• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Bab ini menjelaskan hasil penelitian hubungan antara usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok, asupan makanan, dan stres terhadap risiko stroke iskemik dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Penelitian dilakukan terhadap 105 subjek penelitian yang terdiri dari 35 orang penderita stroke iskemik dan 70 orang penderita penyakit saraf (non stroke iskemik) di instalasi rawat jalan RSI Sunan Kudus pada bulan Mei-Juni 2015.

1. Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik subjek penelitian diidentifikasi berdasarkan usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok, asupan makanan, stres dan kejadian stroke iskemik. Tabel distribusi frekuensi karakteristik subjek penelitian digambarkan dalam Tabel 4.1 dan 4.2.

Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia, kebiasaan merokok, dan stres

Karakteristik N % SD Mean Min Max

Usia (tahun) Stroke Non stroke

Kebiasaan Merokok Jumlah Batang rokok (batang/hari)

Lama merokok (tahun) Stres Ringan (<150) Sedang (150-299) Berat (≥300) 105 35 70 34 34 105 32 36 37 100 33,3 67,7 32,4 32,4 100 30,5 34,3 35,2 11,58 9,88 12,27 7,145 11,702 144,8 36,060 36,353 102,84 48,04 50,11 47 12,74 25,74 228,91 84,97 188,61 392,62 20 29 20 3 4 37 37 151 300 74 74 74 24 45 658 144 298 658 Sumber: data primer, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.1, menunjukkan bahwa usia termuda dari semua subjek penelitian adalah 20 tahun dan tertua 74 tahun. Subjek penelitian yang mengalami stroke rata-rata berusia 48 tahun, dengan usia termuda 29 tahun dan usia tertua 74 tahun. Subjek penelitian yang merokok sebanyak 34 dari total 105 subjek penelitian. Subjek penelitian yang merokok rata-rata mengkonsumsi 12 batang rokok/hari, sedangkan jumlah maksimal konsumsi

(2)

commit to user

sebanyak 24 batang/hari. Lama merokok subjek penelitian rata-rata 25 tahun sedangkan lama maksimal 45 tahun. Skor stres yang dialami subjek penelitian rata-rata sebesar 228, skor terendah 37 dan skor tertinggi 658.

Tabel 4.2 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, dan risiko stroke iskemik

Karakteristik N % Jenis Kelamin Laki-laki perempuan Pendapatan < 1.380.000 ≥ 1.380.000 Pendidikan SD SMP SMA PT

Kejadian stroke iskemik Non strokeiskemik Stroke iskemik 42 63 36 69 36 18 31 20 70 35 40 60 34,3 65,7 34,3 17,1 29,5 19 66,7 33,3 Sumber: data primer, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.2, menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan mendominasi sebesar 60%. Mayoritas subjek penelitian mempunyai pendapatan keluarga ≥ 1.380.000 (65,7%). Persentase pendidikan SD, SMP, SMA, dan PT tidak berbeda jauh. Penyakit non stroke iskemik mendominasi sebesar 66,7% dan penyakit stroke sebesar 33,3%.

(3)

commit to user 2. Pengujian Hipotesis

a. Analisis Univariat

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi hubungan antara usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok, asupan makanan, dan stres dengan risiko stroke iskemik

Variabel N Persentase (%) Usia < 46 tahun ≥ 46 tahun Pendidikan <SMA (SD dan SMP) ≥SMA (SMA dan PT)

Kebiasaan Merokok Jumlah batang rokok

Tidak merokok Perokok Pasif < 10 batang/hari ≥ 10 batang/hari Lama merokok Tidak merokok < 20 tahun ≥ 20 tahun Asupan makanan Lemak Jarang (< 1 kali/hari) Sering(≥ 1 kali/hari) Protein Jarang (< 3 kali/hari) Sering(≥ 3 kali/hari) Serat Jarang (< 1 kali/hari) Sering(≥ 1 kali/hari) Natrium Jarang (< 1 kali/hari) Sering(≥ 1 kali/hari) Stres Ringan (skor < 150) Sedang-Berat (skor ≥ 150) 43 62 53 52 57 14 11 23 71 12 22 82 23 32 73 77 28 57 48 32 73 41 59 50,5 49,5 54,3 13,3 10,5 21,9 67,6 11,4 21,0 78,1 21,9 30,5 69,5 73,3 26,7 54,3 45,7 30,5 69,5

Sumber: data primer, 2015.

Berdasarkan Tabel 4.3, menunjukkan bahwa persentase usia subjek penelitian sebagian besar berada pada kategori usia ≥ 46 tahun yaitu sebesar 59%. Kategori pendidikan < SMA (50,5%) tidak berbeda jauh dengan kategori ≥ SMA sebesar 49,5%. Data kebiasaan merokok yang meliputi variabel jumlah batang rokok yang dikonsumsi didominasi oleh kategori tidak merokok (54,3%) dan kategori ≥ 10 batang/hari (21,9%),

(4)

commit to user

sedangkan variabel lama konsumsi rokok sebagian besar pada kategori tidak merokok (67,6%) dan ≥ 20 tahun (21%). Data variabel asupan makanan diketahui bahwa sebagian besar subjek penelitian jarang mengkonsumsi lemak (78,1%), sering mengkonsumsi protein (69,5%), jarang mengkonsumsi serat (73,3%), dan jarang mengkonsumsi natrium (54,3%). Sebagian besar subjek penelitian mengalami stres sedang-berat (69,5%).

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok, asupan makanan, dan stres terhadap risiko stroke iskemik dengan menggunakan uji chi square pada software SPSS. Variabel yang berpengaruh secara signifikan dengan risiko stroke iskemik ditunjukkan dengan nilai p<0,05.

1) Hubungan usia dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.4 Hasil analisis hubungan usia dengan risiko stroke iskemik

Usia

Risiko stroke iskemik

Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % Usia < 46 tahun Usia ≥ 46 tahun 32 38 74,4 61,3 11 24 25,6 38,7 43 62 100 100 1,84 0,78-4,32 0,161 Total 70 66,7 35 33,3 105 100

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.4 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan usia dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Data tersebut menunjukkan bahwa subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan usia < 46 tahun sebesar 25,6%, sedangkan usia

≥ 46 tahun sebesar 38,7%. Hasil statistik analisis bivariat menunjukkan

nilai p= 0,161 dengan nilai OR= 1,84; 95% CI= 0,78-4,32 yang berarti subjek penelitian dengan usia ≥ 46 tahun kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 1,8 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan usia < 46 tahun. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara usia dengan risiko stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan (p=0,161).

(5)

commit to user

2) Hubungan jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.5 Hasil analisis hubungan jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik

Jenis kelamin

Risiko stroke iskemik

Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % Perempuan Laki-laki 45 25 71,4 59,5 18 17 28,6 40,5 63 42 100 100 1,7 0,75-3,87 0,205 Total 70 66,7 35 33,3 105 100

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.5 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 40,5%, sedangkan perempuan sebesar 28,6%. Hasil uji statistik analisis bivariat menjelaskan bahwa nilai p= 0,205 dengan nilai OR= 1,7; 95% CI= 0,75-3,87 berarti subjek penelitian yang memiliki jenis kelamin laki-laki kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 1,7 kali lebih tinggi daripada jenis kelamin perempuan. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan (p=0,205).

3) Hubungan pendapatan dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.6 Hasil analisis hubungan pendapatan dengan risiko stroke iskemik Pendapatan Risiko stroke iskemik Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % ≥ 1.380.000 < 1.380.000 51 19 73,9 52,8 18 17 26,1 47,2 69 36 100 100 2,54 1,08-5,91 0,029 Total 70 66,7 35 33,3 105 100

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.6 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan pendapatan dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan pendapatan < 1.380.000 sebesar 47,2%, sedangkan pendapatan ≥ 1.380.000 sebesar 26,1%. Hasil uji statistik analisis

(6)

commit to user

bivariat menunjukkan nilai p= 0,029 dengan nilai OR= 2,54; 95% CI= 0,17-0,92 yang berarti subjek penelitian dengan pendapatan <1.380.000 kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2,5 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan pendapatan ≥1.380.000. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara pendapatan dengan risiko stroke iskemik, serta secara statistik signifikan (p=0,029).

4) Hubungan pendidikan dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.7 Hasil analisis hubungan pendidikan dengan risiko stroke iskemik Pendidikan Risiko stroke iskemik Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % < SMA ≥ SMA 33 37 62,3 71,2 20 15 37,7 28,8 53 52 100 100 0,67 0,3-1,52 0,334 Total 70 67,7 35 33,3 105 100

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.7 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan pendidikan dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan pendidikan < SMA sebesar 37,7%, sedangkan pendidikan ≥ SMA sebesar 28,8%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,334 dengan nilai OR= 0,67; 95% CI= 0,3-1,52 yang berarti subjek penelitian dengan pendidikan ≥ SMA kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 0,67 kali lebih rendah daripada subjek penelitian dengan pendidikan < SMA. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang negatif dan sedang antara pendidikan dengan risiko stroke iskemik. Pendidikan ≥ SMA menjadi

faktor protektif dari stroke iskemik, meskipun secara statistik

(7)

commit to user

5) Hubungan kebiasaan merokok dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.8 Hasil analisis hubungan kebiasaan merokok dengan risiko stroke iskemik

Kebiasaan merokok

Risiko stroke iskemik

Total P Non stroke iskemik Stroke iskemik N % N % N %

Jumlah batang rokok Tidak Merokok Pasif < 10 batang/hari ≥ 10 batang/hari Total Lama merokok Tidak Merokok < 20 tahun ≥ 20 tahun Total 43 9 8 10 70 52 8 10 70 75,4 64,3 72,7 43,5 66,7 73,2 66,7 45,5 66,7 14 5 3 13 35 19 4 12 35 24,6 35,7 27,3 56,5 33,3 26,8 33,3 54,5 33,3 57 14 11 23 105 71 12 22 105 100 100 100 100 100 100 100 100 100 0,051 0,054

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.8 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan kebiasaan merokok dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Data variabel kebiasaan merokok terdiri dari subvariabel jumlah batang rokok yang dikonsumsi dan lama merokok. Sebagian besar subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik mengkonsumsi rokok sebanyak ≥ 10 batang/hari sebesar 56,5%, sedangkan yang tidak merokok sebesar 24,6 %. Hasil uji chi square menunjukkan nilai p= 0,051 yang berarti jumlah batang rokok yang dikonsumsi memiliki hubungan yang mendekati signifikan dengan risiko stroke iskemik.

Hasil penelitian dari sub variabel lama merokok menunjukkan bahwa kategori ≥ 20 tahun mendominasi sebesar 54,5%, sedangkan yang tidak merokok 26,8%. Hasil uji chi square menunjukkan nilai p= 0,054 yang berarti lama merokok memiliki hubungan yang mendekati signifikan dengan risiko stroke iskemik.

(8)

commit to user

6) Hubungan asupan makanan dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.9 Hasil analisis hubungan asupan makanan dengan risiko stroke iskemik

Asupan makanan

Risiko stroke iskemik

Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % Lemak Jarang (< 1x/hari) Sering (≥ 1x/hari) Protein Sering (≥ 3x/hari) Jarang (< 3x/hari) Serat Sering (≥ 1x/hari) Jarang (< 1x/hari) Natrium Jarang (< 1x/hari) Sering (≥ 1x/hari) 59 11 48 22 22 48 42 28 72 47,8 65,8 68,8 78,6 62,3 73,7 58,3 23 12 25 10 6 29 15 20 28 52,2 34,2 31,2 21,4 37,7 26,3 41,7 82 23 73 32 28 77 57 48 100 100 100 100 100 100 100 100 2,8 0,87 2,21 2 1,08-7,23 0,36-2,13 0,80-6,10 0,88-4,55 0,03 0,764 0,119 0,096 Total 26 34,7 49 65,3 75 100

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.9 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan asupan makanan dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik mengkonsumsi lemak pada kategori sering (≥ 1 kali/hari) sebesar 52,2%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,03 dengan nilai OR= 2,8; 95% CI= 1,08-7,23 yang berarti subjek penelitian yang mengkonsumsi lemak pada kategori sering (≥ 1

kali/hari) kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2,8 kali lebih

tinggi daripada subjek penelitian yang mengkonsumsi lemak pada kategori jarang (< 1 kali/hari). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara asupan lemak dengan risiko stroke iskemik, serta secara statistik signifikan (p=0,03).

Subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik mengkonsumsi protein pada kategori jarang (< 3 kali/hari) sebesar 31,2%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,764 dengan nilai OR= 0,87; 95% CI= 0,36-2,13 yang berarti subjek penelitian yang mengkonsumsi protein pada kategori jarang (< 3

(9)

commit to user

lebih rendah daripada subjek penelitian yang mengkonsumsi protein pada kategori sering (≥ 3 kali/hari). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang negatif dan lemah antara asupan protein dengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan (p=0,764). Subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik mengkonsumsi serat pada kategori jarang (< 1 kali/hari) sebesar 37,7%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,119 dengan nilai OR= 2,21; 95% CI= 0,80-6,10 yang berarti subjek penelitian yang mengkonsumsi serat pada kategori jarang (< 1 kali/hari)

kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2,2 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian yang mengkonsumsi serat pada kategori sering (≥ 1 kali/hari). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara asupan serat dengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan (p=0,119).

Subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik mengkonsumsi natrium pada kategori sering (≥ 1 kali/hari) sebesar 41,7%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,096 dengan nilai OR= 2; 95% CI= 0,88-4,55 yang berarti subjek penelitian yang mengkonsumsi natrium pada kategori sering (≥ 1 kali/hari) kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian yang mengkonsumsi natrium pada kategori jarang (< 1 kali/hari). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara asupan natrium dengan risiko stroke iskemik, namun secara statistik mendekati signifikan (p=0,096). 7) Hubungan stres dengan risiko stroke iskemik

Tabel 4.10 Hasil analisis hubungan stres dengan risiko stroke iskemik

Stres

Risiko stroke iskemik

Total OR P Non stroke iskemik Stroke iskemik 95% CI N % N % N % Stres ringan Stres sedang-berat 27 43 84,4 58,9 5 30 15,6 41,1 32 73 100 100 3,77 1,30-10,89 0,011 Total 26 34,7 49 65,3 75 100 Sumber: data primer, 2015

(10)

commit to user

Tabel 4.10 menyajikan analisis bivariat tentang hubungan stres dengan risiko stroke iskemik yang menggunakan uji chi square. Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan stres sedang-berat sebesar 41,1%, sedangkan stres ringan sebesar 15,6%. Hasil uji statistik analisis bivariat menunjukkan nilai p= 0,011 dengan nilai OR= 3,77; 95% CI= 1,30-10,89 yang berarti subjek penelitian dengan stres sedang-berat kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 3,77 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan stres ringan. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang positif dan kuat serta secara statistik signifikan antara stres dengan risiko stroke iskemik (p=0,011).

c. Analisis Multivariat

Analisis multivariat yang digunakan adalah model regresi logistik ganda, dengan prediktor sesuai dengan teori risiko stroke iskemik pada tinjauan pustaka. Analisis multivariat bertujuan untuk melihat semua variabel independen yang berpengaruh paling kuat terhadap variabel dependen. Variabel independen yang diuji pada penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok (jumlah batang rokok dan lama merokok), asupan makanan (lemak, protein, serat, dan natrium), dan stres. Analisis Multivariat pada penelitian ini menggunakan 2 model regresi logistik ganda untuk menghindari terjadinya redundansi pada variabel kebiasaan merokok (jumlah batang rokok dan lama merokok) yang berakibat hasil uji statistik yang kurang valid. Model pertama pada tabel 4.11 menyajikan uji multivariat untuk semua variabel bebas, kecuali lama merokok. Model kedua pada tabel 4.12 menyajikan uji multivariat untuk semua variabel bebas, kecuali jumlah batang rokok. Berikut ini hasil pengujian variabel tersebut dengan menggunakan analisis regresi logistik ganda pada Tabel 4.11 dan 4.12

(11)

commit to user

Tabel 4.11 (Model.1) Hasil analisis regresi logistik ganda hubungan antara usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, asupan makanan (lemak, protein, serat, dan natrium), stres, danjumlah batang rokok dengan risiko stroke iskemik.

Variabel Independen OR 95%CI P

Batas bawah Batas atas

Usia (≥ 46 tahun) 1,64 0,48 5,63 0,431

Jenis kelamin (laki-laki) 1,29 0,25 6,63 0,764 Pendapatan (< 1.380.000) 4,04 0,99 16,29 0,050

Pendidikan (≥ SMA) 2,52 0,68 9,35 0,169

Asupan lemak (sering) 13,09 3,01 56,98 0,001 Asupan protein (jarang) 1,74 0,49 6,25 0,394

Asupan serat (jarang) 2,20 0,60 8,10 0,234

Asupan natrium (sering) 2,40 0,87 6,61 0,090

Stres (sedang-berat) 6,38 1,45 28,14 0,014

Jumlah batang rokok

Perokok pasif 0,97 0,20 4,63 0,972 < 10 batang/hari 0,92 0,14 5,92 0,927 ≥ 10 batang/hari 4,62 0,72 29,60 0,106 N observasi 105 -2 Log likelihood 98,298 Nagelkerke R2 39,7%

Sumber: data primer, 2015

Tabel 4.12 (Model.2) Hasil analisis regresi logistik ganda hubungan antara usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, asupan makanan (lemak, protein, serat, dan natrium), stres, dan lama merokok dengan risiko stroke iskemik.

Variabel Independen OR 95%CI P

Batas bawah Batas atas

Usia (≥ 46 tahun) 1,55 0,43 5,61 0,503

Jenis kelamin (laki-laki) 1,86 0,42 8,27 0,413 Pendapatan (< 1.380.000) 3,49 0,91 13,42 0,069

Pendidikan (≥ SMA) 2,13 0,59 7,67 0,246

Asupan lemak (sering) 13,45 3,19 56,67 <0,0001 Asupan protein (jarang) 1,74 0,50 6,03 0,380 Asupan serat (jarang) 2,21 0,61 8,01 0,228 Asupan natrium (sering) 2,49 0,91 6,86 0,077 Stres (sedang-berat) 6,01 1,39 25,86 0,016 Lama Merokok < 20 tahun 1,97 0,29 13,32 0,485 ≥ 20 tahun 2,05 0,38 11,01 0,402 N observasi 105 -2 Log likelihood 101,572 Nagelkerke R2 36,6%

(12)

commit to user

Berdasarkan hasil analisis 2 model regresi logistik ganda tersebut menunjukkan bahwa model.1 lebih sesuai daripada model.2, karena model.1 memiliki nilai -2 Log likelihood lebih kecil dan nilai Negelkerke R2 lebih besar dari model.2. Nilai -2 Log likelihood merupakan parameter yang menunjukkan kesesuaian antara model analisis regresi logistik ganda dan sampel yang dianalisis, semakin kecil parameter tersebut maka semakin sesuai antara model dan datanya. Model.1 menyajikan nilai -2 Log likelihood sebesar 98,298. Angka ini kurang dari 100 sehingga antara model dan data sampel cukup sesuai. Nilai Negelkerke R2 sebesar 39,7% berarti bahwa variabel bebas (usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, jumlah batang rokok, asupan lemak, asupan protein, asupan serat, asupan natrium, dan stres) mampu menjelaskan variasi risiko stroke iskemik sebesar 39,7% dan sisanya yaitu sebesar 60,3% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil analisis model.1 digunakan untuk pembahasan uji multivariat untuk semua variabel bebas, kecuali variabel lama merokok yang menggunakan model.2.

Model.1 menunjukkan bahwa usia ≥ 46 tahun mempunyai risiko stroke iskemik 1,6 kali lebih tinggi daripada usia < 46 tahun. Hubungan usia dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, namun secara statistik tidak signifikan (OR=1,64; 95%CI= 0,48-5,63; p=0,431). Laki-laki mempunyai risiko stroke iskemik 1,29 kali lebih tinggi daripada perempuan. Hubungan jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan lemah, namun secara statistik tidak signifikan (OR=1,29; 95%CI= 0,25-6,63; p=0,764). Pendapatan < 1.380.000 mempunyai risiko stroke iskemik 4 kali lebih tinggi daripada pendapatan ≥ 1.380.000. Hubungan pendapatan dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan kuat, serta secara statistik signifikan (OR=4,04; 95%CI= 0,99-16,29; p=0,050). Pendidikan ≥ SMA mempunyai risiko stroke iskemik 2,5 kali lebih tinggi daripada pendidikan < SMA. Hubungan pendidikan dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, namun secara statistik tidak signifikan (OR= 2,52; 95%CI= 0,68-9,35; p=0,169). Hasil statistik untuk

(13)

commit to user

variabel asupan makanan menunjukkan bahwa subjek penelitian yang sering mengkonsumsi lemak (≥ 1 kali/hari) memiliki risiko stroke iskemik 13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang (< 1 kali/hari) mengkonsumsi lemak. Hubungan asupan lemak dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sangat kuat, serta secara statistik signifikan (OR=13,09; 95%CI= 3,01-56,98; p=0,001). Konsumsi protein secara jarang (< 3 kali/hari) memiliki risiko stroke iskemik 1,74 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang sering mengkonsumsi protein (≥ 3 kali/hari). Hubungan asupan protein dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, tetapi secara statistik tidak signifikan (OR=1,74; 95% CI= 0,49-6,25; p=0,394). Subjek penelitian yang jarang mengkonsumsi serat (< 1 kali/hari) mempunyai risiko stroke iskemik 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang sering mengkonsumsi serat (≥ 1 kali/hari). Hubungan asupan serat dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, tetapi secara statistik tidak signifikan (OR= 2,20; 95%CI= 0,60-8,10; p=0,234). Natrium yang dikonsumsi secara sering (≥ 1 kali/hari) mempunyai risiko stroke iskemik 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang dikonsumsi (< 1 kali/hari). Hubungan asupan natrium dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, serta secara statistik mendekati signifikan (OR= 2,40; 95%CI= 0,87-6,61; p=0,090). Subjek penelitian yang mengalami stres sedang-berat mempunyai risiko stroke iskemik 6,3 kali lebih tinggi daripada yang mengalami stres ringan. Hubungan stres dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan kuat, serta secara statistik signifikan (OR=6,38; 95%CI= 1,45-28,14; p=0,014). Hasil analisis variabel jumlah batang rokok yang dikonsumsi menunjukkan bahwa perokok pasif mempunyai risiko stroke iskemik 0,97 kali lebih rendah daripada orang yang tidak merokok. Hubungan perokok pasif dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan negatif dan lemah. Perokok pasif merupakan faktor protektif dari stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan (OR=0,97; 95%CI= 0,20-4,63; p=0,972). Merokok < 10 batang/hari mempunyai

(14)

commit to user

risiko stroke iskemik 0,92 kali lebih rendah daripada orang yang tidak merokok. Hubungan merokok < 10 batang/hari dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan negatif dan lemah. Merokok < 10 batang/hari merupakan faktor protektif dari stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan (OR=0,92; 95%CI= 0,14-5,92; p=0,927). Merokok ≥ 10 batang/hari mempunyai risiko stroke iskemik 4,6 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok. Hubungan merokok ≥ 10 batang/hari dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan kuat, namun secara statistik tidak signifikan (OR=4,62; 95%CI= 0,72-29,60; p=0,106).

Hasil uji multivariat untuk variabel lama merokok yang terdapat pada model.2 menunjukkan bahwa merokok < 20 tahun mempunyai risiko stroke iskemik 1,97 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok. Hubungan merokok < 20 tahun dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, namun secara statistik tidak signifikan (OR=1,97; 95%CI= 0,29-13,32; p=0,485). Merokok ≥ 20 tahun mempunyai risiko stroke iskemik 2 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak merokok. Hubungan merokok ≥ 20 tahun dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, namun secara statistik tidak signifikan (OR=2,05; 95%CI= 0,38-11,01; p=0,402).

B. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian yang telah peneliti laksanakan sesuai dengan alur kerangka konsep yang ada dengan menghubungkan teori dan temuan penelitian sebelumnya.

1. Hubungan usia dengan risiko stroke iskemik

Subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik rata-rata berusia 48 tahun, dengan usia termuda 29 tahun dan usia tertua 74 tahun. Persentase yang mengalami stroke iskemik dengan < 46 tahun sebesar 25,6%, sedangkan usia ≥ 46 tahun sebesar 38,7%. Berdasarkan hasil tersebut ditemukan pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek yang mengalami stroke iskemik lebih besar yang berasal dari usia lansia daripada usia dewasa. Persentase penderita stroke dibawah usia 46 tahun yang tidak

(15)

commit to user

sedikit jumlahnya menunjukkan bahwa stroke tidak lagi diderita lansia saja tetapi sudah mengarah pada usia muda. Penyebab terjadinya stroke pada usia muda dikarenakan perubahan gaya hidup seperti mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food) yang mengandung kadar lemak tinggi, kerja berlebihan, kurang berolahraga, stres, dan kebiasaan merokok (Sitorus et al., 2008).

Hasil statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 1,64; 95% CI= 0,48-5,63 yang berarti subjek penelitian dengan usia ≥ 46 tahun kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 1,6 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan usia < 46 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang positif dan sedang antara usia dengan risiko stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang besar yaitu 431 dari 1000 temuan (p=0,431).

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Yenni (2011) yang menunjukkan bahwa lansia tua lebih berisiko menderita stroke sebesar 1,3 kali dibanding dengan lansia dini (OR= 1,35; p= 0,702), hal ini diperkuat oleh penelitian Denti et al. (2010) yang menunjukkan bahwa usia > 80 tahun memiliki risiko stroke iskemik 1,5 kali lebih besar dibanding usia < 80 tahun. Pernyataan yang sama dikemukakan oleh Sutrisno (2007) yang mengatakan bahwa risiko stroke akan meningkat dua kali lipat setiap tahun setelah usia 55 tahun.

Seiring bertambahnya usia seseorang semakin besar pula risiko stroke iskemik, hal ini dikarenakan terjadinya degenerasi fungsi organ dalam tubuh salah satunya terjadi penurunan aliran darah ke otak. Penurunan aliran darah sampai 18ml/100 gram jaringan otak permenit dapat menyebabkan jaringan otak mati (infark) yang berakibat terjadinya stroke iskemik (Gofir, 2009). 2. Hubungan jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik

Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 40,5%, sedangkan perempuan sebesar 28,6%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase jenis kelamin laki-laki lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik daripada perempuan.

Hasil uji statistik analisis multivariat menjelaskan bahwa nilai OR= 1,29; 95% CI= 0,25-6,63 yang berarti subjek penelitian dengan jenis kelamin

(16)

laki-commit to user

laki kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 1,29 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan jenis kelamin perempuan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang positif dan lemah antara jenis kelamin dengan risiko stroke iskemik, namun secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 764 dari 1000 temuan (p=0,764).

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Lloyd-Joneset al. (2010) yang menunjukkan bahwa rasio kejadian stroke pada pria dibanding wanita adalah 1,25 kali pada kelompok usia 55-64 tahun, 1,50 kali pada kelompok usia 65-74 tahun, 1,07 kali pada kelompok usia 75-84 tahun dan 0,76 kali pada kelompok usia diatas 85 tahun. Penelitian Denti et al. (2010) mendukung hal tersebut yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko stroke iskemik 0,61 kali lebih rendah dari pada laki-laki pada usia < 80 tahun (HR=0,61;95% CI= 0,44-0,87), tetapi pada usia > 80 tahun perempuan memiliki risiko kecacatan parah hampir 4 kali lipat (OR= 3,75; 95% CI=3,02–4,65) daripada laki-laki.

Peningkatan kejadian stroke pada laki-laki diusia muda dikarenakan kebiasaan merokok, minum alkohol, dan peran hormon testosteron yang dapat meningkatkan jumlah Low Density Lipoprotein (LDL), sehingga memicu peningkatan infark serebri yang berakibat terjadinya stroke iskemik. Perempuan memiliki risiko stroke iskemik lebih rendah karena sebelum menopause, seorang perempuan mempunyai hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) sehingga dapat melindungi dari atherosclerosis yang merupakan pemicu terjadinya stroke iskemik. (Qodriani, 2010; Gofir, 2009; Bull, 2007).

3. Hubungan pendapatan dengan risiko stroke iskemik

Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan pendapatan <1.380.000 sebesar 47,2%, sedangkan pendapatan ≥1.380.000 sebesar 26,1%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase pendapatan < 1.380.000 lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik daripada pendapatan ≥ 1.380.000.

(17)

commit to user

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 4,04; 95% CI= 0,99-16,29; p= 0,05 yang berarti subjek penelitian dengan pendapatan < 1.380.000 kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 4 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan pendapatan ≥ 1.380.000. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang positif dan kuat serta secara statistik signifikan antara pendapatan dengan risiko stroke iskemik.

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 1970 dan 2008 yang menunjukkan bahwa insiden stroke di negara berpenghasilan tinggi mengalami penurunan sebesar 42%, dari 163 (95% CI= 98-227) ke 94 (95% CI= 72-116) per 100.000 orang/tahun (Feigin et al., 2009). Pendapatan yang meningkat dapat mempengaruhi pembelian pangan dalam hal kualitas dan kuantitas menjadi lebih baik (Sulviana, 2008). Menurunnya faktor risiko stroke di populasi disebabkan oleh peningkatan kesadaran publik tentang bahaya yang mengancam kesehatan oleh tekanan darah tinggi, kolesterol darah yang tinggi, dan bahaya merokok (Lloyd-Jones et al., 2010).

Hasil berbeda terjadi di negara dengan penghasilan rendah dan sedang, dimana sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1970 dan 2008 terjadi peningkatan insiden stroke lebih dari 100%, dari 52/100.000 menjadi 117/ 100.000 orang/tahun (Feigin et al., 2009). Peningkatan ini dikarenakan asupan makanan dan gaya hidup yang tidak baik yang ditimbulkan dari industri, urbanisasi, serta modernisasi. Konsumsi kalori yang berlebih, peningkatan prevalensi obesitas, sindrom metabolik, dan diabetes mellitus tipe 2 dapat mengancam penurunan insidensi stroke di negara berpenghasilan tinggi dan meningkatkan insidensi stroke di negara berpenghasilan rendah dan sedang (Dans et al., 2011; Finucane et al., 2011; Swinburn et al., 2011; Lock et al., 2010).

4. Hubungan pendidikan dengan risiko stroke iskemik

Persentase subjek penelitian yang mengalami stroke iskemik dengan pendidikan < SMA sebesar 37,7%, sedangkan pendidikan ≥SMA sebesar 28,8%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase pendidikan ≥ SMA lebih rendah untuk mengalami stroke iskemik daripada pendidikan < SMA.

(18)

commit to user

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 2,52; 95% CI= 0,68-9,35 yang berarti subjek penelitian dengan pendidikan ≥ SMA kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2,5 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian dengan pendidikan < SMA. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan positif dan sedang antara pendidikan dengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang besar yaitu 169 dari 1000 temuan (p= 0,169).

Hasil analisis multivariat tersebut berbeda dengan penelitian Yenni (2011) yang menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pendidikan rendah lebih berisiko stroke 6,2 kali dibanding orang yang berpendidikan tinggi. Tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi kemampuan mendengar, menyerap informasi, menyelesaikan masalah, serta perilaku dan gaya hidup. Latar belakang pendidikan akan mempengaruhi pola pikir seseorang tentang kesehatan guna menjaga kesehatannya, ini berarti seseorang yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap informasi dan dapat mengubah perilaku serta gaya hidup kearah lebih positif dengan cara mengkonsumsi asupan makanan bergizi dan menghindari kebiasaan merokok, sehingga dapat menurunkan risiko kejadian stroke (Weltermann, et al., 2013; Yenni, 2011).

5. Hubungan kebiasaan merokok dengan risiko stroke iskemik a. Jumlah batang rokok

Subjek penelitian perokok pasif dan mengalami stroke iskemik sebesar 35,7%, sedangkan yang tidak merokok 24,6%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek penelitian yang perokok pasif lebih besar untuk mengalami stroke iskemik daripada yang tidak merokok.

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 0,97; 95% CI= 0,20-4,63 yang berarti perokok pasif mempunyai risiko stroke iskemik 0,97 kali lebih rendah daripada yang tidak merokok. Hampir tidak ada hubungan antara perokok pasif dengan risiko stroke iskemik, karena nilai OR yang mendekati 1 dan secara statistik tidak signifikan. Hubungan

(19)

commit to user

yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 972 dari 1000 temuan (p=0,972).

Hasil tersebut berbeda dengan penelitian dilakukan oleh Zhang et al. (2005) terhadap wanita perokok pasif dengan wanita yang tidak terpapar rokok. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa wanita perokok pasif yang suaminya mengkonsumsi rokok 1-9 batang/hari memiliki risiko stroke sebesar 1,28 kali (OR=1,28; 95% CI= 0,92–1,77), wanita perokok pasif yang suaminya mengkonsumsi rokok 10-19 batang/hari memiliki risiko stroke 1,32 kali (OR=1,32; 95% CI= 1,01–1,72) dan wanita perokok pasif yang suaminya mengkonsumsi rokok ≥ 20 batang/hari memiliki risiko stroke 1,62 kali lebih tinggi daripada yang tidak mengkonsumsi rokok (OR=1,62; 95% CI= 1,28–2,05). Penelitian ini juga diperkuat oleh sebuah studi kohort oleh Iribarren et al. (2004) yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 27.000 individu yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan risiko stroke iskemik sebesar 1,5 kali (95% CI= 1,07-2,09) pada wanita yang terpapar asap rokok secara pasif selama 20 jam atau lebih setiap minggu dibandingkan dengan wanita yang terpapar asap rokok secara pasif kurang dari 1 jam setiap minggu.

Subjek penelitian yang merokok < 10 batang/hari dan mengalami stroke iskemik sebesar 27,3%, sedangkan yang tidak merokok 24,6%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek penelitian yang merokok < 10 batang/hari lebih besar untuk mengalami stroke iskemik daripada yang tidak merokok, tetapi bedanya tidak terlalu jauh.

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 0,92; 95% CI= 0,14-5,92 yang berarti merokok < 10 batang/hari mempunyai risiko stroke iskemik 0,92 kali lebih rendah daripada yang tidak merokok. Hampir tidak ada hubungan antara merokok < 10 batang/hari dengan risiko stroke iskemik, karena nilai OR yang mendekati 1 dan secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 927 dari 1000 temuan (p=0,927).

(20)

commit to user

Hasil tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kellyet al. (2008) di China pada 169.871 laki-laki dan perempuan yang menunjukkan hubungan signifikan (p< 0,0001) antara orang yang merokok sebanyak 1-9 batang per hari memiliki risiko sebesar 1,21 kali dibanding orang yang tidak merokok (RR=1,21), orang yang merokok sebanyak 10-19 batang per hari memiliki risiko sebesar 1,21 kali dibanding orang yang tidak merokok (RR=1,21), dan orang yang merokok sebanyak ≥ 20 batang per hari memiliki risiko sebesar 1,36 kali dibanding orang yang tidak merokok (RR=1,36).

Persentase subjek penelitian yang merokok ≥ 10 batang/hari dan mengalami stroke iskemik sebesar 56,5%, sedangkan yang tidak merokok sebesar24,6%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase merokok ≥ 10 batang/hari lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik daripada tidak merokok.

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 4,62; 95% CI=0,72-29,60 yang berarti subjek penelitian yang merokok ≥ 10 batang/hari kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 4,6 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian yang tidak merokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan positif dan kuat antara merokok ≥ 10 batang/hari dengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang besar yaitu 106 dari 1000 temuan (p=0,106).

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bhat et al. (2008) yang menunjukkan bahwa orang yang merokok sebanyak 11-20 batang per hari memiliki risiko sebesar 2,5 kali dibanding orang yang tidak merokok (OR=2,5), orang yang merokok sebanyak 21-39 batang per hari memiliki risiko sebesar 4,3 kali dibanding orang yang tidak merokok (OR=4,3), dan orang yang merokok sebanyak 40 batang per hari atau lebih memiliki risiko sebesar 9,1 kali dibanding orang yang tidak merokok (OR=9,1). Penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Song dan Cho (2008) yang menunjukkan bahwa perokok berat (> 20 batang/hari) yang berhenti merokok menunjukkan hasil yang signifikan

(21)

commit to user

dengan menurunkan risiko stroke iskemik sebesar 0,66 kali (HR= 0,66; 95% CI= 0,55-0,79) dibandingkan dengan perokok berat yang masih terus merokok.

b. Lama merokok

Persentase subjek penelitian yang merokok <20 tahun dan mengalami stroke iskemik sebesar 33,3%, sedangkan yang tidak merokok sebesar 26,8%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase merokok <20 tahun lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik daripada tidak merokok, meskipun selisihnya tidak terlalu besar.

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 1,97; 95% CI=0,29-13,32 yang berarti subjek penelitian yang merokok < 20 tahun kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 1,97 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian yang tidak merokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan positif dan sedang antara merokok < 20 tahundengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 485 dari 1000 temuan (p=0,485).

Persentase subjek penelitian yang merokok ≥ 20 tahun dan mengalami stroke iskemik sebesar 54,5%, sedangkan yang tidak merokok sebesar 26,8%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase merokok ≥ 20 tahun lebih tinggi untuk mengalami stroke iskemik daripada tidak merokok.

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan nilai OR= 2,05; 95% CI=0,38-11,01 yang berarti subjek penelitian yang merokok ≥ 20 tahun kemungkinan mengalami risiko stroke iskemik 2 kali lebih tinggi daripada subjek penelitian yang tidak merokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan positif dan sedang antara merokok ≥ 20 tahun dengan risiko stroke iskemik, tetapi secara statistik tidak signifikan. Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 402 dari 1000 temuan (p=0,402).

(22)

commit to user

Hasil analisis lama merokok sesuai dengan sebuah studi yang dilakukan oleh Wu et al. (2013) yang menunjukkan bahwa lama merokok 1-20 tahun memiliki risiko 0,83 kali lebih rendah untuk mengalami stroke daripada orang yang tidak merokok (HR= 0.83; 95% CI= 0.39–1.76), merokok 21-30 tahun memiliki risiko 4% lebih tinggi untuk mengalami stroke daripada orang yang tidak merokok (HR= 1.04; 95% CI= 0.52– 2.07), sedangkan orang yang merokok selama 31-60 tahun memiliki risiko 6% untuk mengalami stroke daripada orang yang tidak merokok (HR= 1.06; 95% CI= 0.56–2.03).

Kandungan yang ada dalam rokok sangat berpengaruh terhadap kejadian stroke, hal ini juga dipengaruhi oleh lamanya seseorang dalam merokok serta jumlah rokok yang dikonsumsi, semakin banyak rokok yang dikonsumsi maka semakin tinggi risiko stroke yang dapat terjadi serta semakin banyak kadar nikotin yang ada didalam tubuh seseorang yang kemudian menyebabkan terjadinya atherosclerosis yang berakhir dengan kejadian stroke (Shah dan Cole, 2010).

6. Hubungan asupan makanan dengan risiko stroke iskemik a. Asupan lemak

Subjek penelitian yang sering mengkonsumsi lemak (≥ 1 kali/hari) dan mengalami stroke iskemik sebesar 52,2%, sedangkan yang jarang (< 1 kali/hari) mengkonsumsi lemak28%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek penelitian yang sering (≥ 1 kali/hari) mengkonsumsi lemak lebih besar untuk mengalami stroke iskemik daripada yang jarang (< 1 kali/hari) mengkonsumsi lemak.

Hasil uji statistik analisis multivariat digunakan untuk pembahasan variabel asupan makanan karena sudah mengendalikan faktor perancu. Variabel asupan lemak menunjukkan bahwa subjek penelitian yang sering (≥ 1 kali/hari) mengkonsumsi lemak memiliki risiko stroke iskemik 13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang mengkonsumsi lemak (< 1 kali/hari). Asupan lemak dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sangat kuat, serta secara statistik signifikan (OR= 13,09; 95% CI= 3,01-56,98; p= 0,001).

(23)

commit to user

Hal ini sesuai dengan sebuah studi meta-analisis yang meneliti 152.630 individu, menunjukkan bahwa total konsumsi daging satu porsi/hari berhubungan dengan peningkatan risiko stroke iskemik sebesar 1,24 kali (RR= 1,24; 95% CI= 1,08-1,43) (Micha et al., 2010). Tipe daging yang berhubungan dengan tingginya risiko stroke adalah daging berwarna merah, karena daging tersebut mengandung asam lemak jenuh dan kolesterol (Mozaffarian et al., 2011). Susu sapi juga menunjukkan risiko terhadap kejadian stroke, yang dibuktikan oleh sebuah studi kohort yang menunjukkan bahwa konsumsi susu sapi tinggi lemak sebanyak 10 gram/hari berhubungan dengan peningkatan semua kasus kematian akibat stroke sebesar 1,04 kali (RR= 1,04; 95% CI= 1,01-1,06) (Goldbohm et al., 2011). Sebuah studi kasus kontrol menyatakan bahwa konsumsi susu rendah lemak dibandingkan dengan susu sapi tinggi lemak berhubungan dengan penurunan risiko semua jenis stroke sebesar 0,49 kali (OR= 0,49; 95% CI= 0,31-0,76) dan 0,43 kali untuk stroke iskemik (OR= 0,43; 95% CI= 0,26-0,72), hal ini dikarenakan susu sapi mempunyai kandungan lemak sebesar 30 gr dan kadar kolesterol 109 mg, sedangkan susu rendah lemak mempunyai kadar glukosa dan lemak yang rendah (Hankey, 2011). Konsumsi mentega dalam jumlah tinggi juga berakibat pada stroke, hal tersebut disebabkan oleh kandungan lemak yang tinggi pada mentega yaitu sebesar 81,6 gr dan kolesterol sebesar 250 mg. Tingginya kadar lemak dan kolesterol yang ada dapat meningkatkan risiko tersumbatnya pembuluh darah (Tejasari, 2005).

Lemak yang dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh, seperti hiperlipidemia, obesitas, penyakit kardiovaskuler, dan stroke (Yuniastuti, 2008). Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah berupa plak. Plak akan bercampur dengan protein dan ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium yang akhirnya berkembang menjadi atherosclerosis. Pembuluh darah koroner yang mengalami atherosclerosis menjadi tidak elastis dan mengalami penyempitan sehingga aliran darah dalam pembuluh koroner naik.

(24)

commit to user

Kenaikan tekanan darah sistolik oleh karena pembuluh darah yang tidak elastis serta kenaikan tekanan darah diastolik akibat penyempitan pembuluh darah menyebabkan hipertensi dan memperberat kerja jantung, jika keadaan ini terus berlanjut bisa berakibat terjadinya stroke (Almatsier, 2009; Vilareal, 2008).

b. Asupan protein

Jarang mengkonsumsi protein (< 3 kali/hari) memiliki risiko stroke iskemik 1,74 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang sering mengkonsumsi protein (≥ 3 kali/hari). Asupan protein dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, tetapi secara statistik tidak signifikan (OR= 1,74; 95% CI=0,49-6,25). Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang sangat besar yaitu 394 dari 1000 temuan(p=0,394).

Hasil tersebut sesuai dengan studi observasi di Jepang yang menunjukkan bahwa peningkatan asupan protein berhubungan dengan penurunan risiko stroke (Sauvagetet al., 2004). Sebuah meta-analisis dari 15 studi, menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi tiga porsi ikan setiap minggu berhubungan dengan penurunan risiko stroke sebesar 6% (95% CI= 1-11) (Larsson dan Orsini, 2011). Penelitian tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan O’Donnell et al. (2010) yang menunjukkan bahwa ikan yang merupakan sumber protein tinggi dapat menurunkan risiko stroke sebesar 0,78 kali (OR= 0,78; 99% CI= 0,66-0,91).Sebuahpenelitian yang diplubikasikan dalam British Journal of Nutrition (Blomhoff R, Carlsen MH), menyatakan bahwa beberapa kacang pada makanan nabati dengan kandungan total antioksidan tinggi, dapat menjadi kunci untuk melindungi dari penyakit kardiovaskuler dan stroke (Sustrani et al., 2005).

Protein berfungsi untuk memelihara dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Asam amino yang terkandung dalam protein memiliki peranan penting dalam tubuh untuk menurunkan kadar LDL, meningkatkan kadar HDL dan menurunkan risiko terjadinya bekuan pada pembuluh darah yang menjadi penyebab terjadinya stroke iskemik (Almatsier, 2009; Yuniastuti,

(25)

commit to user

2008). Sumber protein hewani merupakan jenis protein yang baik, seperti ikan dan telur. Sumber protein nabati terdiri dari kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, dan hasil olahannya seperti tempe dan tahu (Almatsier, 2009). Ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik. Ikan sebagai sumber protein hewani mengandung omega-3 essential, asam eicosapentaenoic, dan asam decosahexaenoic. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino yang mudah untuk dicerna. Asam amino yang terkandung pada ikan dapat menurunkan risiko kejadian stroke (Hankey, 2011). Telur merupakan sumber protein, lemak, mineral, dan vitamin yang baik bagi tubuh. Telur sebagai sumber protein mempunyai kandungan asam amino yang lengkap. Protein telur merupakan protein yang bermutu tinggi dan mudah dicerna. Sebutir telur yang beratnya 50 gram, mempunyai kandungan protein sebesar 6 gram. Konsumsi telur sangat baik untuk meningkatkan asupan protein di dalam tubuh (Setiawan, 2009). Jenis kacang-kacangan yang signifikan sebagai pencegah hipertensi dan stroke adalah biji bunga matahari (kwaci). Kacang-kacangan ini kaya akan kalium yang berfungsi dapat membantu mengatasi kelebihan natrium, sehingga dengan volume darah yang ideal dapat dicapai kembali tekanan darah yang normal. Kacang-kacangan juga kaya akan isoflavone yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung dengan membantu menurunkan kadar kolesterol darah. Kandungan isoflavone yang terdiri atas genistein, daidzein dan glicitein, dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dengan cara mengikat profil lemak darah. Protein pada kedelai dapat menyebabkan penurunan yang nyata dalam kolesterol total.

c. Asupan serat

Subjek penelitian yang jarang mengkonsumsi serat (< 1 kali/hari) dan mengalami stroke iskemik sebesar 37,7%, sedangkan yang sering mengkonsumsi serat (≥ 1 kali/hari) sebesar 21,4%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek penelitian yang jarang mengkonsumsi serat (< 1 kali/hari) lebih tinggi

(26)

commit to user

untuk mengalami stroke iskemik daripada yang sering mengkonsumsi serat (≥ 1 kali/hari).

Subjek penelitian yang jarang mengkonsumsi serat (<1 kali/hari) mempunyai risiko stroke iskemik 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang sering mengkonsumsi serat (≥ 1 kali/hari). Asupan serat dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, tetapi secara statistik tidak signifikan (OR= 2,2; 95%CI= 0,60-8,10). Hubungan yang tidak signifikan terjadi karena kebetulan yang besar yaitu 234 dari 1000 temuan (p=0,234).

Hasil tersebut sesuai dengan sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 257.551 individu yang diikuti selama 13 tahun menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur lebih dari lima porsi/hari menurunkan risiko stroke sebesar 0,74 kali daripada konsumsi 3 porsi/hari (RR=0,74; 95% CI= 0,69-0,79) (He et al., 2006), tetapi konsumsi sayur secara sendiri tanpa konsumsi buah menunjukkan hasil tidak ada hubungan dengan penurunan risiko stroke iskemik 0,91 kali (OR= 0,91; 99% CI= 0,75-1,10) (O’Donnell et al., 2010). Konsumsi buah dan sayur lima porsi/hari atau lebih dapat menurunkan tekanan darah sistolik kurang lebih 4,0 mmHg (95% CI= 2,0-6,0) dan 1,5 mmHg (95% CI= 0,2-2,7) tekanan darah diastolik (Hankey, 2011). Konsumsi beras sereal meningkatkan homeostasis insulin, meningkatkan fungsi endotel, menurunkan inflamasi dan menurunkan berat badan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi beras 2,5 porsi/hari dibanding 0,2 porsi/hari berhubungan dengan penurunan risiko stroke 0,83 kali (OR= 0,83; 95% CI= 0,68-1,02) dan penurunan risiko penyakit kardiovaskuler sebesar 0,79 kali (OR= 0,79; 95% CI= 0,73-0,85) (Mellen et al., 2008).

Kerusakan pembuluh darah bisa dicegah dengan mengkonsumsi serat. Serat larut air seperti pektin, gum, dan mukilase lebih efektif menjerat lemak dan garam empedu (produk akhir kolesterol) di dalam saluran pencernaan, sehingga dapat mereduksi plasma kolesterol yaitu LDL dan meningkatkan kadar HDL. Serat pangan dapat membantu meningkatkan pengeluaran kolesterol melalui feses dengan jalan

(27)

commit to user

meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus kecil. Konsumsi serat sayuran dan buah akan mempercepat rasa kenyang, keadaan ini menguntungkan karena dapat mengurangi asupan karbohidrat yang berlebih, sehingga dapat menurunkan risiko obesitas yang merupakan faktor risiko stroke (Santoso, 2011; Baliwati et al., 2004).

Diet tinggi serat berfungsi untuk menurunkan tekanan darah, gula darah, serum trigliserid, dan LDL kolesterol, sehingga dapat mencegah terjadinya atherosclerosis yang merupakan penyebab dari stroke iskemik. Sumber serat yang utama terdapat pada buah-buahan, sayur-sayuran, sereal, dan kacang-kacangan (Herminingsih, 2010; Whelton et al., 2005).

Padi-padian seperti beras mengandung serat yang mudah larut, vitamin B, mineral, flavonoid, tokopherol, antioksidan, asam lemak, phytochemicals, karbohidrat polisakarida dan protein (Mozaffarian et al., 2011).

d. Asupan natrium

Subjek penelitian yang sering mengkonsumsi natrium (≥ 1 kali/hari) dan mengalami stroke iskemik sebesar 41,7%, sedangkan yang jarang mengkonsumsi natrium (< 1 kali/hari)sebesar 26,3%. Berdasarkan hasil tersebut terdapat pola kecenderungan hubungan yaitu persentase subjek penelitian yang sering mengkonsumsi natrium (≥ 1 kali/hari) lebih besaruntuk mengalami stroke iskemik daripada yang jarang mengkonsumsi natrium (< 1 kali/hari).

Natrium yang dikonsumsi secara sering (≥ 1 kali/hari) mempunyai risiko stroke iskemik 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang dikonsumsi (< 1 kali/hari). Asupan natrium dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan sedang, serta secara statistik mendekati signifikan (OR=2,40; 95%CI=0,87-6,61). Hubungan yang kurang signifikan terjadi karena kebetulan cukup besar yaitu 90 dari 1000 temuan (p=0,090).

Hasil ini sesuai dengan studi observasi yang menunjukkan bahwa konsumsi garam rata-rata 5 gram/hari (satu sendok teh) berhubungan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 1,23 kali (RR= 1,23; 95% CI=

(28)

commit to user

1,06-1,43) dan 1,17 kali untuk peningkatan penyakit kardiovaskuler (RR= 1,17; 95% CI= 1,02-1,34) (Strazzullo, et al., 2009; Frohlich, 2007). Sebuah studi meta-analisis menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi garam sebesar 2,0-2,3 gram/hari (setengah sendok teh) berhubungan dengan penurunan penyakit kardiovaskuler 0,8 kali (RR= 0,80; 95% CI= 0,64-0,99) (He dan Mc.Gregor, 2011; Taylor et al., 2011). Pengurangan konsumsi garam sebesar 6 gram/hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 4 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 2 mmHg pada orang tanpa hipertensi, pada orang dengan hipertensi menurunkan 7 mmHg tekanan darah sistolik dan 4 mmHg tekanan darah diastolik, sedangkan pada orang dengan hipertensi persisten menurunkan 23 mmHg tekanan darah sistolik dan 9 mmHg tekanan darah diastolik (Pimenta et al., 2009; He dan Mc.Gregor, 2006).

Natrium berfungsi mengatur keseimbangan volume darah, tekanan darah, kadar air, dan fungsi sel. Natrium berasal dari makanan dalam bentuk MSG (Mono Sodium Glutamate), soda pembuat roti, dan garam dapur (NaCl). Garam dapur mengandung natrium yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi tubuh. Asupan garam yang berlebihan secara terus-menerus akan memicu tekanan darah tinggi. Ginjal akan menahan natrium saat tubuh kekurangan natrium, sebaliknya saat kadar natrium didalam tubuh tinggi, ginjal akan mengeluarkan kelebihan tersebut melalui urin. Ginjal akan membuang kelebihan natrium yang menumpuk didalam darah, apabila fungsi ginjal tidak optimal. Volume cairan tubuh akan meningkat dan membuat jantung dan pembuluh darah bekerja lebih keras untuk memompa darah dan mengalirkannya keseluruh tubuh. Tekanan darah pun akan meningkat, sehingga mengakibatkan terjadinya hipertensi (Soeharto, 2004).

Hipertensi yang diakibatkan oleh mengkonsumsi garam berlebihan, membuat WHO menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium) untuk seluruh penduduk dunia. Rata-rata konsumsi garam penduduk dunia mencapai lebih dari 6 gram/hari, bahkan di Eropa Timur dan Asia lebih dari 12 gram/hari.

(29)

commit to user

Masyarakat yang mengkonsumsi garam yang tinggi dalam pola makannya dapat meningkatkan tekanan darah seiring bertambahnya usia, sebaliknya masyarakat yang mengkonsumsi garam dalam jumlah rendah menunjukkan hanya mengalami peningkatan tekanan darah yang sedikit, seiring dengan bertambahnya usia (Altmatsier, 2009). Konsumsi garam dapur dalam jumlah tinggi juga berisiko meningkatkan kejadian stroke dan penyakit kardiovaskuler, hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan darah, fibrosis jantung, ginjal, dan arteri (Strazzullo et al., 2009).

7. Hubungan stres dengan risiko stroke iskemik

Hasil uji statistik analisis multivariat menunjukkan bahwa subjek penelitian yang mengalami stres sedang-berat mempunyai risiko stroke iskemik 6 kali lebih tinggi daripada yang mengalami stres ringan. Stres dengan risiko stroke iskemik memiliki hubungan positif dan kuat, serta secara statistik signifikan (OR= 6,38; 95% CI= 1,45-28,14; p= 0,014).

Hasil ini sesuai dengan Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jood (2009) menunjukkan bahwa stres psikologi dapat meningkatkan risiko stroke sebesar 3 kali lipat (OR= 3,49).

Stres, isolasi sosial, kecemasan dan depresi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Stres dengan hipertensi diduga melalui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Stres yang berlangsung lama dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah yang menetap, sehingga beriskio mengalami stroke iskemik (Armilawaty et al., 2007). Stres juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, menghambat regenerasi jaringan, dan menurunkan sensitivitas insulin (berakibat diabetes mellitus).

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini masih memiliki banyak keterbatasan dan bias yang telah diupayakan untuk mengatasinya. Keterbatasan yang ada diharapkan dapat dikembangkan dan disempurnakan pada penelitian mendatang, keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain:

1. Pemilihan subjek penelitian tidak menggunakan randomisasi sehingga semua populasi pasien stroke iskemik dan non stroke iskemik yang berada di instalasi

(30)

commit to user

rawat jalan bagian saraf RSI Sunan Kudus tidak mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan subjek penelitian.

2. Penelitian ini tidak meneliti aktifitas fisik sebagai variabel perancu yang harus dikendalikan.

3. Kuesioner stres (Holmes-Rahe) yang digunakan masih memiliki banyak kelemahan yang disebabkan oleh kemampuan responden mengingat peristiwa yang dialami dan item kuesioner yang belum tentu mengakibatkan terjadinya stres

4. Risiko stroke iskemik tidak hanya usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, kebiasaan merokok, asupan makanan, dan stres saja. Masih banyak faktor lain yang tidak diteliti yang dapat menyebabkan terjadinya stroke iskemik, karena pada penelitian ini faktor yang diteliti hanya menyumbang 39,7%.

Adanya keterbatasan penelitian tersebut diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan koreksi peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian secara lebih mendalam.

Gambar

Tabel 4.1  Karakteristik  subjek  penelitian  berdasarkan  usia,  kebiasaan  merokok, dan stres
Tabel  4.2  Karakteristik  subjek  penelitian  berdasarkan  jenis  kelamin,  pendapatan, pendidikan, dan risiko stroke iskemik
Tabel  4.3  Distribusi  frekuensi  hubungan  antara  usia,  jenis  kelamin,  pendapatan,  pendidikan,  kebiasaan  merokok,  asupan  makanan, dan stres dengan risiko stroke iskemik
Tabel 4.4 Hasil analisis hubungan usia dengan risiko stroke iskemik
+7

Referensi

Dokumen terkait

Subjek 4 menjalani proses tahapan-tahapan untuk mencapai kebermaknaan hidup lebih cepat dari ketiga subjek lainnya karena subjek 4 memiliki keluarga yang

Kinerja keuangan Yang di hasilkan Pada tahun 2016 s/d tahun 2020 (EVA &lt; 0) artinya tidak terjadi proses nilai tambah ekonomis atau perusahaan tidak mampu

Nilai W dari tabel di atas terdapat pada tabel dengan nilai yang paling kecil yaitu pada jumlah rank positif yaitu 0. Karena sampel lebih dari 25 orang, maka

Berdasarkan Gambar 4.36, subjek K sudah menuliskan informasi yang diketahui pada soal namun belum menuliskan informasi yang ditanyakan sehingga subjek dikatakan

Subjek dapat mengontrol emosi dan memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai kejadian dalam hidup sehingga tidak terjadi ketegangan emosi. Subjek sadar akan konsekuensi

Setelah dilakukan analisis bivariat antara pengetahuan tentang anatomi dan fisiologis serviks, dan kanker serviks dengan perilaku preventif kanker serviks ditemukan yaitu: (1)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa saat menyusun strategi pemecahan masalah, subjek ST1 dapat menjelaskan rencana yang disusun untuk memecahkan masalah. Subjek

Peningkatan 55% 55% Berdasarkan tabel 4 pelaksanaan tindakan pada siklus II mengalami peningkatan dalam pencapaian kemampuan berpikir logis dengan skala penilaian berkembang sangat