaca, 2009).

Dari segi perilaku terhadap pemakaian kontrasepsi, dari total 25 responden bukan penderita kanker serviks sebanyak 20 orang (80%) pernah memakai kontrasepsi. Jenis kontrasepsi terbanyak yang digunakan adalah KB suntik. Sementara itu bila dikaitkan dengan teori, yaitu penggunaan kontrasepsi khususnya kontrasepsi pil dalam jangka waktu

180 lama (5 tahun atau lebih) meningkatkan risiko kanker leher rahim sebanyak 2 kali (Sukaca, 2009). Berdasarkan data pemakaian kontrasepsi, kemungkinan kecil para responden bukan penderita kanker serviks untuk terkena kanker serviks karena jenis kontrasepsi yang banyak digunakan adalah hormonal yaitu suntik.

Dari segi perilaku terhadap pemakaian antiseptik, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks, sebanyak 19 orang (76%) pernah memakai antiseptik. Dari 19 responden yang menggunakan antiseptik, hanya 4 responden (16%) yang sering mencuci vagina dengan antiseptik. Sedangkan dari 25 responden penderita kanker serviks hanya 8 orang (32%) yang menggunakan antiseptik sebelum sakit (menderita kanker serviks). Dari 8 responden yang menggunakan antiseptik, hanya 4 responden (16%) yang sering menggunakannya. Namun, setelah responden sakit (menderita kanker serviks), hanya 4 responden (16%) yang masih menggunakan antiseptik. Berdasarkan teori, pencucian vagina terlalu sering atau berlebihan menggunakan antiseptik akan membunuh kuman-kuman, termasuk kuman basillus doderlain di vagina yang memproduksi asam laktat untuk mempertahankan pH vagina. Bila pH tidak seimbang lagi di vagina, maka kuman lain seperti jamur dan bakteri mempunyai kesempatan hidup di tempat tersebut (SA, 2010). Meskipun hanya sedikit responden yang sering mencuci vagina dengan antiseptik, tetapi alangkah lebih baik bila kebiasaan itu dikurangi.

181 Dari segi perilaku terhadap frekuensi mencuci vagina yaitu frekuensi terbanyak responden bukan penderita kanker serviks mencuci vagina dan mengganti pembalut adalah 2 kali sehari. Sementara itu, sebelum sakit (menderita kanker serviks) frekuensi terbanyak penderita kanker serviks mencuci vagina adalah 3 kali sehari. Setelah sakit (menderita kanker serviks), frekuensi terbanyak penderita kanker serviks mencuci vagina adalah sebanyak 4 kali dan >4 kali sehari. Berdasarkan data, diketahui bahwa pencucian vagina lebih sering dilakukan oleh responden penderita kanker serviks. Bila dikaitkan dengan teori, pencucian vagina terlalu sering atau berlebihan menyebabkan iritasi di serviks. Iritasi berlebihan dan terlalu sering akan merangsang terjadinya perubahan sel, yang akhirnya jadi kanker (SA, 2010). Asumsi peneliti yaitu salah satu penyebab iritasi serviks yang dialami penderita kanker serviks yaitu akibat seringnya melakukan pencucian vagina.

Dari segi perilaku menjaga kenyamanan vagina dengan cara mengelap dan mengeringkan vagina setelah basah, yaitu hampir seluruh responden penderita kanker serviks mengelap dan mengeringkan vagina setelah basah dengan menggunakan handuk. Tindakan ini berguna untuk menjaga agar vagina tetap berada dalam keadaan kering, dan tidak lembab. Jika lembab, kemungkinan akan mempercepat tumbuhnya bakteri atau jamur.

Dari segi perilaku terhadap frekuensi mengganti celana dalam, yaitu frekuensi terbanyak responden bukan penderita kanker serviks mengganti

182 celana dalam adalah 2 kali sehari. Sedangkan frekuensi terbanyak penderita kanker serviks mengganti celana dalam adalah juga 2 kali sehari. Tindakan mengganti celana dalam membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan vagina.

Dari segi perilaku terhadap pemakaian bedak di sekitar vagina, yaitu dari 25 bukan penderita kanker serviks, hampir seluruh responden yaitu 24 orang (96%) tidak pernah menaburi bedak disekitar vagina. Di dalam teori disebutkan bahwa tidak dianjurkan memberi bedak di daerah sekitar vagina, karena dikhwatirkan bedak terserap dan masuk ke dalam vagina. Lama kelamaan akan bertumpuk dan mengendap menjadi benda asing yang bisa menyebabkan rangsangan sel menjadi kanker (SA, 2010).

Dari segi perilaku terhadap riwayat merokok, dari 25 responden sebanyak 21 orang (84%) tidak pernah merokok, dan hanya 4 orang (16%) yang pernah. Secara umum, kehidupan responden jauh dari perilaku merokok.

Dari segi perilaku terhadap aktivitas berolahraga sebelum responden sakit (menderita kanker serviks), yaitu sebanyak 24 responden (96%) sebelum sakit tidak sering berolahraga, dan hanya 1 responden (4%) yang sering berolahraga. Data ini menggambarkan minimnya aktivitas olahraga yang dilakukan oleh responden.

Dari segi perilaku terhadap waktu tidur responden sebelum dan setelah sakit (menderita kanker serviks) yaitu sebelum sakit responden tidur pada pagi, siang, dan malam hari. Sedangkan setelah sakit waktu tidur

183 responden menjadi pagi, siang, sore, dan malam. Terlihat ada perubahan waktu tidur yaitu yang semula responden tidak tidur sore, setelah sakit responden (4%) tidur pada sore hari.

Dari segi perilaku terhadap frekuensi tidur responden sebelum dan setelah sakit (menderita kanker serviks) yaitu baik sebelum dan setelah sakit frekuensi tidur 1, 2, dan 3 kali sehari. Tetapi, terjadi perubahan frekuensi tidur yang semula sebelum sakit 3 responden (12%) tidur 1 kali sehari, setelah sakit berkurang menjadi 1 orang (4%). Sebanyak 21 responden (84%) yang semula sebelum sakit tidur 2 kali sehari berkurang menjadi 16 orang (64%), dan 1 responden (4%) yang semula tidur 3 kali sehari setelah sakit bertambah menjadi 8 orang (32%). Hasil tersebut memberikan petunjuk dan menggambarkan bahwa ketika responden sakit, frekuensi tidur mereka juga mengalami perubahan.

Dari segi perilaku terhadap lama waktu responden tidur siang sebelum dan setelah sakit, yaitu terbanyak adalah 10 orang (40%) selama 1 jam. Selain itu, jika dilihat lama waktu tidur siang tercepat yaitu 15 menit, dan terlama adalah >3 jam. Terlihat jelas bahwa sebelum sakit waktu tidur responden tidak terlalu lama, tetapi setelah sakit terjadi perubahan waktu tidur menjadi lebih lama.

Dari segi perilaku terhadap lama waktu responden tidur malam sebelum dan setelah sakit, adalah sebelum sakit responden terbanyak yaitu 9 orang (36%) tidur malam selama 8-9 jam. Sedangkan setelah sakit (menderita kanker serviks), responden terbanyak yaitu 7 orang (28%) tidur

184 selama 8-9 jam. Selain itu, jika dilihat sebelum dan setelah sakit lama waktu tidur malam tercepat adalah 3 jam. dan lama waktu tidur terlama sebelum dan setelah sakit adalah >9 jam.

Dari segi perilaku terhadap waktu tidur responden yaitu sebelum sakit waktu tidur siang dimulai pada pukul 11.00-11.30, dan setelah sakit adalah 10.00-11.00, dan 10.00-15.00. Terlihat terjadi perubahan waktu tidur siang sebelum dan setelah sakit, yaitu responden tidur lebih awal setelah sakit.

Dari segi perilaku terhadap waktu tidur responden yaitu sebelum sakit waktu tidur malam dimulai pada pukul 19.00-01.00, dan 19.00-04.30, dan setelah sakit adalah 18.00-04.00, dan 18.00-08.00. Terlihat terjadi perubahan waktu tidur siang sebelum dan setelah sakit, yaitu responden tidur lebih awal setelah sakit.

Dari segi perilaku meminta bantuan orang lain (keluarga) untuk membantu mengurangi pekerjaan rumah yaitu setelah sakit (menderita kanker serviks) sebagian besar responden yaitu sebanyak 21 orang (84%) meminta bantuan orang lain (keluarga) untuk membantunya mengurangi pekerjaan rumah dan hanya 4 responden (16%) yang tidak. Hal ini meringankan pekerjaan responden, sehingga waktu responden lebih banyak untuk beristirahat bukan bekerja.

Dari segi perilaku mengkonsumsi makanan berlemak (daging), yaitu dari 25 bukan penderita kanker serviks, sebanyak 12 responden (52%) yang sering mengkonsumsi makanan berlemak. Sedangkan dari 25 penderita kanker serviks hanya 6 responden (24%) yang sering mengkonsumsinya.

185 Dari segi perilaku jarang mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C (buah-buahan), beta karoten (wortel), dan asam folat (makanan hasil laut) yaitu dari 25 penderita kanker serviks sebanyak 14 responden (56%) tidak jarang mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C (buah-buahan), beta karoten (wortel), dan asam folat (makanan hasil laut), dan hanya 11 responden (44%) yang jarang mengkonsumsinya.

Dari segi perilaku terhadap frekuensi makan responden yaitu terjadi perubahan frekuensi makan sebelum dan setelah sakit (menderita kanker serviks), yaitu frekuensi responden makan bertambah setelah sakit jika dibandingkan dengan sebelum sakit.

Dari segi perilaku terhadap makanan yang dikonsumsi yaitu penderita kanker serviks mengkonsumsi berbagai macam makanan. Tetapi, responden cenderung lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dibandingkan jenis makanan lainnya.

Dari segi perilaku kepatuhan pantangan makanan, yaitu dari 25 penderita kanker serviks sebanyak 12 responden (48%) patuh, 4 responden (16%) tidak patuh, dan 9 responden (36%) tidak mempunyai pantangan terhadap makanan. Berdasarkan data ini maka diketahui bahwa kepatuhan responden terhadap pantangan makanan dari dokter membantu memperlancar tindakan pengobatan.

Dari segi perilaku pemeriksaan pap smear, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks, hanya 1 responden (4%) yang pernah melakukan pemeriksaan pap smear. Sedangkan dari 25 responden penderita kanker

186 serviks, sebelum didiagnosis menderita kanker serviks, hanya 1 responden (4%) yang pernah melakukan pemeriksaan.

Dari segi perilaku pemeriksaan IVA, dari 25 responden bukan penderita kanker serviks, hanya 1 responden (4%) yang pernah melakukan pemeriksaan IVA.

Dari segi perilaku terhadap pemeriksaan tes HPV DNA dari 25 responden, tidak ada responden yang pernah melakukan pemeriksaan HPV DNA.

Dari segi perilaku mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat, sebagian besar responden bukan penderita kanker serviks yaitu sebanyak 23 responden (92%) menjawab bila sakit mereka akan segera mencari tempat pelayanan kesehatan untuk berobat.

Dari segi perilaku mencari informasi terkait sakit yang dialami, sebagian besar responden bukan penderita kanker serviks yaitu sebanyak 23 responden (92%) menjawab akan berusaha mencari informasi terkait sakit yang dialami.

4.4.4 Analisis Bivariat

Setelah dilakukan analisis bivariat antara pengetahuan tentang anatomi dan fisiologis serviks, dan kanker serviks dengan perilaku preventif kanker serviks ditemukan yaitu: (1) Adanya hubungan antara pengetahuan tentang letak serviks dengan perilaku pemakaian kontrasepsi oral (pil KB); (2) Adanya hubungan antara pengetahuan tentang letak serviks (tunjukan

187 dengan gambar) dengan paritas; (3) Hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan tersier dengan perilaku sering mencuci vagina pakai antiseptik; (4) Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang fungsi serviks, definisi serviks, definisi kanker serviks, karakteristik tumor ganas, penyebab utama kanker serviks, tanda dan gejala kanker serviks, pencegahan primer, pencegahan sekunder, tujuan pemeriksaan pap smear, dan metode pengobatan kanker serviks dengan perilaku primer, sekunder, dan tersier kanker serviks.

Adanya hubungan antara pengetahuan tentang letak serviks dengan perilaku pemakaian kontrasepsi oral (pil KB); hubungan antara pengetahuan tentang letak serviks (tunjukan dengan gambar) dengan paritas; hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan tersier dengan perilaku sering mencuci vagina pakai antiseptik mengindikasikan bahwa responden tahu bila untuk menekan jumlah anak yang banyak, maka salah satunya yaitu dengan pemakaian kontrasepsi, salah satunya yaitu pil KB. Responden juga tahu bahwa perilaku mencuci adalah suatu tindakan yang baik untuk membersihkan sesuatu yang kotor, termasuk mencuci daerah organ kewanitaan dengan menggunakan antiseptik.

Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan tentang fungsi serviks, definisi serviks, definisi kanker serviks, karakteristik tumor ganas, penyebab utama kanker serviks, tanda dan gejala kanker serviks, pencegahan primer, pencegahan sekunder, tujuan pemeriksaan pap smear, dan metode pengobatan kanker serviks dengan perilaku primer, sekunder, dan tersier

188 kanker serviks. Hal ini bisa disebabkan karena pengetahuan yang dimiliki responden, bukanlah pengetahuan yang diperoleh melalui jalur pendidikan formal yang baik, sehingga tidak berkorelasi secara langsung.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 125-138)

Dokumen terkait