BAB 3 METODE PENELITIAN. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan social dan sumber informasi terhadap perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear) di Kecamatan Medan Selayang tahun 2012.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan dengan dasar pertimbangan karena tingkat kehadiran wanita usia subur dalam upaya deteksi dini penyakit kanker leher rahim masih rendah dan belum tercakup secara merata. Berdasarkan survey awal yang dilakukan di beberapa tempat di daerah ini didapat juga data bahwa kehadiran wanita usia subur di fasilitas kesehatan untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim masih rendah.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dimulai dengan pengusulan judul penelitian, penelusuran daftar pustaka, persiapan proposal penelitian, merancang kuesioner, konsultasi dengan pembimbing, pelaksanaan penelitian sampai dengan laporan akhir membutuhkan waktu 4 bulan terhitung Februari 2012-Juni 2012.

(2)

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur yang berusia 25-49 tahun yang berada di Kecamatan Medan Selayang.

3.3.2. Sampel

Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus (Lemeshow, 1997) sebagai berikut:

n= (Zα√Po(P-Po) + Zβ√Pa(1-Pa)) (Po-Pa)²

Dimana:

Zα = derivate baku alpa utk α = 0,05 Zα = 1,96 Zβ = derivat baku beta untuk β= 0,10 Zβ = 1,282

Po = Proporsi WUS yang perilakunya sudah setuju untuk pemeriksaan pap smear = 0,03

Po-Pa = Beda proporsi yang bermakna, ditetapkan sebesar 0,15 Pa = Proporsi WUS yang sudah setuju pada saat penelitian =0,45

Maka besar sampel untuk penelitian ini sebesar 105 wanita usia subur. Dalam penelitian ini ditambahkan sampel sebesar 10%, dengan pertimbangan bahwa semakin besar jumlah sampel maka hasil penelitian semakin mendekati gambaran efektivitas populasi penelitian. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 115 orang.

(3)

Selanjutnya untuk mengambil responden penelitian yang akan dijadikan unit analisis dilakukan dengan cara purposive sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut:

1. wanita usia subur pada kelompok umur 25-49 tahun 2. masih mempunyai suami

3. telah menikah selama 10 tahun

3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer

Pengumpulan data dilakukan secara langsung dari responden melalui wawancara dengan berpedoman pada kuesioner yang telah disusun.

3.4.2. Data Sekunder

Data sekunder penelitian diperoleh dari Dinas Kesehatan yaitu lokasi kecamatan yang memperoleh sosialisasi tentang kanker serviks dan daftar rekapitulasi penyuluhan dan skrining IVA, dari Puskesmas diperoleh jumlah wanita usia subur yang melakukan pemeriksaan IVA, dan dari Kantor Kecamatan diperoleh data jumlah penduduk, jumlah wanita usia subur.

3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas kuesioner dilakukan dengan menggunakan uji Korelasi Pearson, sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan uji Cronbach’h Alpha. Tehnik ini bertujuan untuk menguji apakah tiap item atau butir pertanyaandalam kuesioner benar-benar dapat mengukur factor yang akan diukur dan konsisten

(4)

menyatakan hasil ukur (Sugiono, 2006). Pertanyaan dalam kuesioner akan disebut valid atau reliable, jika nilai korelasi atau alpha pertanyaan tersebut lebih besar dari nilai table. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan pada 30 orang WUS di Kecamatan Medan Tuntungan dengan alasan memiliki demografi yang sama.

Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai yang menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel atau item dengan skor total variabel menggunakan rumus teknik korelasi pearson product moment (r), dengan ketentuan jika nilai r– hitung > r-tabel, maka dinyatakan valid dan sebaliknya. Pada taraf signifikan 95% untuk besar sampel 30 orang nilai r tabel adalah sebesar 0,361.

Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercaya dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reliabilitis alat ukur dari satu kali pengukuran dengan ketentuan, jika nilai r-Alpha>r table, maka dinyatakan reliable, maka ketentuan reliabilitas adalah :

1. Nilai r-Alpha > r-tabel dikatakan reliable. 2. Nilai r-Alpha < r-tabel dikatakan tidak reliable.

Hasil uji validitas dan realibilitas untuk masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan informasi semuanya

(5)

valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,872 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Informasi

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak Dukungan Informasi

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected

item-Total correlation Hasil Uji 1. Buku sebagai sumber informasi 30 0.704 Valid

2. Saran untuk pap smear 30 0,678 Valid

3. Hadir dalam sosialisasi pap smear 30 0,679 Valid 4. Melihat TV dan Media masa 30 0,831 Valid 5. Keluarga menginformasikan pap

smear

30 0,608 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,872

Tabel 3.2 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan emosional semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,747 dan lebih besar dari nilai rtabel, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

(6)

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Emosional

Variabel Konstrak Dukungan Emosional

Pernyataan Sub-Variabel n

Corrected item-Total correlation

Hasil Uji 1. Dukungan suami mengikuti pap smear 30 0.448 Valid 2. Anjuran suami mengikuti kegiatan pap 30 0,643 Valid 3. Suami mengantar ke fasilitas kesehatan 30 0,431 Valid 4. Dukungan suami agar tidak takut pap smear 30 0,573 Valid 5. Suami mendengar keluhan istri tentang pap 30 0,501 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,747

Tabel 3.3 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variabel konstrak dukungan instrument semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,803 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Intrumental

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak Dukungan Instrumental

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected item- Total correlation

Hasil Uji 1. Dukungan dana dari keluarga 30 0.652 Valid 2. Bebas untuk pap smear tanpa beban

RT

30 0,588 Valid

3. Dapat pinjaman dari keluarga 30 0,632 Valid 4. Nyaman melakukan pap smear 30 0,592 Valid 5. Keluarga memberikan fasilitas

transport

30 0,598 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,803

(7)

Tabel 3.4 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan aprisial semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,734 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Apraisial

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak Dukungan Apraisial

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected

item-Total correlation Hasil Uji

1. Penilaian keluarga 30 0.654 Valid

2. Keluarga mendukung untuk papsmear 30 0,386 Valid 3. Keluarga mendesak untuk pap smear 30 0,398 Valid 4. Persetujuan keluarga untuk pap smear 30 0,646 Valid 5. Motivasi keluarga untuk tidak takut 30 0,434 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,734

Tabel 3.5 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak sumber informasi semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,728 dan lebih besar dari nilai rtabel, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

(8)

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Sumber Informasi

Variabel Konstrak Sumber Informasi

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected

item-Total correlation Hasil Uji 1. Tukar informasi dengan teman sebaya 30 0.541 Valid 2. Membahas dengan teman sebaya

tentang bahaya kanker seviks

30 0,565 Valid

3. Membahas dengan teman sebaya tentang manfaat pemeriksaan papsmear

30 0,462 Valid

4. Ajakan teman sebaya ikut seminar pap smear

30 0,430 Valid

5. Mendengar teman sebaya sudah pernah melakukan pemeriksaan pap smear

30 0,456 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,728

Tabel 3.6 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak media elektronik semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,846 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Media Elektronik

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak Media Elektronik

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected item-Total correlation

Hasil Uji 1. Mendapat informasi dari TV tentang

bahaya kanker serviks

30 0.693 Valid

2. Mendapat informasi dari TV tentang pentingnya pencegahan kanker serviks

30 0,767 Valid

3. Ajakan dari Radio untuk deteksi dini kanker serviks

30 0,618 Valid

4. Melihat di TV orang yang selamat dari kanker serviks

(9)

Tabel 3.6. (Lanjutan) 5. Mencari informasi dari media elektronik

tentang kanker serviks dan pemeriksaan pap smear

30 0,733 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,846

Tabel 3.7 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak petugas kesehatan semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,803 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Petugas Kesehatan

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak : Petugas Kesehatan Pernyataan Sub-Variabel n Corrected

item-Total correlation Hasil Uji 1. Mendengar informasi dari petugas

kesehatan tentang kanker serviks

30 0.511 Valid

2. Mendengar informasi dari petugas kesehatan tentang bahaya kanker serviks

30 0,459 Valid

3. Mendengar informasi dari petugas

kesehatan tentang manfaat kanker serviks

30 0,649 Valid

4. Ajakan dari petugas kesehatan untuk melakukan deteksi dini

30 0,741 Valid

5. Ajakan dari petugas kesehatan untuk melakukan deteksi dini

30 0,598 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,803

(10)

Tabel 3.8 di atas dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker Serviks semuanya valid.. Memerhatikan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,894 dan lebih besar dari nilai rtabel

Tabel 3.8 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

, Hal ini menunjukkan bahwa kelima sub-variabel ini sudah realiabel sebagai alat ukur.

Variabel Konstrak Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel n Corrected

item-Total correlation Hasil Uji 1. Memperhatikan kesehatan alat

reproduksi

30 0.549 Valid

2. Frekuensi pemeriksaan pap smear 30 0,731 Valid 3. Segera melakukan pap smear 30 0,640 Valid 4. Jika ada gejala, pemeriksaan kemana ? 30 0,422 Valid 5. Saran dari petugas kesehatan, segera

dilaksanakan ?

30 0,867 Valid

6. Saran dari keluarga untuk melakukan deteksi dini, segera dilaksanakan ?

30 0,870 Valid

7. Memprioritaskan pemeriksaan pap smear dalam pemeriksaan kesehatan

30 0,769 Valid

Cronbach’s Alpha = 0,894

3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Independen

Dukungan sosial adalah suatu upaya atau dorongan yang diberikan keluarga kepada wanita usia subur berupa dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan penghargaan/penilaian.

(11)

1. Dukungan emosional adalah upaya atau dorongan yang diberikan oleh keluarga dan yang melibatkan ungkapan rasa empati, kepedulian dan perhatian kepada wanita usia subur dalam perilaku deteksi dini kanker leher rahim (pap smear). 2. Dukungan instrumental (peralatan) adalah adanya upaya dari keluarga untuk

memberikan bantuan pengelolaan dana, waktu dan memfasilitasi wanita usia subur dalam perilaku deteksi dini kanker serviks (pap smear).

3. Dukungan informasi adalah pemberian nasehat, pengarahan dan keterangan lain yang diberikan oleh keluarga kepada wanita usia subur dalam perilaku deteksi dini kanker serviks (pap smear).

4. Dukungan penghargaan adalah adanya upaya dari keluarga untuk memberikan umpan balik berupa pujian, bimbingan dan perhatian kepada wanita usia subur dalam perilaku deteksi dini kanker serviks (pap smear).

Sumber Informasi adalah sumber atau asal responden memperoleh informasi tentang pap smear dan manfaatnya dalam upaya deteksi dini kanker serviks.

a. Teman adalah orang yang dikenal WUS dan memiliki hubungan baik dengan orang itu yang ikut memberikan informasi tentang deteksi dini kanker serviks (pap smear)

b. Media elektronik sumber informasi WUS tentang deteksi dini kanker serviks (pap smear) yang diperoleh dari TV, radio, internet.

c. Petugas kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam kesehatan dan memiliki pengetahuan atau keterampilan melalui pendidikan kesehatan dan

(12)

kemudian memberikan informasi tentang deteksi dini kanker serviks (pap smear) pada wanita usia subur.

Perilaku adalah tindakan wanita usia subur dalam upaya melakukan deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

3.5.2. Variabel Dependen

Deteksi dini adalah upaya yang dilakukan untuk menemukan secara dini tanda-tanda atau gejala kanker leher rahim (kanker serviks) yang terjadi pada wanita usia subur.

3.6. Metode Pengukuran

3.6.1. Pengukuran Variabel Independen a. Variabel Dukungan Keluarga

Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala Likert untuk mengetahui nilai variabel dukungan keluarga dalam upaya deteksi dini kanker serviks (pap smear) sesuai dengan jumlah pertanyaan yang ada pada kuesioner. Responden diminta untuk mengisi pilihan jawaban (SS, S, TS, STS). Setiap butir pertanyaan dalam kuesioner tersebut akan diberi nilai sebagai berikut:

SS = Sangat setuju( nilai 4) S = Setuju (nilai 3)

TS = Tidak Setuju (nilai 2)

(13)

Pengukuran dukungan keluarga dilakukan dengan mengajukan 20 pertanyaan dan masing-masing pernyataan diberikan 4 pilihan jawaban dengan total skor sebesar 80.

Aspek pengukuran dari penelitian ini didasarkan pada jawaban responden terhadap pertanyaan yang ada di kuesioner yang disesuaikan dengan skor dan diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu:

a. Tingkat baik apabila nilai yang diperoleh > 60% (skor > 48) dari nilai tertinggi seluruh pertanyaan

b. Tingkat kurang, apabila nilai yang diperoleh < 60% (skor < 48) dari nilai tertinggi seluruh pertanyaan.

b. Variabel Sumber Informasi

Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala Guttman untuk mengetahui nilai variabel sumber informasi terhadap perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear). Responden diminta untuk mengisi pilihan jawaban a dan b dengan kriteria sebagai berikut:

1. Jawaban a diberikan skor 1 (satu) 2. Jawaban b diberikan skor 0 (nol)

Berdasarkan 15 pertanyaan yang diajukan maka total skor sebesar 30 untuk sumber informasi dan diklasifikasikan dalam 2 kategori yaitu:

a. Tingkat baik apabila nilai yang diperoleh > 60% ( skor > 18) dari nilai tertinggi seluruh pertanyaan

(14)

b. Tingkat kurang, apabila nilai yang diperoleh < 60% (skor < 18) dari nilai tertinggi seluruh pertanyaan.

Pada penelitian ini, kuesioner terdiri dari 35 pertanyaan yang terdiri dari 5 pertanyaan mengenai dukungan keluarga dimensi emosional, 5 pertanyaan dukungan keluarga dimensi Instrumental, 5 pertanyaan dukungan keluarga informative, dan 5 pertanyaan dukungan keluarga appraisal, dan kemudian masing-masing 5 pertanyaan untuk sumber informasi: teman, media elektronik dan petugas kesehatan.

c. Pengukuran Variabel Dependen

Untuk pengukuran variable dependen atau variabel perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker servik (pemeriksaan pap smear) Kecamatan Medan Selayang, disusun 7 pertanyaan dengan nilai total 28. Jawaban a nilai 4, jawaban b nilai3, jawaban c nilai 2, jawaban d nilai 1. Berdasarkan jumlah nilai yang ada, maka perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan Pap smear) dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu:

- Baik, apabila jumlah nilai responden >60% ( skor > 16,8) - Kurang, apabila jumlah nilai responden <60% (skor < 16,8)

3.7. Metode Analisis Data 1. Analisis Univariat

Analisis Univariat yaitu analisis yang menggambarkan secara tunggal variabel-variabel penelitian baik independen maupun dependen dalam bentuk distribusi frekwensi dan dihitung persentasenya.

(15)

2. Analisis Bivariat

Analisis Bivariat yaitu analisis lanjutan untuk melihat hubungan variabel independen dan dependen dengan menggunakan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95%. Uji chi square ini juga digunakan sebagai uji kandidat atas variabel independen (p < 0,25) untuk diikutsertakan dalam uji multivariate (multiple regresi logistic).

3. Analisis Multivariat

Analisis Multivariat yaitu untuk melihat pengaruh dukungan social (dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan penghargaan) dan sumber informasi(teman, media cetak, media elektronik dan petugas kesehatan) terhadap deteksi dini kanker servik (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dilakukan dengan uji multiple regresi logistik, dengan tingkat kepercayaan 95 %(α = 0,05)

(16)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kondisi fisik Kecamatan Medan Selayang secara geografis berada di wilayah Barat Daya Kota Medan yang secara spasial merupakan dataran kemiringan antara 0-5%. Wilayah-wilayah yang berdekatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Selayang adalah :

- Sebelah Utara : Kecamatan Medan Baru dan Medan Sunggal - Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Tuntungan dan Medan Johor - Sebelah Timur : Kecamatan Polonia

- Sebelah Barat : Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Kecamatan Medan Selayang terbagi menjadi 6 (enam) kelurahan dan 63 lingkungan dengan status Kelurahan Swasembada. Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Selayang adalah ± 2.379 Ha. Kelurahan yang terluas adalah Kelurahan Padang Bulan Selayang II dengan luas 700 Ha disusul Kelurahan Tanjung Sari 510 Ha, Sempakata dengan luas 510 Ha, dan sedangkan yang terkecil adalah Kelurahan Beringin dengan hanya luas 78 Ha.

Sesuai dengan hasil registrasi penduduk Kelurahan Tahun 2001 ada kenaikan jumlah penduduk di Kecamatan Medan Selayang pada tahun 2001 berjumlah 73.500 jiwa dan Tahun 2001 naik menjadi 77.783 jiwa, Tahun 2004 menjadi 84.304 jiwa dan pada 2005 berjumlah 94.825 jiwa dan merupakan 4,04%. Kecamatan Medan

(17)

Selayang ini meningkat dari Tahun 2000 sejumlah 3.076 jiwa/km2 dan pada tahun 2006 menjadi 3.969 jiwa/km2

Data Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial di Kecamatan Medan Selayang yang tersedia dan sangat bermanfaat dalam menunjang kebutuhan sekunder masyarakat terdiri dari : lapangan olahraga 24 persil, rumah sakit 1 unit, Puskesmas 3 unit.

.

4.2. Analisis Univariat

4.2.1 Karakteristik Wanita Usia Subur

Berdasarkan penelitian, karakteristik wanita usia subur yang menjadi responden dapat dilihat pada tabel 4.1 dan 4.2 berikut ini.

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat persentase karakteristik responden berdasarkan pendidikan, tertinggi pada responden dengan pendidikan SLTA sebesar 53,9% yaitu 62 orang, dan terendah pada responden dengan pendidikan PT dan SLTP yang masing-masing sebesar 13,9% yaitu 16 orang.

Persentase karakteristik responden berdasarkan pekerjaan, tertinggi pada responden dengan pekerjaan Ibu Rumah Tangga sebesar 68,7% yaitu 79 orang , dan terendah pada responden dengan pekerjaan pegawai swasta sebesar 4,3% yaitu 5 orang.

Untuk persentase pekerjaan suami, tertinggi pada responden yang suaminya bekerja sebagai wiraswasta sebesar 47% yaitu 54 orang, dan terendah responden yang suaminya bekerja sebagai PNS sebesar 13,9% yaitu 16 orang.

(18)

Persentase karakteristik responden berdasarkan jumlah melahirkan pada responden, tertinggi pada responden dengan jumlah melahirkan sebanyak 2 kali sebesar 39,1% yaitu 45 orang, dan terendah pada responden dengan jumlah melahirakan sebanyak 6 kali sebesar 0,39% yaitu 1 orang.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Wanita Usia Subur Berdasarkan Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Melahirkan, di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Tahun 2012

No Karakteristik Wanita Usia Subur Jumlah (n) Persentase(%) 1. Pendidikan 1. SD sederajat 2. SLTP sederajat 3. SLTA sederajat 4. Perguruan tinggi/Sarjana 21 16 62 16 18,3 13,9 53,9 13,9 Total 115 100,0 2. Pekerjaan 1. Tidak bekerja/IRT 2. Wiraswasta 3. Pegawai Swasta 4. PNS 79 17 5 14 68,7 14,8 4,3 12,2 Total 115 100,0 3. Pekerjaan suami 1. Tidak tetap 2. Wiraswasta 3. Pegawai Swasta 4. PNS 28 54 17 16 24,3 47,0 14,8 13,9 Total 115 100,0 4. Jumlah Melahirkan 1. 1x 2. 2x 3. 3x 4. 4x 5. 5x 6. >5x (……..) 18 45 25 19 9 1 Total 115 100,0

(19)

Berdasarkan tabel 4.2 di atas diketahui rata-rata umur responden sebesar 37,90 (tahun), serta usia menikah responden rata-rata 22,12 (tahun).

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Rata-Rata Karakteristik Wanita Usia Subur Berdasarkan Umur, Usia Menikah, Jumlah Melahirkan di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Tahun 2012

Responden Minimum Maximum Mean N

Umur(tahun) 25 49 37,90 115

Usia menikah(tahun) 14 32 22,12 115

4.2.2. Distribusi Frekuensi Variabel Independen

4.2.2.1. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Keluarga

Variabel Independen (Dukungan Keluarga) dalam penelitian ini mencakup empat variabel yaitu dukungan informasi, dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan appraisal (penilaian).

a. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Informasional

Dari Tabel 4.3 di bawah dapat dilihat bahwa dukungan informasional dari keluarga kepada responden baik sebesar 55,7 % atau 64 responden, sedangkan dukungan informasional keluarga kepada responden kurang baik sebesar 44,3 % atau 51 responden.

Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Dukungan Informasional pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Dukungan Informasional Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 64 55,7

2 Kurang Baik 51 44,3

(20)

b. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Emosional

Dari Tabel 4.4 di bawah dapat dilihat bahwa dukungan emosional dari keluarga kepada responden baik sebesar 71,3 % atau 82 responden, sedangkan dukungan emosional keluarga kepada responden kurang baik sebesar 28,7 % atau 33 responden.

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Dukungan Emosional pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012 No Dukungan Emosional Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 82 71,3

2 Kurang Baik 33 28,7

Total 115 100,0

c. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Instrumental

Dari Tabel 4.5 di bawah dapat dilihat bahwa dukungan instrumental dari keluarga kepada responden baik sebesar 93,9 % atau 108 responden, sedangkan dukungan instrumental keluarga kepada responden kurang baik sebesar 6,1 % atau 7 responden.

Tabel 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Dukungan Instrumental pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Dukungan Emosional Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 108 93,9

2 Kurang Baik 7 6,1

Total 115 100,0

(21)

d. Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Apraisal (Penilaian).

Dari Tabel 4.6 di bawah dapat dilihat bahwa dukungan apraisal dari keluarga kepada responden baik sebesar 71,3 % atau 82 responden, sedangkan dukungan appraisal keluarga kepada responden kurang baik sebesar 28,7 % atau 33 responden. Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Dukungan Apraisal

(Penilaian) pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Dukungan Apraisal (penilaian) Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 82 71,3

2 Kurang Baik 33 28,7

Total 115 100,0

4.3.1.2. Distribusi Frekuensi Variabel Sumber Informasi

Variabel sumber informasi dalam penelitian ini mencakup tiga variabel yaitu, teman, media elektronik, dan petugas kesehatan.

a. Distribusi Frekuensi Variabel Sumber Informasi dari Teman

Dari Tabel 4.7 di bawah dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mendapat informasi dari sumber teman yang masuk kategori baik sebesar 57,4 % atau 66 responden, dan sebesar 42,6 % ( 49 responden) kurang baik mendapat informasi dari teman.

Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Sumber Informasi Teman pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Sumber Informasi Teman Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 66 57,4

2 Kurang Baik 49 42,6

Total 115 100,0

(22)

b. Distribusi Frekuensi Variabel Sumber Informasi dari Media Elektronik

Dari Tabel 4.8 di bawah dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mendapat informasi dari sumber media elektronik yang masuk kategori baik sebesar 45,2 % atau 52 responden, dan sebesar 54,8 % ( 63 responden) kurang baik mendapat informasi dari media elektronik.

Tabel 4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Sumber Informasi Media Elektronik pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Sumber Informasi Media

Elektronik Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 52 45,2

2 Kurang Baik 63 54,8

Total 115 100,0

c. Distribusi Frekuensi Variabel Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan

Dari Tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mendapat informasi dari sumber petugas kesehatan yang masuk kategori baik sebesar 38,3% atau 44 responden, dan sebesar 61,7 % ( 71 responden) kurang baik mendapat informasi dari petugas kesehatan.

Tabel 4.9. Distribusi Responden berdasarkan Variabel Sumber Informasi Petugas Kesehatan pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

No Sumber Informasi Petugas Kesehatan Jumlah (n) Persentase (%) 1 Baik 44 38,3 2 Kurang Baik 71 61,7 Total 115 100,0

(23)

4.3.Analisis Bivariat

Analisis bivariat dalam penelitian ini dimaksudkan untuk melihat hubungan variabel independen dukungan keluarga (dukungan informasional, dukungan emosional,dukungan instrumental,dukungan appraisal), sumber informasi (teman, media elektronik, petugas kesehatan) dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear) dengan menggunakan uji chi square pada taraf kepercayaan 95 % ( nilai p= 0,05 ). Variabel yang memiliki nilai p<0,05, adalah variabel yang berhubungan secara signifikan dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear).

4.3.1. Hubungan Dukungan Informasi dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 64 responden dengan dukungan informasi baik ,47 orang (73,44%) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 51 responden dengan dukungan informasi kurang baik, 45 orang (88,23%) perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.10 di atas menunjukkan hasil uji yang signifikans (p. < 0,05). Hal ini berarti ada pengaruh langsung dukungan informasi terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks. Disamping itu variabel dukungan informasi berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

(24)

Tabel 4.10 Pengaruh Dukungan Informasi terhadap Perilaku WUS Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012

Pernyataan Sub-Variabel

Perilaku WUS

p.

Baik Kurang Baik

n % N % n % Dukungan Informasi 0,049* Baik 17 26,56 47 73,44 64 100 Kurang baik 6 11,77 45 88,23 51 100

4.3.2. Hubungan Dukungan Emosional dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 82 responden dengan dukungan emosional baik , 63 orang (76,82%) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 33 responden dengan dukungan emosional kurang baik, 29 (87,88%) perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.11 di atas menunjukkan hasil uji tidak signifikans (p. > 0,05). Hal ini berarti tidak ada pengaruh langsung dukungan emosional terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks. Walaupun variabel dukungan emosional ini tidak signifikans, namun ia berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

Tabel 4.11 Pengaruh Dukungan Emosional terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel

Perilaku WUS

p. Baik Kurang Baik

n % n % n % Dukungan Emosional 0,180 Baik 19 23,18 63 76,82 82 100 Kurang baik 4 12,12 29 87,88 33 100

(25)

4.3.3. Hubungan Dukungan Instrumental dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 108 responden dengan dukungan instrumental baik , 85(78,70%) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 7 responden dengan dukungan instrumental kurang baik, 7 orang (100 % perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.12 di atas menunjukkan hasil uji tidak signifikans (p. > 0,05). Hal ini berari tidak ada pengaruh langsung dukungan instrumental terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks. Walaupun variabel dukungan instrumental ini tidak signifikans, namun ia berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

Tabel 4.12. Pengaruh Dukungan Instrumental terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel Perilaku WUS p. Baik Kurang Baik n % n % n % Dukungan Instrumental 0,172 Baik 23 21,30 85 78,70 108 100 Kurang baik 0 0 7 100 7 100

4.3.4. Hubungan Dukungan Apraisal dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 82 responden dengan dukungan apraisal baik , 63 (76,82%) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 33 responden dengan dukungan appraisal kurang baik, 25,20 % perilaku WUS kurang baik.

(26)

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.13 di atas menunjukkan hasil uji tidak signifikans (p. > 0,05). Hal ini berarti tidak ada pengaruh langsung dukungan aprisial terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks. Walaupun variabel dukungan appraisal ini tidak signifikans, namun ia berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

Tabel 4.13 Pengaruh Dukungan Apraisial terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel

Perilaku WUS

p. Baik Kurang Baik

n % n % n %

Dukungan Aprisial 19 23,18 63 76,82 82 100 0,180 Baik

Kurang baik 4 12,12 29 25,20 33 100

4.3.5. Hubungan Sumber Informasi Teman dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden dengan sumber informasi dari teman baik , 47 orang (71,21%) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 49 responden dengan sumber informasi dari teman kurang baik, 91,83 % perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.14 di atas menunjukkan hasil uji yang signifikans (p. < 0,05). Hal ini berari ada pengaruh langsung sumber informasi dari teman terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks. Disamping itu variabel dukungan sumber informasi teman berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

(27)

Tabel 4.14 Pengaruh Sumber Informasi dari Teman terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel

Perilaku WUS

p. Baik Kurang Baik

n % n % n % Sumber Informasi Dari Teman 0,006 Baik 19 28.79 47 71,21 66 100 Kurang baik 4 8,17 45 91,83 49 100

4.3.6. Hubungan Sumber Informasi Media Elektronik dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 responden dengan sumber informasi dari media elektronik baik , 32,7% perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 57 responden dengan sumber informasi dari media elektronik kurang baik,57 orang (90,48 %) perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.15 di atas menunjukkan hasil uji yang signifikans (p. < 0,05). Hal ini berarti ada pengaruh langsung Sumber Informasi dari Media Elektronik terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks.

Disamping itu variabel sumber informasi media elektronik berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

Tabel 4.15 Pengaruh Sumber Informasi dari Media Elektronik terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel

Perilaku WUS

p.

Baik Kurang Baik

n % n % n %

Sumber Informasi dari Media Elektronik

0,002 Baik 17 32,7 35 63,70 52 100

(28)

4.3.7. Hubungan Sumber Informasi Petugas Kesehatan dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 responden dengan sumber informasi dari media petugas kesehatan baik , 28 orang (63,63) perilaku WUS kurang baik. Sedangkan dari 71 responden dengan sumber informasi dari petugas kesehatan kurang baik, maka 64 (90,14%) perilaku WUS kurang baik.

Hasil uji Chi-square pada tabel 4.16 di atas menunjukkan hasil uji yang signifikans (p. < 0,05). Hal ini berarti ada pengaruh langsung Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan terhadap Perilaku WUS dalam deteksi dini Kanker serviks.

Disamping itu variabel sumber informasi petugas kesehatan berkandidat untuk diikut sertakan dalam uji Regresi Logistik Ganda (p. < 0,25).

Tabel 4.16 Pengaruh Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan terhadap Perilaku WUS Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Pernyataan Sub-Variabel Perilaku WUS p. Baik Kurang Baik n % n % n % Sumber Informasi dari

Petugas Kesehatan 0,001 Baik 116 36,37 28 63,63 44 100,0 Kurang baik 7 10,93 64 90,14 71 100,0 4.4. Analisis Multivariat

Analisis Multivariat merupakan kelanjutan dari analisis bivariat,dengan ketentuan-ketentuan variabel-variabel independen pada analisis bivariat menunjukkan nilai p<0,25 dengan tujuan melihat pengaruh antara variabel independen terhadap

(29)

dependen. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat 7 variabel independen yang mempunyai nilai signifikan p<0,25 yaitu (1) variabel dukungan informasi, (2) variabel dukungan emosional, (3) variabel dukungan Instrumental, (3) variabel dukungan appraisal, (5) variabel sumber informasi teman, (6) variabel sumber informasi media elektronik, (7) sumber informasi petugas kesehatan. Adapun hasil pengujian ke tujuh variabel tersebut dengan menggunakan regresi berganda.

Dalam tabel 4. 17 di bawah hasil uji regresi logistik menjelaskan bahwa secara bersama-sama variabel independen, yaitu Sumber Informasi dari media Elektronik (metotk), dan Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan (metotk) secara langsung bersama-sama memengaruhi Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks. Tabel 4.17 Pengaruh Dukungan Keluarga dan Sumber Informasi terhadap

Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Variabel yang masuk dalam model regresi yang

terbentuk

B Sig. Exp (B) C.I.95 % of

Exp (B)

Sumber Informasi dari media Elektronik (metotk)

Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan (metotk) - 4,166 -1,340 0,034 0,011 0,312 0,262 [ 0,106 : 0,914 ] [ 0,093 : 0,739 ] Constant 2,717 0,000

Model persamaan regresi logistik ganda yang didapatkan adalah :

) ( 340 , 1 ) ( 166 , 1 717 , 2 1 1 ln 0 1x1 2x2 metotk pktotk p yi = + + = − −       − ≡ β β β

Dan nilai peramalan probabilitas individu untuk mengalami Perilaku WUS

dalam Deteksi Dini Kanker Serviks tidak baik adalah

)) ( 340 , 1 ) ( 166 , 1 717 , 2 (

1

1

pktotk metotk

e

p

+

=

(30)

Tabel 4.18 di bawah menjelaskan bahwa, jika Sumber Informasi dari Media Elektronik (me) dalam situasi tidak baik (1) dan Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan (pk) juga dalam situasi tidak baik, maka peramalan probabilitas individu untuk melakukan Deteksi Dini Kanker Serviks hanya sebesar 56,49 %. Sebaliknya jika Sumber Informasi dari Media Elektronik (me) dalam situasi baik (0) dan Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan (pk) juga dalam situasi baik, maka peramalan probabilitas individu untuk melakukan Deteksi Dini Kanker Serviks menjadi 93,80 %

Tabel 4.18 Probabilitas Individu untuk Melakukan Deteksi Dini Kanker Serviks

No me pk (2,717 1,166( ) 1,340( ))

1

1

pk me

e

p

+

=

% 1 1 1 0.564882098 56.49 2 1 0 0.832158103 83.22 3 0 1 0.798508755 79.85 4 0 0 0.938022353 93.80

(31)

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Perilaku Wanita Usia Subur dalam Pemeriksaan Pap smear

Tindakan pap smear pada seorang ibu dipengaruhi berbagai faktor yaitu faktor dari dalam dirinya sendiri (perilaku ibu) dan dukungan dari lingkungan (dukungan keluarga ). Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku itu merupakan fungsi dari : (1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatanya (behavior intention), (2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support), (3) Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (acesssebility of information), (4) Otonom pribadi yang bersangkutan dalam hal ini mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy), (5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation).

Disimpulkan bahwa perilaku kesehatan dalam hal ini, perilaku wanita usia subur ditentukan oleh niat orang terhadap pemeriksaan pap smear, ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitarnya dalam hal ini dukungan keluarga , ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan, kebebasan dari wanita usia subur untuk mengambil keputusan dalam tindakan pemeriksaan papsmear dan situasi yang memungkinkan ia berperilaku/bertindak terhadap perilaku deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear) atau tidak berperilaku/tidak bertindak terhadap perilaku deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

(32)

5.2. Pengaruh Dukungan Informasi terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.10 terlihat bahwa persentase dukungan informasi keluarga terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 64 responden yang mendapat dukungan informasional baik, maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 12,8 % Sedangkan dari 51 responden dengan dukungan informasional yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 39,1% .

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,049 (p<0,05). Artinya , terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan informasi dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks(pap smear) di Kecamatan Medan Selayang. Namun secara serempak variabel dukungan informasional tidak berpengaruh terhadap deteksi dini kanker serviks, hal ini disebabkan karena masih adanya variabel lain yang lebih besar kemungkinan berpengaruh terhadap deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

Hasil ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Azima R (2011) yang menyimpulkan bahwa variabel dukungan informasi mempunyai hubungan dengan perilaku wanita usia subur dalam partisipasi pemeriksaan pap smear.

(33)

Grant, et.,al. (1998) juga menyatakan bahwa dukungan informatif dapat diterima dari macam-macam sumber seperti pasangan, keluarga, teman, tetangga, atasan, teman kerja, dan tenaga kesehatan.

Dukungan informatif terdiri dari pemberian nasehat, pengarahan, dan keterangan lain yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan, sehingga individu dapat mengatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya (Taylor, 2009).

5.3. Pengaruh Dukungan Emosional terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.11 terlihat bahwa persentase dukungan emosional keluarga terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 82 responden yang mendapat dukungan emosional baik, maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 16,5 % (19 orang). Sedangkan dari 33 responden dengan dukungan informasional yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 25,2% (29 orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,180 (p>0,05). Artinya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan emosional dari keluarga dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang.

(34)

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dukungan emosional tidak ada hubungan yang signifikan dengan perilaku wanita usia subur dalam pemeriksaaan papsmear, hal ini bertentangan dengan pendapat Anderson (2000), yang menyebutkan bahwa dukungan keluarga sangat memberikan pengaruh yang positif, artinya perilaku wanita usia subur dalam pemeriksaan pap smer sangat ditentukan oleh dukungan anggota keluarganya.

Tindakan keluarga dalam memberikan dukungan emosional kepada wanita usia subur yaitu melalui perhatian atas keluhan yang disampaikan, dan memberikan tanggapan dan kepedulian yang baik saat menyatakan akan mengikuti kegiatan deteksi dini penyakit kanker leher rahim (pap smear). Ini merupakan bentuk empati yang diberikan keluarga kepada wanita usia subur. Cohen, et.al (1995), menyatakan dukungan emosional merupakan salah satu aspek dukungan sosial yang meliputi ekspresi empati, misalnya: mendengarkan, bersikap terbuka, mau memahami, dan perhatian. Dukungan emosional akan membuat sipenerima merasa berharga, nyaman, aman, terjamin, dan disayangi.

Dari hasil penelitian ini juga diperoleh bahwa banyaknya wanita usia subur mendapatkan dukungan emosional yang kurang dari keluarga, hal ini dapat dikarenakan persepsi wanita usia subur terhadap dukungan itu sendiri. Dimana Simon (1999), menyatakan bahwa kualitas dukungan bukan dari banyaknya hubungan sosial yang ada secara objektif, karena perilaku yang dimaksudkan sebagai mendukung sering tidak dipersepsikan sebagai mendukung oleh penerima, dan pada kenyataannya bahkan dapat dipandang sebagai tidak membantu.

(35)

Menurut Cohen, et.al., (1995) yang penting bagi individu adalah persepsi akan keberadaan dan ketepatan dukungan, bukan hanya karena adanya orang lain yang memberikan bantuan, tetapi persepsi penerima dukungan apakah bantuan yang diberikan sesuai dengan keinginannya. Untuk itu perlu pemberian dukungan emosional yang memang dirasakan wanita usia subur sendiri adalah dukungan emosional untuk tindakan wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

5.4. Pengaruh Dukungan Instrumental terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.12 terlihat bahwa persentase dukungan instrumental keluarga terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 108 responden yang mendapat dukungan Instrumental baik, maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 20,0 % (23 orang). Sedangkan dari 7 responden dengan dukungan instrumental yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 6,1% (7 orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,172 (p>0,05). Artinya , tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan instrumental dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang.

(36)

Hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan instrumental dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear), maka hal tersebut tidak selaras dengan pendapat Cohen, et.al (1995), yang mengatakan dukungan instrumental merupakan bantuan yang diberikan secara langsung dalam bentuk nyata, bersifat fasilitas atau materi dan non materi misalnya menyediakan fasilitas yang diperlukan, menjamin uang atau yang lain termasuk didalamnya memberikan peluang dan waktu dan berpengaruh terhadap perilaku.

Partisipasi individu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dalam efektivitas dukungan sosial yang diterimanya, persepsi bahwa dukungan sosial dapat tersedia ketika dibutuhkan menjadi hal yang penting dan berkaitan dengan kesehatan dan penyesuaian diri pada seseorang. Mengetahui bahwa orang lain bersedia untuk menyediakan bantuan, kenyamanan, dan rasa tertarik mungkin dapat membantu individu untuk menyelesaikan situasi dimana individu mungkin sedang bermasalah (Sarason, 1990).

Dukungan instrumental merupakan salah satu bentuk dukungan yang nyata yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap perilaku wanita usia subur dalam pemeriksaan pap smear. Bentuk dukungan ini tidak terlepas dari kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya, ini berarti keluarga dengan pendapatan yang lebih memadai akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan termasuk dalam hal pemeriksaan pap smear ini.

(37)

Berdasarkan karakteristik dari pekerjaan WUS dan pekerjaan suami, didapat bahwa pekerjaan responden yang paling banyak yaitu sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan suami yang paling banyak adalah wiraswasta, maka keadaan ini dapat menggambarkan bahwa pemenuhan kebutuhan keluarga terbatas, apalagi untuk memenuhi kebutuhan yang lain salah satu diantaranya adalah pemeriksaan pap smear. Wanita usia subur akan lebih memproritaskan kebutuhan lainnya dibandingkan dengan tindakan deteksi dini (pemeriksaan pap smear) karena mereka merasa deteksi dini (pemeriksaan pap smear) tersebut bukan merupakan kebutuhan yang penting, disebabkan mereka tidak merasakan gejala apapun pada tubuh mereka.

5.5. Pengaruh Dukungan Apraisal terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.13 terlihat bahwa persentase dukungan appraisal (penilaian) terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 82 responden yang mendapat dukungan appraisal (penilaian) baik, maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 16,5 % (19 orang). Sedangkan dari 33 responden dengan dukungan penilaian yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 25,2% (29orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,180 (p>0,05). Artinya , tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan penilaian dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang.)

(38)

Hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan penilaian dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear), maka hal tersebut tidak selaras dengan pendapat Stanley, et,al., (2005), yang menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan maupun ketidakpatuhan pasien dalam menjaga dan mematuhi segala yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan profesional, diataranya adalah: interaksi nilai dan pengalaman hidup, dukungan keluarga, kemampuan tenaga profesional dalam mengajarkan dan menganjurkan sesuatu, serta kompleksitas cara dan aturan hidup yang diterapkan.

Dukungan penilaian ini cenderung lebih mengarah bimbingan terhadap segala upaya yang harus dilakukan ibu untuk melakukan pemeriksaan pap smear seperti dari mertua dan keluarga yang lain.

Sarafino (2004) mengatakan bahwa dukungan penghargaan terjadi melalui ekspresi berupa sambutan yang positif dari orang-orang di sekitarnya, dorongan atau pernyataan setuju terhadap ide-ide atau perasaan individu, perbandingan yang positif dengan orang lain, seperti pernyataan bahwa orang lain mungkin tidak dapat bertindak lebih baik. Bentuk dukungan penilaian dapat berupa motivasi dan ikut mengingatkan wanita usia subur tentang pentingnya deteksi dini kanker serviks, tetapi bisa saja wanita usia subur kurang termotivasi untuk melakukan tindakan deteksi dini kanker serviks.

(39)

5.6 Pengaruh Sumber Informasi Teman terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.14 terlihat bahwa persentase sumber informasi teman terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 66 responden yang mendapat informasi dari teman , maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 16,5 % (19 orang). Sedangkan dari 49 responden dengan sumber informasi dari teman yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 39,1% (45 orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,006 (p<0,05). Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi teman dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang.)

Hal ini sesuai dengan penelitian Triana (2007) tentang hubungan antara informasi dari teman sebaya dengan pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS oleh mahasiswa pelaku seks bebas di Surabaya.

Friedman (1998) mengatakan bahwa sebelum seseorang mencari pelayanan kesehatan, biasanya mencari nasihat dari keluarga atau teman. Menurut Susanti (2002) peran keluarga/teman sangat penting dalam aspek perawatan kesehatan yang terdiri dari hubungan yang erat satu dengan yang lain, saling ketergantungan sebagai bagian dari lingkungan social, member perasaan aman, secara social menumbuhkan

(40)

rasa percaya diri, memeberi informasi, memberi umpan balik, dan membantu memecahkan masalah.

Teman adalah orang yang kita kenal dan memiliki hubungan baik dengan orang itu. Teman dapat menjadi sumber informasi yang berpengaruh dalam memberikan informasi kepada wanita. Wanita sebagai makhluk social sangat membutuhkan orang lain/teman dalam interaksi sesamanya, apalagi dalam hal pemeriksaan pap smear, wanita merasa mempunyai kesamaan yang erat, mempunyai rasa empati antar sesama wanita sehingga informasi yang diberikan lebih dipercaya. Dalam hal ini informasi dari teman hendaknya dapat memberi pengetahuan yang benar tentang deteksi ini kanker serviks, sehingga dapat meningkatkan tindakan mereka dalam mencegah penyakit kanker serviks tersebut.

5.7. Pengaruh Sumber Informasi Media Elektronik terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear)

Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.15 terlihat bahwa persentase sumber informasi media elektronik terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 52 responden yang mendapat informasi dari media elektronik , maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 14,8 % (17 orang). Sedangkan dari 49 responden dengan sumber informasi dari teman yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 39,1% (45 orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,002 (p<0,05). Artinya, terdapat hubungan yang

(41)

signifikan antara sumber informasi media elektronik dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan M edan Selayang.)

Notoadmodjo(2005) mengatakan media promosi kesehatan adalah semua sarana dan upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya dapat berubah perilaku kearah positif terhadap kesehatan.

Cangara (2003) mengatakan media massa termasuk media elektronik adalah alat yang digunakan dalam menyampaikan pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat komunikasi seperti Tv, radio, film dan lain-lain.

Sotjaningsih (2004) mengatakan media massa (media elektronik) merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan.

Penelitian Astuti (2008) tentang pengaruh karakteristik siswa dan sumber informasi terhadap kecenderungan melakukan hubungan seksual pranikah pada siswa SMA Negri di Aceh, mengatakan bahwa ada hubungan antara media elektronik dengan perilaku seks pada siswa.

Peran media elektronik sangat penting dalam memberikan informasi tentang apapun juga baik bidang pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan tidak ketinggalan informasi kesehatan. Media elektronik seperti TV, radio, internet dan HP sangat cepat dapat memberikan informasi pengetahuan akan kesehatan khususnya pap smear ,

(42)

akan meningkat jika wanita usia subur mau memanfaatkan fasilitas tersebut dengan mencari informasi sendiri dari media elektronik. Untuk itu perlu dilakukan upaya – upaya yang dapat memberikan informasi yang tepat dan efisien dalam meningkatkan tindakan wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks melalui media elektronik yang disesuaikan dengan komunikannya.

5.8. Pengaruh Sumber Informasi Petugas Kesehatan terhadap Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks (Pemeriksaan Pap smear) Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4.16 terlihat bahwa persentase sumber informasi petugas kesehatan terhadap perilaku WUS dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang dari 44 responden yang mendapat informasi dari media elektronik , maka perilaku WUS yang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 13,9 % (18 orang). Sedangkan dari 71 responden dengan sumber informasi dari petugas kesehatan yang kurang baik, maka perilaku WUS yang kurang baik dalam pemeriksaan pap smear sebesar 6,1% (45 orang).

Hasil uji statistik pada analisis bivariat dengan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95 %, didapat nilai p=0,001 (p<0,05). Artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara sumber informasi petugas kesehatan dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pap smear) di Kecamatan Medan Selayang.)

Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Susanti (2002) di Pekalongann bahwa ada hubungan bermakna antara faktor pelayanan petugas (seperti pemeriksaan kasus anemia, konseling dan pemberian informasi) dengan kepatuhan ibu hamil dalam konsumsi tablet Fe.

(43)

Sejalan dengan penelitian Daryati (2008) di Sanggau Kalimantan Barat, yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara peran tenaga kesehatan dengan keberhasilan melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).

Pemberian informasi sangat diperlukan karena komunikasi dapat mengkondisikan faktor kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, mereka berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Untuk itu diperlukan komunikasi yang efektif dari petugas kesehatan.

Sebagai komunikator petugas seharusnya memberikan informasi secara jelas kepada pasien atau masyarakat dalam hal ini wanita usia subur. Sebagai komunikator petugas seharusnya memberikan informasi secara jelas kepada wanita usia subur tersebut secara lengkap sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang pencegahan dini kanker serviks dengan melakukan pameriksaan pap smear.

Berdasarkan hasil uji regresi berganda, diketahui bahwa variabel independen yang berpengaruh dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear) adalah dukungan informasi p=0,049(p<0,05), sumber informasi teman p=0,006 (p<0,05), sumber informasi media elektronik p=0,002 (p<0,005) dan sumber informasi petugas kesehatan p=0,001 (p<0,005).

Dari uji multivariate didapat kecenderungan bahwa dukungan informasional menjadi lemah setelah diuji bersama-sama dengan sub variabel dukungan keluarga

(44)

lainnya seperti dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan appraisal. Hal ini disebabkan karena variabel sumber informasi yang menjadi dominan.

Hasil analisis multivariat dengan uji regeresi logistik didapatkan bahwa variabel yang mempunyai pengaruh yang bermakna dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear) adalah variabel sumber informasi media elektronik dengan nilai Exp(B) yaitu 0,312, artinya faktor sumber informasi media elektronik 0.312 kali menjadi sumber informasi yang dapat memberikan informasi kepada wanita usia subur tentang upaya deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

Soekidjo berpendapat dalam diri individu sebenarnya terdapat suatu dorongan yang didasarkan pada kebutuhan, perasaan, perhatian dan kemampuan untuk mengambil suatu keputusan pada suatu saat terhadap suatu perubahan atau stimulus. Proses dalam tahapan ini sesungguhnya masih bersifat tertutup, tetapi sudah merupakan keadaan yang disebut sikap. Bila terus menerus diarahkan, diberikan informasi yang benar, maka pada suatu saat akan meningkatkan menjadi lebih terbuka dan berwujud pada suatu reaksi yang berupa perilaku. Demikian pula dengan wanita usia subur, bila pemberian informasi dilakukan dengan terus menerus dan informasi yang diberikan benar kepada mereka, maka mereka akan dapat mewujudkannya dalam bentuk perilaku yaitu melakukan deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

Dari penelitian penelitian di negara lain, rendahnya perilaku responden terhadap pap smear ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi terjadi juga di

(45)

negara berkembang lain. Ditemukan berbagai alasan untuk tidak melakukan pemeriksaan pap smear, antara lain karena pengetahuan kurang, dan informasi dokter juga kurang. Penyebab lain rendahnya tingkat perilaku, adalah ketidaktahuan tempat pemeriksaan pap smear, dan ketakutan sebagian masyarakat akan terdiagnosis kanker bila melakukan pemeriksaan ini.

Hasil penelitian yang dilakukan, didapat kesimpulan bahwa sebenarnya masyarakat dalam hal ini wanita usia subur sebenarnya sudah tahu tentang pap smear, tetapi mereka belum melakukan tindakan deteksi dini tersebut. Hal tersebut terjadi bisa diakibatkan oleh rasa cemas karena bila mereka melakukan pap smear dan kemudian akan diketahui penyakitnya maka hal tersebut akan membuat mereka stress. Hal lain adalah rasa malu karena harus diperiksa oleh dokter yang berjenis kelamin laki-laki sementara mereka selama ini berhubungan dengan bidan perempuan. Tetapi bila wanita usia subur pernah mempunyai keluarga yang menderita kanker serviks maka ada kecenderungan mereka akan melakukan pemeriksaan pap smear karena mereka sudah melihat sendiri bagaimana penderitaan penderita kanker serviks tersebut. Jadi upaya promosi kesehatan dalam melakukan deteksi dini kanker serviks ini dapat dilakukan dengan memberdayakan sukarelawan yang sudah melakukan pemeriksaan pap smear sebagai sumber informasi bagi wanita usia subur lainnya.

(46)

5.9. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini dimana penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yang meneliti suatu gambaran dukungan keluarga dan sumber informasi terhadap perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear), dengan pengambilan data pada waktu bersamaan, sehingga tidak diketahui mana yang lebih dulu terjadi antara variabel dukungan keluarga, dan sumber informasi terhadap perilaku deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear). Sehingga bisa saja terjadi bias informasi yang memengaruhi kualitas data.

Kualitas data juga dipengaruhi oleh kemampuan responden mencerna pertanyaan dalam kuesioner sehingga terjadi bias akibat keterbatasan pengetahuan.

(47)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut

1. Dukungan informasional mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaa pap smear). 2. Sumber Informasi teman mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku

wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear). 3. Sumber informasi media elektronik mempunyai hubungan yang signifikan

dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

4. Sumber Informasi petugas kesehatan mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

5. Variabel sumber informasi media elektronik merupakan variabel yang paling dominan yamg mempengaruhi secara signifikan terhadap perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

(48)

6.2. Saran

1. Kepada anggota keluarga penting memotivasi dan meningkatkan upaya-upaya yang mengarah pada pendekatan dukungan keluarga untuk mendukung wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks (pemeriksaan pap smear).

2. Kepada Puskesmas di Kecamatan Medan Selayang perlu dilakukan upaya peningkatan sosialisasi dan cara penyampaian informasi yang efektif dan berkesinambungan yang nantinya dapat meningkatkan tindakan pemeriksaan pap smear pada wanita usia subur dalam pencegahan penyakit kanker serviks.Komunikasi dan pemberian informasi harus dapat meningkatkan tindakan wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks, bukan hanya sekedar pemberian informasi saja. Posyandu dapat juga dijadikan tempat untuk penyuluhan oleh petugas kesehatan.

3. Perlu penelitian lanjutan dengan pendekatan kualitatif untuk dapat menjelaskan factor-faktor apa saja yang menyebabkan masih rendahnya pemeriksaan pap smear, dan factor social budaya apakah mempunyai hubungan terhadap rendahnya deteksi dini kanker serviks pada wanita usia subur dan solusi apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tindakan wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks.

(49)

4. Peran media elektronik dalam penelitian ini berpengaruh terhadap perilaku wanita usia subur dalam deteksi dini kanker serviks, untuk itu perlu peningkatan informasiyang akurat, ajakan kepada wanita usia subur melalui media elektronik terutama TV dengan menyelipkan pesan pesan kesehatan dalam acaranya.

Figur

Tabel 3.1    Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan       Informasi

Tabel 3.1

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Informasi p.5
Tabel 3.2 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation  (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel    yang  besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel  yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan emosional  semuanya  vali

Tabel 3.2

di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan emosional semuanya vali p.5
Tabel 3.2   Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan  Emosional

Tabel 3.2

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Dukungan Emosional p.6
Tabel 3.3 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation  (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel    yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel  yang digunakan untuk mengukur variabel  konstrak dukungan instrument  semuanya  val

Tabel 3.3

di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variabel konstrak dukungan instrument semuanya val p.6
Tabel 3.4 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation  (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel    yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel  yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan aprisial  semuanya  valid

Tabel 3.4

di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak dukungan aprisial semuanya valid p.7
Tabel 3.5  Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Sumber  Informasi

Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Konstrak Sumber Informasi p.8
Tabel 3.6 di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation  (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel    yang  besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel  yang digunakan untuk mengukur variable konstrak media elektronik semuanya valid

Tabel 3.6

di bawah dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak media elektronik semuanya valid p.8
Tabel 3.6. (Lanjutan)   5.  Mencari informasi dari media elektronik

Tabel 3.6.

(Lanjutan) 5. Mencari informasi dari media elektronik p.9
Tabel 3.8  di atas dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation  (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel    yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel  yang digunakan untuk mengukur variable konstrak perilaku WUS dalam deteksi dini  Ka

Tabel 3.8

di atas dapat menunjukkan nilai Corrected item-Total correlation (r hitung ) lebih besar dari nilai r tabel yang besarnya 0,361, artinya kelima sub-variabel yang digunakan untuk mengukur variable konstrak perilaku WUS dalam deteksi dini Ka p.10
Tabel 4.1.  Distribusi Frekuensi Karakteristik Wanita Usia Subur Berdasarkan  Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Melahirkan, di Kecamatan Medan  Selayang Kota Medan Tahun 2012

Tabel 4.1.

Distribusi Frekuensi Karakteristik Wanita Usia Subur Berdasarkan Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Melahirkan, di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Tahun 2012 p.18
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Rata-Rata Karakteristik Wanita Usia Subur  Berdasarkan Umur, Usia Menikah, Jumlah Melahirkan di  Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Tahun 2012

Tabel 4.2.

Distribusi Frekuensi Rata-Rata Karakteristik Wanita Usia Subur Berdasarkan Umur, Usia Menikah, Jumlah Melahirkan di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Tahun 2012 p.19
Tabel 4.8.  Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Sumber Informasi  Media Elektronik pada    Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan  Selayang Tahun 2012

Tabel 4.8.

Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Sumber Informasi Media Elektronik pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2012 p.22
Tabel 4.12.   Pengaruh Dukungan Instrumental terhadap Perilaku WUS dalam  Deteksi Dini Kanker Serviks

Tabel 4.12.

Pengaruh Dukungan Instrumental terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks p.25
Tabel 4.14    Pengaruh  Sumber Informasi dari Teman  terhadap Perilaku WUS  dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Tabel 4.14

Pengaruh Sumber Informasi dari Teman terhadap Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Serviks p.27
Tabel 4.16   Pengaruh  Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan  terhadap  Perilaku WUS Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks

Tabel 4.16

Pengaruh Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan terhadap Perilaku WUS Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks p.28
Tabel 4.18 di bawah menjelaskan bahwa, jika  Sumber Informasi dari Media  Elektronik (me)  dalam situasi tidak baik (1)  dan Sumber Informasi dari Petugas  Kesehatan  (pk) juga dalam situasi tidak baik, maka peramalan probabilitas individu  untuk  melakuka

Tabel 4.18

di bawah menjelaskan bahwa, jika Sumber Informasi dari Media Elektronik (me) dalam situasi tidak baik (1) dan Sumber Informasi dari Petugas Kesehatan (pk) juga dalam situasi tidak baik, maka peramalan probabilitas individu untuk melakuka p.30

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :