51
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi uraian hasil penelitian: (1) Gambaran tempat penelitian; (2) Identitas responden; (3) Informasi tentang penderita kanker serviks; (4) Temuan tentang pengetahuan penderita dan bukan penderita kanker serviks tentang tempat pelayanan kesehatan yang dituju selama setahun terakhir; (5) Pengetahuan responden (penderita dan bukan penderita kanker serviks) tentang anatomi dan fisiologis serviks dan kanker serviks; (6) Temuan informasi tentang perilaku-perilaku yang dilakukan oleh responden bukan penderita kanker serviks yang berkaitan dengan pencegahan primer, sekunder, dan tersier; (7) Temuan informasi tentang perilaku-perilaku yang dilakukan oleh penderita kanker serviks yang berkaitan dengan perilaku seksual, personal hygiene (vagina), gaya hidup, dan nutrisi; (8) Analisis hubungan antara variabel pengetahuan dan perilaku preventif, dan pembahasannya.
52
4.1 Gambaran Tempat Penelitian
4.1.1 Profil pelayanan dan sejarah RSUD Dr. Moewardi
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi yang terletak di Surakarta yaitu di Jalan Kolonel Soetarto 132 adalah rumah sakit milik pemerintah propinsi Jawa Tengah. Dengan tipe kelas A, dan memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 777. Berdasarkan Surat Keputusan bersama Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri dalam Negeri RI, Nomor 544/Menkes/SKB/X/81, Nomor 043 a/V/1981 dan BO: 324 tahun 1981, ditetapkan bahwa RSUD Dr. Moewardi Surakarta menjadi rumah sakit pendidikan.
Wilayah Surakarta oleh Pemerintah Propinsi Dati I Jawa Tengah ditetapkan sebagai wilayah pengembangan Jawa tengah sehingga RSUD Dr. Moewardi yang merupakan satu-satunya rumah sakit pemerintah terbesar di wilayah tersebut harus menyesuaikan dan mampu sebagai pusat rujukan wilayah Surakarta dan sekitarnya. Dari sejarah tersebut, maka ditetapkan hari jadi RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tanggal 01 Januari 1950.
4.1.2 Jenis layanan
RSUD Dr. Moewardi menawarkan berbagai jenis layanan kesehatan kepada masyarakat seperti pelayanan gawat darurat, rawat jalan, rawat inap paviliun cendana, medical check up (MCU), dan juga beberapa klinik yaitu klinik cendana, klinik ingin punya anak Indriya Ratna, klinik Hastiti skin
53 care, klinik kesehatan jiwa/psikiatri, dan klinik voluntary consulting and testing. RSUD Dr. Moewardi juga mempunyai instalasi bedah sentral, instalasi perawatan intensif, instalasi rehabilitasi medis, instalasi radiologi, instalasi laboratorium patologi klinik, instalasi mikrobiologi klinis; instalasi parasitologi dan mikologi, instalasi laboratorium patologi anatomi, instalasi gizi, instalasi farmasi, instalasi central sterilization supply department (CSSD) dan laundry, instalasi sanitasi, instalasi kedokteran forensik dan medikolegal. Selain itu, RSUD Dr. Moewardi mempunyai blok bagian ilmu kesehatan anak, bedah, penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, kardiologi dan kedokteran vaskuler, paru, ilmu kesehatan kulit dan kelamin, mata, penyakit saraf, ilmu penyakit THT, gigi dan mulut, dan radiologi.
4.1.3 Sumber daya manusia
RSUD Dr. Moewardi memiliki sumber daya manusia tahun 2012, terdiri dari dokter umum (16 orang), dokter spesialis (157 orang), dokter spesialis gigi (5 orang), apoteker (16 orang), perawat (584 orang), bidan (71 orang), farmasi (43 orang), tenaga kesehatan masyarakat (18 orang), dietisien (17 orang), fisioterapi (26 orang), ketrampilan medis (97 orang), sarjana non kesehatan (131 orang), sarjana muda non kesehatan (24 orang), dan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) (317 orang).
4.1.4 Sepuluh Penyakit terbanyak rawat inap
Tujuan pemaparan data mengenai sepuluh penyakit terbanyak rawat inap dimaksudkan untuk mengetahui dan mengenal jenis-jenis penyakit
54 terbanyak rawat inap di RSUD Dr. Moewardi. Pada Tabel 4.1.4 menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 10 penyakit terbanyak rawat inap yaitu pertama adalah neoplasma ganas payudara (1.770 orang), kedua adalah janin dan bayi baru lahir yang dipengaruhi oleh faktor dan penyulit kehamilan persalinan dan kelahiran (1.560 orang), ketiga adalah neoplasma ganas serviks uterus (1.308 orang), keempat adalah bayi lahir hidup sesuai tempat lahir (111 orang), kelima adalah diabetes mellitus YTT (1.146 orang), keenam adalah CKD/gagal ginjal (1.050 orang), ketujuh adalah perdarahan intrakranial (372 orang), kedelapan adalah hipertensi esensial (636 orang), kesembilan adalah stroke non hemoragik (984 orang), dan kesepuluh adalah diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) (624 orang) (lihat pada Tabel 4.1.4).
Tabel 4.1.4 1Sepuluh Penyakit Terbanyak Rawat Inap
Nama Penyakit Jumlah Penderita
(orang)
1. Neoplasma ganas payudara 1.770 2. Janin dan bayi baru lahir
yang dipengaruhi oleh faktor dan penyulit kehamilan
persalinan dan kelahiran 1.560 3. Neoplasma ganas serviks
uterus 1.308
4. Bayi lahir hidup sesuai
tempat lahir 111
5. Diabetes Melitus YTT 1.146 6. CKD/gagal ginjal 1.050 7. Perdarahan intrakranial 372 8. Hipertensi esensial 636 9. Stroke non hemoragik 984 10. Diare dan Gastroenteritis
oleh penyebab infeksi tertentu
(kolitis infeksi) 624
55
4.1.5 Kasus kanker serviks di RSUD Dr. Moewardi
Tujuan pemaparan data kasus kanker serviks di RSUD Dr. Moewardi yaitu untuk memberikan informasi dan gambaran tentang kejadian dan kematian akibat kanker serviks yang dirawat inap dan atau rawat jalan. Pada Grafik 4.1.5 a menunjukkan pada tahun 2007 jumlah pasien kanker serviks yang rawat inap sebanyak 936 orang dan yang rawat jalan sebanyak 2.068 orang. Pada tahun 2008, jumlah pasien kanker serviks yang rawat inap sebanyak 818 orang, tahun 2010 pasien kanker serviks yang rawat inap sebanyak 1.778 orang, dan tahun 2011 pasien kanker serviks yang rawat inap sebanyak 1.308 (lihat Grafik 4.1.5 a).
Grafik 4.1.5 a Jumlah Pasien Kanker Serviks Yang rawat Inap dan Rawat Jalan
Sumber: Buku Laporan Tahunan Bagian Rekam Medik RSUD Dr. Moewardi
Grafik 4.1.5 b memperlihatkan pasien kanker serviks yang rawat inap pada bulan Januari sebanyak 112 orang, bulan Pebruari 129 orang, bulan Maret 145 orang, bulan April 53 orang, bulan Mei 73 orang, bulan Juni 71
0 500 1000 1500 2000 2500 2007 2007 2008 2010 2011 J u m la h p a s ie n k a n k e r s e rv ik s (r a w a t in a p d a n r a w a t ja la n ) Tahun
56 orang, bulan Juli 73 orang, bulan Nopember 68 orang, dan bulan Desember 64 orang (lihan Grafik 4.1.5 b).
Grafik 4.1.5 b Jumlah Pasien Kanker Serviks Yang rawat Inap
Sumber: Buku Laporan Tahunan Bagian Rekam Medik RSUD Dr. Moewardi
Grafik 4.1.5 c menunjukkan pada tahun 2012, pasien kanker serviks yang rawat jalan pada bulan September sebanyak 150 orang, bulan Oktober 224 orang, bulan Nopember 215 orang, dan bulan Desember 300 orang (lihat grafik 4.1.5 c).
Grafik 4.1.5 c Jumlah Pasien Kanker Serviks Yang rawat Jalan
Sumber: Buku Laporan Tahunan Bagian Rekam Medik RSUD Dr. Moewardi
0 50 100 150 200
Jan Peb Mar Apr Mei Juni Juli Nop Des
Jum la h p as ie n ka n ke r se rv ik s Bulan
Jumlah pasien kanker serviks yang rawat inap selama bulan Januari, Pebruari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Nopember, dan
Desember 2012 0 50 100 150 200 250 300 350
Sep Okt Nop Des
J um la h pas ie n k a nke r s e rv ik s Bulan
Jumlah pasien kanker serviks yang rawat jalan bulan September-Desember 2012
57
4.1.6 Jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung di Poli Obsgyn
Tujuan pemaparan data jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung di Poli Obsgyn adalah untuk mengetahui jumlah pasien kanker serviks mengalami penurunan atau peningkatan. Pada Grafik 4.1.6 memperlihatkan jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung di Poli Obsgyn selama tahun 2012, yaitu pada bulan Januari jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung sebanyak 170 orang, bulan Pebruari sebanyak 141 orang, bulan Maret sebanyak 136 orang, bulan April sebanyak 133 orang, bulan Mei sebanyak 124 orang, bulan Juni sebanyak 127 orang, bulan Juli sebanyak 130 orang, bulan Agustus sebanyak 99 orang, bulan September sebanyak 133 orang, bulan Oktober sebanyak 134 orang, bulan Nopember sebanyak 136 orang, dan bulan Desember jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung sebanyak 103 orang (lihat tabel 4.16).
Grafik 4.1.6 Jumlah pasien kanker serviks yang berkunjung di Poli
Obsgyn tahun 2012
Sumber: Buku Harian Poli Obsgyn
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Jum la h p as ie n ka n ke r se rv ik s Bulan
58
4.2 Analisis Univariat
Dalam penelitian ini dilakukan analisis univariat terhadap data temuan tentang identitas responden, informasi tentang penderita kanker serviks, pengetahuan responden tentang tempat layanan kesehatan yang tuju, pengetahuan responden tentang anatomi dan fisiologis serviks, serta perilaku preventif, dan akan dipaparkan sebagai berikut:
4.2.1 Identitas Responden
Responden dalam penelitian ini berjumlah 50 orang (25 penderita dan bukan penderita kanker serviks), dan untuk mengetahui informasi mengenai identitas mereka, maka dilakukan wawancara dipandu kuesioner dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka mengenai umur, pendidikan terakhir, pekerjaaan, suku dan agama, dan tempat tinggal dan hasilnya yaitu:
a. Umur
Sewaktu ditanyakan mengenai “Berapa umur responden sekarang”?, jawabannya adalah hasil penelitian menunjukkan umur termuda penderita kanker serviks adalah 28 tahun, dan tertua 60 tahun. Sedangkan umur termuda bukan penderita kanker serviks adalah umur 19 tahun dan tertua 47 tahun (lihat Tabel 4.2.1).
Tabel 4.2.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi
Umur N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi Penderita 25 28 60 46.00 48.00 7.990
59 Umur N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi Penderita 25 28 60 46.00 48.00 7.990 Bukan penderita 25 19 47 33,60 33,00 7,863
Keterangan: Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Berdasarkan pengategorian kelompok umur penderita kanker serviks dan bukan penderita kanker serviks, maka hasil yang diperoleh yaitu penderita kanker serviks terbanyak berada pada rentang umur 45-54 tahun. Sedangkan bukan penderita terbanyak berada pada rentang umur 25-34 tahun (lihat Tabel 4.2.2).
Tabel 4.2.2 1Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
Identitas responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Umur (tahun) Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) 15-24 4 16 25-34 3 12 11 44 35-44 5 20 8 32 45-54 14 56 2 8 55-64 3 12 Total 25 100 25 100
Keterangan: Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
b. Pendidikan terakhir
Untuk mengetahui pendidikan terakhir responden, maka peneliti bertanya “Apa pendidikan terakhir ibu”? jawabannya yaitu memperlihatkan pendidikan terakhir penderita kanker serviks terbanyak adalah SD 8
60 orang (32%). Sedangkan pendidikan terakhir bukan penderita kanker serviks terbanyak adalah SMP 13 orang (52%) (lihat tabel 4.2.3).
Tabel 4.2.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan terakhir
Identitas responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Pendidikan Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) Tidak sekolah 5 20 Tidak tamat SD 3 12 SD 8 32 5 20 SMP 7 28 13 52 SMA 1 4 5 20 SPG 1 4 SMK 1 4 Sarjana 1 4 Total 25 100 25 100
Keterangan: Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Hasil penelitian mengenai pendidikan terakhir responden diatas, sejalan dengan pandangan informan kunci yaitu bidan dan dokter Poli Obsgyn, yaitu:
Peneliti: “Bagaimana tingkat pendidikan pasien di Poli Obsgyn”?
Bidan R: “Disini itu rata-rata dibawah standar ya kelas menengah kebawah, ada yang ngak (tidak) sekolah, cuma SD atau SMP kebanyakan dan perguruan tinggi juga ada tapi jarang”.
Kemudian, peneliti bertanya lagi kepada dokter G dan W:
Peneliti: “Bagaimana tingkat pendidikan pasien-pasien kanker serviks” ? Dokter G: “Beragam, mulai dari yang tidak sekolah, SD sampai sarjana juga ada”.
61
Dokter W: “Tingkat pendidikan bervariasi tapi kebanyakan sich hanya lulusan SD atau SMP”.
c. Pekerjaan
Saat peneliti bertanya kepada responden tentang “Apa pekerjaan ibu”? dan hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan penderita kanker serviks terbanyak adalah sebagai ibu rumah tangga dan petani masing-masing 9 orang (36%). Sedangkan pekerjaan bukan penderita kanker serviks terbanyak adalah juga sebagai ibu rumah tangga 15 orang (60%) (lihat tabel 4.2.4).
Tabel 4.2.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan
Identitas responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Pekerjaan Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Ibu rumah tangga 9 36 15 60
Petani 9 36 Penjahit 3 12 Buruh 2 8 4 16 Wiraswasta 2 8 4 16 Karyawan salon 1 4 Karyawati swasta 1 4 Total 25 100 25 100
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Hasil penelitian tersebut diatas, sejalan dengan pandangan informan kunci yaitu bidan dan dokter Poli Obsgyn, sebagai berikut:
Peneliti bertanya kepada Bidan SR dan bidan R: “Sebagian besar atau
62
Bidan SR : “Banyak ibu rumah tangga juga tapi mereka umur-umur muda, masih banyak juga yang mereka pegawai”.
Bidan R : “Kebanyakan bekerja sebagai ibu rumah tangga”.
Setelah itu, peneliti bertanya lagi kepada dokter G dan dokter W dengan pertanyaan:
Peneliti: “Sebagian besar pasien-pasien kanker serviks bekerja Dokter G: “Secara umum mereka berasal dari golongan menengah kebawah seperti petani atau buruh kasar”
Dokter W : “Sebagian besar dari sosial ekonomi rendah ya ada yang petani, ada yang buruh, ada yang cuma ibu rumah tangga”.
d. Suku dan Agama
Saat ditanyakan mengenai “Ibu berasal dari suku dan agama apa”? maka hasilnya adalah seluruh penderita kanker serviks (100%) dari suku Jawa dan beragama Islam. Sedangkan bukan penderita kanker serviks sebanyak (96%) dari suku Jawa dan (80%) beragama Islam.
e. Tempat tinggal
Sewaktu peneliti bertanya “Dimana tempat tinggal ibu”?, maka hasil penelitian memperlihatkan alamat atau tempat tinggal penderita kanker serviks terbanyak adalah di Jawa Timur 7 orang (28%). Sedangkan alamat atau tempat tinggal bukan penderita kanker serviks terbanyak adalah di Solo 10 orang (40%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan alamat atau tempat tinggal dapat dilihat pada Tabel 4.2.5
63
Tabel 4.2.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan alamat atau tempat tinggal
Identitas responden Responden penelitian
Penderita
Bukan penderita Alamat atau tempat
tinggal Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) Sragen 5 20 Sukoharjo 4 16 6 24 Boyolali 5 20 1 4 Jawa Tengah 4 16 Jawa Timur 7 28 2 8 Solo 10 40 Karanganyar 6 24 Total 25 100 25 100
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Hasil penelitian diatas selaras dengan pandangan bidan dan dokter Poliklinik Obstetri-ginekologi yaitu:
Peneliti: “Sebagian besar pasien yang kesini berasal darimana” ?
Bidan SR: “Banyak yang dari luar karena rumah sakit ini rumah sakit rujukan. Jadi banyak sekali yang dari luar-luar kota itu, ya sekitar daerah Surakarta ya banyak juga tapi juga sampai ke daerah Jawa timur karena rumah sakit ini rumah sakit rujukan. Jadi, semuanya datang kesini”.
Bidan R: “Campuran, dari desa, kota banyak, dari luar kota banyak bahkan ada yang dari luar propinsi. Mungkin dia (pasien) merantau tapi alamatnya masih alamat disana”.
Sedangkan jawaban dokter adalah:
Dokter G: “Beragam dari semua ada, baik dari desa, kota atau pun dari propinsi lain. Mereka datang sudah membawa hasil rujukan”.
64
4.2.2 Data Keluarga
Informasi data keluarga yaitu informasi tentang kehidupan penderita kanker serviks meliputi:
1. Status pernikahan dan jumlah pernikahan
Untuk mengetahui informasi mengenai status dan jumlah pernikahan responden, maka peneliti bertanya “Bagaimana status pernikahan ibu”?, “Berapa kali ibu menikah”?, dan hasilnya adalah seluruh responden yaitu 25 orang (100%) sudah menikah, 5 orang (20%) diantaranya adalah janda. Sebagian besar responden (88%) menikah satu kali (lihat tabel 4.2.6).
Tabel 4.2.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan status pernikahan dan jumlah pernikahan
Penderita kanker serviks Frekuensi
Persen (%) Status pernikahan
Menikah 25 100
Total 25 100
Jumlah pernikahan (kali)
1 22 88
2 3 12
Total 25 100
Keterangan: penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
2. Umur pertama kali menikah
Sewaktu ditanyakan “Berapa umur responden saat pertama kali menikah”? Hasil penelitian memperlihatkan penderita kanker serviks pertama kali menikah umur termuda adalah 12 tahun dan tertua 24 tahun (lihat tabel 4.2.7).
65
Tabel 4.2.7 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi
N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi Umur 25 12 24 19.08 19.00 2.957
Berdasarkan pengategorian, sebagian besar penderita kanker serviks (72%) menikah muda yaitu ≤21 tahun (lihat tabel 4.2.8).
Tabel 4.2.8 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur responden saat pertama kali menikah
Umur pertama kali menikah
(tahun) Frekuensi Persen (%) ≤21 20 80 >21 5 20 Total 25 100
3. Aktivitas seksual sebelum nikah atau diluar nikah
Sewaktu peneliti bertanya “Bagaimana status pernikahan ibu? Jawaban mereka yaitu seluruh responden sudah menikah, sehingga pertanyaan tentang “Jika belum menikah mempunyai pasangan (pacar) seksual, pernah melakukan hubungan seks, dan umur pertama kali melakukan hubungan seks”? jawabannya tidak. Distribusi frekuensi responden berdasarkan informasi mempunyai pasangan (pacar) seksual, pernah melakukan hubungan seks, dan umur pertama kali melakukan hubungan seks dapat dilihat pada tabel 4.2.9.
66
Tabel 4.2.9 Distribusi frekuensi responden berdasarkan informasi
mempunyai pasangan (pacar) seksual, pernah melakukan
hubungan seks, dan umur pertama kali melakukan hubungan seks
Penderita kanker serviks Frekuensi
Persen (%) Jika belum menikah, mempunyai pasangan
(pacar) seksual
Ya 0 0
Tidak 25 100
Total 25 100
Pernah melakukan hubungan seks dengan pacar
Ya 0 0
Tidak 25 25
Total 25 100
Umur pertama kali melakukan hubungan seks dengan pacar
- 25 100
Total 25 100
Keterangan: penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
4. Jumlah anak
Untuk mengetahui informasi mengenai jumlah anak, maka peneliti bertanya “Berapa anak yang pernah ibu lahirkan (baik lahir hidup atau lahir meninggal)” ? jawabannya adalah seluruh penderita kanker serviks (100%) pernah melahirkan, dan responden terbanyak yaitu (36%) mempunyai 3 anak (lihat pada tabel 4.2.10).
67
Tabel 4.2.10 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan
Jumlah anak yang
dilahirkan Frekuensi Persen (%) 1 4 16 2 7 28 3 9 36 4 3 12 5 2 8 Total 25 100
5. Umur saat pertama mempunyai anak
Hasil penelitian menunjukkan penderita kanker serviks pertama kali mempunyai anak umur termuda adalah 15 tahun dan tertua 27 tahun (lihat tabel 4.2.11).
Tabel 4.2.11 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi.
N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi Umur 25 15 27 21.04 21.00 3.071
Berdasarkan pengategorian sebagian besar penderita kanker serviks (56%) mempunyai anak pada saat berumur ≤21 tahun. Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur pertama kali punya anak dapat dilihat pada tabel 4.2.12.
Tabel 4.2.12 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur responden saat pertama kali mempunyai anak
Umur pertama kali
mempunyai anak (tahun) Frekuensi
Persen (%)
≤21 tahun 14 56
>21 tahun 11 44
68
4.2.3 Keluhan Utama
Untuk mengetahui keluhan utama responden saat datang memeriksakan diri di Poliklinik Obstetri-Ginekologi, maka peneliti bertanya “Keluhan utama apa yang ibu rasakan saat ini”? dan jawaban responden yaitu: sebagian besar responden tidak hanya mempunyai satu keluhan utama tetapi mempunyai beberapa keluhan lainnya. Keluhan utama responden terbanyak adalah sakit atau nyeri dibagian bawah perut yaitu sebanyak 13 orang (52%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan keluhan utama dapat dilihat pada tabel 4.2.13.
Tabel 4.2.13 Distribusi frekuensi responden berdasarkan keluhan utama (n=25)
Keluhan utama Frekuensi
Persen (%)
Tidak ada keluhan 4 16
Sakit atau nyeri dibagian bawah perut 13 52
Keputihan 7 28
Sulit tidur 1 4
Pusing 2 8
Mual 1 4
Muntah 1 4
Bagian bahu kemang-kemang 1 4
Pinggul panas 1 4
Bagian punggung pegal-pegal 3 12
Leher kaku 1 4
Hal itu itu sejalan dengan pandangan dokter W yaitu:
Peneliti: Saat pasien kanker serviks datang memeriksakan diri, keluhan
69
Dokter W: yaitu “Kalau sudah lanjut tentu keluhan utama adalah perdarahan sama nyeri, kadang-kadang buang air kecil (BAK) juga terganggu. Tapi kalau yang masih stadium-stadium awal itu biasanya keluhannya itu post koital bleeding dan keputihan”.
4.2.4 Informasi Penetapan Klinis Penyakit
1. Waktu didiagnosis menderita kanker serviks
Peneliti bertanya, sejak kapan ibu didiagnosis menderita kanker serviks? dan hasilnya adalah sebagian besar penderita kanker serviks (68%) didiagnosis menderita kanker serviks adalah pada tahun 2012 (lihat tabel 4.2.14).
Tabel 4.2.14 Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu responden didiagnosis menderita kanker serviks
Waktu responden didiagnosis
menderita kanker serviks Frekuensi
Persen (%) Tahun 2007 2 8 Tahun 2009 1 4 Tahun 2010 2 8 Tahun 2011 3 12 Tahun 2012 17 68 Total 25 100
2. Umur saat didiagnosis menderita kanker serviks
Untuk mengetahui informasi tentang umur saat didiagnosis menderita kanker serviks, maka peneliti bertanya “Berapa umur ibu saat didiagnosis menderita kanker serviks”? dan hasilnya adalah umur termuda 27 tahun dan tertua 59 tahun (lihat tabel 4.2.15).
Tabel 4.2.15 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi.
N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi Umur 25 27 59 45.12 47.00 7.715 .
70 Berdasarkan pengategorian umur penderita kanker serviks saat didiagnosis menderita kanker serviks terbanyak adalah berada pada rentang umur 47-52 tahun 11 orang (44%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur saat didiagnosis menderita kanker serviks dapat dilihat pada tabel 4.2.16.
Tabel 4.2.16 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur responden saat didiagnosis menderita kanker serviks
Umur saat didiagnosis
menderita kanker serviks Frekuensi
Persentase (%) <35 tahun 3 12 35-40 tahun 3 12 41-46 tahun 6 24 47-52 tahun 11 44 53-58 tahun 1 4 >58 tahun 1 4 Total 25 100
3. Stadium kanker serviks
Sewaktu ditanyakan “Pada stadium berapa ibu didiagnosis oleh dokter menderita kanker serviks”?, hasilnya adalah responden terbanyak didiagnosis menderita kanker serviks pada stadium IIIB yaitu 10 orang (40%) (lihat tabel 4.2.17).
Tabel 4.2.17 Distribusi frekuensi responden berdasarkan stadium kanker serviks
Stadium kanker serviks Frekuensi
Persen (%) 0 1 4 IB2 5 20 IIA 5 20 IIB 4 16 IIIB 10 40 Total 25 100
71
4. Pemahaman responden mengenai stadium kanker serviks
Untuk mengetahui mengenai pemahaman responden tentang arti stadium kanker serviks yang dialami dan informasi yang mereka tahu tentang stadium tersebut maka peneliti bertanya “Apakah ibu tahu arti dari kondisi stadium tersebut”? dan Jika Ya, coba ibu jelaskan?, dan jawabannya adalah sebanyak (80%) tidak mengetahui arti dari stadium kanker serviks yang dialaminya dan hanya 5 responden (20%) yang mengetahuinya, serta informasi yang mereka ketahui dapat dilihat pada tabel 4.2.18.
Tabel 4.2.18 Distribusi frekuensi responden berdasarkan
pemahaman responden mengenai stadium kanker serviks
Informasi yang diketahui Frekuensi
Persen (%)
Tidak ada 20 80
Setelah dibiopsi ditemukan kanker IIA 1 4
Harus jalani operasi 1 4
Kanker sampai di mulut rahim 1 4 Sudah ngak bisa dioperasi 1 4
cuma kemo-radiasi
Harus dikemo dan disinar 1 4
Total 25 100
5. Lama responden menderita kanker serviks
Saat peneliti bertanya “Berapa lama ibu menderita kanker serviks”?, maka jawaban responden adalah terbanyak <1 tahun sebanyak 17 orang (68%) (lihat pada tabel 4.2.19).
72
Tabel 4.2.19 Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama menderita kanker serviks
Lama menderita kanker serviks
(tahun) Frekuensi Persen (%) <1 17 68 1-2 3 12 3-4 3 12 >4 2 8 Total 25 100
4.2.5 Deteksi Dini Dan Pencegahan Kanker Serviks
1. Pengetahuan responden tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks
Sewaktu ditanyakan “Sebelum didiagnosis menderita kanker serviks apakah ibu pernah mendengar tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks”? dan “Apakah ibu tahu tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks seperti pemeriksaan pap smear/ inspeksi visual asam asetat (IVA)/kolposkopi/tes human papilloma virus (HPV) DNA”? jawaban responden adalah sebagian besar responden (80%) tidak pernah mendengar dan tidak tahu tentang deteksi dini dan pencegahan kanker serviks.
2. Perilaku pemeriksaan deteksi dini dan pencegahan kanker serviks serta hasilnya
Sebelum sakit (menderita kanker serviks), apakah ibu pernah melakukan pemeriksaan deteksi dini dan pencegahan kanker serviks seperti pap smear, IVA, kolposkopi, dan tes HPV DNA? Jawaban
73 responden adalah sebagian besar responden (96%) tidak pernah melakukan pemeriksaan seperti pap smear, IVA, kolposkopi, tes HPV DNA, dan juga peneliti bertanya “Bagaimana hasil pemeriksaan pap smear terakhir yang disampaikan oleh dokter/bidan”? dan hasilnya adalah 1 responden (4%) yang melakukan pemeriksaan pap smear, hasil tesnya adalah negatif.
3. Alasan dan kendala responden tidak melakukan pemeriksaan
Peneliti bertanya “Apa alasan dan kendala ibu tidak melakukan pemeriksaan”? dan Jawaban responden terbanyak adalah karena tidak tahu informasi sebanyak 19 orang (76%), dan alasan lainnya dapat dilihat pada tabel 4.2.20.
Tabel 4.2.20 Distribusi frekuensi responden berdasarkan alasan dan kendala tidak melakukan pemeriksaan (n=25)
Alasan tidak melakukan pemeriksaan seperti
pap smear, IVA, kolposkopi dan tes HPV DNA Frekuensi
Persen (%)
Tidak ada kendala 1 4
Tidak tahu informasi 19 76
Jarak antara rumah dan tempat layanan
kesehatan jauh 5 20
Takut 5 20
Tidak ada waktu 1 4
4.2.6 Informasi Pengobatan Kanker Serviks
1. Waktu mengikuti pengobatan kanker serviks
Peneliti bertanya “Sejak kapan ibu mulai mengikuti pengobatan kanker serviks”? Jawaban responden adalah bervariasi, tetapi waktu
74 pengobatan penderita kanker serviks terbanyak adalah adalah >1 tahun sebanyak 8 orang (32%) (lihat pada tabel 4.2.21).
Tabel 4.2.21 Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu responden mengikuti pengobatan kanker serviks
Waktu responden mengikuti
pengobatan kanker serviks Frekuensi
Persen (%) 0 bulan 2 8 <3 bulan 2 8 3 bulan 1 4 4-6 bulan 6 24 >6 bulan 6 24 > 1 tahun 8 32 Total 25 100
2. Metode pengobatan yang dijalani responden
Sewaktu ditanyakan “Metode pengobatan apa yang sudah ibu jalani”? maka jawaban responden adalah sebagian besar responden menjalani pengobatan kanker serviks dengan metode kombinasi yaitu operasi, kemoterapi, dan terapi radiasi atau sinar (lihat pada tabel 4.2.22).
Tabel 4.2.22 Distribusi frekuensi responden berdasarkan metode pengobatan yang sudah dijalani responden (n=25)
Metode pengobatan yang sudah
dijalani responden Frekuensi
Persen (%) Belum ada 2 8 Operasi 8 32 Radiasi 14 56 Kemoterapi 21 84
Hasil diatas sejalan dengan pandangan para dokter Poli Obsgyn, sebagai berikut:
75
Peneliti bertanya kepada dokter G dan dokter W: “Metode pengobatan
seperti apa yang dokter sampaikan dan anjurkan kepada pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks”?, dan jawabannya adalah:
Dokter G: “Ketika sudah ditegakan diagnosis maka dengan jelas akan diketahui bahwa pasien itu sudah berada pada stadium berapa dan untuk terapinya juga sudah jelas. Misalnya, bila pasien itu berada pada stadium II, pasien bisa dianjurkan untuk menjalani operasi, dan atau bila pasien sudah berada dalam stadium III atau stadium IV pasien dianjurkan untuk menjalani kemoterapi dan atau terapi sinar”.
Dokter W: “Modalitas pengobatan kanker serviks itu ada tiga, pertama ada operasi, kedua kemoterapi, dan ketiga radioterapi tergantung stadiumnya. Kalau stadium awal pengobatan dengan operasi tapi kalau stadium lanjut kemo-radiasi”.
3. Ketepatan waktu berobat
Untuk mengetahui informasi mengenai ketepatan waktu responden saat berobat, maka ditanyakan “Apakah ibu selalu tepat waktu saat berobat jalan sesuai jadwal pengobatan”?, dan jawaban mereka adalah sebagian besar responden (88%) tepat waktu saat berobat.
4. Hasil pengobatan (penjelasan oleh dokter mengenai kondisi kesehatan responden)
Sewaktu ditanyakan “Bagaimana hasil dari pengobatan yang telah dijalani terkait dengan kondisi kesehatan ibu sekarang”?, maka hasilnya adalah bervariasi, akan tetapi sebagian besar responden yaitu sebanyak 12 orang (48%) dianjurkan oleh dokter untuk tetap harus menjalani pengobatan sesuai jadwal (lihat tabel 4.2.23).
76
Tabel 4.2.23 Distribusi frekuensi responden berdasarkan hasil pengobatan
Hasil pengobatan terkait kondisi
kesehatan Frekuensi
Persen (%)
Pasien tidak tahu 7 28
Keadaan baik atau bagus dan- 12 48 lanjut pengobatan sesuai jadwal
Dianjurkan untuk pap smear 4 16 Penjelasan mengenai pengobatan- 1 4
yang sudah dijalani masih meru- pakan pengobatan (kemo) awal
Belum ada, baru di USG 1 4
Total 25 100
4.2.7 Pengetahuan Responden Tentang Tempat Pelayanan Kesehatan Yang Dituju
Untuk mengetahui pengetahuan responden (baik penderita dan bukan penderita kanker serviks) tentang tempat pelayanan kesehatan yang pernah dikunjungi sebelumnya, maka peneliti mencoba menggali kembali informasi itu dengan menanyakan beberapa hal seputar tempat pemeriksaan, pernah mendapat informasi tentang tempat pelayanan itu, sumber informasi, dan informasi apa saja yang diketahui, pengetahuan responden khusus mengenai jenis layanan kesehatan khusus dan dokter ahli yang menangani masalah terkait dengan kanker serviks, dan hasil yang diperoleh sebagai berikut:
a. Tempat pemeriksaan
Peneliti bertanya, “Dalam satu tahun terakhir, kemana ibu pergi memeriksakan diri? Jawaban responden adalah baik penderita dan bukan
77 penderita kanker serviks dalam setahun terakhir mereka tidak hanya memeriksakan diri di satu tempat pelayanan kesehatan. Namun ada beberapa tempat yang pernah dikunjungi selain ke rumah sakit yaitu ke puskesmas, klinik dokter spesialis, klinik dokter umum, bidan, dan poliklinik kesatuan (lihat tabel 4.2.24).
Tabel 4.2.24 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tempat memeriksakan diri (n=25)
Tempat
pemeriksaan Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) Rumah sakit 25 100 25 100 Puskesmas 17 68 15 60 Klinik dokter spesialis 1 4 1 4
Klinik dokter umum 2 8
Bidan 6 24 5 20
Poliklinik kesatuan 1 4
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Hasil itu sejalan dengan pengakuan bidan Poliklinik Obstetri-Ginekologi, sebagai berikut:
Peneliti bertanya kepada bidan SR : “Khusus untuk pasien-pasien yang
kanker serviks, apakah sebagian besar dari mereka datang sudah membawa surat rujukan?, jawabannya adalah:
Bidan SR : “Sebagian besar membawa rujukan dan hasil PA (patologi anatomi). Jadi, mereka yang sudah dirujuk kesini dari daerah-daerah itu mereka sudah membawa hasil PA karena disana mungkin ngak (tidak) bisa menangani. Disini (RSUD Dr Moewardi) ada
78
kemoterapi, ada radioterapi. Tapi ada juga yang belum itu hanya sebagian kecil. Jadi, yang banyak memang mereka rujukan-rujukan dari luar daerah dengan sudah membawa hasil PA”.
Kemudian peneliti bertanya kepada bidan R yaitu :
Peneliti: “Saat pasien kesini pernah dikaji ngak (tidak) apakah pasien itu
misalnya yang tinggal di desa memanfaatkan layanan kesehatan disana sebelum kesini (RSUD Dr. Moewardi”? jawabannya yaitu:
Bidan R : “Iya, dari puskesmas biasanya mereka mendapat rujukan dari puskesmas baru kesini untuk yang kasus kanker-kanker, tapi kalau untuk kasus jaminan persalinan (jampersal) mereka datang kesini sekarang dan diterima”.
b. Informasi tentang tempat pelayanan kesehatan, sumbernya, dan informasi yang responden ketahui tentang tempat pelayanan yang dikunjungi
Sewaktu ditanyakan “Apakah sebelumnya pernah mendapat informasi tentang tempat pelayanan kesehatan, sumbernya, dan informasi apa yang diketahui”?, maka jawaban responden adalah seluruh responden baik penderita dan bukan penderita kanker serviks pernah mendapat informasi terkait tempat pelayanan kesehatan yang mereka kunjungi. Sumber informasi penderita terdiri dari beberapa orang yaitu dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan bidan. Sedangkan sumber informasi bukan penderita kanker serviks adalah dokter spesialis, dokter umum, bidan, diri sendiri, dan tetangga. Selain itu, informasi yang diketahui penderita mengenai tempat pelayanan kesehatan yaitu tentang alamat, jenis layanan kesehatan, dan
79 tenaga kesehatan. Sedangkan informasi yang diketahui bukan penderita adalah alamat, nomor telepon, jenis layanan kesehatan, dan tenaga kesehatan (lihat pada tabel 4.2.25).
Tabel 4.2.25 Distribusi frekuensi responden berdasarkan informasi tentang tempat pelayanan kesehatan, sumbernya, dan informasi yang responden ketahui tentang tempat pelayanan yang dikunjungi (n=25)
Informasi tempat pelayanan
kesehatan Responden penelitian Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Pernah mendapat informasi
tempat pelayanan kesehatan
Ya 25 100 25 100 Tidak - - - - Sumber informasi Dokter spesialis 21 84 7 28 Dokter umum 6 24 2 8 Perawat 4 16 Bidan 8 32 10 40 Tetangga 1 4 Diri sendiri 7 28
Informasi yang diketahui
Responden
Alamat 25 100 25 100
No telepon 1 4
Jenis layanan kesehatan 20 80 14 56
Tenaga responden 7 28 2 8
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan bukan penderita yaitu pasien-pasien yang tidak didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
80
c. Informasi pengetahuan responden tentang jenis layanan kesehatan khusus dan dokter ahli yang menangani masalah kanker serviks
Untuk mengetahui pengetahuan responden tentang jenis layanan kesehatan khusus dan dokter ahli yang menangani masalah kanker serviks, maka peneliti bertanya “Apakah ibu tahu jenis layanan kesehatan khusus dan dokter ahli yang menangani masalah kanker serviks”? dan jawabannya adalah hampir seluruh penderita kanker serviks (96%) mengetahui informasi jenis layanan kesehatan khusus dan dokter ahli yang menangani masalah kanker serviks. Sedangkan bukan penderita kanker serviks yaitu sebanyak 13 orang (52%) mengetahui informasi jenis layanan kesehatan khusus dan sebanyak 6 orang (24%) tahu informasi dokter ahli.
4.2.8 Pengetahuan Responden Tentang Kanker Serviks
Untuk mengetahui pengetahuan responden tentang anatomi dan fisiologis serviks dan kanker serviks, maka peneliti bertanya kepada responden tentang 13 aspek pengetahuan, terdiri dari letak, gambar dan fungsi serviks, definisi kanker, definisi kanker serviks, karakteristik tumor ganas, penyebab utama, tanda dan gejala awal, pencegahan primer, pencegahan sekunder, tujuan pemeriksaan pap smear, pencegahan tersier, dan metode pengobatan kanker serviks. Dibawah ini akan dipaparkan pengetahuan responden tentang aspek anatomi dan fisiologis serviks, dan pengetahuan responden tentang aspek kanker serviks sebagai berikut:
81
a. Pengetahuan responden tentang aspek anatomi dan fisiologis serviks
Data penelitian menunjukkan pengetahuan wanita baik penderita dan bukan penderita tentang anatomi dan fisiologis serviks tidak jauh berbeda atau sama. Penderita dan bukan penderita kanker serviks sebagian besar tidak tahu tentang letak serviks, gambar serviks, dan fungsi serviks. Data penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang letak serviks (76%), gambar serviks (60%), fungsi serviks (76%). Sedangkan data juga memperlihatkan bahwa sebagian besar penderita kanker serviks, tidak tahu tentang letak serviks (76%), gambar serviks (96%), dan fungsi serviks (96%) (lihat tabel 4.2.26).
Tabel 4.2.26 Pengetahuan responden tentang aspek anatomi dan fisiologis serviks (n=50) Aspek anatomi dan fisiologis serviks Pengetahuan responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) Letak Tahu 6 24 6 24 Tidak tahu 19 76 19 76 Total 25 100 25 100 Gambar Tahu 1 4 10 40 Tidak tahu 24 96 15 60 Total 25 100 25 100 Fungsi Tahu 1 4 6 24 Tidak tahu 24 96 19 76 Total 25 100 25 100
82
b. Pengetahuan responden tentang aspek kanker serviks
Pengetahuan tentang kanker serviks terdiri dari 10 aspek, yaitu definisi kanker, definisi kanker serviks, karakteristik tumor ganas, penyebab utama, tanda dan gejala awal, pencegahan primer, pencegahan sekunder, tujuan pemeriksaan pap smear, pencegahan tersier, dan bukan metode pengobatan kanker serviks). Distribusi pengetahuan responden tentang kanker serviks dipaparkan berturut-turut dibawah ini:
1. Pengetahuan tentang definisi kanker
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden baik penderita dan bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang definisi kanker (Tabel 4.2.27).
Tabel 4.2.27 Pengetahuan responden tentang definisi kanker (n=50) Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Definisi kanker Tahu 5 20 6 24
Tidak tahu 20 80 19 76
Total 25 100 25 100
2. Pengetahuan tentang definisi kanker serviks
Hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar penderita tidak tahu tentang definisi serviks, dan sebagian besar bukan penderita kanker serviks tahu tentang definisi kanker serviks. Distribusi pengetahuan tentang definisi kanker serviks dapat dilihat pada Tabel 4.2.28.
83
Tabel 4.2.28 Pengetahuan responden tentang definisi kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Definisi kanker serviks Tahu 11 44 20 80
Tidak tahu 14 56 5 20
Total 25 100 25 100
3. Pengetahuan tentang karakteristik tumor ganas
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penderita dan bukan penderita kanker serviks tahu tentang karakteristik tumor ganas. Distribusi pengetahuan tentang karakteristik tumor ganas dapat dilihat pada Tabel 4.2.29.
Tabel 4.2.29 Pengetahuan responden tentang karakteristik tumor ganas (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Karakteristik tumor Tahu 15 60 21 84
Ganas Tidak tahu 10 40 4 16
Total 25 100 25 100
4. Pengetahuan responden tentang penyebab utama kanker serviks
Hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar penderita dan bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang penyebab utama kanker serviks. Distribusi pengetahuan tentang penyebab utama kanker serviks dapat dilihat pada Tabel 4.2.30.
84
Tabel 4.2.30 Pengetahuan responden tentang penyebab utama kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Penyebab utama Tahu 3 12 7 28
kanker serviks Tidak tahu 22 88 18 72
Total 25 100 25 100
5. Pengetahuan tentang tanda dan gejala awal
Hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar penderita dan bukan penderita kanker serviks tahu tentang tanda dan gejala awal kanker serviks (lihat Tabel 4.2.31).
Tabel 4.2.31 Pengetahuan responden tentang tanda dan gejala awal kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Tanda dan gejala awal Tahu 13 52 14 56
kanker serviks Tidak tahu 12 48 11 44
Total 25 100 25 100
6. Pengetahuan tentang pencegahan primer
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar bukan penderita kanker serviks tahu tentang pencegahan primer kanker serviks. Sedangkan sebagian besar penderita tidak tahu (lihat Tabel 4.2.32).
85
Tabel 4.2.32 Pengetahuan responden tentang pencegahan primer kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Pencegahan primer Tahu 4 16 24 96
kanker serviks Tidak tahu 21 84 1 100
Total 25 100 25 100
7. Pengetahuan tentang pencegahan sekunder kanker serviks Tabel 4.2.33 Pengetahuan responden tentang pencegahan sekunder kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Pencegahan sekunder Tahu 5 20 9 36
kanker serviks Tidak tahu 20 80 16 64
Total 25 100 25 100
Tabel 4.2.33 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden baik penderita dan bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang pencegahan sekunder kanker serviks.
8. Tujuan pemeriksaan pap smear
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden baik penderita dan bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang tujuan pemeriksaan pap smear. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.2.34.
86
Tabel 4.2.34 Pengetahuan responden tentang tujuan pemeriksaan
pap smear (n=50) Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Tujuan pemeriksaan Tahu 5 20 9 36
Pap smear Tidak tahu 20 80 16 64
Total 25 100 25 100
9. Pengetahuan tentang pencegahan tersier kanker serviks Tabel 4.2.35 Pengetahuan responden tentang pencegahan tersier kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Pencegahan tersier Tahu 8 32 18 72
kanker serviks Tidak tahu 17 68 7 28
Total 25 100 25 100
Tabel 4.2.35 menunjukkan bahwa penderita kanker serviks tidak tahu tentang pencegahan tersier kanker serviks. Sedangkan, sebagian besar responden bukan penderita kanker serviks tahu tentang hal itu.
10. Pengetahuan tentang metode pengobatan kanker serviks
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik penderita dan bukan penderita kanker serviks tidak tahu tentang metode pengobatan kanker serviks. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.2.36.
87
Tabel 4.2.36 Pengetahuan responden tentang bukan metode pengobatan kanker serviks (n=50)
Aspek kanker serviks
Pengetahuan
responden Responden penelitian
Penderita Bukan penderita
Frekuensi
Persen
(%) Frekuensi
Persen (%)
Bukan metode Tahu 8 32 10 40
pengobatan kanker Tidak tahu 17 68 15 60
Serviks Total 25 100 25 100
Data mengenai pengetahuan responden diatas, sejalan dengan pernyataan bidan Poliklinik Obstetri-Ginekologi, sebagai berikut:
Peneliti: “Bagaimana pengetahuan ibu-ibu yang datang periksa di
Poliklinik Obstetri-Ginekologi tentang kanker serviks”?
Bidan SR: “Pengetahuan mereka itu kurang karena mereka menganggap ya itu perdarahan dikira mungkin menstruasi. Jadi, dia (pasien) ngak (tidak) ngerti (mengerti) dari awal atau dia (pasien) ngerti (mengerti) itu keputihan-keputihan. Keputihan itu juga awal. Jadi mereka kayaknya betul-betul ngak (tidak) ngerti (mengerti) di kira keputihan biasa. Jadi, keputihan yang normal itu kan sebelum dan sesudah menstruasi. Mereka (pasien) menganggap mungkin itu biasa-biasa saja. Mereka datang sudah dengan keadaan perdarahan.
4.2.9 Perilaku Preventif Kanker Serviks
Bagian ini dimulai dengan memaparkan perilaku-perilaku preventif yang dilakukan oleh penderita dan bukan penderita kanker serviks, terdiri dari:
88
4.2.9.1 Penderita kanker serviks
Perilaku yang dilakukan oleh penderita kanker serviks berkaitan dengan perilaku seksual, personal hygiene (vagina), gaya hidup, dan faktor nutrisi sebagai berikut:
1. Perilaku seksual
a. Berapa umur ibu sejak pertama kali aktif melakukan hubungan seks?
Jawaban responden adalah umur termuda sejak pertama kali aktif melakukan hubungan seks adalah 12 tahun dan tertua 24 tahun (lihat Tabel 4.2.37).
Tabel 4.2.37 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
minimum, maksimum, mean, median, dan standar deviasi. N Minimum (termuda) Maksimum (tertua) Mean Median Standar deviasi umur 25 12 24 18.80 19.00 2.872
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
Berdasarkan pengategorian sebagian besar penderita kanker serviks (84%) pertama kali aktif melakukan hubungan seks adalah pada umur ≤21 tahun. Distribusi frekuensi umur responden sejak pertama kali aktif melakukan hubungan seks dapat dilihat pada Tabel 4.2.38
Tabel 4.2.38 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur saat
pertama kali melakukan hubungan seks Umur pertama kali melakukan
hubungan seks Frekuensi
Persen (%)
≤21 tahun 21 84
>21 tahun 4 16
89
b. Perilaku memiliki pasangan seksual lebih dari satu
Sewaktu ditanyakan “Sebelum sakit (terkena kanker serviks) apakah ibu pernah memiliki pasangan seksual lebih dari satu”?, dan jawaban responden adalah sebanyak 16 responden (64%) tidak pernah memiliki pasangan seksual lebih dari satu. Sedangkan 9 responden (36%) pernah memiliki pasangan seksual lebih dari satu.
c. Perubahan hubungan seksual
Untuk mengetahui informasi tentang ada atau tidaknya perubahan hubungan seksual setelah penderita sakit, maka peneliti bertanya “Setelah sakit (kena kanker serviks) apakah hubungan seksual ibu dengan pasangan mengalami perubahan”? dan jawaban mereka adalah sebanyak 23 responden (92%) setelah sakit (kena kanker serviks) mengalami perubahan hubungan seks, dan hanya 2 responden (8%) yang tidak. Setelah itu, peneliti bertanya lagi “Apa saja perubahan yang ibu alami”?, dan jawaban responden dapat dilihat pada Tabel 4.2.39
90
Tabel 4.2.39 Distribusi frekuensi responden berdasarkan
perubahan seksual (n=25)
Perubahan yang dialami Frekuensi
Persen (%)
Tidak ada perubahan 2 8
Mengalami penurunan libido 2 8
Nyeri saat melakukan hubungan seksual 3 12 Penurunan frekuensi dan durasi saat
melakukan hubungan seksual 1 4
Kelelahan 1 4
Suami pergi meninggalkan responden 2 8
Tidak berhubungan seks lagi 9 36
Kalau sudah kemo saat berhubungan
tidak keluar darah 1 4
Suami sudah meninggal 5 20
Takut berhubungan seks 1 4
Pacar yang kedua sudah kabur 1 4
Suami bekerja di Sumatera 1 4
Suami sering berganti-ganti pasangan 1 4
Keluar darah saat berhubungan 1 4
Kemudian, peneliti bertanya lebih lanjut “Apakah ibu merasa sangat terganggu dengan perubahan tersebut”?, dan “Adakah usaha atau upaya lain yang ibu dan atau pasangan lakukan untuk mengatasi perubahan dalam hubungan seksual sehingga tetap dapat menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang”?, dan jawaban responden adalah sebanyak 14 responden (56%) tidak merasa terganggu dengan perubahan yang terjadi. Sedangkan 11 responden (44%) merasa terganggu. Sebagian besar responden yaitu sebanyak 14 orang (56%) tidak mempunyai usaha atau upaya apapun guna mengatasi perubahan dalam hubungan seks. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usaha atau upaya yang dilakukan oleh responden guna mengatasi perubahan dalam hubungan seks dapat dilihat pada Tabel 4.2.40.
91
Tabel 4.2.40 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usaha
atau upaya yang dilakukan oleh responden guna mengatasi perubahan dalam hubungan seks
Usaha atau upaya yang dilakukan Frekuensi
Persen (%)
Tidak ada 14 56
Menahan keingingan untuk tidak- 7 28
melakukan hubungan seks
Berpelukan dan bercerita dengan- 4 16
Pasangan
Total 25 100
2. Perilaku personal hygiene (vagina)
Pada bagian ini peneliti ingin mengetahui informasi tentang bagaimana perilaku personal hygiene (vagina) penderita kanker serviks, maka peneliti bertanya tentang pemakaian antiseptik, frekuensi mencuci vagina, waktu mencuci vagina, bahan yang digunakan untuk mengelap dan mengeringkan vagina, frekuensi mengganti celana dalam, dan waktu saat mengganti celana dalam, dan hasil yang diperoleh yaitu:
a. Pemakaian antiseptik
Sewaktu ditanyakan “Sebelum sakit, apakah ibu menggunakan antiseptik untuk mencuci vagina”?, dan “Apakah ibu sering mencuci vagina dengan antiseptik”?, kemudian peneliti bertanya lagi “Setelah sakit, apakah ibu menggunakan antiseptik untuk mencuci vagina”? dan jawaban responden adalah sebanyak 17 responden (68%) sebelum sakit (terkena kanker serviks) tidak menggunakan antiseptik untuk mencuci vagina dan hanya 8 responden (32%) yang menggunakan. Dari 8 responden yang menggunakan antiseptik, hanya 4 responden (16%) yang sering
92 menggunakan antiseptik. Setelah sakit, sebanyak 21 responden (84%) tidak menggunakan antiseptik, dan hanya 4 responden (16%) yang masih menggunakan antiseptik.
b. Frekuensi mencuci vagina
Peneliti bertanya, “Sebelum dan setelah sakit (menderita kanker serviks) berapa kali dalam sehari ibu mencuci vagina”?, dan jawaban responden terbanyak pada tabel 4.2.33 diatas adalah sebanyak 11 responden (44%) sebelum sakit mencuci vagina 3 kali sehari. Sedangkan setelah sakit, responden terbanyak yaitu 10 responden (40%) mencuci vagina masing-masing 4 kali sehari dan >4 kali sehari. Distribusi frekuensi responden berdasarkan frekuensi mencuci vagina dapat dilihat pada Tabel 4.2.41
Tabel 4.2.41 Distribusi frekuensi responden berdasarkan frekuensi mencuci vagina sebelum dan setelah sakit
Frekuensi mencuci- Penderita
vagina (kali sehari) Sebelum Sakit
Setelah sakit Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) 2 5 20 1 4 3 11 44 3 12 4 3 12 10 40 >4 3 12 10 40 2-3 1 4 1 4 4-5 1 4 >5 1 4 Total 25 100 25 100
Keterangan : Penderita adalah pasien-pasien yang sudah didiagnosis menderita kanker serviks, dan mereka yang datang memeriksakan diri di Poli Obsgyn selama bulan Nopember 2012-Maret 2013, serta bersedia menjadi responden penelitian.
93
c. Waktu mencuci vagina
Untuk mengetahui informasi tentang waktu penderita kanker serviks mencuci vagina setelah sakit (menderita kanker serviks), maka peneliti bertanya “Saat kapan ibu sering mencuci vagina”? dan jawaban responden adalah dari total keseluruhan responden yaitu 25 orang, sebanyak 25 orang (100%) sering mencuci vagina saat mandi, 23 responden (92%) setelah buang air kecil (BAK), dan 1 responden (4%) sewaktu perdarahan. Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu mencuci vagina dapat dilihat pada Tabel 4.2.42.
Tabel 4.2.42 Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu mencuci vagina (n=25)
Waktu mencuci vagina Frekuensi
Persen (%)
Saat mandi 25 100
Setelah BAK 23 92
Setelah BAB 2 8
Saat haid dan mengganti pembalut 4 16
Sewaktu perdarahan 1 4
d. Bahan untuk mengelap dan mengeringkan vagina
Sewaktu peneliti bertanya “Apa yang ibu gunakan untuk mengelap dan mengeringkan vagina setelah basah”?, dan jawaban responden adalah dari total jumlah responden yaitu 25 orang, sebanyak 22 orang (88%) menggunakan handuk (lihat Tabel 4.2.43).
94
Tabel 4.2.43 Distribusi frekuensi responden berdasarkan bahan untuk mengelap dan mengeringkan vagina (n=25)
Bahan Frekuensi Persen (%) Kain 1 4 Handuk 22 88 Tissue 2 8 Tidak ada 2 8
e. Frekuensi mengganti celana dalam
Saat peneliti bertanya “Setelah sakit (terkena kanker serviks), berapa kali dalam sehari ibu mengganti celana dalam (CD)”?, dan jawaban responden terbanyak yaitu 14 responden (56%) mengganti celana dalam sebanyak 2 kali sehari (lihat Tabel 4.2.44).
Tabel 4.2.44 Distribusi frekuensi responden berdasarkan frekuensi mengganti celana dalam (CD)
Frekuensi mengganti
CD (kali sehari) Frekuensi Persen (%)
2 14 56 3 6 24 4 3 12 3-4 1 4 5-6 1 4 Total 25 100 f. Waktu Mengganti CD
Peneliti bertanya “Setelah sakit, saat kapan ibu mengganti celana dalam (CD)”?, dan jawaban responden lebih dari satu sehingga hasil yang diperoleh yaitu sebanyak 25 orang (100%) mengganti celana dalam setelah mandi, dan 9 orang (36%) saat basah. Distribusi frekuensi
95 responden berdasarkan waktu mengganti celana dalam dapat dilihat pada Tabel 4.2.45.
Tabel 4.2.45 Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu mengganti celana dalam (CD) (n=25)
Waktu mengganti CD Frekuensi
Persen (%) Setelah selesai mandi 25 100
Setelah BAK 4 16
Saat bau dan kotor 3 12
Basah 9 36
Saat mau sholat 3 12
3. Gaya hidup
Bagian ini berisi informasi tentang gaya hidup penderita kanker serviks terdiri dari aktivitas berolahraga, tidur, dan pekerjaan atau rutinitas, dan hasilnya adalah:
a. Aktivitas berolahraga
Untuk mengetahui aktivitas olahraga responden, maka peneliti bertanya “Sebelum sakit, apakah ibu sering berolahraga”?, dan “kapan terakhir ibu berolahraga”?, dan jawaban responden adalah sebanyak 24 responden (96%) sebelum sakit tidak sering berolahraga, dan hanya 1 responden (4%) yang sering berolahraga, dan waktu terakhir berolahraga adalah hampir 1 bulan yang lalu sebelum sakit (terkena kanker serviks).
b. Tidur
1. Waktu tidur responden
Sewaktu ditanyakan “sebelum dan setelah sakit, bagaimana waktu tidur ibu”?, dan jawaban responden adalah sebelum sakit responden tidur pada
96 pagi, siang, dan malam hari. Sedangkan setelah sakit waktu tidur responden menjadi pagi, siang, sore, dan malam. Terlihat ada perubahan waktu tidur yaitu yang semula responden tidak tidur sore, setelah sakit responden (4%) tidur pada sore hari. Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu tidur responden sebelum dan setelah sakit dapat dilihat pada Tabel 4.2.46
Tabel 4.2.46 Distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu tidur responden sebelum dan setelah sakit (terkena kanker serviks) (n=25)
Waktu tidur Penderita
Sebelum Sakit Setelah sakit
Frekuensi Persen (%) Frekuensi Persen (%) Pagi 1 4 7 28 Siang 22 88 24 96 Sore 1 4 Malam 25 100 25 100 2. Frekuensi tidur
Untuk mengetahui frekuensi tidur responden sebelum dan setelah sakit, maka peneliti bertanya kepada responden “sebelum dan setelah sakit berapa kali dalam sehari ibu tidur”?, dan jawaban responden adalah baik sebelum dan setelah sakit frekuensi tidur 1, 2, dan 3 kali sehari. Tetapi, terjadi perubahan frekuensi tidur yang semula sebelum sakit 3 responden (12%) tidur 1 kali sehari, setelah sakit berkurang menjadi 1 orang (4%). Sebanyak 21 responden (84%) yang semula sebelum sakit tidur 2 kali sehari berkurang menjadi 16 orang (64%), dan 1 responden (4%) yang